Articles

Found 29 Documents
Search

PEMETAAN FAKTOR C YANG DITURUNKAN DARI BERBAGAI INDEKS VEGETASI DATA PENGINDERAAN JAUH SEBAGAI MASUKAN PEMODELAN EROSI DI DAS MERAWU Sulistyo, Bambang; Gunawan, Totok; Hartono, Hartono; Danoedoro, Danoedoro
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 18, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai indeks vegetasi yang diturunkan dari data penginderaan jauh dalam pemetaan faktor C sebagai masukan dalam pemodelan erosi USLE (Universal Soil Loss Equation). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menganalisis data penginderaan jauh Landsat 7 ETM + sehingga menghasilkan berbagai indeks vegetasi yang kemudian dilakukan analisis korelasi dengan Faktor C yang diukur di lapangan pada 45 lokasi. Dari analisis ini diperoleh suatu model untuk pemetaan faktor C (C model ) dari berbagai indeks vegetasi. Peta faktor C yang diperoleh kemudian dilakukan validasi pada 48 lokasi sehingga akan diketahui keakuratan hasil pemodelan. Dalam penelitian ini dikaji 11 (sebelas) indeks vegetasi yang diturunkan dari data penginderaan jauh, yaitu ARVI, MSAVI, TVI, VIF, NDVI, TSAVI, SAVI, EVI, RVI, DVI, dan PVI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 11 indeks vegetasi yang dikaji terdapat 8 indeks vegetasi yang menghasilkan peta faktor C dengan ketelitian yang tinggi, yaitu MSAVI, TVI, VIF, NDVI, TSAVI, SAVI, EVI, dan RVI. Indeks vegetasi yang menggunakan rumus yang lebih kompleks menghasilkan koefisien korelasi yang lebih tinggi dibanding dengan indeks vegetasi yang menggunakan rumus yang sederhana. Indeks vegetasi yang mempertimbangkan latar belakang tanah (MSAVI dan TSAVI) mempunyai koefisien korelasi lebih tinggi dibanding dengan koefisien korelasi yang tidak mempertimbangkan latar belakang tanah.
MULTIKULTURALISME DI BIMA PADA ABAD X – XVII Sulistyo, Bambang
Paramita: Historical Studies Journal Vol 24, No 2 (2014): PARAMITA
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v24i2.3120

Abstract

The authors tend to argue that the history of Bima, in West Nusatenggara  was started  in early 17th century, when Bima development  political relations with South Sulawesi. Hindu civilization in the form of worship in Wadu Paha, be overlooked, was regarded as a foreign culture. Historians tend to argue that Bima before Islam, have animism and dynamism belief. There are tendency rejects reality the Javanese role in history of Bima.This argument is not rational. What is the benefit of foreigner build a place of worship in one community who has different beliefs? This article would reconstruction history of Bima with appreciate the various components of culture that shaped his civilization. Elements of pre- Islamic became an important civilization component; not only animism and dynamism, but also Hindu . It is still apparent as the idealism of Bimanese  in the present.Keywords: multiculturalism, ethnic, BimaPara penulis sejarah Bima berpendapat bahwa awal peradaban Bima dimulai pada abad  17, ketika Bima menjalin hubungan-hubungan politik dengan Sulawesi Selatan. Peradaban Hindu berupa kompeks peribadatan di Wa du Paha, cenderung diabaikan, dianggap sebagai kebudayaan asing. Para sejarawan cenderung berpendapat bahwa Bima sebelum Islam, memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme. Ada kecenderungan subyektivitas yang menolak peran Jawa dalam  sejarah Bima.  Namun apabila dicermati pendapat  ini tidak rasional. Apa kepentingan orang Asing membangun tempat peribadatan  di suatu komunitas yang memiliki kepercayaan yang berbeda.  Tulisan ini berupaya merenkonstruksi kembali sejarah Bima dengan menempatkan dan menghargai berbagai komponen kebudayaan Bima  yang telah membentuk peradabannya. Unsur-unsur pra Islam menjadi unsure penting peradaban tidak hanya animism dan dinamisme, tetapi juga Hindu. Hal ini masih nampak jelas sebagai idealism orang Bima di masa kini.Kata kunci: multikulturalisme, etnis, Bima  
BEBERAPA CATATAN TENTANG SEJARAH NEGARA INDONESIA TIMUR Sulistyo, Bambang
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol 12, No 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah Sulawesi Selatan antara tahun 1945-1950 telah banyak diulas oleh para sejarawan. Namun membaca sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa tidak dengan sendirinya memperkuat integrasi bangsa. Dengan melihat penulisan sejarah tentang Negara Indonesia Timur karya-karya Anak Agung Gde Agung dan karya R.Z. Leirissa menunjukkan adanya beragam penafsiran. Mencerdaskan masyarakat dengan menulis sejarahnya boleh jadi akan memicu disintegrasi bangsa. Oeh karena itu pembelajaran sejarah belum cukup tanpa mempertimbangkan proses pembelajaran. Makalah ini berupaya membahas karya-karya sejarah Sulawesi Selatan utamanya deskripsi dan pendekatannya, serta pembelajaran sejarah Indonesia, khususnya pada siswa Sekolah Menengah Atas, agar dapat memperkuat proses integrasi bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Conservation Priority Land Selection in Sangiran Mountainous Dome Area using Remote Sensing Data Sulistyo, Bambang
Forum Geografi Vol 10, No 2 (1996)
Publisher : Forum Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study is to describe the features of soil forms on PKS derived from the data which are related to the erosions that happen. Based on this, the location of the priority of the soil conservation can be chosen. The research geomorphologic hazard method applied in this study is the continuation of the previous research which has yielded the study of soil form area. The result of that study is combined to other data to know IBE which covers topography, slope area, the count, it can be determined the priority of the soil conservation based on the delineation of the soil forms which are interpreted from remote sensing data especially the aerial photograph. The conclusion are 1) the choice of the priority of soil conservation and cultivating plants an be done by knowing IBE; 2) the degree of priority of the soil conservation and plant cultivation in PKS depend on the spreads of the soil forms. The soil forms happened is the features of the difference of rock formations, litology, the degree of erosion, landslide, and the process of diafirism. The priority sequences of the loations of the soil conservation and plant cultivation are S3 dan S4 followed by S5, s1, S2, and finally F1.
PROSES PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MEMBACA PEMAHAMAN (READING COMPREHENSION) MAHASISWA Sulistyo, Bambang
Semantik Vol 2, No 2 (2013): Volume 2 Number 2, September 2013
Publisher : STKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.222 KB) | DOI: 10.22460/semantik.2.2.29-46

