Articles

THE ISLAMIC BANKING AND THE ECONOMIC INTEGRATION IN ASEAN Solihin, Solihin; Achsani, Noer Azam; Saptono, Imam T
Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan Vol 19 No 1 (2016): JULY 2016
Publisher : Bank Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.345 KB) | DOI: 10.21098/bemp.v19i1.601

Abstract

The efficiency level of the banking industry is the most important indicator to identify the soundness of banking system. This paper use non parametric frontier approach, DEA, to analyze the Islamic bank efficiency in ASEAN. We use price of deposit from customers, deposits and placements of banks, labor, and others operational expenditures as control variabel, and using financing, deposits and placements on other insitution, securities, others investment as output variabel. We found that the mix bank is the most efficient group within the observation period. Furthermore, the average Islamic banking efficiency in Indonesia, on intermediation approach, is lower than the average of ASEAN, unless they can reduce the cost of labor and other operational expenses. This paper also examines the determinant of efficiency of the Islamic Banking in ASEAN. Internal factors are Total Aset, ROA, BOPO, and ETA, and external faktor are Market Power and Inflation. Using Tobit regression, the result shows the factors that most influence to the Islamic banking efficiency in Indoneisa is the total size of the bank or its assets, OPEX/OR, and Market Power.
Pengaruh waktu kontak terhadap kualitas sambungan hasil las gesek (Friction Welding) Magnesium AZ-31 Solihin, Solihin; Sukmana, Irza; Ummah, Khairul
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 10 No 1 (2017): April 2017
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.835 KB)

Abstract

Abstrak: Pengelasan merupakan salah suatu proses penyambungan dua atau lebih bahan teknik, dengan atau tanpa peroses pencairan logam dasarnya. Teknologi Las Gesek (Friction Welding, FW) merupakan salah satu teknik pengelasan padat atau pengelasan tanpa proses pencairan (solid-state welding). Pembangkitan panas dalam proses FW dihasilkan dengan cara menggesekkan permukaan material las (base metal) hingga mencapai temperatur penyambungannya (semi-solid temperature) atau sekitar 80% dari temperature cair bahan, dan dalam hal Magnesium AZ31 adalah sekitar temperatur 5500C. Setelah bahan mencapai temperatur semi-solid tersebut, kemudian diberi tekanan agar terjadi proses penyambungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi proses terhadap kualitas hasil pengelasan gesek, yang meliputi: kekuatan tarik, struktur makro, dan nilai kekerasan bahan hasil las. Parameter pengujiannya adalah variasi waktu kontak las, yaitu selama 3, 5, dan 10 menit. Kecepatan putar spindle selama proses pengelasan ditetapkan 1400 rpm. Hasil pengelasan menunjukkan bahwa waktu kontak gesek 3 menit menghasilkan kekuatan tarik tertinggi (16,78 MPa), bila dibandingkan dengan dua parameter lain. Hasil uji keras pada daerah las (stir zone) menunjukkan angka kekerasan rata-rata yang relative konsisten, atau sebesar 60 HRE untuk semua parameter, sedangkan angka kekerasan rata-rata di daerah terpengaruh panas (heat affected zone, HAZ) untuk waktu kontak gesek 3, 5 dan 10 menit secara berturut-turut adalah sebesar 69,6; 64,6; dan 60,6 HRE. Hasil penelitian awal ini memberikan potensi studi lanjutan pada berbagai parameter pengelasan lain agar didapatkan kualitas sambungan las gesek yang optimum untuk proses pengelasan gesek Magnesium AZ-31. Kata Kunci: Las gesek, Magnesium AZ-31, struktur makro, cacat void. Abstract: Welding is a process technology aiming to join two or more materials. Friction Welding (FW) is including in a solid-state technology cluster, where the heat is resulted by the friction contact between two welding material’s surface. FW is usually using the lathe machine and the two weld materials were placed on fix- and rotated-tail stocks. The welding process start once the temperature reach about 80% of material’s melting temperature and in the case of Magnesium AZ-31 alloys was about 5500C. Afterwards, the rotated tailstock was push for joining the two materials. In this study, we have tested contact welding at 3, 5, and 10 minutes respectively on rotating speed of 1400rpm. In this study, friction weld of 3 min resulted the highest Tensile Strength, i.e., 16.78MPa of the weld material when compare to other parameters. Also, the hardness number at stir zone of welding parameter 3, 5, and 10minutes are almost the same, i.e., 60 HRE, while at the heat affected zone (HAZ) area were 69.6; 64.6; and 60.6 HRE respectively. This initial results show a potential further research for different friction welding parameters in order to find the optimum welding operational parameters in friction weld Magnesium AZ-31. Keywords: Friction Welding, Magnesium AZ-31, macro structure, void.
PENELITIAN HADIS (Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi) Solihin, Solihin
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/diroyah.v1i1.2054

