Agus Oman Sudrajat
Bogor Agricultural University, Department of Aquaculture

Published : 47 Documents
Articles

FEMALE MATURATION AND REMATURATION ACCELERATION OF MUTIARA STRAIN CATFISH (CLARIAS GARIEPINUS) USING COMBINATION OF OOCYTE DEVELOPER HORMONE AND ASTAXANTHIN ADDITION DIET Jufri, Fatahillah Maulana; Sudrajat, Agus Oman; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3483.51 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.23-32

Abstract

ABSTRACT Reproductive design for gonadal maturation process mostly related with some factors such as environmental signals, reproductive organs, hormonal and nutrition. This research was conducted on female Mutiara strain of North African Catfish, Clarias gariepinus by combining two kinds of materials administered to broodstock diet, namely oocyte developer (Oodev) which contains of PMSG hormone and antidopamin, and astaxanthin carotenoid. Research designs were divided into C (Control), A50 (astaxanthin 50 mg/kg feed), A100 (astaxanthin 100 mg/kg feed), Od0.5 (Oodev 0.5 mL/kg fish for two weeks), Od1 (1 mL/kg fish for 2 weeks), Od0.5A50 (combined Od0.5 with A50), Od1A50 (combined Od1 with A50), Od0.5A100 (combined Od0.5 with A100), and Od1A100 (combined Od1 with A100). This research was performed during twelve weeks of feeding. The Od1A100 treatment showed the best reproduction performance result compared to other treatment with highest hepatosomatic (HSI) and gonadosomatic (HSI) indexes (P<0.05), also fastest increase in egg diameters (P<0.05), shorter rematuration periods and highest proportion of mature broodstock. These results indicated that Oodev and astaxanthin could accelerate gonadal maturity in female broodstock of Mutiara catfish.Keywords: Broodstock, hormonal, reproduction, oocyte developer, astaxanthin  ABSTRAK Rekayasa reproduksi untuk proses pematangan gonad sebagian besar terkait dengan beberapa faktor seperti sinyal lingkungan, organ reproduksi, hormonal dan nutrisi. Penelitian ini dilakukan terhadap strain ikan lele Mutiara (Clarias gariepinus) betina menggunakan dua bahan yang dicampur pada pakan induk, yaitu oocyte developer (Oodev) yang mengandung hormon PMSG dan antidopamin, dan karotenoid astaxanthin. Eksperimen yang dirancang adalah K (Kontrol), A50 (Astaxanthin 50 mg/kg pakan), A100 (Astaxanthin 100 mg/kg pakan), Od0.5 (Oodev 0,5 mL/kg induk untuk 2 minggu), Od1 (Oodev 1 mL/kg induk untuk 2 minggu), Od0.5A50 (kombinasi Od0.5 dan A50), Od1A50 (kombinasi Od1 dan A50), Od0.5A100 (kombinasi Od0.5 dan A100), dan Od1A100 (kombinasi Od1 dan A100). Penelitian ini dilakukan dengan memberi makan dua belas minggu. Performa reproduksi terbaik didapat pada perlakuan Od1A100. Od1A100 memiliki indeks hepatosomatik (HSI) dan gonadosomatik (HSI) tertinggi (P <0,05), juga diameter telur paling cepat besar (p <0,05), periode rematurasi terpendek, dan proporsi induk matang gonad tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa Oodev dan astaxanthin dapat mempercepat kematangan gonad pada induk betina ikah lele Mutiara. Keyword: Induk, hormon, reproduksi, oocyte developer, astaxanthin 
KLONING DAN EKSPRESI SPESIFIK JARINGAN DARI CDNA SITOKROM P-450 AROMATASE PADA IKAN SIDAT JEPANG (ANGUILLA JAPONICA) Sudrajat, Agus Oman
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.58 KB) | DOI: 10.19027/jai.3.1-4

