Elsa Pudji Setiawati
Department of Public Health Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Published : 78 Documents
Articles

THE CHARACTERISTICS, KNOWLEDGE, AND ATTITUDE OF PREGNANT WOMEN REGARDING EARLY BREASTFEEDING INITIATION ON THE FOURTH ANTENATAL CARE VISIT Setiawati, Elsa Pudji; Putri, Cindy Regina; Hafsah, Tisnasari
Althea Medical Journal Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v7n1.1710

Abstract

Background: Early breastfeeding initiation within one hour after birth can reduce maternal and neonatal mortality. One of the interventions given on the fourth antenatal care (ANC) visit is providing information regarding breastfeeding initiation, however, the implementation is low. Many factors may influence breastfeeding initiation, including knowledge and attitude. The aim of this study was to analyze the relationship among the characteristics, knowledge, and attitude of the pregnant women on the fourth ANC visit regarding early breastfeeding initiation in Jatinangor.Methods: An analytic cross-sectional study was conducted in September 2013. A total of 61 pregnant women registered for the fourth ANC visit (K4) in Jatinangor Public Health Center were involved in this study. Data were collected from questionnaires. Data on the number of gestation, level of education, source of information regarding breastfeeding initiation, knowledge and attitude about early breastfeeding initiation were collected and analyzed using chi-square.Results: There was a significant relationship between a number of gestation, level of education, source of information and knowledge also attitude, as well as between age and attitude (p<0.05). However, there was no significant association between age and knowledge (p>0.05).Conclusions: Number of gestation, level of education, and source of information have a significant relationship with both knowledge and attitudes about early breastfeeding initiation.
UKURAN ANTROPOMETRI GIZI YANG BERHUBUNGAN DENGAN PREDIABETES PADA OBESITAS DI PEJAGALAN, JAKARTA Santi, Bryany Titi; Wiramihardja, Siska; Arisanti, Nita; Raksanagara, Ardini S; Mariani, Helni; Setiawati, Elsa Pudji
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol 6 No 2 (2018): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.643 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v6i2.5974

Abstract

Prevalence of prediabetes in Indonesia is increasing Type 2 Diabetes &nbsp;prevalence and its complications. Its complications is causing &nbsp;economic burden since one third of the costs of Indonesia national health insurance?s claim. Based on this problem, prediabetes is the right strategy to do but in practice it is an effective and efficient method for high-risk groups, namely obesity. The current assessment is the Body Mass Index (BMI) but has limitation for those with big muscle . Waist circumference is debated. &nbsp;Similarly, waist &nbsp;to height ratio is shown to have corellation to prediabetes. But, studies that explain which are the best anthropometry indicator that have strongest corellation &nbsp;to prediabetes is still limited. This study aims to determine the greatest association among these anthropometry indicators to predict &nbsp;prediabetes in the obese group. Methods: The study used a cross sectional study design for 166 adult respondents 21-65 years who met one of the criteria for obesity: BMI&gt; 25 kg / m2; waist circumference&gt; 80 cm in women or&gt; 90 cm in men; weight to height ratio 0,5. Respondents had fasting for 8-10 hours before checking sugar with a glucometer. Analysis using SPSS 18.00 program, univariate &nbsp;analysis to describe characteristic respondents in the Pejagalan area, then performed linear regression analysis to see the difference between BMI, waist circumference, or the waist to height ratio with most related to prediabetes. Results: The prevalence of prediabetes in obesity was 81 people (48.2%). Different age, BMI, and behavior in male and female respondents. Regression analysis showed that weight-to-height ratio is has strongest corellation in increasing risk of prediabetes. Conclusion: Waist to heigt ratio &nbsp;can be a measure of nutritional anthropometry that is most associated with prediabetes. Keywords: BMI, waist circumference, waist circumference - height, prediabetes
ROLE OF RISK FACTORS IN THE INCIDENCE OF MULTIDRUG-RESISTANT TUBERCULOSIS Khairani, Alya Putri; Santoso, Prayudi; Setiawati, Elsa Pudji
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : International Journal of Integrated Health Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.394 KB)

