I Gusti Ngurah Sudisma
Bagian Klinik Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali

Published : 21 Documents
Articles

Found 21 Documents
Search

GAMBARAN TOTAL ERITROSIT, HEMOGLOBIN, DAN PACKED CELL VOLUME TIKUS PUTIH JANTAN SELAMA PEMBERIAN EKSTRAK PEGAGAN Indrawati, Vivi; Suartha, I Nyoman; Kendran, Anak Agung Sagung; Sudisma, I Gusti Ngurah
Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No.1 Pebruari 2013
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak pegagan terhadap total eritrosit, kadar hemoglobin, dan packed cell volume pada tikus putih jantan. Penelitian ini menggunakan 15 ekor tikus putih jantan dengan berat badan ± 300 gram dan umur 12 minggu. Tikus ini kemudian dibagi dalam 5 perlakuan yaitu kelompok OA, OB, OC, OD, dan KT.  Masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor tikus. Kelompok  OA: 100 mg/ekor (0,2 ml); OB: 200 mg/ekor (0,4 ml); OC: 300mg/ekor (0,6 ml); OD: 400mg/ekor (0,8 ml) dan KT sebagai kontrol diberikan aquades 0,2 ml. Pemberian ekstrak pegagan diberikan secara oral setiap hari selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak pegagan dari dosis 100 mg/ekor, 200 mg/ekor, 300 mg/ekor, dan 400 mg/ekor berpengaruh secara nyata terhadap gambaran peningkatan total eritrosit, PCV, tetapi tidak mempengaruhi kadar hemoglobin jika dibandingkan dengan control yaitu masih dalam batas normal.
LAPORAN KASUS: CANGKOK KULIT PADA VULNUS AVULSI METATARSAL SINISTRA KUCING LOKAL Monica, Mia; Sudisma, I Gusti Ngurah; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka atau vulnus merupakan salah satu proses kerusakan atau hilangnya komponen jaringan secara spesifik yang terjadi mengenai bagian tubuh tertentu. Dari berbagai jenis luka atau vulnus, kasus yang sering ditemukan pada kucing adalah luka dengan kehilangan sebagian kulit atau vulnus avulsi. Vulnus avulsi (vulnus avulsum) yaitu luka yang terjadi disertai lepasnya sebagian atau seluruh jaringan. Luka ini sering kali mengacu pada trauma permukaan di mana semua lapisan kulit telah terkoyak dan mengenai struktur dibawahnya (seperti jaringan subkutan, otot atau tendon). Seekor kucing lokal berumur 1,5 tahun, bobot badan 2,71 kg, dan berjenis kelamin jantan diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan adanya luka terbuka dengan hilangnya sebagian kulit pada metatarsal sinistra yang disebabkan terlilit oleh kawat. Penanganan luka tersebut dengan tindakan pembedahan dengan teknik cangkok kulit. Kulit bagian leher digunakan sebagai kulit donor pada proses cangkok kulit. Kulit donor dicukur, dibersihkan, dan diambil menggunakan scalpel kemudian diposisikan agar searah dengan pertumbuhan rambut pada tempat luka. Penjahitan dengan pola jahitan simple interrupted menggunakan benang silk 3-0. Kesembuhan luka cangkok kulit ditentukan oleh perawatan hewan, yaitu dengan menjaga pembalut luka selalu dalam kondisi kering, mencegah hewan menjilat kulit donor, dan pemberian antibiotik amoxicilin 2,5 mL secara oral 3 kali sehari dengan antiinflamsi nonsteroid ibuprofen 1 mL secara oral 2 kali sehari yang diberikan selama 7 hari. Cangkok kulit pada vulnus avulsi metatarsal sinistra kucing lokal belum berhasil.
