Articles

Found 25 Documents
Search

PERAN TEMPE KEDELAI HITAM DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS ENZIM ANTIOKSIDAN DAN DAYA TAHAN LIMFOSIT TIKUS TERHADAP HIDROGEN PEROKSIDA IN VIVO Nurrahman, -; Astuti, Mary; Suparmo, -; Soesatyo, Marsetyawan HNE
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2012: SEMINAR NASIONAL HASIL PENELITIAN 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.646 KB)

Abstract

Konsumsi tempe dapat meningkatkan status antioksidan dalam tubuh karena tempe kedelaihitam mengandung senyawa antioksidan. Tujuan dari penelitian ini mengkaji peran tempekedelai hitam dalam meningkatkan aktivitas enzim antioksidan plasma dan daya tahan limfositterhadap hidrogen peroksida in vivo. Sebanyak 24 ekor tikus dikelompokan menjadi 4 (empat).Keempat kelompok sebanyak 6 ekor tikus diperlakukan dengan pemberian diit standar, diitditambah tepung tempe kedelai hitam, diit ekstrak tempe kedelai hitam dan diit kombinasitepung dan ekstrak tempe. Pada hari ke-36 tikus dimatikan untuk diambil darah dan limpa.Darah dibuat plasma, yang kemudian digunakan untuk analisa aktivitas enzim superoksidadismutase (SOD), katalase dan glutation peroksidase dan limpa diekstrak limfositnya untukanalisa daya tahan limfosit terhadap hidrogen peroksida (90 M). Hasil penelitian menunjukkanadanya peningkatan aktivitas enzim SOD dan daya tahan limfosit terhadap hidrogen peroksidasecara signifikan. Kesimpulan dari penilitian ini bahwa konsumsi tempe kedelai hitam dapatmeningkatkan status antioksidan tikus.
HUBUNGAN PRODUKSI IFN- DAN IL-4 DENGAN PENGOBATAN STRATEGI DOTS FASE INTENSIF PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU Indreswari, Sri Andarini; Hadisaputro, Suharyo; Soesatyo, Marsetyawan HNE; Dharmawan, Yudhy
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2008: CONTINUING MEDICAL AND HEALTH EDUCATION (CMHE) | Peran Biomolekuler dalam Penegakan Diagnosis
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.051 KB)

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis paru masih menjadi masalah utama di seluruh dunia, terutama di Negara sedang berkembang. Di Indonesia hasil pengobatan dan konversi belum optimal. Banyak penyebab kekurang berhasilan pengobatan ini belum diketahui, khususnya yang berkaitan dengan faktor imunologi. Penelitian ini bertujuan menjelaskan hubungan produksi IFN- dan IL-4 dengan kesembuhan klinis, dalam hal ini terjadinya konversi BTA pasca 2 bulan pengobatan dengan strategi DOTS.Metoda: Rancangan penelitian adalah nested case control, pada penderita baru tuberkulosis paru dengan pemeriksaan sputum BTA positip yang mendapat pengobatan strategi DOTS selama 2 bulan. Kasus adalah penderita yang tidak mengalami konversi pasca 2 bulan pengobatan (BTA tetap positip), sedangkan kontrol adalah penderita yang mengalami konversi pasca 2 bulan pengobatan (BTA menjadi negatip). BTA sebagai hasil pemeriksaan Ziehl Neelsen yang diteruskan dengan tes Niasin. Produksi IFN-dan IL-4 di dalam serum diperiksa dengan metode ELISA. Untuk uji beda rata-rata produksi sitokin antara kasus dan kontrol dilakukan analisis dengan T- test.Hasil: Jumlah sampel 73, diperoleh dari 158 penderita baru berobat jalan yang diikuti selama 2 bulan, terdiri dari 34 kasus (14 diperiksa sitokin) dan 39 kontrol (21 diperiksa sitokin). Penelitian dilakukan di BP4, 12 Puskesmas dan RSUD Kota Semarang. Produksi rata-rata IFN- di dalam serum pasca 2 bulan pengobatan berbeda secara signifikan antara kasus dan kontrol dengan stimulasi PPD 0,5 ug/mL dan PPD 5 ug/mL. Tidak terdapat perbedaan antara kasus dan kontrol pada produksi rata-rata IL-4 dengan semua stimulasi dan tanpa stimulasi.Simpulan: Perbedaan secara signifikan antara kasus dan kontrol pasca 2 bulan pengobatan dalam produksi sitokin (IFN-) bersifat spesifik (hanya dengan stimulasi antigen). Produksi IL-4 tidak terdeteksi kecuali dengan stimulasi PHA, tidak terdapat perbedaan secara signifikan antara kasus dan kontrol.Kata kunci: Tuberkulosis, Interferon-, Interleukin-4, DOTS
PERAN TEMPE KEDELAI HITAM DALAM AKTIVITAS ENZIM ANTIOKSIDAN DAN DAYA TAHAN LIMFOSIT TIKUS TERHADAP HIDROGEN PEROKSIDA IN VIVO Nurrahman, -; Astuti, Mary; Suparmo, -; Soesatyo, Marsetyawan HNE
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Sain, Teknologi, Kimia Sosial dan Humaniora, Kimia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.626 KB)

