Tongku Nizwan Siregar
Bagian Klinik Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali

Published : 40 Documents
Articles

Found 40 Documents
Search

MEASUREMENT OF SERUM TESTOSTERONE IN KACANG GOAT BYUSING ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA) TECHNIQUE: THE IMPORTANCE OF KIT VALIDATION (PENGUKURAN TESTOSTERON SERUM KAMBING KACANG DENGAN TEKNIK ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA): PENTINGNYA VALIDASI KIT) G, Gholib; Wahyuni, Sri; Kadar, Okta Hilda; Adam, Mulyadi; Lubis, Triva Murtina; A, Azhar; Akmal, Muslim; Siregar, Tongku Nizwan; Armansyah, Teuku; Nugraha, Taufiq Purna
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 1 (2016): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i1.3367

Abstract

This study was conducted to validate a commercial testosterone enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) kits (DRG EIA-1559) inanalytic and biological manner for measuring serum testosterone concentrations in kacang goats. This study used 18 healthy kacang goats, six bucks ( 2 years), six kids ( 6 months), and six does ( 2 years). Blood samples were collected from jugular vein and prepared as serum. Two validation tests were performed, an analytical validation comprises a parallelism, accuracy, precision and sensitivity and a biological validation by comparing testosterone concentration from bucks, kids, and does. Testosterone concentrations were measured using ELISA technique. Data of analytical validation were analyzed descriptively and test of equality of slope was performed to see the parallelism between samples and standard curves. Analysis of variance (ANOVA) was used for biological validation data. Results of parallelism showed that sample curve was parallel to the standard curve. Accuracy, precision (% CV of intra-and inter-assay) and sensitivity of the assay were 99.65±4.27%, 10%, 15% and 0.083 ng/ml, respectively. Results of biological validation showed that the assay used were accurately measured testosterone which testosterone concentrations in bucks were significantly higher compared to kids and does (P 0.05). In conclusion, a commercial testosterone ELISA kits (DRG EIA-1559) is a reliable assay for measuring serum testosterone concentration in kacang goats. Key words: analytical and biological validations, ELISA, testosterone, kacang goat
THE IMAGE OF EMBRYO AND FETAL OF ETAWA CROSSBRED GOATS USING ULTRASONOGRAPHY AT DIFFERENT GESTATIONAL AGES Melia, Juli; Fauziah, Fauziah; Hamdan, Hamdan; Panjaitan, Budianto; Syafruddin, Syafruddin; Armansyah, Teuku; Siregar, Tongku Nizwan
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 12, No 2 (2018): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v12i2.3768

Abstract

This study aimed to estimate the gestational age of Etawa crossbred goats based on ultrasound images of embryo and fetal usingtranscutaneous ultrasonography. Etawa crossbred does (n= 5) were synchronized using double PGF2? injection with 10 days interval and matednaturally. Early pregnancy was diagnosed on 20th day after mating base on isoechogenic image of the embryo (2.65±0.75 mm) andhypoechogenic appearance of gestational sac. On 30th day of the first trimester, the embryo size was 8.31±0.42 mm. The embryo reached10.44±0.51 mm on 35th day. On 60th day, the existence of the fetal were clearly appeared along with isoechogenic of umbilical cord,hyperechogenic os cranium (25.5±0.1 mm), and body length (51.83±1.59 mm). On 75th day, the diameter of the os cranium was 33.03±0.20 mm,body length of 110±1.73 mm, and bones structures appeared hyperechogenic for os thoracalis and os vertebrae. The placenta was isoechogenoicwith diameter of 23.3±0.2 mm. On 90th day, the placenta dominated the uterus (22.67±1.70 mm) and reached its maximum diameter on 145th day(33.73±2.91 mm). In conclusion, early pregnancy detection of Etawa crossbred goats using transcutaneous ultrasonography could be performedon 20th day after mating
THE EFFICACY OF SEMINAL VESICLES EXTRACT ADMINISTRATION ON PERCENTAGE OF ESTRUS AND PREGNANCY ON LOCAL GOAT S, Syafruddin; Siregar, Tongku Nizwan; H, Herrialfian; Armansyah, T; Sayuti, Arman; R, Roslizawaty
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 4, No 2 (2010): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v4i2.3096

