Ketty Suketi
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Published : 29 Documents
Articles

Found 29 Documents
Search

APLIKASI KALSIUM DAN NAA UNTUK MENGENDALIKAN GETAH KUNING BUAH MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA L.) Tanari, Yulinda; Efendi, Darda; Poerwanto, Roedhy; Sopandie, Didy; Suketi, Ketty
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.793 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.10-18

Abstract

ABSTRACTThe yellow sap is produced naturally in mangosteen organ except in the root. The yellow sap contaminated the aryl and rind if the epithelial cell walls rupture due to deficiency of calcium (Ca). Calcium is one of structural component of cell walls, whereas naphthaleneacetic acid (NAA) has its role in improving cell division and cell elongation. Interaction of Ca and NAA can improve sink strength and capacity because the newly formed cells need Ca to construct wall structure. This experiment aimed at finding out the effect of Ca and NAA applications in reducing the contamination of yellow sap in mangosteen. The experiment was conducted by using factorial random block design consisting of 2 factors and 3 replications. The first factor was Ca dosage (0 and 4.8 kg/tree), and the second factor was NAA concentration (0, 200, 400 and 600 ppm). The results showed that application of 4.8 Ca/tree and 200 ppm NAA as much as 5 ml / fruit effectively improve the content of Ca pectate in pericarp, reduced the percentage of yellow sap contamination on the fruit segment, aryl and rind to 0% and 12.3% respectively compared to control (17.8% on fruit segment, 36.8% on aryl and 56.1% on rind).Key words: aryl, Ca pectate, cell wall, middle lamela.ABSTRAKGetah kuning adalah getah yang dihasilkan secara alami pada setiap organ manggis, kecuali pada akar. Getah kuning akan keluar dan mencemari aril serta kulit jika dinding sel epitel pecah karena kekurangan kalsium (Ca). Kalsium adalah komponen dinding sel, berperan dalam struktur dan permeabilitas membran sedangkan asam naftalenasetat (NAA) berperan penting dalam meningkatkan pembelahan dan pembesaran sel. Interaksi keduanya dapat meningkatkan kapasitas sink buah karena sel yang baru terbentuk membutuhkan Ca dalam menyusun struktur dinding sel. Percobaan bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi Ca dan NAA dalam menurunkan cemaran getah kuning manggis. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor ke-1 yaitu dosis Ca (0 dan 4.8 kg Ca/pohon) dan faktor ke-2 yaitu konsentrasi NAA (0, 200, 400 dan 600 ppm) dengan volume semprot 5 ml perbuah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi 4.8 kg Ca/pohon dengan NAA 200 ppm sebanyak 5 ml/buah efektif meningkatkan kandungan Ca pektat perikarp dan menurunkan persentase buah tercemar getah kuning menjadi 0% pada juring dan aril serta 12.3% pada kulit dibandingkan dengan perlakuan kontrol (17.8% pada juring, 36.8% pada aril dan 56.1% pada kulit buah).Kata kunci: aril, Ca pektat, dinding sel, lamela tengah
DEGREENING BUAH JERUK SIAM (CITRUS NOBILIS) PADA BEBERAPA KONSENTRASI DAN DURASI PEMAPARAN ETILEN H., Nian Rimayanti; Poerwanto, Roedhy; Suketi, Ketty
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.836 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.2.111-120

