Articles

Found 34 Documents
Search

Tingkat Herbivori Daun Mangrove Rhizophora stylosa dan Avicennia marina Di Desa Pasar Banggi, Rembang, Jawa Tengah Fadilla, Winda Ariesta Nur; Soenardjo, Nirwani; Setyati, Wilis Ari
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.734 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v0i0.24965

Abstract

Hutan mangrove memiliki fungsi ekologi sebagai daerah pemijahan, daerah asuhan dan daerah mencari makan. Fauna yang tinggal di hutan mangrove akan menciptakan simbiosis antara flora dan fauna mangrove, misalnya aktivitas herbivori daun. Herbivori daun mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti spesies tanaman, tinggi tanaman dan umur daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat herbivori daun mangrove Rhizophora stylosa dan Avicennia marina berdasarkan tinggi tanaman dan umur daun pada ekosistem mangrove di Desa Pasar Banggi, Rembang, Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode pengambilan data yang digunakan adalah metode survei dan penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive. Sampel daun diambil dari 2 spesies mangrove dominan pada ekosistem Desa Pasar Banggi yaitu Rhizophora stylosa dan Avicennia marina. Daun diambil dari 3 kategori tinggi tanaman yaitu <1 m, 1-< 3 m dan 3–5 m, masing-masing diambil 10 pohon sebagai ulangan. Daun diambil sebanyak 10 %, dipisahkan berdasarkan umur daun (muda dan tua) dan kondisi daun (utuh dan rusak). Sampel daun diolah menggunakan software ImageJ dan Measure Picture. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat herbivori tertinggi pada daun muda Rhizophora stylosa pada tanaman dengan tinggi 3–5 m dan tertinggi pada daun tua Rhizophora stylosa pada tanaman dengan tinggi 1–< 3 m, sedangkan  rata-rata tingkat herbivori tertinggi pada daun muda Avicennia marina pada tanaman dengan tinggi 1–< 3 m dan tertinggi pada daun tua Avicennia marina pada tanaman dengan tinggi 1–< 3 m. Mangrove forests have ecological functions a spawning ground, nursery ground and feeding ground. Fauna living in mangrove forests will create a symbiosis between mangrove flora and fauna, for example herbivory leaf activity. Herbivory of mangrove leaves is influenced by several factors such as plant species, plant height and leaf age. This study aims to determine the herbivory level of mangrove Rhizophora stylosa and Avicennia marina leaves based on plant height and leaf age in the mangrove ecosystem in Pasar Banggi Village, Rembang, Central Java. The research method used in this study was descriptive. The data collection method used in this study is the survey method and the determination of the location of the study using a purposive method. Leaf samples were taken from 2 dominant mangrove species in the Pasar Banggi Village ecosystem, Rhizophora stylosa and Avicennia marina. The leaves are taken from 3 plant height categories, namely <1 m, 1-<3 m and 3-5 m, each of which is taken as 10 replicates. The leaves are taken as much as 10%, then separated according to the age of the leaves (young or old) and the condition of the leaves (whole or damaged). Leaf samples were processed using ImageJ and Measure Picture software. The results showed the highest average herbivory level in young leaves of Rhizophora stylosa at plant height 3-5 m (10.11%) and highest on old leaves of Rhizophora stylosa at plant height 1-<3 m (10.67%), while the highest average herbivory level in Avicennia marina young leaves at plant height 1-<3 m (12.54%) and the highest on the old leaves of Avicennia marina at plant height 1-<3 m (11.73%).
Pengaruh Perbedaan Intensitas Cahaya Terhadap Kelimpahan Arthropoda di Perairan Desa Tambakpolo, Demak Bramasta, Arrico Fathur Yudha; Setyati, Wilis Ari; Nuraini, Ria Azizah Tri
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.432 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i1.25776

