Articles

Found 16 Documents
Search

EVALUASI SPESIFISITAS RADIOFARMAKA 99MTC-KETOKONAZOL PADA INFEKSI YANG DISEBABKAN OLEH CANDIDA ALBICANS, STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN ESCHERICHIA COLI Sugiharti, Rizky Juwita; Halimah, Iim; Mahendra, Isa; Sriyani, Maula Eka
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.702 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2016.17.2.2596

Abstract

EVALUASI SPESIFISITAS RADIOFARMAKA 99mTc-KETOKONAZOL PADA INFEKSI YANG DISEBABKAN OLEH Candida albicans, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan utama dan penyebab kematian di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Diagnosis infeksi dengan metode pencitraan di kedokteran nuklir memerlukan sensitivitas dan spesifitas yang baik. 99mTc-ketokonazol adalah radiofarmaka antibiotik yang disintesis dengan menandai ketokonazol dengan radionuklida teknesium-99m. Radiofarmaka ini diharapkan dapat digunakan  untuk mendeteksi infeksi di kedokteran nuklir, sehingga 99mTc-ketokonazol harus selektif dapat terakumulasi di daerah infeksi. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan evaluasi spesifitas 99mTc-ketokonazol untuk mendeteksi infeksi yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme. Hasil uji biodistribusi 99mTc-ketokonazol menunjukkan akumulasi 99mTc-ketokonazol di paha yang diinfeksi pada 1 jam setelah injeksi dengan rasio target/non target (T/NT) sebesar 3,40 untuk Candida albicans; 1,93 untuk Staphylococcus aureus dan 2,81 untuk Escherichia coli. Studi ini menunjukkan bahwa 99mTc-ketokonazol adalah radiofarmaka yang menjanjikan untuk deteksi infeksi dengan cepat dan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang baik.  
EVALUASI FORMULASI RADIOFARMAKA 99MTC-SIPROFLOKSASIN DENGAN REDUKTOR SNCL2·2H2O DAN SN-TARTRAT Sugiharti, Rizky Juwita; Halimah, Iim; Sriyani, Maula Eka; Widyasari, Eva Maria
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.92 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2019.20.2.5348

Abstract

99mTc-siprofloksasin adalah radiofarmaka berbasis antibiotik untuk diagnosis infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Pada penelitian ini radiofarmaka 99mTc-siprofloksasin disiapkan dengan menggunakan dua macam reduktor yaitu SnCl2·2H2O dan Sn-tartrat. Penelitian ini bertujuan membandingkan masing-masing reduktor untuk menghasilkan radiofarmaka 99mTc-siprofloksasin dengan nilai kemurnian radiokimia yang tinggi dan akumulasi yang baik di daerah infeksi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi optimum diperoleh pada jumlah reduktor SnCl2·2H2O sebanyak 25 µg dengan kemurnian radiokimia sebesar  94,25 + 2,04 dan Sn-tartrat sebanyak 400 µg dengan kemurnian radiokimia sebesar  95,06 + 1,00 Pengujian kemurnian  radiokimia 99mTc-siprofloksasin menggunakan High Performance Liquid Chromatography memperlihatkan profil kromatogram yang sama untuk masing-masing reduktor dengan puncak dari 99mTc-siprofloksasin berada pada waktu retensi 7,17 menit. Hasil uji biodistribusi pada paha mencit yang terinfeksi bakteri Staphylococcus aureus untuk formula 99mTc-siprofloksasin dengan reduktor SnCl2·2H2O 1 jam dan 3 jam pasca injeksi menunjukkan rasio target/nontarget relatif konstan yaitu sebesar 2,71 dan 2,25. Sedangkan rasio target/nontarget 99mTc-siprofloksasin dengan reduktor Sn-tartrat pada 1 jam dan 3 jam pasca injeksi sebesar 1,78 dan 2,20 Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa formulasi radiofarmaka 99mTc-siprofoksasin dengan dua macam reduktor SnCl2.2H2O dan Sn ? tartrat memiliki karakteristik yang berbeda. Kata kunci : radiofarmaka,99mTc-siprofloksasin, reduktor, kemurnian radiokimia
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA SENYAWA BERTANDA 99MTC-KUERSETIN Widyasari, Eva Maria; Sriyani, Maula Eka; Daruwati, Isti; Halimah, Iim; Nuraeni, Witri
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 20, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.485 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2019.1.1.4108

