Articles

Found 26 Documents
Search

Implementasi Layanan Buku TTG Oleh Perpustakaan Desa dan TBM di Pedesaan Yusup, Pawit Muhammad; Subekti, Priyo; Rohanda, Rohanda
MIMBAR (Jurnal Sosial dan Pembangunan) Volume 32, No. 1, Year 2016 [Accredited by Ristekdikti]
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mimbar.v32i1.1432

Abstract

The problem of poverty in rural areas cannot be separated from the following aspects: poverty, lack of education facilities, low level of entrepreneurial skills, health, lack of learning facilities, population distribution, infrastructure and facilities are inadequate, access to information, and other aspects that are still limited. The Village Library and Community Library as part of the affordable infrastructure and learning facilities are, not yet available in every village. This study tried to introduce pilot models Appropriate Technology Implementation Services Book through Rural Libraries and the community library to a number of poor people in the village. The result could contribute in improving the skills of a number of rural poor in entrepreneurship-based reading. This service models can be applied in other similar villages. 
PERAN HUMAS DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN PANTAI PANGANDARAN SEBAGAI EKOWISATA MELALUI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PANGANDARAN Komariah, Kokom; Subekti, Priyo
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.476 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v4i2.7741

Abstract

Pangandaran merupakan pantai yang diproyeksikan untuk dijadikan tempat wisata nasional oleh pemerintah kabupaten Pangandaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran humas dalam pengembangan pantai Pangandaran sebagai ekowisata melalui kearifan lokal masyarakat Pangandaran. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan data kualitatif dan sample purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humas pemerintah berperan sebagai mediator dan fasilitator antara pemerintah dengan masyarakat dengan mengggunakan: komunikasi antarpersonal (menggunakan trik trik komunikasi secara psikologis); pendekatan Humas dengan komunikasi terbuka antara pemerintahan dengan masyarakat, dengan menggunakan opinion leader (tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh keamanan); pendekatan media yaitu promosi melalui media massa terutama media cetak; melakukan hubungan baik dengan media (media relations) dengan wartawan dari berbagai media melalui sebuah kerja sama resmi melalui MoU. Humas Kabupaten Pangandaran memanfaatkan berbagai saluran komunikasi untuk mensosialisasikan program pemerintahnya terkait dengan pembentukan Pangandaran sebagai ekowisata dan sentral wisata pantai di Jawa Barat DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.5
KONSTRUKSI MAKNA BISINDO SEBAGAI BUDAYA TULI BAGI ANGGOTA GERKATIN Gumelar, Gilang; Hafiar, Hanny; Subekti, Priyo
Informasi Vol 48, No 1 (2018): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.423 KB) | DOI: 10.21831/informasi.v48i1.17727

Abstract

This research try to investigate the using of language by deaf. The theory used in thisresearch is the theory of Phenomenology Schutz. This research used constructivismparadigm with Phenomenology as the kind of research. Data collection techniques thatused are in-depth interviews, participatory observation, and the study of librarianship,the collecting techniques of key informants by snowball sampling. While the dataanalysis techniques using three stages, the first is reduction, the second is rendering,and the third is the withdrawal of the conclusion. Validity of data uses triangulationtechniques sources and triangulation techniques. The results of this research showthat the meaning of Bisindo as Deaf Culture for the informants who are the memberof DPC Gerkatin Jawa Barat, is categorized as affirmative meaning. The meaning of theaffirmative that is owned by the informants is when the informants consider that Bisindoas Deaf Culture, is an interest and pride. The study also found motifs belonging to theinformants in lifting the existence of Bisindo as Deaf Culture, not only the cause-motifbut also the purpose-motif. The informant’s experience, include the early experience inhow they get interest to Bisindo, the experience of using Bisindo, and the experienceto raise the existence of Bisindo as Deaf Culture that finally those communicationexperiences affect the way informants in conducting follow-up. Penelitian ini mengkaji tentang bahasa yang digunakan kaum tuli. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fenomenologi Schutz. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan jenis penelitian fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi kepustakaan, dengan teknik pengumpulan key informant dengan cara snowball sampling. Sedangkan teknik analisis data menggunakan tiga tahap, yaitu reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa makna Bisindo sebagai Budaya Tuli bagi para informan yang merupakan anggota Gerkatin DPC Jawa Barat dikategorikan sebagai makna afirmatif. Makna-makna afirmatif yang dimiliki para informan adalah ketika informan menganggap Bisindo sebagai Budaya Tuli adalah sebuah kepentingan dan kebanggaan. Penelitian ini juga menemukan motif-motif yang dimiliki informan dalam mengangkat eksistensi Bisindo sebagai Budaya Tuli, baik itu motif sebab atau motif tujuan. Adapun pengalaman yang dimiliki informan, meliputi pengalaman awal ketertarikan pada Bisindo, pengalaman menggunakan Bisindo, dan pengalaman mengangkat eksistensi Bisindo sebagai Budaya Tuli yang akhirnya pengalaman komunikasi tersebut mempengaruhi cara informan dalam melakukan tindak lanjut
MEMAKNAI KEMISKINAN BERDASARKAN PANDANGAN ORANG MISKIN PEDESAAN Silvana, Tine; Yusup, Pawit M; Subekti, Priyo
Edulib Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Edulib