Abstract

The aim of this research was to determine the percentage of estrus, performance of estrus, and percentage of pregnancy in local goat which synchronized with seminal vesicles extract. The seminal vesicles used in this research were collected from the waste of Banda Aceh slaughter house. The goats were allotted into 2 groups. Goats in group were injected with 0.5 ml PGF2á intramuscularly, and goats in group II were injected with 5 ml seminal vesicles extract intrauterine. The injection was done twice with the interval of 11 days. The goats which perform estrus sign are mated naturally once in every observation. Pregnancy diagnosing was done using chemical urine method 2 months after mating. The estrus  percentage  and  pregnancy data were analyzed with chi-square  and  the estrus  performance (onset  and  estrus duration) were analyzed  using  student T test. The estrus onset of group I and II were 29.33±4.62 and 24.00±0.00 hours (P 0.05). Estrus duration of group I and II were 26.67+4.62 and 20.00+11.97 hours respectively (P 0.05). The  estrus percentage  of  group  I and  II did not  show  any significant differences (P 0.05), those are 60.0 and 40.0%  respectively,  whereas   the percentage of estrus  from  both  groups were 100.0 %.
PERBANDINGAN INTENSITAS BERAHI SAPI ACEH YANG DISINKRONISASI DENGAN PROSTAGLANDIN F2 ALFA DAN BERAHI ALAMI Hafizuddin, Hafizuddin; Siregar, Tongku Nizwan; Akmal, Muslim; Melia, Juli; rizal, Husnur; Armansyah, Teuku
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.296

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan intensitas berahi sapi aceh antara yang disinkronisasi berahi dengan prostaglandin F2 alfa (PGF2?) dan berahi alami. Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor sapi aceh betina yang dibagi atas dua kelompok. Kriteria sapi yang digunakan adalah umur 5-8 tahun, mempunyai bobot badan 150-250 kg, dan mempunyai minimal dua siklus reguler. Sapi yang digunakan mempunyai skor kondisi tubuh dengan kriteria baik, yaitu 3 atau 4 pada skala skor 5. Pada Kelompok I (KI) sapi disinkronisasi berahi mengunakan PGF2? sebanyak 5 mg/ml secara intramuskular. Pada kelompok II (KII) sapi dibiarkan memperlihatkan gejala berahi alami. Penilaian intensitas berahi dilakukan dengan memberi skor 1, 2, dan 3, berdasarkan kriteria yang dibuat oleh Kune dan Solihati (2007). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan intensitas berahi sapi aceh baik yang disinkronisasi berahi dengan PGF2? dan sapi yang mengalami berahi alami dengan skor intensitas berahi masing-masing adalah 2,40±0,84 dan 2,70±0,48.
PERSENTASE BERAHI DAN KEBUNTINGAN KAMBING PERANAKAN ETTAWA (PE) SETELAH PEMBERIAN BEBERAPA HORMON PROSTAGLANDIN KOMERSIAL Hafizuddin, Hafizuddin; Sari, Wenny Novita; Siregar, Tongku Nizwan; Hamdan, Hamdan
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 5, No 2 (2011): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v5i2.366

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan efektivitas pemberian hormon prostaglandin komersial yang berbeda terhadap persentase berahi dan kebuntingan kambing peranakan ettawa. Kambing betina yang digunakan mempunyai kriteria umur 2,5-3,5 tahun, sehat, tidak bunting, minimal 2 bulan pasca partus, sudah pernah beranak, dan mempunyai bobot badan yang relatif sama. Di samping itu digunakan 2 ekor kambing jantan untuk membantu deteksi berahi. Hewan percobaan dibagi atas 3 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok terdiri atas 5 ekor kambing. Kelompok perlakuan I diinjeksi dengan 2,5 ml Lutalyse (dinoprost tromethamine 5 mg/ml dan benzil alkohol 1,65%), kelompok perlakuan II diinjeksi dengan 0,5 ml Prostavet (etiproston 5 mg/2 ml dan ethylen dioxy 15 mg/2 ml), dan kelompok perlakuan III diinjeksi dengan 1,5 ml Capriglandin (dinoprost tromethamine 5,5 mg/ml dan benzil alkohol 12,0 mg/ml). Penyuntikan dilakukan 2 kali secara intramuskuler dengan interval 10 hari setelah penyuntikan pertama. Kambing-kambing yang memperlihatkan gejala berahi dikawinkan secara inseminasi buatan. Diagnosis kebuntingan dilakukan dengan menggunakan USG 30 hari setelah inseminasi. Data onset berahi dianalisis menggunakan analisis varian, sedangkan persentase berahi dan kebuntingan dianalisis secara deskriptif. Onset berahi ketiga kelompok perlakuan masing-masing adalah 40,8±0,57 36,0±0,57 dan 50,4±1,52 jam (P 0,05). Persentase berahi pada ketiga kelompok adalah sama yakni 100%, sedangkan persentase kebuntingan pada kelompok I, II, dan III masing-masing adalah 100, 80, dan 60%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa onset dan persentase berahi tidak dipengaruhi oleh ketiga prostaglandin komersial yang berbeda tetapi berpengaruh terhadap persentase kebuntingan kambing PE.
PENENTUAN WAKTU TERBAIK PADA PEMERIKSAAN KIMIA URIN UNTUK DIAGNOSIS KEBUNTINGAN DINI PADA SAPI LOKAL Sayuti, Arman; alfian, Herri; Armansyah, T.; s, Syafruddin; Siregar, Tongku Nizwan
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 5, No 1 (2011): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v5i1.420