Abstract

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan informasi di bidang kesehatan membuat masyarakat meyakini bahwa mengkonsumsi makanan yang kaya antioksidan penting untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan kanker. Kuersetin merupakan senyawa flavonoid yang banyak ditemukan pada buah dan sayur yang memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Banyak penelitian yang telah membuktikan efektivitas kuersetin sebagai senyawa antikanker secara in-vitro, namun data pengujiannya secara in-vivo masih terbatas. 99mTc-kuersetin diharapkan dapat dijadikan radiotracer untuk mengetahui efektivitas senyawa kuersetin sebagai senyawa antikanker pada pengujian in-vivo menggunakan hewan percobaan. Namun sebelum dilakukan pengujian in-vivo untuk menjamin aplikasinya perlu dilakukan pengujian karakteristik fisiko-kimia sediaan 99mTc-kuersetin. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik fisiko-kimia dari senyawa 99mTc-kuersetin. Hasil penelitian karakteristik fisiko-kimia 99mTc-kuersetin menunjukkan bahwa kemurnian radiokimia sediaan 99mTc-kuersetin adalah 98,94 ± 0,30%. Sediaan 99mTc-Kuersetin ini bermuatan netral, memiliki nilai lipofilisitas dengan log (P) = 0,62 ± 0,05 dan dapat berikatan kuat dengan plasma darah dengan persentase sebesar 95,06 ± 1,34%. Berdasarkan nilai lipofilisitas sebesar 0,62 ± 0,05 diharapkan senyawa ini akan mudah terdistribusi kedalam jaringan organ sehingga diharapkan akan efektif sebagai senyawa bertanda penyidik kanker.
KARAKTERISASI FISIKOKIMIA CTMP BERTANDA TEKNESIUM-99m SEBAGAI RADIOFARMAKA PENYIDIK KANKER TULANG Daruwati, Isti; Misyetti, Misyetti; Sriyani, Maula Eka
Widyariset Vol 12, No 1 (2009): Widyariset
Publisher : LIPI-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.672 KB)

Abstract

Radiopharmaceutical for bone cancer seeking was developed in variable phosphonate compound labeled with technetium-99m, formally pyrophosphate and diphosphonate compound. Either pyrophosphate or diphosphonate still unsatisfied to use as radiopharmaceuticals for bone seeking agent because the high accumulation in lever, muscle and blood. CTMP have higher affinity than others. The Physicochemical characterization of 99"Tc-CTMP has been conducted. The characteristic of labeled compound have to fulfill the criteria as the good radiopharmaceutical. The characteristic such as radiochemical purity, electric charge, lipophilicity, plasma protein binding, and hydroxy apatite binding. The results showed that the radiochemical purity greater than 95% (96,83 % ± 1,35), have a negative electric charge, lipophilicity -2,61, plasma protein binding 31,90 % ± 3,3, hydroxyl apatite binding 76,6% at 3 hours. The value ofhidroxy apatite binding was high, it showed CTMP have indicated a great potential as radiopharmaceutical for bone cancer seeking. 
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA SENYAWA KUERSETIN BERTANDA RADIOAKTIF IODIUM-131 Sriyani, Maula Eka; Widyasari, B. Eva Maria; Febriyanti, C. Hesti; Sugiharti, D. Rizky Juwita; Halimah, E. Iim; Daruwati, F. Isti; Hanafiah W, G. Aang
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 23 Nomor 1 Januari 2020
Publisher : PSTA BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.072 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2020.23.1.5515

