Gartika Sapartini
Department of Child Health Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, Indonesia

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Kadar IgE Total pada Anak Obesitas Dengan atau Tanpa Riwayat Penyakit Atopik dalam Keluarga Setiabudiawan, Budi; Ghrahani, Reni; Sapartini, Gartika; Rayani, Putria; Amelinda, Citra
Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.139 KB)

Abstract

Prevalensi obesitas dan penyakit atopik anak, khususnya usia sekolah meningkat pada dekade terakhir ini. Penyakit atopik diperantarai oleh IgE serta dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan. Resistensi leptin pada obesitas berkaitan dengan stimulasi TH2 yang berpengaruh pada produksi IgE. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan kadar IgE total dengan obesitas pada anak dengan atau tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga. Penelitian potong lintang ini dilaksanakan pada periode April–September 2010 yang melibatkan 160 anak usia 6–11 tahun pada beberapa sekolah dasar di Bandung. Terdapat 4 kelompok yaitu kelompok 1: obesitas dengan riwayat penyakit atopik dalam keluarga, 2: gizi normal dengan riwayat penyakit atopik dalam keluarga, 3: obesitas tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga, 4: gizi normal tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga. Pemeriksaan kadar IgE total dengan metode Electro-chemiluminescene Immunoassay (ECLIA). Kemaknaan data kategorik diuji dengan Uji chi-kuadrat, berdasarkan p<0,05. Kadar IgE total tinggi pada tiap kelompok masing-masing 30 (83%), 24 (60%), 21 (54%), dan 11 (28%) anak (p<0,001). Pada kelompok riwayat penyakit atopik dalam keluarga, kadar IgE total tinggi pada anak obesitas lebih banyak [30 anak (83%)] dibandingkan dengan gizi normal [24 anak (60%)] (p=0,025). Pada kelompok tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga, kadar IgE total tinggi pada anak obesitas [21 anak (54%)] lebih banyak dibandingkan dengan gizi normal [11 anak (28%)] (p=0,017). Disimpulkan kadar IgE total tinggi lebih banyak pada anak obesitas dibandingkan dengan gizi normal dengan dan tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga. [MKB. 2013;45(2):130–34]Kata kunci: Anak, IgE total, obesitas, riwayat atopik keluargaTotal IgE Levels in Childhood Obesity With or Without Family Historyof Atopic DiseaseThe prevalence of obesity and atopic disease in children, especially at school age increased in the last decade. Diseases mediated by IgE and atopy were influenced by genetic and environmental factors. Leptin resistance in obesity is associated with stimulation of TH 2 which affects the production of IgE. The purpose of this study was to determine the relationship of total IgE levels with obesity in children with or without family history of atopic disease. A cross-sectional study was conducted in the period April-September 2010, which involved 160 children aged 6–11 years at several elementary schools in Bandung. There are 4 groups: group 1: obese with family history of atopic disease, 2: normal nutrition with family history of atopic disease, 3: obese without family history of atopic disease, 4: normal nutrition without family history of atopic disease. Examination of total IgE levels were done by ECLIA method. Significance categorical data were tested by Chi-Square test, based on p <0.05. High total IgE levels in each group, respectively 30 (83%), 24 (60%), 21 (54%), and 11 (28%) children (p<0.001). In the group with family history of atopic disease, total IgE levels in obese children were higher [30 children (83%)] compared with normal nutrition [24 children (60%)] (p=0.025). In the group without family history of atopic disease, high total IgE levels in obese children [21 children (54%)] were higher than the normal nutrition [11 children (28%)] (p = 0.017). Inferred high total IgE levels more in obese children compared with normal nutrition with and without a history of atopic disease in the family. [MKB. 2013;45(2):130–34]Key words: Atopy, family history, obesity, total IgE level DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n2.87
Pola Antibodi Antinuklear Sebagai Faktor Risiko Keterlibatan Sistem Hematologi Lupus Eritematosus Sistemik pada Anak Ghrahani, Reni; Setiabudiawan, Budi; Sapartini, Gartika
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.35 KB)

