Bambang Sulardiono
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 59 Documents
Articles

HUBUNGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA YANG BERASOSIASI DENGAN LAMUN PADA TINGKAT KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PANTAI PULAU PANJANG, JEPARA Herfina, -; Ruswahyuni, -; Sulardiono, Bambang
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau panjang merupakan salah satu wilayah di perairan Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragamanan ekosistem perairan, antara lain adalah ekosistem lamun yang merupakan tempat hidup bagi biota-biota perairan yang salah satunya adalah epifauna. Secara ekologi, padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir yang salah satunya yaitu berfungsi menstabilkan dasar-dasar lunak di mana kebanyakan spesies tumbuh, terutama dengan sistem akar yang padat dan saling menyilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan epifauna yang berasosiasi pada kerapatan lamun yang berbeda dan mengetahui hubungan kelimpahan epifauna yang berasosiasi pada kerapatan lamun yang berbeda diperairan pantai pulau panjang jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2012, di perairan pantai Pulau Panjang, Kabupaten Jepara.  Metoda sampling yang digunakan adalah metoda pemetaan sebaran lamun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang bersifat deskriptif. Tingkat kerapatan lamun dibagi menjadi 3 stasiun dengan kerapatan yang berbeda yaitu kerapatan jarang, kerapatan sedang dan kerapatan padat, dengan luasan yang sama (5 m x 5 m). Pengambilan sampel epifauna dilakukan pada 9 titik sampling dengan cara pengambilan permukaan substrat yang berbeda didalam kuadran transek dengan menggunakan cetok dan disaring dengan menggunakan saringan ukuran 1 mm dan diberi formalin 4 %. Sampel disortir di laboratorium dan diidentifikasi. Dari hasil pengamatan diketahui terdapat 5 spesies lamun pada ketiga stasiun dengan jumlah yang berbeda. Jenis lamun yang ditemukan adalah jenis Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodule sp dan Syringodium sp. Kerapatan lamun yang jarang dengan jumlah individu 15.923 individu, kerapatan lamun sedang berjumlah 36.546 individu dan kerapatan lamun padat dengan berjumlah 53.182 individu. Kelimpahan epifauna yang ditemukan di daerah kerapatan lamun jarang yaitu 118 individu/m2 dari 17 spesies, sedangkan pada daerah kerapatan lamun sedang didapatkan 149 individu/m2 dari 15 spesies dan untuk kerapatan padat didapatkan 170 individu/m2 dari 19 spesies. uji korelasi  pearson didapatkan (nilai Sig (2-tailed pada output SPSS) sebesar 0, 698 ( ? 0,05), dengan kesimpulan H0 diterima dan H1 ditolak  yaitu tidak ada perbedaan yang signifikan antara struktur hewan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda di pulau Panjang Jepara. Selain itu, didapatkan nilai korelasi antara hewan epifauna dengan kerapatan lamun sebesar -0, 457. menunjukkan tidak adanya hubungan yang erat antara hewan epifauna dengan kerapatan lamun di Pulau Panjang.
ASPEK REPRODUKSI BULU BABI (SEA URCHIN) DI PERAIRAN PULAU MENJANGAN KECIL, KEPULAUAN KARIMUNJAWA, JEPARA (ASPECTS REPRODUCTION OF SEA URCHIN IN THE WATERS OF MENJANGAN KECIL ISLAND, KARIMUNJAWA ISLANDS, JEPARA) Puspitaningtyas, Indrie Hapsari; Rudiyanti, Siti; Sulardiono, Bambang
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gugusan terumbu karang yang terdapat di Kepulauan Karimunjawa termasuk ke dalam gugusan terumbu karang tepi dengan kisaran penutupan karang keras antara 6,7% - 68,9% dan indeks keragaman berkisar antara 0,43 - 0,91. Salah satu biota yang berasosiasi di ekosistem terumbu karang adalah bulu babi, yang merupakan biota filum echinodermata yang tersebar dari daerah intertidal dangkal hingga ke laut dalam. Gonad bulu babi di pasaran dikenal sebagai uni atau roe merupakan makanan populer dan salah satu komoditi utama di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Chili, Rusia, Prancis, Barbados dan Jepang. Penangkapan hingga overfishing menjadi masalah utama di berbagai negara, yang  akan mengakibatkan penurunan jumlah populasi bulu babi di perairan. Penelitian ini dilakukan di Pulau Menjangan Kecil, Karimunjawa pada bulan Mei 2017. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aspek reproduksi bulu babi melalui nilai IKG, nilai TKG, dan Fekunditas Bulu Babi di Pulau Menjangan Kecil. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap yaitu, tahap sampling lapangan yang terdiri dari pengambilan sampel bulu babi, dengan metode acak menggunakan kuadran transek, dan pengukuran kualitas perairan. Tahap analisis laboratorium yang terdiri dari analisis Indeks Kematangan Gonad, Tingkat Kematangan Gonad, dan Fekunditas. Penelitian ini ada dua spesies yang ditemukan di lokasi sampling yaitu Diadema setosum dan Echinothrix calamaris. Hasil yang diperoleh untuk bulu babi jenis Diadema setosum nilai IKG berkisar antara 1,66% - 4,26% dan fekunditas berkisar antara 641 butir ? 1.087 butir dan bulu babi jenis Echinothrix calamaris nilai IKG berkisar antara 5,32% - 7,54% dan fekunditas berkisar antara 1.159 butir ? 2.192 butir, sedangkan nilai TKG kedua jenis bulu babi berada pada fase 5 (lima) yaitu tahap memijah.  The coral reefs found in the Karimunjawa Islands are included in the cluster of coral reefs with hard coral cover ranges between 6.7% - 68.9% and the diversity index ranges from 0.43 to 0.91. One of the associated biota in the coral reef ecosystem is the sea urchin, which is an echinodermata physiological biota scattered from the shallow intertidal region to the deep sea. The sea urchin gonad on the market is known as uni or roe is a popular food and one of the main commodities in some countries such as USA, Canada, Chile, Russia, France, Barbados and Japan. Overfishing is a major problem in many countries, which will lead to a decrease in the number of sea urchin populations. This research was conducted in Menjangan Kecil Island, Karimunjawa in May 2017. The purpose of this research is to know the reproductive aspect of the sea urchin through IKG value, TKG value, and Fecundity of sea urchin on Menjangan Kecil Island. This research was conducted in two stages, field sampling stage consisting of sampling of sea urchins, by random method using transect quadrant, and measurement of water quality. Phase of laboratory analysis consisting of Gonad Maturity Index analysis, Gonad Maturity Level, and Fecundity. The study used only two species found at the sampling site is Diadema setosum and Echinothrix calamaris. The results obtained for Diadema setosum type IKG ranged from 1.66% - 4.26% and fecundity ranged from 641 grains - 1.087 grains and Echinothrix calamaris type IKG in the range of 5.32% - 7.54% and fecundity ranges from 1,159 grains - 2,192 grains, while the TKG value of both types of sea urchins is in phase 5 (five) or spawning phase.
HUBUNGAN PANJANG BERAT DAN FAKTOR KONDISI TERIPANG HITAM (HOLOTHURIA ATRA) DI KAWASAN TAMAN NASIONAL LAUT KARIMUNJAWA LENGTH-WEIGHT RELATIONSHIP AND CONDITION FACTOR OF BLACK SEA CUCUMBER (HOLOTHURIA ATRA) IN KARIMUNJAWA NATIONAL MARINE PARK AREA Panuluh, Citraningrum Mawa; Sulardiono, Bambang; Latifah, Nurul
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 8, No 4 (2019): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teripang Hitam (H. atra) merupakan jenis biota laut yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis di perairan Taman Nasional Laut Karimunjawa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan panjang berat, faktor kondisi dan analisis perbedaan antara Holothuria atra (teripang hitam) yang hidup di zona perairan budidaya dan wisata dengan yang hidup di zona rehabilitasi. Pengambilan sampel teripang dilakukan pada siang hari di 3 stasiun zona budidaya dan wisata yaitu Menjangan Kecil, Menjangan Besar dan perairan sekitar Wisma Apung serta 1 stasiun zona rehabilitasi yaitu di Perairan Alang-alang. Pengamatan sampel teripang dilakukan secara sensus. Total sampel yang diperoleh di Alang-alang sebanyak 30 individu dengan kisaran panjang 13-43 cm, berat 49-514 g, Sampel di Menjangan kecil sebanyak 17 individu dengan kisaran panjang 9-26 cm, berat 20-260 g, sampel Menjangan Besar sebanyak 5 individu kisaran panjang 16-23 cm berat 66-193 g dan sampel di perairan sekitar Wisma Apung sebanyak 17 sampel kisaran panjang 14-28 cm berat 23-260 g. Pertumbuhan teripang di masing-masing perairan menunjukkan pola pertumbuhan allometrik negatif yang artinya penambahan panjang lebih cepat daripada penambahan bobot. Nilai faktor kondisi Fulton teripang hitam di Alang-alang 1,34, Menjangan Kecil 1,91, Menjangan Besar 1,89, serta perairan sekitar Wisma Apung 1,37, menunjukkan teripang hitam di perairan yang banyak pengunjung lebih gemuk daripada teripang hitam di Alang-alang yang sepi pengunjung, serta faktor kondisi berat relatif alang-alang 104,27, Menjangan Kecil 104,25, Menjangan Besar 105,59 dan Wisma Apung 108,22 masing-masing perairan semua diatas 100 menunjukkan perairan tersebut menyediakan surplus makanan yang cukup.  