Abstract

KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA SENYAWA KUERSETIN BERTANDA RADIOAKTIF IODIUM-131. Penggunaan bahan-bahan herbal (obat tradisional) untuk pengobatan penyakit-penyakit kronis semakin banyak dikonsumsi. Fenomena ini mendorong perkembangan penelitian dan penemuan obat baru berbasis bahan alam melalui proses isolasi maupun sintesis. Salah satu tahapan pengembangan obat dalam penentuan efikasi adalah pemanfaatan teknologi nuklir pada tahap uji preklinis baik secara in-vitro maupun in-vivo. Pada tahap awal penelitian, telah dilakukan pemilihan bahan aktif berkhasiat antikanker dan penelaahan kemungkinan senyawa tersebut untuk ditandai menggunakan radioisotop pemancar beta (?-). Penelaahan meliputi struktur kimia bahan aktif tersebut (kemungkinan ikatan yang mungkin terjadi antara senyawa aktif dengan radioisotop pemancar beta), serta teknik penandaan yang akan dilakukan. Metode penandaan Kuersetin dengan radioisotop iodium-131 menggunakan oksidator Kloramin-T mengacu pada penelitian yang telah dilakukan oleh Barolli, dkk dengan sedikit modifikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sifat fisikokimia senyawa bertanda 131I-kuersetin meliputi kemurnian radiokimia, muatan listrik senyawa 131I-Kuersetin, lipofilisitas (log P), ikatan dengan protein plasma dan stabilitas sediaan. Hasil yang didapat adalah senyawa 131I-Kuersetin dengan kemurnian radiokimia sebesar 98,41 ± 1,05 %, memiliki muatan listrik negatif dan nilai koefisien partisi (log P) sebesar -2,22 di dalam Larutan NaCl dan -2,71 di dalam larutan dapar fosfat. Persentase ikatan dengan protein plasma sebesar 34,64±4,37 % pada larutan NaCl dan 32,94±1,46 % pada larutan dapar fosfat. Hasil pengujian variasi volume sediaan 131I-kuersetin, volume diatas 1 mL akan menurunkan kemurnian radiokimianya menjadi < 90 %. Sedangkan dari pengujian stabilitas sediaan 131I-kuersetin tetap stabil hingga jam ke-72, pada suhu kamar dengan hasil kemurnian radiokimia yang tinggi ? 95%.
EVALUASI ASPEK FARMASETIK DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI SECARA IN-VITRO KIT DIAGNOSTIK 99MTC-KANAMYCIN Widyasari, Eva Maria; Sriyani, Maula Eka; Halimah, Iim; Wongso, Hendris; Wibawa, Teguh Hafiz Ambar; Iswahyudi, Iswahyudi; Sidik, Ahmad
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 18 Nomor 1 Januari 2015
Publisher : PSTA BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.402 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2015.18.1.2786

Abstract

Angka kematian akibat infeksi dari tahun ke tahun terus meningkat. Berbagai usaha terus dilakukan guna menekan angka kematian yang ada, salah satu contohnya dengan pengembangan metode diagnostik berbasis nuklir. 99mTc-Kanamycin merupakan kit diagnostik potensial untuk dikembangkan menjadi senyawa bertanda yang dapat digunakan dalam mendiagnosis penyakit infeksi. Kanamycin adalah sebuah antibiotik berspektrum kerja luas yang telah lama digunakan dalam menekan pertumbuhan bakteri baik itu bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Selain harus memenuhi standar sifat fisika dan kimia, 99mTc-Kanamycin juga harus melalui tahapan uji preklinis sebelum diuji cobakan pada manusia (uji klinis). Berbagai aspek farmasetik yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi uji sterilitas, uji pirogenitas dan uji toksisitas, serta uji aktivitas antibakteri. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa sediaan 99mTc-kanamycin steril, bebas pirogen, tidak toksik dan daya hambat terhadap bakteri relatif sama dengan kanamycin tidak bertanda radioaktif. Uji uptake sediaan terhadap bakteri optimum pada waktu 24 jam inkubasi pada suhu 37oC. Hasil uji uptake maupun uji daya hambat terhadap bakteri menunjukkan bahwa 99mTc-kanamycin lebih aktif terhadap bakteri S. aureus dibandingkan terhadap E.coli.
BIOLOGICAL SAFETY EVALUATION OF 99mTc-DTPA-KETOCONAZOLE FOR DIAGNOSIS OF FUNGAL INFECTION Sriyani, Maula Eka; Wongso, Hendris; Widyasari, Eva Maria; Sugiharti, Rizky Juwita; Halimah, Iim; Iswahyudi, Iswahyudi; Sidik, Ahmad; Isabela, Epy; Nuraeni, Witri
Indonesian Journal of Physics and Nuclear Applications Vol 1 No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.579 KB) | DOI: 10.24246/ijpna.v1i3.138-144

