Articles

KUALITAS HIDUP ANAK DENGAN HEMOFILIA DI RUMAH SAKIT DR. CIPTO MANGUNKUSUMO Agasani, Febrini; Soedjatmiko, Soedjatmiko; Windiastuti, Endang
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.73-80

Abstract

Latar belakang. Hemofilia merupakan salah satu penyakit kronik yang dapat memengaruhi kualitas hidup. Tujuan. Mengetahui prevalensi, gangguan kualitas hidup, kesesuaian kualitas hidup berdasarkan laporan anak dan laporan orangtua serta pengaruh faktor medis terhadap kualitas hidup anak hemofilia di RSCM.Metode. Penelitian potong lintang pada pasien hemofilia usia 5-18 tahun di Poliklinik Hematologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM selama September-Desember 2016. Pengisian kuesioner PedsQLTM 4.0 dilakukan dengan wawancara. Faktor risiko dianalisis secara multivariat. Hasil. Gangguan kualitas hidup menurut laporan anak 52,9% (rerata 64,37±11,75) dan menurut orangtua 60,8% (rerata 64,37±13,87) dari total 102 anak hemofilia. Dimensi yang paling terganggu adalah dimensi fisik menurut kelompok 5-7 tahun, sedangkan menurut kelompok 8-18 tahun adalah dimensi fisik dan sekolah. Terdapat ketidaksesuaian antara laporan kualitas hidup anak dan orangtua pada kelompok usia 5-7 tahun. Kekakuan sendi merupakan faktor risiko terjadinya gangguan kualitas hidup menurut laporan anak (p=0,005, RP 4,335, IK 95% 1,550-12,126) dan orangtua (p=0,04, RP 2,902, IK 95% 1,052-8,007).Kesimpulan. Terdapat 52,9% (laporan anak) dan 60,8% (laporan orangtua) anak hemofilia yang kualitas hidupnya terganggu. Kekakuan sendi merupakan faktor yang paling memengaruhi kualitas hidup. Untuk menilai kualitas hidup anak usia 5-7 tahun diperlukan laporan anak dan orangtuanya, sedangkan anak usia 8-18 tahun cukup laporan anak atau orangtua saja.
Perancangan Basis Data dan Layanan Akses Berbasis Service Oriented Architecture (SOA) Untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Tarigan S, Inna Yoana Sari; Soedjatmiko, Soedjatmiko; Hartanto, Rudy
Jurnal Buana Informatika Jurnal Buana Informatika Volume 1 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.293 KB)

Abstract

Abstract. Database Design and Service Oriented Architecture (SOA)-based Access Service for Health Center Transactional Data on Health Office of Sleman District. Health Office of Sleman District is the regional institution that is responsible for organizing health services in the area of Sleman District. In performing these duties and responsibilities, Health Office of Sleman District requires health data and information that is accurate, precise and quick to assist policy decision making process and the health sector by leveraging communication and information technology. This research aims to design a database and SOA-based access service for transactional data center on Health Office of Sleman District. Expected, the results of this research can help Health Office of Sleman District in monitoring public health and to establish interoperability with systems from agencies or other institution.Keywords: Health Office of Sleman District, database, SOA, web service.Abstrak. Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman adalah lembaga regional yang bertanggung jawab untuk mengatur pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Sleman. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman memerlukan data kesehatan dan informasi yang akurat, tepat dan cepat untuk membantu proses pengambilan keputusan kebijakan dan sektor kesehatan dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah basis data dan layanan akses berbasis SOA untuk pusat data transaksional pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat membantu Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dalam memantau kesehatan masyarakat dan untuk membangun interoperabilitas dengan sistem dari instansi atau lembaga lain.Kata kunci: Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, basis data, SOA, layanan web.
PERANCANGAN BASIS DATA DAN LAYANAN AKSES BERBASIS SERVICE ORIENTED ARCHITECTURE (SOA) UNTUK DINAS KESEHATAN KABUPATEN SLEMAN Tarigan S, Inna Yoana Sari; Soedjatmiko, Soedjatmiko; Hartanto, Rudy
Jurnal Buana Informatika Jurnal Buana Informatika Volume 1 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jbi.v1i1.293

