Articles

Found 21 Documents
Search

KARAKTERISTIK AIR TANAH DANGKAL KOTA SEMARANG PADA MUSIM PENGHUJAN BERDASARKAN PENDEKATAN ISOTOP STABIL (18O, 2H) DAN KIMIA AIR Satrio, Satrio; Hendarmawan, Hendarmawan; Dwi Hadian, M. Sapari; Pujiindiyati, E. Ristin
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2015.11.1.2701

Abstract

Pada bulan Maret 2014 telah dilakukan penelitian air tanah di wilayah Kota Semarang dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik air tanah dangkal pada saat musim penghujan melalui pendekatan isotop stabil (18O, 2H) dan kimia air yang didukung dengan data hidrogeologi setempat. Sejumlah sampel air tanah dangkal diambil di beberapa lokasi dengan kedalaman antara 0 ? 35 m di bawah permukaan tanah setempat (dbpts). Analisis isotop stabil 18O dan 2H serta kimia air dilakukan di laboratorium Hidrologi, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, BATAN Jakarta. Hasil analisis isotop stabil 18O dan 2H menunjukkan bahwa sekitar 63 % air tanah cenderung berada di dekat garis meteorik Semarang dan sekitar 37 % sisanya mengalami evaporasi, interaksi dengan oksida batuan dan sedikit pengaruh interaksi atau mixing dengan air laut. Dari hasil analisis kimia air dengan ionic balancesekitar 3 % menunjukkan bahwa pada saat musim penghujan akuifer air tanah dangkal di wilayah Kota Semarang didominasi oleh ion bikarbonat (HCO3-) dengan tipe air didominasi CaHCO3. Sedangkan dari data parameter Chloride Bicarbonate Ratio, sekitar 24 % air tanah dangkal di wilayah Kota Semarang terindikasi mengalami intrusi air laut dansisanya sekitar 76 % masih menunjukkan karakteristik sebagai air tanah tawar.Kata kunci : karakteristik air tanah, air tanah dangkal, Semarang, musim penghujan, isotopstabil dan kimia air
STUDI DAERAH IMBUH SISTEM AIR SUNGAI BAWAH TANAH GUNUNGKIDUL–YOGYAKARTA MENGGUNAKAN ISOTOP STABIL δ18O DAN δ2H Satrio, Satrio; Sidauruk, Paston
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 11, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2015.11.2.2986

Abstract

Studi Daerah Imbuh Sistem Air Sungai Bawah Tanah Gunungkidul?Yogyakarta Menggunakan Isotop Stabil ?18O dan ?2H. Penelitian air tanah di daerah Gunungkidul, Yogyakarta telah dilakukan menggunakan isotop stabil ?18O dan ?2H. Secara geologi daerah penelitian berada di daerah karst yang didominasi oleh batu gamping (limestone) berupa batuan karbonat dalam bentuk senyawa CaCO3. Penelitian ini dilakukan dengan menempatkan sebanyak lima alat curah hujan di lima lokasi dengan elevasi yang berbeda-beda. Sejumlah sampel air sungai bawah tanah, mata air dan air permukaan diambil untuk dianalisis konsentrasi isotop stabil ?18O dan ?2H. Penelitian ini bertujuan mengetahui daerah resapan atau daerah imbuh (recharge area) system air sungai bawah tanah di daerah Gunungkidul melalui pendekatan isotop stabil ?18O dan ?2H. Diharapkan penelitian ini dapat berperan dalam membantu kelestarian air tanah di daerah daerah Gunungkidul secara berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis isotop stabil ?18O dan ?2H air hujan diperoleh persamaan garis meteorik lokal untuk daerah Gunungkidul dengan persamaan: ?2H = 7,978 ?18O + 8,423 yang dapat dijadian acuan dalam penelitian air tanah selanjutnya di daerah Gunungkidul dan sekitarnya. Sedangkan dari hasil analisis kandungan isotop stabil ?18O dan ?2H diperoleh data bahwa elevasi daerah imbuh system air sungai bawah tanah daerah Gunungkidul berkisar antara 200 ? 500 m di atas permukaan laut dengan perkiraan daerah imbuh di zone Baturagung yang merupakan daerah pegunungan dengan batuan induk vulkanik dan sedimen tufan serta memiliki elevasi antara 200 ? 700 m di atas permukaan laut.Kata Kunci : Gunungkidul, daerah imbuh, isotop stabil, daerah karst, sungai bawah tanah
STUDI KARAKTERISTIK AIR TANAH DAERAH NGANJUK JAWA TIMUR DENGAN ISOTOP ALAM Satrio, Satrio; Pratikno, Bungkus; Sidauruk, Paston
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 12, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2016.12.2.3545