Abstract

In reading comprehension depends on three factors. The first factor is that the reader understand the text structure. The second factor is that the reader can perform metacognitive control over the content being read. This means that the reader is able to monitor and reflect on the level of comprehension when reading the material. The third and most important criteria, which affect the understanding is that the reader has sufficient background to the content of the text and vocabulary are presented Tankersley (90-91). Good readers in reading comprehension, will be actively involved and thought processes. Good readers during the reading process will find connections between background knowledge with new information in the text. Readers sift relevant new information or that are not relevant to their background knowledge which is astorehouse of information and life experiences.Kata Kunci: Membaca Pemahaman, Literasi, Pengetahuan Latar, Metakognitif
PEMODELAN FAKTOR K BERBASIS RASTER SEBAGAI MASUKAN PEMODELAN EROSI DI DAS MERAWU, BANJARNEGARA, PROVINSI JAWA TENGAH Sulistyo, Bambang
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 22, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ketelitian absolut pemodelan faktor K berbasis raster sebagai masukan dalam pemodelan erosi Universal Soil Loss Equation (USLE) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Merawu, Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.Metode yang digunakan adalah dengan mengambil 30 sampel tanah secara stratified random sampling berdasarkan bentuklahan DAS Merawu. Sampel tanah tersebut kemudian dianalisis di laboratorium sehingga diperoleh tekstur, permeabilitas, bahan organik, dan struktur yang diperlukan untuk menghitung faktor K menggunakan rumus yang sudah ada. Dari 30 sampel yang diambil, 24 sampel digunakan untuk menghitung faktor K dalam pemodelan, sedangkan 6 sampel lainnya digunakan sebagai uji model. Pengeplotan nilai K pada sampel di atas peta dilakukan sesuai dengan lokasi sampel, kemudian dilakukan digitasi dan rasterisasi dan dilakukan interpolasi spasial untuk memperoleh Peta K untuk setiap piksel dengan metode Kriging. Hasil pemodelan K tersebut (Kmodel) kemudian diuji pada 6 lokasi (Kaktual) untuk mengetahui ketelitian pemodelan. Kmodel dikatakan teliti jika memiliki nilai ≥ 80% terhadap Kaktual.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemodelan faktor K berbasis raster di DAS Merawu mempunyai ketelitian melebihi nilai ambang yang ditetapkan, yaitu sebesar 89,068%, yang menunjukkan bahwa peta hasil pemodelan menggunakan analisis Kriging dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut dalam menghitung erosi.
PENGARUH EROSIVITAS HUJAN YANG DIPEROLEH DARI RUMUS YANG BERBEDA TERHADAP PEMODELAN EROSI BERBASIS RASTER (Studi Kasus di DAS Merawu, Banjarnegara, Jawa Tengah) The Effect of Rain Erosivity Generated from Different Formulae on A Raster-Based Erotion Model Sulistyo, Bambang
Jurnal Agritech Vol 31, No 03 (2011)
Publisher : Jurnal Agritech