Abstract

The conversion of androgen to estrogen is catalyzed by an enzyme, cytochrome P-450 aromatase (P-450arom). The P-450arom cDNA fragment was cloned from brain and ovary of the primitive teleost, Japanese eel. The p-450 arom cDNA fragment (1.1 kb) from brain and ovary of the Japanese eel are identical. The deduced amino acid from P-450 arom cDNA in Japanese eel have conserved domains for common putative functional properties of P-450 super family. P-450arom mRNA was predominantly present in the brain and pituitary, weak in the ovary and none in the other tissues. Key Word : Aromatase. P-450arom, cDNA, Japanese eel, expression   ABSTRAK Konversi androgen ke estrogen dikatalisis oleh enzim sitokrom P-450 aromatase (P-450arom). Fragmen cDNA P-450 arom telah diklon dari otak dan ovari ikan teleos primitif, sidat Jepang. Fragmen cDNA P-45 arom (1,1 kb) dari otak dan ovari sangat identik. Asam amino deduksi dari cDNA P-450arom memiliki daerah konservatif untuk sifat-sifat fungsional dari super famili P-450arom. P-450 arom mRNA dominan terdapat di otak dan pituitary, sedikit pada ovari dan tidak terekspresi pada jaringan lain. Kata kunci : Aromatase, P-450arom, cDNA, ikan sidat Jepang, ekspresi
GONAD MATURATION OF CLOWN LOACH (BOTIA MACRACANTHUS) IN POND Effendi, Irzal; Prasetya, T.; Sudrajat, Agus Oman; Suhenda, N.; Sumawidjaja, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.129 KB) | DOI: 10.19027/jai.2.51-54

Abstract

The objective of this research is to know the gonad maturation of clown loach {Botia macracanthus) reared in pond. Two groups contain 4 female broodstock; I) carried and II) non-carried egg broodstock were reared in two separated hapas which placed in pond. Each hapa was also stocked nine males. The fish were fed pellet (32,33% protein) 10% biomass, daily in three times. After 20 days, the broodstocks were implanted by LHRH-a 100 u.g/kg of body weight. In the group I, diameter of egg in gonad were developed from 1,028 mm at the beginning of implantation to 1,071 and 1,106 mm at day of 15 and 30 after implantation respectively. In the group II, only one female has developed her gonad successfully. The egg was developed to 0,937 and 1,026 mm after 15 and 30 day implantation respectively. Key words : Gonad maturation, clown loach, Botia macracanthus, pond   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pematangan gonad induk ikan botia (Botia macracanthus) yang dipelihara di kolam. Dua kelompok induk betina; I) sudah mengandung telur dan II) belum mengandung telur masing-masing sebanyak 4 ekor dipelihara masing-masing dalam 2 hapa. Ke dalam setiap hapa juga ditempatkan induk jantan sebanyak 9 ekor. Induk diberi pakan berupa pelet (protein, 32,33%) sebanyak 10% dari bobot biomasa per hari, 3 kali sehari, dan diberi LHRH-a dengan dosis 100 ng/kg bobot tubuh secara implantasi pada hari ke 20 pemeliharaan. Induk dalam kelompok pertama telurnya berkembang dari rata-rata 1,028 pada saat pemberian LHRH-a menjadi rata-rata 1,071 dan 1,106 mm masing-masing pada hari ke 15 dan 30 setelah pemberian. Pada kelompok kedua hanya satu ekor induk yang berkembang gonadnya setelah diberi LHRH-a. telur induk ikan tersebut berkembang dari 0,937 menjadi 1,026 mm masing pada hari ke 15 dan 30 setelah implantasi. Kata kunci : Pematangan gonad, ikan botia, Botia macracanthus, kolam
SURVIVAL RATE AND GROWTH OF FIGHTING FISH LARVAE (BETTA SPLENDENS REGAN) FED ON VARIOUS LIVE FOODS Budiardi, T.; Nursyams, T.; Sudrajat, Agus Oman
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.92 KB) | DOI: 10.19027/jai.4.13-16