Abstract

Objective: To determine the risk factors that played roles in the incidence of multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) in such patients. Multidrug-Resistant Tuberculosis is a form of tuberculosis caused by Mycobacterium tuberculosis that is resistant to at least isoniazid and rifampicin.Methods: This was a case control study to compare MDR-TB to non-MDR-TB pulmonary tuberculosis outpatients in Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung on August?September 2014. Fifty MDR-TB outpatients were included as the cases and 50 non-MDR-TB outpatients as controls. Data was collected by questionnaires and patient?s registration forms. Bivariate and multivariate analyses were performed using chi-square test and multiple logistic regression test, with p<0.05 considered significant. Results: From bivariate analysis, number of previous tuberculosis treatments, regularity of previous treatment, and burden of cost were significant risk factors for developing MDR-TB (p<0.05); while from multivariate analysis, number of previous TB treatments was the only risk factor that played a significant role in the incidence of MDR-TB (OR 24.128 95% CI 6.771-85,976). Conclusions: Patients and medication factors are risk factors that play roles in the incidence of MDR-TB. The significant risk factor is the number of previous TB treatment. Keywords: Multidrug-resistant tuberculosis, resistance, risk factors, tuberculosis DOI: 10.15850/ijihs.v5n2.991
Perbedaan Perhitungan Unit Cost dengan Menggunakan metode Activity Based Costing (ABC) dan Metode Doubel Distribution (DD) Untuk Pasien TB Paru Kategori 2 di Instalasi Rawat Jalan Dan Rawat Inap Rumah Sakit Paru Hilfi, Lukman; Setiawati, Elsa Pudji; Djuhaeni, Henni; Paramita, Sekar Ayu; Komara, Ratna
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Desember 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.113 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v1i2.12835

Abstract

Latar Belakang Indonesia menduduki rangking ke-5 dari 22 negara-negara yang mempunyai beban tinggi untuk TB dan memberikan kontribusi jumlah kasus TB di dunia sebesar 4,7%. Penatalaksanaan TB tidak mudah, membutuhkan waktu yang lama dan membutuhkan biaya yang besar. Saat ini berbagai rumah sakit menentukan tarif pelayanan berdasarkan metode DD. Perhitungan biaya satuan pada pelayanan kesehatan dapat juga dilakukan dengan menggunakan metode Activity Based Costing (ABC) yang didasarkan pada aktivitas. Tujuan mengetahui perhitungan unit cost dengan metode ABC dan metode DD di Instalasi Rawat Jalan dan Rawat Inap TB Paru Kategori 2 di Rumah Sakit Paru. Metode Penelitian deskriptif analitik menggunakan data sekunder dan metoda Pusposive Sample. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Paru Bandung selama bulan September sampai dengan Desember 2013 dengan menggunakan data rekam medis dalam kurun waktu 2 tahun yaitu pada bulan Januari 2011 sampai dengan Desember 2012. Hasil dan Diskusi perhitungan biaya satuan rata-rata dengan metode ABC untuk pasien rawat jalan TB kategori 2 sebesar Rp 611.321; untuk pasien rawat darurat TB kategori 2 sebesar Rp 713.852; untuk pasien rawat inap yang masuk melalui instalasi rawat jalan sebesar Rp 5.037.309 dan instalasi rawat darurat sebesar Rp 4.398.415. Biaya satuan rata-rata dengan metode DD untuk pasien rawat jalan TB kategori 2 sebesar Rp 421.621; untuk pasien rawat darurat TB kategori 2 sebesar Rp 734.170; untuk pasien rawat inap yang masuk melalui instalasi rawat jalan sebesar Rp 1.727.213 dan instalasi rawat darurat sebesar Rp 1.846.337. Banyak nya obat yang diberikan untuk pasien rawat jalan yaitu untuk 2 minggu sedangkan ALOS untuk pasien rawat inap yaitu 9,2 hari. Kesimpulan dan Saran perhitungan biaya satuan dengan menggunakan metode ABC lebih menguntungkan secara financial bagi Rumah Sakit dibandingkan dengan metode DD. Manajemen rumah sakit sebaiknya memiliki sistem pencatatan dan pelaporan yang rapih, terintegrasi antar unit pelayanan dan unit penunjang untuk dapat melakukan perhitungan biaya satuan dengan baik. Manajemen rumah sakit melakukan evaluasi berkala terhadap kepatuhan SOP dan penggunaan obat rasional. Kata Kunci : Activity Based Costing, Biaya Satuan, DD
Analisis Kolaborasi Antar Profesi Dalam Program Rujuk Balik Bpjs Kesehatan Di Kabupaten Kotawaringin Timur Sutriso, Tris; Setiawati, Elsa Pudji; Hilfi, Lukman
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.956 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i4.12497