Abstract

Telah dilakukan penelitian air tanah di daerahNganjuk, Jawa Timur Dengan isotop alam 14C, 18O dan 2H. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sejumlah sampel air tanah yang berasal dari sumur bor milik PDAM Kabupaten Nganjuk di beberapa lokasi untuk kemudian dilakukan analisis konsentrasi isotop alamnya di lab Hidrologi ? PAIR BATAN Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik air tanah di daerah Nganjuk berdasarkan konsentrasi isotop alamnya.Berdasarkan hasil analisis isotop alam18O,2H dan 14C secara umum air tanah PDAM Kabupaten Nganjuk diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu grup-1 (PDAM: Trunojoyo, Kutorejo, Godean), air tanah dengan konsentrasi isotop alamd18O dan d18H paling miskin, yaitu antara -7,60 o/oo hingga -6,67 o/oo untukd18O dan -45,0 o/oo hingga -44,3 o/oountuk d18H. Air tanah PDAM Godean mengindikasikanoxygen-shiftingdan menghasilkan umur air tanah paling tua, yaitu sekitar 5517 tahun BP. Ketiga air tanah ini diperkirakan berasal dari daerah resapan di lereng Gunung Wilisyang terletak di selatan. Grup-2, yaitu air tanah PDAM Rejoso, memiliki konsentrasi isotop alam d18O dan d2Hyang lebih kaya dibandingkan air tanah grup-1 yang mengindikasikan letak elevasi daerah resapannya lebih rendah dari grup-1 dan diperkirakan berasal dari lereng Gunung Pandan yang terletak di utara dengan hasil isotop alam 14C berumur lebih muda, yaitu sekitar 411 tahun BP. Grup-3, yaitu air tanahPDAM Gondang dengan karakter sebagai air tanah yang mengalami evaporasi atau interaksi dengan air permukaan dan indikasi ini diperkuat dengan data isotop alam 14C yang berumur Modern.
STUDI KARAKTERISTIK AIR TANAH DANGKAL SEKITAR TPA BANTAR GEBANG, BEKASI, DENGAN METODE SUMUR TUNGGAL DAN GANDA Satrio, Satrio; Syafalni, Syafalni; Sidauruk, Paston
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2014.10.1.2728

Abstract

Teknik perunut radioaktif dengan menggunakan metode sumur tunggal dan ganda untuk menentukan karakteristik  akuifer air tanah dangkal telah dilakukan di tiga desa sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi. Penentuan arah dan kecepatan filtrasi dilaksanakan dengan metode sumur tunggal, dan parameter akuifer lainnya dilaksanakan dengan metode sumur ganda. Aplikasi kedua metode dapat dipakai untuk mengevaluasi arah gerakan dan kecepatan air tanah serta parameter lain yang akan memberikan informasi yang bermanfaat terhadap manajemen sumberdaya air tanah dan lingkungan. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa pada musim hujan air tanah dangkal di daerah TPA bergerak ke sekeliling lokasi, sedangkan pada musim kemarau bergerak dari TPA pada desa Ciketing Udik dan untuk desa Sumur Batu dan Cikiwul dipengaruhi oleh kondisi hidrologi dan topografi lokasi. Hasil dari parameter lainnya memperlihatkan bahwa desa Ciketing Udik adalah daerah yang mempunyai potensi sumberdaya air tanah dangkal yang lebih baik dibandingkan dengan desa di sebelah utara TPA.Kata kunci: Perunut Radioaktif, Karakteristik Akuifer, Sumberdaya Air Tanah
Aplikasi Isotop Alam (18O, 2H dan 14C) untuk Studi Dinamika Air Tanah dan Hubungannya dengan Air Sungai di Daerah Bandung Pujiindiyati, Evarista Ristin; Satrio, Satrio
EKSPLORIUM Vol 34, No 2 (2013): November 2013
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.746 KB)

