Articles

Found 14 Documents
Search

PERAN KOMITE SEKOLAH SMP DI KOTA SEMARANG Widodo, Suwarno; Senowarsito, Senowarsito; Susanto, Dias Andris; Sari, Ryky Mandar
Media Penelitian Pendidikan : Jurnal Penelitian dalam Bidang Pendidikan dan Pengajaran Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/mpp.v2i2.283

Abstract

Komite Sekolah merupakan suatu badan atau lembaga non ?óÔé¼ÔÇ£ profit dan non ?óÔé¼ÔÇ£ politis, dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stakeholers pendidikan pada tingkat satuan pendidikan sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan. MBS adalah suatu bentuk alternatif program desentralisasi pendidikan di sekolah. Ciri ?óÔé¼ÔÇ£ ciri MBS adalah adannya otonomi yang kuat di tingkat sekolah, peran aktif masyarakat dalam pendidikan, proses pengambilan keputusan yang demokratis dan berkeadilan, menjunjung tinggi akuntabilitas dan tranparansi dalam setiap kegiatan pendidikan. Penelitian ini dilakukan di SMP di Kota Semarang selama bulan September dan Oktober 2008 dengan fokus penelitian peran Komite Sekolah SMP di Kota Semarang. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: (1) peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan, (2) peran komite sekolah sebagai pendukung, (3) peran komite sekolah sebagai pengontrol, dan (4) peran komite sekolah sebagai mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif - kualitatif dengan menggunakan studi kasus. Tehnik pengambilan data yang digunakan adalah observasi, wawancara serta studi dokumentasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa: (1) peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan telah menjalankan perannya dalam hal: a) menyusun RAPBS bersama sekolah, b) mengesah RAPBS pada bulan Juli (seharusnya), c) mengkontrol pelaksanaan APBS, d) mengontrol sistem pelaporan?é?á pelasanaan APBS setiap bulan, e) melaksanakan perubahan APBS pada?é?á setiap bulan Januari, f) mepertanggungjawabkan kepada masyarakat setiap akhir semester, g) memberikan pertimbangan dan rekomendasi kebijakan-kebijakan sekolah yang berkaitan dengan fungsi, hak dan kewajiban Komite Sekolah. (2) peran komite sekolah sebagai pendukung telah menjalankan perannya dalam hal: a) kegiatan operasional komite, b) pembelian alat tulis kantor, c) pendataan dan pemaparan data, d) peningkatan kualitas manajemen, f) pelayakan ruang Komite Sekolah, g) pelaksanaan pergantian pengurus, h) pembentukan paguyuban orang tua siswa. Kesungguhan terhadap pelaksanaan program kerja diwujudkan dengan penyediaan dana bagi terlaksananya kegiatan tersebut. (3) peran komite sekolah sebagai pengontrol telah berperan sebagaimana mestinya untuk hal: a) menyangkut pelaksanaan jadual KBM, b) bidang anggaran, c) tenaga kependidikan baik guru maupun non guru, d) prestasi sekolah selalu mendapatkan perhatian Komite Sekolah, e) Komite juga mengadakan pemantauan terhadap hasil ujian, kelulusan maupun kenaikan kelas. dan (4) peran komite sekolah sebagai mediator telah menjalankan perannya, dalam hal: a) membina hubungan yang sinergis antara sekolah dan stakeholders, b) mengadakan sarasehan pendidikan, c) menyelenggarakan diskusi pendidikan, d) menerbitkan media komunikasi dan, e) pemutahiran data. Namun kurang maksimal di dalam memediasi antara pihak sekolah dengan pemerintah maupun dengan dunia usaha/ industri. Saran yang disampaikan berkaitan dengan hasil penelitian antara lain, (1) Peran komite sekolah perlu lebih ditingkatkan, terutama dalam peran sebagai mediator antara sekolah dengan pemerintah atau sekolah dengan dunia usaha/industri. (2) Perlu penelitian lanjut mengingat fokus penelitian hanya menyangkut masalah peran komite sekolah. ?é?á Kata kunci : Peran, Komite Sekolah