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractRural poverty can be understood as a social condition of a person, or a group of people who were associated with aspects of economic and non-economic aspects. Scientific aspects such as social, cultural, health, education, psychology, the environment, law, anthropology, and art, was often associated with poverty. Nevertheless, the notion of poor and rural poverty is, in general, is still viewed by researchers perspective, rather than emic, ie see something from the perspective of the participant. This study took part of the effort to comprehensively understand the meaning of poor and poverty in the eyes of the poor, especially in rural areas, roomates point is on how to map view of rural poor people in hopes of interpreting experience of livelihood as poor in underlying survival living. By using a qualitative study approach, especially the tradition of phenomenology of Schutz, obtained a description of the results, that the meaning of poor and poverty, in phenomenology, containing context, such as: context ownership; contexts effort and trial and error; contexts powerlessness; contexts outside assistance; independence in the context of compulsion; contexts unattainable expectations; context of the struggle; context of limited access to information; contexts low curiosity; contexts simplicity needs; problems humiliation context; and context sensitivity in social communication.Keywords: Meaning poor, Poverty, Rural AbstrakKemiskinan di pedesaan dapat dipahami sebagai suatu kondisi sosial seseorang, atau sekelompok orang yang terkait dengan aspek-aspek ekonomi dan non-ekonomi. Aspek ilmiah seperti sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, psikologi, lingkungan, hukum, antropologi, dan seni, yang sering dikaitkan dengan kemiskinan. Namun demikian, gagasan tentang kemiskinan dan pedesaan, secara umum, masih dilihat dari perspektif peneliti, bukan emik, yaitu melihat sesuatu dari perspektif partisipan. Penelitian ini mengambil bagian dari upaya untuk secara komprehensif memahami makna miskin dan kemiskinan di mata masyarakat miskin, terutama di daerah pedesaan, which titik adalah bagaimana memetakan pandangan masyarakat miskin pedesaan dengan harapan pengalaman yang menafsirkan mata pencaharian sebagai masyarakat miskin untuk bertahan hidup. Dengan menggunakan pendekatan studi kualitatif, khususnya tradisi fenomenologi Schutz, diperoleh gambaran hasil, bahwa makna miskin dan kemiskinan, dalam fenomenologi, mengandung konteks, seperti: kepemilikan konteks; Upaya konteks dan trial and error; Ketidakberdayaan konteks; konteks di luar bantuan; kemerdekaan dalam konteks paksaan; konteks harapan tercapai; konteks perjuangan; konteks terbatasnya akses terhadap informasi; konteks rasa ingin tahu yang rendah; kesederhanaan konteks kebutuhan; konteks masalah penghinaan; dan sensitivitas konteks komunikasi sosial.Kata Kunci : Makna kemiskinan, Kemiskinan, Desa
MEMETAKAN LINGKUP INFORMASI PENGHIDUPAN ORANG MISKIN PEDESAAN Subekti, Priyo; Yusup, Pawit M.; Rachmawati, Tine Silvana
Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.619 KB) | DOI: 10.24198/jkip.v1i1.9607