Black Sea Cucumber (H. atra) is a type of marine biota that has ecological and economic value in the waters of the Karimunjawa Marine National Park. The purpose of this study was to analyze the relationship length-weight, condition factor and analysis of differences between Holothuria atra (black sea cucumbers) that live in cultivation and tourism zones and those that live in rehabilitation zones. Sea cucumber sampling is conducted at noon in 3 stations of the cultivation and tourism zones, namely Menjangan Kecil, Menjangan Besar and the waters around Wisma Apung and 1 rehabilitation zone station in Alang-alang. Observation of sea cucumber samples is done by census. Total samples obtained in Alang-alang were 30 individuals with a range of length 13-43 cm, weight 49-514 g, sampel in Menjangan Kecil were 17 individuals with a range of length 9-26 cm, weight 20-260 g, sampel in Menjangan Besar were 5 individuals with a range of length 16-23 cm, weight 66-193 g, and last sampel in waters around Wisma Apung were 17 individuals with a range of length 14-28 cm weight 23-260 g. The growth of sea cucumbers in each waters shows a negative allometric growth pattern which means that the addition of the length is faster than the addition of the weight. Fulton?s condition factor values of black sea cucumber in Alang-alang 1.34, Menjangan Kecil 1.91, Menjangan Besar 1.89, and waters around Wisma Apung 1.37, shows that black sea cucumbers in the waters that many visitors are fatter than black sea cucumbers in the Alang-alang which deserted visitors, and the relative weight condition factors of Alang-alang 104.27, Menjangan Kecil 104.25, Menjangan Besar 105.59 and Wisma Apung 108.22 each of the waters above 100 indicates that these waters provide sufficient food surplus.
ANALISIS TROPHIC STATE INDEX CARLSON AIR MUARA SUNGAI BANJIR KANAL TIMUR, SEMARANG Khasani, Andro; Afiati, Norma; Sulardiono, Bambang
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 6, No 1 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSungai Banjir Kanal Timur merupakan salah satu sungai besar yang dimiliki Kota Semarang. Sungai ini berfungsi dalam sistem drainase dan pengendalian banjir. Beberapa aliran sungai mengalir ke Sungai Banjir Kanal Timur dan berakhir di muara. Muara merupakan segmen yang akan menampung semua beban yang berasal dari sungai. Oleh karena itu, status trofik perairan di muara, khususnya Sungai Banjir Kanal Timur perlu dievaluasi dalam rangka pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya alamnya. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Mei 2016 di muara Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualitas air melalui status kesuburan perairan di muara Sungai Banjir Kanal Timur, berdasarkan metode Trophic State Index (Carlson, 1977) dan metode STORET dalam Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air dan PP RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Variabel utama yang digunakan pada Analisis TSI Carlson adalah kandungan total N, total P, klorofil-a, dan kecerahan air (angka Secchi disk). Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan penentuan lokasi sampling bersifat purposive sampling. Hasil yang diperoleh dari analisis TSI (Carlson, 1977) berkisar 53 ? 57. Kriteria TSI menunjukkan bahwa TSI TP < TSI SD > TSI CHL dan TSI TP > TSI SD > TSI CHL. Pendugaan interpretasi hubungan tersebut menjelaskan bahwa fosfor membatasi biomasa alga (rasio TN/TP lebih besar dari 33:1), dan nilai TSI Chl yang rendah disebabkan beberapa faktor lain selain fosfor seperti, pemangsaan oleh zooplankton, kandungan nitrogen, dan sebagainya yang sifatnya mengurangi biomasa algae. Di sisi lain, analisis (Indeks STORET) menggunakan Kepmen LH No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air menghasilkan skor, yaitu -8. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesuburan perairan muara Sungai Banjir Kanal Timur, Semarang menurut TSI (Carlson 1977) berada pada status eutrofik ringan atau (Indeks STORET, Kepmen LH No. 115 / 2003) termasuk kategori perairan tercemar ringan. Kata Kunci : Status Mutu Perairan, Trophic State Index Carlson (1977),  Kepmen  LH No. 115 Tahun 2003, muara Sungai Banjir Kanal Timur Semarang. ABSTRACTEast Banjir Kanal River is one of the largest river owned by the city of Semarang. The river has a main function as drainage system and flood control of the city. Several streams flowing into the East Banjir Kanal River and end at the estuary. As estuary accommodates all loads from the river, therefore, the trophic status of waters in particular for East Banjir Kanal River needs to be evaluated in the context of environmental management and utilization of natural