I Made Sukada
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

POLA DISTRIBUSI UNGGAS DARI PASAR TRADISONAL BERPERAN DALAM PENYEBARAN VIRUS FLU BURUNG SUMA ANTARA, I MADE; SUARTHA, I NYOMAN; SAKA WIRYANA, I KADEK; SUKADA, I MADE; WIRATA, I WAYAN; DIBYA PRASETYA, I GUSTI NGURAH; RITHA KRISNA DEWI, NI MADE; KOMALA SARI, TRI; KADE MAHARDIKA, I GUSTI NGURAH
Jurnal Veteriner Vol 10 No 2 (2009)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study has been carried out to map the distribution pattern of poultry from traditional market toreduce the transmission risk of avian influenza virus. The data were collected from threes markets wherepoultry are sold, namely in Bringkit of Badung Regency, Kumbasari of Denpasar City, and Kediri ofTabanan Regency. Data collections was based on interviews using questionnaire. Poultry from all marketsare distributed throughout Bali. Poultry are traded mainly for religious ceremony and immediatelyslaughtered as it arrives at the consumer?s house. The distribution pattern of poultry seems to play asignificant role in the disseminations of avian influenza virus. The right implementation of biosecurity intraditional markets is highly recommended to curb the risk.
KLASTERISASI MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH SAPI BALI PADA SIMANTRI DI KABUPATEN BADUNG Parwata, Dewa Made Dwi; Sampurna, I Putu; Sukada, I Made; Agustina, Kadek Karang
Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/bulvet.2019.v11.i01.p09

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen pengolahan limbah sapi bali yang belum dilakukan secara intensif dan untuk mengetahui Gapoktan mana yang belum melakukan sitem pengolahan limbah sapi bali secara intensif pada Simantri di Kabupaten Badung.Pengambilan sampel dilakukan secara teknik sampling jenuh, kemudian data yang diperoleh dianalisis menggunakan Hierarchical cluster dengan Plot dendogram clusterdengan variabel penciri intensif, semi intensif, dan ekstensif. Hasil dari penelitian ini komponen manajemen pengolahan limbah yang sebagian besar dilakukan secara intensif yaitu perlakuan limbah oleh peternak, pengolahan limbah padat, pengolahan limbah cair, teknologi pengolahan limbah padat, teknologi pengolahan limbah cair, alat pengolahan limbah padat, alat pengolahan limbah cair, pembinaan pengolahan limbah, pembinaan pemasaran hasil limbah.Sedangkan komponen manajemen perkandangan yang masih diterapkan secara semi intensif yaitu hasil pengolahan limbah padat, hasil pengolahan limbah cair, keuntungan pengolahan limbah padat dan keuntungan pengolahan limbah cair. Kesimpulan penelitian ini yaitu dari 50 Gapoktan yang ada di Simantri di Kabupaten Badung, 42 Gapoktan sudah melaksanakan pengolahan limbah secara intensif, 6 Gapoktan yang melaksanakan pengolahan limbah secara semi intensif dan 2 Gapoktan yang tidak melaksanakan pengolahan limbah atau masuk ke kategori ekstensif yang perlu mendapatkan penyuluhan dari pemerintah agar semuanya menjadi intensif.