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.09 KB)

Abstract

The research aims at studying the efect of rain erosivity generated from different formulae on a fully raster-basederosion modeling of USLE (Universal Soil Loss Equation) with the support of remotely sensed data of Landsat 7 ETM+and geographical information system technique.Methods applied were by analysing all factors affecting erosion in GIS environment. Monthly R factor was evaluatedbased on formula developed by Abdurachman, Bols, Lenvain, Soemarwoto and Utomo using rainfall data recordedbetween June 2004 and May 2006. K factor was determined using modified formula used by Department of Forestrybased on the result of laboratory analysis from 30 soil samples taken in the field. LS Factor was derived directlyfrom DEM (Digital Elevation Model) and by taking flow direction from each pixel into consideration. C factor wasderived from the formula after applying regression analysis between NDVI (Normalized Difference Vegetation Index)of Landsat 7 ETM+ and C Factor measured directly on the field. P factor was derived from the combination betweenslope data from DEM and landcover classification interpreted from Landsat 7 ETM+ using criteria developed byAbdurachman. Another analysis supporting the research activity was the creation of Map of Bulk Density used toconvert erosion unit as from ton/hectare/month to mm/month.After all erosion parameter were analysed, then erosion can be calculated by using R Factor using different formulae. Toknow its effect, erosion obtained from the model (E ) were compared with actual erosion (E ) measured regularlyat outlet of the Merawu watershed. Comparison was done by using Correlation Analysis and Direct Comparison.The research result showed that fully raster-based erosion modeling of USLE (E ) using rain erosivity developedby Abdurachman has high coefficient of correlation (r = 0.873) with E and resulted high accuracy (i.e. 81.13 %).Keywords: Erosion modeling, GIS, Landsat 7 ETM+, rain erosivity ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh erosivitas hujan yang diperoleh dari rumus yang berbeda terhadappemodelan erosi USLE (Universal Soil Loss Equation) yang berbasis raster dengan memanfaatkan citra Landsat 7ETM+ dan Sistem Informasi Geografis (SIG).Metode penelitian ini adalah melakukan analisis semua faktor yang mempengaruhi erosi dengan bantuan SIG. FaktorR dihitung menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Abdurachman, Bols, Lenvain, Soemarwoto dan Utomo dari8 stasiun curah hujan yang direkam dari Juni 2004 sampai Mei 2006. Faktor K dihitung, dari 30 sampel tanah yangdiambil dan dianalisis di laboratorium, menggunakan rumus K yang sudah disesuaikan. Faktor LS diturunkan darianalisis DEM (Digital Elevation Model) dengan memperhatikan flow direction dari masing-masing piksel. Faktor Cditurunkan dari hubungan NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) citra Landsat 7 ETM+ dengan Faktor Cyang diukur di lapangan. Faktor P diturunkan menggunakan kriteria yang dikembangkan oleh Abdurachman yaituyang diperoleh dengan kombinasi data slope hasil turunan DEM dengan penutupan lahan yang diinterpretasi daricitra Landsat 7 ETM+. Analisis lainnya adalah penyusunan peta berat jenis tanah yang digunakan untuk mengkonversisatuan erosi dari ton/Ha/bulan menjadi mm/bulan.Setelah semua parameter erosi dianalisis, erosi kemudian dihitung dengan Faktor R menggunakan rumus yang berbeda.Untuk mengetahui pengaruhnya, erosi yang diperoleh dari model (E ) dibandingkan dengan erosi aktual yang terjadi(E ) yang diukur di DAS Merawu. Pembandingan dilakukan menggunakan Analisis Korelasi dan PembandinganLangsung.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil erosi model dengan USLE berbasis raster (E ) yang memanfaatkanerosivitas hujan menggunakan rumus Abdurachman mempunyai nilai koefisien korelasi yang tinggi (r = 0,873) denganaktual dan sekaligus menghasilkan ketelitian yang sangat tinggi (yaitu 81,13 %).Kata kunci: Erosivitas hujan, pemodelan erosi, SIG, Landsat 7 ETM+
ANALISIS DATA CITRA LANDSAT UNTUK PEMANTAUAN PERUBAHAN GARIS PANTAI KOTA BENGKULU Syukhriani, Silvy; Nofridiansyah, Eko; Sulistyo, Bambang
JURNAL ENGGANO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.122 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.2.1.90-100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan garis pantai Kota Bengkulu dengan teknologi penginderaan jauh menggunakan data citra Landsat, berdasarkan data multi temporal dengan teknik analisa visual dan digital antara tahun 2006 sampai tahun 2015. Garis pantai adalah batas antara daratan dan lautan yang mempunyai bentuk bervariasi dan dapat berubah dari musim ke musim. Tujuan dari penelitian ini untuk mempermudah dalam memantau perubahan garis pantai Kota Bengkulu dengan teknologi penginderaan jauh menggunakan data citra Landsat-TM, Landsat-7 ETM+ dan Landsat-8 OLI selama 10 tahun dari tahun 2006 sampai tahun 2015. Metode yang digunakan yaitu dengan melakukan digitasi dan tumpang susun (overlay) data citra sehingga diperoleh data perubahan garis pantai, serta pengamatan lapangan sebagai verifikasi hasil. Dari penelitian ini didapatkan bahwa rata-rata luas perubahan garis pantai Kota Bengkulu mengalami abrasi sebesar 19,41 hektar/tahun dan rata-rata luas perubahan garis pantai Kota Bengkulu yang mengalami sedimentasi sebesar 18,7 hektar/tahun. Adapun daerah yang mengalami perubahan garis pantai setiap tahunnya yaitu Muara Sungai Hitam, Muara Kualo, Muara Sungai Jenggalu dan Pelabuhan Pulau Baai. Perubahan Garis Pantai Kota Bengkulu dapat terjadi karena adanya faktor alamiah dan faktor manusia (Antropogenik).
APLIKASI SIG UNTUK ANALISIS KESESUAIAN KAWASAN BUDIDAYA TERIPANG PASIR (Holothuria scabra) DENGAN METODE PENCULTURE DI PERAIRAN TELUK KIOWA, DESA KAHYAPU KECAMATAN ENGGANO Wulandari, Ully; Sulistyo, Bambang; Hartono, Dede
JURNAL ENGGANO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1739.322 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.1.1.57-73