resources. This work was conducted during May 2016 in the estuary of East Banjir Kanal River. The objective was to determine river water quality using Trophic State Index by Carlson (1977) and the STORET method in the Decree of the Minister of Environment of The Republic of Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003 regarding Guideline for the Determination of Water Quality Status and The Government Regulation of The Republic of Indonesia No 81/2001 regarding Water Quality Management and Water Pollution Control. The main variables used in the analysis of Trophic State Index by Carlson, 1977 are total N, total P, chlorophyll-a and water clarity. Descriptive method is used to determine random sampling points. The average results of all stations analysed by means of Trophic State Index (Carlson, 1977) ranged from 53-57. The interpretation showed that TSI TP < TSI SD > TSI CHL and TSI TP > TSI SD > TSI CHL, these mean that phosphorus limit the biomass of algae (the ratio TN/TP larger than 33:1). Furthermore, lower TSI Chl values in all sampling point were due to several factors other than phosphorus, such as predatory zooplankton, nitrogen which worked to reduce algal biomass. The STORET analysis in the Decree of the Minister of Environment of The Republic of Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003 about Guideline for the Determination of Water Quality Status gives an overall score of  minus 8. It is concluded that by applying both methods, the estuary of the East Banjir Kanal, Semarang during the course of the study were on light eutrophic status and categorized as lightly polluted waters. Keywords:  Water Quality Status, Trophic State Index Carlson (1977), Decree of the Minister of Environment of The Republic Indonesia (Kepmen LH) No. 115/2003, Estuary of East Banjir Kanal River Semarang. 
HUBUNGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA DENGAN TINGKAT KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PERAIRAN BANDENGAN JEPARA Wulan, Sonia; Rudiyanti, Siti; Sulardiono, Bambang
Journal of Management of Aquatic Resources VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Ekosistem padang lamun di Perairan Bandengan Jepara penting bagi biota akuatik khususnya epifauna. Kerapatan lamunakan mempengaruhi bahan organik yang digunakan oleh epifauna, selain itu kerapatan lamun juga dapat mengendapkan bahan organik yang akan mempengaruhi kelimpahan epifauna. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2016 di Perairan Bandengan yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan epifauna dengan kerapatan lamun yang berbeda di Perairan Bandengan Jepara serta hubungan antara kandungan bahan organik dengan tingkat kerapatan lamun di Perairan Bandengan Jepara. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan survei dengan metode sampling yaitu Purposive Random sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 1 jenis lamun yang ditemukan di Pantai Bandengan  yaitu Thalassia sp. dengan kerapatan pada stasiun jarang (A) 178 ind/m2, stasiun padat (B) 368 ind/m2. Kelimpahan epifauna di kerapatan jarang dan padat di Perairan bandengan 140 ind/3m2, dan 91 ind/3m2. Rerata kandungan bahan organik sedimen pada kerapatan jarang, dan padat berturut-turut adalah 12.86% dan 76.85%.Berdasarkan hasil uji regresi menunjukkan antara kelimpahan epifauna dengan tingkat kerapatan lamun menunjukkan hubungan tidak searah, setiap kenaikkan kerapatan lamun tidak diikuti oleh kenaikkan kelimpahan epifauna, serta tingkat kerapatan lamun dengan bahan organik terdapat korelasi yang kuat, semakin tinggi tingkat kerapatan lamun akan diikuti oleh bahan organik.  Kata Kunci; Perairan Bandengan; Kerapatan Lamun; Kelimpahan Epifauna; Bahan Organik.  ABSTRACT Seagrass ecosystem in Bandengan coastal Jepara is important for epifauna. Different seagrass density will affect levels of organic matter used epifauna, in addition the density of seagrass can also precipitate organic particles which affect the abundance of epifauna. This research was conducted on March 2016. The aimed of this research was to determine the relationship of epifauna?s abundance to density seagrass and the relationship of organic matter to the density of seagrass. This research used survey method and random sampling technique. Samples were taken from three different station there are (A) sparse density, and (B) dense density. Sample epifauna were taken once a week for three time. The results showed only 1 type of seagrass found in Bandengan coastal Jepara that is Thalassia sp. With density on sparse station (A) 178ind/m2, dense station 368 ind/m2. The abundance of epifauna on station sparse (A) 140 ind/3m2, dense station (B) 91 ind/3m2, The highest abundance Sconsia sp 52 ind/m2 dan 28 ind/m2 and Cerithium sp 34 ind/m2 dan 19 ind/m2Organic material content of sedimen on density was sparse and dense was 5.71%, 9.81%. Based on the result of the correlation show that between the abundance of epifauna with seagrass density level there is a relation undirectional, density of seagrass will not increase accordingly to the abundance of epifauna, as well as to the content of organic matter. There is a close correlation that higher of density of seagrass will be followed by organic matter. Key Word; Coastal of Bandengan; Seagrass Beds Density; Abundance of Epifauna; Organic matter
HUBUNGAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK SEDIMEN DENGAN KELIMPAHAN INFAUNA PADA KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PANTAI BANDENGAN JEPARA Sofiana, Ucik Ramita; Sulardiono, Bambang; Nitisupardjo, Mustofa
Journal of Management of Aquatic Resources VOLUME 5, NOMOR 3, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABTRAK Pantai Bandengan kabupaten Jepara merupakan salah satu habitat bagi lamun. Tegakan daun lamun yang rapat berperan penting untuk mengurangi energi gelombang sehingga dapat mengendapkan partikel organik dan nutrien yang menjadi sumber makanan dari biota infauna. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2016 di Pantai Bandengan yang bertujuan untuk mengetahui hubungan kandungan bahan organik sedimen dengan kelimpahan infauna pada kerapatan lamun yang berbeda di pantai Bandengan Jepara. Metode yang digunakan yaitu metode Purposive Random Sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang digunakan apabila sampel yang akan diambil memiliki pertimbangan tertentu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 1 jenis lamun yang ditemukan di Pantai Bandengan  yaitu Thalassia sp dengan kerapatan masing ? masing stasiun 1840 ind/5m2, 1200 ind/5m2, 890 ind/5m2. Kandungan bahan organik sedimen pada kerapatan padat, sedang dan jarang berturut ? turut adalah 9.81%, 8.00%, 5.71%. Kelimpahan infauna di kerapatan lamun  padat, sedang dan jarang di Pantai Bandengan 26315 ind/m3, 22262 ind/m3, 18304 ind/m3. Berdasarkan hasil uji regresi diperoleh persamaan y = 984.52x - 288.5, menunjukkan bahwa hubungan bersifat positif, artinya setiap kenaikan kerapatan lamun diikuti oleh kenaikan kandungan bahan organik tetapi tidak diikuti oleh kelimpahan infauna. Nilai R² = 0.164206, dan nilai r = 0.405224 menunjukkan bahwa hubungan kandungan bahan organik dengan kelimpahan infauna memiliki keeratan  sedang, karena nilai keeratannya 40.52%. Kata Kunci: Bahan Organik, Kelimpahan Infauna, Kerapatan Lamun , Pantai Bandengan  ABSTRACT The Coastal Bandengan was one of habitat for seagrass. Density seagrass lived could redocing wave energy, so that caould precipitate particles and organic nutrients into the food source of the biota infauna. Research conducted in March 2016 at the Coastal Bandengan this experiment knowed the relationship of the content of organic of sediment  matter with infauna abundance on the density of different at Coastal seagrass Bandengan Jepara. The method used Purposive Random Sampling methods i.e., the sampling technique when a sample taken has certain considerations. The results showed 1 type of seagrass found at Coastal Bandengan i.e. Thalassia sp with the density of each station 1840 ind/5m2, 1200 ind/5m2, 890 ind/5m2. Organic matter of sediment in solid density, medium rare and successive ? co-designer were 9.81%, 8.00%, 5.71%. The abundance of infauna in the dense seagrass density, medium rare in the coastal Bandengan 26315 ind/m3, 22262 ind/m3 18304/m3. The results of the regression test obtained the equations y = 984.52 x-288.5, that relations are positive, meaning that increased the density of the seagrass were following by the increasing organic matter, but didn?t follow by an abundance of infauna. The value of R² = 0.164206, and the value of r = 0.405224, that the relationship of the content of organic materials with the abundance of infauna had medium, because the value of the correlation of 40.52%. Keywords: Organic Materials; Epifauna Abundance; Seagrass Density Bandengan Beach
KAJIAN TENTANG LAJU PERTUMBUHAN IKAN BANDENG (CHANOS CHANOS FORSKALL) PADA TAMBAK SISTEM SILVOFISHERY DAN NON SILVOFISHERY DI DESA PESANTREN KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG Susanti, Rina; Sulardiono, Bambang; -, Supriharyono