PERILAKU BERMASALAH PADA ANJINGKINTAMANI Fajar, I Wayan Nico; Sukada, I Made; Puja, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anjing Kintamani adalah sebutan sekelompok anjing yang habitat aslinya di daerahKintamani. Penampilan dan karaketristik yang menarik menyebabkan anjing Kintamanisangat populer sebagai hewan kesayangan dan sekarang sedang diajukan ke FederationCynologique Internationale untuk penetapan sebagai anjing ras. Tujuan penelitian iniadalah mengevaluasi perilaku bermasalah pada anjing Kintamani. Penelitian ini dilakukandari bulan April sampai Mei 2011. Beberapa aspek yang berkaitan dengan masalah perilakudikumpulkan dengan menggunakan quesioner. Sebanyak 46 ekor anjing dari 75 anjing yangdigunakan sebagai sampel menunjukkan perilaku bermasalah (61.3%) dan 29 anjing tidakmenunjukkan perilaku bermasalah (38.7%). Di antara anjing yang digunakan sebagaisampel rata-rata umur anjing adalah 1- 2tahun dan hampir semua anjing belum disterilkan(92%). Juga didapat bahwa pemilik anjing memelihara anjingnya di halaman rumah (36%).Anjing berturut turt menunjukkan suara berlebihan (36%), perilaku merusak (17%), responberlebihan (6,7%), perilaku tidak pantas (34%) dan perilaku agresive (10,7%). Hasilpenelitian ini mendukung pendapat bahwa anjing kintamani tidak mempunyai perilakubermasalah, sehingga diharapkan sifat anjing Kintamani ini tetap dapat dipertahankan danuntuk dijadikan standar perilaku pada anjing kintamani
AMINO ACID SEQUENCE MOTIVE OF OSELTAMIVIR BINDING POCKET IN NEURAMINIDASE PROTEIN OF AVIAN INFLUENZA (H5N1) VIRUS FROM HUMAN AND ANIMAL IN INDONESIA Kade Mahardika, I Gusti Ngurah; Sukada, I Made; Suma Antara, Made; Suartini, I Gusti Ayu
Jurnal Veteriner Vol 9 No 4 (2008)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Former finding that avian influenza (AI) virus of H5N1 subtype from Indonesia shows reduced sensitivity against oseltamivir is critically reviewed trough molecular observation of the amino-acid sequence motive of neuraminidase protein (NA) of all H5N1 virus from human and animal in Indonesia available in GeneBank. Amino acid sequence of oseltamivir binding pocket of NA protein on all Indonesian viruses is typical for sensitive virus with a concerved motive of H274, E276, R292 dan N294. Resistance issue could not be explained based on available data.
PERANAN PEDAGANG UNGGAS DALAM PENYEBARAN VIRUS AVIAN INFLUENZA Suartha, I Nyoman; Suma Antara, I Made; Saka Wiryana, I Kadek; Sukada, I Made; Wirata, I Wayan; Ritha Krisna Dewi, Ni Made; Kade Mahardika, I Gusti Ngurah
Jurnal Veteriner Vol 11 No 4 (2010)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A questionnaire surveillence have been carried out in three different traditional markets (ie. Beringkitin badung district, Kumbasari in Denpasar, Kediri in Tabanan district) in order to understand the role ofpaultry traders behavior in transmitting of avian influenza virus. Of 150 quationares collected most oftraders (66.7%) kept the animals for 1-3 days before it was marketed. Traders bin Beringkit and Kediri(76.3%) used to mix different species of birds in their cages, whereas none of the traders from Kumbasaridoing that. When hygienec and sanitation aspects were considered (ie. Washing and desinfectan sprayingfor cages) it was found that the behavior of traders varied markedly between the 3 different market. Inconclusion the traders awareness to especially bird flue infection and implementation of biosecurity isvery low.
FAKTOR RESIKO INFEKSI ESCHERICHIA COLI O157:H7 PADA TERNAK SAPI BALI DI ABIANSEMAL, BADUNG, BALI. Damayanti, Eva; Sukada, I Made; Suardana, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (4) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor resiko yang memengaruhi infeksi E. coli O157:H7 pada ternak sapi bali di Kecamatan Abiansemal. Penelitian diawali dengan pengambilan data epidemiologi yang meliputi umur sapi, jenis kelamin, sistem pemeliharaan, sumber air minum, keadaan cuaca, ketinggian daerah, jenis lantai kandang, kebersihan lantai kandang, kemiringan lantai kandang, dan kebersihan sapi. Selanjutnya dilakukan isolasi danĀ  identifikasi keberadaan E. coli dengan pengujian pada media eosin methylene blue agar (EMBA), uji biokimia indol, methyl red, voges proskauer, dan citrate serta uji pewarnaan Gram. Isolasi dan identifikasi E. coli O157:H7 dilakukan dengan uji Sorbitol Mac Conkey Agar (SMAC), uji lateks aglutinasi O157, dan diakhiri dengan uji antiserum H7. Hasil penelitian menunjukan nilai Odds Ratio dari faktor resiko yang paling dominan berkontribusi menyebabkan kejadian infeksi E. coli O157:H7 pada ternak sapi bali di Kecamatan Abiansemal adalah faktor kebersihan sapi, umur sapi, dan ketinggian tempat dari permukaan laut, dengan Odds Ratio masing-masing sebesarĀ  2,90; 1,18; dan 1,16. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa kebersihan sapi, umur sapi, dan ketinggian tempat dari permukaan laut berkontribusi menyebabkan kejadian infeksi E. coli O157:H7 pada ternak sapi di Kecamatan Abiansemal.