Abstract

Peningkatan penyakit kronis pada usia lanjut berdampak pada peningkatan pembiayaan kesehatan, termasuk pembiayaan kesehatan yang harus ditanggung oleh BPJS. Sejak tahun 2014 BPJS melaksanakan program rujuk balik sebagai upaya efisiensi biaya kesehatan, namun dalam pelaksanaannya tidak sesuai harapan. Beberapa faktor mempengaruhinya, salah satunya adalah kolaborasi antar profesi. Tujuan penelitian menganalisis kolaborasi antar profesi dalam program rujuk balik BPJS di Kabupaten Kotawaringin Timur. Metode penelitan adalah kualitatif, dengan pendekatan studi kasus, paradigma konstruktivisme. Penelitian dilakukan dengan observasi lapangan dan data pelaksanaan program rujuk balik BPJS di Kabupaten Kotawaringin Timur, serta wawancara. Wawancara mendalam terhadap dua dokter spesialis, dua dokter umum, satu apoteker dan satu pegawai BPJS. Penelitian dilakukan di bulan Januari dan Februari 2017. Data dianalisis secara kualitatif, berdasarkan tema-tema sesuai kerangka pemikiran. Analisis data mendasarkan proposisi teoritis. Hasil penelitian: program rujuk balik BPJS di Kabupaten Kotawaringin Timur tidak mencapai target (< 5 kasus/minggu), kolaborasi antar profesi dalam program rujuk balik kurang berfungsi karena beberapa faktor: pertimbangan sosial dan intrapersonal, lingkungan kerja, intitusi, kelembagaan serta interpersonal, perilaku dan sikap para profesi serta tidak adanya leader atau penengah dalam pelaksanaan kolaborasi antar profesi. Simpulan penelitian ini adalah pelaksanaan kolaborasi antar profesi kurang berfungsi, yang berdampak target Program Rujuk Balik BPJS di Kabupaten Kotawaringin Timur tidak mencapai target.Kata kunci: BPJS Kesehatan, Kolaborasi Antar Profesi, Program Rujuk Balik
Perspektif Mahasiswa: Evaluasi Program Pendidikan Profesi Dokter Rotasi Kedokteran Keluarga di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung Indonesia arisanti, nita; Setiawati, Elsa Pudji
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Desember 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.336 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v1i2.10348

Abstract

Berbagai inovasi dalam pendidikan kedokteran harus selalu dilakukan. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah pengembangan Kurikulum PSPD Kedokteran Keluarga. Evaluasi program sangat diperlukan agar dapat diterapkan dengan baik. Evaluasi merupakan bagian integral pelaksanaan dan pengembangan kegiatan pendidikan, Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran evaluasi Program PSPD dari perspektif mahasiswa yang telah melakukan rotasi. Disain penelitian adalah deskriptif kuantitatif terhadap seluruh mahasiswa FK Unpad yang telah melakukan rotasi di PSPD Kedokteran Keluarga selama 6 bulan program diterapkan yaitu Januari – Agustus 2011. Tehnik pengambilan sampling secara total sampling terhadap 68 mahasiswa yang telah melakukan rotasi. Pengambilan data dengan kuesioner dan dianalisis dengan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menggambarkan penilaian peserta didik terhadap tujuan, metode pembelajaran, modul, lembar kerja, metode asesmen, wahana pendidikan, pembimbing dan pendukung program. Gambaran tentang tujuan pendidikan didapatkan sebagian besar (96%) responden menyatakan program sudah sesuai kompetensi dan dapat dicapai melalui metode pembelajaran yang diberikan. Kompetensi juga dapat dicapai melalui alokasi waktu yang tersedia. Sebanyak 57% mahasiswa memberikan penilaian positif terhadap bahan ajar, terutama penilaian mengenai referensi dan tugas yang diberikan. Penilaian untuk lembar kerja mahasiswa, didapatkan ketidaksesuaian antara tugas pada lembar kerja dan pembekalan. Perlu evaluasi berkala untuk menilai pelaksanaan program dan beberapa hal perlu diperbaiki sesuai dengan umpan balik peserta didik.Kata kunci: evaluasi, profesi dokter, program pendidikan
Gambaran Pelayanan Terintegrasi dan Komprehensif Pada Balita Bawah Garis Merah di Puskesmas Soreang Laurentia, Lisbeth Maria; Setiawati, Elsa Pudji; Somasetia, dadang Hudaya; Hilmanto, Dany
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.984 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i4.12493

