Isdradjad Setyobudiandi
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB/ Jalan Lingkar Kampus IPB Dramaga (16680)

Published : 36 Documents
Articles

Found 36 Documents
Search

MACROZOOBENTHOS ASSEMBLAGES IN BEDS OF THE BLUE MUSSEL, MYTILUS EDULIS L : EFFECFS OF LOCATION,PATCH SIZE AND POSITION ON DIVERSITY AND ABUNDANCE Setyobudiandi, Isdradjad
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 1 (1995): Juni 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Studi keanekaragaman dan kelimpahan hewan makrobentos pada hamparan Mytilus edulis L. dilakukan di Norsminde dan Kerteminde Fjord, Denmark. Patch dari Mytilus dikategorikan menjadi kelompok keciJ, sedang, dan besar. Tiga posisi ditentukan pada patch yang ben:kuran sedang dan besar, yaitu: tepi, tengah, dan pusat. Tidak ditemukan pengaruh dari posisi terhadap jumJah spesies maupun jumlah spesies maupun jumlah individu mollusca  ustacea, polychaeta, and oligochaeta; akan tetapi pola distnbusi kelompok makrobenthos pada tiap lokasi berbeda berdasarkan ukuran patch.diNorsminde Fjord, jumlah individu kelompok crustacea and oligochaeta berbedaberdasarkan ukuran patch; tetapi kondisi tersebut tidak terdapat di Kerteminde. Mollusca dan polychaeta di Norsminde menunjukkan perbedaan sebaran dalam jumlah spesies,berdasarkan patch, sementara di Kerteminde semua kelompok tidak menunjukkan perbedaan. Secara keseluruhan, total makrobentos menunjukkan perbedaan sesuai dengan ukuran patch. Total bentos yang terdapat pada patch berukuran kecil di Norsminde menunjukkan kelimpahan rendah dlbandingkan terhadap ukuran patch lainnya pada lokasi yang sama. Sedangkan, pada patch kecil di Kerteminde makrobentos terdapat dengan kelimpahan tinggi. Pada kedua lokasi makrobentos pada patch berukuran kecil menunjukkan keanekaragaman tinggi dibandingkan dengan ukuran lainnya. Urutan keanekaragaman komunitas (tinggi-rendah) pada tiap ukuran patch di kedua lokasi adalah Patch kecil Patch sedangPatch besar.Kata-kata kunci : makrozoobentos, Mytilus beds, ukuran Patch, keanekaragaman
SPATIAL DISTRIBUTION AND HABITAT PREFERENCE OF BIVALVIA IN THE COASTAL WATERS OF SIMPANG PESAK SUB DISTRICT, EAST BELITUNG DISTRICT Akhrianti, Irma; Bengen, Dietriech G; Setyobudiandi, Isdradjad
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 6 No. 1 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v6i1.8639

Abstract

The coastal waters of Simpang Pesak Sub-district, East Belitung Regency considered as a productive region and had a broad range of habitats for bivalvia. However, research on spatial distribution and habitat preference of bivalvia in this region is limited to none. The objectives of this research were to examine the effects of marine biophysical parameters and substrate quality on bivalvia. The research was started from Mei 2013 until June 2013 by using survey method and random systematic sampling approach. The results showed that there were 16 species of bivalves consisted of 14 genus from 7 family and dominated by Gafrarium pectinatum at station I (13.62 ind/m2, C=0.52, H?=0.6, muddy sandy), and  station II (28.4 ind/m2, C=0.51, H?=1.04, sandy), Gafrarium tumidum at station III (59.9 ind/m2, C=0.51, H?=1.03, sandy), Scapharca pilula at Stasiun IV (61,6 ind/m2, C=0.5, H?=0.89, clay sandy). Spatial distribution and density of bivalves were influenced by particle size, C-organik, and other environmental factors such as current, dissolved oxygen, TSS, temperature, and salinity. Keywords: bivalves, distribution, habitat preference
LENGTH-WEIGHT RELATIONSHIP AND CONDITION FACTOR OF YELLOWSTRIPE SCADS SELAROIDES LEPTOLEPIS IN SUNDA STRAIT Ibrahim, Putri Sapira; Setyobudiandi, Isdradjad; Sulistiono, .
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 9 No. 2 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v9i2.19292