Abstract

Larval of fighting fish (Betta splendens Regan) requires precise live foods for its growth and survival. In this experiment, fish larvae were fed on either Paramecium + Artemia, Paramecium + Artemia + Tubifex, Paramecium + Moina, or Paramecium + Moina + Tubifex. The fish were fed Paramecium from day-2 till day-7 after hatching. There after, the live food was changed according to the treatments till day-28.  Results showed that fish fed on Paramecium + Artemia significantly had the highest total length (12.63 mm) than other treatments (11.86 mm). On the other hand, survival rate of fish had no significant affected by the treatments. Keywords: fighting fish, Betta splendens, Paramecium, Moina, Artemia, Tubifex, larvae   ABSTRAK Larva ikan betta (Betta splendens Regan) membutuhkan jenis pakan alami yang tepat bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhannya. Pada penelitian ini, larva ikan diberi pakan berupa Paramecium + Artemia, Paramecium + Artemia + Tubifex, Paramecium + Moina, atau Paramecium + Moina + Tubifex.  Ikan diberi pakan pakan berupa Paramecium dari hari ke-2 hingga hari ke-7. Setelah itu, pemberian pakan alami diubah berdasarkan masing-masing perlakuan hingga hari ke-28.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang diberi pakan Paramecium + Artemia memiliki tubuh secara signifikan lebih panjang (12,63 mm) dibandingkan perlakuan lainnya (11,86 mm).  Sementara itu, kelangsungan hidup tidak dipengatuhi oleh perlakuan. Kata kunci: ikan betta, Betta splendens, Paramecium, Moina, Artemia, Tubifex, larva
INDUCED MATURATION OF EEL WEIGHED 100–150 GRAM WITH PMSG, ANTIDOPAMINE, AND 17α-METHYLTESTOSTERONE Aryani, Nadia Mega; Sudrajat, Agus Oman; Carman, Odang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4500.348 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.135-143

Abstract

ABSTRACT Marketed eel Anguilla bicolor bicolor is commonly produced from larvae rearing activity whose broodstocks and larvae are caught from the nature. Supply of eel broodstock is restricted by its life cycle and uncertain size variation of mature male and female. This study was aimed to evaluate the effect of hormonal induction through injection to enhance masculinization and gonadal maturation of eel at the weight of 100?150 g. The experiment used completely random design with the use of combination pregnant mare serum gonadotropin  (PMSG), antidopamine (AD), dan 17?-methyltestosterone (MT), which were (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P2 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P3 (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), P4 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), and P5 (control; without hormonal treatment). The result showed that an increasing of fish length along with fish weight were performed by treatment P4 and P3. The highest gonadosomatic index value was obtained by treatment P3 (1,3030±0,24262). Based on gonadal histology analysis, 2nd phase of spermatogonia development was found in P3 in week-8. The highest testosterone level was obtained by treatment P3, followed by P4, P2, and P1 in week-4. Combination of 10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT could enhance masculinization and gonadal maturation of eel in eight weeks of rearing period. Keywords: gonadal maturation, Anguilla bicolor bicolor, PMSG, AD, MT  ABSTRAK Ikan sidat Anguilla bicolor bicolor yang dipasarkan pada umumnya merupakan hasil usaha pembesaran yang benih dan induknya masih diperoleh dari alam. Penyediaan induk ikan sidat terkendala dengan siklus hidup dan variasi perbedaan ukuran induk ikan sidat jantan dan betina matang gonad yang belum pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran induksi hormonal yang disuntikkan pada ikan sidat dalam mempercepat proses pematangan gonad ikan sidat ukuran 100?150 g. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen rancangan acak lengkap dengan kombinasi pregnant mare serum gonadotropin (PMSG), antidopamin (AD), dan  17?-metiltestosteron (MT) sebagai berikut P1 (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P2 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD), P3 (10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), P4 (20 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT), dan P5 (kontrol; tanpa perlakuan hormon). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pertambahan panjang seiring dengan pertambahan bobot diperoleh dari perlakuan P4 dan P3. Indeks gonadosomatik tertinggi diperoleh dari perlakuan P3 (1,3030±0,24262). Hasil histologi gonad ditemukan perkembangan spermatogonia fase 2 pada P3 di minggu kedelapan. Konsentrasi testosteron tertinggi didapat dari perlakuan P3 kemudian diikuti P4, P2, dan P1 pada minggu keempat. Kombinasi hormon 10 IU/kg PMSG + 0,01 mg/kg AD + 150 µg/kg MT dapat mempercepat pematangan gonad dan pertumbuhan pada ikan sidat selama delapan minggu pemeliharaan. Kata kunci: pematangan gonad, Anguilla bicolor bicolor, PMSG, AD, MT 
BIOCHEMICAL STUDY OF STRIPED CATFISH PANGASIANODON HYPOPHTHALMUS BROODSTOCK INDUCED BY PMSG HORMONE + ANTI‒DOPAMINE AND TURMERIC ADDITION Arfah, Harton; Sudrajat, Agus Oman; Suprayudi, Muhammad Agus; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3416.018 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.191-198