Abstract

ABSTRACTSiam tangerine peel is green when harvested. Degreening technology by ethylene can improve the citrus peel color becomes uniformly orange. Degreening is a process to break down green pigment (chlorophyll) on citrus peel chemically and form the orange color (carotene) without affecting internal quality of fruit. The purpose of this research was to determine the effect of ethylene concentration and ethylene exposure duration to bring out the color on Siam tangerine from Banyuwangi. Ethylene 0, 100, 200 ppm was injected into the box containing 2.8 kg citrus and was exposed to the cooling chamber with a temperature 18 0C for 24 hours ethylene + 48 hours without ethylene, 48 hours ethylene + 24 hour without ethylene and 72 hours ethylene. Ethylene exposure was conducted using multiple shots method. After exposure, tangerines were put at room temperature condition. Observations were conducted every two days: (a) non-destructive observation conducted using color reader to determine the color changes; (b) destructive observations for measuring chlorophyll and carotenoids content and physico-chemical changes i.e. the hardness, soluble solid content, titratable acidity and vitamin C. The results showed that the best combination was 200 ppm ethylene concentration for 48 hours ethylene exposure. This degreening technique altered the Citrus Colour Index (CCI) value from -1.60 to be 6.50, changed the tangerines into a bright orange. Degreening did not give negative impact on internal quality.Key words: carotenoid, chlorophyll, citrus color index, cooling chamber, tropical citrus         ABSTRAKWarna kulit buah jeruk siam saat dipanen umumnya hijau. Teknologi degreening menggunakan gas etilen dapat memperbaiki warna kulit jeruk tropika menjadi jingga. Degreening merupakan proses perombakan pigmen hijau (klorofil) pada kulit jeruk secara kimiawi dan membentuk warna jingga (karotenoid) tanpa mempengaruhi kualitas internal buah. Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh konsentrasi dan durasi pemaparan etilen untuk menstimulasi pigmen jingga dan pengaruhnya terhadap sifat fisikokimia jeruk siam Banyuwangi. Degreening jeruk menggunakan etilen 0, 100, dan 200 ppm diinjeksikan ke dalam box degreening yang berisi jeruk 2.8 kg dan dipaparkan pada cooling chamber dengan suhu 18 0C selama 24, 48, dan 72 jam. Pengamatan dilakukan setiap dua hari: (a) pengamatan non-destruktif dengan menggunakan color reader untuk mengetahui perubahan warna; (b) pengamatan destruktif dengan mengukur kekerasan, kandungan klorofil dan karotenoid, Padatan Terlarut Total (PTT), Asam Tertitrasi Total (ATT) dan vitamin C untuk mengetahui perubahan fisikokimia jeruk. Hasil penelitian menunjukkan perubahan warna kulit buah mulai terjadi pada hari ke 4 setelah perlakuan degreening. Konsentrasi etilen terbaik adalah 200 ppm dengan durasi pemaparan 48 jam yaitu dapat meningkatkan kualitas warna buah jeruk siam dari hijau menjadi jingga kekuningan dan mampu mengubah nilai Citrus Colour Index (CCI) dari -1.60 (hijau) menjadi 6.50 (jingga kekuningan), tanpa pengaruh negatif terhadap kualitas fisikokimia buah.Kata kunci: cooling chamber, citrus color index, jeruk tropika, karotenoid, klorofil
KARAKTERISASI MORFOLOGI BUNGA, BUAH, DAN KUALITAS BUAH TIGA GENOTIPE PEPAYA HIBRIDA Febjislami, Shalati; Suketi, Ketty; Yunianti, Rahmi
Buletin Agrohorti Vol. 6 No. 1 (2018): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.736 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v6i1.17488