Abstract

Abstract. Database Design and Service Oriented Architecture (SOA)-based Access Service for Health Center Transactional Data on Health Office of Sleman District. Health Office of Sleman District is the regional institution that is responsible for organizing health services in the area of Sleman District. In performing these duties and responsibilities, Health Office of Sleman District requires health data and information that is accurate, precise and quick to assist policy decision making process and the health sector by leveraging communication and information technology. This research aims to design a database and SOA-based access service for transactional data center on Health Office of Sleman District. Expected, the results of this research can help Health Office of Sleman District in monitoring public health and to establish interoperability with systems from agencies or other institution.Keywords: Health Office of Sleman District, database, SOA, web service.Abstrak. Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman adalah lembaga regional yang bertanggung jawab untuk mengatur pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Sleman. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman memerlukan data kesehatan dan informasi yang akurat, tepat dan cepat untuk membantu proses pengambilan keputusan kebijakan dan sektor kesehatan dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah basis data dan layanan akses berbasis SOA untuk pusat data transaksional pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat membantu Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dalam memantau kesehatan masyarakat dan untuk membangun interoperabilitas dengan sistem dari instansi atau lembaga lain.Kata kunci: Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, basis data, SOA, layanan web.
MEMBENTUK KARAKTER SISWA SEKOLAH DASAR MENGGUNAKAN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA Soedjatmiko, Soedjatmiko
Journal of Physical Education Health and Sport Vol 2, No 2 (2015): Journal of Physical Education Health and Sport
Publisher : Universitas Negeri Semarang (Unnes)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.24 KB)

Abstract

Krisis moral dalam masyarakat antara lain ditandai oleh:  hilangnya kejujuran, hilangnya rasa tanggung jawab,  tidak mampu berpikir jauh ke depan,  rendahnya disiplin, krisis kerjasama, krisis keadilan, dan krisis kepedulian. Pembentukan karakter yang paling tepat dilaksanakan di sekolah karena tiga alasan:  Pertama sebagian peserta didik mengenal pendidikan jasmani di sekolah. Kedua usia sekolah merupakan periode yang efektif untuk menanamkan nilai nilai. Ketiga pendidikan jasmani di sekolah masih menekankan prestasi. Anak usia sekolah dasar adalah anak usia 6 sampai 12 tahun. Pada masa ini adalah masa yang paling tepat untuk mengajarkan keterampilan dan mendidik karakter anak. Pendidikan jasmani dan olahraga merupakan bagian dan pendidikan secara umum. Tujuan pendidikan adalah mencapai tujuan pendidikan melalui pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga. Pendidikan jasmani dan olahraga mengajarkan nilai nilai sebagai berikut : Respek, Persahabatan, Sportif, Kreatif, Kerja sama, Fair play, Kerja keras, Tanggung jawab, dan Pantang menyerah. Implementasi pendidikan jasmani sebagai alat pembentuk karakter adalah: 1) Keteladanan 2). Menciptakan lingkungan berkarakter 3). Pembiasaan 4). Menanamkan kedisiplinan 5) menyusun pedoman etika dan 6). Mendorong siswa menampilkan perilaku baik. Guru Pendidikan jasmani  harus memberikan penekanan tentang apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan siswa agar pembelajaran penjas dan olahraga dapat dijadikan sebagai sarana membentuk karakter._________________________________________________________________Moral crisis in society, among others, characterized by: a loss of honesty, loss of sense of responsibility, not able to think ahead, lack of discipline, cooperation crisis, the crisis of justice, and crisis care The establishment of the most appropriate character held at the school for three reasons: Firstly the majority of students recognize physical education in schools. Both school age is a period that is effective to instill values. The third physical education in schools still emphasizes achievement. Primary school age children are children aged 6 to 12 years. At this time the so-called child age child. At this time is the most appropriate time to teach skills and educate the childs character. Physical education and sport merrupakan sections and education in general. The purpose of education is to achieve educational goals through learning physical education and sport. Physical education and sport teaches the following values: Respect, Friendship, Sportif, Creative, ooperation, fair play, hard work, responsibility, and Never give up, Implementation of physical education as a means of forming the character are: 1) Modeling 2). Creating an environment characterized by 3). Habituation 4). Instill discipline 5) develop ethical guidelines and 6). Encourage students to show good behavior. Physical education teachers should give emphasis on what should and what should not be done students to study physical education and sport can be used as a means of forming character.
GROWTH AND DEVELOPMENTAL DELAY RISK FACTORS AMONG UNDER-FIVE CHILDREN IN AN INNER-CITY SLUM AREA Gunardi, Hartono; Nugraheni, Resyana P.; Yulman, Annisa R.; Soedjatmiko, Soedjatmiko; Sekartini, Rini; Medise, Bernie E.; Wirahmadi, Angga; Melina, Elizabeth
Paediatrica Indonesiana Vol 59 No 5 (2019): September 2019
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi59.5.2019.276-83