Abstract

Muka air tanah di Cekungan Bandung telah mengalami penurunan sejak tahun 1990 yakni sebesar 1-2 m di pusat cekungan sedangkan di daerah miring sebesar 15 m. Gejala penurunan air tanah ini dikhawatirkan terus mengalami penurunan seiring dengan pertambahan jumlah sumur dalam (> 40 m) dari 96 sumur pada tahun 1970 hingga saat ini diperkirakan lebih dari 4700 sumur. Oleh karena itu, penelitian hubungan antara air tanah dan air permukaan, penentuan daerah imbuh air tanah di Cekungan Bandung sangat penting dilakukan. Isotop alam stabil seperti 2H dan 18O; dan isotop alam radioaktif 14C dapat dimanfaatkan untuk keperluan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan 24 contoh air tanah-dalam, 28 contoh air tanah-dangkal dan air sungai (Citarum, Cikapundung, Cikeruh, dan Citarik). Berdasarkan hasil hubungan antara d18O dan d2H, sebagian besar air tanah-dangkal di sepanjang Sungai Citarum tidak berhubungan dengan air sungai akan tetapi ada tiga titik lokasi  yang terindikasi percampuran yakni air tanah dekat Sungai Cikapundung, SP 9 (Desa Loteng Sumbersari) dan SP 8 (Desa Bojong Mas) yang berdekatan dengan Sungai Citarum. Hasil analisis isotop 14C menunjukkan bahwa air tanah-dalam tidak berhubungan dengan air tanah-dangkal dan air sungai. Garis kontur umur sama menunjukkan bahwa pola dinamika air tanah-dalam di Cekungan Bandung berasal dari daerah perbukitan di sebelah utara dan selatan menuju ke arah barat laut sehingga di kedua daerah tersebut disarankan sebagai zona konservasi. Kecepatan pergerakan air tanah-dalam berkisar antara 0,25–3 m/tahun. Water table in the center of Bandung basin has been decreased around 1-2 m/year since 1990 whereas in the slope has been decreased at higher level of 15 m. Water level decreasing are going to increase continuously because of increasing number of deep wells (>40 m). In 1970, there were 96 deep wells which have been registered, but now number of deep wells is estimated of more than 4700. Therefore, a study of interrelationship between groundwater and surface water, and determination of recharge area for Bandung basin are crucial research to be conducted. Stable isotopes in nature such as 2H and 18O, and radioactive isotope of 14C can give important information about groundwater dynamic pattern.  In this research, 24 deep groundwater samples, 28 shallow groundwater and river water samples (Citarum, Cikapundung, Cikeruh and Citarik rivers) and shallow groundwater along the rivers were collected. Results from plotting d18O and d2H showed that most of shallow groundwater did not relate to river water except three locations, they are Loteng Sumbersari and Bojong Mas groundwater near to Citarum river, and groundwater near to Cikapundung river. Isotope 14C analysis indicated that deep groundwater of Bandung basin did not show relationship either by shallow groundwater or river water. Its iso-age line contour determined that dynamic pattern of deep groundwater in Bandung basin comes from northern and southern hills to direction of north-west area such that both areas are suggested as conservation zone. Rate of deep groundwater movement predicted from iso-age contour is around 0.25 to 3 m/year.
KARAKTERISTIK KIMIA DAN ISOTOP FLUIDA PANAS BUMI DAERAH GUNUNG TAMPOMAS, JAWA BARAT Prasetio, Rasi; Laksminingpuri, Neneng; Satrio, Satrio
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.07 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2018.v28.508

Abstract

Gunung Tampomas merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki manifestasi panas bumi berupa mata air panas di sekitarnya. Penelitan potensi dan karakterisasi reservoir panas bumi Gunung Tampomas telah dilakukan dengan menggunakan metode kimia serta isotop alam 18O dan 2H (deuterium) dari mata air panas dan dingin di sekitar Gunung Tampomas dengan temperatur mata air berkisar antara 20ºC hingga 50ºC. Interpretasi hasil analisis tersebut dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik reservoir seperti asal-usul fluida, temperatur reservoir dan evolusi fluida. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian mata air panas Gunung Tampomas yaitu Ciseupan dan Ciuyah memiliki kandungan klorida tinggi yang mengindikasikan fluida berasal dari reservoir panas bumi. Sementara berdasarkan perhitungan geotermometer daerah panas bumi Gunung Tampomas memiliki potensi panas bumi yang tergolong medium entalpi dengan temperatur berkisar 120-220°C. Fluida panas bumi berasal dari air meteorik dengan sedikit pencampuran dengan air magmatik. Berdasarkan data geokimia, reservoir Gunung Tampomas diperkirakan memiliki reservoir yang terletak cukup dalam.Mount Tampomas is one of many areas in West Java that has several geothermal manifestations around it. A study about geothermal potential and reservoir has been done using chemistry and natural isotopes methods taken from hot springs and cold springs around Mount Tampomas with temperature range from 20ºC to 50ºC. The interpretation of analysis results was aimed for reservoir characterization i.e. fluid origin, reservoir temperature and conceptual model of Mount Tampomas reservoir. Analysis result shows that some of hot springs, i.e. Ciseupan and Ciuyah have high chloride content that indicates the fluids are reservoir origin. While based on geothermometer calculation, Mount Tampomas has geothermal potential with temperature range 120°C to 220°C, catagorized as medium enthalpy. The geothermal fluids are meteoric origin and slightly mixed with magmatic waters. Based on geochemical evidence, the reservoir of Mount Tampomas is estimated deep seated. 
PENANGGALAN 14C UNTUK MENENTUKAN UMUR PELAPUKAN TANAH DENGAN METODE RADIOKARBON Siregar, Darwin A.; Satrio, Satrio
Berkala Arkeologi Vol 32 No 2 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.126 KB) | DOI: 10.30883/jba.v32i2.52

