Djatnika Setiabudi
Department of Child Health Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

Clinical and laboratory features of pediatric Typhoid fever at the Department of Child Health, Hasan Sadikin General Hospital Bandung Setiabudi, Djatnika; Azhali, M.S.; Garna, Herry; Chairulfatah, Alex
Medical Journal of Indonesia Vol 7 (1998): Supplement 1
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.139 KB) | DOI: 10.13181/mji.v7iSupp1.1145

Abstract

[no abstract available]
Antibiotic resistance patterns of pediatric Typhoid fever at the Department of Child Health, Hasan Sadikin General Hospital, Bandung Setiabudi, Djatnika; Azhali, M.S.; Garna, Herry; Chairulfatah, Alex
Medical Journal of Indonesia Vol 7 (1998): Supplement 1
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.452 KB) | DOI: 10.13181/mji.v7iSupp1.1146

Abstract

[no abstract available]
Clinical Presentation and Laboratory Features in Pediatric Typhoid Fever Patient Susceptibility to First-line Antibiotic Therapy Ratnasari, Dewi; Setiabudi, Djatnika; Rakhmilla, Lulu Eva
Althea Medical Journal Vol 2, No 4 (2015)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.585 KB)

Abstract

Background: RTyphoid fever remainsa serious health problem in the world. The main cause of this disease is Salmonella enterica serovar Typhi. These microbes have developed resistance to first-line antibiotics (chloramphenicol, ampicillin, and co-trimoksazol) since 1950. Clinical presentation and laboratory features conducted in children infected with resistant strains tend to be more severe. The objective of this study was to determine the differences of clinical presentation and laboratory features in pediatric typhoid fever patient susceptibility to first-line antibiotics.Methods: This was an analytical cross-sectional study of total 119 typhoid fever children with positive blood culture of Salmonella Typhi based on medical data in Department of Child Health Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung during 2008–2012. Inclusion criteria included 76 patients with age range 1–15 years old, given an antibiotic, and had susceptibility test done. Numerical variable was the duration of fever in patients after given an antibiotic. Categorical variable included hepatomegaly, diarrhea, platelet count at admission, and leukocyte count at admission. Data were analyzed using a Mann-Whitney and Chi-square test.Results: There was no statistically significant difference in the duration of fever, leucocyte count at admission, and thrombocyte count at admission between sensitive and resistant response to chloramphenicol, ampicillin, and co-trimoksazol (p>0.05). Leucocyte count at admission in children with sensitive and resistant strain to ampicillin almost showed a difference (p=0.07) but still not statistically significant difference.Conclusions: There is no difference of clinical presentation and laboratory features in pediatric typhoid fever patient susceptible to first-line antibiotics. [AMJ.2015;2(4):584–90] DOI: 10.15850/amj.v2n4.653
Faktor Risiko Kecurigaan Infeksi Saluran Kemih pada Anak Laki-Laki Usia Sekolah Dasar Triasta, Triasta; Setiabudi, Djatnika; Rachmadi, Dedi
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.137-41

Abstract

Latar belakang. Faktor risiko infeksi saluran kemih (ISK) di antaranya usia, gizi buruk, kebersihan diri, dan pada anak laki-laki belum sirkumsisi. Parameter analisis urin adalah leukosituria, leukosit esterase, dan uji nitrit dapat digunakan untuk kecurigaan ISK.Tujuan. Mengetahui faktor risiko kecurigaan ISK pada anak laki-laki usia sekolah dasar(SD).Metode. Penelitian potong lintang, dilaksanakan bulan Mei 2016 di SDN 4 Sejahtera Bandung. Subjek memenuhi kriteria inklusi (tidak minum antibiotik selama 2 hari terakhir dan tidak ada kelainan genitalia eksternal) dilakukan pencatatan data meliputi usia, status gizi, higiene, dan status sirkumsisi, dilanjutkan pemeriksaan leukosit, leukosit esterase, serta uji nitrit urin. Analisis statistik dilakukan 2 tahap, pertama dengan uji bivariat yang kemaknaannya pada p<0,25 dilanjutkan uji multivariat. Kemaknaan uji ditetapkan pada nilai p<0,05.Hasil. Diperoleh 120 subjek dengan kecurigaan ISK 7 (5,8%) anak. Pada uji bivariat, usia, dan status sirkumsisi dihubungkan dengan kecurigaan ISK mempunyai nilai p=0,940 dan p=0,340. Status gizi dan higiene mempunyai nilai p=0,176 dan p=0,029 sehingga dilanjutkan dengan uji regresi logistik menghasilkan nilai p=0,045 dan p=0,049.Kesimpulan. Status gizi dan higiene merupakan faktor risiko kecurigaan ISK pada anak laki-laki SD.
Hubungan Antara Kadar Feritin dan Kadar 25-Hidroksikolekalsiferol {25(OH)D} Serum Pasien Thalassemia Mayor Anak Fadilah, Tubagus Ferdi; Rahayuningsih, Sri Endah; Setiabudi, Djatnika
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.246-50

