Jawoto Sih Setyono
Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 34 Documents
Articles

Found 34 Documents
Search

EVALUASI KEBIJAKAN PENGENTASAN KEMISKINAN DI KECAMATAN KOKAP, KABUPATEN KULON PROGO Selewang, Anggita; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Poverty is a condition of someone that trapped in a vicious cycle of poverty and does not have the ability to break the cycle. They need an intervention from the authorities, such as government policy, which can help someone get out of the poverty trap. Until 2018, Kokap District is still one of the biggest poverty pockets in the Special Region of Yogyakarta (DIY) ). Thus, further studies need to be done to assess the effectiveness of poverty alleviation policies implemented in Kokap District. The method used in this study is the Delphic Hierarchy Process (DHP). The Delphi method will be used to weight the evaluation criteria in evaluating poverty alleviation policies, while AHP is used to assess the importance of poverty alleviation policies. Weighting the policy evaluation criteria gives the result that the criteria for human assets and the sustainability of economic aspects of the poor are the criteria with the highest weight. While the assessment of the level of importance of the policy provides the result that social assistance policies are still a priority in Kokap District. In addition, this study found that the policy with a high and medium priority level is a policy whose implementation is integrated from the central government to regional governments.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETIDAKEFEKTIFAN IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG KOTA DI KELURAHAN GEDAWANG KOTA SEMARANG Triyanto, Bayu Arief; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus pelanggaran pemanfaatan ruang yang terjadi ditingkat permasalahan paling bawah, seperti aktifitas pembangunan di kawasan konservasi di Kelurahan Gedawang merupakan contoh kasus tidak efektifnya implementasi rencana tata ruang Kota Semarang. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji faktor apa yang menyebabkan terjadinya pelanggaran pemanfaatan ruang di Kelurahan Gedawang yang menyebabkan rencana tata ruang Kota Semarang tidak efektif dalam implementasinya. Variabel penelitian yang digunakan terkait dengan mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang berdasarkan kajian literatur terpilih 5 variabel utama yaitu Institusi/kelembagaan pengendalian pemanfaatan ruang, instrumen pengendalian pemanfaatan ruang, kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang, sosialisasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengawasan dan pelaporan. Metode penelitian yang akan digunakan ialah metode kuantitatif. Kemudian teknik analisis yang digunakan ialah analisis faktor dengan jenis Rfactor analysis. Teknik sampling dalam penelitian menggunakan simple random sampling. Teknik pengumpulan data primer menggunakan teknik kuisioner dan wawancara, sedangkan perolehan data sekunder melalui telaah dokumen. Penilaian data analisis dilakukan dengan menggunakan skala likert. Keseluruhan hasil analisis menunjukkan bahwa variabel bebas yaitu variabel-variabel pernyataan yang terkait dengan variabel utama hasilnya signifikan berkontribusi terhadap variabel terikat yaitu pelanggaran pemanfaatan ruang. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa dari segi instrumen pengendalian pemanfaatan ruang yaitu pertanyaan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap rencana tata ruang dan peraturan peruntukkan lahan atau peraturan zonasi merupakan faktor yang berkontribusi paling besar terhadap terjadinya pelanggaran pemanfaatan ruang di Kelurahan Gedawang. 
TINGKAT AKSESIBILITAS HALTE BRT DI KECAMATAN BANYUMANIK Nusantara, Annisa Bayanti; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 8, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyumanik District is a new growth center that tends to develop towards the suburbs. The development of a new growth center was followed by an increasing population in Banyumanik District and is currently dominated by the productive age population. The more developed Banyumanik District, the more needs that must be met, such as transportation. It is seen from the number of productive age population in Banyumanik District while the activity center is in the center of Semarang City. Trans Semarang is a public transportation that is provided to fulfill the needs of the citizen for transportation, but until now it still has a small number of enthusiasts, as seen from the average load factor rate of 45.72%. Accessibility to shelters is very important in the operation of Trans Semarang because Trans Semarang is a closed public transportation system. The purpose of this research is to find out the conditions of accessibility and the level of accessibility of shelter according to perspective of productive age population in Banyumanik District. The analytical tools used are scoring and descriptive statistics. The results of the analysis showed that the accessibility level of shelters in Banyumanik District is divided into 3 levels, namely Level V, Level VI, and Level VII but overall Banyumanik District falls into Level VI with a score of 92.14. This means that the accessibility of shelters is moderate but tends to be bad based on each condition forming the accessibility factor for the shelter.