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tambak merupakan salah satu jenis habitat yang dipergunakan sebagai tempat untuk kegiatan budidaya air payau yang berlokasi di daerah pesisir. Sistem Tambak Silvofishery merupakan suatu kegiatan budidaya perikanan yang dikombinasikan dengan pengelolaan hutan mangrove. Dalam penelitian ini, pengambilan sampel dilakukan setiap satu minggu sekali selama 4 minggu dengan mencatat laju pertumbuhan ikan bandeng yaitu dengan mengukur panjang dan berat ikan bandeng. Populasi yang dimaksud adalah ikan Bandeng yang diambil 50 sampel  dari jumlah ikan yang ada di tambak silvofishery dan non silvofishery. Padat penebaran ikan bandeng 2000 ekor/ 0,5 Ha, dengan media tambak silvofishery dan non silvofishery. Serta dilakukan pula pengukuran parameter pendukung seperti suhu, salinitas, pH, kecerahan, oksigen terlarut, nitrat, dan fosfat. Hasil analisis uji-t dengan Two-Sample Assuming Equal Variances bobot Specific Growth Rate (SGR) ikan bandeng pada tambak sistem silvofishery dengan bobot SGR ikan bandeng pada tambak non silvofishery menunjukkan nilai T hitung sebesar 0,186 dan T tabel sebesar 0,859. Berdasarkan data statistik tersebut maka T hitung < dari T tabel yang berarti tidak terdapat perbedaan rata-rata bobot SGR ikan bandeng pada tambak silvofishery dengan bobot SGR ikan bandeng pada tambak non  silvofishery.
KELIMPAHAN EPIFAUNA PADA EKOSISTEM LAMUN DENGAN KEDALAMAN TERTENTU DI PANTAI BANDENGAN, JEPARA (EPIFAUNA ABUNDANCE IN SEAGRASS ECOSYSTEM WITH SPECIFIC DEPTH AT BANDENGAN BEACH, JEPARA) Indah Abrianti S, Indah Abrianti S; Supriharyono, Supriharyono; Sulardiono, Bambang
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 6, No 4 (2017): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem laut dangkal yang terdapat hampir di seluruh perairan dangkal Indonesia. Ekosistem lamun memiliki banyak peranan penting, salah satunya adalah tempat asosiasi dari epifauna. Kerapatan dari lamun akan berpengaruh terhadap kelimpahan epifauna di Pantai Bandengan Jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada April 2017 di Pantai Bandengan Jepara dan bertujuan untuk dapat mengetahui hubungan antara kelimpahan epifauna dengan kerapatan lamun, kedalaman dan bahan organik. Metode penelitian yang digunakan yakni Purposive Sampling. Pengambilan sampel diambil pada 3 stasiun dengan kedalaman berbeda dan masing-masing stasiun dilakukan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 1 jenis lamun di Pantai Bandengan, yaitu Thalassia sp. Kerapatan lamun pada masing-masing stasiun yaitu 120 (I), 219 (II) dan 50 (III), dengan kata lain terdapat lamun dengan kerapatan rendah, sedang dan tinggi. Epifauna yang ditemukan di Pantai Bandengan Jepara secara keseluruhan yaitu 6 spesies dengan kelimpahan 61 ind/m² pada stasiun kerapatan rendah, 101 ind/m² pada kerapatan sedang dan 119 ind/m² pada kerapatan tinggi. Berdasarkan uji regresi menunjukkan bahwa hubungan antara kelimpahan epifauna dengan kerapatan lamun, kedalaman dan bahan organik adalah positif, sedangkan pengaruh dari kerapatan lamun dan bahan organik terhadap kelimpahan epifauna terjadi secara langsung, dan pengaruh kedalaman terhadap kelimpahan epifauna adalah secara tidak langsung. The seagrass ecosystem is one of shallow marine ecosystem found in almost all shallow waters of Indonesia. The seagrass ecosystem has many important roles, one of which is the association of epifauna. The density of the seagrasses will have an effect on the epifauna abundance in Bandengan Beach Jepara. This research was conducted on April 2017 at Bandengan Beach Jepara and the aimed of this research was to find out the relationship between epifauna abundance with seagrass density, depth and organic material. The research method used is Purposive Sampling. Sampling is taken at 3 different depth stations and each station is done 3 repetitions. The results showed that found 1 type of seagrass in Bandengan Beach, namely Thalassia sp. Seagrass density at each station is 120 (I), 219 (II) and 50 (III), in other words there are seagrasses with low, medium and high density. Epifauna found in Bandengan Beach Jepara is 6 species with an abundance of 61 ind/m² at low density stations, 101 ind/m² at medium density, and 119 ind/m² at high density. Based on the regression test result showed that the relationship between epifauna abundance with seagrass density, organic material and depth is positive however seagrass density and organic material influence to epifauna abundance have direct effect and depth influence to epifauna abundance have indirect effect.