Abstract

Infectious diseases have become one of the leading cause of mortality around the world, including in the Southeast Asia. One of the microbial that cause infection is fungi. Occasionally, deep-seated fungal infection is difficult to detect using conventional diagnosis methods and therefore leads to inaccurate detection. Our previous research was conducted in order to obtain the labeled compound of 99mTc-DTPA-Ketoconazole with a high radiochemical purity (98.40 ± 0.86%). Moreover, the in-vitro assays showed that 99mTc-DTPA-Ketoconazole can potentially bind to Candida albicans. On the other hand, in clinical routine use, diagnostic kit should be safe for the patients. Consequently, this research was conducted to determine the biological safety parameters of 99mTc-DTPA-Ketoconazole on the animal study, including single dose and acute toxicity test, sterility, and apirogenicity test. The results showed that both the single dose at 34.6 μCi and dose until 149 times of the single dose did not stimulate the toxic response to the animals. In addition, the sterility data revealed that there was no microbial growth after 7 days of incubation at 37°C as well as fungal growth after 14 days of incubation at 25°C. Furthermore, the apirogenicity test using rabbits revealed that there was no increase in temperature more than 0.6°C for each animal and not more than 1.5°C of total increase of temperature for all the animals. It is concluded that the 99mTc-DTPA-Ketoconazole is satisfy the requirements of biological safety of a radiopharmaceutical and therefore was acceptable for fungal detection in nuclear medicine.
Biological Safety Evaluation of 99mTc-DTPA-Ketoconazole for Diagnosis of Fungal Infection Sriyani, Maula Eka; Wongso, Hendris; Widyasari, Eva Maria; Sugiharti, Rizky Juwita; Halimah, Iim; Iswahyudi, Iswahyudi; Sidik, Ahmad; Isabela, Epy; Nuraeni, Witri
Indonesian Journal of Physics and Nuclear Applications Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.153 KB) | DOI: 10.24246/ijpna.v2i1.1-8

Abstract

Infectious diseases have become one of the leading cause of mortality around the world, including in the Southeast Asia. One of the microbial that cause infection is fungi. Occasionally, deep-seated fungal infection is difficult to detect using conventional diagnosis methods and therefore leads to inaccurate detection. Our previous research was conducted in order to obtain the labeled compound of 99mTc-DTPA-Ketoconazole with a high radiochemical purity (98.40 ± 0.86%). Moreover, the in-vitro assays showed that 99mTc-DTPA-Ketoconazole can potentially bind to Candida albicans. On the other hand, in clinical routine use, diagnostic kit should be safe for the patients. Consequently, this research was conducted to determine the biological safety parameters of 99mTc-DTPA-Ketoconazole on the animal study, including single dose and acute toxicity test, sterility, and apirogenicity test. The results showed that both the single dose at 34.6 μCi and dose until 149 times of the single dose did not stimulate the toxic response to the animals. In addition, the sterility data revealed that there was no microbial growth after 7 days of incubation at 37°C as well as fungal growth after 14 days of incubation at 25°C. Furthermore, the apirogenicity test using rabbits revealed that there was no increase in temperature more than 0.6°C for each animal and not more than 1.5°C of total increase of temperature for all the animals. It is concluded that the 99mTc-DTPA-Ketoconazole is satisfy the requirements of biological safety of a radiopharmaceutical and therefore was acceptable for fungal detection in nuclear medicine.
Biological Evaluation of 99mTc-Kanamycin for Infection Imaging Widyasari, Eva Maria; Halimah, Iim; Sugiharti, Rizky Juwita; Sriyani, Maula Eka; Daruwati, Isti; Iswahyudi, Iswahyudi; Isabela, Epy; Nuraeni, Witri
Indonesian Journal of Physics and Nuclear Applications Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.372 KB) | DOI: 10.24246/ijpna.v2i1.34-41