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate biochemical changes (cholesterol, triglyceride, HDL, LDL, glucose, and plasma protein) on striped catfish Pangasianodon hypophthalmus broodstock induced with PMSG hormone and turmeric addition. An observation was also done to blood glycogen content. The striped catfish broodstock was fed on commercial feed without any addition (control) and with turmeric addition (HKu). In control treatment, there was a decreasing on cholesterol, meanwhile, the triglyceride (TG) value was increased. The HDL concentration was decreased in 2nd sampling and increased in 4th sampling. In 1st until 4th sampling, glucose was quite stable, while LDL was on extremely low concentration. In HKu treatment, the cholesterol value was higher than the control treatment. The TG concentration also higher than control in 3rd sampling and decreased in 4th sampling. The HDL concentration was increased and higher than the control treatment, while LDL concentration was lower. The liver glycogen content on the control and HKu treatment were 0.015 (mg/100 mL) and 0.181 (mg/100 mL) respectively; while in the flesh of the control and HKu treatment were 0.76 (mg/100 mL) and 1.19 (mg/100 mL) respectively; and in the gonad of control and HKu treatment were 0.10 (mg/100 mL) and 0.70 (mg/100 mL) respectively. It was shown that the glycogen content in the liver, flesh, and gonad on experimental fish was higher than control treatment. Keywords : biochemistry, hormone, turmeric, channel catfish, reproduction  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan biokimia (kolesterol, trigliserida, HDL, LDL, glukosa dan protein plasma) induk ikan patin Pangasianodon hypophthalmus yang diberi perlakuan hormon PMSG dan kunyit (HKu). Pengamatan juga dilakukan terhadap glikogen dalam darah induk patin. Induk ikan patin diberi pakan tanpa penambahan kunyit (kontrol) dan pakan yang diberi HKu. Hasil penelitian pada kontrol menunjukkan adanya penurunan kolesterol, sedangkan pada TG mengalami peningkatan. HDL menurun pada sampling ke?2 dan meningkat pada sampling ke?4. Sementara itu, pada LDL rendah sekali dan pada glukosa terlihat stabil dari sampling ke?1 sampai ke?4. Pada perlakuan HKu terlihat bahwa pada kolesterol menghasilkan nilai lebih tinggi dibanding kontrol. Pada TG terlihat juga nilai lebih tinggi dibanding kontrol pada sampling ke?3 dan menurun pada sampling ke?4. Konsentrasi HDL meningkat dan lebih tinggi dibanding kontrol, sedangkan nilai LDL lebih rendah. Data yang diperoleh pada kadar glikogen hati perlakuan kontrol adalah 0,015 (mg/100 mL) dan HKu 0,181 (mg/100 mL); sedangkan pada daging kontrol sebesar 0,76 (mg/100 mL) dan HKu 1,19 (mg/100 mL); serta gonad kontrol 0,10 (mg/100 mL) dan HKu 0,70 (mg/100 mL). Hal ini menunjukkan kadar glikogen pada hati, daging, dan gonad ikan yang diberi perlakuan bernilai lebih tinggi dibanding kontrol.           Kata kunci : biokimia, hormon, kunyit, ikan patin, reproduksi  
SPERM QUALITY OF LITOPENAEUS VANNAMEI BROOSTOCK INJECTED BY PMSG AND ANTIDOPAMIN Akbar, Fahmi; Sudrajat, Agus Oman; Subaidah, Siti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3012.74 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.98-103

