Lilik Setyobudi
Program Pascasarjana, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

STUDI PERTUMBUHAN DAN HASIL PRODUKSI JAMUR TIRAM PUTIH (Pleorotus ostreatus) PADA MEDIA TUMBUH JERAMI PADI DAN SERBUK GERGAJI Hariadi, Nurul; Setyobudi, Lilik; Nihayati, Ellis
Jurnal Produksi Tanaman Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.236 KB)

Abstract

Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari perbedaan pertumbuhan dan produksi jamur tiram putih antara baglog jerami padi dan serbuk kayu gergaji, dan mendapatkan perbandingan campuran komposisi antara serbuk gergaji kayu dengan jerami padi yang tepat sehingga dapat  digunakan sebagai media tumbuh jamur tiram putih. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan M8 dengan komposisi serbuk gergaji kayu 700 g, jerami padi 100 g, bekatul 50 g, dan kompos sampah hijau 150 g. Perlakuan M8 menghasilkan lama penyebaran miselium pada substrat 35,19 HSI; saat muncul badan buah (Pin head) pertama 65,63 HSI; rata-rata diameter tudung  buah 6,57 cm; frekuensi panen 9,33 kali; rata-rata bobot segar badan buah 58,71 g; interval panen 3,34 hari.  Perhitungan analisis usaha tani, M8 menghasilkan total keuntungan Rp 820.600,00 dengan BEP volume produksi 390,63Kg; (B/C) Ratio 1,26; ROI sebesar 0,26 %.
STUDI PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAMUR KUPING (Auricularia auricula) PADA SUBSTRAT SERBUK GERGAJI KAYU DAN SERBUK SABUT KELAPA Nurilla, Neilla; Setyobudi, Lilik; Nihayati, Ellis
Jurnal Produksi Tanaman Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.77 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan perbandingan persentase serbuk gergaji kayu dan serbuk sabut kelapa sebagai substrat tumbuh alternatif yang tepat bagi pertumbuhan dan produksi jamur kuping (Auricularia auricula) telah dilaksanakan di Desa Sengkaling, Kecamatan Dau, Malang dari bulan Juli hingga November 2012. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang  terdiri atas 9 perlakuan kombinasi media tanam dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media yang memberikan pengaruh paling baik terhadap pertumbuhan dan produksi jamur kuping adalah serbuk gergaji kayu 60%, serbuk sabut kelapa 20%, bekatul 10%, dan tepung jagung 10%. Komposisi ini menghasilkan persentase pertumbuhan miselium penuh, interval panen, diameter badan buah, rata-rata bobot segar per baglog, total bobot segar per baglog, rata-rata bobot kering, dan frekuensi panen berturut-turut yaitu 73,33%, 33,02 hari, 12,22 cm, 65,32 g, 567,70 g, 9,8 g, dan 8,67 kali panen. Hasil pertumbuhan pada variabel persentase pertumbuhan miselium memenuhi baglog lebih besar 36,36% dari perlakuan kontrol dengan nilai B/C ratio 1,12. Diharapkan adanya penelitian pemanfaatan substrat alternatif lain yang mampu mengurangi penggunaan serbuk gergaji kayu lebih besar.
KAJIAN INTERSEPSI CAHAYA MATAHARI PADA KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) DIANTARA TANAMAN MELINJO MENGGUNAKAN JARAK TANAM BERBEDA Suryadi, Suryadi; Setyobudi, Lilik; Soelistyono, Roedy
Jurnal Produksi Tanaman Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.512 KB)

Abstract

Penanaman kacang tanah dibawah naungan pohon merupakan alternatif penin-gkatan intensifikasi lahan perkebunan untuk meningkatkan pendapatan. Untuk menduk-ung upaya tersebut maka dibutuhkan pe-ngaturan jarak tanam yang tepat sehingga dapat sesuai dengan keseimbangan cahaya yang diterima. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan lahan ter-naungi serta memperoleh penggunaan jarak tanam yang sesui untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.). Penelitian dilaksanakan per-kebunan PT. Karya Sami’in, Pacet, Mojo-kerto, pada bulan Juli hingga September 2012. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi (RPT) diulang 4 kali. Petak utama adalah : Lokasi penanam-an (N) terdiri dari 2 macam yaitu : (N0) lahan terbuka dan (N1) lahan diantara tanaman melinjo. Anak petak menggunakan jarak tanam (J) terdiri dari 3 macam yaitu : (J1) jarak tanam 40 cm x 10 cm, (J2) jarak tanam 40 cm x 15 cm dan (J3) jarak tanam 40 cm x 20 cm. Perlakuan lahan penanaman dan jarak tanam menunjukkan hasil persentase intersepsi cahaya maksimum pada umur pengamatan 90 hst dengan penggunaan jarak tanam 40 cm x 10 cm pada lahan ter-buka maupun pada perlakuan lahan ter-naungi, sedangkan hasil panen bobot kering polong terbaik dicapai pada perlakuan lahan terbuka dengan menggunakan jarak tanam 40 cm x 20 cm. Kata kunci: Kacang tanah, Intersepsi cahaya, Jarak tanam
PENGGUNAAN BEBERAPA JENIS MULSA TERHADAP PRODUKSI BABY WORTEL (Daucus carota L.) VARIETAS HIBRIDA Tinambunan, Erika; Setyobudi, Lilik; Suryanto, Agus
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.82 KB)

