p-Index From 2015 - 2020
34.608
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Gizi dan Pangan Jurnal Media Teknik Sipil Indonesian Journal of Geography Jurnal Ilmu Kehutanan Buletin Peternakan Cakrawala Pendidikan Jurnal Kependidikan: Penelitian Inovasi Pembelajaran Jurnal Penelitian Saintek Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni Dinamika Akuntansi Keuangan dan Perbankan Jurnal Ilmiah Telaah Manajemen Fokus Ekonomi METAMORFOSA Journal of Biological Sciences Ecotrophic, Journal of Environmental Science JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP MEDIA MEDIKA INDONESIANA MASALAH-MASALAH HUKUM KEAIRAN JURNAL GIZI INDONESIA JURNAL ILMU SOSIAL JURNAL ILMU LINGKUNGAN Indonesian Journal of Applied Sciences MediaTor: Jurnal Komunikasi POSITRON Depik Jurnal Prosiding Seminar Biologi Jurnal INFOTEL REKA KARSA Interaksi Online Journal of Nutrition College Berkala Ilmu Kedokteran Jurnal Sains Dasar Mediator Harpodon Borneo Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Corak : Jurnal Seni Kriya RESITAL : JURNAL SENI PERTUNJUKAN PROMUSIKA Jurnal Manusia dan Lingkungan Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Abdimas INTEGRALISTIK JEJAK Jurnal Penelitian Pendidikan Jurnal Mahasiswa Pasca Sarjana Geoplanning Journal Jurnal Ilmiah Hukum dan Dinamika Masyarakat Majalah Geografi Indonesia Students´ Journal of Accounting and Banking Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Perikanan dan Ilmu Kelautan SINTEK JURNAL: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Jurnal Teknik Elektro Jurnal Ilmu Komunikasi Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Jurnal Riset Kesehatan Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014 Jurnal Fisika Gravitasi Jurnal Al-Tadzkiyyah Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Jurnal Kesehatan Forum Geografi Traditional Medicine Journal Jurnal Wilayah dan Lingkungan Jurnal Riset Gizi MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Proceeding SENDI_U REFLEKSI EDUKATIKA JURNAL KEPERAWATAN GLOBAL Jurnal Rekayasa Mesin Fish Scientiae Pro-Life JETri Jurnal Ilmiah Teknik Elektro Sari Pediatri Jurnal Teori dan Praksis Pembelajaran IPS Jurnal Hukum dan Peradilan Unnes Political Science Journal Unnes Civic Education Journal Catharsis Livestock and Animal Research AKUNTANSI DEWANTARA Paediatrica Indonesiana Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik Health Notions Jurnal Pariwisata Moneter : Jurnal Akuntansi dan Keuangan ANALITIKA Jurnal Biodjati Jurnal Taman Vokasi Jurnal Akuntansi Jurnal PG-PAUD Trunojoyo : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Anak Usia Dini Didaktis: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia BISE: Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Acta Pharmaciae Indonesia : Acta Pharm Indo EnviroScienteae INOVTEK POLBENG Indonesian Journal of Chemistry Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Fokus Ekonomi : Jurnal Ilmiah Ekonomi Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review Media Gizi Pangan Jurnal Kordinat Prosiding Seminar Nasional Pakar EQUILIBRIUM : Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Wahana Kreatifitas Pendidik (WKP) Pelataran Seni JAB (Jurnal Akuntansi & Bisnis) BBM (Buletin Bisnis & Manajemen) Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Krea-TIF: Jurnal Teknik Informatika International Journal of Supply Chain Management Jurnal POLIMESIN Jurnal Kelautan Nasional Jurnal Telematika MISYKAT: Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran, Hadist, Syari´ah dan Tarbiyah EDUPEDIA Abdi Seni Gelar : Jurnal Seni Budaya Warta Penelitian Perhubungan Jurnal Teknologi dan Ilmu Komputer Prima (JUTIKOMP) Jurnal Revolusi Pendidikan (JUREVDIK) COMPTON: Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Journal of Primary Education Jurnal SPATIAL Wahana Komunikasi dan Informasi Geografi IJEEM - Indonesian Journal of Environmental Education and Management JURNAL SENI MUSIK Informasi Interaktif 2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN JABM JOURNAL of ACCOUNTING - BUSINESS & MANAGEMENT Prologia Koneksi Academy of Education Journal Wiyata Dharma: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan SANGIA: JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Journal of Mechanical Engineering and Mechatronics Media Manajemen Pendidikan The Indonesian Journal of Social Studies JURNAL EKOBIS DEWANTARA ASPIRASI Prosiding Seminar Nasional Teknik Mesin Jurnal Penelitian Transportasi Laut Wahana Teknik Jurnal Pengabdian Masyarakat: Darma Bakti Teuku Umar Mumtaz: Jurnal Studi Al-Quran dan Keislaman JURNAL GEOGRAFI (GEOGRAFI DAN PENGAJARANNYA) Teacher in Educational Research USM LAW REVIEW
