Articles

Found 32 Documents
Search

PAJANAN ASAP DALAM RUMAH TERHADAP KEJADIAN ISPA NONPNEUMONIA PADA ANAK BALITA DI KABUPATEN KAPUAS Hugo, Mayae; Emilia, Ova; Sitaresmi, Mei Neni
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : IPAKESPRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.816 KB)

Abstract

PAJANAN ASAP DALAM RUMAH TERHADAP KEJADIANISPA NONPNEUMONIA PADA ANAK BALITA DI KABUPATENKAPUASMayae Hugo, Ova Emilia,Mei Neni SitaresmiABSTRACTBackground: Acute respiratory infections (ARI) is one of themain causes of disease burden in developing countries,and 40-60% patients visits at the health center. Riskesdes analysis report the under–five children who suffer fromupper respiratory tract infection prevalence 42.8%. ARI occurrence is affected by many factors, includingenvironmental factors. Little attention has been given to indoor air pollution particularly for people in ruralareas, although the known particles of smoke in the room known as the most influential factors on the health ofchildren where children spend most of their time indoorsObjective: To know whether smoke exposure inside the house is a risk factor toward non pneumonia ARI amongunder-five children.Method: This was a study using a case control study design. Subjects were under-five children aged 12-59 monthsold in Kapuas District taken by non probability sampling method. Sample size was 106, divided into two groupsnamely case (n=53) and control (n=53). Data analysis used univariate analysis, bivariate analysis, and multivariateanalysis with logistic regression.Result: Non pneumonia ARI had a 2.7 time greater risk of contracting under-five children exposed by smokeinside their house (95%CI=1.16-6.60). Multivariate analysis proportion of house condition which was not reallyhygienic, member of family who contracted ARI, bad nutritional status had a significant relationship to nonpneumonia ARI among under-five children.Conclusion: Non pneumonia ARI among under-five children had a significant relationship to smoke exposureinside the house.Keywords: non pneumonia ARI, smoke exposure inside the house, under-five children   ABSTRAKLatar Belakang: Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama beban penyakit dinegara berkembang. Terdapat 40-60% kunjungan pasien di pusat layanan kesehatan. Analisis Riskesdesmelaporkanprevalensi anak-anak balita yang menderita infeksi saluran pernapasan atas 42,8%. Kejadian ISPA dipengaruhioleh banyak faktor, termasuk faktor lingkungan. Sedikitnya perhatian yang diberikan terhadap polusi udara dalamruangan terutama bagimasyarakat di daerah pedesaan,meskipun partikel yang berasal dari asap di dalam ruangandikenal sebagai faktor yang paling berpengaruh pada kesehatan anak di mana anak-anak menghabiskan sebagianbesar waktu mereka di dalam ruangan.Tujuan: Untuk mengetahui apakah paparan asap di dalam rumah merupakan faktor risiko terhadap non pneumoniaISPA pada balita.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan disain penelitian kasus kontrol. Subyekpenelitian adalah balita berusia 12-59 bulan di Kabupaten Kapuas diambil dengan metode non probabilitysampling. Jumlah sampel adalah 106, dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kasus (n=53) dan kelompokkontrol (n=53). Analisis data yang digunakan analisis univariat, analisis bivariat, dan analisis multivariat denganregresi logistik. Hasil dan Pembahasan: ISPA non pneumonia memiliki risiko 2,7 kali lebih besar menjangkiti anak yang terpaparasap di dalam rumah mereka (95% CI=1,16-6,60). Proporsi analisis multivariabel kondisi rumah yang tidak benarbenarhigienis, anggota keluarga yang terjangkit ISPA, status gizi buruk memiliki hubungan yang signifikan terhadapISPA non pneumonia pada balita.Kesimpulan: ISPA non pneumonia pada balita memiliki hubungan yang signifikan terhadap paparan asap di dalamrumah.Kata kunci: ISPA non pneumonia, paparan asap di dalam rumah, balita
ketepatan waktu vaksinasi campak sebagai faktor preventif kejadian campak di Kota Yogyakarta Lestari, Anggraeni Budi; Sitaresmi, Mei Neni; Wibowo, Tunjung
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 5 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.354 KB) | DOI: 10.22146/bkm.18014