PERAN KOMITE SEKOLAH SMP DI KOTA SEMARANG Widodo, Suwarno; Senowarsito, Senowarsito; Susanto, Dias Andris; Sari, Ryky Mandar
Media Penelitian Pendidikan Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Media Penelitian Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komite Sekolah merupakan suatu badan atau lembaga non – profit dan non – politis, dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stakeholers pendidikan pada tingkat satuan pendidikan sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan. MBS adalah suatu bentuk alternatif program desentralisasi pendidikan di sekolah. Ciri – ciri MBS adalah adannya otonomi yang kuat di tingkat sekolah, peran aktif masyarakat dalam pendidikan, proses pengambilan keputusan yang demokratis dan berkeadilan, menjunjung tinggi akuntabilitas dan tranparansi dalam setiap kegiatan pendidikan. Penelitian ini dilakukan di SMP di Kota Semarang selama bulan September dan Oktober 2008 dengan fokus penelitian peran Komite Sekolah SMP di Kota Semarang. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: (1) peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan, (2) peran komite sekolah sebagai pendukung, (3) peran komite sekolah sebagai pengontrol, dan (4) peran komite sekolah sebagai mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif - kualitatif dengan menggunakan studi kasus. Tehnik pengambilan data yang digunakan adalah observasi, wawancara serta studi dokumentasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa: (1) peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan telah menjalankan perannya dalam hal: a) menyusun RAPBS bersama sekolah, b) mengesah RAPBS pada bulan Juli (seharusnya), c) mengkontrol pelaksanaan APBS, d) mengontrol sistem pelaporan  pelasanaan APBS setiap bulan, e) melaksanakan perubahan APBS pada  setiap bulan Januari, f) mepertanggungjawabkan kepada masyarakat setiap akhir semester, g) memberikan pertimbangan dan rekomendasi kebijakan-kebijakan sekolah yang berkaitan dengan fungsi, hak dan kewajiban Komite Sekolah. (2) peran komite sekolah sebagai pendukung telah menjalankan perannya dalam hal: a) kegiatan operasional komite, b) pembelian alat tulis kantor, c) pendataan dan pemaparan data, d) peningkatan kualitas manajemen, f) pelayakan ruang Komite Sekolah, g) pelaksanaan pergantian pengurus, h) pembentukan paguyuban orang tua siswa. Kesungguhan terhadap pelaksanaan program kerja diwujudkan dengan penyediaan dana bagi terlaksananya kegiatan tersebut. (3) peran komite sekolah sebagai pengontrol telah berperan sebagaimana mestinya untuk hal: a) menyangkut pelaksanaan jadual KBM, b) bidang anggaran, c) tenaga kependidikan baik guru maupun non guru, d) prestasi sekolah selalu mendapatkan perhatian Komite Sekolah, e) Komite juga mengadakan pemantauan terhadap hasil ujian, kelulusan maupun kenaikan kelas. dan (4) peran komite sekolah sebagai mediator telah menjalankan perannya, dalam hal: a) membina hubungan yang sinergis antara sekolah dan stakeholders, b) mengadakan sarasehan pendidikan, c) menyelenggarakan diskusi pendidikan, d) menerbitkan media komunikasi dan, e) pemutahiran data. Namun kurang maksimal di dalam memediasi antara pihak sekolah dengan pemerintah maupun dengan dunia usaha/ industri. Saran yang disampaikan berkaitan dengan hasil penelitian antara lain, (1) Peran komite sekolah perlu lebih ditingkatkan, terutama dalam peran sebagai mediator antara sekolah dengan pemerintah atau sekolah dengan dunia usaha/industri. (2) Perlu penelitian lanjut mengingat fokus penelitian hanya menyangkut masalah peran komite sekolah.   Kata kunci : Peran, Komite Sekolah