Abstract

ABSTRAK: Zooplankton merupakan organisme laut yang memiliki peran dalam rantai makanan di laut. Zooplankton berperan pada tingkat energi kedua yang menghubungkan produsen (fitoplankton) dengan konsumen tingkat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan struktur komunitas Arthropoda dengan dua perbedaan intensitas cahaya (300 lux dan 2000 lux). Penelitian ini dilakukan menggunakan metode purposive sampling yang terdiri dari tiga stasiun. Pengambilan sample zooplankton dilakukan dengan bantuan plankton net yang ditarik kapal tiga kali pengulangan. Berdasarkan penelitian ditemukan 5 genus yaitu Calanus, Paracalanus, Sergia, Eucalanus dan Candacia. Genus yang paling banyak ditemukan adalah Calanus dan Sergia. Kelimpahan Arthropoda tertinggi terdapat pada Stasiun 1 dengan intensitas 2000 lux sebesar 8.492 ind/L dan terendah pada Stasiun 3 dengan intensitas 300 lux sebesar 2.286 Ind/L, hal ini diduga karena pengaruh gaya fototastik positif dari fitoplankton terhadap sumber cahaya yang direspon baik oleh zooplankton khususnya Arthropoda sebagai sumber makanan. Tingkat keanekaragaman (H’) Arthropoda di perairan tersebut termasuk dalam kategori rendah, indeks keseragaman (E) dalam kategori rendah, dan terdapat dominansi (C). ABSTRACT: Zooplankton are those organisms which have a role in  food-web in aquatic ecosystems. Zooplankton as second trophic level organism whose connects producers (phytoplankton) with consumers at a higher trophic level. This research aims to know the composition and structure of the Arthropode community with two differences in light intensity (300 lux and 2000 lux). This research was done by using purposive sampling method which consists of three stations, by using a plankton net that was pulled by the boat. The results of the study found five genera namely Calanus, Paracalanus, Sergia, Eucalanus, Candacia. The most common genera are Calanus and Sergia. The highest abundance of Arthropode at Station 1 with an intensity 2000 lux is 8.492 ind/L and the lowest at Station 3 with an intensity 300 lux is 2.286 Ind/L. The level of diversity (H') of Arthropode categorized as low, the index of uniformity (E) is categorized medium, the level of dominance (C) is classified as high.
Kajian Valuasi Ekonomi Ekosistem Hutan Mangrove Di Desa Kaliwlingi Dan Desa Sawojajar, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah Christy, Yonanda Alodea; Setyati, Wilis Ari; Pribadi, Rudhi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.246 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v8i1.24334

Abstract

Ekosistem hutan mangrove merupakan ekosistem yang berada di kawasan pesisir yang memiliki fungsi fisik, fungsi ekologi dan fungsi ekonomi. Dampak kerusakan ekosistem hutan mangrove dapat dipulihkan dengan adanya kegiatan rehabilitasi dan konservasi di kawasan hutan mangrove. Pemanfaatan nilai ekonomi dari ekosistem hutan mangrove memerlukan perhitungan valuasi ekonomi guna melihat aktivitas ekonomi yang ada pada ekosistem hutan mangrove. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menghitung nilai total ekonomi di ekosistem hutan mangrove dan merekomendasikan strategi pengembangan dan pengelolaan kawasan ekosistem mangrove di Desa Kaliwlingi dan Desa Sawojajar, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan eksploratif. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling. Sampel penelitian yang diambil adalah masyarakat yang mempunyai mata pencaharian berkaitan dengan keberadaan ekosistem hutan mangrove secara langsung dan tidak langsung. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan nilai total ekonomi ekosistem hutan mangrove di Desa Kaliwlingi adalah sebesar Rp 12.912.098.100 yang didapatkan dari total use value sebesar Rp 9.927.638.100 dan total non use value sebesar Rp 2.984.460.000. Nilai total ekonomi di Desa Sawojajar adalah sebesar Rp 5.519.784.145 dengan jumlah nilai use value sebesar Rp 3.670.377.145 dan nilai non use value sebesar Rp 1.849.407.000. Mangrove forest ecosystem are the ecosystem that is located in coastal environment that have a physical function, ecological function and economic function. The effect of damaged can be heal if there is a rehabilitation and conservation in mangrove ecosystem. The value of economic from mangrove ecosystem needs a calculation of valuation to look up the economic activity in mangrove forest ecocsystem. The aim of the research are calculate the economic total value of mangrove forest ecosystem and recommend a developing and managing strategy of mangrove ecosystem at Kaliwlingi Village and Sawojajar village. The method of the research is use descriptive and explorative method. The location of the research conducted by purposive sampling method. The sample of the study is the residents related to the existence of the mangrove ecosystem directly and indirectly. Based on the results of the research showed the total economic of mangrove forest ecosystem in Kaliwlingi Village is Rp 12.912.098.100 that comes from the total amount of use value Rp 9.927.638.100 and non use value Rp 2.984.460.000. The total economic value in Sawojajar village is Rp 5.519.784.145 that comes from the total amount of use value Rp 3.670.377.145 and non use value Rp 1.849.407.000.
Komposisi dan Kelimpahan Gastropoda Pada Ekosistem Mangrove Di Desa Tireman, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah Laraswati, Yuli; Soenardjo, Nirwani; Setyati, Wilis Ari
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.507 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i1.26104