Abstract

Background Growth and developmental delays are common among children under the age of five years (under-five children), especially in slum areas. Early detection and intervention may give better prognoses. Objective To detect growth and developmental delays and related risk factors among under-five children living in an inner-city slum area of the Indonesian capital. Methods This cross-sectional study was conducted from October to November 2018 in Tanah Tinggi, Johar Baru District, an inner-city slum area in Central Jakarta. Subjects were healthy children aged 3?60 months. Socioeconomic profile was obtained through questionnaires, anthropometric data through measurements, and developmental status through the Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) instrument. Development was considered to be delayed for KPSP scores <9. Data were analyzed using Chi-square test. Results Of 211 subjects, prevalence of underweight, stunting, and wasting were 35.1%, 28.0%, and 20.9%, respectively, meanwhile low maternal education, and low family income were 57.9% and 75%. The prevalence of developmental delay was 10%, while suspected developmental delay was 26.1%. The prevalence increased from age 21 months and peaked at 36 months. Associated risk factors were low maternal education, low family income, underweight weight-for-age, stunted height-for-age, and microcephalic head circumference-for-age. Conclusion Low education and low income were significant risk factors for growth and developmental delay.
Gambaran Fungsi Kognitif HIV Anak yang Telah Memperoleh Terapi Antiretrovirus Herlina, Herlina; Kurniati, Nia; Prawitasari, Titis; Soedjatmiko, Soedjatmiko; Hadinegoro, Sri Rezeki; Mangunatmadja, Irawan; Setyanto, Darmawan B.
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.100-5

