Articles

Found 6 Documents
Search

PELATIHAN KOMPOSTING SAMPAH SKALA RUMAH TANGGA DALAM PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT DESA KETEGAN TANGGULANGIN SIDOARJO Ermavitalini, Dini; Jadid, Nurul; Muslihatin, Wirdhatul; Saputro, Triono Bagus; Shovitri, Maya; Prasetyo, Endry Nugroho; Sa?adah, Noor Nailis; Purwani, Kristanti Indah
Jurnal ABDI: Media Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/ja.v5n1.p39-43

Abstract

Along with the increasing number of people and all economic activities carried out, waste becomes acontamination that continues to leave problems. Sidoarjo Regency has 18 sub-districts with 350 villagesand a population of around 2.3 million people with a high level of economic growth. According to the 2017Sidoarjo Regency Environmental and Hygiene Office (DLHK), reported that Sidoarjo district residentsdispose of household waste around 0.5 kg per day. DLHK identifies the lack of Integrated WasteManagement Sites (TPST) and Final Waste Disposal Sites (TPAS) to accommodate and manage wastefrom the Sidoarjo Regency community. The lack of TPST and TPAS is not a problem in wastemanagement if active community involvement is involved in processing household waste known asCommunity Based Waste Management (PSBM). This abdimas method is a campaign about theimportance of the role of the community in improving environmental status and composting training withraw materials in the form of kitchen waste with a simple household-scale tool located in the KeteganVillage office, Tanggulangin Sub-district, Sidoarjo. The participants were very enthusiastic about takingpart in the training and were eager to practice household composting on a household scale for the need tofertilize plants planted in the yard. Participants want monitoring by the service team on the compostingresults that have been carried out by each participant.
The Usage of Crumb Rubber Filtration and UV Radiation for Ballast Water Treatment Pitana, Trika; Shovitri, Maya; Fauzi, Haris Nur
International Journal of Marine Engineering Innovation and Research Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 60111, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.982 KB) | DOI: 10.12962/j25481479.v2i1.2610

Abstract

This research is aimed to build ship’s ballast water treatment prototipe that used to inactivate microbial water patogen in ballast water to produce unpolluted ballast water that can be standardised by IMO Ballast Water Management Convention. A simple concept that used in the development of this prototype is by draining ballast water with capacity at 5 lpm, 10 lpm and 20 lpm into alternative filtration crumb rubber and UV reactor. In the filtration process using crumb rubber, ballast water will be filtered with the precision filtration up to 50 micron, while in the UV reactor ballast water will be illuminated by UV-C with maksimum dose 16,58 mW/cm2. Finally,the study shows the performance of alternative filtration of crumb rubber and UV-C irradiation on microbial water phatogen, and at what UV-C dose ballast water treatment prototipe can inactivate  microbial water phatogens, which are complying with IMO Ballast Water Management Convention ANNEX D.This research is aimed to build ship’s ballast water treatment prototipe that used to inactivate microbial water patogen in ballast water to produce unpolluted ballast water that can be standardised by IMO Ballast Water Management Convention. A simple concept that used in the development of this prototype is by draining ballast water with capacity at 5 lpm, 10 lpm and 20 lpm into alternative filtration crumb rubber and UV reactor. In the filtration process using crumb rubber, ballast water will be filtered with the precision filtration up to 50 micron, while in the UV reactor ballast water will be illuminated by UV-C with maksimum dose 16,58 mW/cm2. Finally,the study shows the performance of alternative filtration of crumb rubber and UV-C irradiation on microbial water phatogen, and at what UV-C dose ballast water treatment prototipe can inactivate  microbial water phatogens, which are complying with IMO Ballast Water Management Convention ANNEX D.
APAKAH BREAKPOINT CHLORINATION SELALU APLIKATIF UNTUK MENGOLAH LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT? Shovitri, Maya
Purifikasi Vol 12 No 2 (2011): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Environmental and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25983806.v12.i2.207

