Hertanto Wahyu Subagio
Bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran UNDIP Semarang

Published : 28 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Journal of Nutrition and Health

SOSIALISASI PRINSIP DAN PESAN GIZI SEIMBANG SEBAGAI PENGGANTI PROGRAM EMPAT SEHAT LIMA SEMPURNA Ardiaria, Martha; Subagio, Hertanto Wahyu; Puruhita, Niken
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 8, No 1 (2020): JNH (JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnh.8.1.2020.51-56

Abstract

       Program Prinsip Gizi Seimbang dan Pesan Gizi Seimbang yang disingkat PGS merupakan program pemerintah untuk menjaga status gizi masyarakat Indonesia agar tetap seimbang. Program ini menggantikan Program Empat Sehat Lima Sempurna karena Empat Sehat Lima Sempurna dianggap kurang sesuai karena hanya kurang lengkap informasinya.       Program PGS sebenarnya sudah ada sejak 1992, namun hingga sekarang masih banyak masyarakat yang belum mengenal program ini. Hal ini disebabkan sosialisasi PGS yang kurang. Oleh karena itu pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk membantu mensosialisikan PGS supaya lebih dikenal dan diterapkan sehingga status gizi masyarakat Indonesia menjadi lebih baik.       Kegiatan pengabdian ini dilakukan di wilayah kelurahan Jomblang kota Semarang pada tahun 2019. Wilayah ini memiliki kepadatan penduduk tinggi. Di wilayah ini terdapat kelompok PKK di setiap RT dan RW yang aktif melakukan berbagai kegiatan. Kelompok PKK beranggotakan ibu-ibu yang dapat menjadi menjadi media untuk memperkenalkan dan mempraktekkan PGS di keluarga.       Hasil kegiatan ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat tentang gizi dan Pesan Gizi Seimbang di wilayah Kelurahan Jomblang. Dengan adanya peningkatan pengetahuan diharapkan kesadaran dan perilaku masyarakat tentang kesehatan juga mengalami peningkatan.
LAMA PENCAPAIAN TARGET ENERGI DALAM MASA PERAWATAN PASIEN STROKE Dianggra, Phitra Sekar; Subagio, Hertanto Wahyu; Himawan, MR Arientasari
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 6, No 2 (2018): JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.31 KB) | DOI: 10.14710/jnh.6.2.2018.57-64

Abstract

Latar belakang :Komplikasi tersering stroke yaitu malnutrisi. Malnutrisi dapatmeningkatkan lama masa rawat dan biaya perawatan. Salah satu cara menilai risikomalnutrisi dengan menilai lama pencapaian target energi. Tujuan : Mengetahui rata-ratapencapaian target energi, perbedaan lama masa rawat antara pencapain target energi ? 3 haridengan > 3 hari.Metoda :Jenis penelitian cross sectional, dilakukan di instalasi rekammedis RSUP dr. Kariadi dengan mengambil data pasien yang dirawat di Unit Stroke selamabulan Januari-September 2017. Jumlah subyek sebanyak 71 subyek dipilih secara acaksederhana, kemudian diambil data identitas pasien, lama pencapaian target energi, lama masarawat. Uji beda dilakukan untuk mengetahui perbedaan lama masa rawat antara pencapaintarget energi ? 3 hari dengan >3 hari.Hasil :Sebagian besar pencapaian target energi yaitu 3hari (SB : 1,37). Lama pencapaian target energi ? 3 hari yaitu 81,7%. Terdapat perbedaanlama masa rawat antara pencapaian target energi ? 3 (mean : 13,0) dengan > 3 hari (mean :15,3; p mann whitney 0,60) Simpulan : Pencapaian target energi ? 3 hari mempunyai masaperawatan lebih pendek diantara pasien stroke.Kata kunci : lama pencapaian target energi, lama masa rawat, malnutrisi, stroke
HUBUNGAN LAMA PEMBERIAN TERAPI ANTI RETROVIRAL DENGAN KOMPOSISI TUBUH PADA PASIEN HIV Mulyati, Muji; Subagio, Hertanto Wahyu; Udji, Muchlis Achsan
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 5, No 2 (2017): JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.278 KB) | DOI: 10.14710/jnh.5.2.2017.129-137