Abstract

Kanamycin antibiotic was radiolabeled successfully with radioisotope technetium-99m for the potential use as radiopharmaceuticals for infection imaging. 99mTc-kanamycin complexes was prepared 93 % radiochemical purities by direct labelling using 5 mg kanamycin and 30 µg SnCl2. The reaction occurred at alkaline condition (pH=9) and under room temperature for 30 min to achieve high radiochemical purity. Radiochemical purity and stability of 99mTc-kanamycin was determined by ascending paper chromatography using Whatman 3 paper as the stationary phase, and acetone as the mobile phase to separate the radiochemical impurities in the form of 99mTc-pertechnetate. While impurities in the form of 99mTc-reduced were separated using the stationary phase ITLC-SG and 0.5 N NaOH as mobile phase. This study aimed to determine biological characteristic of 99mTc-kanamycin radiopharmaceutical. In vitro cell studies showed that the change of kanamycin structure after labeling with technetium-99m did not give a specific influence to the potency of kanamycin as an antibiotic. In addition on uptake study, a significantly higher uptake of 99mTc-kanamycin with S. aureus than E. coli. Biodistribution of 99mTc-kanamycin complexes was studied on normal and infection mice at 15, 30, 60 and 120 min post-injections. The biodistribution of 99mTc-kanamycin in infection mice showed that the complex accumulated in the infection sites. These results show that 99mTc-Kanamycin radiopharmaceutical have a potential application for infection diagnosis.
Determination Stability of 99mTc-Etambutol Radiopharmaceuticals for Tuberculosis Detected Roseliana, Anna; Witarti, Witarti; Lestari, Enny; Sriyani, Maula Eka; Widjaksana, Widyastuti
JKPK (Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia) Vol 4, No 1 (2019): JKPK ( Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia)
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jkpk.v4i1.22364

Abstract

99mTc-ethambutol radiopharmaceutical is a diagnostic kit based on the anti-tuberculosis drug, ethambutol, labeled with radioactive tracer 99mTc.  This radiopharmaceutical is a result of research development in Centre for Radioisotope and Radiopharmaceutical Technology, BATAN. 99mTc-ethambutol radiopharmaceutical in the hospital used as a diagnostic agent for tuberculosis detected, particularly tuberculosis in extra pulmonary organs that is not easily detected by existing  conventional methods. The aim of study to find out how stable ethambutol kit when stored at certain temperature and how stable ethambutol stability after labelled  with 99mTc.  These stability data are required by hospitals which used 99mTc-ethambutol . The stability test performed by measuring the radiochemical purity of  ethambutol kits which were stored at certain time period and labelled with 99mTc using thin layer chromatography (TLC) method. Radiochemical purity tests were also performed on 99mTc-ethambutol at certain time period after its labeling process.  Based on experiment results, it was obtained that ethambutol kit was still stable for up to 9 months when stored at refrigerator temperature 8 oC with percentage of radiochemical purity average &gt; 85% and up to 11 months when stored in deep freezer temperature -80 oC with percentage of radiochemical purity average 90%. While 99mTc-ethambutol was still stable for up to 4 hours after labeling with  percentage of radiochemical purity more than &gt; 85%.