Abstract

Percobaan dilaksanakan pada bulan Januari-Juni 2012 di Teaching Farm Tajur dan Laboratorium Pasca Panen Baranang Siang, PKHT-IPB -Bogor. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakter morfologi bunga, buah dan kualitas buah tiga genotipe pepaya hibrida, yaitu IPB H91, IPB H93 dan IPB H39. Parameter yang diamati yaitu karakter kualitatif dan kuantitatif bunga serta buah, uji kualitas fisik dan kimia buah, serta uji organoleptik. Hasil percobaan menunjukkan ketiga genotipe pepaya hibrida memiliki keunggulan karakter yang berbeda-beda. IPB H91 memiliki keunggulan tangkai bunga yang panjang serta jumlah bunga per buku dan buah yang banyak, bobot daging buah, persentase bagian yang dapat dimakan dan ketebalan daging buah yang besar, daging buah yang keras dan asam tertitrasi total yang rendah. IPB H93 memiliki keunggulan jumlah bunga yang banyak, jumlah biji per buah yang sedikit dan nilai padatan terlarut total yang tinggi. IPB H39 memiliki keunggulan jarak antar ruas bunga yang pendek, kulit buah yang keras dan kandungan vitamin C yang tinggi. Hasil uji organoleptik juga menunjukkan genotipe IPB H39 memiliki bentuk dan rasa yang lebih disukai oleh panelis. Genotipe IPB H91 dapat dijadikan alternatif untuk memperoleh pepaya hibrida karena memiliki banyak karakter unggul pada fase generatifnya daripada kedua genotipe lainnya.
PENGARUH JENIS MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT PEPAYA (CARICA PAPAYA L. ) GENOTIPE IPB 3, IPB 4, DAN IPB 9 Imanda, Nandya; Suketi, Ketty
Buletin Agrohorti Vol. 6 No. 1 (2018): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.486 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v6i1.16829

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh dari tipe-tipe media tumbuh pada semaian benih dan perkecambahan genotipe-genotipe benih pepaya IPB 3, IPB 4 dan IPB 9 serta mengetahui media pertumbuhan yang sesuai untuk pertumbuhan semaian pepaya yang baik dan memiliki bobot yang ringan dalam memudahkan pengangkutan. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret hingga September 2011 di rumah kaca FATETA IPB, Leuwikopo Bogor dan kebun percobaan PKBT IPB, Tajur Bogor. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan menggunakan dua faktor. Faktor pertama adalah lima macam media pertumbuhan dengan rasio 2:1:1, yaitu M1 = tanah : pasir : pupuk kandang, M2 = tanah : pasir : arang sekam padi, M3 : tanah :  pasir : cocopeat, M4 = tanah : pupuk kandung : cocopeat dan M5 = tanah : pupuk kandang : arang sekam. Penelitian terdiri dari 15 kombinasi dengan 3 ulangan sehingga ada 45 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkecambahan pepaya yang tertinggi pada media dengan campuran tanah, pupuk kandang dan arang sekam (M5) sebesar 70% dan genotipe IPB 3 (G1) sebesar  70.91%. Media dengan komposisi tanah, pupuk kandang dan arang sekam (M5) dengan rasio 2:1:1 merupakan media terbaik untuk persemaian pepaya yang berumur 6 MST dan memiliki bobot semaian per polibag yang teringan dibandingkan dengan media tanam lainnya untuk memudahkan transportasi bibit.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN PERTANAMAN PEPAYA SUKMA DENGAN TANAMAN SELA BEBERAPA JENIS SAYURAN Rizki, Dian Pratanda; Suketi, Ketty; Widodo, Winarso D
Buletin Agrohorti Vol. 6 No. 1 (2018): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.58 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v6i1.16819

Abstract

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman buah yang berpotensi sebagai sumber gizi dan struktur tajuknya memungkinkan untuk ditanami tanaman sela. Penanaman tanaman sela (alley cropping) adalah salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas lahan. Tujuan penelitian mempelajari peningkatan produktivitas lahan pertanaman pepaya Sukma dengan tanaman sela beberapa jenis sayuran. Percobaan dilaksanakan di kebun Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Pasir kuda, Ciomas dan Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, sejak bulan Februari ? Juli 2016. Percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan jenis tanaman sayuran sebagai perlakuan. Perlakuan terdiri atas 4 macam tanaman sela dan 1 perlakuan kontrol. Tanaman sela yang digunakan adalah 1). Caisin, 2). Bayam, 3). Kangkung, dan 4). Basella alba. Pola tanaman sela dapat meningkatkan produktivitas lahan. Perlakuan tanaman sela Basella alba menghasilkan produksi sayuran yang tinggi. Perlakuan tanaman sela bayam menghasilkan bobot buah pepaya per petak yang tinggi sedangkan tanaman kangkung menghasilkan bobot per buah pepaya terendah. Perlakuan tanaman sela di antara tanaman pepaya tidak mempengaruhi pertumbuhan, mutu fisik dan mutu kimia buah pepaya.
ANALISIS KEDEKATAN HUBUNGAN ANTAR GENOTIPE PEPAYA BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGI DAN BUAH Suketi, Ketty; Poerwanto, Roedhy; Sujiprihati, Sriani; Sobir, ,; Widodo, Winarso D.
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 38 No. 2 (2010): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.631 KB) | DOI: 10.24831/jai.v38i2.1797

