K. Sumantadinata
Bogor Agricultural University, Department of Aquaculture

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

HEMATOLOGY OF COMMON CARP FOLLOWING DNA VACCINATION AND KOI HERPESVIRUS CHALLENGE TEST Nuryati, Sri; Maswan, N.A.; Alimuddin, .; Sukenda, .; Sumantadinata, K.; Pasaribu, F.H.; Soejoedono, R.D.; Santika, A.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.781 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.9-15

Abstract

The study was aimed to determine the effectiveness of DNA vaccine doses on hematological aspect which represent immune response and its influence on common carp survival rate. DNA vaccines encoding the viral glycoprotein of  koi herpesvirus (KHV) have been proved to highly protect the fish under laboratory condition.  A dose of 12.5 µg/100 µl vaccine had resulted in a survival rate of 96.67 % during 30 days after challenge test with a lethal dose of KHV. Fish vaccinated using lower doses, i.e. 2.5 and 7.5 µg/100µl showed 100% mortality after 15 and 19 days challenge test respectively, whereas non vaccinated fish as a control showed 100% mortality after 17 days challenge test.  Total leucocytes of the vaccinated fish were higher than control until 42 days post vaccination, but declined afterward.  Phagocytic index of the vaccinated fish using 12.5 µg/100 µl was declined after 49 days post vaccination or 7 days post challenge test. Key words: DNA vaccine, Koi herpesvirus (KHV), leucocyte, phagocytic index, Cyprinus carpio   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh vaksinasi menggunakan vaksin DNA dengan dosis berbeda terhadap gambaran darah ikan sebagai respresentasi tanggap kebal ikan mas serta pengaruhnya terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan mas. Vaksin DNA penyandi glikoprotein koi herpesvirus (KHV) dapat memberikan proteksi yang tinggi pada percobaan skala laboratorium.  Vaksinasi dengan dosis 12,5 µg/100µl dapat mempertahankan kelangsungan hidup sebesar 96,67% selama satu bulan setelah uji tantang dengan virus KHV menggunakan dosis letal.  Ikan yang divaksin dengan dosis yang lebih rendah yaitu 2,5 dan 7,5 µg/100µl mengalami kematian total berturut-turut setelah 15 dan  19 hari uji tantang, sedangkan ikan kontrol yang tidak divaksin mengalami kematian total setelah 17 hari uji tantang.  Jumlah leukosit total ikan yang divaksinasi lebih tinggi dibanding dengan kontrol sampai hari ke-42, setelah itu mengalami penurunan.  Indeks fagositosis ikan yang divaksin dengan dosis 12,5 µg/100µl mengalami penurunan setelah hari ke-49 atau 7 hari setelah uji tantang. Kata kunci: Vaksin DNA, Koi herpesvirus (KHV), leukosit, indeks fagositosis, Cyprinus carpio
CORRELATION BETWEEN NUMBER OF SPOT WITH BODY LENGTH IN HUMBACK GROUPER, CROMILEPTES ALTIVELIS Yahyadi, Y.; Aliah, R.S.; Murdjani, M.; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.008 KB) | DOI: 10.19027/jai.3.1-4