LAPORAN KASUS : PENANGANAN HERNIA UMBILIKALIS PADA KUCING LOKAL BETINA UMUR SEMBILAN TAHUN DENGAN LAPAROTOMI Rosita, Indah; Sudisma, I Gusti Ngurah; Gorda, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hernia umbilikalis merupakan penonjolan pada daerah umbilikal yang umumnya terjadi secara kongenital. Kucing lokal betina berumur sembilan tahun, bobot badan 2 kg, warna rambut red tabby, diperiksa ke Laboratorium Ilmu Bedah Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dengan keluhan berupa penonjolan pada abdomen sejak lahir. Kondisi umum kucing sehat dengan nafsu makan baik. Kucing didiagnosis mengalami hernia umbilikalis melalui pemeriksaan klinis dengan prognosis fausta. Sebelum pembedahan diberikan premedikasi atropine sulfate 0,2 ml secara subkutan dan 10 menit kemudian diinduksi dengan kombinasi xylazine dan ketamine yang masing-masing jumlah dosis pemberiannya 0,2 ml dan 0,4 ml secara intramuskuler.  Kucing ditangani dengan melakukan pembedahan laparotomi menginsisi bagian midline ventral abdomen yang tepat berada di atas tonjolan dengan posisi hewan dorsal recumbency untuk mereposisi omentum pada umbilikus. Pola jahitan simple interrupted, subkutan ditutup dengan pola jahitan simple continous, dan kulit ditutup dengan teknik subkutikuler secara menerus. Pengobatan pascaoperasi diberikan antibiotik amoxicillin syrup 125 mg/5 ml dengan dosis pemberian 0,5 ml (3 x sehari) selama 7 hari peroral. Serta antibiotik topikal yang mengandung placenta extract ex bovine 10% dan neomycin sulfate 0,5% diberikan secukupnya (3x sehari) hingga luka mengering. Kucing mengalami kesembuhan total pada hari ke-10 ditandai dengan luka sayatan tidak ditemukan peradangan, luka menyatu dan mengering.
STUDI KASUS : EKSISI UNILATERAL FOLICULAR OPHTHALMITIS PADA ANJING SHITZU Rahmiati, Nur Ilmi; Sudisma, I Gusti Ngurah; Wandia, I Nengah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindakan pembedahan telah dilakukan terhadap seekor anjing shitzu yang didiagnosis mengalami cherry eye. Cherry eye adalah suatu keadaan yang ditandai dengan eksposisi membran nictitan yang berlokasi di sudut mata bagian ventral. Seekor anjing shitzu berjenis kelamin betina berumur empat bulan dengan bobot badan 4,2 kg diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, dengan keluhan terdapat benjolan pada mata kiri yang menghalangi sebagian bola mata anjing. Hasil pemeriksaan fisik yang telah dilakukan menunjukkan adanya kelainan berupa prolapsus membran nictitan. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan anjing mengalami anemia dengan jumlah RBC 4,25 x 1012/mm6, sehingga sebelum dilakukan pembedahan anjing diberikan vitamin penambah darah. Zat aktif premedikasi yang diberikan adalah atropine sulfat 0,5 ml dan anastesi ketamine dan xylazine masing-masing 0,5 ml. Metode operasi yang digunakan yaitu dengan eksisi atau pengangkatan membran nictitan dan pendarahan dihentikan tanpa diligasi dan hanya menggunakan klem dan ephinephrine. Hasil pengangkatan membran nictitan menyebabkan radang berupa kemerahan pada mata di hari pertama pasca operasi, dengan pemberian terapi chlorampenicol 1% salep mata tiga kali sehari selama lima hari dapat memperbaiki kondisi mata dan menghindari mata dari infeksi sekunder. Hari ke-4 pascaterapi sudah tidak terlihat peradangan pada mata dan mata kiri sudah terlihat normal tanpa prolaps membran nictitan.
EFEK TRIAS ANESTESI EKSTRAK DAUN KECUBUNG (DHATURA METEL L.) PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) Sholichah, Sholichah; Sudisma, I Gusti Ngurah; Wardhita, Anak Agung Gde Jaya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek Trias anestesi ekstrak daun kecubung (Dhatura metel) pada tikus putih (Rattus norvegicus). Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih jantan dengan menggunakan penelitian eksperimental. Sampel penelitian dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan dosis ekstrak daun kecubung yakni 0 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, 150 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, 250 mg/kgBB. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang dilanjutkan dengan metode Anova. Hasil penelitian memperlihatkan dari semua perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). Dosis 0 mg/kg BB tidak menunjukkan respon 100 mg/kg BB menunjukkan respon analgesia rata-rata durasi 22 menit, sedasi rata-rata 22 menit, 150 mg/kg BB respon analgesia rata-rata 57 menit, sedasi rata-rata 56 menit, 200 mg/kg BB respon analgesia rata-rata 56 menit, sedasi rata-rata 53 menit, dan 250 mg/kg BB respon analgesia rata-rata 72 menit, sedasi rata-rata 73 menit. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kecubung dapat memberikan efek analgesia dan sedasi pada tikus putih (Rattus norvegicus).  