Abstract

Konsumsi tempe dapat meningkatkan status antioksidan dalam tubuh karena tempe kedelai hitammengandung senyawa antioksidan. Tujuan dari penelitian ini mengkaji peran tempe kedelai hitamdalam meningkatkan aktivitas enzim antioksidan plasma dan daya tahan limfosit terhadap hidrogenperoksida in vivo. Sebanyak 24 ekor tikus dikelompokan menjadi 4 (empat). Keempat kelompoksebanyak 6 ekor tikus diperlakukan dengan pemberian diit standar, diit ditambah tepung tempekedelai hitam, diit ekstrak tempe kedelai hitam dan diit kombinasi tepung dan ekstrak tempe. Padahari ke-36 tikus dimatikan untuk diambil darah dan limpa. Darah dibuat plasma, yang kemudiandigunakan untuk analisa aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD), katalase dan glutationperoksidase dan limpa diekstrak limfositnya untuk analisa daya tahan limfosit terhadap hidrogenperoksida (90 ?M). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas enzim SOD dan dayatahan limfosit terhadap hidrogen peroksida secara signifikan. Kesimpulan dari penilitian ini bahwakonsumsi tempe kedelai hitam dapat meningkatkan status antioksidan tikus.
Placental Trophoblast Responses to Porphyromonas gingivalis Mediated by Toll-like Receptor-2 and -4 Kusumawardani, Banun; Soesatyo, Marsetyawan HNE; Dasuki, Djaswadi; Asmara, Widya
Journal of Dentistry Indonesia Vol 20, No 2 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (935.461 KB) | DOI: 10.14693/jdi.v20i2.150

Abstract

Trophoblast participates in preventing allorecognition and controlling pathogens that compromise fetal wellbeing. Toll-like receptors recognize conserved sequences on the pathogens surface and trigger effector cell functions. Porphyromonas gingivalis is thought to spread to the umbilical cord and cause fetal growth restriction. Objective: To characterize expression and function of TLR-2 and TLR-4 in trophoblast cells from Porphyromonas gingivalisinfected pregnant rats. Methods: Live Porphyromonas gingivalis were challenged into the maxillary first molar subgingival sulcus of female rats before and/or during pregnancy and sacrified on gestational day (GD) 14 and 20. Porphyromonas gingivalis was detected by API-ZYM system in the maternal blood of the retro-orbital venous plexus and the umbilical cord. TLR-2 and TLR-4 expressions in trophoblast cells was detected by immunohistochemistry. Results: Porphyromonas gingivalis was first detected in the maternal blood and finally spread to the umbilical cord. Syncytiotrophoblast, spongitrophoblast and trophoblastic giant cell in treated groups had significantly higher expression of TLR-2 and TLR-4 than control group (p<0.05). Conclusion: Syncytiotrophoblast, spongitrophoblast and trophoblastic giant cell are able to recognize Porphyromonas gingivalis through TLR-2 and TLR-4 expression. The ligation of TLR-2 and TLR-4 promoted cytokine production and induced trophoblast cell death. These findings strengthen links between periodontal disease and fetal growth restriction.DOI: 10.14693/jdi.v20i2.150
Gestational Day-Dependent Expression of Interleukin-10 and Tumor Necrosis Factor-alpha in Porphyromonas gingivalis-infected Pregnant Rats Kusumawardani, Banun; Soesatyo, Marsetyawan HNE; Dasuki, Djaswadi; Asmara, Widya
Journal of Dentistry Indonesia Vol 20, No 3 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.193 KB) | DOI: 10.14693/jdi.v20i3.199

