Articles

PERANAN MUSYAWARAH MUFAKAT (BUBALAH) DALAM MEMBENTUK IKLIM AKADEMIK POSITIF DI PRODI PPKN FKIP UNILA Pratiwi, Yesi Eka; Sunarso, Sunarso
Sosiohumaniora Vol 20, No 3 (2018): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v20i3.16254

Abstract

Penelitian ini bertujuan adalah untuk mendeskripsikan peranan budaya musyawarah mufakat (Bubalah) dalam membentuk iklim akademik positif pada civitas akademika di Program Studi PPkn FKIP Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. (Bubalah) merupakan salah satu tradisi adat Lampung yang diadopsi oleh Program Studi PPkn FKIP Universitas Lampung sebagai budaya akademik. (Bubalah) atau musyawarah mufakat memiliki makna yang sama yakni berkumpul bersama untuk menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. Dalam pelaksanaannya, budaya musyawarah mufakat (Bubalah) di agendakan tiga kali dalam satu semester, yaitu di awal, di tengah, dan di akhir semester. Budaya musyawarah mufakat (Bubalah) memiliki peranan sebagai jembatan untuk mempersatukan civitas akademika di program studi PPKn FKIP Universitas Lampung menjadi satu kesatuan yang utuh dalam membentuk iklim akademik yang positif, melalui hubungan kekeluargaan yang harmonis diantara civitas akademika. Selain itu budaya musyawarah mufakat (Bubalah) juga berfungsi sebagai wadah dalam menampung aspirasi seluruh civitas akademika agar dapat tersalurkan dengan baik. Pengembangan budaya musyawarah mufakat (Bubalah) merupakan sebuah langkah yang diambil Ketua Program Studi PPkn FKIP Universitas Lampung untuk mempertahankan kebudayaan lokal agar tetap terjaga kelestariannya. Proses pengambilan keputusan dalam musyawarah mufakat (Bubalah) merupakan konsensus bangsa Indonesia dan dinilai sebagai cara yang lebih efisien dalam mencapai keputusan bersama (win-win solution). Pada praktik nyata di lapangan menunjukan bahwa mahasiswa mulai enggan untuk melestarikan budaya musyawarah mufakat (Bubalah) karena dalam pelaksanaannya memakan waktu yang relatif lama, sehingga mahasiswa lebih memilih sistem voting yang lebih praktis di bandingkan musyawarah mufakat (Bubalah). 
MENGENAL FILSAFAT EKSISTENSIALISME JEAN-PAUL SARTRE SERTA IMPLEMENTASINYA DALAM PENDIDIKAN Sunarso, Sunarso
Informasi Vol 36, No 1 (2010): INFORMASI
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/informasi.v1i1.5659

Abstract

Pendidikan dan filsafat tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Filsafat bagi pendidikan berperan sebagai pedoman yang memberikan arahan dan tujuan  pendidikan. Sedangkan pendidikan bagi filsafat merupakan suatu ?ruang? yang selalu memberinya tempat untuk hidup dan terus berkembang melalui kegiatan-kegiatan teoritis maupun praktis dalam pendidikan. Filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre dapat digunakan sebagai dasar pijakan  dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Menurut Sartre, manusia adalah individu yang bebas. Namun kebebasan yang dimilikinya selalu terbatasi dengan fakta akan adanya kebebasan individu lain. Manusia adalah bebas untuk melakukan dan mendefinisikan dirinya sendiri secara individual.  Manusia tidak lain adalah bagaimana ia menjadikan dirinya sendiri.  Belajar adalah menjadikan dirinya sendiri otonom dan menyadari adanya orang lain sehingga dapat menciptakan dunianya sendiri yang berarti bagi dirinya dan bagi kehidupan orang lain atau lingkungannya. Namun demikian, kita tetap harus selektif terhadap pemikiran Sartre tentang peniadaan Tuhan. Dalam merumuskan konsep kebebasan individu, Sartre mengasumsikan bahwa tanpa bantuan Tuhan, manusia dapat bebas mendefinisikan dirinya sendiri untuk mencapai tujuan hidupnya. Pandangan ini jelas bertentangan dengan falsafah dasar negara kita yaitu Pancasila sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
MODEL MODEL PEMBELAJARAN COMPETENCE BASED TRAINING (CBT) BERBASIS KARAKTER UNTUK PEMBELAJARAN PRAKTIK Paryanto, Paryanto; Soemawidagdo, Arianto Leman; Sunarso, Sunarso
Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran Vol 43, No 2: November 2013
Publisher : LPPM UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v43i2.1967

