Ida Bagus Kade Suardana
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

PERBANDINGAN SEKUENS KONSENSUS GEN HEMAGLUTININ VIRUS AVIAN INFLUENZA SUBTIPE H5N1 ASAL UNGGAS DI INDONESIA DENGAN SUBTIPE H5N2 DAN H5N9 Kade Mahardika, I Gusti Ngurah; Suartha, I Nyoman; Suardana, Ida Bagus Kade; Yuniati Kencana, I Gusti Ayu; Teguh Wibawan, I Wayan
Jurnal Veteriner Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Consensus sequence of hemagglutinin (HA) gene of avian influenza viruses of H5N1 subtype isolatedfrom fowl in Indonesia ? hereafter named as H5N1_Indonesia ? is compared with that of H5N2 and H5N9viruses. Sequence information were downloaded from the public database GeneBank. The genetic distancesand nucleotide as well as its deduced amino-acid sequence alignment were analysed. At nucleotide level,genetic distances of HA between H5N1_Indonesia to H5N2 and H5N9 are 16.2% and 9.6%, respectively.At amino-acid level, the distances are 9.7% and 6.8%. The genetic distances of HA1 fragments are 19.0%(H5N1_Indonesia ? H5N2) and 10.9% (H5N1_Indonesia ? H5N9). At amino-acid, level the genetic distancesof HA1 are 13.1% (H5N1_Indonesia-H5N2) and 8.8% (H5N1_Indonesia ? H5N9). All three subtypes havedifferent glycosilation motive and variation of amino-acid sequence of four antigenic sites. The consequenceof those facts is discussed.
DOG DEMOGRAPHY AND LEVEL OF KNOWLEDGE AGAINST RABIES IN POSITIVE AND NEGATIVE CASE OF RABIES AREAS IN MENDOYO-JEMBRANA, BALI, INDONESIA (DEMOGRAFI ANJING DAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP RABIES DI DAERAH DENGAN KASUS RABIES POSITIF DAN NEGATIF Agustina, Kadek Karang; Cahyani, Putu Sasmitha Devi; Suardana, Ida Bagus Kade
Jurnal Veteriner Vol 18 No 4 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.4.642

Abstract

This research aims were to compare the demography of dogs and knowledge profile of dog owners against rabies in Mendoyo Sub-District, Jembarana Bali. This research used observational method, conducted from May to June 2016 in Mendoyo sub-district of Jembrana. Two Banjars were selected by the rabies case report in dogs (YehEmbangKangin village) and two other without case (MendoyoDanginTukad village). The data collected by interviewing the community and direct assessment of free-roaming dogs in the areas. A total of 200 household samples were taken, 50 respondents of each sampling area. This research resulted that the ratio of man-dog in Mendoyo was 4.5:1 and the ratio of male and female dogs was 1.8:1. As many as 64.8% of dog?s age were more than 12 month old, 28% were 4 to 12 month old and 8% were less than 4 month old. In the sampling areas, 19.4% of dogs were sterilized, which were 91.18% males and 8.82% females. Coverage of rabies vaccination in owned dogs was 82.3%. Dog?s petting method by people in Mendoyo was 69.71% free-roaming while 30.29% tied or caged. On free-roaming dog assessment, this study found 52 free-roaming dogs on the streets, 65.38% males and 34.62% females, only 30.8% of those used vaccination collar marker, Based on the body condition score, 76.9% of free-roaming dogs have good conditions. Of the total 200 households surveyed, there was a high level of knowledge about the danger of rabies and the importance of vaccination, but only a few people (<35%) received consulting about rabies, understood how to prevent rabies infection and the regulations about dog petting management. In positive area, we found there are still many people who have the habit of disposing dog. We conclude that there is needed to improve knowledge and attitude of the community about the prevention and risk factor of rabies.
RESPON IMUN ITIK BALI PASCAVAKSINASI NEWCASTLE DISEASE Novitasari, Anindya; Suardana, Ida Bagus Kade; Sampurna, I Putu
Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 2 Agustus 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2018.v10.i02.p04