Abstract

The study with the objective to identify correlation between the number of black spots (dot) and total length was conducted in the humpback grouper. The spots were counted from 423 samples offish which ranged from 1.2 cm to 53.0 cm in size. The numbers of spots were observed at the body, head and fins. The simple linier regression was used to analyze correlation between the number of spots and total length. The regression between total spots (Yi) and total length (X) is Yi = 16.386 X + 80.754; the total spots of the body (Y2) and total length is Y2= 4.230 X + 1.548; the spots of the head (Y3) and total length is Y3 = 3.907 X + 31.728, and the total spots of the fins (Y4) and total length is Y4 = 5.066 X + 42.802. In general, there was a positive correlation between number of black spot and total length. A duplication like mitotic division. The process of black spots duplication probably similar to mitotic division of cell. Key words : Grouper, Cromileptes altivelis, spot (dot), body lenth   ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi antara jumlah totol hitam pada ikan kerapu bebek dengan pertambahan panjang tubuhnya. Pengamatan totol dilakukan terhadap 423 ekor kerapu bebek yang berukuran panjang total 1,2 cm sampai 53,0 cm yang diperoleh dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo, Jawa Timur. Jumlah totol dihitung pada bagian badan, kepala dan sirip. Data dianaiisis dengan menggunakan regresi linier sederhana. Persamaan regresi linier keseluruhan jumlah totol (Y|) dengan panjang total (X) adalah Y, = 16.386 X + 80.754, jumlah totol pada badan dengan panjang badan Y2 = 4.230 X + 1.548, jumlah totol pada kepala (Y3) dengan panjang badan adalah Y3 = 3.907 X + 31.728, dan jumlah totol pada sirip (Y4) dengan panjang badan adalah Y4 = 5.066 X + 42.802. Secara umum ada korelasi positif antara jumlah totol dengan panjang total. Proses pertambahan jumlah totol diduga seperti pada proses perbanyakan sel secara mitosis. Kata kunci : Ikan kerapu, Cromileptes altivelis, totol, panjang tubuh
APLICATION OF GENE TRANSFER IN AQUACULTURE Alimuddin, .; Yoshizaki, G.; Carman, O.; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.509 KB) | DOI: 10.19027/jai.2.41-50

Abstract

Recently, global food security has become a hot issue by the public in national as well as out of the country. Aquacultural output will need to be increased several fold in order to meet the rising demands for fish in coming years as the increasing of mankind population. The intensity and capacity of production is expected to increase using biotechnology approach. One of the advances biotechnologies that expected to be a powerful approach for aquaculture development is transgenic technique. This technique has been applied to several commercially valuable species. This review describes various techniques of gene transfer, persistence and expression of transferred gene, application and future aspect of gene transfer research in aquaculture. Key words: Gene transfer, gene expression, biotechnology,  aquaculture   ABSTRAK Saat ini, keamanan pangan telah menjadi isu hangat di masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri. Produksi akuakultur diharapkan dapat ditingkatkan beberapa kali lipat untuk memenuhi kebutuhan pangan berupa ikan dimasa-masa mendatang akibat peningkatan populasi manusia. Intensitas dan kapasitas produksi diharapkan meningkat dengan menggunakan pendekatan bioteknologi. Salah satu teknik modern yang diduga akan menjadi sarana yang berguna dalam pengembangan akuakultur adalah teknologi transfer gen. Teknik ini telah diaplikasikan pada spesies-spesies yang memiliki nilai ekonomis. Ulasan ini menggambarkan variasi metode transfer gen, persistensi dan ekspressi dari gen yang ditransfer, aplikasi dan prospeknya ke depan dari penelitian transfer gen dalam akuakultur. Kata kunci : transfer gen, ekspressi gen, bioteknologi, akuakultur
THE PHENOTYPE OF DIPLOID AND TRIPLOID F1 OF FEMALE KOHAKU AND SANKE KOI WITH MALES WHITE AND RED KOI Alimuddin, .; Sumantadinata, K.; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.578 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.97-100