Abstract

Pelayanan balita Bawah Garis Merah (BGM) seharusnya diberikan secara terintegrasi dan komprehensif supaya mencegah terjadinya gizi kurang/buruk berulang maupun penyakit infeksi pada anak. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi gambaran pelayanan terintegrasi dan komprehensif berdasarkan standar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta faktor yang memengaruhi pelayanan. Penelitian kualitatif: pelayanan terintegrasi dan komprehensif balita BGM berdasarkan standar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dilakukan mulai dari September sampai November 2016 di rumah responden, posyandu/polindes dan Puskesmas Soreang. Data diambil dari 18 responden (ibu balita BGM, kader, bidan, petugas gizi, dokter dan Kepala Puskesmas Soreang) dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Validasi data menggunakan teknik triangulasi data. Pelayanan terintegrasi dan komprehensif balita BGM di Puskesmas Soreang terdiri dari pelayanan promotif dan preventif. Pelayanan promotif berupa edukasi makanan dan kesehatan anak. Pelayanan preventif berupa pemberitahuan berat badan anak kurang, edukasi pola makanan, penimbangan, rujukan ke petugas kesehatan dan pemberian makanan tambahan. Namun belum semua ibu balita BGM menerima penyuluhan balita BGM dan konseling nutrisi dengan jelas dari petugas gizi/dokter karena belum sepenuhnya dilakukan rujuk dari posyandu ke puskesmas. Pelayanan kuratif di Puskesmas Soreang untuk balita BGM seperti dalam Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2011 belum berjalan.Kata kunci: Balita, Gizi Kurang, Pelayanan terintergrasi dan komprehensif, Preventif, Promotif
Manajemen Perubahan Organisasi Puskesmas dalam Revitalisasi Puskesmas di Kabupaten Sumedang triana, nina; Setiawati, Elsa Pudji; Desy, Insi Farisa; Sunjaya, Deni; Argadiredja, Dadi; Diah, Dewi Marhaeni
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 3 (2016): Volume 1 Nomor 3 Maret 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.854 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v1i3.10353

Abstract

Revitalisasi Puskesmas merupakan upaya Kementerian Kesehatan RI untuk meningkatkan kinerja Puskesmas melalui berbagai perubahan dalam penyelenggaraan Puskesmas. Perubahan-perubahan tersebut sejalan dengan semangat reformasi pembangunan khususnya reformasi otonomi daerah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi manajemen perubahan dalam revitalisasi Puskesmas yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Metode Desain penelitian yang dipergunakan adalah kualitatif dengan paradigma konstruktivism dan strategi studi kasus. Metode analisis yang digunakan adalah tematik. Subyek penelitian ini adalah kepala dinas kesehatan dan kepala Puskesmas. Hasil Model manajemen perubahan dalam sistem pengembangan manajemen kinerja klinis WHO SEA-NURS mendukung hasil yang menunjukkan bahwa fungsi-fungsi manajemen perubahan menjadi dasar konstruk perubahan penyelenggaraan Puskesmas oleh Dinas Kesehatan. Simpulan Manajemen perubahan dalam revitalisasi Puskesmas oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang fokus pada fungsi implementasi yang merupakan tahap penekanan terhadap masalah yang mulai muncul dalam tugas perubahan yang harus dilakukan.Kata kunci : manajemen perubahan, revitalisasi Puskesmas
Perbandingan Kepuasan Pasien Eks ASKES dan Non-ASKES di Puskesmas Pada Implementasi Jaminan Kesehatan Nasional husnati, nastiti yusrin; Setiawati, Elsa Pudji; Sunjaya, Deni
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 3 (2016): Volume 1 Nomor 3 Maret 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.735 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v1i3.10361