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon imun itik terhadap vaksinasi Newcastle Disease (ND), serta waktu yang diperlukan agar terbentuk titer antibodi yang protektif. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan waktu sebagai perlakuan. Objek penelitian menggunakan serum itik Bali. Pengambilan darah pravaksinasi dilakukan pada umur tiga minggu, pada umur empat minggu dilakukan vaksinasi secara sub kutan. Pengambilan darah pascavaksinasi dilakukan empat kali dengan interval waktu satu minggu, diambil dari vena tibialis cranial dengan spuite satu cc, dan serum dipindahkan ke dalam tabung Eppendorf. Titer antibodi diuji dengan uji Hemaglutination inhibition (HI), dan dinyatakan dalam Geometric Mean Titer (GMT) dengan satuan Log 2. Rerata titer antibodi pravaksinasi adalah 0,83±0,408 Log 2. Sedangkan rerata titer antibodi minggu ke-1,2,3 dan 4 pasca vaksinasi adalah 2±0,632 Log 2, 5,5±1,225 Log 2, 1,2±0,983   Log 2, dan 0,16±0,408 Log 2. Dapat disimpulkan titer antibodi protektif (?2?) pada minggu ke-2 pascavaksinasi.
TITER ANTIBODI ANJING LOKAL ENAM BULAN PASCA VAKSINASI RABIES Sudarmayasa, I Nengah; Suardana, Ida Bagus Kade; Suartha, I Nyoman
Buletin Veteriner Udayana Vol. 12 No. 1 Pebruari 2020
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2020.v12.i01.p09

Abstract

Rabies merupakan penyakit zoonosis yaitu, penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Sebagian besar kasus rabies (98%) disebabkan oleh gigitan anjing penderita rabies, sedangkan sisanya oleh kucing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi anjing lokal enam bulan pasca vaksinasi rabies menggunakan vaksin rabisin. Penelitian ini dilakukan tiga tahap, yaitu: pengambilan sampel darah di Desa Buduk dan Sading, pemisahan serum dan pengujian serum dengan uji enzym linked immunosorbent assay (ELISA) menggunakan 19 sampel anjing lokal dengan pengambilan darah secara acak. Hasil penelitian menunjukkan dari 19 sampel yang diuji sebanyak 17 sampel (89%) memiliki titer antibodi protektif (seropositif) dan dua sampel (11%) belum memiliki titer antibodi protektif (seronegatif). Seropositif adalah nilai Optical Density (OD) di atas 0,5 IU, sedangkan seronegatif adalah nilai Optical Density (OD) di bawah 0,5 IU.
PERBANDINGAN TITER ANTIBODI NEWCASTLE DISEASE PADA AYAM PETELUR FASE LAYER I DAN II Akbar, Saiful; Ardana, Ida Bagus Komang; Suardana, Ida Bagus Kade
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi terhadap penyakit Newcastle Disease (ND) pada ayam petelur fase layer I dan fase layer II pasca vaksinasi ND. Sampel penelitian ini adalah serum yang diambil dari tujuh peternakan pada lima desa di Kecamatan Penebel yaitu Desa Mangesta, Senganan, Babahan, Penebel, dan Jatiluwih. Total sampel adalah 131 sampel terdiri dari 78 sampel fase layer I dan 53 sampel fase layer II. Pengukuran titer antibodi ND dilakukan dengan uji Haemagglutination Inhibition (HI), kemudian hasilnya dianalisis secara statistik menggunakan Chi-square (X2) dan tabel kontingensi 2x2. Hasil penelitian ini menunjukkan vaksinasi ND pada ayam petelur fase layer I dan II di Kecamatan Penebel menunjukkan respon kebal yang protektif (99,24%) dengan nilai Geometric Mean Titre (GMT) 8,52. Kekebalan pada ayam petelur fase layer I (GMT 8,91) lebih besar daripada fase layer II (8,13). Namun, secara statistik kekebalan protektif pada ayam petelur fase layer I dan fase layer II tidak berbeda nyata (p>0,05). Analisis data menggunakan tabel kontingensi 2x2 menunjukkan nilai Odds Ratio (OR) adalah 0, ini berarti faktor tersebut adalah protektif.
PENAMBAHAN TEPUNG TEMULAWAK DALAM PAKAN MENINGKATKAN RESPON IMUN AYAM PEDAGING PASCAVAKSINASI FLU BURUNG Pratiwi, Ni Made Diah Kusuma; Ardana, Ida Bagus Komang; Suardana, Ida Bagus Kade
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.72