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERPERSPEKTIF LIFE-SKILLS Senowarsito, Senowarsito; Wiyaka, Wiyaka; lestari, siti
Media Penelitian Pendidikan Vol 6, No 1 (2012): mpp
Publisher : Media Penelitian Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitianini adalah untuk mengembangkan sebuah model pembelajaran yang dapatmembangun life skills pada tahapan pembelajaran bahasa Inggris berbasis genre. Penelitian ini adalahpenelitian kualitatif berbasis pada analisis konsep. Penelitian dilakukan di 3 SMA dan 3 SMK di KotaSemarang dalam 4 tahapan: 1) observasi mendalam dan studi kepustakaan; 2) Wawancara dengan gurubahasa Inggris; 3).pemberian try out; 4) peer debriefing, diskusi terbatas dengan teman sejawat dan ahli,Temuan menunjukan bahwa life skills dapat diterapakan pada masing-masing tahapan pembelajaranbahasa Inggris (Building Knowledge of the Field, Modeling, Joint Construction, IndependentConstruction). Life-skills dapat diterapkan melalui: 1) pembiasaan; 2) memanipulasi isi materi; 3)penguatan dan pembetulan perilaku; dan 4) memanipulasi aktifitas kelas.Kata kunci: Kecakapan hidup, tahapan pembelajaran, proses pembelajaran.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN RAMAH ANAK DALAM KONTEKS MEMBANGUN KARAKTER SISWA DI SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA SEMARANG Senowarsito, Senowarsito; Ulumuddin, Arisul
Media Penelitian Pendidikan Vol 6, No 1 (2012): mpp
Publisher : Media Penelitian Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar harus menempatkanpendidikan ramah nak sebagai dasar membangun karakter siswa. Hasil kuesioneryang didisi oleh semua guru-guru SD se-kota Semarang yang dilakukan 3,5 bulan di16 SD Negeri se Kota Semarang. Hasil menunjukkan mereka setuju untuk selalubersikap ramah terhadap siswa-siswanya. Tidak hanya itu, sekolah juga telahmengimplementasikan beberapa nilai-nilai karakter dalam visi misi sekolah, bahkantersedia kata-kata motivasi di dinding-dinding sekolah.Kedua, bentuk-bentuk pendidikan ramah anak yang telah dilaksanakan disekolah meliputi; ketersediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh siswaseperti dalam kaitannya dengan kesehatan siswa yaitu tersedianya ruang UKS,program jumat bersih, kerja bakti, dokter kecil, BIAS maupun program tanaman toga.Sedangkan di bidang lain seperti tersedianya toilet, sanitasi air untuk mencuci tangan.Namun belum semua sekolah memiliki sanitasi air maupun toilet yang bersih. Bentukpendidikan ramah anak yang lain yaitu tersedianya perpustakaan, kantin, koperasisiswa, taman bermain siswa, dan mading. Jika dilihat dari observasi kelas, guru telahmengimplementasikan bentuk-bentuk pendidikan ramah anak seperti pemberian rasakasih sayang, perhatian terhadap siswa-siswanya. Dalam segi partisipai, bentukpendidikan ramah anak yang telah dilaksanakan seperti adanya kegiatan-kegiatansekolah dalam memperingati hari besar, serta ekstrakurikuler yang diikuti oleh semuasiswa. keterlibatan siswa dalam berbagai hal seperti dalam penataan bangku dandekorasi kelas.Ketiga, sejauhmana sekolah-sekolah dasar di kota Semarang telahmengimplementasikan pendidikan ramah anak dapat kita ketahui melalui hasilobservasi kelas dan wawancara. Sekolah telah berupaya mengimplementasikanpendidikan pendidikan ramah anak, namun faktanya masih belum optimaldikarenakan adanya beberapa kendala seperti keterbatasan dana, sarana danprasarana.Kata kunci: pendidikan ramah anak, karakter, SD Negeri di Kota Semarang