Abstract

Latar belakangPerkembangan terapi anti retroviral ARV telah mengurangi angka kematian penderita HIV. Perubahan komposisi tubuh dan metabolik yang terjadi dapat menyebabkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan hiperglikemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lama pemberian terapi ARV dengan komposisi tubuh pada pasien HIV.MetodePenelitian ini merupakan penelitian korelasional. Subjek penelitian adalah Pasien usia > 19 tahun yang menderita HIV dan mendapatkan terapi ARV di poliklinik VCT RSUP Dr. Kariadi Semarang pada 26 September ? 26 Oktober 2016. Pasien dianamnesis untuk melengkapi data identitas, pemeriksaan lipodistrofi dan pengukuran menggunakan BIA untuk menghitung massa lemak tubuh.HasilAnalisis statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (p=0,018) antara usia dengan komposisi tubuh (presentase lemak tubuh). Sementara variabel lama terapi ARV tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan komposisi tubuh. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama pemberian terapi ARV dengan lipodistrofi pada pasien HIV dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lipodistrofi dengan komposisi tubuh pada pasien HIV.SimpulanTidak terdapat hubungan yang bermakna antara lipodistrofi dengan komposisi tubuh pada pasien HIV.Kata kunci: HIV, komposisi tubuh, lipodistrofi
PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENUNGGU PASIEN TENTANG KECUKUPAN ASUPAN MAKANAN RAWAT DI RSUP DR KARIADI Nurrohmiati, Siti; Subagio, Hertanto Wahyu; Murbawani, Etisa Adi
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 7, No 1 (2019): JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.293 KB) | DOI: 10.14710/jnh.7.1.2019.14-23

Abstract

Background: Malnutrition remains a health problem in either developed and developing countries, caused by a variety of individuals and factors related to the disease. Caretaker/family support to help patient's intake, the attitude of the team manager of the patient, the procedure of advance examination, is an important factor to improve inpatients intake. But the association of knowledge, attitudes, and behavior patient's caretaker to the adequacy of inpatients food intake not yet unknown.Methods: This research is association research, performed at the Rajawali ward at dr. Kariadi Hospital with a total sample of at least 50 people. The measurement of knowledge, attitudes, and behaviors of patient's caretaker use detailed questionnaire. The answer of the respondent's questionnaire or interview processed by computer software to know the depth and the association between the variables.Results: Most of the respondents are women and 1,5 times than men. The age of respondents mostly above 50 years old (32%). Most of them are primary school graduates (39,3%). 76% of Respondent's income are less than 2,3 million rupiah. 55,4% are married. The level of respondent's knowledge about patient's food intake shows a good level of knowledge. Respondent's attitude regarding patient's food intake shows positive attitude about nutrition and adequacy of patient's food intake. Respondent's behaviour regarding patient's food intake shows a good result.Conclusion: a good knowledge influence a positive attitude, a positive attitude related to the behavior to the adequacy of patient's food intake, while the level of knowledge was not significantly related to the behavior of the adequacy of patient's food intake.Keywords: knowledge, attitude, behavior, patient?s caretaker, food intake.
PERBANDINGAN SKRINING GIZI KARIADI (SGK) DENGAN SUBJEKTIVE GLOBAL ASSESSMENT (SGA) PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DR KARIADI (RSDK) SEMARANG Wijayanto, Wijayanto; Subagio, Hertanto Wahyu
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 5, No 1 (2017): JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.018 KB) | DOI: 10.14710/jnh.5.1.2017.45-49