Abstract

Klorinasi adalah salah satu teknik pengolahan limbah yang sering digunakan untuk membunuh bakteri koliform patogenik dalam pengolahan limbah cair rumah sakit. Di sisi lain, aplikasi kaporit berkorelasi positif dengan pembentukan senyawa organohalogen yang beracun. Sehingga aplikasi kaporit harus berdasarkan perhitungan titik breakpoint chlorination (BPC) agar aman terhadap lingkungan. Dengan menggunakan sampel limbah cair dari sebuah rumah sakit yang melakukan klorinasi dengan dosis 5 mg/L, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah aplikasi kaporit di titik BPC selalu aplikatif untuk mengolah limbah tersebut. Titik BPC ditentukan dengan metode titrasi iodometri dan kalium permanganat. Berdasarkan titrasi kalium permanganat, limbah mengandung bahan organik sebesar 39.79 mg/L, sehingga dosis klor aktif yang diujikan adalah 30, 35, 40, 45, 50, 55, 60, dan 65 mg/L. Dari semua waktu inkubasi yang dibandingkan (0, 15, 30 dan 45 menit) terlihat bahwa titik BPC terjadi pada dosis yang sama yaitu 55 mg/L. Dosis tersebut mampu menurunkan konsentrasi bakteri koliform dari sekitar 106 sel/100 ml menjadi 200 sel/100 ml. Bila klorinasi hanya dilihat sebagai desinfektan, klorinasi pada dosis BPC tersebut belum tentu aplikatif, karena ternyata dengan dosis 10 mg/L juga menurunkan konsentrasi bakteri kolifom menjadi 200 sel/100 ml. Selain itu, aplikasi klor 55 mg/L terdeteksi meninggalkan residu klor sebanyak rerata 43 mg/L klor aktif ke lingkungan. Residu tersebut relatif tinggi bila dibandingkan dengan aplikasi nyata dari mana sampel tersebut diambil, yaitu 5 mg/L, walaupun dosis 5 mg/L terdeteksi masih mengandung bakteri koliform  yang di atas ambang batas, yaitu sekitar 105 sel/100 ml.
APAKAH BREAKPOINT CHLORINATION SELALU APLIKATIF UNTUK MENGOLAH LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT? Shovitri, Maya
Purifikasi Vol 12 No 2 (2011): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Environmental and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25983806.v12.i2.90

Abstract

Klorinasi adalah salah satu teknik pengolahan limbah yang sering digunakan untuk membunuh bakterikoliform patogenik dalam pengolahan limbah cair rumah sakit. Di sisi lain, aplikasi kaporit berkorelasipositif dengan pembentukan senyawa organohalogen yang beracun. Sehingga aplikasi kaporit harusberdasarkan perhitungan titik breakpoint chlorination (BPC) agar aman terhadap lingkungan. Denganmenggunakan sampel limbah cair dari sebuah rumah sakit yang melakukan klorinasi dengan dosis 5 mg/L,penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah aplikasi kaporit di titik BPC selalu aplikatif untukmengolah limbah tersebut. Titik BPC ditentukan dengan metode titrasi iodometri dan kalium permanganat.Berdasarkan titrasi kalium permanganat, limbah mengandung bahan organik sebesar 39.79 mg/L, sehinggadosis klor aktif yang diujikan adalah 30, 35, 40, 45, 50, 55, 60, dan 65 mg/L. Dari semua waktu inkubasiyang dibandingkan (0, 15, 30, dan 45 menit) terlihat bahwa titik BPC terjadi pada dosis yang sama yaitu 55mg/L. Dosis tersebut mampu menurunkan konsentrasi bakteri koliform dari sekitar 106 sel/100 mL menjadi200 sel/100 mL. Bila klorinasi hanya dilihat sebagai desinfektan, klorinasi pada dosis BPC tersebut belumtentu aplikatif, karena ternyata dengan dosis 10 mg/L juga menurunkan konsentrasi bakteri kolifom menjadi200 sel/100 mL. Selain itu, aplikasi klor 55 mg/L terdeteksi meninggalkan residu klor sebanyak rerata 43mg/L klor aktif ke lingkungan. Residu tersebut relatif tinggi bila dibandingkan dengan aplikasi nyata darimana sampel tersebut diambil, yaitu 5 mg/L, walaupun dosis 5 mg/L terdeteksi masih mengandung bakterikoliform yang di atas ambang batas, yaitu sekitar 105 sel/100 mL.
Kolaborasi Institusi Pemerintah – Perguruan Tinggi – LSM dalam Pengelolaan Sampah Plastik Melalui Forum Group Discussion Aunurohim, Aunurohim; Wijayanti, Anies; Hermawan, Hermawan; Zulaika, Enny; Saptarini, Dian; Hidayati, Dewi; Shovitri, Maya; Setiawan, Edwin; Muzaki, Farid Kamal; Desmawati, Iska; Ashuri, Nova Maulidina
SEWAGATI Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1276.813 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v3i2.5728

