Nanan Sekarwana
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 43 Documents
Articles

COMPARISON OF ESTIMATED GLOMERULAR FILTRATION RATE MEAN VALUE OF HARUS 15-30-60, HADI, AND ASIAN FOMULA ACCURACY IN DIABETES MELLITUS TYPE 2 Rachmayati, Sylvia; Parwati, Ida; Martakusumah, Abdul Hadi; Soelaeman, Rachmat; Sekarwana, Nanan
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : International Journal of Integrated Health Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: To compare the accuracy of HARUS 15-30-60, HADI, and Asian Formulas (Chinese-equation (Ch-E), Japanese-equation (Jp-E), and Thai- equation (Th-E)) for estimated glomerular filtration rate (eGFR).Methods: The Kidney Dialysis Outcome Quality Initiative (KDOQI) has published a guideline to measure renal function, which is based on glomerular filtration rate (GFR). This procedure is complicated and expensive, therefore an estimated GFR (eGFR) has been proposed. The modification of diet in renal disease (MDRD) study prediction equation is the most frequently eGFR used. This method still have a weakness in accuracy, so the chronic kidney disease epidemiology collaboration (CKD-EPI) formula is developed. Since CKD-EPI is not practical for daily use, the MDRD is published for Asian population that includes Ch-E, Jp-E, and Th-E. In Indonesia, the MDRD formula has not been validated using any gold standard, therefore 2 new formulas have been developed, i.e. HARUS 15-30-60 and HADI formulas. In this study, we analyzed 102 medical records of Diabetes Mellitus Type 2 (DMT2) patients who visited Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung during the period of 2012 to 2013. We analyzed the data using HARUS 15-30-60, HADI, Asian formulas, and then compared them to CKD-EPI to see the accuracy. Statistical analysis used was paired t-test in SPSS-17 program.Results: The accuracy of the different formulas are as follows: HADI (p=0.173), HARUS 15-30-60 (p=0.060), Ch-E (p=0.001), Th-E (p=0.000), and Jp-E (p=0.000).Conclusions: HADI is the most accurate formula, followed by HARUS Formula, Ch-E, and Th-E and Jp-E, respectively.Keywords: Chinese-equation, HADI and HARUS 15-30-60 formulas, Japanese-equation, and Thai-equation DOI: 10.15850/ijihs.v3n1.403
KORELASI KADAR ALBUMIN SERUM DENGAN PERSENTASE EDEMA PADA ANAK PENDERITA SINDROM NEFROTIK DALAM SERANGAN Novina, -; Gurnida, Dida Akhmad; Sekarwana, Nanan
Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sindrom nefrotik (SN) merupakan kelainan glomerulus yang ditandai proteinuria masif, hipoalbuminemia, edema, dan hiperlipidemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar albumin serum dan persentase edema pada anak penderita SN dalam serangan. Suatu uji analitik korelasional rancangan cross-sectional dilakukan selama bulan Agustus 2009 sampai Januari 2010. Subjek penelitian adalah anak penderita SN dalam serangan, usia 1?14 tahun, berobat ke poliklinik atau dirawat di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin dan RS Jejaring (RSU Cibabat dan RSU Ujung Berung). Persentase edema dihitung dengan mengurangi total body water (TBW) anak saat sakit dengan TBW ideal, kemudian hasilnya dipersentasekan dengan TBW ideal. Analisis statistik menggunakan Uji korelasi Spearman. Pada penelitian ini didapatkan 29 subjek terdiri atas 26 laki-laki dan 3 perempuan. Kadar albumin serum rata-rata 1,45 g/dL dan persentase edema 21,6%. Hasil Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang sangat bermakna (p=0,006) antara kadar albumin serum dan persentase edema (r=-0,501). Simpulan, terdapat hubungan negatif antara kadar albumin serum dan persentase edema pada anak penderita SN dalam serangan. [MKB. 2015;47(1):55?9]Kata kunci: Kadar albumin serum, persentase edema, sindrom nefrotik dalam seranganCorrelation Between Serum Albumin Levels and Percentage of Edema during Nephrotic Stage in Children with Nephrotic Syndrome Nephrotic syndrome (NS) is a glomerular disorder characterized by massive proteinuria, hypoalbuminemia, edema, and hyperlipidemia. The aim of this study was to evaluate the correlation between serum albumin levels and percentage of edema during nephrotic stage in children with NS. Cross-sectional design with correlational analytic was used in this study. The subjects of this study were outpatients and inpatients with NS during nephrotic stage, aged between 1 and 14 years old, admitted to Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, Cibabat Hospital, and Ujung Berung Hospital from August 2009 to January 2010. Percentage of edema was calculated by substracting total body water (TBW) during illness to ideal TBW, then divided the result by ideal TBW. Subjects were 29 children, consisted of 26 boys and 3 girls. Mean serum albumin levels was 1.45 g/dL and percentage of edema was 21.6%. Analysis using Spearman correlation test showed a highly significant correlation (p=0.006) between serum albumin levels and percentage of edema in children with NS during nephrotic stage (r=-0.501). In conclusion, there is a negative correlation between serum albumin levels and percentage of edema during nephrotic stage in children with NS. [MKB. 2015;47(1):55?9]Key words: Nephrotic syndrome, nephrotic stage, percentage of edema serum albumin levels    DOI: 10.15395/mkb.v47n1.408
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP DIMENSI KUALITAS PELAYANAN TENAGA PELAKSANA ELIMINASI MENGGUNAKAN PEMODELAN RASCH sari, dini riyantini; Sekarwana, Nanan; Hinduan, Zahrotur Rusyda; Sumintono, Bambang
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 1 (2016): Volume 2 Nomor 1 September 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.047 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i1.10419