Abstract

Penanggalan 14C untuk menentukan umur sampel karbon selama ini dilakukan dengan metode sintesis benzena (C6H6). Dengan metode ini dapat dianalisis satu sampel dalam sehari dengan biaya bahan yang relatif tinggi. Akhir-akhir ini telah dikembangkan metode baru, yaitu metode absorpsi CO2. Metode terakhir ini sering disebut direct counting CO2, karena radioisotop 14C yang terkandung didalamnya secara langsung dicacah dan dikonversi menjadi umur. Pengembangan dan penerapan metode ini dilakukan dengan tujuan mendukung berbagai penelitian hidrologi, kelautan, klimatologi, geologi dan arkeologi secara lebih cepat, ekonomis dan praktis. Hasil analisis 14C untuk sampel yang sama menggunakan metode absorpsi CO2 dibandingkan metode sintesis benzena relatif sama.
Aplikasi Teknologi Isotop Alam untuk Analisis Pola Aliran Airtanah sebagai Studi Awal Pencemaran Airtanah yang Disebabkan Tempat Pemakaman Umum Kauman Kecamatan Demak Rahmadi, Gagad; Wijatna, Agus Budhie; Satrio, Satrio
Teknofisika Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Nuklir & Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.491 KB)

Abstract

Aplikasi isotop alam yang meliputi pemanfaatan deuterium (2H), oksigen-18 (18O) dan tritium (3H) banyak digunakan dalam penelitian hidrologi. Salah satu pemanfaatannya dalam bidang hidrologi adalah penentuan genesis dan pola aliran airtanah. Tujuan utama penelitian ini adalah pemanfaatan isotop alam untuk menentukan pola aliran airtanah menuju Desa Kadilangu dan mengetahui pengaruh pencemaran oleh Tempat Pemakaman Umum Kauman (TPU Kauman) terhadap kualitas airtanah di Desa Kadilangu. Pada penelitian ini dilakukan analisis deuterium (2H) dan oksigen-18 (18O) untuk menentukan genesis airtanah. Analisis indikator pencemaran dilakukan di dua titik yaitu, titik sebelum dan sesudah aliran airtanah melewati TPU Kauman. Indikator pencemaran yang digunakan adalah CaCO3, SO4-2 dan PO4-P. Hasil analisis menunjukan airtanah mengalir dari daerah resapan sekitar sumur Desa Mangunjiwan menuju sumur Desa Kadilangu mempunyai kesamaan genesis. Terjadi peningkatan kadar pencemar di sumur Desa Kadilangu dari aliran airtanah sumur Desa Mangunjiwan yang melewati TPU Kauman, tetapi hanya kadar CaCO3 yang melewati nilai batas ambang air minum yang ditetapkan pemerintah berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 492/MENKES/Per/IV/2010 yaitu 840 mg/L.
Upstream Hydraulic Interconnection Study of Gunungkidul Karst Area Underground Rivers Sidauruk, Paston; Satrio, Satrio; Pujiindiyati, Evarista Ristin; Aliyanta, Barokah
EKSPLORIUM Vol 38, No 2 (2017): November 2017
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.332 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2017.38.2.3715