Abstract

Ekosistem mangrove mermiliki manfaat sebagai tempat mencari makan serta habitat bagi organisme, mislanya gastropoda. Gastropoda di ekosistem mangrove berperan dalam proses dekomposisi yaitu dengan mencacah daun menjadi lebih kecil, yang kemudian dilanjutkan oleh mikroorganisme. Kepadatan  gastropoda dipengaruhi oleh kegiatan yang terdapat pada ekosistem dan dapat memberikan efek pada kelangsungan hidup gastropoda.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui struktur komunitas gastropoda pada ekosistem mangrove Desa Tireman Kecamatan Rembang, Jawa Tengah. Metode penentuan lokasi sampling menggunakan metode purposive sampling pada 3 lokasi dengan kerapatan mangrove yang berbeda. Pengambilan sampel gastropoda dilakukan dalam transek 5 x 5m dan sampel yang didapat kemudan disortir, diawetkan dan diidentifikasi. Hasil penelitian ditemukan 9 spesies gastropoda termasuk kedalam 3 famili yaitu Casidula nucleus, C. aurisfelis (Ellobiidae), Littoraria scabra, L. carinifera, L. Melanostama (Littorinidae), Cerithidea quadrata, C. cingulata, C. alata, Telescopium telescopium (Potamididae). Spesies yang paling sering ditemukan adalah Cassidula aurisfelis dan Cassidula nucleus. Nilai rata-rata kelimpahan berkisar antara 6,28 - 15,72 Ind/m2. Nilai indeks keanekaragaman termasuk ke dalam kategori rendah hingga sedang. Nilai rata-rata indeks keseragaman termasuk kedalam kategori rendah (0.15-0.27). Nilai rata-rata indeks dominansi menunjukkan tidak adanya dominansi dari spesies tertentu. Pola sebaran menunjukkan pola sebaran mengelompok dan acak. Nilai kesamaan komunitas gastropoda tergolong dalam kategori tinggi. Frekuensi kehadiran gastropoda kategori jarang hingga sangat sering.  The mangrove ecosystem has benefits as a place to eat and habitat for the organism, the gastropod's missile. Gastropods in the mangrove ecosystem play a role in the decomposition process, with the smaller leaves, which are then followed by microorganisms. The density of gastropods is influenced by activities found in ecosystems and can provide an effect on the viability of gastropods. The purpose of research is to know the structure of the gastropods community in the mangrove ecosystem of Tireman Village Rembang District, Central Java. Sampling method of determining location using purposive sampling method in 3 locations with different mangrove density. The gastropod sampling is done in the 5 x 5m transect and the samples obtained are then sorted, preserved and identified. The results of the study found 9 species of gastropods included in the three families, namely Casidula nucleus, C. Aurisfelis (Ellobiidae), Littoraria scabra, L. Carinifera, L. Melanostama (Littorinidae), Cerithidea quadrata, C. cingulata, C. alata, Telescopium telescopium (Potamididae). The most commonly found species are the Cassidula aurisfelis and the Cassidula nucleus. The average value of abundance ranges between 6.28-15.72 Ind/m2. The value of diversity index belongs to low to moderate category. The average value of uniformity index is included in low category (0.15-0.27). The average value of the Dominancy index indicates the absence of dominance of a particular species. The spread pattern shows both group and random distribution patterns. The value of gastropods community similarity belongs to high category. The frequency of presence of gastropods is rare until very frequent.
Respon Bakteri Nitrifikasi Terhadap Penggunaan Jerami Dan Katul Sebagai Priming Agent Untuk Meningkatkan Laju Respirasi Tanah Tambak Udang Subagiyo, Subagiyo; Setyati, Wilis Ari
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.89 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.147-151