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN SINETRON REMAJA DI TELEVISI DAN INTERAKSI PEER GROUP DENGAN PERILAKU HEDONIS PADA REMAJA Nugraheningtyas, Asri; Sunarto, Sunarto; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang1HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON TAYANGAN SINETRONREMAJA DI TELEVISI DAN INTERAKSI PEER GROUP DENGANPERILAKU HEDONIS PADA REMAJAAsri (2013)Mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas DiponegoroABSTRAKSIDitinjau dari sisi psikologis, perilaku hedonis sangat membahayakan remaja, remajaakan mengambil simplifikasi kehidupannya menjadi parameter perkembangan kehidupannya dimasa mendatang, sehingga nafsu kemewahan dan kemegahan membudaya dalam dirinya,akibatnya apabila semua bentuk kemewahan dan kemegahan tersebut tidak dapat dipenuhiakan membuat remaja frustrasi dan kecewa yang berkepanjangan. Dari beberapa faktor yangdianggap menyebabkan perilaku hedonis remaja, maka tujuan penelitian ini adalah mengetahuihubungan antara intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang sarat dengan sajiankemewahan dan kemegahan serta tingginya interaksi remaja bersama peer group denganperilaku hedonis.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan paradigma positistik dengan tradisi sosiopsikologis,sehingga tipe penelitiannya kuantitatif. Teori yang digunakan ialah hirarki of effectdan teori belajar sosial Bandura, diharapkan mampu menjawab tujuan penelitian. Obyekpenelitian adalah siswa SMA Negeri 1 Kota Semarang, yang kesehariannya sarat denganindikasi perilaku hedonis, yang kepadanya diberikan kuesioner. Sampel diambil menggunakanproportional random sampling yaitu 77 siswa, dengan rumus statistik korelasi rank Kendall.Hasil penelitian adalah: 1) Terdapat hubungan antara intensitas intensitas menontontayangan sinetron remaja di televisi dengan perilaku hedonis pada remaja. Semakin tinggiintensitas menonton sinetron remaja di televisi, maka semakin rendah perilaku hedonis dariremaja tersebut; 2) Terdapat hubungan antara interaksi sosial dengan peer group denganperilaku hedonis pada remaja. Semakin tinggi interaksi sosial peer group, maka akan semakinrendah perilaku hedonis pada remaja tersebut.LATAR BELAKANGKecenderungan masyarakat untuk hidup mewah, berfoya -foya, bersuka ria, dan bergayahidup secara berlebih-lebihan, begitu terlihat di lingkungan masyarakat kita sehari-hari.Kecenderungan tersebut sering diistilahkan sebagai budaya hedonisme, yang mempunyai artisuatu budaya yang mengutamakan aspek keseronokan diri, misalnya, freesex, minum-minumankeras, berjudi, berhura-hura, berhibur di club-club malam, dan sebagainya. Berbagai bentukperwujudan dari budaya hedonisme tersebut begitu mempesonakan dan menggiurkan bagibanyak orang, dan dapat dikatakan menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat yang merasadirinya sebagai masyarakat modern (Ayuningtias, 2013:2).Perilaku hedonistik pada remaja tersebut seperti; membawa mobil saat ke sekolah,menggunakan handphone bermerk dan mahal (Black Berry) dan secara proporsional kuranglayak buat remaja, dandanan yang terkesan kurang sopan dan seronok ala artis, main ke mallmall,dinner di McDonald, dan perilaku hura-hura tanpa makna lainnya yang sudah sepertimembudaya pada remaja akhir-akhir ini.Menurut Titi Said, sinteron yang diklaim sebagai sinteron remaja tersebut, banyakmenyajikan perilaku remaja yang mengajari anak-anak dan remaja untuk berpenampilan seksi,berorientasi hedonistic dan berpola hidup senang, serba mudah dan serba mewah. Adegansinetron pun seringkali ditiru dalam perilaku mereka sehari-hari, atau jika tidak ditiru, minimalakan mengkontaminasi pikiran polos anak-anak, karena sebenarnya orientasi yang relevan bagiremaja adalah nilai-nilai budaya kerja keras dan menghargai karya. Apalagi, sekitar 60 juta anakIndonesia menonton acara seperti itu di televisi selama berjam-jam hampir sepanjang hari.Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang2Sebagian besar masyarakat sudah tahu bahwa sinetron hanya fiksi belaka, tetapi yangtidak disadari adalah efek imitasi/peniruan yang bisa ditimbulkannya. Memang karakter setiapremaja berbeda, tapi pada kenyataannya reaksi yang ditimbulkan media cenderung seragam.Misalnya sinetron yang mempertontonkan siswa SMA yang pergi ke sekolah dengan mobilmewah, banyak ditiru para pelajar saat ini dengan membawa mobil ke sekolah. Begitu jugadengan cara berpakaian para pelajar perempuan dalam sinetron, mulai ditiru para remaja saatini. Fenomena lain yang meniru sinetron adalah westernisasi (aksi kebarat-baratan) sepertibahasa, kuliner dan pakaian yang saat ini jadi trend di kalangan remaja. Hal ini bisa disaksikandi mall-mall, bagaimana anak-anak remaja berdandan bagaikan artis sinetron. Bahkan sebagaiakibat kegemaran remaja mengunjungi mall-mall di pusat perbelanjaan harus sampai membolossekolah, sehingga tidak jarang remaja yang masih siswa SMA/SMK terjaring razia disiplin yangdilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Fenomena semacam ini dirasakan sangat getir bagisemua pihak, khususnya; orangtua, pendidik, ulama, tokoh agama dan masyarakat dan pihakpemerintah sendiri.Ketatnya pergaulan remaja dalam ikatan teman sebaya yang cenderung represif, semakinmengindikasikan bahwa tayangan sinetron hedonis tersebut memang merupakan parameterpergaulan remaja pada umumnya, sehingga bilamana ada salah seorang remaja yang tidakmampu mengadopsi nilai-nilai hedonis tersebut, sudah barang tentu akan diisolasi olehkelompok teman sebayanya (peer group). Menonton sinteron remaja yang hedonis, bagi siswadiibaratkan sebagai tolok ukur tentang perkembangan sikap dan perilaku metropolis yang layakuntuk diadopsi sebagai salah satu bagian dari dirinya, sehingga agar tidak ketinggalan jaman,maka perlu dan wajib untuk ditonton, dan akibatnya terpaan menonton tayangan sinetronsemacam itu menjadi tinggi dan sudah dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Tolok ukur yangdiperolehnya dari hasil melihat tayangan sinetron kemudian dijadikan bahan masukan dandiskusi di lingkungan teman sebaya, sebagai sebuah wacana yang layak atau tidak untuk ditiru.Dengan dominasi pergaulan teman sebaya yang cenderung homogen yang disertai denganintensitas menonton tayangan sinetron yang tinggi, diduga akan mewarnai perilaku hedonisremaja.Perilaku hedonisme dan konsumtif telah melekat pada kehidupan kita. Pola hidup sepertiini sering dijumpai di kalangan remaja dan mahasiswa, di mana orientasinya diarahkankenikmatan, kesenangan, serta kepuasan dalam mengkonsumsi barang secara berlebihan.Manusiawi memang ketika manusia hidup untuk mencari kesenangan dan kepuasan, karena itumerupakan sifat dasar manusia. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapainya. Salah satunyadengan mencari popularitas dan membelanjakan barang yang bukan merupakan kebutuhanpokok. Pada kenyataannya pola kehidupan yang disajikan adalah hidup yang menyenangkansecara individual. Inilah yang senantiasa didorong oleh hedonisme dan konsumenisme, sebuahkonsep yang memandang bahwa tingkah laku manusia adalah mencari kesenangan dalam hidupdan mencapai kepuasan dalam membelanjakan kebutuhan yang berlebihan sesuai arus gayahidup. Penelitian ini akan mengkaji hubungan intensitas menonton tayangan sinteron remajadan interaksi dengan peer group dengan perilaku hedonis pada remaja.PERUMUSAN MASALAHDari beberapa faktor yang dianggap menyebabkan perilaku hedonis remaja, maka faktortingginya intensitas menonton sinetron remaja yang sarat dengan sajian kemewahan dankemegahan serta tingginya interaksi remaja bersama peer group yang berkecenderungan untukmelakukan soliditas dan homogenitas perilaku sebagai perwujudan solidaritas sosial, dianggapsebagai prediktor. Dengan demikian permasalahan yang diajukan adalah ?Apakah intensitasmenonton tayangan sinetron remaja di televisi dan interaksi dengan peer group berhubungandengan perilaku hedonis pada remaja??.Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang3TUJUAN PENELITIANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton tayangansinteron remaja di televisi dan interaksi dengan peer group dengan perilaku hedonis padaremaja.KERANGKA TEORIParadigma PenelitianParadigma penelitian yang dipakai adalah positivistik dengan ttradisi sosiopsikologis.State of The Art (Penelitian Terdahulu)No Nama Judul Variabel Hasil1 Yuyun (2002) Pengaruh IntensitasKomunikasi Keluarga danKonformitas peer groupterhadap Persepsi Remajamengenai InformasiErotikaVariabel bebas:1. Intensitas Komunikasikeluarga2. konformitas peer groupVariabel terikat:1. Persepsi remajamengenai informasierotika1. Intensitas komunikasi keluargaberpengaruh positif terhadappersepsi remaja mengenaiinformasi erotika2. Konformitas peer groupberpengaruh positif terhadappersepsi remaja mengenaiinformasi erotika3. Intensitas komunikasi keluargadan konformitas peer groupberpengaruh terhadap persepsiremaja mengenai informasi erotika2 Yudha (2009) Hubungan IntensitasMenonton TayanganPornografi di Internet danInteraksi dengan PeerGroup terhadap PerilakuImitasi Remaja dalamPacaranVariabel bebas:1. Intensitas MenontonTayangan Pornografi diInternet (X1)2. Interaksi dengan PeerGroup (X2)Variabel terikat:Perilaku Imitasi Remajadalam Pacaran (Y)1. Terdapat hubungan antaraIntensitas Menonton TayanganPornografi di Internet denganPerilaku Imitasi Remaja dalamPacaran2. Terdapat hubungan antaraInteraksi dengan peer groupdengan Perilaku Imitasi Remajadalam Pacaran3 Anggarizaldy,(2007)Hubungan IntensitasMendengarkan ProgramAcara Skuldesak di RadioTRAX FM danPenggunaan Bahasa GaulOleh Penyiar SkuldesakRadio TRAX FM denganPerilaku Imitasi BahasaGaul Pada RemajaVariabel bebas:1. IntensitasMendengarkanProgram Skuldesak(X1)2. Penggunaan BahasaGaul oleh PenyiarSkuldesak (X2)Variabel terikat:Perilaku