I Nyoman Sulabda
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

RESIDU ANTIBIOTIK TETRASIKLIN DAN PENISILIN DALAM DAGING SAPI BALI YANG DIPERDAGANGKAN DI BEBERAPA PASAR DI BALI (TETRACYCLINE AND PENILILLIN ANTIBIOTIC RESIDUES IN BALI BEEF WHICH ARE TRADED IN SEVERAL MARKETS IN BALI) Siswanto, Siswanto; Sulabda, I Nyoman
Jurnal Veteriner Vol 19 No 4 (2018)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2018.19.4.497

Abstract

Animal products that are marketed are found to contain antibiotics (residues), so that if consumed by the humans for a long time will have a negative effect on human health, therefore regular monitoring is needed. Therefore it is very important to do the research on antibiotic residues in beef in several market areas in Bali. This study aims to determine residual tetracycline and penicillin antibiotics on beef bali cattle in several markets in Bali-Indonesia.  Research using 60 samples of beef originated from 5 different markets in Bali. As many as 12 sempels (100 g for each sample) was taken from each market that were purchased from different merchants. Screening tests (bioassay test) used to determine antibiotic residues in meat. The results showed that only three samples were positive containing antibiotics there were tertrasiklin 2 samples (3.33%) and penicillin1sample(1.67%). It was concluded that there were still antibiotic residues in beef marketed  in Bali. 
PERCENTAGE OF VIABLE SPERMATOZOA COLLECTED FROM THE EPIDIDYMES OF DEATH LOCAL DOG Sulabda, I Nyoman; Puja, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 1 No. 2 Agustus 2009
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study to determine the effectof post mortem time on percentage of lifeepididymessperm from postmortem dog caudae epididymides. A total of 9 dog were usedand divided into three group. T0 was control group, T1, 3 hours postmortem and T2, 6hours postmortem. This way, samples were obtained at different times postmortem. Spermwere extracted from the caudae epididymes by means of cuts.The result showed that the percentage of life sperm were 67,16 ± 5.67(T0), 46.33 ± 5.60(T1) and 24.00 ± 4.35 respectively. We could appreciate that percentage of life wasaffected by postmortem time. There was significant decrease life sperm recovered fromepididymes postmortem (P<0.01). In conclusion, epididymes sperm from dog undergodecrease of percentage of life, but it could stay acceptable within many hours postmortem.We intepreted these data to indicate that it may still be possible to obtain viablespermatozoa many hours later.
PENGARUH SUBSTITUSI AIR KELAPA MUDA DENGAN PENGENCER SITRAT KUNING TELUR TERHADAP MOTILITAS DAN PERSENTASE HIDUP SPERMATOZOA ANJING Sulabda, I Nyoman; Puja, I Ketut
Buletin Veteriner Udayana Vol. 2 No. 2 Agustus 2010
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of tender coconut water substitutionon egg yolk citrate diluent with different doses on local breeds dog sperm motility and livespermatozoa. Semen was manually collected. Progressive motility and percentage of livespermatozoa were evaluated under a microscope utilizing a drop of semen between awarmed glass slide and coverslip, both at a temperature of 38 0C. The percentage of motileand live spermatozoa were examined by counting 100 spermatozoa using the classificationof Christiansen (1984). Sperm viability was assessed by eosinnegrosin staining. The result showed that coconut water substitution has significant effect on the motility and livespermatozoa . Combination between the levels of coconut water in the egg yolk citratediluent could be applied as an alternative diligent instead of egg yolk diligent for dogsemen up to 75%.
PERILAKU MERAWAT ANAK PADA ANJING KINTAMANI BALI PRIMIPARA DAN MULTIPARA Manuela, Ni Luh; Puja, I Ketut; Sulabda, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak anjing yang baru dilahirkan, dalam melanjutkan proses kehidupannya sangat ketergantungan pada induk. Hubungan antara pengalaman induk dan penampilan dalam berinteraksi dengan anaknya akan meningkatkan ketahanan hidup anak secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku merawat anak pada anjing kintamani bali serta menginvestigasi apakah ada perbedaan perilaku merawat anak antara induk primipara dengan multipara. Sampel penelitian terdiri dari lima indukan primipara dan tujuh indukan multipara dan diambil dari kennel anjing kintamani yang berada di Bali, Solo, Bandung dan Surabaya dengan lingkungan terkontrol. Interaksi induk dan anak dicatat selama 15 menit setiap hari pada hari ke-7, -14 dan -21 setelah melahirkan. Rata-rata waktu berinteraksi antara induk primipara dan multipara dianalisis dengan Student T-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada waktu yang diperlukan untuk menyusu antara induk primipara dengan multipara.  Pada indukan multipara, waktu yang dihabiskan untuk menyusu adalah 13,95 menit sedangkan pada induk primipara adalah 9,93 menit. Waktu yang dihabiskan induk untuk kontak dengan anak, seperti menjilat bagian tubuh dan alat genitalis anak tidak menunjukan perbedaan yang nyata. Hasil penelitian disimpulkan bahwa induk anjing kintamani multipara menghabiskan waktu lebih lama dibanding dengan induk primipara.