Abstract

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:IN; mso-no-proof:yes;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --> A study was conducted to determine the variation and relationships among  papaya genotypes based on morphological and fruit characteristics  in order to produce  high quality papaya fruits. Fruit characterization study is very useful for genotype improvement and genotype classi?  cation of papaya. In this study the morphological characters of 36 genotypes were analyzed to determine their phenotypic variabilities.  The relationships between genotypes based on all of the morphological and fruit characteristics were tested by subjecting the data to multivariate principal component analysis and to cluster analysis. Based on the dendrogram generated from vegetative and generative characters, the 36 genotypes could be grouped into 11 clusters on a threshold of 1.6 and formed 6 clusters on a threshold of 1.8.  The dendrogram was able to explain the close relationship between IPB 5 x IPB 1 and IPB 5 x IPB 4, IPB 2 and IPB 7, IPB 1 and IPB 3 genotype. The scattered diagram of generative variable divided the papaya genotypes into three groups based on fruit sizes i.e small group (IPB 1, IPB 3, IPB 4, IPB 3 x IPB 4, IPB 1 x IPB 9), medium group (IPB 5, IPB 7, IPB 8, IPB 9) and big group (IPB 2, IPB 10).  The IPB 1, IPB 3 and IPB 4 were different from IPB 2 in fruit shapes, petal length of male ?  owers, in? orescence size and fruit length. The hybrid plants obtained from crossings with IPB 10 were different from the other genotypes in the colours of female-, hermaphrodite-, and male ?  ower-lobes. Subsequently the scatter diagrams also revealed that several genotypes i.e. IPB 2 x IPB 6, IPB 1 x IPB 5,  IPB 1 x IPB 9, IPB 5 x IPB 1 and IPB 5 x IPB 2 had superior characters  ideotype similar to IPB 1, IPB 3 and IPB 8 genotypes. Keywords: Carica papaya, hermaphrodite, female, dendrogram, scatter diagram, ideotype
KARAKTER FISIK DAN KIMIA BUAH PEPAYA PADA STADIA KEMATANGAN BERBEDA Suketi, Ketty; Poerwanto, Roedhy; Sujiprihati, Sriani; Sobir, ,; Widodo, Winarso Drajad
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 38 No. 1 (2010): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.04 KB) | DOI: 10.24831/jai.v38i1.1678