SONOGRAM GINJAL DAN KANTUNG KEMIH BERDASARKAN VARIASI BENTUKAN UROLIT PADA ANJING (SONOGRAM OF KIDNEY AND URINARY BLADDER BASED ON SHAPE VARIATION OF UROLITH IN DOG) Simatupang, Grace Tabitha Tenggi Olihta; Sudisma, I Gusti Ngurah; Arjentinia, I Putu Gede Yudhi
Jurnal Veteriner Vol 20 No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.1.109

Abstract

Urolithiasis is a condition of the presence of urine stones (urolite), crystals, or sediments in the urinary tract system. The urinary tract system that is prone to urolithiasis includes the kidney, ureter, can be found in the bladder (bladder), and in the urethra in excessive amounts. This study aims to analyze the relationship between urolite formation that occurs in the bladder and urolite formation that occurs in the kidneys through ultrasound examination. This study used 15 dogs indicated by urolithiasis. Ultrasonography shows urolites, crystals and sediments in the bladder sonogram and in the kidneys. Kidney sonograms and bladder sacs refer to the occurrence of urolithiasis in the bladder which will always be followed by the occurrence of urolithiasis in the kidneys. Generally urolites are in the mucosa and bladder lumen while the kidneys are in the medulla and renal pelvis. There are several sonograms showing the buildup only occurs in one part both in the bladder and also in the kidneys. The presence of urolite in the mucous portion of the bladder is due to the gravitational force. Whereas clumps of cloud in the form of debris cells found in the lumen occur due to agitation and contraction of the bladder therefore that urolites are mixed with urine. The renal medulla and pelvis in the kidneys are channels of filtration in the kidney urinary tract. This results in a large urolithic buildup due to filtration when the urine is delivered to the bladder. 
KADAR GLUKOSA DARAH ANJING KINTAMANI Kendran, Anak Agung Sagung; Sudisma, I Gusti Ngurah; Sulabda, I Nyoman; Gorda, I Wayan; Anggreni, Luh Dewi; Loekali, Bendelin Melda
Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No. 2 Agustus 2013
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penentuan kadar glukosa darah anjing kintamani menggunakan Accu-check Active dilakukan di laboratorium Patologi Klinik Veteriner, Fakultas Kedoktern Hewan Universitas Udayana. Sampel darah diambil dari 50 ekor anjing kintamani untuk menentukan kadar glukosa acak dan 10 ekor untuk mengetahui kadar glukosa darah puasa dan dua jam setelah makan. Sampel darah diambil dari vena chepalica. Anjing yang dipilih sebagai sampel adalah anjing kintamani milik penduduk di daerah Denpasar dan Kintamani. Hasil penelitian ini menunjukkan rerataan kadar glukosa normal darah anjing kintamani secara acak sebesar 86,62 mg/dl  19,09, jantan adalah 84,10 mg/dl  19,11  dan betina 89,81 mg/dl  19,01..  Pada keadaan puasa kadar glukosa darah anjing kintamani adalah 73,4 mg/dl  5,98,   jantan 74 mg/dl  2,82 betina 73 mg/dl  7,69. Kadar glukosa darah anjing kintamani dua jam setelah makan sebesar 75,6 mg/dl  6,13, jantan 76,25 mg/dl  2,36 dan  betina 75,76 mg/dl 7,98. Hasil ini masih berada dalam kisaran normal berdasarkan standar acuan Graham. Dengan demikian Accu-check Active dapat dipakai untuk menentukan kadar glukosa darah anjing kintamani.