Abstract

ABSTRACT The important role in determining the productivity of shrimp was the quality and quantity of shrimp sperm. The decreasing of hatching rate was predicted as the effect of the decreasing quality of sperm. It then could  influence  the number and quality of naupli produced. Hormonal induction of maturation is one of alternative solution that can improve shrimp sperm quality. This study was conducted to examine the effect of pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) and antidopamine (AD) injection on white shrimp Litopenaeus vannamei sperm quality. This research consisted of six treatments which were treatment without eyestalk ablation, eyestalk ablation, and premix PMSG hormone, and AD at the dose  of 0.1 mL/kg, 0.25 mL/kg, 0.5 mL/kg, and 1 mL/kg. The observed parameters were sperm count and percentage of normal and abnormal sperm. The results showed that PMSG hormone and AD injection could improve sperm quality of L. vannamei shrimp. Hormone at the dose of 0.25 mL/kg and 0.5 mL/kg were the optimal doses to increase sperm count and the percentage of normal sperm, also to lower the percentage of abnormal sperm. Keyword: PMSG, AD, sperm quality, Litopenaeus vannamei  ABSTRAK Kuantitas dan kualitas sperma udang jantan sangat berperan penting dalam menentukan produktivitas udang. Terjadinya penurunan daya tetas telur udang diduga karena terjadinya penurunan kualitas sperma. Hal ini berpengaruh terhadap jumlah dan kualitas nauplius yang diproduksi. Induksi maturasi secara hormonal merupakan salah satu alternatif yang dapat meningkatkan kualitas sperma udang. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh penyuntikan pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) dan antidopamin (AD) terhadap kualitas sperma udang vaname Litopenaeus vannamei. Penelitian terdiri atas enam perlakuan, yaitu perlakuan tanpa ablasi mata, ablasi mata, dan injeksi dengan premix hormon PMSG dan AD dosis 0,1 mL/kg, 0,25 mL/kg, 0,5 mL/kg, dan 1 mL/kg. Parameter yang diamati jumlah sperma, persentase sperma normal dan abnormal. Hasil penelitian menunjukkan penyuntikan hormon PMSG dan AD dapat meningkatkan kualitas sperma udang L. vannamei. Hormon dosis 0,25 mL/kg dan 0,5 mL/kg merupakan dosis optimal dalam meningkatkan jumlah sperma dan persentase sperma normal, serta mengurangi persentase sperma abnormal. Kata kunci: PMSG, AD, kualitas sperma, Litopenaeus vannamei 
INDUCTION OF GONADAL MATURATION OF EEL USING PMSG, ANTIDOPAMINE, AND ESTRADIOL-17β Tomasoa, Aprelia Martina; Sudrajat, Agus Oman; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3322.047 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.112-121