PREVALENSI DAN INTENSITAS INFEKSI CACINGASCARIDIA GALLI PADA AYAM BURAS DI WILAYAH BUKIT JIMBARAN, BADUNG Pabala, Meiksilano Ferdy; Apsari, Ida Ayu Pasti; Sulabda, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (3) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi cacing Ascaridia galli merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu kesehatan ayam buras dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar setiap tahun bagi para peternak ayam buras, karena didukung oleh penerapan sistem pemeliharaan dan kebersihan lingkungan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan intensitas infeksi cacing Ascaridia galli pada ayam buras di wilayah Bukit Jimbaran, Badung. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 110 organ usus halus yang diambil langsung dari ayam buras yang berumur 3-5 bulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi infeksi cacing Ascaridia galli pada ayam buras di wilayah Bukit Jimbaran, Badung sebesar 34,5%. Pada ayam jantan prevalensi infeksi sebesar 46,7% dan pada ayam betina 30,0%. Prevalensi berdasarkan jenis kelamin tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05). Intensitas infeksi yang ditemukan sebesar 1-16 ekor cacing Ascaridia galli per satu usus halus yang diperiksa.
ASOSIASI POLIMORFISME GENETIKA LOKUS DEOXYNUCLEIC ACID (DNA) MIKROSATELIT GEN BOVINE LYMPHOCYTE ANTIGEN (BOLA) DENGAN KUALITAS SEMEN PADA SAPI BALI Puja, I Ketut; Wandia, I Nengah; Suastika, Putu; Sulabda, I Nyoman
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 7, No 2 (2013): J. Ked. Hewan
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v7i2.932

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan informasi dasar mengenai struktur genetika menggunakan marka melokuler DNA mikrosatelit gen bovine lymphocyte antigen (BoLA) dan hubungannya dengan kualitas semen sapi bali. Data diambil dari 8 ekor sapi jantan yang ada di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Inseminasi Buatan, Baturiti, Tabanan, Bali. Hasil pemeriksaan kualitas sperma menunjukkan bahwa volume semen sapi bali 3,0-6,5 ml, konsentrasi spermatozoa 800-11.000 juta sel/ml, dan persentase spermatozoa motil 70-75%. Hasil penelitian pada sapi bali menunjukkan bahwa ketiga lokus mikrosatelit yang digunakan teramplifikasi pada sapi bali dan jumlah alel pada lokus RM185 dan BM1815 adalah 2 sedangkan jumlah alel pada lokus DRB3 adalah 1. Heterozigositas per lokus berkisar 0-0,533. Nilai PIC per lokus antara 0-0,375. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ukuran alel pada ketiga mikrosatelit berpotensi sebagai marka molekuler yang berperan terhadap kualitas semen pada sapi bali.
HEMOLISIS ERITROSIT BABI LANDRACE JANTAN YANG DIPOTONG DI RUMAH PEMOTONGAN HEWAN PESANGGARAN DENPASAR VITASARI DAMANIK, MERRY NAOMI; WANTO, SIS; SULABDA, I NYOMAN
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (3) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai hemolisis eritrosit babi landracejantan yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran Denpasar, bertujuan untuk mengetahui titik fragilitas eritrosit (hemolisis awal) dan hemolisis total. Penelitian ini menggunakan 30 sampel darah babi landracejantan yang ditampung pada saat dipotong di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran Denpasar, dan metode yang dipakai adalah terjadinya hemolisis dalam seri larutan 0,9%-0,3% NaCl. Hasil menunjukkan bahwa hemolisis awal terjadi pada rentang 0,65%-0,75% NaCl dengan rata-rata 0,70% NaCl dan standar deviasi ± 0,035, sedangkan hemolisis total terjadi pada rentang 0,45%-0,55% NaCl, rata ? rata 0,45% NaCl, dan standart deviasinya ± 0,031. Dapat disimpulkan bahwa hasil yang didapat dari penelitian ini bahwa pada babi landrace jantan memiliki hemolisis awal 0,70% dan hemolisis total 0,45%. Disarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan dengan melihat jenis kelamin, umur, dan asal hewan.