Abstract

Permasalahan dalam budidaya tanaman wortel adalah tanaman wortel tidak tahan terhadap cekaman lingkungan, baik berupa genangan air atau kekeringan. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pengguna-an jenis mulsa dalam meningkatkan pertum-buhan dan produksi baby wortel. Percobaan dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2013 di Kebun Percobaan Cangar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. Rancangan yang digunakan dalam pene-litian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan yang diulang 4 kali. Perlakuan tersebut terdiri dari: tanpa mulsa (M0), mulsa jerami padi (M1), mulsa plastik hitam (M2), mulsa daun paitan (M3), mulsa plastik hitam perak (M4), dan mulsa plastik transparan (M5). Data dianalisis menggunakan uji F dengan taraf 5%, apabila berbeda nyata antar perlakuan diuji dengan BNT 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan penggunakan mulsa mampu memberikan pertumbuhan yang lebih baik serta meningkatkan produksi baby wortel daripada tanpa mulsa. Penggunaan mulsa plastik transparan, mulsa plastik hitam perak, mulsa plastik hitam, mulsa daun paitan, dan mulsa jerami padi mampu menghasilkan bobot umbi segar panen 2,36 kg m-2, 1,97 kg m-2, 1,58 kg m-2, 1,56 kg m-2, dan 0,84 kg m-2. Sedangkan perlakuan tanpa mulsa menghasilkan bobot umbi terendah yaitu 0,64 kg m-2. Kata kunci: Daucus carota L., penggunaan mulsa, baby wortel, produksi
KAJIAN ETNOBOTANI MASYARAKAT DESA BERDASARKAN KEBUTUHAN HIDUP Syafitri, Friska Rahma; Sitawati, Sitawati; Setyobudi, Lilik
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.632 KB)

Abstract

Etnobotani merupakan kaitan antara manusia dan tumbuhan. Etnobotani menggambarkan dan menjelaskan kaitan antara budaya dan kegunaan tumbuhan, bagaimana tumbuhan digunakan, dirawat dan dinilai memberikan manfaat untuk manusia. Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengidentifikasi jenis tanaman yang ada pada Desa Jenggolo Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, mengidentifikasi pemanfaatan tanaman bagi warga Desa Jenggolo, menganalisis hubungan antara pemanfaatan tumbuhan dengan kebutuhan hidup masyarakat.. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang pada bulan Mei 2013 sampai dengan Juli 2013. Penelitian ini bersifat eksplorasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68 % pekarangan di Desa Jenggolo memiliki pola pekarangan modern, Terdapat 155 jenis tanaman, yang didominasi fungsi kesehatan/ functional food sebesar 40.65%, estetika 38.71%, peneduh 12.90%, pangan 5.16% dan spiritual 2.58%. Petani lebih dominan untuk menanam tanaman kesehatan/functional food sebanyak 37.72%, sedangkan pengusaha kecil dan menengah, seniman, tukang batu dan kayu dan wiraswasta dominan tanaman hias yaitu 50.61%, 48.89%, 45.36% , 42%. Peningkatan luas halaman tidak di ikuti dengan peningkatan jumlah jenis tanaman (R2 = 0.31, y = 0.06x + 9.42). Tingkat ketergantungan masyarakat dengan tanaman yang dapat dikonsumsi dari pekarangan rumah. Ketergantungan petani terhadaptanaman di pekarangan 35%, sedangkan wiraswasta 2%. Kata kunci: Etnobotani, Profesi, Pekarangan, Fungsi Tanaman
ANALISA LANSKAP JALUR HIJAU DAN UPAYA PENERAPAN SMART GREEN LAND PADA RUANG TERBUKA HIJAU Indah, Andan Sari Kusuma; Wardiyati, Tatik; Setyobudi, Lilik
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.44 KB)