Abstract

Latar Belakang: Setiap tahun lebih dari 1,4 juta anak di dunia meninggal karena berbagai penyakit yang sesungguhnya dapat dicegah dengan imunisasi. Tahun 2013 dilaporkan terjadi KLB campak di Indonesia sebanyak 128 KLB dengan jumlah kasus 1.677. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan wilayah dengan pencapaian kinerja dan derajat kesehatan terbaik di Indonesia. Cakupan imunisasi campak di provinsi DIY telah mencapai target ≥ 95%. Berdasarkan surveilans Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2012, angka kejadian kasus campak dari (379 kasus), sebanyak (356 kasus) terjadi di Wilayah Kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan pemberian vaksinasi campak yang tidak tepat waktu dengan kejadian campak di kota Yogyakarta.Metode: Jenis penelitian ini adalah matched case control. Sebanyak 33 kasus dan 33 kontrol diambil sebagai sampel penelitian. Kasus adalah anak usia 9-48 bulan dengan gejala klinis campak (demam, rash dan salah satu dari batuk, pilek/beringus atau conjungtivitis) yang didiagnosa oleh dokter puskesmas dan dikonfirmasi hasil pemeriksaan laboratoriumnya . Kontrol adalah anak yang tidak sakit campak (sehat) di periode yang sama berasal dari tetangga kasus.Hasil: Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara ketepatan vaksinasi campak dengan kejadin campak dimana nilai p= 0.0042 OR=7 (95% CI: 1.60-63.45). Analisis multivariat setelah dilakukan pengontrolan dengan memasukan jenis kelamin dan pendidikan ibu diperoleh ketepatan vaksinasi campak signifikan dilihat dari nilai p=0.008 OR-8.2 (95%CI:1.7-40.3),jenis kelamin OR=0.95(95%CI=0.33-2.7) dan pendidikan ibu OR=1.96 (95%CI=0.4-9.5).Kesimpulan: Ada hubungan antara ketepatan vaksinasi campak dengan kejadian campak di Kota Yogyakarta.  
Hubungan Ibu Bekerja dengan Keterlambatan Bicara pada Anak Suparmiati, Aries; Ismail, Djauhar; Sitaresmi, Mei Neni
Sari Pediatri Vol 14, No 5 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.5.2013.288-91

Abstract

Latar belakang. Akhir-akhir ini, terjadi peningkatan jumlah ibu bekerja. Prevalensi keterlambatan bicara pada anak juga meningkat. Salah satu faktor risiko terjadinya keterlambatan bicara pada anak adalah faktor lingkungan termasuk ibu bekerja. Tujuan.Untuk mengetahui hubungan antara ibu bekerja dengan keterlambatan bicara pada anak.Metode.Rancangan penelitian kasus kontrol, dengan jumlah sampel 45 anak pada kelompok kasus, dan 45 kelompok kontrol dengan matching sesuai umur dan jenis kelamin. Kriteria inklusi adalah anak usia 12 sampai dengan 36 bulan, yang mengalami keterlambatan bicara. Kriteria eksklusi adalah anak dengan gangguan pendengaran, global developmentan delay, retardasi mental, dan autisme. Hasil data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji statistik Chi-square.Hasil.Tidak ada hubungan antara ibu bekerja dengan keterlambatan bicara pada anak, dengan OR 1,93 (IK95%;0,81–4,58;p=0,13). Sedangkan faktor lain, yang diuji hanya faktor riwayat keluarga terlambat bicara, yang hasilnya bermakna dengan nilai OR 7,81 ( IK 95% 1,636 – 37,36; p=0,04).Kesimpulan.Tidak terdapat hubungan antara ibu bekerja dengan keterlambatan bicara pada anak. Terdapat hubungan antara riwayat keluarga terlambat bicara dengan keterlambatan bicara pada anak.
Hubungan Infantile Anorexia dengan Perkembangan Kognitif Husien, Faisal; Ismail, Djauhar; Sitaresmi, Mei Neni
Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.473 KB) | DOI: 10.14238/sp14.6.2013.379-83