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan adalah: (1) menghasilkan seperangkat prosedur/tahapan model pembelajaran CBT berbasis karakter; (2) mengetahui tingkat keterlaksanaan proses integrasi aspek karakter melalui model pembelajaran CBT berbasis karakter. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan Research and Development dengan tahapan: (1) studi pendahuluan untuk mengumpulkan informasi tentang kebutuhan pengembangan; (2) penyusunan model konseptual; (3) melakukan validasi model melalui kegiatan FGD; (4) merevisi model konseptual; (5) uji coba model konseptual. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan adalah: (1) tahapan dalam pembelajaran CBT berbasis karakter adalah eksplorasi aspek karakter terkait dengan karakter kerja praktik, grouping, diskusi penyusunan work preparation sheet, pelaksanaan praktik disertai dengan pendampingan dan pembimbingan, proses assessment; (2) berdasarkan hasil uji coba yang telah dilaksanakan, tingkat keterlaksanaan proses integrasi aspek karakter melalui model pembelajaran CBT berbasis karakter adalah 5% belum terlaksana, 12% terlaksana belum konsisten, 16% terlaksana dengan konsisten, dan 70% telah membudaya.
PENGARUH LITERASI MEDIA MASSA ONLINE TERHADAP CIVIC ENGAGEMENT POLITIK AKTIVIS MAHASISWA Gofur, Abdul; Sunarso, Sunarso
Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini untuk mendeskripsikan pengaruh literasi media massa online terhadap civic engagement aktivis mahasiswa dalam bidang politik. Jenis penelitian ini adalah survei dengan pendekatan kuantiatif. Populasi berjumlah 651 mahasiswa dan sampel berjumlah 90 mahasiswa. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan regresi linear. Literasi media massa online memberikan pengaruh yang signifikan dan positif terhadap civic engagement dalam politik. Hasil analisis data menunjukkan nilai t hitung lebih besar dari pada t tabel (10,332 > 1,986). Nilai signifikansi lebih kecil dari pada alpha (0,000 < 0,05). Kontribusi yang diberikan literasi media massa online terhadap civic engagement dalam bidang politik pada aktivis mahasiswa sebesar 54,8%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain.
VARIABEL KELAS SOSIAL, UMUR, DAN JENIS KELAMIN PENUTUR DALAM PENELITIAN SOSIOLINGUISTIK Sunarso, Sunarso
Jurnal Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Science Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.483 KB) | DOI: 10.22146/jh.1936

Abstract

Di dalam karangan singkat ini hendak dikemukakan tiga faktor sosial yaitu kelas sosial, umur, dan jenis kelamin yang merupakan variabel bebas dalam penelitian sosiolinguistik. Tujuannya ada1ah memeperlihatkan beberapa hasil penelitian dan pandangan para ahli terhadap korelasi ketiga variabel yang dimaksudkan dengan pemakaian bahasa. Variabel-variabel yang lain akan dibahas pada kesempatan lain.
BENTUK KRAMA BAHASA JAWA DIALEK BANYUMAS DAN BAHASA JAWA DIALEK YOGYAKARTA-SURAKARTA: SEBUAH PERBANDINGAN Sunarso, Sunarso
Jurnal Humaniora Vol 12, No 1 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Science Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1389.251 KB) | DOI: 10.22146/jh.1299

Abstract

Mengingat luasnya pemakaian bahasa Jawa dapatlah diduga adanya perbedaan kata ngoko, krama, krama inggil, krama andhap, dan madya antara suatu dialek dan dialek lainnya misalnya antara dialek Yogyakarta dan Banyumas. Penelitian ini mengkaji pemakaian bentuk kata ngoko, krama inggil, krama andhap dan madya pada bahasa Jawa dialek Banyumas, di kalangan penutur yang berbeda-beda kelompok sosialnya dan perbandingannya dengan bentuk ngoko, krama, dan madya yang terdapat pada bahasa Jawa dialek Yogyakarta-Surakarta.
EUFEMISME: REFERENSI DAN LATAR BELAKANGNYA Sunarso, Sunarso
Jurnal Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Science Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1129.014 KB) | DOI: 10.22146/jh.2056