Abstract

AbstractHydraulic interconnection of Jomblangan cave (Petung) with other caves and water discharges in Gunungkidul karst area has been investigated using tracer techniques and variationof stable isotopes and hydrochemical data interpretation from water samples near the cave. Many studies related to the interconnections of underground rivers around Gunungkidul Karst area have been conducted, most of them, however, focused on the area around Bribin and Seropan caves. This is because of the development activites of microhydro turbines to lift the water from underground river were still focused around Bribin and Seropan caves. Petung cave, located in the north of Bribin and Seropan caves, was believed to be one of the caves at the upstream river system of Bribin and Seropan, however, there is no evidence yet of the hydraulic interconnection between Petung cave with either Bribin or Seropan caves. The results of tracer technique at the current study showed that there was no hydraulic interconnection between Petung cave with either Bribin and Seropan caves.On the other hand, the study showed an indication of a direct flow from Petung cave to Sriti and Beton springs. The travel times from Petung to Sriti and Beton springs were found to be around 2 and 10 hours, respectively. This finding is also in agreement with the results of chemical and stable isotopes analysis from the research location. AbstrakPenelitian keterhubungan Gua Jomblangan (Petung) dengan gua lainnya dan keluaran air di sekitar daerah karst Gunungkidul telah dilakukan dengan menggunakan teknik perunut dan variasi kandungan isotop stabil serta hidrokimia sampel air di sekitar gua. Penelitian yang berkaitan dengan keterhubungan antara sistim aliran bawah tanah di sekitar daerah karst Gunungkidul telah banyak dilakukan, namun sebagian besar dari penelitian tersebut hanya berpusat pada gua di sekitar Bribin dan Seropan. Hal ini terjadi karena kegiatan pembangunan turbin-turbin mikrohidro untuk mengangkat air dari sungai bawah permukaan tanah masih terfokus di daerah gua Bribin dan Seropan. Gua Petung, yang berada di sebelah utara gua Bribin dan Seropan, dipercaya merupakan salah satu gua yang berada di hulu sistim sungai bawah tanah Bribin dan Seropan, namun, sampai sekarang belum ada bukti keterhubungan hidrolika antara gua Petung dengan gua Bribin maupun dengan gua Seropan.Hasil uji perunut dalam penelitian ini menunjukkan bahwa aliran air bawah tanah di gua Petung tidak berhubungan langsung dengan aliran bawah tanah di gua Bribin maupun di gua Seropan. Sebaliknya, hasil penelitian ini menunjukkan adanya aliran langsung dari gua Petung ke mata air Sriti dan Beton. Waktu tempuh yang dibutuhkan dari gua Petung ke mata air Sriti adalah sekitar 2 jam dan ke mata air Beton adalah sekitar 10 jam. Temuan ini sangat bersesuaian dengan hasil analisis kimia air dan isotop stabil dari lokasi penelitian.
Studi Interaksi Air Tanah Dangkal dan Air Sungai di Sepanjang Daerah Aliran Kali Garang Semarang Menggunakan Isotop Stabil δ18O dan δ2H Andhihutomo, Rismah Taufik; Satrio, Satrio; Prasetio, Rasi; Wijatna, Agus Budhie
EKSPLORIUM Vol 38, No 1 (2017): Mei 2017
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.139 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2017.38.1.3247

Abstract

ABSTRAKPenelitian mengenai interaksi airtanah dangkal dengan air sungai Kali Garang di Semarang, Jawa Tengah, menggunakan parameter isotop 18O dan 2H telah dilakukan. Sebanyak 16 sampel air tanah dangkal dan 3 sampel air sungai diambil untuk analisis kandungan isotop stabil d18O dan d2H menggunakan alat Liquid Water Isotope Analyzer LGR DLT-100. Hasil analisis memperlihatkan adanya dua asal daerah masukan air: daerah pertama memiliki kandungan isotop d18O antara -9,41 ‰ hingga-8,5 ‰ dan d2H antara -58,2 ‰ hingga -51,6 ‰; daerah kedua memiliki kandungan isotop d18O dan d2H masing-masing -7,15 ‰ dan -41,55 ‰. Dengan demikian, hasil tersebut mengindikasikan bahwa sampel-sampel air pertama berasal dari elevasi yang relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan asal sampel air kedua, namun keduanya tidak mengalami interaksi dengan air sungai. Sedangkan sampel air tanah lainnya menunjukkan bahwa satu sampel (R4) memiliki interelasi berupa pencampuran dengan air sungai dan dua sampel lainnya (L1 dan R1) mengalami pencampuran dengan air asin atau air laut. ABSTRACTA study related to shallow groundwater interaction with Kali Garang River water in Semarang, Central Java using stable isotopes of 18O and 2H has been conducted. As much as 16 groundwater and 3 river water samples were taken for stable isotopes d18O and d2H analysis using Liquid water isotope analyzer LGR DLT-100. The results of analysis shows that there are two area of water recharge origin: the first area contains d18O isotope ranging between -9.41 ‰ to -8.5 ‰ and d2H between -58.2 ‰ to -51.6 ‰; the second area contains isotopes of d18O and d2H -7.15 and -41.55 ‰, respectively. Thus, these results indicate that the first water samples originate from a higher elevation than the origin of the second water sample, but both of them have no interrelation with river water. Whereas, other groundwater samples show that the sample (R4) has interrelation (i.e. mixing) with the river water and two other samples (L1 and R1) have interrelation with salty water or seawater.