Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Evidence-based Medicine dalam Pelayanan Penyakit Dalam Subekti, Imam
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan masalah di bidang kedokteran, tidak terkecuali di bidang Penyakit Dalam, mengharuskan seorang dokter yang berkecimpung di pelayanan penyakit dalam untuk terus mengembangkan diri. Ada dua aspek penting yang terkandung di dalam pengertian "mengembangkan diri". Pada satu sisi, seorang dokter harus secara aktif menelaah dan meneliti, diawali dengan membuat pertanyaan untuk masalah kedokteran dari fenomena yang ada di pelayanan kedokteran sehari-hari, membuat hipotesis untuk memberikan jawaban sementara terhadap pertanyaan, dan selanjutnya membuktikan kebenaran yang digagasnya.
Evidence-based Medicine dalam Pelayanan Penyakit Dalam Subekti, Imam
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.059 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v1i1.30

Abstract

Perkembangan masalah di bidang kedokteran, tidak terkecuali di bidang Penyakit Dalam, mengharuskan seorang dokter yang berkecimpung di pelayanan penyakit dalam untuk terus mengembangkan diri. Ada dua aspek penting yang terkandung di dalam pengertian "mengembangkan diri". Pada satu sisi, seorang dokter harus secara aktif menelaah dan meneliti, diawali dengan membuat pertanyaan untuk masalah kedokteran dari fenomena yang ada di pelayanan kedokteran sehari-hari, membuat hipotesis untuk memberikan jawaban sementara terhadap pertanyaan, dan selanjutnya membuktikan kebenaran yang digagasnya.
Hubungan Status Tiroid dengan Intoleransi Glukosa pada Pasien Hipertiroid Wisnu, Wismandari; Soewondo, Pradana; Subekti, Imam
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.378 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v5i1.175

Abstract

Pendahuluan. Diabetes melitus (DM) dan penyakit tiroid adalah dua kelainan endokrinopati yang paling sering ditemukan pada populasi dewasa. Hipertiroid akan memperburuk kontrol glukosa darah dan meningkatkan kebutuhan insulin. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan status tiroid dengan kejadian intoleransi glukosa pada pasien hipertiroid dan membandingkannya dengan pasien hipertiroid yang telah mencapai status klinis eutiroid dan populasi normal.Metode. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada pasien hipertiroid rawat jalan dengan status hormonal hipertiroid, pasien hipertiroid dengan status hormonal eutiroid/hipertiroid subklinis dan subjek sehat dengan matching terhadap jenis kelamin dan  umur. Dilakukan pemeriksaan FT4 dan TSH serta TTGO dengan 75 gram glukosa pada jam ke 0 dan ke 2. Sedangkan resistensi insulin ditentukan berdasarkan perhitungan insulin puasa dan Homeostatis Model Assessment-Insulin Resistance. Analisis dilakukan dengan program SPSS 20.0 for windows.Hasil. Penelitian ini mengumpulkan 114 subjek yang terdiri dari 40 pasien hipertiroid, 40 pasien eutiroid/hipertiroid subklinis, dan 34 sukarelawan sehat. Angka kejadian intoleransi glukosa pada kelompok Hipertiroid adalah 52,5% (10% DM, 32,5% toleransi glukosa terganggu (TGT), dan 10% glukosa darah puasa terganggu (GDPT)). Sedangkan, pada kelompok Eutiroid/Hipertiroid Subklinis adalah 20% (5% DM, 15% TGT, dan 0% GDPT) dan pada kelompok sukarelawan sehat adalah 11,8% (0% DM, 8,8% TGT, dan 2,9% GDPT). Hasil analisis menunjukkan bahwa intoleransi glukosa pada kelompok hipertiroid berbeda bermakna dibandingkan kelompok Eutiroid/Hipertiroid Subklinis (p=0,002). Sementara itu, hubungan antara status klinis tiroid dengan intoleransi glukosa pada kelompok tanpa resistensi insulin juga bermakna secara klinis maupun statistik (p=0,004).Simpulan. Terdapat hubungan bermakna antara status tiroid dengan kejadian intoleransi glukosa pada pasien hipertiroid dan pasien hipertiroid yang status klinisnya sudah eutiroid/hipertiroid subklinis mempunyai risiko yang sama dengan orang sehat untuk terjadinya intoleransi glukosa. Kata Kunci: Hipertiroid, Intoleransi glukosa, Resistensi InsulinAssociation between Thyroid Status and Glucose Intolerance in Hyperthyroid PatientsIntroduction. The most common endocrinopathy in adults are diabetes mellitus (DM) and thyroid disease. Hyperthyroidism decreases blood glucose control and increased the need of insulin. However, the mechanism of abnormal glucose metabolism in hyperthyroidism is not fully understood. This study aims to determine the relationship of thyroid status with incidence of glucose intolerance in hyperthyroid patients compared to hyperthyroid patients who have achieved clinical status of eutyroid and normal population.Methods. This study was cross sectional design in outpatients with hyperthyroidism in hyperthyroid and euthyroid/subclinical hyperthyroid status, and healthy volunteers who had matching age and sex. An oral glucose test and Homeostatic Model Assesment Insulin Resistance was performed after the diagnosis of hyperthyroidism by FT4 and TSH measurement. Data analysis was performed using SPSS for Windows version 20.0.Results. There were 114 eligible patients (40 case hyperthyroid, 40 case euthyroidism/subclinical hyperthyroidism and 34 healthy subjects). Proportion of glucose intolerance in hyperthyroidism is 52,5% (10% DM,  32,5%  impaired glucose tolerance (IGT), and 10% impaired fasting glucose (IFG)), in  euthyroidism/subclinical hyperthyroidism was 20% (5% DM, 15% IGT, and 0% IFG), and in healthy subjects was 11,8% (0% DM, 8,8% IGT, and 2,9% IFG). Glucose intolerance in hyperthyroidism was significantly different than euthyroidism/subclinical hyperthyroidism (p=0.002). We also found that the association between thyroid status and glucose intolerance in the group without insulin resistance was significantly different (p=0.004). Conclusions. Our study conclude that there is association between hyperthyroidism and glucose intolerance. Hyperthyroid patients in euthyroidism/subclinical hyperthyroidism status have the same risk as the healthy subject to became glucose intolerance.
Hubungan antara Rasio Neutrofil Limfosit dengan Kejadian Penyakit Arteri Perifer Ekstremitas Bawah pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 Wibisana, Krishna Adi; Subekti, Imam; Antono, Dono; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.007 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v5i4.227