Abstract

Jenis penyakit filariasis limfatik telah lama menjadi masalah kesehatan khususnya daerah endemis filariasis di Indonesia. Tahun 2014 angka mikrofilaria rate (Mf rate) di Kelurahan Nibung Putih sebesar 2,08%. Tingginya prevalensi penyakit filariasis limfatik berhubungan dengan kualitas pelayanan Tenaga Pelaksana Eliminasi (TPE). Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kepuasan masyarakat terhadap dimensi kualitas pelayanan TPE di Kelurahan Nibung Putih Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner berupa formulir pengumpulan data hasil modifikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Valarei dan Nasution D.C. Pemodelan Rasch digunakan untuk analisis data kuesioner, desain penelitian ini adalah observasional analitik kuantitatif dengan metode survei, pendekatan waktu cross sectional studies pada bulan April 2016 dengan subjek warga Kelurahan Nibung Putih yang berjumlah 103 orang. Item pada masing-masing konstruk didapati mempunyai daya diskriminasi yang beragam, yang menunjukkan instrumen mempunyai kemampuan mengukur. Hasil analisis keseluruhan responden bahwa sebanyak 103 berada di atas rata-rata logit item (+0,00 logit) yang menunjukkan persetujuan responden pada kualitas pelayanan. Hasil analisis univariat berdasarkan karakteristik responden dapat disimpulkan bahwa umur masa remaja akhir (42,9%), jenis kelamin laki-laki (55,2%), pendidikan tidak tamat SD (66,7%), pekerjaan buruh dan karyawan swasta (100%), memberikan penilaian sangat puas terhadap dimensi kualitas pelayanan TPE di Kelurahan Nibung Putih.Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Pemodelan Rasch, Tenaga Pelaksana Eliminasi
HUBUNGAN KADAR ALBUMIN SERUM DENGAN NEUTROPHIL GELATINASE-ASSOCIATED LIPOCALIN URINE PADA PENDERITA SINDROM NEFROTIK ANAK Nurisya, Deasy; Nataprawira, Heda Melinda; Sekarwana, Nanan
Majalah Kedokteran Bandung Vol 46, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Neutrophil gelatinase-associated lipocalin  (NGAL)  merupakan  penanda biologis  kerusakan ginjal yang kadarnya meningkat sejalan dengan terjadinya kerusakan pada tubulus proksimal. Tujuan  penelitian untuk  menganalisis hubungan  kadar albumin serum dengan NGAL urine pada penderita SN anak dalam serangan.  Subjek adalah  penderita SN dalam serangan berusia 1?14 tahun. Penelitian observasional analitik dengan metode potong lintang dilaksanakan  di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah  Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung dari September 2011 sampai Maret 2012. Pemeriksaan kadar albumin serum  dilakukan dengan metode bromcresol green dan  NGAL urine dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Uji statistik dengan Korelasi  Pearson  untuk data dengan distribusi normal.  Subjek terdiri atas 14 laki-laki dan 10 perempuan. Kadar albumin serum rerata dan  NGAL urine rerata  adalah 1,37 (SB 0,33) g/dL dan  2.719,37 (SB 3.781,82) ng/mL.  Hasil analisis menunjukkan hubungan bermakna antara penurunan kadar albumin serum dan  peningkatan kadar NGAL urine (r=-0,519; p=0,009).  Simpulan, semakin rendah kadar albumin serum maka semakin tinggi kadar  NGAL urine. Pada penderita SN anak dengan hipoalbuminemia perlu diwaspadai penurunan fungsi ginjal.    Kata kunci: Albumin, anak,  NGAL urine, sindrom nefrotikCorrelation between Serum Albumin and Urine Neutrophil Gelatinase Associated Lipocalin Levels in Children with Nephrotic SyndromeNeutrophil gelatinase-associated lipocalin (NGAL) is a biological marker found in kidney damage that increases in proximal tubular  damage. The purpose of this study was to analyze the correlation between serum albumin and  urine NGAL (uNGAL) levels in children with NS at initial presentation or relapse. Subjects in this study were 1?14 year-old children with NS. An observational analytical study with cross sectional design was conducted in the Pediatric Department of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung and Bandung City Public Hospital from September 2011 to March 2012. The serum albumin level and uNGAL level were measured using bromcresol green method and enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), respectively. Data were analyzed using Pearson correlation test on normal distribution data. Subjects consisted of 14 boys  and 10 girls. Mean serum albumin  and  uNGAL levels were 1.37 (SD 0.33) g/dL  and  2,719.37 (SD 3,781.82) ng/mL, respectively. There was a significant correlation between decreased albumin level and elevated uNGAL level (r=?0.519, p=0.009). In conclusion, the lower the albumin level, the higher the uNGAL level. An awareness should be developed towards the possibility that hypoalbuminemia in children with NS might decrease renal function. Key words:  Albumin, children, nephrotic syndrome, uNGAL DOI: 10.15395/mkb.v46n3.319
Kadar Svcam-1 pada Penderita Sindrom Nefrotik Kambuh Sekarwana, Nanan
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.163-6