Abstract

ABSTRACTThis study was done to discover the effect of addition of chromosome number on phenotype F1 hybrid of females kohaku (white-red) and sanke (white-red-black) koi with males white and red koi. The white and red males koi were the F1 of gynogenesis. Spawning of koi was done by hormonal (ovaprim 0,5 ml/kg body weight) and fertilization was done artificially. Triploidization was done by heat shock at 40°C during 1,0-1,5 minutes after 2-3 minute from egg fertilization. Colour analysis was done on 4 months old fish. Triplodization was succeeding on 86,67%.  Addition of chromosome number on koi due to triploidization was suppressed the percentage of koi with combination color (kohaku, shiro-bekko, hi-utsuri, and sanke). It was seen on hybridization of sanke vs white koi as much as 5,55%, while on sanke vs red koi reached 45,02%. Hybridization of kohaku vs white koi as well as kohaku vs red koi produced higher percentages of kohaku compared to kohaku vs kohaku.Key words: Phenotype, diploid, triploid, koi fish, hybrid, chromosome AbstrakStudi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan jumlah set kromosom terhadap fenotipe keturunan persilangan ikan koi kohaku (putih-merah) dan sanke (putih-merah-hitam) betina dengan jantan putih dan merah. Ikan koi jantan putih dan merah merupakan hasil ginogenesis generasi pertama. Pemijahan ikan koi dilakukan dengan rangsangan hormonal ovaprim 0,5 ml/kg induk dengan sistim pembuahan buatan. Triploidisasi dilakukan dengan memberikan kejutan panas 400C selama 1,0-1,5 menit pada saat 2,0-3,0 menit setelah pembuahan telur. Analisis warna dilakukan setelah ikan berumur 4 bulan. Tingkat keberhasilan triploidisasi yang diperoleh cukup tinggi, yaitu sebesar 86,67%. Penambahan jumlah set kromosom ikan koi akibat triploidisasi menurunkan persentase ikan koi yang berwarna kombinasi (putih-merah, putih-hitam, merah-hitam dan putih-merah-hitam) sebesar 5,55% untuk persilangan sanke vs putih, dan 45,02% untuk persilangan sanke vs merah. Tingginya penurunan koi warna kombinasi diduga disebabkan adanya dominansi warna tertentu, misalnya dominansi warna hitam yang persentasenya meningkat sebesar 31,7% pada persilangan sanke vs merah. Pada persilangan kohaku dengan koi putih dan dengan koi merah, persentase kohaku lebih besar daripada perkawinan normal kohaku yang diperoleh pada tahap pertama. Persentase kohaku dari perkawinan normal kohaku hanya sebesar 18,6%, sedangkan kohaku vs putih atau dengan merah adalah sekitar 27% untuk triploidisasi dan 33% untuk persilangan  normal. Tingkat kelangsungan hidup ikan normal lebih besar daripada ikan hasil triploidisasi, kecuali persilangan sanke vs putih.Kata kunci : Fenotipe, diploid, triploid, ikan koi, hibrid dan kromosom
PHENOTYPE OF THE FIRST GENERATION OF KOI HIBRIDIZATION Sumantadinata, K.; Hadiroseyani, Yani
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.605 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.93-96

Abstract

ABSTRACTThis experiment was conducted to study phenotype of F1 koi that were obtained from hybridization. Females koi that was used for this experiment were white-red koi, red-black koi, and white-black koi; whereas males used white-red koi, red-black koi, white-black koi and white-red-black. Spawning for hybridization was done using hormonal stimulation with 0.5 ml ovaprim/kg body weight, and fertilization were artificially performed. Analysis on body coloration was carried out at three months old fish. Normal F1 of white-red koi as well red-black koi produced three kind of koi, while white-black koi produced seven kind of koi, i.e. white koi, red koi, black koi, white-red koi, white-black koi, red-black koi and white-red-black koi. Hybridization of those koi produced seven kind of koi such as normal F1 of white-black koi.Key word :  Koi fish, phenotype, hybridization, first generation (F1) ABSTRAKStudi tentang genotipe keturunan pertama ikan koi hasil hibridisasi telah dilakukan di Laboratorium Pengembangbiakan dan Genetika Ikan, Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Ikan koi betina yang dipakai adalah ikan koi putih-merah, merah-hitam dan putih-hitam, sedangkan jantannya adalah putih-merah, merah-hitam, putih-hitam dan putih-merah-hitam. Ikan-ikan tersebut diperoleh dari teknik ginogenesis. Pemijahan untuk persilangan antar jenis ikan koi dilakukan dengan rangsangan hormonal ovaprim 0,5 ml/kg, dan pembuahan dilakukan secara buatan. Analisis warna pada ikan dilakukan setelah ikan berumur 3 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan normal koi putih-merah maupun merah hitam masing-masing menghasilkan tiga tipe warna (dua warna polos dan satu warna kombinasi) sedangkan koi putih-hitam menghasilkan tujuh tipe warna. Perkawinan silang antara ketiga ikan tersebut menghasilkan tujuh warna yang sama dengan keturunan normal merah-hitam, yaitu putih, merah, hitam, putih-merah, putih-hitam, merah-hitam dan putih-merah-hitam.Kata kunci :  Ikan koi, fenotip, hibridisasi, turunan pertama (F1)
SEX REVERSAL ON CONGO TETRA FISH (MICRALEPTUS INTTERRUPTUS ) LARVAE Arfah, Harton; Alimuddin, ,; Sumantadinata, K.; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.65 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.69-74