Abstract

Yellowstripe scad Selaroides leptolepis is important product of small pelagic fishery resources in Java Sea. This fish also has high economic value and mostly captured by fisherman. The purpose of this study was to determine length weight relationship and condition factor of yellowstripe scads Selaroides leptolepis in Sunda Strait. Sampling was conducted from April to August 2015 with stratified random sampling method from catch landed at Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Banten. The results showed that 757 fish captured consists of 337 females and 420 males. The length weight relationship was W= 0.00004L2.7176 for female and W= 0.00003L2.7871 for male. The results indicated that the length weight relationship was highly correlated (r > 95%). the relative condition factors of fish varied from 1.0061-1.1926, of which females were generally in better condition than the males. Keywords: condition factor, length-weight relationship, yellowstripe scads, Sunda Strait
ESTIMASI CADANGAN KARBON PADA LAMUN DI PESISIR TIMUR KABUPATEN BINTAN Khairunnisa, .; Setyobudiandi, Isdradjad; Boer, Mennofatria
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v10i3.21397

Abstract

ABSTRAKSalah satu upaya untuk mengurangi emisi gas karbon pemicu pemanasan global adalah dengan memanfaatkan vegetasi pesisir seperti lamun yang dikenal dengan istilah blue carbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stok karbon pada padang lamun di Pesisir Timur Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau sebagai upaya dalam mengurangi pemanasan global. Penelitian dilakukan di Berakit, Malang Rapat, dan Teluk Bakau mulai Januari ? Juli 2017. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah biomassa, kandungan karbon, dan stok karbon pada lamun. Analisis biomassa diukur dari berat kering lamun per satuan luas yang dibagi atas bagian atas dan bawah substrat, kandungan karbon diukur dengan metode Walkley and Black, stok karbon diukur dengan memperhatikan kandungan karbon dan biomassa lamun. Hasil penelitian menunjukkan ekosistem lamun di pesisir timur Kabupaten Bintan ditumbuhi oleh C. rotundata, C. serrulata, E. acoroides, H. uninervis, H. pinifolia, H. ovalis, T. hemprichii, T. ciliatum dan S. isoetifolium dengan kondisi yang relatif baik.  Persentase biomassa dan karbon yang berada di bawah substrat lebih besar dibanding biomassa yang berada di atas substrat, sehingga ketika bagian pelepah dan daun lamun lepas baik karena tindakan manusia ataupun alam lamun masih tetap mampu menyimpan karbon. Padang lamun di pesisir sebelah timur Kabupaten Bintan memiliki potensi dalam menyerap dan menyimpan karbon yakni sebesar 2431.33 ton C dengan E. acoroides sebagai spesies yang mampu menghasilkan biomassa terbesar dan kandungan karbon tertinggi, meski jumlah tersebut tidak dapat dijadikan acuan apakah lamun memiliki potensi yang tinggi ataupun tidak karena hingga saat ini belum ada nilai standardnya. ABSTRACTOne of the solutions to reduce carbon gas emissions that triggered global warming is to utilize coastal vegetation such as seagrass that known as blue carbon. This research was aimed to determine stock carbon on seagrass in the east coast of Bintan Regency, Kepulauan Riau Province as an effort to reduce global warming.  The research was conducted in Berakit, Malang Rapat, and Teluk Bakau from January to July 2017. The parameters measured in this research were biomass, carbon content, and carbon stock on seagrass. The anylisis of the biomass was obtained from the dry weight per unit area, the carbon content was obtained by Walkley and black method, the carbon stock was obtained by the measurement of the biomass and carbon content. Based on the observation, seagrass ecosystem in east coast of Bintan was palnted by C. rotundata, C. serrulata, E. acoroides, H. uninervis, H. pinifolia, H. ovalis, T. hemprichii, T. ciliatum, dan S. isoetifolium. The below ground biomass and carbon percentation were higher that the aboveground parts so when the leaves are released either because of human or natural actions, seagrass is still able to store carbon. Seagrass beds on the east coast of Bintan Regency have the potential to absorb and store carbon which is equal to 2431.33 tons C as E. acoroides being the species which capable of producing the highest biomass and highest carbon content, although this number cannot be used as a reference whether seagrass has high potential or no because until now there has been no standard value. 
KELIMPAHAN DAN BIOMASSA POPULASI SIMPING (PLACUNA PLACENTA, LINN, 1768) DI TELUK KRONJO, KABUPATEN TANGERANG ., Yonvitner; Boer, Mennofatria; Setyobudiandi, Isdradjad; Dahuri, Rokhmin; Prapto Kardiyo, Kardiyo
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 17 No. 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.143 KB)