Abstract

Lupus eritematosus sistemik (LES) adalah penyakit autoimun kronik yang melibatkan berbagai sistem organ ditandai dengan produksi berbagai autoantibodi. Penyakit ini memiliki manifestasi klinis yang sangat bervariasi. Antibodi antinuklear diketahui memiliki pola-pola tertentu yang diduga berkorelasi dengan keterlibatan sistem organ tertentu pada LES. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan pola antibodi antinuklear (ANA) dengan  keterlibatan berbagai sistem organ pada anak yang menderita LES. Studi potong lintang dilakukan terhadap 93 anak dengan diagnosis LES yang datang ke Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, pada periode September 2006–April 2015. Analisis data dilakukan dengan uji chi kuadrat dan uji-t. Subjek terdiri atas 85 (91%) perempuan dan 8 (9%) laki-laki, dengan rasio perempuan:laki-laki adalah 10,6:1. Usia rata-rata adalah 10,5±3 tahun dan rentang usia 2–17 tahun. Pola ANA terbanyak adalah speckled (58%) dan homogen (19%). Subjek dengan pola ANA homogen lebih berisiko mengalami keterlibatan hematologi yaitu anemia (OR 4,8; IK 95%: 1,1–19) dan leukopenia (OR 3,9; IK 95%: 2,0–7,5) dibanding subjek dengan pola ANA bukan homogen. Tidak didapatkan hubungan pola ANA dengan keterlibatan sistem organ lain. Titer antidsDNA pada subjek dengan pola ANA homogen lebih tinggi dibanding subjek dengan pola ANA bukan homogen (p=0,02). Simpulan, subyek dengan pola ANA homogen memiliki risiko lebih besar mengalami keterlibatan hematologi dibanding dengan pola ANA yang lain. [MKB. 2015;47(2):124–28]Kata kunci: Keterlibatan sistem organ, lupus eritematosus sistemik, pola antibodi antinuklear (ANA)Antinuclear Antibody Pattern as a Risk Factor in Hematological System Involvement in Pediatric Systemic Lupus ErythematosusAbstractSystemic lupus erythematosus (SLE) is a chronic autoimmune disease that can involve any organ system with the evidence of autoantibody production. The disease has a wide range of clinical manifestation. Antinuclear antibody is known to have particular staining patterns and suspected have a correlation with multiorgan involvement. The objective of this study was to define  antinuclear antibody (ANA) staining pattern correlation from multiorgan involvement in 93 children with SLE. This was a cross-sectional study conducted at the Department of Child Health, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of September 2006 to April 2015. Data were analyzed using chi-square test and t-test. This study involved 93 children with SLE, consisted of 85 (91%) females and 8 (9%) males, with a ratio of 10.6:1. Mean age was 10.5±3 years with age range of 2 to 17 years. The most frequent ANA staining patterns were speckled (58%) and homogenous (19%). Subjects with homogenous pattern have a higher hematology involvement risk, which are anemia (OR: 4.8, CI 95%, 1.1–19) and leukocytopenia (OR 3.9, 95% CI 2.0–7.5). Subjects with homogenous ANA pattern had a higher titer of anti-dsDNA than those with other patterns (p=0.02). In conclusion, subjects with homogenous pattern have a higher hematology involvement risk. [MKB. 2015;47(2):124–28]Key words: Antinuclear antibody staining pattern, multisystem organ involvement, systemic lupus erythematosus  DOI: 10.15395/mkb.v47n2.571
Infeksi Gigi Sebagai Faktor Pencetus Terbanyak Henoch-Schonlein Purpura dengan Keterlibatan Ginjal Setiabudiawan, Budi; Ghrahani, Reni; Sapartini, Gartika; Kadir, Minerva Riani
Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.445 KB) | DOI: 10.14238/sp14.6.2013.369-73