Abstract

The objective of the experiment was to investigate the physical and chemical characteristics of three stadia of maturity based on a range of peel color from green to yellow or based on percentage of the yellow area of fruit peel (stadium 1 = 25-49 % yellow, stadium 2 = 50-74 % yellow, and stadium 3 = above 75 % yellow) on six genotypes of papaya. Each genotype exhibited different days to maturity for each stadium. The fruits of stadium 1, 2 and 3 for IPB 1 were picked at 130, 135, and 140 days after anthesis (DAA); IPB 10A at 160, 165, and 170 DAA;  IPB 1 x PB 174 at 135, 140 and 145 DAA; while PB 174,  IPB 1 x IPB 10A and IPB 10A x PB 174 were picked at 140, 145 and 150 DAA, respectively. The results indicated that peel firmness was affected by maturity stage on female fruit of IPB 10A. Maturity stage affected chemical characteristics of papaya included total soluble solids (TSS) content (IPB 10A, female fruit of  PB 174, female fruit of IPB 1 x IPB 10A, and female fruit of IPB 1 x PB 174), vitamin C content (hermaphrodite fruit of 10 A, female fruit of IPB 1 x IPB 10A) and juice pH (hermaphrodite fruit of  IPB 1).  IPB 1 genotype can be harvested at all stadia of maturity stage. Hermaphrodite and female fruit of IPB 10 A, female fruit of  PB 174, female fruit of  IPB 1 x IPB 10A and female fruit of IPB 1 x  PB 174 genotype would be better harvested at stadium 3 of maturity stage.   Keywords: Carica papaya, papaya genotype, hermaphrodite fruit, female fruit, fruit quality, fruit maturity stage
PRODUKSI BIOMASSA DAN MINYAK ATSIRI KEMANGI (OCIMUM BASILICUM L.) PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK NITROGEN DAN PUPUK CAIR HAYATI Kartika, Juang G.; Suketi, Ketty; Mayasari, Nilam
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 1 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.207 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.1.56-63

Abstract

ABSTRACTBasil (Ocimum basilicum L.) is one of essential oil producers. Essential oil price fluctuates, one of the reasons is because of inappropriate cultivation which vary the supply. The research was conducted to determine the best rate of nitrogen fertilizer and the effect of biological liquid fertilizer on the essential oil production of basil. The experiment was arranged in Randomized Complete Block Design with two factors. The first factor was three levels of nitrogen rate: 0, 22.5, and 45 kg ha-1 and the second factor was two levels of biological liquid fertilizer rate; 0 and 2 L ha-1 for three replications of each treatment. Nitrogen increased the number of branches, flowers, and leaf length variables. Nitrogen rate of 22.5 kg ha-1 gave a higher economic value on the basil of essential oil production. Biological liquid fertilizer increased the height and number of basil leaves variables, but it was not impacted the yield and essential oil of basil.Keywords: branches, distillation, fertilization, yieldABSTRAKKemangi (Ocimum basilicum L.) merupakan salah satu sumber penghasil minyak atsiri. Harga minyak atsiri yang fluktuatif, salah satunya disebabkan budidaya yang belum tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk nitrogen terbaik dan mempelajari pengaruh pupuk cair hayati terhadap produksi minyak atsiri pada tanaman kemangi. Percobaan penelitian disusun dalam Rancangan Kelompok Lengkap Teracak terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama perlakuan dosis nitrogen 3 taraf; 0, 22.5, dan 45 kg ha-1 dan faktor kedua perlakuan dosis pupuk cair hayati 2 taraf; 0 dan 2 L ha-1 dalam 3 ulangan masing-masing perlakuan. Secara tunggal nitrogen meningkatkan peubah jumlah cabang sekunder, jumlah bunga dan panjang daun. Nitrogen dengan dosis 22.5 kg ha-1 memiliki nilai ekonomi lebih tinggi pada produksi minyak atsiri kemangi. Pengaruh pupuk cair hayati meningkatkan peubah tinggi dan jumlah daun kemangi. Pupuk cair hayati tidak mempengaruhi rendemen dan produksi minyak atsiri kemangi.Kata kunci: bobot, destilasi, pemupukan, rendemen
KRITERIA KEMASAKAN BUAH PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) IPB CALLINA DARI BEBERAPA UMUR PANEN Taris, M. Luthfan; Widodo, Winarso D.; Suketi, Ketty
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 6 No. 3 (2015): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.916 KB) | DOI: 10.29244/jhi.6.3.172-176