Abstract

Fetal growth restriction remains a major cause of neonatal morbidity and mortality. Porphyromonas gingivaliscan induce placental inflammatory response resulting in fetal growth restriction. Objective: This study aimed to evaluate the potential utility of the pro-inflammatory cytokine TNF-α and anti-inflammatory cytokine IL-10 in rat placental tissues to understand whether these events were causally related. Methods: Female rats were infected with live-Porphyromonas gingivalis at concentration of 2x109 cells/ml into subgingival sulcus area of the maxillary first molar before and/or during pregnancy. They were sacrificed on gestational day (GD)-14 and GD20. The expression of TNF-α and IL-10 in macrophages and trophoblast cells were detected by immunohistochemistry. Results: A higher expression of TNF-α was found in spongiotrophoblast of the Pg-BD group on GD14 (6.30±1.16), and in trophoblastic giant cells of Pg-D group on GD20 (5.50±1.35). Furthermore, a higher expression of IL-10 was found in trophoblastic giant cells of the Pg-BD group on GD14 (4.50±1.51) and in syncytiotrophoblasts of Pg-BD group on GD20 (8.70±2.67). Conclusion: The expression of TNF-α on GD14 and GD20 were accompanied by increased expression of IL-10. The placental pathologic conditions induced by Porphyromonas gingivalis can be inhibited by elevated expression of IL-10 in macrophages and trophoblast cells.DOI: 10.14693/jdi.v20i3.199
THE IGF-1 LEVEL OF ESRD PATIENTS AND ITS RISK FACTORS Hidayati, Titiek; Yuningtyaswari, Yuningtyaswari; Sadewa, Ahmad Hamim; Soesatyo, Marsetyawan HNE
Indonesian Journal of Urology Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Urological Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: To identify the Insulin-like Growth Factor–1 (IGF-1) level of End Stage Renal Disease (ESRD) and non ESRD populations, and correlation between IGF-1level and ESRD incidences. Material & Method: This case study was carried out in Yogyakarta with 72 volunteers. The cases involved Chronic Kidney Disease (CKD) patients. The controls were non-CKD patients. CKD parameters were established with PERNEFRI diagnostic criteria. Comparison of IGF-1 levels between case and control groups was performed through ANOVA, with confidence level of 95%. Bivariate analysis to identify the correlation between IGF-1 plasma level, smoking status, illness history and body mass index (BMI) by determining odds ratio (OR) of individual risk factor of p < 0.05. Results: We enrolled 72 volunteers, 45 male and 27 female subjects. Of the 45 male patients, 15 CKD and 30 non CKD patients served as cases and controls, respectively. The difference in plasma IGF-1 level was detected in the case and control groups (42.01 ± 10.66 vs. 56.05 ± 24.91) (p < 0.05). The result of bivariate analysis showed passive smoking status, IGF-1 plasma level, DM history and hypertensive illness history had correlation with ESRD incidence with odds ratios of 7.88 (p < 0.005; CI: 1.6-37.5) for passive smokers, 4.3 (p < 0.05, CI: 1.36 to 13.33) for IGF-1 level, 21.5 (p < 0.05; CI) for DM history and 12.4 (p < 0.05; CI: 3.7 to 41) for hypertensive history. Conclusion: There was difference in IGF-1 plasma level between ESRD and non-ESRD patients. The IGF-1 plasma level, passive smoking status, diabetes history, and hypertensive history have correlation with ESRD incidence.Keywords: Insulin-like Growth Factor–1 level, End Stage Renal Disease, case control, odds ratio.
FAKTOR HLA-DRB PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DENGAN PENGOBATAN STRATEGI DOTS Indreswari, Sri Andarini; Hadisaputro, Suharyo; Soesatyo, Marsetyawan HNE; Handono, Kusworini
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 1 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.14 KB)