Abstract

ABSTRACT The study was aimed to induce gonadal maturation of eel Anguilla bicolor bicolor by hormonal treatment using pregnant mare serum gonadotropin (PMSG), antidopamine (AD), dan estradiol-17? (E2). The research used complete randomized design with five hormone combination treatments consisted of PK (NaCl 0.95%) as control, P10A (PMSG 10 IU + AD 10 ppm), P20A (PMSG 20 IU + AD 10 ppm), P10BE (PMSG 10 IU + AD 10 ppm + E2 150 µg), and P20BE (PMSG 20 IU + AD 10 ppm + E2 150 µg), with three individual replications for each treatment. Hormonal induction was applied through intramuscular injection weekly during eight weeks at initial body weight of 200 g. The result showed that P10BE treatment has obtained highest level on E2 (0.43 ng/mL), FSH (2.68 mIU/mL) has increased in week-4 and level on T (1.2 ng/mL), LH (2.80 mIU/mL) has increased in week-8. P10BE has affected spermatogenesis and the increased of GSI (2.46%) in fourth and sixth week compared to PK (1.28%), P10A (1.58%), P20A (1.34%), and P20BE (2.12%). In conclusion, combination of PMSG, AD, and E2 hormones could stimulate the gonadal maturation of eel at the size of 200 g into male. Keywords: Anguilla bicolor bicolor, gonadal growth, hormone, maturation  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menginduksi pematangan gonad ikan sidat Anguilla bicolor bicolor secara hormonal dengan menggunakan pregnant mare serum gonadothropin (PMSG), antidopamin (AD), dan estradiol-17? (E2). Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimen rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan kombinasi hormon, yaitu PK (larutan NaCl 0,95%) sebagai kontrol, P10A (PMSG 10 IU + AD 10 ppm), P20A (PMSG 20 IU + AD 10 ppm), P10BE (PMSG 10 IU + AD 10 ppm + E2 150 µg), dan P20BE (PMSG 10 IU+AD 10 ppm+E2 150 µg), dengan tiga ulangan individu pada masing-masing perlakuan. Induksi hormonal dilakukan dengan metode penyutikan secara intramuskuler setiap minggu selama delapan minggu dengan bobot ikan yang berukuran 200 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis hormon pada perlakuan P10BE memberikan nilai tertinggi masing-masing; kadar E2 (0,43 ng/mL), kadar FSH (2,68 mIU/mL) meningkat di minggu keempat dan kadar T (1,2 ng/mL), kadar LH (2,80 mIU/mL) mengalami peningkatan pada minggu kedelapan. P10BE memberikan efek pada spermatogenesis dan peningkatan nilai GSI (2,46%) pada minggu keempat sampai keenam selama penyuntikkan dibandingkan dengan PK (1,28%), P10A (1,58%), P20A (1,34%) dan P20BE (2,12%). Dengan demikian, kombinasi hormon PMSG, AD, dan E2 dapat merangsang perkembangan dan mempercepat pematangan gonad ikan sidat ukuran 200 g menjadi jantan. Kata kunci: Anguilla bicolor bicolor, pertumbuhan gonad, hormon, maturasi
THE GONAD GROWTH OF ANGUILLA BICOLOR BICOLOR INDUCED BY HORMONE COMBINATION OF HCG, MT, E2, AND ANTIDOPAMINE Zahri, Abdul; Sudrajat, Agus Oman; Junior, Muhammad Zairin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3413.137 KB) | DOI: 10.19027/jai.14.69-78

Abstract

ABSTRACT The aim of the study was to stimulate eel gonad growth by intramuscularly injection with a hormonal combination of human chorionic gonadotropin (hCG), methyltestosterone (T), estradiol (E2) and antidopamine (A) meanwhile 0.9% NaCl solution was used as control. Estradiol concentration in the blood serum were measured by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Stimulation with hCG 20 IU/kg in combination with MT 3 mg/kg and 10 ?g/kg antidopamine (hTA treatment) very effective for increased the growth of gonads with indicators gonadosomatic index (GSI) of 4.80%, hepatosomatic index 1.01% and concentration of E2 2.49±0.67 ng/mL were significantly different (P<0.05) than others treatment after ten weeks of application. Key words: hormone, gonad growth, maturation, Indonesian short finned eel  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan gonad yang distimulasi oleh kombinasi human chorionic gonadotropin (hCG), metiltestosteron (MT), estradiol (E2) dan antidopamin (A). Ikan sidat disuntik dengan hormon dan 0,9% NaCl sebagai kontrol secara intramuskular. Pengukuran konsentrasi hormon E2 dalam serum darah dengan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Stimulasi dengan hCG 20 IU/kg dikombinasi dengan MT 3 mg/kg dan antidopamin 10 ?g/kg (perlakuan hTA) sangat efektif untuk feminisasi dan meningkatkan pertumbuhan gonad dengan indikator indeks gonadosomatik (GSI) 4,80%, indeks hepatosomatik 1,01% dan konsentrasi E2 2,49±0,67 ng/mL, secara signifikan berbeda pada taraf P<0,05 dibandingkan perlakuan lain setelah sepuluh minggu aplikasi. Kata kunci: hormon, pertumbuhan gonad, maturasi, sidat
INDUCED MATURATION OF EEL ANGUILLA BICOLOR USING DIFFERENT HORMONE COMBINATION Sudrajat, Agus Oman; Sugati, Antharest; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3147.544 KB) | DOI: 10.19027/jai.13.189-201