Abstract

Pendahuluan. Penyakit arteri perifer (PAP) ekstremitas bawah merupakan salah satu komplikasi makrovaskular DM tipe 2 yang memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Proses inflamasi telah diketahui berperan dalam terjadinya PAP pada penyandang DM tipe 2. Rasio neutrofil limfosit atau neutrophil lymphocyte ratio (NLR) telah digunakan sebagai penanda inflamasi kronik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara NLR dengan kejadian PAP ekstremitas bawah pada penyandang DM tipe 2 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.Metode. Studi potong lintang dilakukan pada subjek penyandang DM tipe 2 yang menjalani pemeriksaan ankle brachial index (ABI) di poliklinik divisi Metabolik Endokrin RSCM periode Oktober 2015 – September 2016. Didapatkan 249 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dilakukan pengambilan data sekunder dari rekam medis mengenai data ABI, NLR, data demografik serta faktor perancu. Subjek dinyatakan menderita PAP ekstremitas bawah jika memiliki nilai ABI ≤ 0,9 dengan pemeriksaan probe doppler. Data NLR kemudian dikategorikan berdasarkan median nilai NLR dan dicari hubungan nilai NLR dengan kejadian PAP ekstremitas bawah. Uji chi square digunakan untuk analisis bivariat dan regresi logistik digunakan untuk analisis multivariat.Hasil. Penyakit arteri perifer ekstremitas bawah ditemukan pada 36 subjek (14,5%). Didapatkan nilai median NLR total sebesar 2,11. Nilai median NLR didapatkan lebih tinggi pada kelompok PAP daripada tanpa PAP (2,46 vs. 2,04). Terdapat hubungan yang bermakna antara nilai NLR ≥ 2,11 dengan kejadian PAP ekstremitas bawah pada penyandang DM tipe 2 (PR 2,46, IK 95% 1,23 – 4,87; p=0,007). Dengan menggunakan uji regresi logistik, diketahui bahwa hipertensi merupakan variabel perancu.Simpulan. Terdapat hubungan antara rasio neutrofil limfosit dengan kejadian penyakit arteri perifer ekstremitas bawah pada penyandang DM tipe 2 di RSCM.Kata Kunci: Diabetes melitus tipe 2, Inflamasi kronik, Penyakit arteri perifer ekstremitas bawah, Rasio neutrofil limfosit Relationship between Neutrophil Lymphocyte Ratio and Lower Extremity Peripheral Artery Disease in Patients with Type 2 Diabetes MellitusIntroduction. Lower extremity peripheral artery disease (PAD) is one of diabetic macrovascular complication which has high rate of morbidity and mortality. Chronic inflammation has been known to have a role in the pathogenesis of PAD in diabetic patient. Recently, neutrophil lymphocyte ratio (NLR) has been used as a marker of chronic inflammation. This study aimed to determine the relationship between neutrophil lymphocyte ratio and lower extremity peripheral artery disease in type 2 diabetic patient in Cipto Mangunkusumo hospital. Methods.  