TINGKAT KERENTANAN EKONOMI WILAYAH KABUPATEN WONIGIRI Harsiwi, Restu Sita; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Wonogiri merupakan kabupaten dengan peringkat ke-8 di Jawa Tengah dengan tingkat kemiskinan tinggi pada tahun 2003-2007 dengan tingkat kemiskinan  25,04%. Pada tahun 2010, angka kemiskinan di Kabupaten Wonogiri mengalami peningkatan yakni mencapai angka 32,36%. Kabupaten Wonogiri juga merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang tergolong daerah tertinggal pada tahun 2001-2005 dan pada tahun 2012. Selain itu, Kabupaten Wonogiri menjadi salah satu kabupaten dengan kondisi perekonomian yang kurang stabi karena angka kemiskinan yang terus  meningkat dari tahun 2007-2010 dan peningkatan PDRB yang tidak terlalu signifikan. Hal ini tentunya berpotensi menimbulkan kerentanan ekonomi wilayah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan ekonomi wilayah Kabupaten Wonogiri dengan menggunakan metode survei sebagai strategi penelitian. Objek penelitian ini adalah wilayah Kabupaten Wonogiri dengan kecamatan sebagai unit analisis. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis faktor dan analisis penskoran. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui bahwa dari 6 faktor yang mempengaruhi kerentanan ekonomi wilayah, hanya 4 faktor yang mempengaruhi tingkat kerentanan ekonomi wilayah Kabupaten Wonogiri. Faktor kemampuan produksi barang dan jasa menjadi faktor dominan dengan kontribusi tertinggi, yaitu 31,16%. Sementara itu faktor kemiskinan, menjadi faktor dominan dengan kontribusi terendah Dilihat secara keseluruhan, Kabupaten Wonogiri tergolong dalam kategori 4 atau termasuk wilayah yang tergolong rentan tinggi dilihat dari segi ekonomi.
EVALUASI KEBIJAKAN KONSERVASI KOTA KECIL LASEM, KABUPATEN REMBANG Anggraenie, Novita Tri; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urban conservation in development planning is  a form of maintaining the city's heritage. It will be difficult and important to discuss about urban conservation, especially in small cities that have historical heritage. Urban conservation can?t be separated from a regulation, because it is the main thing of conservation planning. Existing policies must be able to accommodate mechanisms to balance conservation sustainability in the short and long term. In addition, urban conservation policies should be a tool that can control cultural heritage. This is the basis for reviewing policy documents relating to urban conservation as one of the terms of reference for development and activities in Lasem. The purpose of this study is to evaluate conservation policies in Lasem, Rembang Regency. The analytical method used is the Delphic Hierarchy Process (DHP) and descriptive statistical analysis. The results of the evaluation can be seen that the most important conservation policies are at the National level. With the existence of this research, it is expected to be considered in the formulation of conservation policies in Lasem, Rembang Regency.
PERUBAHAN LUAS LAHAN SAWAH MENJADI NON SAWAH DI WILAYAH JOGLOSEMAR Diofanny, Natasha; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urbanisation process in Joglosemar region of Central Java has more or less affected the size of paddy field. Data from CSB (Central Statistical Board) estimate that during the last decade the land used for rice field has declined around 5,424 hectares. At the same time the number of people living in urban areas has increased by around 3 million people. If the conversion of rice field continues, it will likely to have an impact on food security for the region as well as its neighboring areas. This research aims to analyse the factors that contribute to the change in paddy field production areas in Joglosemar region. The research applies quantitative method to analyse the rate of conversion by using linier regression technique. Based on the analysis, it is found that the average rate of rice field conversion is 0.24% per year while the main cause of the conversion is the urbanization process. It is also found that the industrialisation process and land productivity have insignificant contribution to the conversion process.  From the findings, it can be estimated that if the urbanization rate reaches 4.64% annually as it happens recently, in the next decade until 2030 Joglosemar region will experience deficit of rice supply.
ADAPTASI MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI KERENTANAN AIR BERSIH AKIBAT PERUBAHAN IKLIM DI KELURAHAN TANDANG, KECAMATAN TEMBALANG, SEMARANG Kusuma, Sonia Vianitya; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan iklim merupakan peristiwa kenaikan suhu bumi sehingga berdampak peningkatan suhu udara dan perubahan pola musim. Akibatnya musim kemarau panjang menyebabkan beberapa daerah mengalami kerentanan air bersih sehingga masyarakat perlu melakukan adaptasi. Pusat Layanan Teknologi dan Riset Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (2011) mengatakan nilai gap Kelurahan Tandang yaitu -45,3 menunjukkan bahwa kondisi ketersediaan dan kebutuhan air termasuk kategori kesenjangan tingkat tinggi. Tujuan penelitian adalah pengkajian mengenai kapasitas dan proses adaptasi masyarakat untuk dapat bertahan hidup dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan snowballing sampling dan triangulasi. Metode analisis deskriptif yang membahas mengenai kapasitas adaptasi masyarakat yang menjadi dasar terbentuknya proses adaptasi masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan kondisi. Penelitian menghasilkan temuan studi yaitu adaptasi masyarakat mengalami peningkatan yang disebabkan oleh peningkatan kapasitas adaptasi yang dipengaruhi oleh faktor internal dan ekternal. Melalui analisis proses adaptasi diperoleh 4 tipe keputusan dan respon adaptasi. Kondisi semakin membaik karena peran institusi dan komunitas. Adaptasi yang dilakukan masyarakat merupakan adaptasi proaktif sehingga penelitian memberikan rekomendasi perlunya rancangan dilakukannya adaptasi terencana dengan tahapan pengumpulan informasi, perencanaan, desain yang diimplementasi, monitoring, dan evaluasi.