Imitasi BahasaGaul pada Remaja (Y)1. Terdapat hubungan positif antaraintensitas mendengarkan ProgramSkuldesak dengan Perilaku ImitasiBahasa Gaul pada Remaja2. Terdapat hubungan positif antarapenggunaan bahasa gaul olehpenyiar Skuldesak denganPerilaku Imitasi Bahasa Gaul padaRemajaHubungan antara Intensitas Menonton Sinetron Remaja dengan Perilaku Hedonis padaRemajaIntensitas menonton media televisi tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisikcukup dekat dengan kehadiran media massa, tetapi apakah seseorang itu benar-benar terbukaterhadap pesan-pesan media tersebut. Intensitas menonton media televisi merupakan kegiatanmendengarkan, melihat, dan membaca pesan media massa atapun mempunyai pengalaman danperhatian terhadap pesan tersebut, yang dapat terjadi pada tingkat individu ataupun kelompok(Shore, 2005:26).Menurut pendapat Rosengren, penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yangdigunakan dalam berbagai media, jenis isi media yang dikonsumsi, dan berbagai hubunganJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang4antara individu konsumen dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media secarakeseluruhan. Intensitas adalah banyaknya informasi yang diperoleh melalui media, yangmeliputi frekuensi, atensi dan durasi penggunaan pada setiap jenis media yang digunakan(Rakhmat, 2004:66). Dengan demikian intensitas menonton sinetron remaja adalah banyaknyainformasi yang diperoleh dari aktivitas menonton sinetron remaja di televisi, yang meliputi;frekuensi, atensi dan durasi penggunaan.Rogers (1996:192) mengatakan bahwa dampak sosial dari teknologi komunikasi baruadalah sesuatu yang diharapkan, tidak langsung dan memenuhi, sering bersamaan denganterjadinya dampak yang tidak diharapkan tidak langsung dan tidak memenuhi keinginan).Televisi memiliki efek secara hirarkis terhadap pemirsanya yaitu:1. Kognitif. Kemampuan pemirsa menyerap atau memahami acara yang ditayangkan televisiyang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa. Remaja akan menyerap dan memahamiinformasi serta pesan-pesan yang mengandung nilai-nilai hedonis dari televisi, misalnyatentang bagaimana orang-orang berperilaku mewah, serba mudah dan serba instan, yangmana hal-hal tersebut akan menjadi semacam pengetahuan bagi siswa remaja.2. Afektif. Pemirsa dihadapkan pada trend aktual yang ditayangkan televisi. Dalam hal iniremaja akan meniru simbol, properties, gaya rambut, cara bergaul dan sebagainya, daribintang idola mereka di televisi.3. Overt behavior (perilaku). Proses tertanamnya nilai-nilai budaya hedonis dalam hal iniyang berkaitan dengan nilai-nilai hedonistik dalam kehidupan sehari-hari (Rakhmat,2004:57).Hubungan antara Interaksi Sosial Peer Group dengan Perilaku Hedonis pada RemajaProses terjadinya imitasi dalam interaksi sosial, sebagaimana dikatakan oleh Banduradalam Social Learning Theory (Teori Belajar Sosial) bahwa orang belajar dari yang lain,melalui observasi, peniruan, dan pemodelan. Teori belajar sosial ini banyak berbicara mengenaiperhatian, identifikasi, dan imitasi. Teori belajar sosial menjelaskan perilaku manusia dalam halinteraksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruhlingkungan (Rakhmat, 2004:74)Teori belajar sosial dari Bandura juga menyatakan bahwa individu akan meniru perilakuorang lain jika situasinya sama dengan ketika peristiwa yang ditirunya diperkuat di masa lalu.Sebagai contoh, ketika seorang anak muda meniru perilaku orangtuanya atau saudara tuanya,imitasi ini sering diperkuat dengan senyuman, pujian, atau bentuk-bentuk persetujuan lain.Demikian juga, ketika anak-anak menirukan perilaku teman-temannya, bintang olah raga, atauselebritis, peniruan ini akan diperkuat dengan persetujuan teman sebayanya.Dalam penelitian ini model yang dimaksudkan dalam teori belajar sosial adalah di manasiswa akan belajar mengenai nilai-nilai sosial yang berkembang dari lingkungan temansebayanya, di mana jika lingkungan teman sebayanya menganut nilai hedonis, maka individulain yang terlibat dalam interaksi dalam peer group mencoba untuk melakukan perhatian,identifikasi dan imitasi, sehingga bilamana nilai hedonis tersebut sesuai dengan keinginannya,besar kemungkinan siswa akan belajar tentang nilai-nilai dan perilaku hedonis. Namun jikainteraksi dengan lingkungan teman sebayanya menganut nilai-nilai religius, maka besarkemungkinan individu akan memiliki nilai dan perilaku yang religius pula. Dalam hal ini,individu, khususnya siswa remaja yang masih berada dalam tahap transisi akan senantiasamencari jati dirinya sehingga menemukan apa yang dicarinya dari lingkungan sosial di manasiswa atau remaja tersebut menaruh respek. Dalam tinjauan literatur, lingkungan sosial primeryang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku remaja antara lain; orangtua, lingkungan sekolahdan lingkungan