Abstract

Latar belakang.Henoch Schonlein purpura (HSP) dengan keterlibatan ginjal memiliki prognosis yang lebih buruk, dan infeksi gigi merupakan faktor risiko terbanyak terjadinya HSP dengan keterlibatan ginjal. Tujuan.Menganalisis hubungan antara riwayat infeksi gigi dan terjadinya HSP dengan keterlibatan ginjal pada anak.Metode.Penelitian retrospektif dengan rancangan potong lintang terhadap 146 anak yang didiagnosis HSP berdasarkan kriteria American College of Rheumatology(ACR) sertaEuropean League Against Rheumatism(EULAR), Pediatric Rheumatology International Trials Organization(PRINTO), dan Pediatric Rheumatology European Society(PRESS). Penelitian dilakukan di Divisi Alergi-imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, periode Januari 2006− Desember 2012. Data pasien diambil dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji Chi square.Hasil.Didapatkan 146 anak dengan HSP, 93(63,7%) laki-laki dan 53(36,3%) perempuan dengan rasio 1,8:1. Rerata usia pasien 8,05±2,9 tahun. Sembilan puluh dua pasien (63%) diduga mengalami infeksi sebagai pencetus terjadinya HSP. Didapatkan 41 pasien HSP dengan keterlibatan ginjal (28%), yaitu proteinuria 6 (14,6%), hematuria 9 (22,0%), serta proteinuria dan hematuria 26 (63,4%) Infeksi gigi merupakan faktor pencetus terbanyak dibandingkan dengan faktor pencetus lainnya pada HSP dengan keterlibatan ginjal, yaitu 25 pasien (61%) dengan p=0,025; Odd ratio(OR) 2,7 (1,1–6,4) dengan interval kepercayaan 95%.Kesimpulan. Anak dengan riwayat infeksi gigi memiliki risiko tinggi untuk terjadi HSP dengan keterlibatan ginjal.
Bula Hemoragik dengan Komplikasi Perforasi Gaster Sebagai Manifestasi Klinis Purpura Henoch-Schonlein yang Tidak Biasa pada Anak Setiabudiawan, Budi; Ghrahani, Reni; Sapartini, Gartika; Sari, Nur Melani; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.257-64

Abstract

Purpura Henoch-Schonlein (PHS) merupakan vaskulitis pada pembuluh darah kecil tersering terjadi pada anak. Penyakit ini ditandai dengan purpura palpablenontrombositopenia disertai salah satu gejala nyeri perut, artritis atau atralgia, glomerulonefritis, dan hasil biopsi jaringan berupa gambaran vaskulitis leukositoklastik. Bula hemoragik disertai edema jaringan subkutan merupakan gambaran yang tidak umum pada PHS dan sering terlewatkan. Manifestasi klinis vesikobulosa PHS sering ditemukan pada pasien dewasa, 16%–60% kasus, sedangkan pada anak kurang dari 2% kasus. Walaupun PHS secara tipikal merupakan penyakit selflimiting, tetapi komplikasi serius dapat terjadi. Perforasi gaster sangat jarang dilaporkan sebagai komplikasi PHS. Kami melaporkan 2 kasus PHS dengan manifestasi kulit yang berat, yaitu timbulnya bula hemoragik disertai dengan perforasi gaster. Pada kedua kasus dilakukan tindakan operatif dengan keluaran yang berbeda, pada kasus pertama pasien dipulangkan dalam kondisi baik pascaoperasi setelah dilakukan laparatomi eksplorasi, walaupun masih menderita nefritis. Sedangkan pasien kedua meninggal setelah tindakan diagnostic peritoneal lavagedisebabkan sepsis berat. Simpulan, bula hemoragik dapat dipertimbangkan sebagai prediktor komplikasi perforasi gaster pada PHS yang akan meningkatkan kewaspadaan dalam tata laksana PHS
Relapsing Polychondritis pada Anak Setiabudiawan, Budi; Boesoerie, Sinta; DM, Reni Ghrahani; Sapartini, Gartika; Rosifah, Diana
Sari Pediatri Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.689 KB) | DOI: 10.14238/sp12.1.2010.11-6