BAHAN PEMBERSIH KULIT TELUR MENINGKATKAN KUALITAS TELUR AYAM YANG DISIMPAN PADA SUHU KAMAR SASTRAWAN, I MADE ADITYA; SUKADA, I MADE; SWACITA, IDA BAGUS NGURAH
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (2) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telur merupakan salah satu bahan pangan asal hewan yang banyak manfaatnya bagi masyarakat, baik putih telur maupun kuning telurnya. Untuk itu perlu mengetahui lama penyimpanan dan bahan pembersih yang baik agar kualitas telur ayam konsumsi dapat terjamin. Penelitian ?Bahan Pembersih Kulit Telur Meningkatkan Kualitas Telur Ayam Yang Disimpan Pada Suhu Kamar ? ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari bahan pembersih kulit telur dan lama penyimpanan pada suhu kamar (25oC ? 28oC) terhadap kualitas telur ayam konsumsi, dan untuk mengetahui adanya interaksi antara bahan pembersih kulit telur dengan lama penyimpanan pada suhu kamar terhadap kualitas telur ayam konsumsi ditinjau dari kekentalan putih telur, warna kuning telur dan grade telur. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 4 x 4, dengan 4 faktor kombinasi perlakuan bahan pembersih yaitu tanpa dilap, dilap dengan lap yang dicelup air keran, dilap dengan lap yang dicelup air hangat - hangat kuku (40oC ? 43oC), dan lap yang dicelup alkohol 70%. Sedangkan 4 faktor kedua yaitu lama penyimpanan pada suhu kamar (25oC ? 28oC) pada hari ke-0, ke-5, ke-10, sampai hari ke-15. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali menggunakan 2 butir telur dan hasilnya di rata-ratakan, sehingga total telur digunakan adalah 96 butir (2 x 4 x 4 x 3). Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam, dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahan pembersih kulit telur dan lama penyimpanan pada suhu kamar (25C-28oC) berpengaruh sangat nyata (P < 0,01) menurunkan kualitas telur ayam konsumsi ditinjau dari kekentalan putih telur, warna kuning telur, dan grade telur. Terdapat interaksi yang nyata (P < 0,05) antara bahan pembersih kulit telur dengan lama penyimpanan pada suhu kamar (25oC-28oC) terhadap kualitas telur ayam konsumsi ditinjau dari kekentalan putih telur, dan grade telur. Begitu pula pada warna kuning telur terdapat interaksi yang sangat nyata (P<0,01) antara bahan pembersih kulit telur dengan lama penyimpanan pada suhu kamar (25oC ? 28oC). Pembersihan kulit dengan bahan pembersih alkohol 70% yang paling baik untuk membersihkan kulit telur seiring dengan lamanya penyimpanan selama 15 hari terhadap kualitas telur ayam dengan putih telur, grade telur dan warna kuning telur
PERBANDINGAN JUMLAH BAKTERI COLIFORM PADA TELUR AYAM BURAS YANG DIJUAL DI PASAR BERSANITASI BAIK DAN BURUK BIROWO, JERRY; SUARJANA, I GUSTI KETUT; SUKADA, I MADE
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telur ayam buras adalah salah satu jenis bahan pangan asal hewan yang banyak dikonsumsi masyarakat sebagai campuran madu, susu, atau jamur. Telur ayam buras lebih disukai masyarakat karena kuning telur yang lebih tua dan rasa lebih gurih jika dibandingkan dengan telur ayam ras. Telur yang mendapat perlakuan kurang baik dapat tercemar oleh bakteri. Salah satu bakteri yang dapat mengkontaminasi telur adalah bakteri Coliform, dan salah satu perredaran dari telur ayam buras adalah pasar tradisional. Sampel diambil dari 4 pasar tradisional (pasar Kuta 1, pasar Jimbaran, Pasar Kedonganan, Pasar Kuta II) sebanyak 80 butir. Setiap pasar diambil 20 butir telur, kemudian telur tersebut diuji kualitasnya yang ditinjau dari beberapa banyak jumlah bakteri Coliform. Pemilihan pasar berdasarkan dari keadaan dari sanitasi pasar tersebut. Pasar Kedonganan dan pasar Kuta 1 mewakili dari pasar yang bersanitasi buruk sedangkan pasar Kuta 2 dan pasar Jimbaran mewakili pasar yang bersanitasi baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 80 butir sampel telur ayam buras yang diperiksa melebihi dari standart nasional Indonesia yang harus di bawah 1 x 102. Jumlah bakteri Coliform pada pasar yang sanitasinya bersih lebih sedikit dibandingkan pasar yang sanitasinya buruk.