Abstract

ABSTRACTHLA-DRB factor in pulmonal tuberculosis with DOTS strategic treatmentBackground: Tuberculosis remains one of the world?s greatest public health problems, especially in developing countries. In Indonesia the results of DOTS strategic treatment and conversion have not been fruitful results. Many factors play important roles in the success of DOTS strategic treatment, but a little attention was given to the immuno genetics aspects. This study was aimed at theassociation between HLA-DRB factors and clinical output on DOTS strategic treatment (after first 2 months of treatment):conversion of sputum smear positive.Method: A nested case control study was carried out. The exposure variables were alleles of HLA-DRB (result of PCR examination), while the independent variables were sputum smear positive and negative (result of laboratories examination with Ziehl Neelsen staining, Niacin test). Body mass index (BMI) and sex were confounding variables. Odds ratio (OR) was calculated using bivariate and logistic regression for multivariate analysis.Result: A total sample of 73 new patients with active tuberculosis (sputum smear positive) in developing treatment with DOTS strategic treatment, consist of 34 cases and 39 controls. The odds ratio (OR) of HLA-DRB1*1502 and HLA-DRB5*01 were 3.2 (95%CI: 1.103-9.287). The OR of HLA-DRB1*1201 was 0.305 (95% CI: 0.117-0.798), OR of HLA-DRB3*01 was 0.214 (95% CI: 0.077- 0.592). The PAR (population attributable rate) of HLA-DRB1*1502 and HLA-DRB%*01 were 42.64%. While confounding variables were analyzed, only allele HLA-DRB1*1502 was significant, OR 4.9 (95% CI: 1.234-15.617), the probability was 70.57%.Conclusion: HLA-DRB1*1502 is an allele is a risk factor for the conversion of sputum smear positive after 2 months of treatment.Keywords: Tuberculosis, human leukocyte antigen (HLA)ABSTRAKLatar belakang: Di Indonesia hasil pengobatan  tuberkulosis paru belum optimal. Penyebab kekurangberhasilan pengobatan ini belum diketahui, khususnya yang berkaitan dengan faktor imunogenetika. Penelitian bertujuan menjelaskan hubungan faktor HLADRBdengan kesembuhan klinis, dalam hal ini terjadinya konversi BTA pasca 2 bulan pengobatan dengan strategi DOTS.Metoda: Rancangan penelitian adalah nested case control, pada penderita baru tuberkulosis paru dengan pemeriksaan sputum BTA positif yang mendapat pengobatan strategi DOTS selama 2 bulan. Jenis alel (HLA-DRB) yang ditemukan dengan pemeriksaan PCR dinyatakan sebagai variabel paparan, variabel efek adalah hasil pemeriksaan sputum (BTA) dengan pengecatan Ziehl Neelsen yangditeruskan dengan tes Niacin pasca 2 bulan pengobatan. Sebagai variabel perancu ditetapkan BMI dan jenis kelamin. Analisis dilakukan dengan menghitung rasio odds dengan chi-square dan regresi logistik.Hasil: Jumlah sampel 73, diperoleh dari 158 penderita baru berobat jalan yang diikuti selama 2 bulan, terdiri dari 34 kasus (BTA tetap positif pasca 2 bulan pengobatan) dan 39 kontrol (BTA menjadi negatif). Penelitian dilakukan di BP4, 12 puskesmas dan RSUD di Kota Semarang. Hasil penelitian adalah besar risiko (OR) HLA-DRB1*1502 dan HLA-DRB5*01 untuk tidak terjadinya konversi BTA 3,2 (95% CI: 1,103-9,287). Alel HLA-DRB1*1201 dan alel HLA-DRB3*01 merupakan alel yang bersifat protektifdengan OR 0,305 (95% CI: 0,117-0,798), sedangkan HLADRB3*01 dengan OR 0,214 (95% CI: 0,077-0,592). PAR untuk alel HLADRB1* 1502 dan HLA-DRB5*01 sebesar 42,64%. Apabila variabel perancu dimasukkan dalam analisis, maka hanya alel HLA-DRB1*1502 yang secara signifikan merupakan faktor risiko untuk tidak terjadinya konversi BTA pasca 2 bulan awal pengobatan dengan strategi DOTS. OR 4,9 (95% CI:1,234-15,617). Probabilitas untuk HLA-DRB1*1502 adalah sebesar 70,57%.Simpulan: Alel HLA-DRB1*1502 merupakan faktor risikountuk tidak terjadinya konversi BTA pasca 2 bulanpengobatan, dengan probabilitas cukup besar.
The density of collagen fiber in alveolus mandibular bone of rabbit after augmentation with powder demineralized bone matrix post incisivus extraction Tandelilin, Regina TC.; M. Sofro, Abdul Salam; Santoso, Al Supartinah; Soesatyo, Marsetyawan HNE; Asmara, Widya
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 39, No 2 (2006): (June 2006)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.688 KB) | DOI: 10.20473/j.djmkg.v39.i2.p43-47