STRUKTUR KOMUNITAS IKAN KARANG PADA BOLA KARANG (REEF BALL) DI PERAIRAN PULAU PANJANG, KABUPATEN JEPARA, JAWA TENGAH Azhari, Muhammad Yusuf Muhar; Hendrarto, Boedi; Sulardiono, Bambang
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau panjang merupakan salah satu objek wisata didaerah Jepara. Daya tarik dari wisata pulau Panjang yaitu terdapat ekosistem terumbu karang yang dimanfaatkan oleh wisatawan, dan masyarakat setempat. Adanya kegiatan wisata tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap ekosistem terumbu karang yang menjadi rusak, yang diduga dapat mengakibatkan terjadinya penurunan produktivitas perikanan dan perairan. Sehubungan dengan hal tersebut dapat dilakukan upaya rehabilitasi terumbu karang yang rusak dengan rehabilitasi menggunakan bola karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis ikan karang, dan mengetahui struktur komunitas ikan karang yang berada dikawasan bola karang terkait dengan perbedaan waktu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April dan bulan September 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu meteode visual sensus dengan melakukan pengamatan, pencatatan, dan identifikasi terhadap ikan karang yang berada dikawasan bola karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013 dengan melakukan berenang bebas berjarak 4,5 meter dari setiap bola karang. Analisis data yang digunakan yaitu indeks komunitas, analisis uji t test, dan analisis uji chi-square. Hasil penelitian ikan karang di bola karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013 terdapat 10 genus yang terdiri dari 15 spesies, dan terjadi peningkatan jumlah ikan karang. Analisis uji chi-square menyatakan ada perbedaan komposisi kelimpahan ikan karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013. Indeks komunitas ikan karang pada bulan September lebih baik dibandingkan bulan April. Analisis uji t menyatakan ada perbedaan indeks komunitas ikan karang pada pengamatan bulan April dan bulan September 2013 di setiap bola karang yang terdapat di perairan pulau Panjang, Jepara. Panjang Island is one of the attractions in Jepara. The attraction of the Panjang Island tourism is coral reefs ecosystem which are utilized by the tourists, and the local community. The existence of  tourist activities can give a negative impact on coral reefs ecosystem, fisheries and aquatic productivity. In relation with that, it can rehabilitate damaged coral reefs use reef balls. The purpose of this study to was determine the reef fish species and the community structure of reef fish in the reef ball. This study was conducted in April and September 2013. This study used visual census method by observed, recorded, and identificated of reef fish in reef ball areas, on the observations in April and September 2013 by free-swimming within 4.5 meters of each reef balls. Data was analysis with community index,  t test, and chi-square analysis. The result of this study showed that, there were 10 genus consisted of 15 species, and there were increase of of reef fish in April and September. Chi-square test showed that there were significant differences between abundance of reef fish composition in April and September 2013. Community index of reef fish in September better than that in April. This was supported by t test analysis which stated that there were significant differences between community index of reef fish in April and September 2013 in every reef ball in Panjang Island, Jepara.
ANALISIS KUALITAS PERAIRAN BERDASARKAN KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI SUNGAI LANANGAN, KLATEN Azzam, Faudzi Ath Tho; Widyorini, Niniek; Sulardiono, Bambang
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 7, No 3 (2018): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Lanangan merupakan bagian hulu Sungai Bengawan Solo yang terletak di Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten. Jenis limbah seperti limbah domestik, industri, pertanian, perikanan dan peternakan telah mencemari Sungai Lanangan. Limbah organik dari industri tepung aren dan mie soun yang dibuang di Sungai Lanangan mencapai 50 ton limbah per hari. Hal tersebut menyebabkan perubahan kualitas air dan komposisi fitoplankton di Sungai Lanangan.Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari - Februari 2018 di Sungai Lanangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan dan komposisifitoplankton serta mengetahui kualitas perairan berdasarkan struktur komunitas fitoplankton di Sungai Lanangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode survei denganpengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Frekuensi pengambilan sampel dilakukan setiap 1 minggu sekali selama 3 minggu. Sampel diambil dari 3 stasiun, dimana stasiun 1 dengan karakteristik perairan terbuka; Stasiun 2 dengan karakteristik dekat industri pengolahan tepung aren; dan stasiun 3 dengan karakteristik dekat dengan daerah budidaya air tawar.Hasil penelitian didapatkan 11 genera fitoplankton yaitu dari kelas Bacillariophyceae (4 genera), Cyanophyceae (2 genera), Chrysophyceae (1 genus), Ulvophyceae (2 genera), Zygnematophyceae (1 genus) dan Chlorophyceae (1 genus). Kelimpahan rata-rata fitoplankton tertinggi terdapat pada stasiun 2 dengan kelimpahan 1.989 ind/l yang didominasi oleh genus Oscillatoria. Indeks keanekaragaman rata-rata pada setiap stasiun adalah 1,68 pada stasiun 1; 1,63 pada stasiun 2; dan 1,52 pada stasiun 3. Dari hasil indeks keanekaragaman yang didapatkan tersebut menunjukkan kisaran nilai antara 1,52 hingga 1,68 yang berarti bahwa kualitas perairan Sungai Lanangan tercemar ringan.  Lanangan river is one upstream of Bengawan Solo river which located at Daleman, Tulung, Klaten. types of waste such as domestic waste, industrial waste, agriculture, fishery and animal husbandry polluted Lanangan river. Especially organic waste from palm starch and soun noodle industry that are dumped in the Lanangan river reaches 50 tonnes waste per day. This research was conducted from January to February 2018 in the Lanangan river. The purpose of this research is to find out the abundance and composition of phytoplankton; and to determine the water qualitybased on the structure of the phytoplankton community in Lanangan river. This research uses survey method and use purposive sampling method. The Frequency of sampling is done once a week for 3 week. The samples taken from 3 stations, where station 1 is open water; Station 2 is near palm starch and soun noodle industry; and station 3 is close to freshwater aquaculture area.The resultsof the research found 11 genus of phytoplankton in class Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Chrysophyceae, Ulvophyceae, Zygnematophyceae and Chlorophyceae. The highest average of phytoplankton abundance found in station 2 with 1,989 ind/l which is dominated by the genus of Oscillatoria. The average diversity index each station is 1.68 at station 1; 1.63 at station 2; and 1.52 at station 3. From the results obtained the diversity index indicates the range of values between 1.52 to 1.68 which show that the water quality of Lanangan River is lightly to moderate polluted.  
Co-Authors - Herfina - Ruswahyuni Agus Hartoko Ali Djunaedi Anhar Solichin Anjani, Putri Dewi Arif Darmawan Asmawati, Hayu Azzam, Faudzi Ath Tho Bani Setyawan Boedi Hendrarto Chrysalina Indrastuti Churun Ain Dian Ayu Sapta Nur Utami Djoko Suprapto Dyah Pertiwi Jaya Wardhani, Dyah Pertiwi Jaya Egar Dwi Prayudha Elrin Meivian Mongi, Elrin Meivian Erna Agustin Nurcahyani, Erna Agustin Fatima, Shintia Nurul Fauzi, Reyhan Fathullah Frida Purwanti Guliano Gema Adi Satria Haeruddin Haeruddin Harahap, Malasari Helmi Ardi, Helmi Herda Mustika Sari, Herda Mustika Hidayaturrohmah, Fitriana Huda, Hasdin Nur Hutami, Ganjar Hesti Ign Boedi Hendrarto Ika Novalia Sihombing, Ika Novalia Indah Abrianti S, Indah Abrianti S Khasani, Andro Laksana, Mahalani Jati Maulina Septia Prahastuti Mauludi, Fadhil Max Rudolf Muskananfola Muhammad Sulaiman Muhammad Yusuf Muhar Azhari Mustofa Nitisupardjo Niniek Widyorini Nisa, Amida Urfah Khoirun Noky Rizky Samudra, Noky Rizky Norma Afiati nurul latifah Nurwinda Hikmawati Nyayu Sandra Aprianti, Nyayu Sandra Pahingguan, Prayogi Panuluh, Citraningrum Mawa Prijadi Soedarsono Pujiono W. Purnomo Pujiono Wahyu Purnomo Puspitaningtyas, Indrie Hapsari Raden Ario Raidie Bakhtiar Ramanda, Okky Aditya Rina Susanti Ristina, Mafi Rizqina, Cahya Ryanditama Ardiannanto Sahala Hutabarat Sari, Desy Melinda Setiawan, Bagus Putro Siahaan, Sahala Bonardo Sihotang, Silvyani Putri Silitonga, Yohana T. E. Siti Rudiyanti Slamet Budi Prayitno Sonia Wulan, Sonia Sri Wahyuni Supriharyono - Supriharyono Supriharyono Suryanti Suryanti Sutrisno Anggoro Taufani, Wiwiet Teguh Ucik Ramita Sofiana, Ucik Ramita Yaya Fitriyah, Yaya