Abstract

ABSTRACTPapaya is one of the climacteric fruit that has a short shelf life. It has high potential as a source of vitamins and minerals. This research was aimed at studying the maturity criteria of postharvest ripeness of Callina papaya fruit of several picking ages and to determine the best picking ages for postharvest handling in order to extend the shelf life. Experiment was conducted in the Research Center for Tropical Horticulture, Bogor Agricultural University (PKHT, IPB) Papaya Farm Tajur, Bogor and postharvest ripening test was conducted at Postharvest Laboratory, Department of Agronomy and Horticulture, Bogor Agricultural University in February to July 2014. Experiment consisted of 4 treatments: 115, 120, 125 and 130 days after anthesis (DAA) with 3 replications. The longest shelf life for papaya Callina was obtained by fruit picked at 115 DAA (heat unit 2010.06 0C day) with the shelf life of 8 days. Picking ages 120 DAA (heat unit 2102.13 0C day) was the best picking ages for treatment to extend the shelf life because of the good chemical quality contained and its shelf life of 7 days. The older papaya fruits ripened faster than the younger papaya fruit. Younger papaya has a lower respiration rate than the older papaya. Picking ages did not affect the physical quality but affect the chemical quality of papaya fruit at the same postharvest maturity level.Kata kunci: Callina, chemical quality, physical quality, shelf life ABSTRAK Pepaya merupakan salah satu buah klimakterik yang memiliki daya simpan pendek, tetapi memiliki potensi yang tinggi sebagai sumber vitamin dan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kriteria kematangan pascapanen buah pepaya Callina dari beberapa umur panen dan menentukan saat panen terbaik untuk penanganan pascapanen dalam rangka memperpanjang masa simpan. Buah untuk percobaan diperoleh dari kebun pepaya Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor (PKHT, IPB) Tajur, Bogor dan pengujian kematangan pascapanen dilakukan di Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor pada bulan Februari - Juli 2014. Percobaan terdiri atas 4 perlakuan: 115, 120, 125 dan 130 hari setelah antesis (HSA) dengan 3 ulangan. Umur simpan terlama pepaya Callina diperoleh pada umur panen 115 HSA (satuan panas sebesar 2010.06 0C hari) dengan umur simpan 8 hari. Umur panen 120 HSA (satuan panas sebesar 2102.13 0C hari) merupakan umur panen terbaik untuk perlakuan memperpanjang umur simpan karena mutu kimia baik dengan umur simpan 7 hari. Buah pepaya yang dipanen tua lebih cepat masak dibandingkan dengan buah pepaya yang dipanen muda. Pepaya yang dipanen muda memiliki laju respirasi yang lebih rendah dibandingkan dengan pepaya yang dipanen tua. Umur panen tidak mempengaruhi mutu fisik tetapi mempengaruhi mutu kimia buah pepaya pada tingkat kematangan pascapanen yang sama.Kata kunci: Callina, mutu fisik, mutu kimia, umur simpan
STUDI KARAKTER MUTU BUAH PEPAYA IPB Suketi, Ketty; Poerwanto, Roedhy; Sujiprihati, Sriani; Sobir, ,; D.Widodo, Winarso
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 1 No. 1 (2010): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1675.89 KB) | DOI: 10.29244/jhi.1.1.17-26

Abstract

ABSTRACTThe objective of the experiment was to investigate the physical and chemical characteristic of eight genotypes of papaya i.e. IPB1, IPB 2A, IPB 3, IPB 3A, IPB 4, IPB 7, IPB 8, and IPB 9 on two stages of ripening period based on percentage of the yellow area of fruit peel (75% yellow and 100% yellow). The fruits were picked at 25% yellow of fruit peel colour. The experiment was conducted in split plot wi th completely randomized block design. The main plot was ripening periods of 75% and 100% ripe, while the genotypes were taken at subplot. There was no significant different on physical and chemical characteristics between papaya at stadium 75% and 100% yellow. Flesh firmness of IPB 9 was better than IPB 1, IPB 4 and IPB 8. Ascorbic acid content of IPB 4 (107.36 mg/100 g) was higher than that of IPB 2A and IPB 3A. Carotenoid content of IPB 4 (29. 73 mg/100g) was higher than that of the other genotypes.Key words: Carica papaya, physical characteristic, chemical characteristic, ascorbic acid, carotenoid