Abstract

Relapsing polychondritis (RP) adalah penyakit autoimun yang jarang terjadi. Penyakit RP ditandai denganinflamasi jaringan kartilago berulang dan berpotensi untuk terjadi kerusakan progresif pada jaringan tersebut.Terutama menyerang dewasa pada dekade ke-4 atau ke-5 dengan usia rata-rata 51 tahun, hanya sedikit kasusyang dilaporkan pada anak. Patogenesis RP diduga akibat terbentuknya autoantibodi terhadap komponenkartilago terutama kolagen tipe II, sehingga menimbulkan suatu proses inflamasi dan mekanisme selularyang melibatkan pelepasan enzim lisosom dengan hasil akhir berupa penghancuran kartilago. Dilaporkanseorang anak laki-laki, usia 12 tahun dengan keluhan utama sesak napas disertai suara mengorok sejak satubulan sebelum masuk rumah sakit. Pada pemeriksaan didapatkan saddle nose deformity, peningkatan LED(40/125 mm/jam), uji ANA positif dengan pola nuklear, penyempitan kolom udara dalam laring dan faringpada foto soft tissue leher, dan adanya laringotrakeomalasia pada trakeoskopi. Pasien didiagnosis denganrelapsing polychondritis dan mendapat prednison 2 mg/kgBB/hari. Ditambahkan obat imunosupresanmetotreksat karena respons yang kurang baik terhadap steroid. Keadaan klinis pasien membaik setelahmendapat terapi kombinasi.
Drug Allergy Clinical Characteristics in Pediatrics Almira, R. Devina Fathia; Sapartini, Gartika; Dewi, Vycke Yunivita Kusumah
Althea Medical Journal Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.124 KB) | DOI: 10.15850/amj.v4n2.1097

Abstract

Background: A drug allergy causes a morbidity and a mortality due to its various range of clinical manifestation. Unfortunately, a study  focusing in pediatric drug allergy is insufficient, especially in Bandung. Thus, this study is conducted to determine the clinical characteristic of pediatric drug allergy in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.Methods: This study was a retrospective descriptive study using medical records of pediatric drug allergy patients between 2010–2015 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung taken with total sampling method. The variables were patient age, gender, causative drug, and clinical manifestation. Clinical manifestation was then divided into exanthem, urticaria, erythema multiforme, Steven-Johnson’s syndrome/toxic epidemiolytic necrosis (SJS/TEN), and fixed drug eruption (FDE). Results: Out of 101 patients, only 71 were included in the study due to incomplete medical records of the rest. There were 34 (47.89%) males and 37 (52.11%) females. Patients’ age ranged from 1–18 years old with the mean of 7.4 years old. The most common clinical manifestation was SJS/TEN with 25 (35.21%) patients, followed by exanthem with 22 (30.98%) patients. The most common suspected causative drug was non-steriodal anti inflammatory drugs (NSAID) (24%), followed with penicillin (21%).Conclusions: Most common manifestation of pediatric drug allergy in female is SJS/TEN, meanwhile in male is exanthema. Steven-Johnson’s syndrome/toxic epidemiolytic necrosis mostly occurs at the age group of 12–18 years old, and exanthema at the age group of 0–3 years old. This condition is mostly caused by NSAID and penicillin.DOI: 10.15850/amj.v4n2.1097
Distribusi Subtipe Juvenile Idiopathic Arthritis di Bandung Ghrahani, Reni; Setiabudiawan, Budi; Sapartini, Gartika; Puspasari, Hesti
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1507.875 KB)