teman sebaya (peer group). Semakin tinggi individu berinteraksi dengan peergroup, maka akan semakin tinggi pula tingkat kesesuaian perilakunya dengan nilai-nilai peergroup.Dari teori belajar sosial Bandura di atas maka dapat dikatakan bahwa lingkungan sosialyang primer dari individu akan mengajarkan pada para remaja untuk bersikap dan berperilakusebagaimana yang diyakini dan dipercayai oleh lingkungan sosial tersebut, di mana lingkunganJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang5sosial tersebut berasal dari teman sebaya dan media televisi. Dalam perspektif teori belajarsosial, remaja yang berada dalam transisi mengalami suatu fase yang dinamakan pencarian jatidiri, sehingga lingkungan sosial di mana remaja bergaul akan banyak mewarnai nilai dan sikaphidupnya, selain pengaruh dari orangtua dan sekolah. Perubahan ini apabila tidak mendapatkansuatu respon yang bijak dari segenap pengajar, orangtua dan lingkungan sosial di mana siswabertempat tinggal dikhawatirkan akan mampu mempengaruhi mental siswa kepada norma dannilai sosial yang menyimpang.Penyimpangan tersebut akan semakin kentara bilamana remaja bergaul dalam lingkunganpeer group yang menganut nilai dan paham hedonis, di mana secara perlahan-lahan proses jatidiri yang belum ditemukannya akan dicoba diaplikasikannya ke dalam peniruan sikap danperilaku yang dianut oleh kelompok peer groupnya. Nilai-nilai hedonis, seperti; caraberpakaian, assesories, properties, sarana dan prasarana, gaya hidup dan hobby yang dibawaoleh kelompok peer groupnya, secara perlahan akan diadopsi sebagai salah satu bagian darinilainya, dan di sini barangkali remaja berani mengatakan inilah proses pencarian jati dirinya,yaitu sebagaimana yang dilakukan sikap dan perilaku anggota peer group lainnya.Gambar 1Kerangka Pemikiran TeoritisHIPOTESIS1. Terdapat hubungan antara intensitas intensitas menonton tayangan sinetron remaja ditelevisi dengan perilaku hedonis pada remaja2. Terdapat hubungan antara interaksi sosial dengan peer group dengan perilaku hedonis padaremaja.DEFINISI OPERASIONAL1. Intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi (X1), indikator:a. Frekuensi menonton tayangan sinetron remaja di televisib. Atensi, tingkat perhatian individu dalam menonton sinetron remaja di televisic. Durasi, lama waktu yang dihabiskan individu untuk menonton sinetron remaja ditelevisi.2. Interaksi dengan peer group (X2), akan diukur dengan indikator:a. Frekuensi, seberapa sering individu berinteraksi dengan peer group.b. Durasi, yaitu lamanya waktu yang dihabiskan individu setiap kali berinteraksi denganpeer groupc. Keteraturan, yaitu kontinuitas individu dalam berinteraksi dengan peer group-nya.d. Keterbukaan, yaitu kesediaan untuk membuka diri tentang informasi yang tersembunyimengenai diri sendiri terhadap anggota lain dalam peer groupe. Empathy, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi anggota lain di dalampeer group.f. Dukungan, yaitu sikap mendung yang terdiri dari sikap deskriptif, bersikap spontandan bersikap provisional dengan berpikiran terbuka serta bersedia mendengarpandangan yang berlawanan dengan anggota lain dalam peer group3. Perilaku hedonis pada remaja (Y), dengan indikator:a. Sikap (afektif), diukur dengan:1) Kecenderungan terhadap kemewahan2) Kecenderungan untuk berfoya-foya3) Kecenderungan terhadap kemudahanb. Perilaku (overt behavior), diukur dengan:Intensitas Menonton TayanganSinetron (X1)Perilaku Hedonis padaRemaja (Y)Interaksi dengan Peer Group(X2)Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang61) Tingkat menghindari kesukaran2) Tingkat pemuasan hasrat3) Tingkat pemenuhan keinginan4) Tingkat pemuasan hawa nafsuMETODE PENELITIANTipe PenelitianPenelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian eksplanatori (pengujian hipotesis).Populasi dan Sampel1. PopulasiPopulasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Semarang,sebanyak 334 siswa2. Sample sizeDengan rumus Yamane diketahui sample size sebesar 77 responden.Alat dan Teknik Pengumpulan DataSebagai alat atau instrumen pengumpulan data dalam penelitian ialah kuesioner yangdibagikan kepada responden untuk diisi jawabannya dengan bantuan teknik wawancara.Teknik Analisis DataTeknik analisis data akan berupa:1. Analisis deskriptifDalam analisis kualitatif atau deskriptif adalah penyajian deskripsi temuan penelitiansecara naratif dengan bantuan tabel frekuensi (tabel univariat) dan tabel silang (tabelmultivariat).2. Analisis inferensialAnalisis kuantitatif atau inferensial akan digunakan untuk pengujian hipotesispenelitian. Dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi rank Kendall.HASIL PENELITIAN1. Temuan Deskriptif (kualitatif)a. Sebagian besar responden tergolong memiliki intensitas menonton tayangan sinetronremaja di televisi menengah ke bawah. Fenomena seperti ini memberikan