Abstract

Latar belakang. Pasien HIV anak berisiko tinggi mengalami gangguan neurokognitif akibat keterlibatan sistem saraf pusat (SSP). Pemberian antiretrovirus (ARV menurunkan viral load di SSP sehingga mencegah penurunan fungsi kognitif.Tujuan. Memberikan gambaran fungsi kognitif pasien HIV anak dalam terapi ARV.Metode. Studi potong lintang dilakukan terhadap pasien HIV anak berusia 5-15 tahun. Penilaian kognitif dilakukan dengan instrumen Wechsler intelligence scale for children IV (WISC IV) dilanjutkan dengan pemeriksaan elektroensefalografi untuk membuktikan kerusakan akibat keterlibatan SSP pada infeksi HIV.Hasil. Sembilan puluh pasien HIV anak (median usia 9 tahun) telah memperoleh ARV selama  1-124 bulan dengan median 69 bulan. Hasil rerata verbal, performance, dan full-scale IQ (FSIQ) berturut-turut adalah 88,66 (SB 15,69), 85,30 (SB 15,35), dan 85,73 (SB 15,61). Dua puluh tiga (25,6%) subjek memiliki verbal IQ abnormal, 34 (37,8%) performance scale abnormal, dan 32 (35,6%) FSIQ abnormal. Hasil EEG abnormal didapatkan pada 22 subjek (22,4%) dan tidak memiliki hubungan dengan stadium klinis, usia dan lama pemberian ARV, serta viral load. Stadium HIV menunjukkan hubungan bermakna dengan komponen verbal scale IQ dan FSIQ (p=0,042 dan p=0,044). Hasil IQ tidak memiliki hubungan dengan usia pemberian ARV, lama pemberian ARV, dan viral load.Kesimpulan. Pasien HIV anak yang telah mendapat terapi ARV selama 1-124 bulan memiliki rerata IQ abnormal pada verbal, performance, dan FSIQ meskipun jika dinyatakan dalam bentuk kategori, lebih dari 50% subjek memiliki IQ normal pada ketiga skala WISC. 
Penilaian Perkembangan Bayi Risiko Tinggi dan Rendah pada Usia 3 dan 6 Bulan dengan Instrumen Bayley Scales of Infant and Toddler DevelopmentEdisi III Purwanti, Rini; Chair, Imral; Soedjatmiko, Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.1.2012.24-9

Abstract

Latar belakang. Enam bulan pertama kehidupan merupakan kesempatan emas untuk melakukan deteksi dini gangguan tumbuh kembang. Bayi risiko tinggi (risti) merupakan kelompok yang rentan terhadap keterlambatan perkembangan. Contoh instrumen penilaian perkembangan yang terbaru adalah Bayley scales of infant and toddler developmentEdisi III (Bayley III).Tujuan.Mengetahui gambaran keterlambatan perkembangan bayi risiko tinggi dan rendah pada usia 3 dan 6 bulan.Metode. Penelitian kohort prospektif dilakukan terhadap bayi risti yang mendapat perawatan di Unit Neonatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan bayi risiko rendah di empat Posyandu serta Poliklinik Tumbuh Kembang RSCM selama periode Mei – Desember 2010. Penilaian perkembangan dilakukan dengan instrumen Bayley III pada usia koreksi 3 dan 6 bulan. Hasil. Proporsi laki-laki lebih banyak pada kedua kelompok. Proporsi gagal tumbuh pada kelompok risti lebih banyak dan meningkat pada usia 6 bulan (20,6% vs 3,6%). Median nilai komposit pada area area kognitif dan motorik lebih rendah untuk bayi risti (p<0,05). Risiko relatif gangguan perkembangan untuk area kognitif, komunikasi, motorik dan adaptif pada usia 6 bulan adalah 3,1 (IK95% 1,29-7,91), 3,5 (IK95% 1,4-11,7), 4,1 (IK95% 1,5-11,5), dan 4 (IK95% 1,23-135). Jumlah morbiditas berpengaruh terhadap kejadian keterlambatan di seluruh area pada usia 6 bulan (p<0,05). Kesimpulan. Perkembangan bayi risti di area kognitif dan motorik pada usia 3 dan 6 bulan terlambat. Risiko keterlambatan perkembangan lebih jelas terlihat pada usia yang lebih tua. Banyaknya morbiditas perinatal mempengaruhi derajat keterlambatan.
Sensori Integrasi: Dasar dan Efektivitas Terapi Waiman, Elina; Soedjatmiko, Soedjatmiko; Gunardi, Hartono; Sekartini, Rini; Endyarni, Bernie
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.129-36