Abstract

ABSTRACT Artificial reproduction of eel Anguilla bicolor is not yet well-established because of insufficient broodstock number. In this research, induction of Indonesian eel gonad maturation was performed by hormonal with a combination of pregnant mare serum gonadotropin (PMSG), human chorionic gonadotropin (HCG) antidopamin and recombinant growth hormone (rGH). This research consisted of five treatments namely: control (NaCl 0,9%), PMSG 20 IU/ kg, PMSG 20 IU/kg + antidopamin 10 ppm/kg, PMSG 20 IU/kg + antidopamin 10 ppm/kg + rGH 10 ?g/kg dan PMSG 20 IU/kg + HCG 10 IU/kg. Each treatment contained 10 fishes. Hormonal induction was conducted by intramuscular injections, as much as five times at intervals of seven days. Furthermore observations on gonadal development were performed after injection for 21 days. The results showed that the treatment generated pregnancy level of 100%, while control was 0%. The best treatment was PMSG 20 IU/kg + antidopamin 10 ppm/kg+ rGH 10 ?g/kg, seen from a more mature phase of the gametes, spermatocytes in male and oocytes with perinukleolar phase in female fish. Eel at the body weight of 120.4 to 207.8 g and at the body length of 40.9 to 43.1 cm was male, at the body weight of 274.8 g and at the body length of 47 cm was in intersexual phase, and at the body weight of 323.4 g and at the body length of 53 cm was female. Keywords: Anguilla bicolor, antidopamin, hormones, PMSG, rGH, HCG  ABSTRAK Pemijahan ikan sidat secara buatan belum dapat dilakukan karena keterbatasan induk matang gonad. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian hormon terhadap percepatan proses perkembangan gonad ikan sidat (Anguilla bicolor). Hormon yang digunakan adalah kombinasi dari pregnant mare serum gonadotropin (PMSG), human chorionic gonadotropin (HCG), antidopamin dan recombinant growth hormone (rGH). Induksi hormonal untuk mempercepat perkembangan gonad ikan sidat dilakukan melalui lima perlakuan yaitu yaitu kontrol (NaCl 0,9%), PMSG 20 IU/kg, PMSG 20 IU/kg+antidopamin 100 ppm/kg, PMSG 20 IU/kg+antidopamin 100 ppm/ kg+rGH 10 ?g/kg dan PMSG 20 IU/kg+HCG 10 IU/kg. Setiap perlakuan dilakukan pada sepuluh ekor ikan sidat. Aplikasi induksi hormonal dilakukan melalui penyuntikan secara intramuskular sebanyak lima kali dengan interval tujuh hari sekali, selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap perkembangan gonad selama 21 hari dengan interval tujuh hari sekali setelah penyuntikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan hormonal menyebabkan tingkat kebuntingan sebanyak 100% pada ikan perlakuan, sedangkan kontrol sebanyak 0%. Kombinasi terbaik adalah PMSG+antidopamin+rGH, terlihat dari fase gamet yang lebih matang yaitu mencapai fase spermatosit pada ikan jantan dan oosit dengan fase perinukleolar pada ikan betina. Berdasarkan hasil penelitian, ikan sidat dengan bobot 120,4?207,8 g dan panjang 40,9?43,1 cm masih berjenis kelamin jantan. Ikan dengan bobot 274,8 g dan panjang 47 cm masih berada pada fase peralihan kelamin, sedangkan pada bobot 323,4 dan panjang 53 cm sudah berjenis kelamin betina. Kata kunci: Anguilla bicolor, antidopamin, hormon, PMSG, rGH, HCG