PEMBIUSAN MONYET EKOR PANJANG (MACACA FASCICULARIS) DENGAN CAMPURAN KETAMINE DAN XYLAZINE (THE ANAESTHETIZATION OF LONG TAILED MACAQUE (MACACA FASCICULARIS) BY INJECTING THE COMBINATION OF KETAMINE AND XYLAZINE) Suartha, I Nyoman; Wandia, I Nengah; Putra, I Gusti Agung Arta; Soma, I Gede; Sudisma, I Gusti Ngurah
Jurnal Veteriner Vol 2 No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembiusan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dengan Campuran Ketamine dan Xylazine   (THE ANAESTHETIZATION OF LONG TAILED MACAQUE (MACACA FASCICULARIS) BY INJECTING THE COMBINATION OF KETAMINE AND XYLAZINE)
ANESTESI INFUS GRAVIMETRIK KETAMIN DAN PROPOFOL PADA ANJING (THE GRAVIMETRIC INFUSION ANAESTHESIA WITH KETAMINE AND PROPOFOL IN DOGS) Sudisma, I Gusti Ngurah; Widodo, Setyo; Sajuthi, Dondin; Soehartono, Harry
Jurnal Veteriner Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aim was to evaluate quality of anaesthesia by using gravimetric infusion anaesthesia withketamine and propofol in dogs. The quality of anaesthesia, duration of actions, and the physiological responsseof anaesthesia were evaluated in twenty domestic dogs. Anaesthesia was induced intramuscularly withatropine (0.03 mg/kg)-xylazine (2 mg/kg) (AX), intravenously ketamine-propofol (KP) (4 mg/kg), andmaintained with continuous intravenous infusion with pre-mixed propofol (P) and normal saline containing2 mg/ml of propofol and 2 mg/ml of ketamine (K). Domestic stray dogs were randomly divided into fivegroups. Groups AXKP-K2P2, AXKP-K4P4, and AXKP-K6P6 were treated with ketamine-propofol the dose0.2 mg/kg/minute, 0.4 and 0.6 mg/kg/minute respectively, while group AXKP-P4 was given propofol 0.4 mg/kg/minute and group AXKP-I was given isoflurane 1-2%. Heart rate (HR), respiratory rate (RR),electrocardiogram (ECG), blood oxygen saturation (SpO2), end tidal CO2 (ET CO2), and capillary refill time(CRT) were measured. No significant difference (P>0.05) found between the groups in anaesthetion times.All groups showed rapid and smooth inductions, prolonged surgical stage, and rapid recovery. Groups AXKPK2P2and AXKP-K4P4 showed minimal physiological effect on the dogs. The HR, RR, ET CO2, SpO2, CRT,and ECG wave were stabl. Combination of AXKP-K6P6 induced SpO2 depression, increased and instabilityof HR, RR and ET CO2. Groups AXKP-P4 showed decreased of HR and respiratory depression. All anaestheticcombinations showed no significant influence (P>0.05) on the electricity of the dog?s heart. The combinationof ketamine-propofol at dose 0.2 and 0.4 mg/kg/minute were found to be better as an application formaintaining anaesthesia by gravimetric continuous intravenous infusion. The method is a suitablealternative for inhalation anaesthesia in dogs.
LAPORAN KASUS: PENANGANAN BEDAH UNTUK NEKROTIK MIOSITIS PADA ANJING KINTAMANI Sultan, Nurul Fadillah; Gorda, I Wayan; Sudisma, I Gusti Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (4) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Nekrotik miositis merupakan suatu keadaan dimana otot mengalami infeksi trauma yang terjadi dalam waktu cukup lama dan menyebabkan infeksi sangat parah. Penanganan pembedahan sangat perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya sepsis. Seekor anjing kintamani jantan berumur tujuh tahun, berat badan 19 kg, diperiksa dengan keluhan adanya benjolan pada otot bagian lateral os scapula sinister. Hasil pemeriksaan fisik dan klinis anjing sehat dengan nafsu makan dan minum baik, namun ditemukan adanya massa dengan konsistensi padat dan mengeluarkan eksudat serta berbau sejak lima bulan terakhir. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan adanya kenaikan limfosit, namun total eritrosit, hemoglobin, dan platelet normal. Gambaran histopatologi dari massa tersebut menunjukkan adanya nekrosis pada sel otot disertai dengan infiltrasi sel radang, sel neutrofil, dan sel plasma sehingga hewan kasus didiagnosis mengalami nekrotik miositis. Anjing ditangani dengan tindakan pengangkatan massa secara keseluruhan untuk menghindari sepsis dan meminimalisir kematian. Ciprofloxacin, asam mefenamat, dan salep betason-N diberikan sebagai perawatan pascaoperasi. Hari kedelapan pascaoperasi, anjing dinyatakan sembuh dengan luka yang sudah mengering dan menyatu dengan baik.