Ujang Subhan
Sfat Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Padjadjaran

Published : 14 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Perikanan Kelautan

PEMATANGAN GONAD IKAN LELE DUMBO (CLARIAS GARIEPINUS) MENGGUNAKAN TEPUNG BIJI KECIPIR (PSOPHOCARPUS TETRAGONOLOBUS) DALAM PAKAN KOMERSIL Tondang, Hardiono; Rostika, Rita; Sari Yuliadi, Lintang Permata; Subhan, Ujang
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 10, No 1 (2019): Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. X No. 1/Juni 2019
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitin ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan jumlah pemberian tepung biji kecipir yang paling efektif untuk meningkatkan kematangan gonad ikan lele dumbo. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret-Juni 2017 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Jatinangor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lime perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan tepung biji kecipir sebanyak 0 %(Kontrol), 5 % per kg pakan, 6 % per kg pakan, 7 % per kg pakan dan penambahan vitamin E esencial sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung biji kecipir pada pakan dapat mempengaruhi tingkat kematangan gonad ikan lele dumbo melihat parameter Indeks Kematangan Gonad (IKG), diameter telur, fekunditas dan kelangsungan hidup larva ikan lele selama 4 hari. Dosis yang paling memberikan pengaruh terhadap ikan lele dumbo adalah penembahan tepung biji kecipir sebanyak 7 % per kg pakan dapat memberikan hasil terbaik terhadap ikan lelel dengan IKG rata-rata sebesar 17,00 %, fekunditas relatif 41933 per kg bobot induk, diameter telur 1.35 mm, dan kelangsungan hidup pada larva ikan lele selama 4 hari sebesar 97,32 %.
EFEKTIVITAS BERBAGAI MEDIA TANAM UNTUK MENGURANGI KARBON ORGANIK TOTAL PADA SISTEM AKUAPONIK DENGAN TANAMAN SELADA Firdaus, Muhamad Rakhman; Hasan, Zahidah; Gumilar, Iwang; Subhan, Ujang
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 9, No 1 (2018): Jurnal Perikanan Dan Kelautan Vol. IX No. 1 /Juni 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akuaponik adalah konsep pengembangan bio-integrated farming system, yaitu suatu rangkaian teknologi yang memadukan antara teknik budidaya perikanan dan teknik pertanian hidroponik. Air dari proses budidaya ikan yang masuk ke dalam wadah pemeliharaan tanaman akan digunakan kembali sebagai sumber air pada proses budidaya ikan. Air tersebut mengandung banyak bahan organik sehingga perlu diperhatikan dalam pengelolaan kualitas air budidaya. Karbon merupakan penyusun utama bahan organik. Bahan organik tersebut dapat diukur menggunakan pendekatan uji karbon organik total. Penelitian ini dilakukan di Greenhouse, Komplek Kolam Percobaan Ciparanje, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Jatinangor selama empat minggu. Percobaan dilakukan untuk menetapkan efisiensi media tanam terbaik dalam menurunkan konsentrasi karbon organik total di media air budidaya dan membuat pertumbuhan tanaman selada lebih baik. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari empat perlakuan dan empat kelompok. Media tanam yang diuji adalah batu apung dan arang sekam dengan perbandingan 3:1, batu apung dan arang sekam dengan perbandingan 1:3, seluruhnya batu apung, serta seluruhnya arang sekam. Pengamatan dilakukan pada minggu ke-0, 1, 2, 3 dan 4 selama empat minggu. Parameter yang diamati meliputi konsentrasi karbon organik total, amonia total, oksigen terlarut, pH, suhu, tinggi tanaman dan bobotnya, serta panjang ikan dan bobotnya. Hasil penelitian disimpulkan bahwa media tanam seluruhnya arang sekam memberikan hasil penurunan karbon organik total yang lebih baik dibandingkan seluruhnya batu apung hingga minggu kedua penelitian dan media tanam ini perlu diganti setiap dua atau tiga minggu sekali sejak penyemaian untuk mendapatkan produktivitas tanaman yang tinggi. Media tanam seluruhnya arang sekam memberikan pertambahan tinggi dan bobot selada terbaik yaitu masing-masing sebesar 18,6 cm dan 115,2 gram.  