Abstract

Terapi sensori integrasi, sebagai bentuk terapi okupasi, mulai populer diberikan untuk tata laksana anak dengan berbagai gangguan perkembangan, belajar, maupun perilaku. Namun dasar teori, bentuk gangguan pemrosesan sensori, dan efektivitas terapi umumnya belum diketahui secara luas di kalangan dokter spesialis anak. Bukti sahih tentang manfaat terapi sensori integrasi untuk tata laksana anak dengan gangguan spesifik memungkinkan aplikasi dan pemberian edukasi pada keluarga pasien secara lebih optimal.
Gambaran Bullying dan Hubungannya dengan Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak Sekolah Dasar Soedjatmiko, Soedjatmiko; Nurhamzah, Waldi; Maureen, Anastasia; Wiguna, Tjhin
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.174-80

Abstract

Latar belakang. Prevalensi bullying pada anak SD di Indonesia belum diketahui.Tujuan. Mengetahui gambaran dan prevalensi bullying, pemahaman pelajar mengenai istilah bullying, hubungan antara status bullying dengan masalah emosi, dan perilaku serta prestasi akademis.Metode. Penelitian potong lintang dengan subyek pelajar SD kelas V usia 9-11 tahun di SDN Cikini 02 Pagi dan SDS Tunas Bangsa pada bulan Oktober 2011. Bullying dinilai menggunakan Olweus Bully/Victim Questionnaire yang dimodifikasi, sedangkan masalah emosi dan perilaku dideteksi menggunakan self-report Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Prestasi akademis dinilai berdasarkan nilai rapor tengah semester.Hasil. Penelitian dilakukan pada 76 subyek dan didapatkan prevalensi bullying 89,5%. Tidak terdapat perbedaan jenis kelamin pada subyek yang terlibat dalam bullying. Sebagian besar subyek yang terlibat bullying berusia >9 tahun. Subyek dengan status sosio-ekonomi rendah cenderung menjadi korban, sedangkan subyek dengan status sosio-ekonomi menengah dan tinggi cenderung menjadi korban sekaligus pelaku. Tipe bullying tersering adalah fisik. Pelaku bullying terbanyak adalah teman sebaya. Bullying paling sering terjadi di ruang kelas pada waktu istirahat sekolah. Dampak bullying jangka pendek tersering yang dialami korban adalah perasaan sedih. Sebagian besar korban melaporkan bullying yang dialaminya kepada orang lain. Hanya 22% subyek yang mengetahui istilah bullying dengan tepat. Tidak didapatkan hubungan antara status bullying dengan masalah emosi dan perilaku maupun prestasi akademis.Kesimpulan. Prevalensi bullying pada murid kelas V SDN Cikini 02 Pagi dan SDS Tunas Bangsa 89,5%. Pemahaman tentang istilah bullying pada anak SD di Jakarta Pusat rendah. Tidak didapatkan hubungan antara status bullying dengan masalah emosi dan perilaku maupun prestasi akademis.
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kapsular Gunardi, Hartono; Soedjatmiko, Soedjatmiko; Sekartini, Rini; Ticoalu, Jeane Roos
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.667 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.125-8