Abstract

Penelitian tentang respon bakteri nitrifikasi terhadap penggunaan jerami dan katul sebagai priming agent untuk meningkatkan laju respirasi tanah tambak udang telah dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap. Ada 2 perlakuan yang dibandingkan yaitu pemberian jerami dan pemberian katul, masing-masing dengan 4 sub perlakuan yaitu pemberian jerami atau katul dengan dosis masing-masing 0 kg/m2, 0,2 kg/m2, 0,3 kg/m2, dan 0,4 kg/m2. Penelitian dilakukan menggunakan bejana respirasi yang diisi dengan tanah dasar tambak udang pasca panen. Jumlah bakteri nitrifikasi dihitung dengan metode MPN menggunakan medium mineral untuk bakteri nitrifikasi. Hasil penelitian menunjukan adanya respon peningkatan pertumbuhan bakteri nitrifikasi tanah tambak udang akibat perlakuan penggunaan jerami dan katul sebagai agensia priming agent untuk meningkatkan laju respirasi tanah tambak udang. Respon ini ditunjukan dengan adanya kecenderungan jumlah bakteri nitrifikasi pada perlakuan pemberiaan jerami dan katul yang lebih tinggi dibandingkan tanah yang tidak mendapat perlakuan pemberian jerami dan katul. Pada kondisi penelitian ini respon bakteri nitrifikasi tertinggi terjadl pada perlakuan pemberian jerami atau katul pada dosis 0,2 kg/m2. Hal ini ditunjukan dengan kecenderungan jumlah bekteri nitritikasi yang paling tinggi pada perlakuan pemberian jerami atau katul.Kata kunci: bakteri nitrifikasi; tanah tambak; priming agent; katul; jerami  An experiment was done to assay nitrifier responses on straw and bran application as priming agent to increase pond soil respiration rate. The experiment was done by using complete randomized design. Straw and bran as treatment was applied on sample soil at 0,1 kg/m2, 0,2 kg/m2, 0,3 kg/m2. Soil were placed in respiration chambers (500 ml becker glass) was respended above soil surface, and 50 ml of 1.00 N NaOH was pipetted into the backer glass. Respiration chambers were sealed. Nitrifier enumeration was done by MPN method. The experiment showed that increased of number of nitrifier as responds on application of straw and bran. In experiment condition the highest number of nitrifier along time of experiment was happened in application of straw or bran on 0,2 kg/m2 in dosage.Keywords: Nitrifier; straw; bran; pond soil; priming agent
Bioecology of Sargassum sp. and its Extract Bioactivity as Anti-MDR Bacteria Pramesti, Rini; Setyati, Wilis Ari; Zainuddin, Muhammad; Puspita, Maya
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.819 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.22.4.185-192

Abstract

This study was done to investigate the bioecology and extract bioactivity of Sargassum sp from Jepara district. Seaweed was collected from Teluk Awur, Panjang Island, Bandengan, Ujung Piring and Bondo. There were seven species of Sargassum identified i.e. S. duplicatum, S. polycystum, S. echinocarpum, S. cinerium, S. crassifolium, S. plagyophillum and S. binderi. Community structure indices were calculated based on data collected by survey. Antibacterial activity of Sargassum extract was done on MDR bacteria. The results showed that diversity index at Panjang Island, Bandengan, and Ujung Piring were categorized as medium, while Teluk Awur and Bondo were categorized as low. Evenness index was high at Teluk Awur, Panjang Island, Bandengan and Ujung Piring and Bondo was low. There was no dominant species found in most of the locations. The principal component analysis exhibited the main variable that affected the Sargassum at Teluk Awur was phosphate, Panjang Island was depth, Ujung Piring was salinity and Bondo was temperature, dissolved oxygen and pH, respectively. There was character similarity between Panjang Island and Bandengan (99.73%), meanwhile, at Teluk Awur, Ujung Piring, and Bondo, the similarity was 99.62%, 99.60%, and 99.52%, respectively. Antibacterial activity of Sargassum sp. demonstrated a positive activity against the MDR bacteria, Staphylococcus aureus (6.28±0.04 mm), Escherichia coli (6.96±0.19 mm), and S. epidermidis (12.65±0.23 mm). Clustering analysis of extracts with bactericidal characteristic found three classes with similarity of class 1, 2 and 3 at 72.33%, 76.80% and 58.50%, respectively. Sargassum sp. was categorized in class 1 had the best antibacterial activity and the highest abundance value. Keywords: ecology, community, Sargassum sp., extracts, antibacterial
Fluktuasi Ikan Karang di Kawasan Konservasi Laut Daerah Gili Sulat dan Gili Lawang, Lombok Timur Adiyoga, Diaz; Hartati, Retno; Setyati, Wilis Ari
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.029 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i2.26894