Abstract

This study aims to map out the scope of information the livelihoods of the rural poor, which include: the type of major need, the search pattern related information specific type of job, the variety of information livelihoods are looking for, the relationship between the rural poor, sources of information, channel information, and the nature of sources and channels of information in question. By using qualitative methods, especially the tradition of phenomenology of Schutz, the result that: (1) the type of the primary needs of the rural poor consist of food, clothing, shelter, health, and education are very simple; (2) a variety of livelihood information sought by the rural poor who work odd nature, derived from the interpersonal sources that are informal, with a limited scope, ie, neighbors, relatives, customers, and the kind of fellow workers; (3) the source and drain are derived from official media and technology based, hardly ever used; and (4) The formal elements that come from the government side, barely touched the interests of the rural poor.Penelitian ini bertujuan untuk memetakan lingkup informasi penghidupan orang miskin pedesaan, yang meliputi: jenis kebutuhan utama, pola pencarian informasi terkait jenis pekerjaan spesifik, ragam informasi penghidupan yang dicari, hubungan antar orang miskin pedesaan, sumber-sumber informasi, saluran informasi, dan sifat dari sumber dan saluran informasi dimaksud. Dengan menggunakan metode kualitatif khususnya tradisi fenomenologi dari Schutz, diperoleh hasil bahwa: (1) jenis kebutuhan utama orang miskin pedesaan terdiri atas kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan yang sangat sederhana; (2) beragam informasi penghidupan yang dicari oleh orang miskin pedesaan yang sifat pekerjaannya serabutan, berasal dari sumber orang secara interpersonal yang bersifat informal, dengan lingkup yang terbatas, yakni tetangga, kerabat, pelanggan, dan sesama pekerja sejenis; (3) sumber dan saluran yang berasal dari media resmi dan yang berbasis teknologi, hampir tidak pernah digunakan; dan (4) unsur-unsur formal yang datangnya dari sisi pemerintah, hampir tidak menyentuh kepentingan orang-orang miskin pedesaan.
MEMETAKAN LINGKUP INFORMASI PENGHIDUPAN ORANG MISKIN PEDESAAN Subekti, Priyo; Yusup, Pawit M.; Rachmawati, Tine Silvana
Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.619 KB) | DOI: 10.24198/jkip.v1i1.9607

Abstract

This study aims to map out the scope of information the livelihoods of the rural poor, which include: the type of major need, the search pattern related information specific type of job, the variety of information livelihoods are looking for, the relationship between the rural poor, sources of information, channel information, and the nature of sources and channels of information in question. By using qualitative methods, especially the tradition of phenomenology of Schutz, the result that: (1) the type of the primary needs of the rural poor consist of food, clothing, shelter, health, and education are very simple; (2) a variety of livelihood information sought by the rural poor who work odd nature, derived from the interpersonal sources that are informal, with a limited scope, ie, neighbors, relatives, customers, and the kind of fellow workers; (3) the source and drain are derived from official media and technology based, hardly ever used; and (4) The formal elements that come from the government side, barely touched the interests of the rural poor.Penelitian ini bertujuan untuk memetakan lingkup informasi penghidupan orang miskin pedesaan, yang meliputi: jenis kebutuhan utama, pola pencarian informasi terkait jenis pekerjaan spesifik, ragam informasi penghidupan yang dicari, hubungan antar orang miskin pedesaan, sumber-sumber informasi, saluran informasi, dan sifat dari sumber dan saluran informasi dimaksud. Dengan menggunakan metode kualitatif khususnya tradisi fenomenologi dari Schutz, diperoleh hasil bahwa: (1) jenis kebutuhan utama orang miskin pedesaan terdiri atas kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan yang sangat sederhana; (2) beragam informasi penghidupan yang dicari oleh orang miskin pedesaan yang sifat pekerjaannya serabutan, berasal dari sumber orang secara interpersonal yang bersifat informal, dengan lingkup yang terbatas, yakni tetangga, kerabat, pelanggan, dan sesama pekerja sejenis; (3) sumber dan saluran yang berasal dari media resmi dan yang berbasis teknologi, hampir tidak pernah digunakan; dan (4) unsur-unsur formal yang datangnya dari sisi pemerintah, hampir tidak menyentuh kepentingan orang-orang miskin pedesaan.
JEJARING KOMUNIKASI DALAM PENYEBARAN INFORMASI OBAT HERBAL DI KALANGAN PENGGUNA Komala, Lukiati; Hafiar, Hanny; Subekti, Priyo
J-IKA Vol 3, No 1 (2016): Jurnal J-IKA
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/kom.v3i1.908