Abstract

Flu burung merupakan penyakit viral pada unggas yang bersifat zoonosis, akut, dan mematikan yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Masalah yang sering terjadi saat vaksinasi, tidak semua vaksin akan menghasilkan titer antibodi yang tinggi akibat berbagai sebab. Oleh karena itu diperlukan penggertak sistem imun (immunomodulator) tambahan. Salah satu senyawa dalam tanaman yang bersifat immunomodulator adalah kurkuminoid yang banyak terkandung pada temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.). Penelitian ini menggunakan 24 ekor ayam pedaging umur 14 hari yang dibagi menjadi 4-empat kelompok, yaitu kelompok kontrol (P0), kelompok yang diberikan penambahan tepung temulawak 10 g/kg pakan (P1), penambahan tepung temulawak 20 g/kg pakan (P2), penambahan tepung temulawak 30 g/kg pakan (P3). Pengambilan sampel darah dilakukan satu kali yaitu pada umur 25 hari. Pemeriksaan titer antibodi AI dilakukan dengan uji serologi Haemaglutination Inhibition (HI). Titer antibodi selanjutnya dianalisis menggunakan uji sidik ragam, dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian didapatkan titer antibodi 5,6 HI log 2 (penambahan tepung temulawak 10 g/kg pakan), 5,8 HI log 2 (penambahan tepung temulawak 20 g/kg pakan) dan titer antibodi tertinggi yaitu 6 HI log 2 (penambahan tepung temulawak 30 g/kg pakan), hal ini menunjukkan bahwa penambahan tepung temulawak pada pakan dapat meningkatkan titer antibodi pascavaksinasi (P<0,05).
RESPONS IMUN ITIK BALI PASCAVAKSINASI FLU BURUNG Azizah, Hidayatul; Suardana, Ida Bagus Kade; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons imun itik bali terhadap vaksinasi Avian Infuenza (AI) dan waktu yang diperlukan untuk terbentuknya titer antibodi yang protektif. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan waktu sebagai perlakuan. Objek penelitian menggunakan 24 serum itik bali. Pengambilan darah pravaksinasi dilakukan pada umur 3 minggu dan vaksinasi dilakukan pada umur 4 minggu secara injeksi subkutan. Pengambilan darah pascavaksinasi dilakukan empat kali dengan interval waktu satu minggu dari vena tibialis cranial dengan spuit 1 cc. Serum dipisahkan dan ditampung dalam tabung eppendorf. Titer antibodi diuji dengan uji Hemaglutination inhibition (HI) dan hasil pemeriksaan titer antibodi dinyatakan dengan satuan log 2. Hasil pemeriksaan rataan titer antibodi pravaksinasi 0 ± 0,000 log 2, minggu ke-1 pascavaksinasi 2,83 ± 0,753 log 2, minggu ke-2 4,83 ± 0,753 log 2, minggu ke-3 6,00 ± 0,632 log 2, dan minggu ke-4 4,67 ± 0,516  log 2 sehingga didapatkan titer antibodi protektif (?24) pada minggu ke-2 sampai minggu ke-4 pascavaksinasi.
TITER ANTIBODI PADA ANJING RAS DAN PERSILANGAN 6 BULAN PASCA VAKSINASI RABIES Dewi, Desak Made Wiga Puspita; Suardana, Ida Bagus Kade; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (2) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cakupan vaksinasi terus ditingkatkan untuk memberantas penyakit rabies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui titer antibodi 20 ekor anjing ras dan persilangan, 6 bulan pasca vaksinasi Rabisin Merial Prancis yang dilakukan di Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Darah diambil dari vena cephalica kemudian dibiarkan agar terjadi pemisahan serum dan darah. Serum dipindahkan ke dalam eppendorf dan disentrifugasi kemudian diuji ELISA dengan metode Pusvetma, Surabaya. Hasil penelitian didapatkan bahwa 19/20 sampel (95%) memiliki antibodi protektif dengan rata-rata nilai OD 0,9 IU (nilai OD > 0,5 IU), sedangkan sisanya tidak memiliki antibodi protektif dengan nilai OD 0,4 IU. Tingginya persentase antibodi protektif, menunjukkan bahwa pelaksanaan vaksinasi telah memberikan respon imun yang baik.
RESPONS IMUN HUMORAL ANJING LOKAL BETINA UMUR LEBIH DARI SATU TAHUN PASCA VAKSINASI RABIES Norawigaswari, Nengah Desy; Suardana, Ida Bagus Kade; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.1