Abstract

Latar belakang.Anak dengan gangguan makan dapat terjadi kekurangan asupan nutrisi bagi perkembangan sel saraf sehingga mengganggu perkembangan anak tersebut termasuk perkembangan kognitifnya. Infantile anorexiamerupakan salah satu bentuk gangguan makan yang ditandai penolakan makan secara menyolok, kehilangan nafsu makan yang khas, dan defisiensi pertumbuhan. Tujuan.Mengetahui hubungan antara infantile anorexiadengan perkembangan kognitif dan faktor lain yang dapat mempengaruhinya.Metode.Penelitian cross sectionaldengan besar sampel 80 anak. Kriteria inklusi adalah anak usia 12 sampai dengan 36 bulan yang mengalami masalah makaninfantile anorexia, orang tua bersedia mengikuti penelitian dan menandatangani informed consent. Kriteria eksklusi adalah anak dengan riwayat persalinan prematur, berat lahir rendah, dan asfiksia; anak dengan masalah susunan saraf pusat; anak dengan masalah cerna dan anak dengan penyakit oganik yang dapat mengganggu perkembangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji statistik Spearman.Hasil.Secara statistik terdapat korelasi bermakna antara gangguan makan infantile anorexiadengan perkembangan kognitif anak dengan nilai p=0,021 (r=0,244; CI 95%=1,026-11,998). Faktor pendidikan ibu mempunyai korelasi yang bermakna dengan perkembangan kognitif nilai ( r= 0,322; CI 95%=3,385-15,159; p= 0,002).KesimpulanTerdapat korelasi positif antara infantile anorexiadan pendidikan ibu dengan perkembangan kognitif anak
Perbedaan Tingkat Kemandirian Anak Usia Prasekolah yang Mengikuti Program Sekolah Full Day Dibandingkan dengan Half Day Rismawati, Dina; Sitaresmi, Mei Neni; Indrawanti, Ratni
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.378 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.185-9

Abstract

Latar belakang. Tujuan orangtua memasukkan anak pada program sekolah full day adalah untuk memenuhi kebutuhanperkembangan anak khususnya kemandirian. Hubungan antara tingkat kemandirian anak usia prasekolah dengan keikutsertaandalam program sekolah full day masih terdapat kontroversi.Tujuan. Mengetahui perbedaan tingkat kemandirian anak usia prasekolah yang mengikuti program sekolah full day dibandingkandengan half day.Metode. Rancangan penelitian potong lintang dengan besar sampel 116 anak usia 36 sampai 60 bulan pada 7 kelompok bermaindi Yogyakarta. Data dianalisis dengan menggunakan independent t test dan regresi linier.Hasil. Skor kemandirian anak usia prasekolah yang mengikuti program sekolah full day lebih tinggi dibandingkan dengan halfday 115,67+15,90 vs 109,98+18,28 (IK95%: -0,61-11,99; p=0,07). Skor kemandirian anak yang mendapat stimulasi adekuatlebih tinggi dibandingkan dengan stimulasi tidak adekuat 116,59+15,78 vs 104,11+17,71, (IK95%: 5,92-19,04; p<0,001). Skorkemandirian anak dengan ayah berpendidikan tamat perguruan tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan berpendidikan menengah114,40 +17,35 vs 104,28+14,64, (IK95%: 1,50-18,74; p=0,022).Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan bermakna tingkat kemandirian anak usia prasekolah yang mengikuti program sekolah fullday dibandingkan half day. Anak dengan stimulasi adekuat dan ayah berpendidikan tamat perguruan tinggi mempunyai tingkatkemandirian lebih tinggi dibandingkan anak dengan stimulasi tidak adekuat dan ayah berpendidikan menengah.
Pengaruh Pemberian ASI Terhadap Kenakalan pada Anak Sekolah Dasar di Yogyakarta Sumirat, Ferry Andian; Sitaresmi, Mei Neni; Ismail, Djauhar
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.362-6