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui waktu terbaik untuk mendapatkan akurasi tertinggi pada pemeriksaan kimia urin untuk diagnosis kebuntingan dini pada sapi lokal. Pemeriksaan urin dilakukan sesuai prosedur yang dikembangkan oleh Cuboni-Lunaas.Waktu koleksi urin adalah pada bulan ke-1, 2, dan 3 setelah inseminasi. Hasil positip dari pemeriksaan ditunjukkan oleh terbentuknya fluoresensi pada larutan. Hasil pemeriksaan ini dikonfirmasi dengan pemeriksaan kebuntingan secara manual. Akurasi metode diagnosis dengan kimia urin pada waktu pemeriksaan pada bulan ke-1, 2 dan 3 pasca inseminasi masing?masing adalah 75,0; 87,5; dan 100% untuk mendiagnosis sapi bunting dan 0,0; 100,0; dan 100,0 % pada untuk mendiagnosis sapi yang tidak bunting. Waktu pemeriksaan dengan akurasi terbaik untuk diagnosis bunting diperoleh pada bulan ke-3 sedang untuk diagnosis tidak bunting diperoleh pada bulan ke-2 pasca inseminasi.
LEVEL STEROID SAPI ACEH YANG DIINDUKSI DENGAN PREGNANT MARE’S SERUM GONADOTROPIN (PMSG) DAN FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH) A, Amiruddin; Siregar, Tongku Nizwan; Armansyah, Teuku; H, Hamdan; munandar, Aris; Rifki, Muhammad
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 2 (2013): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i2.923

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh induksi superovulasi dengan pregnant mare?s serum gonadothropin (PMSG) dan follicle stimulating hormone (FSH) terhadap peningkatan level steroid sapi aceh. Penelitian ini menggunakan 6 ekor sapi aceh betina dengan status tidak bunting, minimal 2 bulan pasca partus, sudah pernah beranak, dan sehat secara klinis. Sapi dibagi atas dua kelompok, masing-masing 3 ekor untuk tiap kelompok. Pada kelompok I, sapi diinjeksi dengan 1.500 IU PMSG pada hari ke-9 yang diikuti dengan penyuntikan 5 ml prostaglandin pada hari ke-11. Pada kelompok II, hari ke-9 sampai hari ke-12, sapi diinjeksi dengan FSH dua kali sehari (pagi dan sore, 08.00 dan 16.00 WIB) menggunakan dosis bertingkat yakni 3-3, 2-2, 1-1, dan 0,5-0,5 ml. Pada hari ke-11 sapi diinjeksi dengan 2,5 ml prostaglandin (pagi dan sore, 08.00 dan 16.00 WIB). Koleksi darah untuk pemeriksaan estrogen dilakukan ketika sapi memperlihatkan gejala berahi (saat inseminasi) setelah pemberian PMSG dan FSH yang diikuti dengan pemberian prostaglandin (berahi sesudah superovulasi) sedangkan koleksi darah untuk pemeriksaan konsentrasi progesteron dilakukan pada hari ke-7 setelah inseminasi. Pengukuran konsentrasi estrogen dan progesteron dilakukan dengan metode enzymelinkedimmunosorbanassay (ELISA). Konsentrasi estrogen pada saat estrus setelah induksi superovulasi dengan PMSG dan FSH masing-masing adalah 89,46±2,46 dan 54,62+9,91 pg/ml sedangkan konsentrasi progesteron pada hari ke-7 setelah inseminasi masing-masing adalah 14,78±2,33 dan 17,40±5,8 ng/ml. Hormon PMSG mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam meningkatkan konsentrasi estrogen pada saat berahi tetapi hormon FSH mempunyai kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan hormon PMSG dalam meningkatkan konsentrasi progesteron hari ke-7 setelah inseminasi.
PROFIL HORMON ESTROGEN DAN PROGESTERON PADA SIKLUS BERAHI KAMBING LOKAL (ESTROGEN AND PROGESTERONE PROFILE IN ACEH LOCAL GOAT ESTROUS CYCLE ) Siregar, Tongku Nizwan
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 3, No 2 (2009): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v3i2.3827