Abstract

Pencegahan penyebaran rabies dilakukan dengan cara vaksinasi pada hewan pembawa rabies (HPR) antara lain anjing, kucing, dan kera dalam rangka pemberantasan penyakit rabies. Vaksinasi anjing di lapangan dilakukan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Kota setiap tahun, di setiap banjar-banjar dan bahkan mendatangi rumah penduduk dari pintu ke pintu. Untuk mengetahui apakah HPR yang telah divaksinasi rabies memiliki titer antibodi yang protektif, telah dilakukan penelitian respons imun humoral anjing lokal betina pasca vaksinasi rabies. Penelitian dilakukan di Desa Gulingan, Kabupaten Badung dengan sampel darah dari 10 ekor anjing. Darah diambil dari vena cephalica antibrachii anterior menggunakan spuit 3 ml, kemudian dibiarkan agar terjadi pemisahan antara serum dengan darah. Serum dipindahkan ke eppendorf dan disentrifuse. Dari hasil pengujian menggunakan uji ELISA, 50% memiliki titer antibodi protektif (nilai OD > 0,5 IU) dan 50% titer antibodinya tidak protektif (nilai OD < 50%). Simpulannya adalah perlu dilakukan vaksinasi ulangan pada anjing yang tidak memiliki titer antibodi protektif dengan peningkatam metode vaksinasi untuk menghasilkan antobodi yang protektif.
DINAMIKA BISNIS VETERINER PETERNAKAN KAMBING PERAH DI DESA SEPANG KECAMATAN BUSUNGBIU KABUPATEN BULELENG TAHUN 2014 Jantiko, Hanesty; Suardana, Ida Bagus Kade; Gelgel, Ketut Tono Pasek
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (2) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari peternakan kambing perah di Desa Sepang Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng. Variabel yang digunakan adalah input (biaya produksi) dan output (hasil produksi). Variabel operasional dari penelitian ini mencakup analisis produksi, ekonomi veteriner, dan peternakan kambing perah. Data dikumpulkan dengan cara wawancara yang dilakukan kepada setiap responden dengan menggunakan kuesioner atau daftar pertanyaan sebagai panduan. Jumlah responden yang diwawancarai adalah sebanyak 21 peternak yang merupakan anggota dari kelompok tani ternak Sumber Rejeki di Desa Sepang Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng. Metode yang digunakan adalah metode analisa deskriptif melalui survei dan observasi. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer yang diperoleh dari hasil wawancara menggunakan kuesioner dengan responden. Disimpulkan bahwa peternakan kambing perah di Desa Sepang Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng pada tahun menghasilkan pendapatan pengelola per ekor per bulan rata-rata Rp 277.500.