KADAR GLUKOSA DARAH ANJING KINTAMANI Kendran, Anak Agung Sagung; Sudisma, I Gusti Ngurah; Sulabda, I Nyoman; Gorda, I Wayan; Anggreni, Luh Dewi; Loekali, Bendelin Melda
Buletin Veteriner Udayana Vol. 5 No. 2 Agustus 2013
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penentuan kadar glukosa darah anjing kintamani menggunakan Accu-check Active dilakukan di laboratorium Patologi Klinik Veteriner, Fakultas Kedoktern Hewan Universitas Udayana. Sampel darah diambil dari 50 ekor anjing kintamani untuk menentukan kadar glukosa acak dan 10 ekor untuk mengetahui kadar glukosa darah puasa dan dua jam setelah makan. Sampel darah diambil dari vena chepalica. Anjing yang dipilih sebagai sampel adalah anjing kintamani milik penduduk di daerah Denpasar dan Kintamani. Hasil penelitian ini menunjukkan rerataan kadar glukosa normal darah anjing kintamani secara acak sebesar 86,62 mg/dl  19,09, jantan adalah 84,10 mg/dl  19,11  dan betina 89,81 mg/dl  19,01..  Pada keadaan puasa kadar glukosa darah anjing kintamani adalah 73,4 mg/dl  5,98,   jantan 74 mg/dl  2,82 betina 73 mg/dl  7,69. Kadar glukosa darah anjing kintamani dua jam setelah makan sebesar 75,6 mg/dl  6,13, jantan 76,25 mg/dl  2,36 dan  betina 75,76 mg/dl 7,98. Hasil ini masih berada dalam kisaran normal berdasarkan standar acuan Graham. Dengan demikian Accu-check Active dapat dipakai untuk menentukan kadar glukosa darah anjing kintamani.
TEKANAN OSMOSIS MEMBRAN ERITROSIT SAPI BALI JANTAN Apriandi, Ardi; wanto, Sis; Sulabda, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (1) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui Tekanan Osmosis Membran Eritrosit Sapi Bali Jantan. Materi yang digunakan yaitu 30 ekor sapi dewasa ( kondisi klinis sehat, tanpa memperhatikan asal, dan pakan yang diberikan) yang disembelih di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran, Denpasar. Metode penentuan tekanan osmosis yang dipakai menggunakan metode Swenson (2005), 2 mL darah sapi (diambil dari vena jugularis/saat disembelih), ditaruh dalam tabung reaksi yang telah diisi antikoagulan EDTA (Ethilyne Diamine Tetra Acetic). Kemudian disimpan dalam termos dingin dan segera diuji di laboratorium. Hasil menunjukkan bahwa tekanan osmosis membran eritrosit darah sapi bali sebagai berikut : hemolisis awal terjadi pada rata-rata 0,94 Osm/L (± 0.06) dengan rentang 0,85 Osm/L?1,03 Osm/L. Rataan total hemolisis 0,51 Osm/L (± 0,037) dengan rentang 0,51 Osm/L-0,60 Osm/L.
PREVALENSI DAN INTENSITAS INFEKSI CACING TETRAMERES SPP. PADA AYAM BURAS DI WILAYAH BUKIT JIMBARAN, BADUNG Chandra, Michele; Apsari, Ida Ayu Pasti; Sulabda, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (4) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cacing Tetrameres spp. merupakan salah satu parasit yang menyerang sistem pencernaan dan berpredileksi di dalam proventrikulus unggas. Keberadaan cacing Tetrameres spp. dalam sistem pencernaan ayam buras dapat menyebabkan anemia dan kekurusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan intensitas infeksi cacing Tetrameres spp. pada ayam buras di wilayah Bukit Jimbaran, Badung. Sampel penelitian yang digunakan adalah 110 proventrikulus ayam buras yang diambil dari wilayah Bukit Jimbaran, Badung, Bali. Cacing Tetrameres spp. dapat terlihat dari permukaan proventrikulus yang berbentuk bulat berwarna merah. Keberadaan cacing Tetrameres spp. diperiksa melalui insisi dan pemencetan bulatan berwarna merah tersebut pada permukaan proventrikulus. Intensitas cacing Tetrameres spp. dihitung per satu proventrikulus yang diperiksa. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan diuji dengan chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi infeksi cacing Tetrameres spp. pada ayam buras di wilayah Bukit Jimbaran, Badung sebesar 33,6%. Prevalensi infeksi pada ayam buras jantan sebesar 30,0% dan pada ayam buras betina 35,0%. Jenis kelamin ayam buras tidak ada hubungan (P>0,05) dengan prevalensi infeksi cacing Tetrameres spp. Intensitas infeksi yang ditemukan sebanyak 1 ? 25 (6,4 + 5,9) ekor cacing Tetrameres spp. per ayam yang terinfeksi.