Abstract

Study of tradition (Sunnah) becomes very urgent to do, given is strategic position as one of the principal sources of Islamic teachings. Do not just study sanad but no less important to do well against matan. Because it’s central position is a study of hadith becomes important. This includes the study and understanding of the ins and out of the following hadith variety and its problems. Scientifically, the discourse requires format and accurate research methods to the study of this tradition.This article attempts to examine how the concept of tradition of research in ontology, epistemology and axiology, to then the study of hadith through research models type sanad and matan. The hope will give its own repertoire of how each researcher have the clarity of the concept in researching the traditions to be grounded. 
PENDAMPINGAN HUMANIS BAGI PEREMPUAN YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM OLEH WCC (WOMEN’S CRISIS CENTRE) KABUPATEN NGANJUK Solihin, Solihin
JURNAL LENTERA : Kajian Keagamaan, Keilmuan dan Teknologi Vol 18 No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : JURNAL LENTERA : Kajian Keagamaan, Keilmuan dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.141 KB)

Abstract

Efforts made by the Nganjuk Regency WCC (Women's Crisis Center) are efforts to assist victims, especially women who are in conflict with the law, meaning that they are women in conflict with the law, women as victims, women as witnesses or women as parties. The mission carried out by the Nganjuk Regency is a very noble humanitarian mission because in general women who face law often face gaps and discrimination and do not receive justice. Handling assistance for victims is not an easy matter, this is due to patriarchal cultural factors that apply in the community, especially in the Nganjuk Regency community, in addition to the lack of awareness and understanding of gender. So the victims did not dare to make legal efforts to obtain a sense of justice. Settlement by WCC Nganjuk Regency usually provides two options, namely legal advocacy for law and settlement outside the court (family) that can be fought for so that there is a meeting point that can be accepted by all parties who are more focused on the humanist (humanitarian) side.
EKSTRAKSI LOGAM EMAS/PERAK DARI LARUTAN BIJIH EMAS/PERAK DENGAN SISTEM PENYERAPAN MENGGUNAKAN KARBON AKTIF BATUBARA SUB-BITUMINUS (COALITE) Solihin, Solihin; Guntoro, Dono
ETHOS (Jurnal Penelitian dan Pengabdian) Vol 4 No.1 (Januari 2016) Ethos: Jurnal Penelitian dan Pengabdian (Sains & Teknologi)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu metoda dalam rangka penganekaragaman (diversifikasi) pemanfaatan batubara adalah dijadikan karbon aktif. Hal ini dapat dilakukan karena batubara merupakan suatu material yang unsur utamanya adalah karbon (C) yang sangat diperlukan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif, sebagaimana bahan baku lainnya seperti tulang, biji kopi, tempurung kelapa, serbuk gergaji, kulit kacang dan lain-lain.Penelitian ini, mencoba membuat karbon aktif dengan bahan baku berasal dari batubara sub-bituminus yang telah dikarbonisasi (coalite). Coalite tersebut kemudian diaktifasi pada temperatur 9000C (secara bertahap) pada kondisi tanpa oksigen yang kemudian dialirkan uap air. Batubara hasil aktifasi tersebut kemudian dicoba digunakan sebagai media penyerap logam emas/perak dalam larutan bijih emas sianida (AuCN), yang pada industri pertambangan proses ini sering disebut carbon in leah (CIL). Mengingat pemakaian karbon aktif dalam industri yang sangat beragam dan telah diakui keandalannya, penelitian ini diharapkan memberikan hasil, antara lain sebagai berikut:1. Coalite yang telah dikarbonisasi, diharapkan dapat dijadikan bahan baku pembuatan karbon aktif. 2. Coalite setelah diaktifasi menjadi karbon aktif, diharapkan dapat digunakan sebagai media penyerap logam emas/perak, yang saat ini masih diimport. Dari penelitian ini, diharapkan dapat diketahui besaran optimum karbon aktif (gram), waktu penyerapan (jam) dan ukuran butir karbon aktif batubara (mesh). Untuk mengetahui kandungan emasnya, larutan kaya hasil pelindian dianalisis dengan spektrofotometri serapan atom (SSA). Setelah diketahui adanya penyerapan logam emas/perak terhadap butiran karbon aktif batubara baik sebelum ataupun setelah penyerapan, dilihat dengan scanning electron microscop (SEM).
Kajian Pengaruh Distribusi Ukuran Butir terhadap Kualitas Daya Serap Karbon Aktif yang Dibuat dari Batubara Terkarbonisasi (Coalite) PT. Bukit Asam Tanjung Enim Sumatera Selatan Solihin, Solihin
ETHOS (Jurnal Penelitian dan Pengabdian) Vol 2 No.2 (2004) Ethos: Jurnal Penelitian dan Pengabdian (Sains & Teknologi)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