Abstract

Jalur hijau merupakan daerah hijau sekitar lingkungan permukiman atau sekitar kota, bertujuan mengendalikan pertumbuhan pembangunan, mencegah dua kota atau lebih menyatu, dan mempertahankan daerah hijau, rekreasi, ataupun daerah resapan hu-jan.Smart Green Land merupakan inovasi konsep RTH yang berfungsisebagai paru-paru kota dan sebagai tempat yang nyaman melalui penyediaan fasilitas penunjang se-hingga tercipta kenyamanan dan kesegaran. Penelitian ini bertujuan mengetahui, mempe-lajaripermasalahan dan kendala dalam lanskap jalur hijau, menganalisis permasalahan, mengembangkan potensi dan menyusun rekomendasi rencana dan penerapan smart green land yang berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan pada jalur hijau jalan Ijen, jalur hijau jalan Jakarta dan jalur hijau Dieng, dan penerapan smart green land pada Alun-alun Kota dan Alun-alun Tugu Kota Malang. Penelitian ini menggunakan tiga tahap yaitu inventarisasi, analisis data, dan interprestasi data. Hasil penelitian menunjukkan jalur hijau Jalan Dieng, Jalan Jakarta dan Jalan Ijen le-bih tertuju pada penambahan jenis vegetasi tanaman perdu, semak berbunga indah, lam-pu penerangan jalan dan tempat duduk. Smart Green Land pada Alun-alun Kota Malang dan Alun-alun Tugu lebih tertuju pa-da penambahan jenis vegetasi tanaman ber-bunga dan tanaman rumput. Kata kunci: smart green land, jalur hijau, analisis, ruang terbuka hijau
STATUS PENGELOLAAN “GREEN CAMPUS” DI UNIVERSITAS BRAWIJAYA Selaniar, Sahda; Fajriani, Sisca; Setyobudi, Lilik
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 8 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.091 KB)

Abstract

Permasalahan lingkungan menjadi salah satu hal yang paling utama dan paling diperhatikan dalam beberapa tahun belakangan ini, Permasalahan yang sering kita dengar mengenai masalah lingkungan yaitu permasalahan globalisasi. Permasalahan globalisasi banyak menimbulkan inovasi baru dikalangan masyarakat khususnya di perguruan tinggi yaitu salah satunya inovasi tersebut yaitu Green Campus. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober – Desember 2013 di Lingkungan Universitas Brawijaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis sampah yang memberikan kontribusi paling besar adalah sampah organik. Untuk luasan RuangTerbuka Hijau (RTH) di lingkungan Universitas Brawijaya telah memenuhi syarat dari status “Green Campus”, dan untuk permasalahan CO2 di lingkungan Universitas Brawijaya sudah teratasi dengan jumlah tanaman yang berada di Universitas Brawijaya. Pada hasil kusioner yang berisi 24 pertanyaan sudah meliputi 7 poin yang ada di dalam Green Campus. Namun ada beberapa poin, dimana penduduk di lingkungan Universitas Brawijaya merasa tidak nyaman akan kebersihan di lingkungan dan kurangnya jenis tempat sampah berdasarkan jenisnya. Untuk jumlah tanaman menurut penduduk didalam lingkungan Universitas Brawijaya yang dirasa masih kurang jumlahnya. Luasan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) juga dilihat kurang luas. Namun untuk listrik, air dan keadaan suhu koresponden sudah merasa cukup.Kata kunci : Green Campus, CO2, Globalisasi, lingkungan
KAJIAN PEMANGKASAN PUCUK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BABY MENTIMUN (Cucumis sativus L) Wijaya, Mahanani Kusuma; Dwi Yamika, Wiwin Sumiya; Setyobudi, Lilik
Jurnal Produksi Tanaman Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.47 KB)

Abstract

Mentimun adalah salah satu hortikultura yang mempunyai prospek pasar yang menjanjikan. Berdasarkan data BPS menunjukkan produktivitas mentimun di Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Upaya untuk meningkatkan produksi mentimun terus dilakukan, diantaranya dengan pemangkasan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemangkasan pucuk terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana terdiri dari 12 perlakuan : P0 = tanpa pemangkasan, P1 = pemangkasan pucuk setelah ruas ke 3 seluruh cabang lateral, P2 = pemangkasan pucuk ruas ke 5 pada batang utama, P3 = pemangkasan pucuk ruas ke 10 pada batang utama, P4 = pemangkasan pucuk ruas ke 15 pada batang utama, P5 = pemangkasan pucuk ruas ke 20 pada batang utama, P6 = pemangkasan pucuk ruas ke 25 pada batang utama, P7 = pemangkasan pucuk ruas ke 5 pada batang utama dan setelah ruas ke 3 pada seluruh cabang lateral, P8 = pemangkasan pucuk ruas ke 10 pada batang utama dan setelah ruas ke 3 pada seluruh cabang lateral, P9 = pemangkasan pucuk ruas ke 15 pada batang utama dan setelah ruas ke 3 pada seluruh cabang lateral, P10 = pemangkasan pucuk ruas ke 20 pada batang utama dan setelah ruas ke 3 pada seluruh cabang lateral, dan P11 = pemangkasan pucuk ruas ke 25 pada batang utama dan setelah ruas ke 3 pada seluruh cabang lateral. Hasil penelitian : pemangkasan setelah ruas ke 3 seluruh cabang lateral (P1) meningkatkan persentase bunga betina dan jumlah buah per tanaman dibandingkan perlakuan tanpa dipangkas. Kata kunci : Mentimun, Pemangkasan Pucuk, Pemangkasan Pucuk Batang Utama, Pemangkasan Pucuk Cabang Lateral
Respons Pertumbuhan Tanaman Jeruk Keprok Batu 55 pada Beberapa Interstock Melalui Metode Top Working Sugiyatno, Agus; Setyobudi, Lilik; Maghfoer, M D; Supriyanto, Arry
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n4.2013.p329-338