Abstract

ABSTRAK: Keanekaragaman ekosistem pesisir dan laut yang terdapat di Gili Sulat Gili Lawang merupakan salah satu sumberdaya yang penting untuk dilindungi mengingat besarnya ketergantungan masyarakat terhadap ekosistem tersebut. Ekosistem terumbu karang adalah salah satu ekosistem penting di Gili Sulat dan Gili Lawang yang menjadikan ikan dan biota lainnya sebagai tempat tinggal maupun mencari makan. kondisi terumbu karang sangat mempengaruhi kekayaan dan kelimpahan ikan karang. Jika kondisi terumbu karang baik maka kelimpahan ikannya tinggi, begitu pula sebaliknya. Penelitian kelimpahan ikan karang dilakukan pada 14-21 November 2018 di Kawasan Konservasi Laut Daerah Gili Sulat dan Gili Lawang. Pengambilan data menggunakan metode sensus visual untuk ikan karang di kedalaman 8-10 meter dengan 3 buah transek sepanjang 50 meter sejajar dengan garis pantai. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kawasan Konservasi Laut Daerah Gili Sulat dan Gili Lawang kelimpahan ikan karang, rata – rata nilai kelimpahan ikan karang di zona pemanfaatan paling tinggi yaitu 621 ind/ha, paling rendah pada zona inti sebesar 615 ind/ha dan zona perikanan berkelanjutan sebesar 616 ind/ha  ABSTRACT: The diversity of coastal and marine ecosystems found on Gili Sulat Gili Lawang is one of the important resources to protect given the large dependence of the community on these ecosystems. The coral reef ecosystem is one of the important ecosystems on Gili Sulat and Gili Lawang which makes fish and other biota as a place to live or find food. the condition of coral reefs greatly affects the wealth and abundance of reef fish. This research was conducted in November 14-21, 2018. Collecting data of reef fishes abundance using visual census method in 8-10 meter depth, use 3 pieces line transect with 50 meters long an roll out the transect along the shoreline. Based on the results of research conducted in  Gili Sulat and Gili Lawang the Marine Protected Area reef fish abundance, the average abundance of reef fish in the utilization zone is highest at 621 ind / ha, the lowest in the core zone is 615 ind / ha and the fishing zone sustainable of 616 ind / ha
Seleksi Potensial Bakteri Laut dari Perairan Pulau Panjang Sebagai Agen Pengendali Hayati Penyakit Vibriosis pada Budidaya ikan dan Udang Setyati, Wilis Ari; Subagiyo, Subagiyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3868.676 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.1.57-60

Abstract

Penelusuran bakteri laut yang berasal dari perairan pulau panjangyang mempunyai aktivitas antagonis terhadap beberapa jenis bakteri Vibrio penyebab vibriosis pada ikan dan udang bertujuan untuk mendapatkan kandidat bakteri sebagai agen pengendali hayati penyakit vibriosis. Tolok ukur seleksi pada penelitian ini adalah kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri vibrio pathogen dan bersifat non patogenik terhadap ikan dan udang. Bakteri diisolasi dari sedimen dan air laut, rumput laut, lamun, karang keras dan karang lunak . Uji aktivitas antagonis terhadap bakteri patogen (V. harveyi, V. fluvialis, V. alginolyticus, V. parahaemoliticus, V. anguilarum) dilakukan dengan metode tusukan dan overlay. Hasil uji aktivitas antagonis didapatkan 15 isoiat aktif terhadap V. harveyi, 25 Isolat aktif terhadap V. parahaemoliticus, dan 9 isolat aktif terhadap V. anguilarum, dan 6 isolat aktif terhadap V. Fluvialis, dan tidak ditemukan isoiat aktif terhadap V. alginoliticus. Kata kunci: Vibrio-antagonistic bacteria, agen pengendali hayati, vibriosis.
WILL SOFT-BONED MILKFISH-A TRADITIONAL FOOD PRODUCT FROM SEMARANG CITY, INDONESIA-BREAKTHROUGH THE GLOBAL MARKET Agustini, Tri Winarni; Susilowati, Indah; Subagyo, S; Setyati, Wilis Ari; Wibowo, Bambang Argo
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 14, No 1 (2010): Volume 14, Number 1, Year 2010
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.003 KB)