Abstract

Bahasa sebenarnya bukanlah semata-mata alat untuk mengkomunikasikan informasi, tetapi bahasa juga merupakan alat yang sangat penting untuk memantapkan dan mempertahankan hubungan dengan orang lain. Penggantian suatu bentuk kebahasaan yang bernilai rasa kasar dengan bentuk kebahasaan lain yang bernilai rasa nalus disebut dengan eufemisme. (Dalam bahasa Yunani eu berarti 'baik' dan pheme berarti 'ujaran'.) Akan tetapi, eufemisme sebetulnya tidak hanya berkaitan dengan penggantian kata yang bernilai rasa kasar dengan kata yang bernilai rasa naius saja, melainkan berhubungan juga dengan kata pantang atau kata tabu, yaitu kata yang tidak boleh digunakan dalam suasana tertentu menurut norma tutur suatu masyarakat bahasa. Karena terdapat kata yang tidak boleh digunakan tersebut, penutur berusaha mencari bentuk penggantinya, yaitu bentuk eufemistik (Cf. Ullmann, 1970:205). Demikianlah, karangan singkat ini membicarakan seluk-beluk eufemisme yang dipakai di datam bahasa Indonesia. Pokok persoalan yang dibahas meliputi (1) referensi eufemisme, (2) sebab-sebab timbulnya eufemisme, dan (3) analisis bentuk eufemistik.
EFISIENSI DAN KECERNAAN RANSUM DOMBA YANG DIBERI SILASE RANSUM KOMPLIT ECENG GONDOK DITAMBAHKAN STARTER LACTOBACILLUS PLANTARUM Ekawati, Eni; Muktiani, Anis; Sunarso, Sunarso
Jurnal Agripet Vol 14, No 2 (2014): Volume 14, No. 2, Oktober 2014
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v14i2.1885

Abstract

(Efficiency and digestibility feed of sheep given silage complete feed water hyacinth added starter lactobacillus plantarum)ABSTRACT. This study aims to determine the effect of a complete ration of silage made from water hyacinth on feed efficiency and digestibility. This study uses fifteen rams (12 months old with an average body weight of 19 ± 3.98 kg). The experimental was designed completely random. The sheeps were randomly divided into 3 treatments, and 4 replications. The sheeps wereted concentrate and fresh elephant grass (T0), silage-based rations complete without the addition of starter hyacinth L. plantarum (T1), and a complete ration silage made from water hyacinth by the addition of L. plantarum starter (T2). Feed structured treatment isoenergi and isoprotein (PK 13% and 65% TDN). Feed treatment was given for 12 weeks with a 2-week adaptation period. The results showed that feed intake, ADG, feed conversion, and feed efficiency were not significantly different (P 0.05), but it can improve feed digestibility (P 0.05) between treatments. Feed intake data, digestibility, ADG, feed conversion and feed efficiency at T0, T1 and T2 as follows: 678.27, 811.43, 701.21 g / day; 70.51, 71.74, 69.82%; 94.09, 106.34, 97.28 g / day; 7.22, 7.66, and 7.18; 14.09, 13.23 and 14.02% use a complete ration silage with L. plantarum starter better than the control treatment in the form of concentrates with elephant grass but not better than silage without a starter.
Islamic Boarding Schools in Indonesia: Caring for Nationalism and Preventing Radicalism Selvia, Lena; Sunarso, Sunarso
Jurnal Penelitian Volume 16 Nomor 1 2019
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/jupe.v16i1.1822

Abstract

This study aims to analyze the values ​​of nationalism materials in Islamic boarding schools. So far there has been a judgement believing that Islamic boarding schools are the center of radicalism in Indonesia. The militancy and aggressiveness of radicals are considered as the impact of education carried out in Islamic boarding schools. This study refutes research findings that assess Islamic boarding schools as the basis of radicalism. Through a study of the curriculum, books and teachings carried out in Islamic boarding schools, as well as the values ​​of nationalism and tolerance, this research was carried out with work principles and library research methods. The data is collected from literature, especially the results of research, scientific publications and developing discourses related to pesantren and nationalism. The results of this study indicate that radicalism and terrorism do not develop in Islamic boarding schools. Instead of teaching radicalism and terrorism, the teachings in pesantren shave become the seed of the nationalism. Historical traces show that pesantren are an important part of the birth of the state, becoming a stronghold against colonialism. In the context of a multi-cultural, racial and religious nation, Islamic boarding schools not only teach the value and direction of religion, but also become a strategic media in instilling nationalism values, respecting each other and respecting differences, among persons with the same faith, and even to non-Muslims.
MENGANGKAT KASUS POLITIK AKTUAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Sunarso, Sunarso
HUMANIKA Vol 6, No 1 (2006): Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v6i1.3812

Abstract

Materi untuk pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) erat sekali hubungannya dengan kajian dalam bidang politik. Sedangkan kajian dalam bidang ilmu politik sangat dipengaruhi oleh perkembangan realitas politik di suatu negara baik yang masuk dalam wilayah supra struktur politik maupun yang masuk dalam infra struktur politik. Pembelajaran dan kajian PKN yang mengabaikan perkembangan dan dinamika politik akan kehilangan kontektulitas, kehilangan daya tarik, serta kurang bermanfaat bagi peserta didik. Oleh karena itu, pemahaman dan penguasaan pengampu Pendidikan Kewarganegaraan pada berbagai persoalan politik beserta dinamika dan perkembangannya merupakan suatu keniscayaan.