Abstract

Latar belakang. Pasien thalassemia mayor secara progresif akan mengalami keadaan kelebihan besi akibattransfusi darah berulang dan menyebabkan hidroksilasi vitamin D 25-hidroksikolekalsiferol {25(OH)D}terganggu akibat deposisi besi di parenkim hati.Tujuan. Mengetahui korelasi antara kadar feritin dan kadar 25(OH)D pada pasien thalassemia mayor anak.Metode. Desain penelitian rancangan potong lintang dilakukan pada bulan Desember 2010–Januari 2011di poli Thalassemia anak RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sejumlah 64 subjek diambil secara consecutivesampling. Data diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan penunjang, dan catatan medis.Pemeriksaan kadar feritin serum menggunakan metode enhanced chemiluminescence immunoassay (ECLIA).Pemeriksaan kadar 25(OH)D serum menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dandilakukan di Laboratory Research and Esoteric Testing Laboratorium Klinik Prodia Jakarta. Analisis statistikdigunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk distribusi data dan transformasi log terhadap distribusi datatidak normal. Untuk mengetahui hubungan antara kadar feritin dan kadar 25(OH)D serum digunakan ujikorelasi Spearman. Hubungan dinyatakan bermakna bila p<0,05.Hasil. Dari 64 subjek berusia 2–14 tahun, didapatkan kadar feritin serum rerata (SB) 3.525 (2.356,784) ng/mL,serta kadar vitamin D 25(OH)D serum rerata (SB) 37 (10,067)nmol/L Enam puluh/enam puluh empat(94%) subjek memiliki kadar feritin serum >1.000 ng/dL, 55/64 (86%) subjek memiliki kadar 25(OH)D serum <50 nmol/L dan dianggap defisiensi vitamin D. Kadar feritin berkorelasi negatif dengan kadar25(OH)D serum (􀁕=-0,368; p<0,01).Kesimpulan. Peningkatan kadar feritin serum diikuti penurunan kadar 25(OH)D serum pada pasienthalassemia mayor anak yang berusia 2–14 tahun.
Korelasi Total Lymphocyte Count terhadap CD4 pada anak dengan Infeksi Human Immunodeficiency Virus Swity, Aulia Fitri; Setiabudi, Djatnika; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.914 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.81-6

Abstract

Latar belakang.Epidemi infeksi human immunodeficiency virus (HIV) merupakan tantangan besar dalam permasalahan kesehatan di dunia. Di Indonesia, jumlah kasus HIV/AIDS anak semakin meningkat tiap tahunnya. Pemantauan jumlah CD4 dapat membantu memutuskan dimulainya pemberian terapi anti- CD4 dapat membantu memutuskan dimulainya pemberian terapi antiretroviral/ARV, tetapi pemeriksaannya mahal dan tidak selalu tersedia di sarana kesehatan. Total lymphocyte count (TLC) diajukan sebagai panduan alternatif selain jumlah CD4 pada keadaan sarana kesehatan yang terbatas. Tujuan. Menentukan korelasi TLC dengan jumlah CD4, dan menentukan jumlah CD4 berdasarkan pemeriksaan TLC pada anak HIV.Metode. Penelitian potong lintang berupa observasional analitik, pengambilan data secara retrospektif rekam medis anak HIV yang dirawat inap di Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak dan rawat jalan di Klinik Teratai Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Dilakukan analisis regresi linier pada faktor-faktor yang berhubungan bermakna dengan CD4 untuk menentukan korelasi TLC dengan CD4, serta nilai hitung CD4 dari TLC. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05. Hasil.Subjek penelitian 67 anak HIV, terdiri dari 35 (52%) laki-laki dan 32 (48%) perempuan. Rentang jumlah CD4 berkisar antara 6–3.094 mm3, rerata 444,3 mm3(SD 536,3), median 241 mm3,dan rentang jumlah TLC antara 525–10.738, rerata 3.352,4 (SD 2.020,4), median 2.898. Analisis regresi menunjukkan hubungan linier antara jumlah CD4 sebagai variabel tergantung (Y) dan TLC sebagai variabel bebas (X) menggunakan persamaan Y= -158,209+0,180X. Didapatkan korelasi kuat antara TLC dan jumlah CD4 (r=0,68; p<0,001). Kesimpulan.Terdapat hubungan positif antara jumlah limfosit dan jumlah CD4. Jumlah CD4 pada pasien HIV anak dapat diperkirakan dari jumlah limfosit. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan cut off point TLC dalam inisiasi ARV
Hubungan Kadar Aspartat Aminotransferase (AST) dan Alanin Aminotransferase (ALT) Serum dengan Spektrum Klinis Infeksi Virus Dengue pada Anak Darajat, Agus; Sekarwana, Nanan; Setiabudi, Djatnika
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.359-62