EMBRIOGENESIS DAN KARAKTERISTIK LARVA PERSILANGAN IKAN PATIN SIAM (PANGASIUS HYPOPHTHALMUS) JANTAN DENGAN IKAN BAUNG (HEMIBAGRUS NEMURUS) BETINA -, Ardhardiansyah; Subhan, Ujang; Yustiati, Ayi
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan di kolam percobaan Ciparanje dan Laboratorium Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, mulai dari bulan Desember 2016 hingga Februari 2017. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perkembangan embriogenesis dan karakteristik perkembangan larva persilangan ikan patin siam jantan dengan ikan baung betina. Metode yang digunakan pada penelitian yaitu eksperimetal dengan analisis deskriptif kuantitatif yaitu dengan menganalisis tingkat keberhasilan hibridisasi. Derajat pembuahan pada ikan patin siam, ikan hibrid dan juga ikan baung masing-masing 92,57%, 91,47% dan 46,20%. Proses embriogenesis sampai dengan penetasan larva pada ikan patin siam lebih cepat dibandingkan dengan ikan hibrid dan juga ikan baung yaitu dengan waktu berturut turut yaitu 19 jam 40 menit, 21 jam 10 menit, dan 23 jam 30 menit. Derajat penetasan telur pada ikan patin, ikan hibrid dan juga ikan baung masing-masing 86,12%, 80,93% dan 56,16%. Derajat kelulushidupan ikan patin siam, ikan hibrid, dan juga ikan baung masing-masing 76,30%, 24,69% dan 51,61%. Karakteristik morfologi larva hibrid meliputi bentuk kepala, bentuk tubuh, bentuk sirip ekor dan sirip adipose cenderung intermediate yang merupakan perpaduan dari kedua indukan, sedangkan bentuk sirip anal, sirip dada, sirip punggung lebih mengarah kepada ikan baung. Abnormalitas pada larva ikan hibrid terjadi pada bagian tubuh dengan persentase larva yang abnormal sebesar 34,75%.
EFEK CEKAMAN SALINITAS RENDAH PERAIRAN TERHADAP KEMAMPUAN ADAPTASI UDANG VANAME (LITOPENAEUS VANNAMEI) Hadi, Faisal Rizki; Riyantini, Indah; Subhan, Ujang; Ihsan, Yudi Nurul
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 9, No 2 (2018): Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. IX No. 2 /Desember 2018
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan spesies euryhaline yang hidup di wilayah pesisir maupun laut. Spesies ini mampu bertahan pada wilayah dengan ekspos curah hujan dan siklus evaporasi sepanjang tahun yang akan berpengaruh pada fluktuasi salinitas dan suhu perairan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui dan mengkaji kemampuan adaptasi udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada media air yang mendapatkan perlakuan (salinitas) yang berbeda. Penelitian dilakukan di Laboratorium Basah dan Kolam Percobaan Ciparanje Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran, menggunakan 6 (enam) perlakuan berbeda. Udang vaname ditebar dalam akuarium dengan padat tebar awal sebanyak 20 ekor/akuarium. Setiap akuarium kemudian diberikan perlakuan berupa kontrol (32 ppt) dan perbedaan penurunan kadar salinitas (2 ppt/hari; 4 ppt/hari; 6 ppt/hari; 9 ppt/hari; dan 18 ppt/hari). Hasil penelitian menunjukkan udang mampu beradaptasi terhadap perubahan salinitas bertahap hingga 0 ppt dengan perlakuan (2 ppt/hari; 4 ppt/hari; dan 6 ppt/hari), ditunjukkan melalui sintasan yang bertahan di angka 100%. Sementara untuk perlakuan penurunan salinitas yang signifikan (9 ppt/hari dan 18 ppt/hari), udang kurang mampu beradaptasi, ditunjukkan dengan sintasan masing-masing 65% dan 35%. Respon udang pasca adaptasi terhadap cekaman salinitas rendah ditunjukkan dengan tingkat sintasan dari yang tertinggi ke rendah berturut-turut ditunjukkan pada perlakuan penurunan salinitas 9 ppt/hari; 18 ppt/hari; 4 ppt/hari; dan 6 ppt/hari. Sintasan lapangan yang diperoleh pada musim kemarau dan hujan tidak jauh berbeda. Kisaran sintasan di musim kemarau berada pada nilai 74,55% - 90,11%. Sedangkan selama musim hujan, sintasan udang berkisar antara 83,59% - 91,8%.