Abstract

Pengelolaan sampah, utamanya plastik, menjadi sorotan Indonesia bahkan dunia terkait dengan pencemaran yang disebabkannya. Pengelolaan sampah plastik menjadi penting untuk dilakukan manakala sudah mencapai taraf yang membahayakan makhluk hidup di perairan ataupun di daratan. Departemen Biologi bersama Dinas Lingkungan Hidup kota Surabaya dan Lembaga Swadaya Masyarakat Komunitas ‘Nol’ Sampah Surabaya mengadakan forum group discussion guna membahas hal tersebut agar diperoleh suatu upaya konkret dalam pengelolaan sampah plastik di Surabaya secara khusus, dan Indonesia secara umum. Hasil forum group discussion kegiatan ini merekomendasikan langkah-langkah konkret berdasarkan prioritas dalam pengelolaan sampah plastik dimulai dari (1) tidak menggunakan sama sekali tas atau kantong plastik, sedotan plastik, dan botol minuman plastik sekali pakai, (2) jika tidak memungkinkan, maka dilakukan pengurangan penggunaan material berbahan dasar plastik sekali pakai, (3) skala prioritas selanjutnya adalah melakukan re-cycle ataupun re-use untuk plastik yang tidak bernilai komersil seperti plastik sachet ataupun bungkus mie agar dapat bernilai fungsional bahkan komersial, (4) dan prioritas terakhir adalah membiasakan membuang sampah terutama plastik pada tempatnya agar mekanisme sortikasi yang dilakukan pemerintah untuk melaksanakan program bebas sampah plastik pada tahun 2025 mendatang dapat terwujud
THE USAGE OF CRUMB RUBBER FILTRATION AND UV RADIATION FOR BALLAST WATER TREATMENT Pitana, Trika; Shovitri, Maya; Fauzi, Haris Nur
International Journal of Marine Engineering Innovation and Research Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.982 KB) | DOI: 10.12962/j25481479.v2i1.2610

Abstract

This research is aimed to build ship?s ballast water treatment prototipe that used to inactivate microbial water patogen in ballast water to produce unpolluted ballast water that can be standardised by IMO Ballast Water Management Convention. A simple concept that used in the development of this prototype is by draining ballast water with capacity at 5 lpm, 10 lpm and 20 lpm into alternative filtration crumb rubber and UV reactor. In the filtration process using crumb rubber, ballast water will be filtered with the precision filtration up to 50 micron, while in the UV reactor ballast water will be illuminated by UV-C with maksimum dose 16,58 mW/cm2. Finally,the study shows the performance of alternative filtration of crumb rubber and UV-C irradiation on microbial water phatogen, and at what UV-C dose ballast water treatment prototipe can inactivate  microbial water phatogens, which are complying with IMO Ballast Water Management Convention ANNEX D.This research is aimed to build ship?s ballast water treatment prototipe that used to inactivate microbial water patogen in ballast water to produce unpolluted ballast water that can be standardised by IMO Ballast Water Management Convention. A simple concept that used in the development of this prototype is by draining ballast water with capacity at 5 lpm, 10 lpm and 20 lpm into alternative filtration crumb rubber and UV reactor. In the filtration process using crumb rubber, ballast water will be filtered with the precision filtration up to 50 micron, while in the UV reactor ballast water will be illuminated by UV-C with maksimum dose 16,58 mW/cm2. Finally,the study shows the performance of alternative filtration of crumb rubber and UV-C irradiation on microbial water phatogen, and at what UV-C dose ballast water treatment prototipe can inactivate  microbial water phatogens, which are complying with IMO Ballast Water Management Convention ANNEX D.