Frida Kunti Setiowati
Biologi Universitas Negeri Malang

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN GIBERELIN DAN AIR KELAPA TERHADAP PERKECAMBAHAN BIJI ANGGREK BULAN (Phalaenopsis sp.) Mukminin, Lilik Hidayatul; Al Asna, Putri Moortiyani; Setiowati, Frida Kunti
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 2, No 2: September 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v2i2.2487

Abstract

Phalaenopsis sp. atau dikenal dengan nama dagang anggrek bulan termasuk famili Orchidaceae yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Pembudidayaan tanaman anggrek selama ini terkendala pada biji anggrek yang memiliki daya kecambah kurang dari 1%. Daya kecambah biji yang rendah disebabkan oleh ukuran biji yang kecil dan tidak mempunyai endosperm. Oleh karena itu, perkecambahan biji anggrek perlu didukung oleh hormon tumbuh yang sesuai. Giberelin dan air kelapa diketahui dapat berperan dalam perkecambahan biji. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian Giberelin (GA3) dan air kelapa terhadap perkecambahan biji anggrek bulan (Phalaenopsis sp). Tahapan penelitian yang dilakukan yaitu melakukan sterilisasi, kemudian biji Anggrek diinokulasikan dalam medium MS dengan perlakuan variasi konsentrasi GA3 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm dan perlakuan variasi konsentrasi air kelapa 10 mL, 20 mL, dan 25 mL beserta kombinasinya kemudian diamati pada hari ke-21. Parameter yang diamati berupa perkembangan morfologi protocorm dan fase perkembangan protocorm yang dianalisis secara deskriptif, sedangkan daya kecambah protocorm dianalisis ANOVA dan dilanjutkan uji Tukey pada tingkat kepercayaan 95% untuk melihat adanya perbedaan antarperlakuan. Perkembangan protocorm pada 3 perlakuan memperlihatkan fase perkembangan protocorm yang berbeda, yaitu embrio membengkak dan merobek testa, protocorm putih dengan absorbing hair, protocorm putih kekuningan, dan protocorm hijau bulat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian giberelin (GA3) 3 ppm menghasilkan daya kecambah paling rendah dan pemberian kombinasi antara GA3 dan air kelapa menunjukan daya kecambah yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan MS.
Utilization of Medicinal Plants in Kayukebek Village, Tutur District, Pasuruan Regency Witjoro, Agung; Sulisetijono, Sulisetijono; Setiowati, Frida Kunti
Natural B Vol 3, No 4 (2016)
Publisher : Natural B

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.342 KB) | DOI: 10.21776/ub.natural-b.2016.003.04.6

Abstract

Traditional medicine using herbs has been known and done since the first generations by the people of Indonesia. Tutur area is located in the district of Pasuruan, East Java Province. One of the villages in the Tutur area is Kayukebek. The community Kayukebek have knowledge about the advantages of plants as a medicine for specific diseases or health problems. The study aims to: 1) To obtain information the types of plants used as a medicine; 2) To know the various uses of herbs; 3) To determine the perception and appreciation of the herbs from the Kayukebek community. This research is a descriptive explorative study. The method performed in the exploratory survey data collection by direct observation in the field and Participatory Rural Appraisal methods. Community engagement obtained through interviews with semi-structural and open-ended based question list. Sampling technique used is purposive sampling and snowball sampling. The value of the use of plants known by the value of Informant Concencus Factor and Use Value. The results, recorded 22 plants species have been used in this community as traditional medicine, include: garlic, tropong onion (scallion), plantain, dlingo, ceplukan, jambu wer, senggani, blencong, tamarind, kecubung, mustard greens, cabbage, fennel, turmeric, ginger, pulosari, sendokan, corn, white wood, sempretan (brojo lintang), gorogo, and wono ginger. It was observed that the local people are less aware of the medicinal plants. It is seen the public perception of the use medicinal plants is low (48.03%) meanwhile the appreciation medicinal plants are prefer to low category (49.69%).