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik pada anak umumnya sensitif terhadap pengobatan, walaupun demikian60%–80% akan mengalami kekambuhan; 20% jenis kambuh jarang, 40% jenis kambuh sering. Prognosispada sindrom nefrotik kambuh sering kurang baik dikaitkan dengan peningkatan kadar profil lemak kecualiHDL. Untuk petanda aterosklerosis dapat digunakan kadar VCAM-1 dalam serum. Dengan meningkatnyakadar profil lemak pada anak dengan sindrom nefrotik, muncul pertanyaan apakah anak dengan sindromnefrotik juga memiliki risiko menderita aterosklerosis.Tujuan. Mengetahui kadar sVCAM-1 pada sindrom nefrotik kambuh sering dibandingkan dengan sindromnefrotik kambuh jarang dan anak sehat.Metode. Penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 29 anak dengan sindromnefrotik kambuh jarang, 21 anak dengan sindrom nefrotik kambuh sering dan 50 anak sehat.Hasil. Rerata sVCAM-1 masing-masing pada sindrom nefrotik jenis kambuh sering, kambuh jarang dankontrol 871,01; 1038,31 dan 715,30 ng/dl.Kesimpulan. Terdapat perbedaan kadar sVCAM yang bermakna pada ketiga kelompok (F=22,43;p.<0,001). Jenis sindrom nefrotik, baik kambuh sering maupun kambuh jarang, tidak mempunyai kontribusiyang besar terhadap kadar sVCAM-1 (adjusted R2 8,9%), walaupun diketahui bahwa prognosis sindromnefrotik kambuh sering lebih buruk dibandingkan dengan kambuh jarang karena adanya faktor risikoaterosklerosis yang berulang.
Pengaruh Pengetahuan Terhadap Sikap Ibu Mengenai Imunisasi Ulangan Difteria-Tetanus Purnama, Yenny; Fadlyana, Eddy; Sekarwana, Nanan
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.807 KB) | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.117-121