arahanbahwa secara umum tayangan sinetron remaja di televisi kurang diminati olehkalangan remaja. Hal ini dikarenakan sinetron dimaksud memiliki jam tayang yangbersamaan dengan aktivitas responden yang lain, seperti; saat bersantai bersamakeluarga, bersama teman, jalan-jalan ke tempat hiburan, mall, juga belajar dan lainsebagainya.b. Tingkat interaksi sosial dalam peer group pada responden tergolong menengah ke atas.Tingginya tingkat interaksi sosial tersebut disebabkan adanya perasaan kebersamaan,baik dalam perkembangan psikologis, sosial, edukatif maupun ekonomi, sehinggamenjadi daya perekat sosial di antara mereka. Fenomena ini memberikan arahan bahwawalaupun secara fisik, intensitas pertemuan dan komunikasi berlangsung tinggi, namundalam aspek afektif dan behavior, bentuk ikatan sosial antara anggota kelompok dalampeer group tergolong masih kurang, yang dikarenakan adanya keterbatasansosiopsikologis pada masing-masing anggota akibat adanya kepentingan dankebutuhan yang bersifat individual dan sosial, seperti masih adanya kebutuhan untukberinteraksi dengan lingkungan keluarga dan lingkungan sosial di luar lingkungan peergroup.c. Temuan memperlihatkan sebagian besar responden tergolong memiliki perilakuhedonis tingkat menengah ke atas. Adanya kecenderungan semacam ini dikarenakanpada responden ditemukan tentang tingginya sikap menghindari kesulitan, tingginyakecenderungan untuk mencari kemudahan, adanya kecenderungan pada individu untukJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang7menggunakan bantuan orang lain apabila mengalami kesulitan. Pilihan-pilihan sikapresponden tersebut merupakan karakteristik perilaku hedonis, di mana perilakuindividu yang memiliki kecenderungan untuk bermegah-megah, kehidupan mewahdengan mengesampingkan kerja keras, tekun dan giat dalam meraihnya.2. Temuan Inferensial (Kuantitatif)a. Berdasarkan uji hipotesis penelitian di atas, menunjukkan bahwa hipotesis penelitianditerima. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil penelitian yang diperoleh pada koefisienkorelasi Kendall antara intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisi (X1)dengan perilaku hedonis remaja (Y) sebesar -0,1331 dan setelah ditransformasikan kedalam rumus Z menghasilkan nilai Z sebesar -1,713. Hasil konsultasi memperlihatkanbahwa nilai Z-hitung ?-1,713? > nilai Z-tabel5% ?-1,64?, sehingga Ho ditolak dan Haditerima pada taraf kepercayaan 95 persen. Dengan demikian, hipotesis yangmenyatakan terdapat hubungan antara intensitas menonton tayangan sinetron remajatelevisi dengan perilaku hedonis remaja dapat diterima. Hal ini dapat dikatakan bahwaketika individu mempunyai intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisitinggi, maka berpotensi menurunkan perilaku hedonis remaja yang bersangkutan.Begitu juga sebaliknya, ketika intensitas menonton tayangan sinetron remaja di televisirendah, maka akan berpotensi menaikkan perilaku hedonis remaja yang bersangkutan.b. Dari perhitungan manual ditemukan koefisien ? sebesar -0,2608 yang menghasilkannilai Z sebesar -3,356. Sedangkan nilai Z-tabel (lihat lampiran-7) pada tarafsignifikansi 5% (Zt5%) sebesar |-1,64|, sehingga hasil konfirmasi antara kedua nilai Ztersebut memperlihatkan nilai Z-hitung |-3,356| > Zt5% |-1,64|, sehingga hipotesispenelitian (Ha) diterima pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian antara interaksipeer group dengan perilaku hedonis remaja terdapat hubungan yang sangat signinikan.Variabel intensitas sosial peer group secara statistik berhubungan negatif denganperilaku hedonis siswa SMA di Semarang. Semakin tinggi interaksi sosial peer group,semakin rendah perilaku hedonis pada siswa. Hasil perhitungan statistik ini bersesuaiandengan temuan berdasarkan analisis tabel silang. Fenomena semacam ini memilikimakna bahwa interaksi sosial peer group dengan dengan segala dinamika sosialekonomi dan budaya, justru berpotensi menurunkan sikap dan perilaku hedonis siswaremaja yang bersangkutan.3. Diskusia. Implikasi TeoritikDari hasil hubungan variabel intensitas menonton sinetron remaja di televisiberhubungan negatif dengan perilaku hedonis remaja, memberikan arahan ketikaremaja mempunyai intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang tinggi, secaraotomatis dapat dikatakan bahwa waktunya untuk merealisasikan (manifestasi) perilakuhedonis menjadi berkurang, karena adanya aktivitas lain pada waktu yang bersamaandengan spasial yang berbeda. Hal ini sejalan dengan pendapat Rakhmat yangmengatakan bahwa intensitas menonton adalah banyaknya informasi yang diperolehmelalui media, yang meliputi frekuensi, atensi dan durasi penggunaan pada setiap jenismedia yang digunakan (Rakhmat, 2004:66). Intensitas menonton sinetron remajaadalah banyaknya informasi yang diperoleh dari aktivitas menonton sinetron remaja ditelevisi, yang