Abstract

Latar belakang. Penelitian menunjukkan keuntungan pemberian ASI pada perkembangan psiko-sosial anak. Selain itu ditemukan korelasi erat antara menyusui dengan pembentukan bonding dan attachment. Kegagalan pembentukan bonding dan attachment akan berpengaruh besar pada perilaku anak pada fase berikutnya. Salah satu bentuk gangguan perilaku anak yang perlu dicermati adalah kenakalan. Kenakalan pada anak berkecenderungan persisten dan berisiko membentuk perilaku kriminal. Untuk itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui adakah hubungan antara kenakalan dengan menyusui.Tujuan. Mengetahui pengaruh lama pemberian ASI sebagai faktor risiko kenakalan.Metode. Penelitian ini merupakan studi kasus kontrol dengan stratifikasi sampel satu banding satu. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar penilaian perilaku nakal yang diisi oleh orang tua murid sekolah dasar di Yogyakarta. Lembar penilaian ini diadaptasi dari item perilaku delinquent dan agresif CBCL (child behavior checklist). Kasus adalah anak yang dideteksi delinquent dan atau agresif.Hasil. Validasi alat ukur menghasilkan validitas konstrak item-item antara 0,5649 - 0,8547, koefisien reliabilitas perilaku agresif 0,8549 dan delinquent 0,6281. Dari 768 responden didapatkan 69 (8,9%) kasus. Anak yang mendapatkan ASI <6 bulan memiliki risiko nakal dengan OR (odds ratio) 4,40 (IK=interval kepercayaan 95%: 1,28-15,90 dan p=0,006) dibandingkan mendapatkan ASI >2 tahun.Kesimpulan. Pemberian ASI <6 bulan merupakan faktor risiko kenakalan pada anak sekolah dasar di Yogyakarta.
Hubungan Kadar Vitamin C Plasma dengan Serangan Asma pada Anak Aruf, Azwar; Naning, Roni; Sitaresmi, Mei Neni
Sari Pediatri Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.2.2014.91-6

Abstract

Latar belakang. Banyak faktor yang dapat memicu serangan asma. Perhatian terhadap peran nutrisi antioksidan serta stres oksidatif pada kejadian asma beberapa tahun terakhir ini semakin meningkat. Beberapa penelitian melaporkan bahwa kadar vitamin C plasma yang rendah merupakan faktor risiko serangan asma, meskipun masih kontroversial. Belum ada penelitian mengenai vitamin C plasma dan asma di Indonesia.Tujuan. Menilai apakah kadar vitamin C plasma rendah merupakan faktor risiko serangan asma pada anak, dengan cara membandingkan kadar vitamin C plasma anak asma dalam serangan dan anak asma tidak dalam serangan.Metode. Desain penelitian ini adalah penelitian kasus kontrol. Pengambilan sampel dilakukan secara konsekutif. Subyek adalah semua anak yang terdiagnosis asma dalam serangan dan tidak dalam serangan di RSUPDR. Sardjito Yogyakarta sejak April 2012 sampai dengan Agustus 2013. Subyek dibagi menjadi dua kelompok, 39 anak kelompok asma tidak dalam serangan dan 39 anak kelompok asma dalam serangan. Kadar vitamin C plasma diperiksa dengan metode kuantitatif spektofotometer.Hasil. Karakteristik subyek, antara lain umur, jenis kelamin, riwayat kontak hewan peliharaan, riwayat kontak tungau debu rumah, perokok pasif, alergi makanan, infeksi saluran pernapasan, kadar vitamin C plasma. Analisis bivariat dilakukan dengan uji kemaknaan (nilai p<0,05), dan rasio Odds. Kadar vitamin C plasma kelompok asma dalam serangan dan tidak dalam serangan tidak berbeda bermakna dengan nilai p=0,77 dan rasio Odds 1,18 (IK95%: 0,32;3,64). Infeksi pernapasan merupakan faktor risiko serangan asma yang bermakna dengan nilai p=0,006 dan rasio Odds 3,6 (IK 95% 1,41;9,19).
Hubungan Mengikuti Kelompok Bermain dan Perkembangan Anak Maimon, Elsa; Ismail, Djauhar; Sitaresmi, Mei Neni
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.232-6