Abstract

Latar Belakang:Skrining gizi pada pasien di rumah sakit secara umum dipakai menggunakan Subjective Global Assessment (SGA), namun skrining dengan SGA mempunyai kelemahan yaitu memerlukan waktu yang lama dan keahlian khusus dari pemeriksa. Di RSDK telah dikembangkan Skrining Gizi Kariadi (SGK) yang diturunkan dari SGA namum memiliki waktu skrining yang lebih cepat (3-5 menit) Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kesesuaian SGK dengan SGA.Metode:Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan pada tahun 2016 di RSDK Semarang. Sebanyak 100 pasien rawat jalan dari poliklinik bedah dan penyakit dalam yang dipilih secara acak dijadikan sampel penelitian. Satus gizi pasien diukur menggunakan SGK dan SGA. Hasil pengukuran berdasarkan SGK dan SGA kemudian dibandingkan untuk melihat kesesuaian antara kedua metode tersebut.Hasil:Berdasarkan SGK: pasien dengan malnutrisi ringan/sedang berjumlah 52 orang (52 %), pasien dengan malnutrisi berat berjumlah 48 orang (48 %).Berdasarkan SGA: pasien tidak berisiko malnutrisi berjumlah 38 orang (38 %), pasien berisiko malnutrisi ringan/sedang berjumlah 32 orang (32 %), pasien malnutrisi berat berjumlah 30 orang (30 %).Simpulan:Kesesuaian hasil SGK dengan SGK didapatkan: pasien berisiko malnutrisi ringan/sedang berjumlah 18 orang (18 %), pasien malnutrisi berat berjumlah 27 orang (27 %), dengan jumlah total kesesuaian hasil SGK dengan SGA berjumlah 45 orang (45 %).Kata kunci: SGA, status gizi, skrining 
KORELASI LINGKAR LEHER DENGAN PERSENTASE LEMAK TUBUH PADA OBESITAS Yuliyani, Ni Nyoman Sri; Subagio, Hertanto Wahyu; Murbawani, Etisa Adi
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 5, No 3 (2017): JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.483 KB) | DOI: 10.14710/jnh.5.3.2017.138-145

Abstract

 Latar belakang : lingkar leher merupakan pengukuran antropometri yang relatif baru yang menggambarkan lemak subkutaneus tubuh bagian atas serta berkorelasi dengan obesitas dan sindrom metabolik. Lemak tubuh total pada obese memiliki hubungan dengan kelainan metabolik. Pengukuran lemak tubuh total pada obese secara sederhana belum banyak diteliti terutama korelasinya dengan lingkar leher.Tujuan : menentukan korelasi lingkar leher dengan persentase lemak tubuh total pada obesitas.Metode penelitian : penelitian korelasional ini melibatkan subyek obese dan normoweight sebanyak 186 perawat di RSUP Dr. Kariadi Semarang dari bulan Juni-Juli 2017 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dilakukan pengukuran lingkar leher dan pengukuran lemak tubuh total, lemak viseral dan lemak subkutaneus whole body menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). uji hipotesis menggunakan korelasi sederhana.Hasil : Rerata lingkar leher subyek obese dan normoweight adalah 36±1,8 cm dan 31,9±2,1 cm. Terdapat korelasi bermakna antara lingkar leher dengan lemak total tubuh (r=0,310; p=0,002), lemak viseral (r=0,543; p=0,000) dan lemak subkutaneus whole body (r=0,492; p=0,000) pada sampel obese..Simpulan : terdapat korelasi bermakna antara besarnya lingkar leher dengan lemak tubuh total, lemak viseral dan lemak subkutaneus whole body.Kata kunci : lingkar leher, lemak tubuh total, lemak viseral, lemak subkutaneus whole body
ADDUCTOR POLLICIS MUSCLE THICKNESS SEBAGAI PREDIKTOR SKELETAL MUSCLE MASS PADA PASIEN HEMODIALISIS Ahmad, Ali Manfaluthi; Subagio, Hertanto Wahyu; Sukmadianti, Amalia; SS, Darmono; Murbawani, Etisa Adi
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 8, No 2 (2020): JNH (JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnh.8.2.2020.57-65