meliputi; frekuensi, atensi dan durasi penggunaan.Terbuktinya hipotesis penelitian ini, mengasumsikan ketika ada remajamengalami intensitas menonton sinetron remaja di televisi yang tinggi, maka otomatisremaja yang bersangkutan alam memiliki perilaku hedonis yang tinggi pula, namundemikian hasil dari penelitian ini tidak menyatakan demikian, justru sebaliknya, dimana semakin tinggi intensitas menonton sinetron remaja di televisi, maka akansemakin rendah perilaku hedonis pada remaja. Peneliti melakukan kemungkinankemungkinanyang terjadi ketika hasil penelitian ini menyatakan bahwa intensitasmenonton tayangan sinetron di televisi berhubungan negatif dengan perilaku hedonisJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang8remaja. Peneliti menarik kembali teori yang digunakan untuk menjelaskan hubunganantara keduanya, yaitu hirarki efek media, di mana pertemuan media dengan khalayakakan berlangsung dalam tiga tingkatan (level) intensitas, yaitu; kognitif, sikap dan overbehavior. Dalam ketiga level (tingkatan) ini terdapat salah satu faktor yangmempengaruhi perilaku hedonis tersebut terjadi. Menurut hirarki efek dan teori belajarsosial (yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara interaksi peer groupdengan perilaku hedonis remaja) bahwa kita belajar tidak hanya dari pengalamanlangsung tetapi dari peneladanan atau peniruan, dibuktikan dalam hubungan keduavariabel ini. Televisi bukan salah satu faktor penentu lingkungan yang kuat dalammunculnya perilaku hedonis. Remaja tidak hanya melakukan peniruan dari televisisaja, walaupun dalam penelitian ini menyatakan bahwa televisi berkorelasi negatifdengan perilaku hedonis remaja. Faktor lingkungan lain seperti keluarga juga menjadipenentu dalam proses perilaku hedonis.Berdasarkan kajian yang telah diuraikan di atas, maka dapat dimaknai bahwahubungan yang timbul akibat adanya tayangan sinetron di televisi dengan perilakuhedonis remaja dapat berupa pengaruh positif dan negatif. Mereka dapat terpengaruhke arah yang positif atau ke arah yang negatif tergantung pada pribadi masing-masingdari remaja tersebut. Sinetron di televisi berpengaruh terhadap remaja karenakemampuan menciptakan kesan dan persepsi bahwa suatu muatan dalam layar kacamenjadi lebih nyata dari realitasnya, sehingga mereka ingin mencoba apa yang merekalihat di televisi itu agar dapat disebut sebagai remaja gaul di lingkungannya.Implikasi teoritik yang bisa diajukan adalah karena hubungan menonton sinetronremaja di televisi dengan perilaku hedonis negatif, maka memunculkan pemikiranbahwa pertemuan antara anak dengan media massa (khususnya saat menonton remajadi televisi), diduga tidak lebih hanya dimanfaatkan untuk mengetahui trend dan gayahidup populer di kalangan remaja perkotaan, yang sekaligus dianggap sebagai aktivitaskatarsis atas rutinitas anak (siswa) terhadap tingkat kepadatan proses belajar belajar disekolah. Hal ini sejalan dengan ditandai semakin banyaknya aktivitas ekstra kurikulerdan pelajaran tambahan yang seringkali membuat anak (remaja) menjadi bosan(boring).b. Implikasi praktisImplikasi praktis dari hasil penelitian adalah terlepas dari besar kecilnyapengaruh yang disebabkan oleh tayangan sinetron remaja di televisi yang saratmengumbar sikap dan perilaku hedonis, maka optimalisasi peranan keluarga dalammembentengi anak remajanya mutlak semakin ditingkatkan. Hal ini bisa dilakukansalah satunya adalah melalui pendampingan yang selalu disertai dengan diskusi antaraorangtua dengan anak remaja, terkait dampak perilaku hedonis bagi pencapaian masadepan anak remaja yang bersangkutan. Dalam hal ini maka intensitas komunikasiantara anak remaja dengan orangtua bukan saja optimal pada saat melakukanpendampingan, akan tetapi bisa juga dilakukan melalui media-media lainnya, seperti;saat makan bersama, saat berwisata, bersantai dan forum komunikasi interpersonallainnya, yang sudah barang tentu diikuti adanya peningkatan perhatian orangtuaterhadap kebutuhan dan kepentingan studi anaknya.c. Implikasi SosialDengan terbuktinya hipotesis penelitian, implikasi sosial yang bisa diambiladalah tayangan sinetron remaja di televisi memang memiliki potensi destruktif(merusak) bilamana khalayak mengalami terpaan yang sangat tinggi, dalam artipertemuan antara dengan tayangan dimaksud berlangsung dalam intensitas yang sangattinggi. Namun bilamana pertemuan tersebut hanya berlangsung dalam durasi yangrelatif singkat (pendek), apalagi selama menonton diselingi dengan seringnyamelakukan pergantian channel televisi, potensi merusak dari tayangan sinetron remajadi televisi dinilai masih sangat lemah. Namun demikian, sinyalemen dari Titi Said,tetap relevan untuk dicermati, khususnya bagi pendidik, orangtua, pemerhati sosial,Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang9tokoh masyarakat dan tokoh agama, untuk