Abstract

ABSTRACTExperiment was performed to assess the effect of 17a-methyltestosterone (MT) treatment on Congo tetra fish larvae.  To evaluate the optimal pattern of MT treatment, three different treatments were administrated.  Three months old larvae were submerged in three different doses of MT; 1, 2 and 4 mg/l.  These studies showed that the highest percentage of male fish was obtained by 4 mg/l MT treatment, 87,17%.  The 2 mg/l and 1 mg/l MT treatments obtained 77,53% and 69,86% male respectively, two times higher than control, 38,96%.  On the other hand, the 4 mg/l MT treatment also resulted the highest percentage of hermaphrodite fishes, 17,58%.  The highest survival rate was shown by 1 mg/l MT treatment, 62,77% and the lowest was shown by the 4 mg/l MT treatment, 47,20%.  The highest rate of fish length and weight was shown by the 4 mg/l MT treatment, 4,4 cm and 1,65 gram respectively.  These findings suggest that MT treatment offers an advantage in growth of  tetra Congo larvae. Key word :  Sex reversal, methyltestosterone, Congo tetra fish, Micraleptus intterruptus. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman larva di dalam larutan hormon 17a-metiltestosteron pada dosis 1, 2 dan 4 mg/l larutan.  Persentase tertinggi ikan jantan dihasilkan  oleh perlakuan 4 mg/l, yaitu 87,17%.  Perlakuan 2 mg/l dan 1 mg/l masing-masing menghasilkan 77,53% dan 69,86% sedangkan kontrol menghasilkan 38,96% jantan.  Efek lain dari perlakuan MT ini adalah hermafroditisme.  Perlakuan 4 mg/l menghasilkan persentase hermafrodit tertinggi yaitu 17,58%, sedangkan pada kontrol kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan 1 mg/l (62,77%) dan terendah pada perlakuan 4 mg/l (47,20%).  Hasil tersebut menunjukkan adanya pengaruh dosis hormon terhadap kelangsungan hidup ikan.  Pengukuran bobot dan panjang ikan pada setiap perlakuan menunjukkan nilai tertinggi dihasilkan oleh perlakuan 4 mg/l  yaitu 1,65 gram dan 4,40 cm.  Hal ini diduga bahwa hormon MT merangsang pula pertumbuhan ikan.Kata kunci :  Pergantian kelamin, metiltestosteron, ikan tetra Kongo, Micraleptus intterruptus.
PHENOTYPE OF THE FIRST GYNOGENESIS GENERATION OF KOI Alimuddin, ,; Sumantadinata, K.; Hadiroseyani, Yani; Irawan, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.035 KB) | DOI: 10.19027/jai.1.65-68