TRANSISI EKONOMI WILAYAH KABUPATEN DI JAWA TENGAH DAN KETERKAITANNYA DENGAN PERKEMBANGAN EKONOMI LOKALNYA Adni, Nisa Ayunda; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 5, No 4 (2016): November 2016
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Central Java economic development has been dynamic and diverse. The economy of the region has grown gradually and experienced structural transition. The regional economy which was originally based on the primary sector has transformed to a more modern one which the secondary and tertiary sectors start to dominate the economy. While the growth of the regional economy is widely believed to be caused mainly by exogenous factors, there has been tendency the emergence of local economic factors. This research aims to examine the possible relationship between economic transition and the persistence of local economic development factors among districts in Central Java. This study applies quantitative descriptive analysis combining the methods of scoring analysis, weighted analysis and correlation analysis together to explore the relationship. The research shows that in general there is positive relationship between economic growth and local economic development indicators. This result can contribute to fostering local factors as part of regional and local economic development policies for the region.
EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PERAN PEMERINTAH DALAM TANGGAP DARURAT BANJIR DI KABUPATEN SRAGEN Nuriasari, Aulia; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu dampak perubahan iklim adalah terjadinya bencana banjir di beberapa Daerah Aliran Sungai seperti di DAS Bengawan Solo yang merupakan DAS terpanjang di Pulau Jawa. Kabupaten Sragen sebagai bagian dari DAS Bengawan Solo hulu hampir tiap tahunnya mengalami bencana banjir. Adanya kecenderungan peningkatan wilayah terdampak banjir pada dua tahun terakhir (2011-2012) yang disertai dengan belum adanya organisasi dan kebijakan khusus dalam penanganannya mengindikasikan bahwa peran pemerintah daerah Kabupaten Sragen kurang mampu untuk mencapai tujuan penanganan banjir tersebut yaitu meminimalisasi kerugian sebagai dampak negatif yang ditimbulkan. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah Kabupaten Sragen khususnya lembaga yang berperan dalam tanggap darurat. Kinerja dinilai dari aspek efektivitas dengan variabel kualitas dan kecukupan serta aspek efisiensi dengan variabel kejelasan, kesesuaian dan siklus waktu. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif kuantitatif serta analisis skoring dan pembobotan. Melalui beberapa analisis tersebut penelitian ini menghasilkan temuan studi yaitu peran lembaga penanganan bencana banjir dalam tanggap darurat di Kabupaten Sragen memiliki kinerja baik (efektif dan efisien). Akan tetapi, kinerja lembaga pemerintah Kabupaten Sragen tersebut dipengaruhi oleh beberapa nilai tinggi dan nilai yang kurang baik menurut hasil penilaian kinerja oleh responden dalam beberapa indikator.
NILAI LOKAL DALAM PERENCANAAN TATA RUANG KOTA MUNTILAN Shawma, Nadia Gita; Setyono, Jawoto Sih
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 10, No 1 (2014): JPWK Vol 10 No 1 March 2014
Publisher : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota,Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.459 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v10i1.7635

Abstract

Muntilan is one of a small city that cities that respond to the development and modernization . In addition to its position on the national path that connects Yogyakarta to Semarang as the capital of the each province, in a fact Muntilan was probably save any locality aspects such as natural conditions, as the descendants of Javanese society and diversity religious that exists but at the same time they are become the opportunity for the development of Muntilan. These phenomena will be continue to emerge that  influence in the direction of urban space which is arranged by the government in a process and a product of spatial planning. The research about local values in spatial planning use The Grounded Theory approach was successfully finds local values that formed from the interaction of society with the aspects of localities , including community perceptions for the threat of Merapi Mountain , their love as Javanese, the faith value that hidden on stone carving art, mina lumping art, and tolerance and harmony among diverences of religions in Muntilan?s society. There is the only one of the local value that considered in spatial planning and contained within the spatial planning documents, RDTRK Muntilan. The others local values that has not regulated by local government in spatial planning, serve as recommendations to the government and stakeholders to make the implementation of spatial planning for the small town of Muntilan.