KUALITAS SUSU KAMBING PERANAKAN ETAWAH POST-THAWING PADA PENYIMPANAN SUHU KAMAR HAMIDAH, EMI; SUKADA, I MADE; SWACITA, IDA BAGUS NGURAH
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (3) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Susu merupakan media cair yang mempunyai komposisi sangat lengkap, sehingga tidak dapat bertahan lama dalam waktu lama bila disimpan pada suhu kamar. Susu yang disimpan pada suhu kamar akan mudah rusak jika tidak mendapat perlakuan seperti pasteurisasi, pendinginan/pembekuan, dan pemanasan. Dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing mengandung protein relatif lebih tinggi, yaitu 4,3% dibanding susu sapi 3%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas susu kambing PE post-thawing pada penyimpanan suhu kamar ditinjau dari uji didih, uji alkohol, dan uji derajat asam. Penelitian ini diulang sebanyak 6 kali setiap hari sekali dengan waktu penyimpanan pada suhu kamar selama 0 jam, 2 jam, 4 jam dan 6 jam. Kesimpulannya bahwa susu kambing PE post-thawing yang disimpan pada suhu kamar tidak melebihi 2 jam, sehingga susu kambing PE beku setelah di-thawing harus segera diminum.
CAKUPAN VAKSINASI ANTI RABIES PADA ANJING DAN PROFIL PEMILIK ANJING DI DAERAH KECAMATAN BATURITI, TABANAN TARIGAN, IVAN M; SUKADA, I MADE; PUJA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rabies merupakan salah satu penyakit yang bersifat zoonosis yang dapat menyerang manusia dan hewan berdarah panas dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan hewan yang positif rabies. Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang bebas rabies, namun semenjak kasus gigitan anjing positif rabies November 2008 di daerah Ungasan, Badung maka Bali dinyatakan sebagai daerah tertular rabies. Dalam hal ini Pemerintah Bali telah melakukan tindakan-tindakan dalam menanggulangi kasus rabies yang semakin menyebar luas di Bali. Akan tetapi, karena semakin luasnya daerah yang tertular rabies menunjukkan bahwa Pemerintah Bali belum maksimal dalam penanganan penyakit ini. Penelitian ini menggunakan metode observasional study, dengan melakukan pengumpulan data mengenai sosio-ekologi anjing dan profil pemilik anjing. Data mengenai sosio ekologi anjing meliputi: karakteristik anjing, terutama mengenai cakupan vaksinasi dan faktor resiko pada anjing yang tidak divaksin serta jumlah populasi anjing. Sedangkan data mengenai profil pemilik anjing meliputi: karakteristik keluarga, persepsi tentang penanganan rabies, pengetahuan tentang rabies dan vaksinasi, pengalaman dan pengetahuan tentang gigitan anjing. Dari penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut : cakupan vaksinasi di Banjar Pekarangan 79,4% dan Banjar Abianluang diperoleh hasil 67%, rata-rata hasil cakupan vaksinasi kedua Banjar tersebut 73,2%. Masih banyaknya masyarakat tidak memvaksin anjing dikarenakan belum cukup umur 5 orang, tidak dapat ditangani 11 orang, pemilik sibuk ketika waktu vaksin 22 orang dan pemilik acuh terhadap vaksinasi sebanyak 3 orang. Informasi mengenai rabies yang ada di masyarakat, didapat hasil sebanyak 274 orang mengetahui rabies dapat menginfeksi semua hewan mamalia, 251 orang mengetahui rabies dapat terjadi setiap waktu, dan 264 orang mengetahui rabies dapat dipengaruhi oleh faktor anjing. Sumber informasi didaerah tersebut, didapatkan hasil sebanyak 276 orang dari Pemerintah, sebanyak 243 orang mendapatkan informasi dari televisi, dan sebanyak 163 orang dari koran. Keberhasilan dalam pemberantasan rabies tidak akan berhasil jika hanya dengan vaksinasi dan eliminasi saja bila tidak dipadu dengan cara pemeliharaan anjing yang benar, sehingga perlu dilakukannya program pendidikan kepada masyarakat tentang bagaimana cara memelihara anjing yang baik, dengan membatasi pergerakan anjingnya (dengan cara diikat atau dikandangkan) serta perlunya meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pemberian vaksinasi anti rabies, terutama pada anjing-anjing muda.