Abstract

Kegiatan penangkapan telah menyebabkan terjadinya penurunan stok dan biomasa simping. Penurunan itu dapat terjadi pada stadia spat, muda, dan dewasa. Perubahan ukuran tangkap yang semakin kecil juga merupakan pertanda bahwa telah terjadi upaya penangkapan yang berlebih. Berdasarkan analisis kepadatan, terdapat adanya perbedaan jumlah dan biomassa antara waktu pengamatan. Peningkatan biomassa yang terjadi, yatu 0,46 gram per 2 minggu dan laju penurunan kepadatan sebesar 0,657 ind/2 minggu. Pada bulan April kepadatan rendah, biomassa rendah, dan rasio biomassa terhadap kelimpahan juga rendah. Artinya tekanan penangkapan yang terjadi maupun pengaruh lingkungan besar saat bulan April.Kata kunci: biomassa, kelimpahan, simping, Kronjo
GENETIC PROFILE ASSESSMENT OF GIANT CLAM GENUS TRIDACNA AS A BASIS FOR RESOURCE MANAGEMENT AT WAKATOBI NATIONAL PARK WATERS Findra, Muhammad Nur; Setyobudiandi, Isdradjad; Butet, Nurlisa Alias; Solihin, Dedy Duryadi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.089 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.22.2.67-74

Abstract

Giant clam population has been decreased in a few years. Resource management requires information from various aspects, such as ecological, population, and other aspects. This study was aimed at assessing the genetic profile of Tridacna giant clam in Wakatobi National Park waters using Cytochrome oxidase subunit I (COI) genetic marker. Sample collection was conducted around the three main islands, i.e., Wangi-wangi, Kaledupa, and Tomia. Genetic analysis using COI gene may contribute in identifying giant clams up to the species level and showed the relationship among species. The research found 41 specific nucleotide sites for the clams. T. crocea, T. squamosa and T. maxima had 2, 15 and 24 sites, respectively. COI gene as a biological marker was able to separate groups of giant clam by species. Nucleotide variation of T. crocea from Wakatobi was the highest among other locations, so it could be used as a genetic source for translocation and domestication. Keywords: cytochrome oxidase subunit I, specific nucleotide, Tridacna, Wakatobi National Park
DENSITY AND THE COVERAGE OF SEAGRASS ECOSYSTEM IN BAHOI VILLAGE COASTAL WATERS, NOTRH SULAWESI Fahruddin, Muh.; Yulianda, Fredinan; Setyobudiandi, Isdradjad
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 9 No. 1 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v9i1.17952

Abstract

Physical seagrass ecosystem damage have been reported in various regions in Indonesia. Seagrass ecosystem damage is caused by human activity such as trampling seagrass and boats that muddy the waters and reduced the density and seagrass cover. This study aims to provide information about the density and the coverage of seagrass. The method used in this research is the transect method measuring 50x50 cm squared at three different locations by considering coastal ecosystems Bahoi village that already exist. Station 1 is near to mangrove habitat, station 2 is right on seagrass habitats, and station 3 is near to coral reef habitat. The results indicated there is six seagrass species that found in the Bahoi village which is Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, and Halodule uninervis. The density and seagrass cover is shows that the station 1 has the highest density and seagrass cover percentage compared with the other stations. The highest density of seagrass species located in station 1 with 955 individuals/m2, and the lowest was located at station 3 with 699 individuals/m2. While the highest cover percentage is located at station 1 with 270% and the lowest located at station 3 with 229%. Keyword: seagrass ecosystem, density, coverage, Bahoi
Kualitas habitat populasi simping (Placuna placenta) di Perairan Teluk Kronjo, Tangerang ., Yonvitner; Dahuri, Rokhmin; Setyobudiandi, Isdradjad; Praptokardiyo, Kardiyo; Boer, Mennofatria
Aquahayati Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Aquahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.07 KB)