Abstract

One of the famous traditional food products from Semarang city is softboned-milkfish (called as bandengpresto). In national level, Bandeng Presto is the trade mark of Semarang City. Bandeng presto are producedby several outlet in Semarang from small to large in scales. The products are vary, in term of variety,quality, processing technique, packaging and prices. The small-scaler produces less in quality standard,safety, packaging, and marketing system. Nevertheless, there are several small-scaller outlets are able toreach the international market after they promoted their product through webside or internet. The objectivesof the study were to develop the improved quality in production techniques, lay out designed, and themarketing strategy for bandeng presto in Semarang city to support the regional food security and food safety.The results indicated that nutritional content of bandeng presto are good in general and can be considered asgood nutritional resource for human. Raw material and processing technique influence the nutrition value ofthe product. Based on market survey suggests that bandeng presto is more efficiently promoted throughwebsite, especially to touch the long distance customers. In addition, improved in packaging design and inlabelling (recently for exposing information on EPA and DHA of the product) will help customers to assurethe quality of the product properly.
Bioaktivitas Ekstrak dan Serbuk Lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii pada Vibrio alginolyticus dan Vibrio harveyii Riniatsih, Ita; Setyati, Wilis Ari
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.41 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.3.138-141

Abstract

Vibriosis merupakan penyakit bakterial yang menyerang udang antara lain disebabkan oleh Vibrio alginolyticus dan Vibrio harveyii.  Salah satu upaya perlindungan udang terhadap infeksi vibriosis adalah melalui reduksi jumlah bakteri vibrio di media budidaya dan saluran pencernaan udang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan justifikasi pemanfaatan ekstrak dan serbuk simplisia lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii sebagai agensia pengendali bakteri vibrio. Beberapa penelitian membuktikan  bahwa lamun mempunyai aktivitas antibakteri. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian  jenis lamun lain dan terhadap strain strain bakteri vibrio pathogenik pada udang. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental. Sampel E. acoroides dan T. hemprichii diekstraksi dengan air panas. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan secara  in vitro menggunakan  agar disc diffusion method. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak dan serbuk simplisia E. acoroides tidak menunjukan bioaktivitas terhadap V. alginolyticus dan V. harveyii. Ekstrak T. hemprichii menunjukan bioaktivitas terhadap V. alginolyticus dan V. harveyii. Sedangkan serbuk simplisia T. hemprichii menunjukan aktivitas antibakteri terhadap V. alginolyticus dan V. harveyii setelah 48 jam inkubasi Kata kunci : antibakteri, ektrak panas, serbuk, lamun, vibriosis Vibriosis is  a bacterial diseases in prawn which caused by  Vibrio including Vibrio alginolyticus and Vibrio harveyii. An effort to protect the prawn of vibrio infection is by  reducing the number of vibrio bacteria either in the culture media and/or in the gastrointestinal system of the cultured species. The research aimed to find justification for the use of seagrasess Enhalus acoroides and Thalassis hemprichii as vibrio bacteria control agensia. The research was conducted by experimental method. The initial phase of the study was testing the antibacterial activity in vitro using agar disc diffusion method. The result shows that neither extract nor simplicia of E. acoroides have an effect against the growth of V. alginolyticus and V. Extract of however, significantly shows bioactivity respond against those bacteria and its simplicia powder also showing a similar effect but after 48 hours of incubation. Key words : antibacterial, hot water extract, powder, seagrass, vibriosis