Abstract

Latar belakang: Kondisi GGK & tindakan hemodialisis dapat menurunkan skeletal muscle mass (SMM) dan mempengaruhi survival pasien. SMM tidak diukur secara rutin karena keterbatasan alat pemeriksaan. Adductor Pollicis Muscle Thickness (APMT) adalah pemeriksaan antropometri yang relatif mudah, murah, tidak invasif serta berasosiasi positif dengan SMM. APMT diharapkan dapat menjadi alternatif pengukuran SMM.Tujuan : Menganalisis APMT sebagai prediktor SMM pada pasien hemodialisisMetode penelitian : Penelitian korelasional melibatkan pasien GGK yang menjalani hemodialisis sebanyak 50 subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Massa otot diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), APMT diukur menggunakan Kaliper Harpenden, dan performa fisik diukur berdasarkan international physical activity questionnaire (IPAQ). Uji hipotesis menggunakan korelasi  dan analisis regresi linier bivariat & multivariat untuk nilai prediksi.Hasil : Terdapat korelasi positif antara APMT dengan SMM pada kelompok subyek pria (r=0.793 p< 0.001) & wanita (r=0.848; p < 0.001). Usia tidak berkorelasi dengan SMM pada kelompok subyek pria (r = 0.34); p = 0.864) dan berkorelasi negatif pada wanita (r= -0.600, p< 0,05), sementara aktivitas fisik berkorelasi positif dengan SMM  pada kelompok subyek pria (r=0.655, p< 0.001) & wanita (r=0.470, p < 0.05). APMT dapat digunakan untuk memperkirakan nilai SMM pada kelompok subyek pria  (R2 = 0.546; p < 0.001) dan wanita (R2 = 0.719; p < 0.001).Simpulan: APMT dapat digunakan sebagai prediktor SMM pada pasien hemodialisis menggunakan formula prediksi SMM = -5.708 + 1.5 x DAPMT (pria) & SMM = -2.86 + 1.32 x DAPMT (wanita).Kata kunci : GGK, Hemodialisis, SMM, APMT
KORELASI DEFISIT ENERGI DAN PROTEIN DENGAN LAMA RAWAT PASIEN SAKIT KRITIS DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU) Setiawan, Jennifer; Puruhita, Niken; Fasitasari, Minidian; Subagio, Hertanto Wahyu; Murbawani, Etisa Adi
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 8, No 2 (2020): JNH (JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnh.8.2.2020.100-108

Abstract

Latar Belakang : Asupan yang inadekuat dan hiperkatabolisme merupakan faktor risiko malnutrisi pasien ICU yang berkaitan dengan outcome yang buruk. Terdapat kontroversi mengenai risiko dan manfaat pemberian energi dan protein pada pasien sakit kritis.Tujuan : Menganalisis korelasi antara defisit energi dan protein dengan lama rawat pasien bedah di ICU.Metode penelitian : Penelitian korelasional dengan subjek penelitian adalah pasien bedah di ICU dengan usia ? 18 tahun dan mendapatkan terapi gizi enteral maupun parenteral oleh dokter spesialis Gizi Klinis. Pasien readmisi atau meninggal saat perawatan dieksklusikan dari penelitian ini. Defisit energi dihitung sebagai jumlah selisih antara energi yang dipreskripsikan dan energi yang diberikan. Defisit protein dihitung dengan cara yang sama.Hasil : Lima puluh subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Rerata defisit energi 1350 ± 862,8 kkal dan defisit protein 96 ± 57,0 gram. Terdapat korelasi positif bermakna antara defisit energi (r = 0,586; p <0,001) dan defisit protein (r = 0,639; p <0,001) dengan lama rawat di ICU.Simpulan : Defisit energi dan protein berkorelasi dengan lama rawat pasien bedah di ICU. Defisit protein berkorelasi lebih kuat daripada defisit energi dengan lama rawat di ICU. Kata kunci : defisit energi, defisit protein, lama rawat, sakit kritis, pasien bedah