Abstract

Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Upaya pencegahan meliputi perbaikan sanitasi lingkungan, higiene perorangan, persiapan makanan yang baik dan pemberian vaksin. Baik vaksin tifoid peroral maupun parenteral dapat mencegah gejala klinis demam tifoid. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia belum banyak dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia. Metode. Penelitian deskriptif potong-lintang dilakukan pada anak Indonesia sehat umur 2-5 tahun yang mengunjungi Klinik Tumbuh Kembang Utan Kayu pada Juli 2000 atau Klinik Dokter Keluarga Kiara pada Agustus 2000. Digunakan vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler (typhim-Vi) dalam kemasan 10 ml. Penyuntikan 0,5 ml vaksin dilakukan oleh dokter Peserta Pendidikan Spesialis Anak pada paha bagian anterolateral dengan menggunakan semprit steril sekali pakai. KIPI dimonitor dengan menggunakan formulir KIPI Departemen Kesehatan. Hasil. Dari 198 anak yang divaksinasi, KIPI yang berhasil dipantau 174 (87,9%) anak. Gejala klinis KIPI yang ditemukan adalah nyeri pada tempat suntikan (44,8%), demam > 38,5∞ C (14,4%), indurasi (9,2%), dan muntah (0,6%). Kesimpulan. KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler penelitian ini cukup komparabel dengan penelitian lain dalam hal demam. Bengkak dan indurasi lebih tinggi dibanding penelitian lain. Hal yang mungkin berperan adalah vial multidosis yang rentan terhadap timbulnya kontaminasi.
Co-Authors Abdul Latief Agasani, Febrini Agus Firmansyah Agustina, Ruslinda Alida R Harahap, Alida R Aliza, Nur Aman B. Pulungan Anastasia Maureen, Anastasia Armeilia, Rilie Arwin AP Akib, Arwin AP Aryono Hendarto, Aryono Badriul Hegar Bambang Madiyono Basrowi, Ray Wagiu Batubara, Jose R Bernie Endyami, Bernie Bernie Endyarni Medise, Bernie Endyarni Bernie Endyarni, Bernie Cissy B. Kartasasmita Corrie Wawolumaya Dadi Suyoko, Dadi Damayanti Rusli Sjarif Darmawan B. Setyanto, Darmawan B. Darmawan, Anthony C. David H Muljono, David H Dwi Putro Widodo, Dwi Putro Effie Koesnandar, Effie Elina Waiman, Elina Endang Windiastuti Ferry Cahyo Setyohardani, Ferry Cahyo Fransisca Handy, Fransisca Frieda Handayani Kawanto, Frieda Handayani Hanifah Oswari Harahap, Dwi Fachri Hardiono D Pusponegoro, Hardiono D Hardiono D. Pusponegoro, Hardiono D. Hartono Gunardi Herlina Herlina Hindra Irawan Satari, Hindra Irawan Ihat Sugianti, Ihat Imral Chair, Imral Inna Yoana Sari Tarigan S Irawan Mangunatmadja, Irawan Jeane Roos Ticoalu, Jeane Roos Johnson, Ikhsan Jose RL. Batubara, Jose RL. Julfina Bisanto,, Julfina Kemas Firman Kriswantoro Kriswantoro, Kriswantoro Lily Rahmawati, Lily Liza F Zaimi, Liza F lvony Yuyu Susanto, lvony Yuyu Mardjanis Said, Mardjanis Margono Margono Martira Maddeppungeng, Martira Medise, Bernie E. Medise, Bernie E. Melina, Elizabeth Muhammad Erika Rachman, Muhammad Erika Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Muzal Kadim Nadya, Ruth Natharina Yolanda, Natharina Nia Kurniati Nugraheni, Resyana P. Oksa Slamet Riswanto, Oksa Slamet Piprim B Yanuarso, Piprim B Pustika Amalia Reza, Abdullah Rezeki, Ratu Meulya Rinawati Rohsiswatmo Rini Purwanti Rini Sekartini Rosalina D. Roeslani, Rosalina D. Rubianto Hadi Rudy Hartanto Rulina Suradi, Rulina Singgih, Adrian Himawan Siti Budiati Widyastuti, Siti Budiati Sri Rezeki Hadinegoro, Sri Rezeki Sri Rezeki S Hadinegoro, Sri Rezeki S Sukman Tulus Putra, Sukman Tulus Tania Paramita, Tania Tedjasaputra, Mayke Sugianto Teny Tjitra Sari, Teny Tjitra Titi S. Sularyo Titis Prawitasari, Titis Tjhin Wiguna Toto Wisnu Hendrarto, Toto Wisnu Tri Sunarti Wahyutami, Tri Sunarti Turyadi Turyadi, Turyadi Tuty Rahayu, Tuty Waldi Nurhamzah, Waldi Wan Nedra, Wan Wirahmadi, Angga Yulianti Wibowo, Yulianti Yulman, Annisa R. Yuridyah P. Mulyadi, Yuridyah P. Zainab Zainab