Abstract

ABSTRAKSementara ini banyak orang beranggapan bahwa penggunaan tanaman obat atau obat tradisional relatif lebih aman dibandingkan obat sintesis. Walaupun demikian bukan berarti tanaman obat atau obat tardisional tidak memiliki efek samping yang merugikan, bila penggunaannya kurang tepat. Agar penggunaannya optimal, perlu diketahui informasi yang memadai tentang kelebihan dan kelemahan serta kemungkinan penyalahgunaan obat tradisional dan tanaman obat. Dengan informasi yang cukup diharapkan masyarakat lebih cermat untuk memilih dan menggunakan suatu produk obat tradisional atau tumbuhan obat dalam upaya kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana jejaring komunikasi dalam penyebaran informasi mengenai obat herbal pada masyarakat pengguna obat obatan herbal. Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan data kualitatif yang dikumpulkan melalui penyebaran angket terbuka, observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini antara lain: penyebaran informasi obat obatan herbal dalam jejaring komunikasi dalam komunitas pengguna obat obatan herbal, meliputi sumber yaitu keluarga, saudara, kerabat yang dikenal, teman, dan penjual jamu. Adapun pihak komunikasnnya meliputi: keluarga, saudara, teman, tetangga dan pembeli. Sedangkan usulan yang dapat disarankan adalah pemerintah sebagai pihak pengatur regulasi dan pelaksana kebijakan sebaiknya menambah media-media komuniasi guna penyebaran informasi yang tepat mengenai jamu, melalui pembuatan media-media yang disesuaikan dengan keterjangkauan masyarakat yang mengkonsumsi jamu di Indonesia, agar masyarakat dengan mudah dapat memperoleh pencerahan informasi, sehingga pemanfaatan jamu yang bersifat “katanya” dapat secara bertahap dikurangi untuk menghindari kesalahan informasi. Kata kunci: jejaring, komunikasi, obat herbal, tanaman obat.ABSTARCTMany people believe that herbal medicines or traditional medicines are relatively safer than synthetic medicine. But then, if it is not consumed properly, it is not safe to say that herbal or traditional medicines have no harmful side effects. To make sure an optimal consumption, adequate information on the benefit and disadvantage of herbal or traditional medicine is required to prevent the misuse of it. With adequate information, it is hoped that people would be more mindful in consuming the traditional or herbal medicine. The purpose of this research is to understand herbal medicine consumer communication network in information dissemination. Method of research applied is descriptive with qualitative data through open survey questionnaire, observation, and interviews. The findings of this research shows that information dissemination of herbal medicines sources includes: family, relatives, friends, and “jamu” sellers. While the communicator includes: family, relatives, friends, neighbours, and buyer. The suggestion coming from this research are: government as a regulatory and policymaking institution should increase the number of communication media for information dissemination on “jamu”. The communication media should be able to reach consumer of “jamu”, so that the public would receive information easily on the consumption, which gradually will reduce the misuse of “jamu” for the consumer. Keywords: network, communication, herbal medicine, medicinal plant
Proses Perencanaan Aktivitas Akun Media Sosial Instagram Perusahaanoleh Divisi Humas Taman Mini Indonesia Indah Akbar, Thoriq Nul; Hafiar, Hanny; Subekti, Priyo
Jurnal Riset Komunikasi Vol 8, No 1 (2017): JRK Vol 8 No 1 Juni 2017
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.627 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses perencanaan aktivitas akun media sosial Instagram yang dilakukan oleh Humas Taman Mini Indonesia Indah. Proses perencanaan aktivitas akun media sosial Instagram Taman Mini terdiri dari proses perencanaan penyampaian pesan (share), optimalisasi (optimize), pengelolaan (manage), dan management (keterlibatan) pada akun Instagram Taman Mini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan sifat penelitan data kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah keajegan penelitian dan triangulasi sumber. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses penyampaian pesan pada akun Instagram Taman Mini belum optimal karena target audiens belum spesifik. Optimalisasi belum optimal karena belum ada social media strategist yang bertanggungjawab penuh mengelola media sosial. Tidak adanya goals dan regulasi juga membuat aktivitas pengelolaan akun media sosial berjalan normatif. Proses perencanaan engagement dilakukan dengan membuat games interaktif, dan selebihnya masih dilakukan secara normatif. Peneliti memberikan saran kepada Taman Mini untuk mengklasifikasikan target audiens mereka terlebih dahulu agar penyampaian pesan lebih efektif. Taman Mini memerlukan peran social media strategist yang dapat bertanggungjawab penuh untuk mengelola media sosial agar aktivitas yang dilakukan dapat optimal. Taman Mini harus membuat goals dan regulasi yang menjadi acuan dalam menjalankan aktivitasnya agar lebih terarah dan mempermudah aktivitas evaluasi. Aktivitas engagement pada akun Instagram Taman Mini juga perlu dikembangkan demi menjaga interaksi dengan audiens mereka
MANAJEMEN INFORMASI SPECIAL EVENT HUTTEL 62 OLEH SMA NEGERI 3 JAKARTA Aulia, Syahidatia Chairunissa; Setianti, Yanti; Subekti, Priyo
Edulib Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edulib.v7i1.7546