Abstract

The bone defect due to tooth extraction contributes the most cases reported in the aspects of oral surgery. The defect can be preventively managed by adding powder bone matrix intended for augmentation which eventually induces the formation of new bones. This hard tissue wound healing is preceded by the presence of collagen fibers. The aim of this study was to determine the density of collagen fiber in the alveolus mandibular bone of rabbit which was augmented using powder demineralized bone matrix (DBM) post incisivus extraction. Twenty four male rabbits aged 2.5–3 months weighed 900–1,100 grams were randomly divided into two groups. The treated rabbits were augmented with DBM after the incisivus extraction on mandible. The mucosa was then sutured. On the other hand, the controlled rabbits received similar treatments with those of the treated rabbits except there was no augmentation of DBM. Decapitation of treated and controlled rabbits was made on day 5, 7, 10, and 14 days post surgery, each with three rabbits. Mandibles were cut, decalcified, and imbedded in paraffin block. The staining was done using Mallory. Significant differences in the density of collagen were noted on day 10 and 14 post surgery, indicating that powder demineralized bone matrix successfully induced the stimulation of collagen.
Pengaruh Implantasi Subkutan Logam Kobalt Kromium sebagai Bahan Alternatif Mini Screw Orthodontics terhadap Reaksi Jaringan Kelinci Albino Alhasyimi, Ananto Ali; Sunarintyas, Siti; Soesatyo, Marsetyawan HNE
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 1, No 1 (2015): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1222.499 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.9018