Abstract

Perubahan yang terjadi pada Sistem Kesehatan Nasional sejak diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) memberikan dampak terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Salah satu tujuan adanya JKN adalah memberikan layanan kesehatan yang bermutu tanpa adanya risiko finansial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kepuasan pasien eks ASKES dan non-ASKES terhadap pelayanan puskesmas. Desain penelitian ini adalah kuantitatif,  cross-sectional. Populasi adalah pasien eks ASKES dan non-ASKES yang berobat di puskesmas Kota Bandung. Ukuran sampel 90 pasien eks ASKES dan 90 pasien non-ASKES. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling, menggunakan kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Kepuasan pasien diukur menggunakan variabel lima dimensi mutu yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Sebagian besar (72,2%) pasien eks ASKES maupun non-ASKES (80%) menyatakan tidak puas terhadap pelayanan di puskesmas. Ditinjau dari dimensi mutu, tidak terdapat perbedaan bermakna pada tangible, reliability, responsiveness antara pasien eks ASKES dan non-ASKES. Pada dimensi assurance dan empathy terdapat perbedaan bermakna antara pasien eks ASKES dan non-ASKES, pasien eks ASKES lebih puas dibanding pasien non-ASKES. Mutu pelayanan puskesmas pada masa implementasi Jaminan JKN masih rendah karena sebagian besar pasien eks ASKES dan non-ASKES merasa tidak puas. Ketidakpuasan terbesar terdapat pada dimensi tangible, diikuti oleh reliability, responsiveness, assurance, dan empathy.Katakunci: Jaminan Kesehatan Nasional, kepuasan, puskesmas
Role of Knowledge and Attitude toward Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) of Medical Students 2009 Universitas Padjadjaran Syaefullah, Sufia Permatasari; Herryadi, Noorman; Setiawati, Elsa Pudji; Djuhaeni, Henni
Althea Medical Journal Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.936 KB)