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue memiliki spektrum klinis yang luas, yaitu dapat asimtomatis maupunbermanifestasi klinis sebagai demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD) maupun sindromsyok dengue (SSD). Pada infeksi dengue didapatkan peningkatan kadar aspartat aminotransferase (AST)dan alanin aminotransferase (ALT) serum. Kadar AST dan ALT serum diduga berperan sebagai indikatortingkat keparahan penyakit.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar AST dan ALT serum dengan spektrum klinis infeksi dengue pada anak.Metode. Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilakukan pada 1 Maret-30 April 2007di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian kasus infeksi dengue,berusia < 14 tahun secara berurutan memenuhi kriteria klinis DD, DBD, dan SSD menurut WHO (1997)yang disertai bukti serologis infeksi dengue. Uji ANOVA digunakan untuk menilai hubungan kadar ASTdan ALT serum dengan spektrum klinis infeksi dengue pada anak. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilaip<0,05. Seluruh perhitungan statistik dikerjakan dengan piranti lunak SPSS versi 13,0 for Windows.Hasil. Terdapat 60 subjek penelitian terdiri dari 25 (41,7%) laki-laki dan 35 (58,3%) perempuan, denganusia termuda 6 bulan dan tertua 14 tahun. Berdasarkan spektrum klinis subjek terdiri dari kelompok DD17 (28,3%), DBD 21 (35%), dan SSD 22 (36,3%) anak. Nilai rerata AST pada DD 63,2±6,6, DBD267,5±116,1, SSD 1491,5±492,4. Nilai rerata ALT pada DD 29,4±2,4, DBD 78,0±25,3, SSD 435,0±122,1.Hasil uji ANOVA menunjukkan terdapat hubungan kadar AST dan ALT serum dengan spektrum klinisinfeksi dengue pada anak (F=6,018; p=0,000).Kesimpulan. Pada anak dengan infeksi dengue semakin tinggi kadar AST dan ALT serum, semakin beratderajat penyakit 
Demam Tifoid pada Anak Usia di bawah 5 Tahun di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Hasan Sadikin, Bandung Setiabudi, Djatnika; Madiapermana, Kiki
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.93 KB) | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.9-14

Abstract

Latar belakang: Di Indonesia demam tifoid bersifat endemik dan dari telaah kasus dibeberapa rumah sakit, menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari tahun ke tahundengan rata-rata kesakitan 500/100.000 penduduk dan kematian 0,6 – 5,0 %. Penelitianmengenai demam tifoid pada kelompok usia < 5 tahun belum banyak dilaporkan.Tujuan: mengetahui gambaran klinis dan laboratoris demam tifoid pada anak usiakurang dari 5 tahun dan membandingkan dengan anak usia di atas 5 tahun (5-14 tahun).Metoda: penelitian non-eksperimental bersifat retrospektif. Subjek penelitian adalahpasien demam tifoid anak dengan konfirmasi biakan Salmonella. Data diambil daricatatan rekam medik pasien demam tifoid yang dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan AnakFK Unpad/RSHS Bandung dari bulan Januari 1996 sampai dengan Desember 2003.Hasil: Selama kurun waktu 1996 - 2003 didapatkan kasus demam tifoid berusia < 5tahun 108/256 (42,2%). Dengan rasio laki-laki dan perempuan 1 : 1,20. Selain keluhandemam, obstipasi dan diare merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Bradikardirelatif, hepatomegali dan lidah tifoid merupakan pemeriksaan yang sering ditemukanselain demam. Lebih dari setengah pasien didapatkan anemia dan trombositopenia.Komplikasi terjadi pada 25% kasus, yaitu gangguan neuropsikiatrik, sepsis dan syokseptik, miokarditis dan ileus. Satu pasien meninggal dengan penyebab kematian syokseptik.Kesimpulan: insidens demam tifoid pada anak usia < 5 tahun cukup tinggi, insidessemakin tinggi sesuai dengan bertambahnya usia. Tidak ada perbedaan yang bermaknadalam gambaran klinis, laboratoris dan komplikasi pada demam tifoid kelompok anakberumur < 5 tahun dibandingkan dengan anak umur > 5 tahun.
Hubungan Jenis Kelamin, Usia Gestasi, dan Berat Badan Lahir dengan Sindrom Rubela Kongenital Tandililing, Lily Cahyani; Setiabudi, Djatnika; Risan, Nelly Amalia
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.598 KB) | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.302-6