an other coal usage diversification that can be considered
STUDI HULLFORM KAPAL IKAN 201 GT UNTUK DAERAH KOTA PEKALONGAN DENGAN RADIUS PELAYARAN 1000 MIL LAUT Kiryanto, Kiryanto; Samuel, Samuel; Solihin, Solihin
Kapal: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan Vol 9, No 2 (2012): Juni
Publisher : Department of Naval Architecture - Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.91 KB) | DOI: 10.14710/kpl.v9i2.4396

Abstract

Untuk meningkatkan pengelolaan sumberdaya laut ( utamanya perikanan) di daerah kota Pekalongan maka perlu dilakukan kajian yang lebih dalam mengenai perencanaan suatu kapal yang mampu mencapai daerah di luar batas 12 mil laut dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Pada penelitian ini direncanakan desain lambung, penentuan volume tangki-tangki, hidrostatik, hambatan, stabilitas dan olah gerak kapal yang sesuai dengan standart IMO. Ukuran utama kapal didapatkan menggunakan metode regresi yang didasarkan pada data 5 kapal pembanding. Dari ukuran utama yang didapat kemudian dilakukan pembuatan linesplan, general arrangement, hambatan kapal, olah gerak kapal dan stabilitas kapal yang sesuai dengan standart IMO. Setelah dilakukan analisa dengan menggunakan metode regresi yang didasarkan pada data 5 kapal pembanding dihasilkan alternatif ukuran utama kapal, yaitu dengan panjang kapal (Lpp) = 31,18 m, lebar kapal (B) = 6,82 m, tinggi kapal (H) = 3,12 m, sarat kapal (T) = 2,72 m, dan kecepatan kapal (V) = 11 knot. Volume tanki yang di butuhkan untuk pelayaran selama 20 hari dan menggunakan mesin 272 kw(370HP).Tanki bahan bakar = 47.82738 m3,Tanki minyak pelumas = 0,63628 m3,Tanki air tawar           = 29,8608 ton, Tanki harian = 1,496152 m3. Pada kecepatan maksimal 11 knot hambatan yang di terima sebesar = 30,97 KN dan powes sebesar 335,75 Hp. Nilai GZ  maksimum kapal = 27,3 – 39,1 deg dan nilai GM awal = 1,13 – 1,596 m
PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK USIADINI Solihin, Solihin
Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar (JPSD) UNTIRTA
Publisher : Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.685 KB)