Abstract

Background: Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) is one of the main pillars of preventive measures in Indonesia Sehat and also a strategy to reduce health cost caused by illness based on the desire, willingness, and ability to be able to help themselves in medical aspects. The health provider including a doctor as a community leader should behave toward PHBS which based on adequate knowledge and attitude.Methods: This study have been conducted in February–November 2012 with cross-sectional design of 152 medical students 7th semester admission 2009 Universitas Padjadjaran, using questionnaires. Data were analyzed using chi-square.Results: The number of students with good knowledge and poor knowledge were not different (50.7%vs 40.3%). Most of the respondens attitude are not in accordance with PHBS program(p=0.805).Conclusions: Knowledge of PHBS  for all medical students needs to be improved and needs to investigated whether there are other factors which affect student attitudes toward  PHBS.Key words: attitude, knowledge, PHBS, student   Peranan Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Kedokteran Universitas Padjadjaran Angkatan 2009 terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)  AbstrakLatar Belakang: Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu pilar utama pencegahan dalam program Indonesia Sehat serta strategi untuk mengurangi biaya kesehatan akibat penyakit yang berdasarkan keinginan, kemauan, dan kemampuan untuk membantu diri sendiri dalam aspek medis. Pelayanan kesehatan termasuk dokter sebagai pemimpin kesehatan di masyarakat harus mempunyai sikap dan pengetahuan yang memadai mengenai PHBS.Metode: Penelitian dilakukan pada bulan Februari-November 2012 dengan desain potong lintang terhadap 152 mahasiswa kedokteran angkatan 2009 Universitas Padjadjaran semester 7 dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan chi-square.Hasil: Jumlah mahasiswa yang memiliki pengetahuan baik dan pengetahuan kurang tidak jauh berbeda (50,7% vs 40,3%). Sebagian besar responden mempunyai sikap yang tidak sesuai dengan program PHBS (p=0,805).Simpulan: Pengetahuan tentang PHBS bagi semua mahasiswa kedokteran perlu ditingkatkan dan perlu diteliti lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang memengaruhi sikap mahasiswa terhadap PHBS.Kata kunci: sikap, pengetahuan, PHBS, mahasiswa DOI: 10.15850/amj.v1n2.353
Co-Authors Abdul Hadi Martakusumah Abdurrahman, Muniroh Abdurrahman, Muniroh Ain Izzati Khiruddin, Ain Izzati Aldi Harry Ramdani, Aldi Harry Amelia, Indah Amelia, Indah Anggia Karina, Anggia Anggie Indari, Anggie Annisa, Nandini Nur Ardini S. Raksanagara, Ardini S. Ari Indra Susanti, Ari Indra Arto Yuwono Soeroto, Arto Yuwono Benny Hasan Purwara Budi Darmawan Dadang Hudaya Somasetia Dadi Argadiredja, Dadi Dany Hilmanto Dasim Budimansyah Dedi Rachmadi Deni Kurniadi S, Deni Deni Kurniadi Sunjaya, Deni Kurniadi Deni Sunjaya, Deni Dewi Hawani, Dewi Dewi Marhaeni Diah, Dewi Marhaeni Dewi Marhaeni Herawati, Dewi Marhaeni Diah Asri Wulandari Dian Qisthi, Dian Didah, Didah Drasthya Zarisha, Drasthya Eliza Techa Fattima, Eliza Techa Ernawati Ernawati Faizah Rofi, Faizah Fedri Rinawan, Fedri Ferina, Ferina Ferina, Ferina Guswan Wiwaha Hadiyati, Ida Hadyana Sukandar Handayani, Dini Saraswati Hazairina, Suzy Eka Hazairina, Suzy Eka Henni Djuhaeni Hidajat, Nucki Nurjamsi Hidayat, Dodi Hidayat, Dodi Husin, Farid Husin, Farid Insi Farisa Arya, Insi Farisa Insi Farisa Desy Arya, Insi Farisa Desy Insi Farisa Desy, Insi Farisa Irvan Afriandi Kamelia Utami Suhada, Kamelia Utami Khairani, Alya Putri Kitriawaty, Depera Kitriawaty, Depera Kuswandewi Mutyara, Kuswandewi Kuswardinah, Ine Laili Aznur, Laili Lisbeth Maria Laurentia, Lisbeth Maria Lucky Saputra, Lucky Lukman Hilfi, Lukman Madjid, Tita Husnitawati Mariani, Helni Martini, Neneng Mose, Johanes Cornellius Nanan Sekarwana Napitupulu, Theresa Febrianti nastiti yusrin husnati, nastiti yusrin Nina Triana Nita Arisanti Noorman Herryadi Nucki Nursjamsi Hidajat, Nucki Nursjamsi Nur Fadilla, Nur Oktowaty, Susi Oktowaty, Susi Poerin, Neta Oktriyani Prasestyo, Dwi Prayudi Santoso Putri, Cindy Regina Rahmiati, Lina Raksanagara, Ardini S Ratna Komara, Ratna Regina, Johanna Reni Yuditha Kathrine, Reni Yuditha Retnosari, Ekadewi Reza Widianto Sudjud Rodman Tarigan, Rodman Rudi Herman Sitanggang, Rudi Herman Santi Suarsih, Santi Santi, Bryany Titi Sekar Ayu Paramita, Sekar Ayu Sharon Gondodiputro Siska Wiramihardja, Siska Sri Yusnita Irda Sari, Sri Yusnita Irda Sufia Permatasari Syaefullah Suryana Sumantri Susiarno, Hadi Susiarno, Hadi Tajul Al Adib, Tajul Al Tisnasari Hafsah, Tisnasari Titania, Titania Titis Kurniawan Tris Sutriso, Tris Udin Sabarudin Uun Sumardi, Uun Veranita Pandia, Veranita Wahmurti, Tuti Winarto, Muhammad Ananta Winarto, Muhammad Ananta Windi Elsanita, Windi Wiryawan Permadi Ying, Chen Chui Yudith Setiati Ermaya