Abstract

Latar belakang. Peran serta dan penerimaan ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus diperlukan untuk menunjang upaya pencegahan penyakit tersebut.Tujuan. Mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap sikap ibu murid SD kelas I mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus.Metode. Subjek penelitian adalah ibu murid SD kelas I di Kotamadya Bandung, menggunakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Rancangan penelitian kuantitatif berupa survei cross-sectional dimulai bulan November sampai Desember 2007. Sampel diambil secara cluster random sampling. Analisis statistik dilakukan untuk melihat pengaruh pengetahuan ibu murid SD kelas 1 terhadap sikap imunisasi ulangan difteria-tetanus dengan menggunakan analisis jalur. Pengetahuan adalah informasi yang dimiliki oleh ibu mengenai penyebab, gejala, pengobatan, penularan, dan pencegahan tentang penyakit difteria-tetanus. Sikap adalah respons ibu terhadap penyakit difteria-tetanus mengenai penyebab, gejala, pengobatan, penularan, dan pencegahannya. Rancangan penelitian kualitatif berupa focus group discussion dengan analisis deskriptif, untuk menilai pengetahuan dan sikap ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus yang tidak tergali dengan penelitian kuantitatif. Sampel diambil sebanyak 5-10 orang dari ibu yang telah ikut dalam penelitian kuantitatif.Hasil. Didapatkan 226 ibu dengan rata-rata usia 35 tahun. Hasil analisis jalur, didapatkan pengetahuan secara signifikan dipengaruhi oleh pendidikan ibu dan jumlah anak. Sikap signifikan dipengaruhi oleh pendidikan ibu dan pengetahuan (95%CI: -t<+1,96>t). Hasil analisis jalur didapatkan pengaruh total pendidikan ibu dan pengetahuan terhadap sikap adalah cukup. Pengaruh total pendidikan ibu dan jumlah anak terhadap pengetahuan adalah kurang. Analisis focus group discussion tergambarkan bahwa ibu yang mempunyai pengetahuan tinggi lebih bersikap mandiri terhadap pelaksanaan imunisasi ulangan difteria-tetanus.Kesimpulan. Pengetahuan ibu berpengaruh positif terhadap sikap ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus
Korelasi Kadar Hemoglobin dengan Kadar Vascular Endothelial Growth Factor Plasma pada Tetralogi Fallot Permatagalih, Vidi; Rahayuningsih, Sri Endah; Sekarwana, Nanan
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.663 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.156-60

Abstract

Latar belakang. Vascular endothelial growth factor-A (VEGF-A) diketahui merupakan penanda hipoksia jaringan yang berperan dalam angiogenesis. Anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik seperti Tetralogi Fallot (TF) mengalami hipoksia jaringan dengan komplikasi timbulnya pembuluh darah baru kolateral, polisitemia hipoksik, dan anemia relatif.Tujuan. Menentukan korelasi kadar VEGF plasma dengan kadar Hb.Metode. Penelitian analisis cross-sectional yang mengambil data secara konsekutif anak TF yang berobat ke poli rawat jalan dan rawat inap Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Kekuatan korelasi kadar Hb dengan VEGF ditentukan dengan uji korelasi Spearman. Kemaknaan dihitung berdasarkan nilai p<0,05. Analisis data dilakukan dengan program SPSS for windows versi 17.0.Hasil. Duapuluh pasien anak TF yang menjadi subjek penelitian, terdiri atas 9 anak laki-laki dan 11 anak perempuan. Didapatkan korelasi negatif bermakna berkekuatan sedang antara kadar Hb dan kadar VEGF (r=-0,503; p=0,024). Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar VEGF plasma menurut jenis kelamin dan status gizi (p=0,412 dan 0,948), tetapi terdapat perbedaan bermakna kadar VEGF plasma menurut kelompok usia (p=0,048).Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif antara kadar Hb dan kadar VEGF plasma. Kadar VEGF plasma dapat diperkirakan dari kadar Hb, apabila kadar Hb semakin rendah, maka kadar VEGF meningkat.
Hubungan Kadar Aspartat Aminotransferase (AST) dan Alanin Aminotransferase (ALT) Serum dengan Spektrum Klinis Infeksi Virus Dengue pada Anak Darajat, Agus; Sekarwana, Nanan; Setiabudi, Djatnika
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.359-62