Abstract

 Pengembangan moral, sosial, dan penanaman nilai-nilai agama merupakan salah satu aspek pengembangan anak usia dini yang menjadi tanggung jawab pendidikan. pengembangan program pendidikan seks memiliki kontribusi positif untuk mencapai tanggungjawab pendidikan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalsis pendidikan seks pada anak usia dini yang dirumuskan melalui kegiatan: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) penilaian; serta (4) masalah dan solusi pembelajaran seks. Untuk merumuskan kerangka konseptual dan menemukan data empiris sebagai landasan pengembangan program pendidikan seks pada anak usia dini, dilakukan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang berlokasi di TK Bina Anaprasa Melati Kwitang Jakarta.Teknik pengambilan data penelitian ini melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi dianalisis dengan cara reduksi data, display data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan deskripsi dan analisis data hasil penelitian ditemukan bahwa; (1) perencanaan pembelajaran seks belum sepenuhnya disusun berdasarkan langkah-langkah pembuatan perencanaan; (2) pelaksanaan program pendidikan seks menggunakan pendekatan terpadu yang diorganisasikan melalui tema-tema pembelajaran untuk mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor pada anak; (3) penilaian pembelajaran seks dilakukan selama proses berlangsung dan disusun menjadi laporan untuk orang tua dan dokumentasi untuk sekolah; dan (4) masalah dan solusi yang ditemukan pada penelitian ini adalah berkaitan dengan kompetensi guru, keragaman potensi anak, dan kerjasama dengan orang tua serta tokoh agama. Penelitian ini direkomendasikan kepada: (1) guru kelas, agar memperhatikan langkah-langkah pembuatan perencanaan pembelajaran seks secara komprehensif; (2) orang tua, yaitu agar menciptakan lingkungan rumah yang dapat membantu perkembangan seksualitas pada anak sebagai wujud kerjasama dengan pihak sekolah; (3) peneliti selanjutnya, agar dapat melakukan penelitian lanjutan dengan fokus pada salah satu kegiatan pendidikan seks atau mencari metode yang dapat memadukan antara pola asuh orang tua dengan bimbingan guru untuk pengembangan pembelajaran seks pada anak atau meneliti efektifitas media elektronik terhadap perkembangan seksualitas anak usia dini. Key word: Pendidikan Seks, dan Anak Usia Dini The Development Of Moral, Social, And Cultivation Of Religious Values Is One Aspect Of Early Childhood Development Is The Responsibility Of Education. Development Of Sex Education Programs Have A Positive Contribution To Achieving The Educational Responsibility. Therefore, This Study Aimed To Describe And Analyze  Sex Education In Early Childhood Are Formulated Through The Following Activities: (1) Planning; (2) Implementation; (3) Assessment; And (4) Problems And Learning Solutions Sex. To formulate the conceptual framework and find empirical data as a basis the development of sex education programs in early childhood, conducted a study using a qualitative approach with case study method which is located in TK Development Budget AnaprasaKwitangJakarta.Teknik this research data collection through observation, interviews and studies documentation was analyzed by means of data reduction, data display, conclusion and verification. Based on the description and analysis of research data found that; (1) sex lesson planning is not yet fully prepared on the steps of making planning; (2) the implementation of sex education programs using an integrated approach that is organized through the themes of learning to develop the cognitive, affective, and psychomotor in children; (3) sex learning assessment conducted throughout the process and compiled into a report for parents and documentation for schools; and (4) problems and solutions found in this study is related to the competence of teachers, the diversity of the potential of children and cooperation with parents and religious leaders. Thisresearchwas recommended to: (1) the classteacher, sopay attention tothe steps to createa comprehensivelearning plansex; (2) parent, which is tocreate a home environmentthat can helpthe development ofsexualityin childrenasa form of cooperationwith the school; (3) further research,in order toconductfurther researchwith a focus onone of the activitiesof sex educationorlooking formethods thatcancombineparenting parentswiththe guidance of teachersto developteachingsexto childrenorexaminethe effectiveness of theelectronic mediaon the development ofsexualityearly childhoodKeyword: Sex EducationandEarly Childhood
SYNTHESIS OF NICKEL CONTAINING PIG IRON (NCPI) BY USING LIMONITE TYPE OF LATERITIC ORE FROM SOUTH EAST SULAWESI Solihin, Solihin
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 25, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1333.009 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2015.v25.183