Abstract

ABSTRACTThis experiment was conducted to study phenotype of F1 koi that obtained from gynogenesis at the Laboratory of Fish Genetic and Breeding, Department of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Bogor Agricultural University (IPB). Females koi used for this experiment were kohaku (white-red), hi-utsuri (red-black), and shiro-bekko (white-black); whereas males used kohaku, hi-utsuri, and shiro-bekko. Analysis on body coloration of fish was carried out at three months old. Results showed that gynogenesis from kohaku produced three types of koi, those were white koi, red koi and kohaku, and hi-utsuri produced red koi, black koi and hi-utsuri. Meanwhile, shiro-bekko by gynogenetic technique produce seven types of koi; those were white, red, black, kohaku, shiro-bekko, hi-utsuri and sanke (white-red-black koi). Survival rate of gynogenetic koi was lower then normal might be due to inbreeding stress.Key words :  Gynogenesis, phenotype, koi fish (Cyprinus carpio). ABSTRAKStudi tentang fenotip keturunan pertama ikan koi hasil ginogenesis telah dilakukan di Laboratorium Pengembangbiakan dan Genetika Ikan, Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Ikan koi betina yang dipakai adalah kohaku (putih-merah), hi-utsuri (merah-hitam) dan shiro-bekko (putih-hitam), sedangkan jantannya adalah kohaku, hi-utsuri, dan shiro-bekko. Analisis warna pada ikan dilakukan setelah ikan berumur tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ginogenesis pada ikan kohaku menghasilkan tiga jenis ikan koi, yaitu koi putih, koi merah dan kohaku; pada ikan hi-utsuri dihasilkan ikan koi merah, koi hitam dan hi-utsuri. Sementara itu, teknik ginogenesis untuk ikan koi putih-hitam dihasilkan tujuh macam jenis ikan koi, yaitu koi putih, koi merah, koi hitam, kohaku, hi-utsuri, siro-bekko dan sanke (putih-merah-hitam). Tingkat kelangsungan hidup ikan ginogenetik lebih rendah daripada kontrol normalnya.Kata kunci :  Ginogenesis, fenotip, ikan koi (Cyprinus carpio)
REQUIREMENT OF N-6 AND N-3 FATTY ACID IN BROODSTOCK DIETS ON REPRODUCTIVE PERFORMANCE OF GREEN CATFISH, HEMIBAGRUS NEMURUS BLKR. Utiah, Adharto; Junior, M. Zairin; Mokoginta, I.; Affandi, R.; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.829 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.7-15

Abstract

This experiment was conducted to determine the optimum dietary level of n-6 and n-3 fatty acids on reproduction performance of green catfish. Four experimental diets with different level of n-6 and n-3 fatty acid (diet A: 0.77% n-6 fatty acid, 0.07% n-3 fatty acid; diet B: 1.56%,0.10 %; diet C: 1.74%, 0.13 % and diet D: 2%, 0.28%) were used in this experiment during seven month. Diets given twice every day in the morning and evening. The 28 broodstock used in this research with density every waring seven broodstock. Samples of eggs were analyzed for fatty acid composition. The diameter of eggs, fecundity, hatching rate of the eggs, survival rate and percentage of abnormal larvae were determined. Results showed that different dietary level of n-6 and n-3 fatty acids of the broodstock significantly affect the reproductive performance especially fecundity and hatching rate of eggs. The maximum fecundity, egg diameter, and hatching rate were produced broodstock fed on 1.56% n-6 fatty acid and 0.10 % n-3 fatty acid in diet by at the level of 12.29% lipid. Keywords : n-6 and n-3 fatty acids, reproduction performance, green catfish, Hemibagrus nemurus.   Abstrak Penelitian ini dilakukan pada berbagai level asam lemak n-6 dan n-3 dalam pakan untuk melihat pengaruhnya terhadap penampilan reproduksi dari ikan baung. Penelitian dilaksanakan selama 7 bulan.  Empat jenis pakan  digunakan dalam percobaan ini dengan perbedaan kandungan asam lemak n-6 dan n-3 (pakan A: 0,77% asam lemak n-6, 0,56% asam lemak n-3; pakan B: 1,56%, 0,78%; pakan C: 1,74%, 1,00% and pakan D: 2,03%, 1,82%). Dalam penelitian ini 28 ekor induk digunakan dan ditebarkan kedalam waring dengan kepadatan 7 ekor tiap waring. Pakan diberikan pagi dan sore hari secara at satiation.  Sampel telur dan larva dianalisa komposisi asam lemak. Penampilan reproduksi yang diamati adalah diameter telur, fekunditas, derajat penetasan telur, derajat kelangsungan hidup larva dan persentase larva abnormal. Hasil penilitian menunjukan bahwa perbedaan kandungan asam lemak n-6 dan n-3 dalam pakan berpengaruh pada komposisi asam lemak n-6 dan n-3 telur dan juga memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap penampilan reproduksinya khusus pada fekunditas dan derajat penetasan telur. Lama waktu matang yang dicapai oleh tiap induk relatif sama antar perlakuan.  Fekunditas, diameter telur, derajat penetasan telur dan derajat kelangsungan hidup larva tertinggi diperoleh pada induk yang memperoleh pakan yang mengandung 1,56% asam lemak n-6 dan 0,78% asam lemak n-3. Kata kunci:  Asam lemak n-6 and n-3, penampilan reproduksi, ikan baung, Hemibagrus nemurus.
RELATION BETWEEN BROODSTOCK NUMBER AND SPAWNING FREQUENCY AND EGG PRODUCTION OF HUMPBACK GROUPER (CROMILEPTES ALTIVELIS) Syaifudin, M.; Aliah, R.S.; Muslim, .; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.057 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.191-196