Abstract

Mini screw orthodontics merupakan alat yang digunakan dalam perawatan ortodonsia untuk kasus yang membutuhkan absolute anchorage. Mini screw yang tersedia terbuat dari logam nikel titanium atau stainless steel yang pada beberapa pasien menyebabkan reaksi pada jaringan. Uji implantasi adalah uji yang dilakukan untuk menentukan biokompatibilitas medical device yang berkontak langsung dengan jaringan hidup. Respon jaringan terhadap jejas pasca implantasimempengaruhi derajat pembentukan jaringan granulasi, reaksi benda asing, dan fibrosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek lokal implantasi kobalt kromium sebagai alternatif bahan mini screw orthodontics terhadap jaringan subkutan kelinci albino. Subjek penelitian berupa 20 ekor kelinci jantan albino yang digunakan untuk 2 kelompok(perlakuan dan kontrol negatif). Kobalt kromium dibuat lempengan diameter 10 mm dan ketebalan 1 mm. Pada kelompok perlakuan, material diimplankan pada jaringan subkutan dorsum kelinci dengan insisi sampai terbentuk poket subkutan, dasar poket tidak lebih dari 10 mm dari garis awal insisi dan dilakukan suturing. Kelompok kontrol hanya dilakukanincisi kemudian disuturing. Secara makroskopis 24 jam pasca implantasi, daerah implan diamati terjadinya edema, hematoma, enkapsulasi dan tanda-tanda inflamasi. Evaluasi secara mikroskopis pada hari ke 14 pasca implantasi, diamati perubahan histopatologis infiltrasi sel-sel inflamasi, kemudian rerata hasil diuji dengan uji independent samplet-test untuk mengetahui apakah ada perbedaan jumlah sel-sel inflamasi pada kelompok perlakuan dan kontrol. Hasil pengamatan makroskopis, kelompok perlakuan maupun kontrol hanya terlihat tanda inflamasi ringan berupa eritema. Rerata dan Simpangan baku jumlah PMN, limfosit, sel plasma, makrofag, giant cell, neovaskularisasi, fibrosis kobalt kromium dan kontrol berturut turut yaitu (0,6 ± 0,49; 0,7 ± 0,48); (0,9 ± 0,87; 1,0 ± 0,67); (0,6 ± 0,24; 0,6 ± 0,21); (1,4 ± 0,84; 0,9 ± 0,74); (0,5 ± 0,27; 0); (0,6 ± 0,33; 0,7 ± 0,48); (0,5 ± 0,27; 0,1 ± 0,02). Hasil t-test menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan (p>0,05) pada 6 parameter inflamasi sedangkan parameter giant cell menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah implantasi subkutan logam kobalt kromium menyebabkan reaksi jaringan berupa infiltrasi giant cell selama 14 hari pasca implantasi sebagai respon tehadap benda asing. Effect Of Subcutaneous Implantation Of Cobalt Chromium As An Alternative Material For Mini Screw Orthodontics Against Albino Rabbit’s Tissue. Mini screw orthodontics is an instrument which is used in orthodontic treatment for some cases that require absolute anchorage. Available mini screws are made of nickel titanium or stainless steel alloy which in some patients may cause a reaction to the tissues. Implantation test is a test performed to determine the biocompatibility of medical devices that are directly contacted to the living tissue. Tissue response to injury after implantation affects the degree of formation of granulation tissue, foreign body reaction, and fibrosis. The aim of this study is to determine the local effect of implantation of cobalt chromium as an alternative material for mini screw orthodontic against the subcutaneous tissue of albino rabbits. The subjects of study were 20 male albino rabbits divided into two groups (treatment and negative control groups). Cobalt chromium was made in the form of discs with 10 mm in diameter and 1 mm in thickness. In the treatment group, the material was implanted in the subcutaneous tissue of the dorsum of the rabbits with an incision to form a subcutaneous pocket. The pocket base was not more than 10 mm from the initial line of incision then suturing was performed. The control group only had incision then sutured to maintain aseptic conditions. Macroscopically 24 hours after implantation, the implant area was observed related to the occurrence of oedema, haematoma, encapsulation and signs of inflammation. The evaluation on day 14 post-implantation shows the histopathologic changes observed by the infiltration of inflammatory cells types. The average of the results was analyzed using independent sample t-test. The results of the macroscopic observation shows that the treatment and control group were only seen of mild inflammatory signs included erythema. The mean and standard deviation of the amount of PMN, lymphocyte, plasma cells, macrophage, giant cell, neovascularisation, and fibrosis from cobalt chromium and control groups were (0.6 ± 0.49; 0.7 ± 0.48); (0.9 ± 0.87; 1.0 ± 0.67); (0.6 ± 0.24; 0.6 ± 0.21); (1.4 ± 0.84; 0.9 ± 0.74); (0.5 ± 0.27; 0); (0.6 ± 0.33; 0.7 ± 0.48); (0.5 ± 0.27; 0.1 ± 0.02). The results of t-test show a significant difference in giant cell (p<0.05), while the six others did not (p>0.05). The conclusion of this study is that the cobalt chromium alloy can affect the subcutaneous tissue by inducing giant cell infiltration on day 14 post-implantation as the result of foreign body reactions.
Janeway’s Immunobiology Soesatyo, Marsetyawan HNE
Jurnal Teknosains Vol 2, No 1 (2012): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.33 KB) | DOI: 10.22146/teknosains.5992

Abstract

Buku teks imunologi sudah cukup banyak beredar di tanah air. Buku-buku tersebutmenguraikan tentang sistem dan mekanisme pertahanan tubuh dalam interaksinya denganlingkungan di luar tubuh yang penuh akan mikroba dan patogen penyebab infeksi.Pengetahuan imunologi tubuh manusia terus berkembang dengan cepat, luas, dan mendasar.Hal ini disebabkan karena dukungan pengetahuan lain yang terkait, baik aspek teoritismaupun teknik-teknik laboratoris canggih yang menyentuh aras selular dan molekular.Kemudian memunculkan temuan-temuan baru yang spektakuler, bahkan tidak jarangdengan bukti terbaru telah menggugurkan teori-teori lama. Setiap makluk hidup, khususnyamammalia termasuk manusia, sudah dilengkapi dengan sistem pertahanan tubuh sejak lahir,bahkan komponen-komponen penyusun dalam sistem imun tersebut sebagian sudah ada dandisiapkan sejak kehidupan intra-uterin. Imunitas seperti ini masuk dalam ranah ‘alamiah’atau ‘innate’, sementara imunitas tubuh yang terus berkembang mulai lahir sampai dewasadipengaruhi langsung oleh lingkungan sekelilingnya. Imunitas yang didapat ini termasukdalam ranah ‘adaptif’