CULTURAL AWARENESS FOR ENGLISH LEARNERS Senowarsito, Senowarsito; AB Prabowo, KA
ETERNAL Vol 1, No 1 (2010): Februari Edisi 1
Publisher : ETERNAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The purpose of this study is how to enhance cultural awareness for English learners in Indonesia. Culturally, the learners have got accustomed to using Indonesian mind set or Indonesian expression style rather than native English style. The aim of teaching learning language is that learners should have communicative competence. The communicative competence model (Celce-Murcia et al) introduces that the main competence of communicative competence is discourse competence. The discourse competence can be achieved if the learners have socio-cultural competence, linguistic competence and actional competence. It means that teaching English involves not only knowledge of linguistic aspects and speech act or rhetoric aspects but also socio-cultural aspects, certain features and characteristics of the culture. In the teaching learning process, language and culture are considered interconnected. It can be stated that a language is a part of culture and a culture is a part of a language. Language cannot be taught without reference to cultural context. By understanding socio-cultural contexts, learners can encounter the factors of cultural differences. English teachers should acknowledge English expressions to the learners in English cultural contexts. In order to help teacher in assisting learners to overcome cultural problems, some activities recommended are role plays, simulation, games, readings, watching English films, inviting native speaker to attend a classroom, giving assignment to the learners to meet native speaker, and cross cultural gathering with expatriates. Thus, the English learners are expected to be able to use English as a means of communication in various spoken and written English contexts. Moreover, the development of the learners’ cultural awareness leads them to more critical thinking. The learners are more creative and have a sensitivity of culture in producing English utterances. In other words, the learners should have made efforts how to use English communicatively. Pedagogical implication for teaching English as a foreign language should consider English cultural elements integrated in English teaching-learning activities in order to gain communicative competence. Regardless of different point of views, the aim of this study provides necessary information of cultural awareness for the English teachers and learners and that of teaching learning activities incorporating the target language and its culture. Keywords:  cultural awareness, communicative competence, socio-cultural competence
MODEL PENGEMBANGAN ALINEA TOPIK WACANA BERITA: KEMAMPUAN SUPER CEPAT MENULIS JURNALISTIK Wismanto, Agus; Senowarsito, Senowarsito
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1, No 2 (2010): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v1i2.1542