Abstract

The purpose of this research is to know how to process information management special event conducted by organizers HUTTEL 62 ranging from research, design, planning, coordination, and evaluation in accordance with the concept special event belongs to Joe Goldblatt. Research methods a descriptive, qualitative data with the paradigm of positivism. The results of this study suggested that the management of the special event HUTTEL 62 categorized in five stages, namely research, design, planning, coordination, and evaluation. Research carried out in the form of informal research with secondary data searches ways be monitoring news coverage about SMA Negeri 3 Jakarta. Hasl research shows the overview of the situation of informing host HUTTEL 62 is the assumption that the community name of the example contained in the SMA Negeri 3 Jakarta not sesuaid with what happened at that school. The design of the color purple and blue created the Customize the theme carried HUTTEL 62 ‘ Return Teladanku ‘. Motion design elements and sounds indicated by performers in closing. 62 HUTTEL planning begins with setting goals to be achieved, namely restoring the image of ‘ exemplary ‘ to SMA Negeri 3 Jakarta Post acts of bullying incidents. Coordination is done by the Organizer HUTTEL 62 include coordination with internal and external parties the Committee involved in organizing HUTTEL 62. The communication is done by informal meetings and mandatory meetings and communications with online messenger. The evaluation was conducted to measure the achievement of HUTTEL 62, the evaluation is conducted in the Division and the Division of any series of events have been implemented and later serve as a report on liability. Hasl acquired evaluation of barriers in the internal Committee namely the barriers of communication and information in the internal Committee. A summary of this research menenujukan that special event management HUTTEL 62 made by SMA Negeri 3 Jakarta in conveying the message of anti bully hasn’t done effectively and optimally. 
Sajian Informasi Pelatihan Usaha Dalam Membentuk Sikap Peserta pada Program Melati Ashari, Muhammad Syahwal; Hafiar, Hanny; Subekti, Priyo
Edulib Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/edulib.v6i1.5000

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sajian informasi pelatihan usaha dengan sikap peserta pada Program Melati. Dinas Koperasi dan UMKN Kota Bandung melalukan berbagai upaya untuk mecapai target yang sudah ditentukan oleh pemerintah disamping mencari solusi untuk mengurangi ketergantungan pengusaha kecil terhadap rentenir sebagai sumber modal usaha, salah satunya adalah melakukan pelatihan – pelatihan terhadap calon – calon pengusaha yang berada di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis penelitian korelasional. Teori yang digunakan adalah Teori Integrasi Informasi dari Martin Fishbein. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan menggunakan rumus rank spearman. Sampel dari penelitian ini 95 orang dari 126 peserta kegiatan yang terambil dengan cara teknik sampling acak sederhana. Hasil dari penelitian ini menunjukan hubungan yang cukup berarti antara pelatihan usaha Dinas KUMKM dengan sikap peserta terhadap Program Melati. Valensi dan bobot informasi Pelatihan Usaha Dinas KUMKM Kota Bandung memiliki hubungan yang cukup berarti dengan sikap peserta terhadap Program Melati. Dinas KUMKM Kota Bandung seharusnya lebih memperhatikan penentuan alur informasi yang menyentuh keyakinan peserta terhadap kredit melati, dengan cara dapat mengikutsertakan pihak Bank yang menjadi rekanan pemerintah sebagai narasumber pelatihan.Kata Kunci: Informasi, Integrasi Informasi, Pelatihan Usaha, Sikap.Abstract.This study aims to determine the relationship between the grain business training information with the attitude of the participants of the Programme Budget. This study uses a quantitative type of correlational research. The theory used is the Information Integration Theory of Martin Fishbein. The analysis technique used is descriptive analysis and inferential analysis using Spearman rank formula. Samples from this study 95 of the 126 participants in the drawn by means of simple random sampling technique. The results of this study showed a significant relationship between the Office business training participants KUMKM attitude towards Program Budget. Valance and weight information KUMKM Business Training Department Bandung has a significant relationship with the attitude of the participants of the Programme Budget. KUMKM Office of Bandung should pay more attention to the determination of the flow of information that touches the confidence of participants to credit jasmine, by the way can engage the Bank who are the partners of the government as a training resource.Keywords: Information, Information Integration, Business Training, Attitude