Abstract

Pengembangan jeruk keprok berwarna kuning dapat dilakukan dengan menanam benih baru atau menerapkan metode top working yaitu metode mengganti suatu varietas tanaman yang ada dengan varietas baru sesuai selera konsumen. Metode top working dapat dilakukan pada batang bawah tanaman atau pada batang atas tanaman yang berfungsi sebagai batang antara atau interstock. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui respons pertumbuhan tanaman jeruk keprok Batu 55 pada beberapa interstock melalui metode top working. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tlekung, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Batu, Jawa Timur (950 m dpl.), mulai Bulan April sampai Oktober 2012. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 10 perlakuan yaitu kombinasi antara interstock (pamelo, jeruk manis, jeruk siam, jeruk purut), dan kontrol (batang bawah Japansche Citroen) pada metode top working cara okulasi dan sambung kulit. Penelitian diulang sembilan kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan KB/P/JC-Ok (keprok Batu 55/interstock pamelo/Japansche Citroen-okulasi), KB/M/JC-SK (keprok Batu 55/interstock jeruk manis/Japansche Citroen-sambung kulit), dan KB/M/JC-Ok (keprok Batu 55/ interstock jeruk manis/Japansche Citroen-okulasi) menghasilkan persentase sambungan jadi 100%. Perlakuan KB/JC-Ok (keprok Batu 55/Japansche Citroen-okulasi) menghasilkan pecah tunas paling cepat, sedangkan perlakuan KB/S/JC-Ok (keprok Batu 55/ interstock jeruk siam/Japansche Citroen-okulasi) menghasilkan pertumbuhan terbaik pada pertambahan tinggi tunas dan jumlah daun. Kombinasi perlakuan interstock-top working mempunyai rasio C/N lebih tinggi jika dibandingkan dengan tanaman jeruk muda (pembanding). Hasil penelitian ini untuk memberikan rekomendasi kepada petani tentang penggunaan interstock melalui metode top working pada tanaman jeruk keprok Batu 55.
PENGARUH VOLUME KOMPOS PADA MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG (Ipomoea reptans Poir) DALAM SISTEM VERTIKULTUR Setyawan, Angga Ady; Baskara, Medha; Setyobudi, Lilik
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 7 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21176/protan.v6i7.773

Abstract

Pentingnya sayuran sebagai sumber gizi dan serat memicu peningkatan kebutuhan masyarakat untuk mengkonsumsi sayuran. Kebutuhan jumlah gizi yang dibutuhkan berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang memicu peningkatan alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman dan industri. Semakin sempitnya lahan produktif di perkotaan menuntut adanya suatu cara untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan terbatas agar tetap produktif, salah satunya budidaya dengan sistem vertikultur. Upaya yang dapat dilakukan untuk menunjang sistem vertikultur dilakukan dengan memperhatikan media tanam yang akan digunakan. Perbandingan jumlah media tanam kompos, arang sekam dan tanah yang tepat dapat membantu mengoptimalkan tanaman kangkung yang ditanam secara vertikultur. Penelitian ini bertujuan mempelajari dan mengetahui perbandingan volume kompos sebagai media tanam dengan sistem vertikultur. Penelitian ini dilaksanakan di Roof Garden Gedung Sentral Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Pada bulan Desember 2015 hingga Januari 2016, dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 4 ulangan dan 6 perlakuan yaitu P1 : Tanah + arang sekam + kompos (1:1:0), P2 : Tanah + arang sekam + kompos (1:1:1), P3 : Tanah + arang sekam + kompos (1:1:2), P4 : Tanah + arang sekam + kompos (1:1:3), P5 : Tanah + arang sekam + kompos (1:1:4), dan P6 : Tanah + arang sekam + kompos (1:1:5). Hasil penelitian menunjukkan media tanam tanah, arang sekam, dan kompos (1:1:1) meningkatkan pertumbuhan sebesar 15% pada tinggi tanaman, 16% pada jumlah daun, 49% pada bobot segar total tanaman, 49% pada bobot segar konsumsi per tanaman, 48% pada bobot segar non konsumsi per tanaman, dan 7% pada jumlah cabang akar.