A cross sectional study was conducted on 249 patients with type 2 diabetes mellitus who underwent ankle brachial index (ABI) examination at Metabolic and Endocrinology Divison in Cipto Mangunkusumo Hospital between October 2015 – September 2016. The data were retrospectively collected from medical record. Lower extremity PAD was defined as having ABI value ≤ 0,9 by probe Doppler examination. Neutrophil lymphocyte ratio was categorized based on the median value and the relationship with lower extremity PAD were determined. Chi square test was used for bivariate analysis and logistic regression was used for multivariate analysis against confounding variables. Results. Lower extremity peripheral artery disease was found in 36 subject (14.5%). Median of NLR was 2.11. The median value of NLR was found higher in subjects with lower extremity PAD than without PAD (2.46 vs 2.04). There was an association between NLR value ≥ 2.11 and lower extremity PAD in type 2 diabetic patient (p=0.007; PR 2.46 and 95% CI 1.23 – 4.87). By using logistic regression, it was known that hypertension was the confounding variable. Conclusion. There is an association between neutrophil lymphocyte ratio and lower extremity peripheral artery disease in type 2 diabetic patients in Cipto Mangunkusumo Hospital. 
Co-Authors -, Rosidi Abdul Aziz Rani Abdul Ghofar Aditya Pramudita Ali I. Mukhsin Alshrife, Fouad Mohammed Andriyanto, Dicky Ari Fahrial Syam Asman B. Ranakusuma Aulia Fuad Rahman Bambang Purnomosidhi Bambang Subroto Dante S Harbuwono, Dante S Dante S. Harbuwono Dante Saksono Harbuwono, Dante Saksono Denissa Nadya Tiffany Dewiruna, Intansari Diah Martina, Diah Dono Antono Dyah Puspasari, Dyah Edhi Martono Edy Suandi Hamid Ellis Afri Zumaila Em Yunir, Em Endang Mardiati Esthika Dewiasty, Esthika Fajar Lazuardi Sofwan Fakhriyyah, Dewi Diah Fariz Hermawan Fuad, Aulia Gracia Masita Hari Hendarto, Hari Indah Putri Utami Inke Livia Jacobus Albertus Komarudin Achmad Krisdiantoro, Yuyut Krishna Adi Wibisana, Krishna Adi Kurniasari Novi Hardanti Laurentius A Pramono, Laurentius A Laurentius A. Pramono Laurentius Aswin Pramono Maksum, Umar Malawat, Fadli Fendi Malawat, Fadli Fendi Marcellus Simadibrata Meliana Octavia, Meliana Mohamad Fadhli Azhmi Murdani Abdullah Nadia Damayanti Nesi, Antonius Noval Adib Novita Ayu Chandra Dewi Novita Dewi ONIZ ULFA PERMATA Pradana Soewondo Pramuki, Ni Made Wisni Arie Pratiwi, Eva Fauzia Dian Prima Ramdani Ariesty Pringgodigdo Nugroho, Pringgodigdo Priyatna Bagus Susanto Purnamasari, Fitri Putri, Ronasari Mahaji Ramadhani, Ranita Rifqi, Robith Abdullah Rino Alvani Gani Rosidi Rosidi Sari Atmini Sarwono Waspadji Sidartawan Soegondo Slamet Suyono Suharko Soebardi Sulistianingtyas, Veronica Sutrisno sutrisno Taniawati Supali Totallia, Yayuk Tri J.E. Tarigan Unti Ludigdo Vajriyanti, Eva Wardani, Pramita Sukma Widya, Yeney Wismandari Wisnu Yeney Widya Prihatiningtias Yessica Natalia Yuro Bimo Kusumo Zaki Baridwan