Abstract

Juvenile idiopathic arthritis (JIA) merupakan penyakit reumatik kronik tersering pada anak yang terjadi sebelum usia 16 tahun. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi profil penderita yang didiagnosis JIA. Dilakukan penelitian deskriptif retrospektif terhadap penderita JIA yang datang ke Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode Januari 2006–Oktober 2011 berdasarkan rekam medis. Didapatkan 28 penderita JIA terdiri atas 10 anak laki-laki dan 18 anak perempuan, dengan rentang usia 2–14 tahun, usia rata-rata 8,25±3,62 tahun. Sebanyak 14 penderita JIA merupakan tipe oligoartritis persisten, 6 tipe sistemik, 5 tipe poliartritis, dan terdapat 1 orang penderita poliartritis tipe dewasa. Pada pemeriksaan laboratorium, didapatkan 2 penderita dengan faktor reumatoid positif dan 14 penderita negatif. Terapi yang diberikan obat antiinflamasi nonsteroid sebagai protokol terapi standar, steroid, dan disease modifying anti-rheumatic drugs (metotreksat). Terdapat 3 penderita meninggal yang semuanya merupakan tipe sistemik. Simpulan, sebagian besar JIA merupakan tipe oligoartritis persisten, lebih banyak ditemukan pada anak perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Kasus kematian terjadi pada JIA tipe sistemik. Sebagian besar penderita memberikan respons yang baikterhadap protokol terapi standar. [MKB. 2012;44(2):101–5].Kata kunci: Anak, juvenile idiopathic arthritis, subtipe Distribution of Juvenile Idiophatic Arthritis Subtypes in BandungJuvenile idiopathic arthritis (JIA) is the most common chronic rheumatic disease in children which begin before 16 years of age. The objective of this study was to evaluate the profile of patients who diagnosed as JIA. The descriptive retrospective study was done to patients with JIA who came to Allergy Immunology Division, Department of Child Health Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during January 2006–October 2011 period, based on the medical records. There were 28 patients with JIA consisted of 10 boys and 18 girls, age ranged 2–14 years, with mean age of onset of 8.25±3.62 years. There were 14 patients with persistent oligoarthritis type, 6 patients with systemic type, 5 patients with polyarthritis type and 1 patient with polyarthritis adult type. The laboratory data showed 2 patients with positive rheumatoid factor and 14 patients were negative. Non-steroidal anti-inflammatory drugs >as standard protocol therapy, steroids and disease modifying anti-rheumatic drugs (methotrexate) were used for treatment. There were 3 patients with systemic type death. In conclusions, most of JIA cases were persistent oligoathritis type, girls more than boys, and all death cases were systemic JIA. Most of cases had satisfactory therapeutic outcomes with standard protocol therapy. [MKB. 2012;44(2):101–5].Key words: Children, juvenile idiopathic arthritis, subtypes DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.78
Correlation between serum albumin and creatinine levels in children with nephrotic syndrome Sapartini, Gartika; Rachmadi, Dedi; Garna, Herry
Paediatrica Indonesiana Vol 48 No 6 (2008): November 2008
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.09 KB) | DOI: 10.14238/pi48.6.2008.354-7

Abstract

Background Nephrotic syndrome is a glomerular disordercharacterized by massive proteinuria, hypoalbuminemia, edema,and hyperlipidemia. Hypoalbuminemia in nephrotic syndromeleads to hypovolemia, a decrease in renal perfusion and glomerularfiltration rate. Serum creatinine level reflects the glomerularfiltration rate.Objective The aim of this study was to determine the correlationbetween serum albumin and creatinine levels in children withnephrotic syndrome.Methods A cross-sectional study was carried out on children withidiopathic nephrotic syndrome, aged between 1 to 14 years old,admitted to Pediatric Department in Hasan Sadikin Hospitalfrom January 2001 to September 2007. We used data frompatients' medical records to obtain serum albumin and creatininelevels during nephrotic stage. Statistical analysis using Pearsoncorrelation test was performed to establish the correlation betweenserum albumin and creatinine levels. The type of correlation wasdetermined by regression analysis.Results Subjects were 113 children, consisted of 81 boys (72%)with mean of age 6.8 (SD 3.3) years. Mean of serum albumin andcreatinine levels were 1.4 (SD 0.4) g/dL and 0.7 (SD 0.4) mg/dL, respectively. Analysis using Pearson correlation test showeda moderate (r=-0.478) significant correlation (P&lt;O.Ol) betweenserum albumin and creatinine levels in children with nephroticsyndrome. Regression analysis suggested a negative linearrelationship between serum albumin level as the independentvariable (X) and serum creatinine level as the dependent variable(Y) by using equation Y = 1.328-0.460X.Conclusion In patients with nephrotic syndrome there is amoderate negative correlation between serum albumin andcreatinine levels.
Drug Allergy Clinical Characteristics in Pediatrics Almira, R. Devina Fathia; Sapartini, Gartika; Dewi, Vycke Yunivita Kusumah
Althea Medical Journal Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.124 KB) | DOI: 10.15850/amj.v4n2.1097