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian kawasan budidaya teripang menggunakan Aplikasi SIG yang disajikan dalam bentuk Peta Kesesuaian Kawasan Budidaya Teripang Pasir (Holothuria scabra) di Perairan Teluk Kiowa, Desa Kahyapu Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara. Penelitian ini dilakukan dengan metode penentuan tingkat kesesuaian kawasan budidaya berdasarkan Matriks Kesesuaian Kawasan Budidaya Teripang Pasir (Holothuria scabra) dalam menghasilkan Peta Kesesuaian Kawasan Budidaya Teripang Pasir (Holothuria scabra) yang ditentukan oleh Kriteria, Bobot dan Skor tiap parameter (kedalaman, kondisi dasar perairan, kecerahan, salinitas, derajat keasaman, keterlindungan, kandungan oksigen terlarut, dan suhu permukaan laut). Penelitian ini dikhususkan untuk Kesesuaian Kawasan Budidaya Teripang Pasir (Holothuria scabra) dengan metode Penculture. Berdasarkan hasil analisis, Perairan Teluk Kiowa merupakan perairan dengan persentase kesesuaian yang bervariasi sebagai kawasan budidaya Teripang Pasir (Holothuria scabra) dengan metode Penculture. Kelas Sangat Sesuai (S1) seluas 102,477 Ha, kelas Sesuai (S2) seluas 62,435 Ha, dan kelas Tidak Sesuai (S3) seluas 197,991 Ha.
Conservation Priority Land Selection in Sangiran Mountainous Dome Area using Remote Sensing Data Sulistyo, Bambang
Forum Geografi Vol 10, No 2 (1996)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/forgeo.v10i2.503

Abstract

The purpose of this study is to describe the features of soil forms on PKS derived from the data which are related to the erosions that happen. Based on this, the location of the priority of the soil conservation can be chosen. The research geomorphologic hazard method applied in this study is the continuation of the previous research which has yielded the study of soil form area. The result of that study is combined to other data to know IBE which covers topography, slope area, the count, it can be determined the priority of the soil conservation based on the delineation of the soil forms which are interpreted from remote sensing data especially the aerial photograph. The conclusion are 1) the choice of the priority of soil conservation and cultivating plants an be done by knowing IBE; 2) the degree of priority of the soil conservation and plant cultivation in PKS depend on the spreads of the soil forms. The soil forms happened is the features of the difference of rock formations, litology, the degree of erosion, landslide, and the process of diafirism. The priority sequences of the loations of the soil conservation and plant cultivation are S3 dan S4 followed by S5, s1, S2, and finally F1.