Abstract

The aim of this research was to find out the normal estrogen and progesterone profile in local goat estrous cycle.  Five female Aceh local goats which the criteria clinically in good condition, have been giving birth before, 1.5-3.0 years old, and showed minimal twice regularly estrous cycle. All samples were synchronized with 0.5 ml cloprostenol (Estrone, Bioveta) using randomly infection pattern. The data obtained were analyzed descriptively. Blood serum was collected for examination of estrogen and progesterone content on 0, 7, 14, and 21 day of estrous cycle (day 0 of estrous cycle). Hormone analysis was conducted using ELISA. The results showed that estrogen and progesterone profile on day 0, 7, 14, and 21 were 62.21; 28.61; 29.84; 79.89 pg/ml and 0.0; 8.6; 14.7; 0.0 ng/ml respectively.Keywords: estrogen, progesterone, estrous cycle, Aceh local goats
PROSES REGRESI CORPUS LUTEUM SAPI ACEH YANG DISINKRONISASI ESTRUS MENGGUNAKAN PROSTAGLANDIN F2 ALFA (PGF 2α) Melia, Juli; Lefiana, Delli; Siregar, Tongku Nizwan; -, Jalaluddin
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 1 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.918 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i1.2923

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui lama waktu proses regresi corpus luteum (CL) menggunakan teknik ultrasonografi (USG) pada sapi aceh yang disinkronisasi estrus dengan prostaglandin F2 alfa (PGF2α) secara intramuskular. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 ekor sapi aceh yang telah didiagnosis sehat secara reproduksi, umur 5-8 tahun, bobot badan 250-350 kg, dan mempunyai minimal 2 siklus regular dengan skor kondisi tubuh 3-4 pada skala skor 5. Pada hari ke-1 dilakukan diagnosis keberadaan CL, kemudian pada hari ke-2 dilakukan penyuntikan 25 mg PGF 2α secara intramuskular, dan pada hari ke-3 sampai hari ke-5 dilakukan pengamatan regresi CL. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk rataan dan simpangan baku. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rataan diameter CL setelah penyuntikan PGF2α masing-masing adalah 6,25±2,71; 4,50±1,77; 3,25±0,89 mm. Gambaran proses regresi CL yang diamati menggunakan USG mengalami penurunan dari hari ke-1 sampai hari ke-3 setelah penyuntikan dan akan diikuti dengan ovulasi. Dapat disimpulkan bahwa PGF2α  melisiskan CL selama tiga hari sampai terjadinya peristiwa ovulasi.
ACEH CATTLE FOLLICLE DYNAMIC UNDER ENVIRONMENTAL HEAT STRESS Armansyah, Teuku; Siregar, Tongku Nizwan; Aliza, Dwinna; Melia, Juli; Meutia, Nellita; Panjaitan, Budianto; Hafizuddin, Hafizuddin; Adam, Mulyadi; Abrar, Mahdi
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 11, No 3 (2017): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v11i3.6377