Abstract

Background: A drug allergy causes a morbidity and a mortality due to its various range of clinical manifestation. Unfortunately, a study  focusing in pediatric drug allergy is insufficient, especially in Bandung. Thus, this study is conducted to determine the clinical characteristic of pediatric drug allergy in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.Methods: This study was a retrospective descriptive study using medical records of pediatric drug allergy patients between 2010–2015 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung taken with total sampling method. The variables were patient age, gender, causative drug, and clinical manifestation. Clinical manifestation was then divided into exanthem, urticaria, erythema multiforme, Steven-Johnson’s syndrome/toxic epidemiolytic necrosis (SJS/TEN), and fixed drug eruption (FDE). Results: Out of 101 patients, only 71 were included in the study due to incomplete medical records of the rest. There were 34 (47.89%) males and 37 (52.11%) females. Patients’ age ranged from 1–18 years old with the mean of 7.4 years old. The most common clinical manifestation was SJS/TEN with 25 (35.21%) patients, followed by exanthem with 22 (30.98%) patients. The most common suspected causative drug was non-steriodal anti inflammatory drugs (NSAID) (24%), followed with penicillin (21%).Conclusions: Most common manifestation of pediatric drug allergy in female is SJS/TEN, meanwhile in male is exanthema. Steven-Johnson’s syndrome/toxic epidemiolytic necrosis mostly occurs at the age group of 12–18 years old, and exanthema at the age group of 0–3 years old. This condition is mostly caused by NSAID and penicillin.DOI: 10.15850/amj.v4n2.1097
Laporan Kasus: Penyakit Kawasaki Atipikal Setiabudiawan, Budi; Ghrahani, Reni; Sapartini, Gartika; Anggara, Mohamad Yanuar; Garna, Herry
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Kawasaki merupakan penyebab utama kelainan jantung dapatan yang sering ditemukan pada anak. Di Indonesia, penyakit ini masih sangat jarang didiagnosis karena dianggap masih jarang dan belum diketahui secara luas. Dua laporan kasus berikut merupakan laporan kasus anak perempuan dan laki-laki, masing-masing berusia 17 bulan dan 3 tahun. Keduanya datang dengan demam yang persisten lebih dari 5 hari dan hanya memenuhi 3 kriteria klasik penyakit Kawasaki, yakni mata merah dan disertai dengan perubahan mukosa bibir serta ekstremitas. Penderita kemudian didiagnosis sebagai penyakit Kawasaki atipikal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan C-reactive protein dan laju endap darah disertai gambaran ekokardiografi yang normal. Kedua anak diberikan imunoglobulin intravena (IGIV) dengan dosis 2 gram/kgBB dosis tunggal dan aspirin dosis 80 mg/kgBB/hari. Penderita mengalami perbaikan setelah 1 hari mendapat terapi kombinasi tersebut. Disimpulkan bahwa pengobatan dengan kombinasi IGIV dan aspirin memberikan respons yang baik pada penyakit Kawasaki atipikal. [MKB. 2011;43(3):146–52].Kata kunci: Aspirin, imunoglobulin intravena, penyakit Kawasaki atipikal Case Reports: Atypical Kawasaki DiseaseKawasaki disease is the most common cause of acquired heart disease in children. In Indonesia the disease is rare to diagnosed, because of difficulty in diagnosis and not widely known. These were 2 case reports about a girl and a boy age 17 months and 3 years, who came with persistent fever more than 5 days and only fulfilled 3 criteria of Kawasaki disease, which are red eyes, changes in lips, mucose of oral and extremities. They were diagnosed as atypical Kawasaki disease. Laboratory examinations showed an increased of C-reactive protein and erythrocyte sedimentation rate with normal echocardiography. The patients were improved after treated with 2 grams per bodyweight of intravenous immunoglobulin (IVIG) and 80 mg per bodyweight of aspirin. The patients were better after one day combination therapy. In conclusion that atypical Kawasaki disease has good response to combination of IVIG and aspirin. [MKB. 2011;43(3):146–52].Key words: Aspirin, atypical Kawasaki disease, intravenous immunoglobulin DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n3.61