Abstract

Latar belakang. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk stimuli yang akan memacu perkembangan anak agar berjalan secara optimal sesuai usianya. Salah satu bentuk pendidikan yang banyak ditawarkan saat ini adalah kelompok bermain. Sebagian orang tua ragu tentang manfaat mengikuti kelompok bermain untuk perkembangan anak. Sebuah penelitian kohort menyebutkan bahwa pendidikan usia dini memberikan kehidupan sosial yang lebih baik, tetapi penelitian tersebut tidak mengevaluasi pertkembangan anak.Tujuan. Mengetahui hubungan mengikuti kelompok bermain dengan pencapaian perkembangan anak.Metode. Penelitian dilakukan di kota Yogyakarta secara cross sectional dengan mengambil subyek murid Taman Kanak-kanak yang baru satu bulan bersekolah dan dilakukan penilaian perkembangan dengan metode Denver II. Analisis statistik dilakukan dengan uji X².Hasil. Seratus tujuh puluh dua anak menjalani pemeriksaan perkembangan dan melengkapi data penelitian. Pencapaian perkembangan anak lebih baik pada kelompok anak yang mengikuti kelompok bermain dibandingkan dengan anak yang tidak mengikuti kelompok bermain (p=0,003). Mengikuti kelompok bermain memberikan kontribusi pada perkembangan anak (OR 3,2; IK 95%: 1,558-6,774, p=0,002).Kesimpulan. Mengikuti kelompok bermain berhubungan dengan pencapaian perkembangan anak dan bermanfaat untuk perkembangan anak.
Hubungan Penggunaan Media Elektronik dan Gangguan Tidur Amalina, Shyrien; Sitaresmi, Mei Neni; Gamayanti, Indria Laksmi
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.273-8

Abstract

Latar belakang. Gangguan tidur pada remaja menyebabkan gangguan konsentrasi, gangguan regulasi mood dan perilaku, serta gangguan kognitif. Media elektronik merupakan salah satu faktor risiko terjadinya gangguan tidur di kalangan remaja.Tujuan. Mengetahui hubungan antara penggunaan media elektronik dengan gangguan tidur.Metode. Studi potong lintang dilakukan di Yogyakarta pada bulan Juni 2012. Total 288 pelajar dipilih dengan teknik cluster random sampling. Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner sleep disturbance scale for children (SDSC) yang diisi oleh orang tua dan pelajar di rumah.Hasil. Prevalensi gangguan tidur didapatkan 62,24%, dengan gangguan memulai dan mempertahankan tidur yang memiliki persentasi tertinggi (18,75%). Uji kemaknaan menunjukkan hubungan antara kebiasaan 30 menit sebelum tidur dengan gangguan tidur (p<0,001, OR 2,71, IK95% 1,56-4,71). Gangguan tidur juga memiliki hubungan dengan mengantuk berlebihan di siang hari (p<0,001, PR 3,42, IK95% 2,06-5,83). Tidak terdapat hubungan antara gangguan tidur dengan ketersediaan televisi, komputer, video game, dan telepon genggam di dalam kamar. Aktifitas selain tidur di atas tempat tidur dan penggunaan kafein juga tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan gangguan tidur.Kesimpulan. Aktivitas 30 menit sebelum tidur memiliki hubungan yang bermakna dengan gangguan tidur.
Evaluasi program trias usaha kesehatan sekolah dan perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah luar biasa Bantul Widyaningrum, Rahmah; Sitaresmi, Mei Neni; Lusmilasari, Lely
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 32, No 9 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.787 KB) | DOI: 10.22146/bkm.8579

Abstract

Evaluation of triage programs school health unit and clean and health living behavior in school for children with special educational needs BantulPurposeThis study aimed to get an overview of school health unit and implementation of clean and health living behavior in school for children with special educational needs. MethodsThis research used qualitative methods with a case study approach. Participants of the study included the principal, the teacher, students and public health center staff, the senior managers of the school, and the Yogyakarta provincial youth and sports education department. Qualitative data were obtained through in-depth interviews, observations, and documentation studies. ResultsThe implementation of trias school health unit program was in the good category. Some clean and health living indicators were still in low category. The obstacles of the school health unit and clean and health living behavior program implementation were limited understanding of students, low coverage of teacher and school training, economic conditions and parental attitudes, school readiness, and involvement of relevant agencies. Factors affecting school health unit implementation included curriculum, school organization, and partnership. ConclusionThe implementation of school health unit and clean and health can be enhanced through partnership optimization with community health centers, related offices, non-governmental organizations, and education and health universities.