Abstract

The objective of this research is to know Aceh cattle follicle dynamic under environmental heat stress condition. This research was conducted on December 2012 until August 2013. Animals used in this research were 20 Aceh cattle aged 5-8 years old, weighing of 150-250 kg, and had at least 2 regular cycles. All cattle used were clinically in good body condition score. The cattle were divided into two groups of 10, used in two different period of times (December-January and July-August) to examine the effect of environmental heat to their follicle dynamic. Each group is separated into two different keeping management; one group was kept in pens while the others in the pasture, 5 cattle in each management group. Research timing was based on information acquired from Indrapuri Agency for Meteorology, Climatology, and Geophysics (BMKG) which predicted that extreme weather would last from July to August while December to January would be relatively normal in Aceh region. All cattle?s estrous cycle were synchronized by 5 mg/mL of PGF2? intramuscularly (Lutalyse?, Pharmacia Upjohn Company, Pfizer Inc.). Ultrasonography examination was performed to monitor ovary follicle?s growth and dynamic during one cycle. Days during ovulation marked by standing heat was regarded as Day 0 of estrous cycle. Follicular dynamic examination during estrous cycle on December-January and also on July-August, both penned or pastured cattle showed the follicle waves that was 3 follicle growth waves. The size of follicle growth on first wave (1st DF) on cattle kept in pen on July-August and December-January were relatively similar. The size of follicle growth on first wave for cattle kept in pasture on July-August and December-January were relatively similar. To conclude, Aceh cattle?s follicle dynamic is not change during environment heat stress condition and is not affected by different cattle-keeping management.
Co-Authors a, Aulanni?am Abdul Harris Afifuddin Afifuddin, Afifuddin Afriani Nur, Novi Afriani Nur Agustina, Iin Al Azhar Al-Azhar - Amiruddin -, Amiruddin Amiruddin A Andre Afriadi Rahman Aris Munandar Arman Sayuti Athaillah, Farida Azhar A, Azhar Azhari A Azhari Azhari Basuki B. Purnomo budianto panjaitan Cut Dahlia Iskandar Cut Nila Thasmi, Cut Nila Darmawati Darmawati Darmayanti, Susi Dasrul Dasrul Delli Lefiana, Delli Dewi Ratna Sari Dian Masyitah, Dian Dian Nurcahaya Dwinna Aliza Efendi, Mefrianti Eka Meutia Sari Erdiansyah Rahmi Fauziah Fauziah Gholib G, Gholib Gholib Gholib, Gholib Ginta Riady Hafizuddin Hafizuddin, Hafizuddin Hafnati Rahmatan Hajjul Kamil Hamdan . Hamdan h Hamdan Hamdan Hamdani H, Hamdani Hamny H, Hamny Hamny Hamny Hardyana Siregar, Siti Rizki Helwana, Citra Chyntia Herri alfian Herrialfian H Herrialfian, Herrialfian Herrialfian, Herrialfian Husnur rizal I. Ketut Mudite Adnyane, I. Ketut Mudite Idawati Nasution Ira Khubairoh Marpaung, Ira Khubairoh Jalaluddi J Jalaluddin - Joharsyah J, Joharsyah Juli Melia Khairiah Khairiah Khairil Khairil M. Aris Widodo Mahdi Abrar Muhammad Hambal Muhammad Jalaluddin, Muhammad Muhammad Rifki Mulyadi Adam, Mulyadi Muslim Akmal Nanda Yuliansyah, Nanda Nellita Meutia, Nellita Nuzul Asmilia Okta Hilda Kadar, Okta Hilda Rahayu, Yezi Gita Rahmandi r Ramadhana, Cut Erika Ramli, Mauridatun Rasmaidar Rasmaidar Razali Daud Razali Razali Reni Ayunanda, Reni Riani Desky, Riani Rinidar R, Rinidar Riski Ananda, Riski Roslizawaty r Rusli Sulaiman Sri Wahyuni Srihadi Agungpriyono Sugito s Sugito Sugito Suriadi S, Suriadi Sutiman B. Sumitro Syafruddin - Syafruddin s Syafruddin Syafruddin T Armansyah, T T. Armansyah Tahlil, Teuku Tanjung, Satria Taufiq Purna Nugraha, Taufiq Purna Teuku Armansyah teuku armansyah TR, teuku armansyah Triva Murtina Lubis Wenny Novita Sari Wida Puspita Arum, Wida Puspita Yusmadi Yusmadi YUSRA YUSRA Zainuddin Z Zuhrawati Zuhrawati, Zuhrawati Zulkifli Z Zuraidawati -, Zuraidawati