Abstract

ABSTRAK Nickel contain pig iron (NCPI) merupakan bahan baku penting dalam pembuatan baja tahan karat dan baja paduan lainnya. Sumber alami NCPI adalah bijih laterite. Cadangan bijih laterit dalam jumlah besar telah ditemukan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Bijih laterit kadar tinggi dari wilayah ini telah diproses untuk menghasilkan ferronikel, sedangkan bijih laterit kadar rendah, karena kadar nikelnya yang terlalu rendah, tidak digunakan dalam pembuatan ferronikel. Dalam penelitian ini bijih laterit kadar rendah telah dicoba dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan NCPI. Terhadap bijih laterit dilakukan proses reduksi pada berbagai temperatur. Hasil pengamatan menunjukan bahwa reaksi reduksi meningkat seiring dengan naiknya temperatur proses. Pada temperatur 1200oC telah tebentuk secara signifikan fasa logam. Hasil peleburan terhadap hasil reduksi menghasilkan NCPI dengan kadar nikel dan besi masing-masing 3,7 dan 86,8%. Analisa morfologi terhadap hasil peleburan menunjukan bahwa NCPI yang dihasilkan mengandung lapisan kaya besi-kromiun dan butiran besi kromium yang kaya belerang dalam matrik paduan besi nikel.  Abstract Nickel containing pig iron (NCPI) is one of important materials for stainless steel and other iron-nickel alloys production. The natural source of NCPI in Indonesia is laterite ore. Large deposit of laterite ore has been found in South East Sulawesi.  High grade laterite ore (saprolitic type of laterite ore) in this region has been used for ferronickel making, whereas low grade laterite ore (limonitic type of laterite ore) has not been processed, due to its too low nickel content.  Through this recent research, low grade laterite ore has been utilized as raw material in nickel pig iron making experiment.  Laterite ore was reduced by carbon at various temperatures.  It has been found that reduction reaction increases with an increasing in temperature. At 1200oC, metal phase has been formed significantly. The melting of reduced ore results in NCPI that contains 3.17% nickel and 86.8% iron. The analysis to NCPI morphology shows that microstructure of NCPI consist of iron-chromium layer and rich sulfur iron chromium grain in the matrix of iron nickel.
Permodelan Kesesuaian Habitat Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus) di Koridor Satwa Kapuas Hulu Kalimantan Barat Prayogo, Hari; Thohari, Thohari; Machmud, Achmad; Solihin, Solihin; Duryadi, Dedy; Prasetyo, Prasetyo; Budi, Lilik; Sugardjito, Sugardjito; Jito, Jito
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2016.13.2.137-150

Abstract

ABSTRACTKapuas Hulu, as conservation districts, established regional wildlife corridor that connected Betung Kerihun and Danau Sentarum National Park as a Strategic Area District which highlight aspects of the environment. This wildlife corridor holds a prominent role in the movement of animals, especially orangutans of both national parks. This research was conducted to identify the impact of land use policies on the distribution of orangutans in the corridor. Although it has been designated as a wildlife corridor, many land conversion disconnecting wildlife corridors such as road construction, large-scale plantations development, land clearing for settlement, cultivation, and deforestation. However, the two national parks still offers a secure place for orangutans. A remote sensing technology was used to map the distribution and habitat suitability for the orangutan in the wildlife corridor. Seven parameters were observed to study the habitat of orangutans. The results revealed that the habitat suitability level of wildlife corridor was 49.94%, 46.61% and 3.46% for high, moderate and low level of suitability respectively. The results were supported by validation of 32.29% and 67.71% for moderate and high suitability respectively.Key words : Corridor, habitat, orangutan, wildlife suitabilityABSTRAKKabupaten Kapuas Hulu sebagai kabupaten konservasi telah menetapkan daerah koridor satwa yang menghubungkan Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum sebagai Kawasan Strategis Kabupaten yang menonjolkan aspek lingkungan. Koridor satwa ini memiliki peranan yang penting bagi pergerakan satwa terutama orangutan dari kedua taman nasional ini. Studi ini dilakukan untuk memahami dampak tata guna lahan terhadap sebaran orangutan, di koridor satwa. Pembukaan jalan, perkebunan skala besar, pembukaan lahan untuk pemukiman, perladangan serta penebangan hutan telah menjadi penyebab terputusnya habitat orangutan. Wilayah yang masih aman sebagai habitat orangutan adalah di dalam kawasan taman nasional. Penelitian ini dilakukan menggunakan teknologi penginderaan jarak jauh untuk memetakan sebaran dan kesesuaian habitat orangutan di kawasan koridor satwa. Tujuh parameter habitat orangutan digunakan dalam analisis spasial kesesuaian habitat. Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa kawasan koridor memiliki tingkat kesesuaian habitat yang tinggi sebesar 49.94%, tingkat kesesuaian sedang sebesar 46.61% dan kesesuaian yang rendah sebesar 3.46%. dan hasil ini ditunjang dengan besaran nilai validasi untuk kelas kesesuaian sedang sebesar 32.29% dan kelas kesesuaian tinggi sebesar 67.71%.Kata kunci : Habitat, kesesuaian, koridor, orangutan, satwa