Abstract

Populasi simping dapat bertahan dan berkembang apabila memiliki kualitas lingkungan hidup yang baik. Penelitian inibertujuan untuk mengkaji karakter habitat dan lingkungan hidup simping di perairan Teluk Kronjo, Tanggerang. Penelitiandilaksanakan selama lima bulan, dari bulan Maret sampai September 2008. Penelitian dilakukan dengan interval satubulan pada enam stasiun dengan tiga kali ulangan. Analisis meliputi analisis deskriptif dan anova dua arah (antara stasiundan antar zona). Status habitat simping dari indikator suhu, kecerahan, pH, BOD, masih mendukung kehidupan simping,sedangkan kekeruhan, TSS, oksigen, redoks, dan COD, berpotensi menghambat pertumbuhan simping. Secara keseluruhankondisi habitat kurang baik namun masih dalam batas syarat minimal untuk mendukung kehidupan simping.Kata kunci: simping, Kronjo, kualitas air
PHYSICAL EFFECTS ON THE BEHAVIOR OF LITTORINA LITTOREA (L) Setyobudiandi, Isdradjad; Ario, Raden; Soekendarsi, Eddy
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 1 No. 1 (1993): Juni 1993
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3492.29 KB)

Abstract

Gastropoda, Uttorina littorea (l.) dipelihara pada salinitas antara 9-33"'- . Hewan tidak dapat berlahan hidup pada salinitas kurang dari 8%.. Pada salinitas antara 15.6-19.4"'- hewan tampak lebih aktif dalam kondisi dengan atau tanpa cahaya. Penurunan tingkat aktifitas umumnya terjadi dengan menurunnya salinitas media.Kata-kat. kunci: Littorina littorea, tingkah laku, salinitas, cahaya
KAJIAN KETERKAITAN EKOLOGI ACANTHASTER PLANCI DAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KABUPATEN BINTAN Alustco, Syarviddint; Wardiatno, Yusli; Setyobudiandi, Isdradjad
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 17 No. 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.18 KB)

Abstract

Kabupaten Bintan memiliki hamparan ekosistem terumbu karang, berbagai aktivitas antropogenik masyarakat di wilayah ini seperti eksploitasi sumberdaya perikanan, pariwisata, penambangan pasir diduga sebagai penyebab kerusakan ekosistem terumbu karang. Kerusakan ini dijelaskan dari hasil penelitian CRITC-LIPI Coremap II 2006, bahwa tutupan karang hidup rata-rata 25,27 %, tidak hanya itu populasi megabenthos sebagai indikator lingkungan yang tercatat menunjukkan kekawatiran. Perlu penelitian yang berkaitan dengan faktor bioekologi terhadap Kualitas Tutupan Karang Hidup. Beberapa metode telah digunakan untuk mendeskripsikan kondisi terumbu karang tersebut. Hasil penelitian diperoleh di kawasan I dengan 11 stasiun pengamatan: luasan tutupan karang hidup berkisar 34-99 %, tidak ditemukan adanya Acanthaster planci. Kawasan II dengan 4 stasiun pengamatan, tutupan karang hidupnya berkisar 65-87%, ditemukan A. planci di 3 stasiun. A. planci lebih banyak ditemukan di substrat Acropora branching (ACB) dengan jumlah 14 individu, 6 individu pada substrat coral massive dan coral foliose, 4 individu pada substrat coral submassive, dan 3 individu pada dead coral (DC). Kelimpahan A. planci lebih terkait pada jenis substrat dan bentuk karang bila dibandingkan dengan luas penutupan karang hidup. Kerusakan terumbu karang di kawasan I lebih disebabkan oleh kondisi perairan seperti sedimentasi dan berbagai aktivitas langsung dari masyarakat. Sedangkan di kawasan II kerusakan dipengaruh oleh destructive fishing,disamping kelimpahan A. planci diduga telah mempengaruhi tutupan karang hidup dengan kelimpahan 25 ekor/0,5 ha setara (50 ind/ha). Ini melebihi daya dukung terumbu karang sebanyak 30 ind/ha. Monitoring dan DPL diperlukan untuk mengontrol kelimpahan A. planci.Kata kunci: Acanthaster planci, komunitas terumbu, Pulau Bintan, terumbu karang