Abstract

Latar belakang. Sindrom rubela kongenital (SRK) masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Berdasarkan penelitian terdahulu. faktor usia gestasi, berat badan lahir, dan jenis kelamin berhubungan dengan kasus confirmed sindrom rubela kongenital.Tujuan. Menentukan hubungan jenis kelamin, usia gestasi, dan berat badan lahir dengan kasus probable SRK.Metode. Penelitian observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Data retrospektif diperoleh dari rekam medis pasien rawat inap dan rawat jalan usia <1 tahun periode 1 Januari 2008-31 Desember 2014, dengan kode diagnosis (ICD-10) meliputi congenital rubella syndrome, congenital heart disease, congenital cataract, sensorineural hearing loss, cerebral palsy, dan neonatal jaundice. Klasifikasi kasus SRK berdasarkan CDC 2009, yaitu suspected, probable, confirmed, dan infection only. Pemilihan subjek secara purposive sampling. Analisis statistik dilakukan dengan analisis bivariat dan regresi logistik untuk faktor dengan p<0,25 dengan Rasio Odds (RO) dan Interval Kepercayaan (IK) 95%.Hasil. Didapat 133 subjek klasifikasi SRK suspected (96), terdiri atas probable (29) dan confirmed (8). Mayoritas subjek laki-laki (58,6%), usia ibu 25-29 (48,9%) tahun, multipara (54,1%), dan tanpa riwayat vaksinasi rubela (100%). Hubungan bermakna didapatkan dalam analisis regresi logistik pada faktor jenis kelamin (p=0,002; OR 6,656; IK95% 2,046–21,657) dan berat badan lahir (p<0,001; OR 10,365; IK95% 2,839–37,834).Kesimpulan. Jenis kelamin dan berat badan lahir berhubungan dengan kasus probable SRK. Diperlukan penelitian prospektif untuk menentukan hubungan usia gestasi dengan kasus probable SRK.
Korelasi Kadar Feritin dengan Jumlah CD4, CD8, dan Rasio CD4/CD8 pada Penyandang Talasemia Mayor Anak Arseno, Bonnie; Setiabudi, Djatnika; Susanah, Susi
Sari Pediatri Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.834 KB) | DOI: 10.14238/sp19.2.2017.76-80

Abstract

Latar belakang. Pada talasemia mayor, peningkatan penyerapan besi dan transfusi darah regular mengakibatkan penumpukan besi pada berbagai organ dan gangguan sistem imun melalui berbagai mekanisme. Keadaan ini berkaitan dengan risiko infeksi pada penyandang talasemia mayor anak.Tujuan. Untuk menganalisis korelasi kadar feritin dengan jumlah CD4, CD8, dan rasio CD4/CD8 pada penyandang talasemia mayor anak.Metode. Penelitian observasional analitik menggunakan rancangan potong lintang, subjek 30 anak yang memenuhi kriteria penelitian. Analisis data menggunakan uji korelasi.Hasil. Didapatkan jumlah CD4 absolut, CD4%, CD8 absolut dan rasio CD4/CD8 menurun. Selain itu, terdapat jumlah CD4 absolut, CD8 absolut dan CD8% meningkat. Pada kelompok usia ≤5 tahun, korelasi kadar feritin dengan CD8 absolut, CD8%, dan rasio CD4/CD8 berturut-turut menghasilkan koefisien korelasi 0,691, 0,557, -0,680, dan p<0,05. Sementara pada kelompok lama terapi ≤5 tahun korelasi kadar feritin dengan CD8 absolut, CD8%, dan rasio CD4/CD8 menghasilkan koefisien korelasi 0,709, 0,571, -0,726 dengan p<0,05. Kesimpulan. Tidak terdapat korelasi antara kadar feritin dengan jumlah CD4, CD8, rasio CD4/CD8. Peningkatan kadar feritin akan diikuti dengan peningkatan jumlah CD8 absolut dan CD8%, serta penurunan rasio CD4/CD8 pada penyandang talasemia mayor anak berdasar atas usia dan lama terapi ≤5 tahun.