Abstract

This study was performed to determine spawning frequency, number of ovulated egg and spawning time of humpback grouper (Cromileptes altivelis) broodstock in hatchery.  Broodstock of 20-83 fish in weight of 1.5-2.0 kg were reared in circular concrete tank 225 m3.  The results showed that increasing in number of broodstock increases spawning frequency (R2= 0.694), and ovulated eggs number was also increased (R2= 0.828).  Spawning of humpback grouper can occur in the third to fourth week in every month. Keywords: reproductive biology, spawning, Cromileptes altivelis   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi pemijahan, jumlah telur dan waktu pemijahan populasi induk ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di hatchery.  Jumlah induk yang bervariasi antara 20-83 ekor dengan ukuran 1,5-2 kg ditempatkan dalam bak beton bulat, kapasitas 225 m3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan bertambahnya jumlah induk, maka frekuensi pemijahan yang diperoleh juga semakin meningkat (R2=0,694), dan produksi telur juga semakin meningkat (R2=0,828). Pemijahan kerapu tikus dapat berlangsung setiap bulan, di mana waktu pemijahan terjadi pada kuarter keempat hingga kuarter ketiga. Kata kunci: Biologi reproduksi, Pemijahan, Cromileptes altivelis
GENETIC CHARACTERIZATION OF DOMESTICATED F1 GENERATION IN HUMPBACK GROUPER (CROMILEPTES ALTIVELIS) Aliah, Ratu Siti; Wahidah, .; Sumantadinata, K.; Nugroho, Estu; Carman, O.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.336 KB) | DOI: 10.19027/jai.5.87-96

Abstract

First generation (F1) of hatchery produced humpback grouper (Cromileptes altivelis) has been characterized genetically in order to serve the information of their status in related to their breeding strategy. PCR-RFLP method was used to detect the variation of mtDNA D-loop region of F1 population at BBPBL Lampung and BBAP Situbondo. The result of study showed that reducing of haplotype diversity had been arised from broodstock (0.8548) to F1 generation population (0.7473; 0.7273; and 0.6947, respectively).  Genetic divergence that had found between population BBPBL Lampung and BBAP Situbondo make it possible to do outbreeding in order to get its heterosis's effect. Keywords: mtDNA, haplotype diversity, genetic differentiation, Cromileptes altivelis   ABSTRAK Ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) generasi pertama (F1) hasil domestikasi di hatchery telah dikarakterisasi secara genetik untuk menyediakan informasi status sehubungan dengan program pemuliaannya.  Metode PCR-RFLP digunakan untuk mendeteksi variasi sekuens D-loop mtDNA ikan kerapu tikus F1 yang diproduksi di BBPBL Lampung dan BBAP Situbondo.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan keragaman haplotipe dari induk (0,8548) ke populasi generasi F1 (masing-masing 0,7473; 0,7273; dan 0,6947).  Adanya keragaman genetik antara populasi ikan kerapu tikus di BBPBL dan BBAP Situbondo memungkinkan dilakukannya outbreeding untuk mendapatkan efek heterosis. Kata kunci: mtDNA, keragaman haplotipe, diferensiasi genetik, Cromileptes altivelis