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue memiliki spektrum klinis yang luas, yaitu dapat asimtomatis maupunbermanifestasi klinis sebagai demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD) maupun sindromsyok dengue (SSD). Pada infeksi dengue didapatkan peningkatan kadar aspartat aminotransferase (AST)dan alanin aminotransferase (ALT) serum. Kadar AST dan ALT serum diduga berperan sebagai indikatortingkat keparahan penyakit.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar AST dan ALT serum dengan spektrum klinis infeksi dengue pada anak.Metode. Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilakukan pada 1 Maret-30 April 2007di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian kasus infeksi dengue,berusia < 14 tahun secara berurutan memenuhi kriteria klinis DD, DBD, dan SSD menurut WHO (1997)yang disertai bukti serologis infeksi dengue. Uji ANOVA digunakan untuk menilai hubungan kadar ASTdan ALT serum dengan spektrum klinis infeksi dengue pada anak. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilaip<0,05. Seluruh perhitungan statistik dikerjakan dengan piranti lunak SPSS versi 13,0 for Windows.Hasil. Terdapat 60 subjek penelitian terdiri dari 25 (41,7%) laki-laki dan 35 (58,3%) perempuan, denganusia termuda 6 bulan dan tertua 14 tahun. Berdasarkan spektrum klinis subjek terdiri dari kelompok DD17 (28,3%), DBD 21 (35%), dan SSD 22 (36,3%) anak. Nilai rerata AST pada DD 63,2±6,6, DBD267,5±116,1, SSD 1491,5±492,4. Nilai rerata ALT pada DD 29,4±2,4, DBD 78,0±25,3, SSD 435,0±122,1.Hasil uji ANOVA menunjukkan terdapat hubungan kadar AST dan ALT serum dengan spektrum klinisinfeksi dengue pada anak (F=6,018; p=0,000).Kesimpulan. Pada anak dengan infeksi dengue semakin tinggi kadar AST dan ALT serum, semakin beratderajat penyakit 
Hubungan Dosis Kumulatif Prednison dan Gangguan Umur Tulang pada Sindrom Nefrotik Relaps Sering Firdaus, Budi; Rosalina, Ina; Sekarwana, Nanan
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.128 KB) | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.357-61

Abstract

Latar belakang. Pemberian prednison jangka panjang selama pengobatan sindrom nefrotik (SN) mengganggu proses pertumbuhan, terutama pertumbuhan kartilago secara langsung dan gangguan faktor-faktor pertumbuhan (growth factors). Pada SN relaps sering, selalu diberikan prednison jangka panjang yang berulang sehingga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan yang dapat diketahui dari gangguan umur tulang.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara dosis kumulatif prednison dan gangguan umur tulang pada anak pasien SN relaps sering.Metode. Penelitian menggunakan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian adalah anak pasien SN relaps sering, berumur 1-14 tahun, yang berobat jalan di poliklinik Subbagian Nefrologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung mulai bulan April sampai dengan Juni 2008. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, penghitungan dosis kumulatif prednison selama pengobatan, dan pemeriksaan umur tulang. Analisis regresi linier multipel digunakan untuk menilai dosis kumulatif prednison, umur awitan penyakit, lama pemberian prednison, dan jumlah relaps, merupakan faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan umur tulang. Dinyatakan bermakna bila p<0,05.Hasil. Didapatkan 23 anak dengan rata-rata dosis kumulatif prednison (9.677,8±5.016,8) mg, umur awitan (53,30±24,7) bulan, lama pemberian prednison (36,3±22,2) bulan, jumlah relaps (4,5±1,7) kali, dan selisih umur tulang adalah (35,52±21,2) bulan. Analisis regresi multipel dari faktor risiko menunjukkan hanya dosis kumulatif prednison yang menunjukkan hubungan yang bermakna (p<0,05) sedangkan umur awitan penyakit akan menunjukan hubungan yang bermakna (p<0,05) bila jumlah sampel minimal 33.Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna antara dosis kumulatif prednison dan gangguan umur tulang pada anak pasien SN relaps sering.
Hubungan Kadar Laktat Plasma dengan Derajat Disfungsi Organ Berdasarkan Skor PELOD pada Anak Sakit Kritis Dharma, Aedi Budi; Rosalina, Ina; Sekarwana, Nanan
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.280-4