Abstract

MODEL PENGEMBANGAN ALINEA TOPIK WACANA BERITA:KEMAMPUAN SUPER CEPAT MENULIS JURNALISTIK
PARENTING UNTUK ANAK USIA DINI Senowarsito, Senowarsito; Nugrahani, Dyah; D., Anita Chandra
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2012): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v3i2.1550

Abstract

PARENTING UNTUK ANAK USIA DINI
THE APPLICATION OF SPEND-A-BUCK TO ENHANCE THE STUDENT’S ABILITY IN READING REPORT TEXT: A CASE STUDY OF ELEVENTH GRADE STUDENTS OF MAN 2 PATI Senowarsito, Senowarsito; Oktavia, Catur Nita
ETERNAL (English Teaching Journal) Vol 4, No 1 (2013): February
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/eternal.v4i1.1943

Abstract

The objectives of the study are to find out the ability of the students of MAN 2Pati in who are taught by using Spend-A-Buck in reading report text and those who are not taught by using Spend-A-Buck in reading report text, and to find out if there is any significant difference of the ability of the students between those who are taught by using Spend-A-Buck and not taught by using Spend-A-Buck in reading report text. This research design was quasi-experimental research. The instrument used in collecting the data was reading test, pre-test and post-test. The research was conducted in MAN 2Pati. The samples of this research were two class of the eleventh grade students of MAN2Pati, where XI IPS 4 is as experimental group and XI IPS 3 is as control group. Based on the research findings, the writer found that (1) Spend-A-Buck enhanced students’ ability in readingreport text. Pre-test mean score of experimental class was 70.80 and post-test mean score was 83.07. The increase was 12.27, so it could be concluded that the students’ ability in readingreport text taught by usingSpend-A-Buckwas categorized “good” (2) The writer found that the result of control class pre-test was 70.00 and post-test was 73.47. The students’ ability in readingreport text increased 3.47. It was not too significant and was categorized in “fair” level (3) by using SPSS 16.0 program in the calculation, there was any significant difference of the quality of reading of the students taught by using Spend-A-Buck and those who were not taught by using Spend-A-Buck. It could be seen from the result of t-test (4.566) was higher than t-table (1.699).It answered the problems of this study that there was significant difference in the students’ reading ability taught by using Spend-A-Buck and those who were not taught by using Spend-A-Buck.
CULTURAL AWARENESS FOR ENGLISH LEARNERS Senowarsito, Senowarsito; AB Prabowo, KA
ETERNAL (English Teaching Journal) Vol 1, No 1 (2010): Februari Edisi 1
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/eternal.v1i1.155

Abstract

Abstract The purpose of this study is how to enhance cultural awareness for English learners in Indonesia. Culturally, the learners have got accustomed to using Indonesian mind set or Indonesian expression style rather than native English style. The aim of teaching learning language is that learners should have communicative competence. The communicative competence model (Celce-Murcia et al) introduces that the main competence of communicative competence is discourse competence. The discourse competence can be achieved if the learners have socio-cultural competence, linguistic competence and actional competence. It means that teaching English involves not only knowledge of linguistic aspects and speech act or rhetoric aspects but also socio-cultural aspects, certain features and characteristics of the culture. In the teaching learning process, language and culture are considered interconnected. It can be stated that a language is a part of culture and a culture is a part of a language. Language cannot be taught without reference to cultural context. By understanding socio-cultural contexts, learners can encounter the factors of cultural differences. English teachers should acknowledge English expressions to the learners in English cultural contexts. In order to help teacher in assisting learners to overcome cultural problems, some activities recommended are role plays, simulation, games, readings, watching English films, inviting native speaker to attend a classroom, giving assignment to the learners to meet native speaker, and cross cultural gathering with expatriates. Thus, the English learners are expected to be able to use English as a means of communication in various spoken and written English contexts. Moreover, the development of the learners?óÔé¼Ôäó cultural awareness leads them to more critical thinking. The learners are more creative and have a sensitivity of culture in producing English utterances. In other words, the learners should have made efforts how to use English communicatively. Pedagogical implication for teaching English as a foreign language should consider English cultural elements integrated in English teaching-learning activities in order to gain communicative competence. Regardless of different point of views, the aim of this study provides necessary information of cultural awareness for the English teachers and learners and that of teaching learning activities incorporating the target language and its culture. Keywords: ?é?ácultural awareness, communicative competence, socio-cultural competence
Participation Right Fulfillment in Early Childhood Education through Educative Game Tools Senowarsito, Senowarsito; Musarokah, Siti
Journal of Education and Learning (EduLearn) Vol 12, No 3: August 2018
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.149 KB) | DOI: 10.11591/edulearn.v12i3.7595

Abstract

The research aims at describing the implementation of participation rights in early childhood education through educative game tools (Alat Permainan Edukatif: APE) and finding out the problems encountered by the teachers in implementing participation rights through APE. The research type is qualitative research. The subjects of the research were four teachers of early childhood education in Semarang Municipality including play group and kindergarten school which were selected by using purposive sampling. The data were collected by field observation and depth-interview and analyzed in the form of a descriptive qualitative analysis. The results show that some APEs implemented in early childhood education were potentially able to enhance participation rights, but the teachers were not aware on this aspect. They tended to focus on the academic outputs and on fulfilling joyful learning. The main factor was the teachers’ knowledge on the importance of APE for comprehending the participation rights of the child in learning process, including the limited number of APEs created and the flexibility of the APEs available. As participation rights are essential in learner-centered approach, APE as an educational game tool should be created and manipulated to accommodate the rights, including protection and provision rights.