Abstract

Latar belakang. Peningkatan kadar laktat menunjukkan hipoksia jaringan dan bila berlangsung lama akan menyebabkan kematian sel dan disfungsi organ. Skor PELOD (pediatric logistic organ dysfunction) merupakan skor komposisi yang dapat digunakan untuk menilai derajat disfungsi organ dan prediksi kematian.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar laktat plasma dengan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD pada anak sakit kritis.Metode. Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS dr. Hasan Sadikin Bandung pada April-Mei 2008. Pasien anak sakit kritis usia 1 bulan sampai 14 tahun dipilih secara konsekutif. Untuk menentukan korelasi antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ dilakukan dengan Spearman rank correlation. Kadar laktat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu kadar laktat <2 mmol/L dan kadar laktat ≥2 mmol/L. Perbandingan antara kelompok kadar laktat dan distribusi umur, skor PELOD, dan jumlah disfungsi organ dilakukan uji Mann-Whitney. Variabel hipoperfusi dilakukan dengan uji chi-square. Hubungan antar variabel dengan regresi logistik.Hasil. Didapatkan 45 subjek dengan umur rata-rata 48,7 bulan. Jenis kasus kegawatan terbanyak adalah kegawatan kardiovaskular. Kadar laktat rata-rata 3,45 mmol/L dan rata-rata mengalami 3 disfungsi organ. Terdapat hubungan positif yang bermakna antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD (rs=0,54 p=0,001), juga dengan jumlah organ yang mengalami disfungsi. Kadar laktat plasma ≥3,3 mmol/L berhubungan dengan keadaan hipoperfusi.Kesimpulan. Terdapat hubungan antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD
Co-Authors - Novina Abdul Hadi Martakusumah Achadiyani Achadiyani, Achadiyani Ackni Hartati, Ackni Aedi Budi Dharma, Aedi Budi Ag Soemantri Agus Darajat, Agus Amelia Harsanti, Amelia Andayani, Sri Hastuti Anita Deborah Anwar Aumas Pabuti, Aumas Azhali M. S., Azhali M. Bachti Alisjahbana Bambang Sumintono Bestari, Astuti Dyah Bethy S Hernowo, Bethy S Budi Firdaus, Budi Damayanti, Meita Danny Hilmanto, Danny Dany Hilmanto Deasy Nurisya Dedi Rachmadi Deni Kurniadi Sunjaya, Deni Kurniadi Dida Akhmad Gurnida dini riyantini sari, dini riyantini Djatnika Setiabudi Dzulfikar DLH, Dzulfikar Eddy Fadlyana Elsa Pudji Setiawati Endang Susilowati Endang Sutedja Farhati, Farhati Firman F Wirakusumah Firman Fuad Wirakusumah Fitria Fitria Gurnida, Dida Ahmad Guswan Wiwaha Hadiyati, Ida Hafni, Ade Heda Melinda Nataprawira Herman Susanto Herman, Herry Herry Garna Hertanto Wahyu Subagio Husin, Farid Husin, Farid Ida Parwati Ike Rostikawati Husen Ina Rosalina Intania, Sekky Intania, Sekky Irman Somantri Ishak Abdulhak Johanes Cornelius Mose Juntika Nurihsan, Juntika Kusnandi Rusmil Lelly Yuniarti, Lelly Meida Erimarisya, Meida Meilani Meilani, Meilani Meita Dhamayanti Muhammad Heru Muryawan Nafsi, Nurizzatun Nita Arisanti Nurhalim Shahib Nurusofa Surti Dewi, Nurusofa Surti Oyoh, Oyoh Paramita Diah Winarni Partini P Trihono, Partini P Rachmat Soelaeman Rachmawati, Anne Dian Rahmawati, Alfiah Rosalinna, Rosalinna Rusmi, Viramita K Ruswana Anwar Ryadi Fadil, Ryadi Setiawati, Elsa Puji Sri Endah Rahayuningsih Sri Susilawati Suksesty, Catur E Sylvia Rachmayati Ulfah, Kurniaty Veratiwi, Veratiwi Vidi Permatagalih, Vidi Viiola Irene Winata, Viiola Irene Viramitha Kusnandi Rusmil, Viramitha Kusnandi Wulandhari, Yopi Yani Triyani, Yani Yenny Purnama, Yenny Yudi Mulyana Hidayat Yuni Susanti Pratiwi, Yuni Susanti Zahrotur Rusyda Hinduan, Zahrotur Rusyda