senantiasa mewaspadai bahaya dari isitayangan sinetron remaja di televisi tersebut, yang dalam hal ini lebih intensif dalammemberikan pembinaan, pengertian dan pemahaman kepada putra-putrinya untuk tidakterlalu mempercayai kebenaran tayangan sinetron dimaksud, berikut content-contentdestruktif yang terkandung.Bandura dalam Rakhmat (2004) juga menjelaskan bahwa perilaku, lingkungandan individu itu sendiri saling berinteraksi satu dengan yang lain. Hal ini berartiperilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri, di samping itu perilakujuga berpengaruh pada lingkungan, demikian pula lingkungan dapat mempengaruhiindividu, demikian sebaliknya (Walgito, 2003:15). Bilamana berbicara peer group ituadalah panutan, maka ini menyangkut hubungan antara perilaku peer group dengananggotanya, peer group dijadikan model bagi anggotanya, apalagi anggota dalamkelompok umumnya para remaja.PENUTUP1. Kesimpulana. Terdapat hubungan negatif antara intensitas intensitas menonton tayangan sinetronremaja di televisi dengan perilaku hedonis pada remaja.b. Terdapat hubungan negatif antara interaksi sosial dengan peer group dengan perilakuhedonis pada remaja.2. Sarana. Saran AkademisDalam rangka mengurangi atau bahkan mengeliminasi perilaku hedonis pada remaja,seharusnya intitusi televisi swasta tetap menyelenggarakan atau menayangkan acarasinetron remaja di saat prime time, agar supaya perhatian remaja untuk menontonyatetap rendah.b. Saran SosialLingkungan sosial primer siswa merupakan pengaruh utama, maka upayapembentukan sikap dan perilaku remaja dalam berbagai aspekdan isu, sebaiknya disosialisasikan melalui kelompok peer group, karena akanmendapatkan perhatian dan respon yang positif.c. Saran PraktisLingkungan sosial di mana remaja itu bergaul akan banyak mewarnai nilai dan sikaphidupnya, selain pengaruh dari orangtua dan sekolah. Perubahan ini apabila tidakmendapatkan suatu respon yang bijak dari segenap pengajar, orangtua dan lingkungansosial di mana siswa bertempat tinggal dikhawatirkan akan mampu mempengaruhimental siswa kepada norma dan nilai sosial yang menyimpang. Penyimpangantersebut akan semakin terlihat bilamana remaja bergaul dalam lingkungan peer groupyang menganut nilai dan paham hedonis, di mana secara perlahan-lahan proses jati diriJurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang10yang belum ditemukannya akan dicoba diaplikasikannya ke dalam peniruan sikap danperilaku yang dianut oleh kelompok peer groupnya.DAFTAR PUSTAKAAmalia, Lia. (2009). Mitos Cantik di Media. STAIN Press. Ponorogo.Azwar, Saefuddin. (2008). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar.Yogyakarta.Haryatmoko. (2007). Etika Komunikasi: Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi. Kanisius.Yogyakarta.Hujbers, Theo. (1992). Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah. Kanisius. Yogyakarta.Liliweri, Alo. (2001). Komunikasi Massa dalam Masyarakat. Citra Aditya Bakti. Bandung.Littlejohn, Stephen W. (2004). Theories of Human Communication. Fairfield Graphics.California.Marwan. (2008). Dampak Siaran Televisi terhadap Kenakalan Remaja. Yayasan Kanisius.Yogyakarta.Mc Quail, Denis. (1997). Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar, Erlangga, Jakarta.Mulyana, Deddy. (2007). Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya. Bandung.Rakhmat, Jalaluddin. (2004). Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya. Bandung.Shore, Larry. (2005). Mass Media For Development A Rexamination of Acces, Exposure andImpact, Communication The Rural Third World. Preagur. New York.Soekanto, Soerjono. (2002). Sosiologi suatu Pengantar. Rajawali Press. Jakarta.Surbakti, EB. (2008). Sudah Siapkah Menikah?. Elek Media Komputindo. Jakarta.Tubbs, Stewart L & Moss, Sylvia, (1996). Human Communication. Remaja Rosdakarya.Bandung.Walgito, Bimo. (2003). Psikologi Sosial. Andi Offset. Yogyakarta.Walgito, Bimo. (2004). Pengantar Psikologi Umum. Andi Offset. Yogyakarta.Muhyidi, Muhammad. (2004) Remaja Puber di Tengah Arus Hedonis. Mujahid Press. Bandung.Jurnal dan Artikel IlmiahAyuningtias, Prasdianingrum. (2013). Pesan Hedonisme dalam Film Layar Lebar ?Realita Cinta& Rock N?Roll? eJournal lmu Komunikasi, 2013, 1 (2): 14-27 ISSN 0000-0000,ejournal.ilkom.fisip-unmul.org.Liandra, Dwi Tasya. (2013). Pengaruh Televisi Publik dan Swasta terhadap Perilaku Remaja.Skripsi. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat-FakultasEkologi Manusia Institut Pertanian Bogor.Oetomo, R. Koesmaryanto. (2013). Pengaruh Tayangan Sinetron Remaja di Televisi terhadapAnak. Artikel Ilmiah. Departemen Sains Komunikasi dan PengembanganMasyarakat-Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.
PELECEHAN SEKSUAL: MASKULINISASI IDENTITAS PADA MAHASISWI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNDIP Faiqoh, Lia; Sunarto, Sunarto; Herieningsih, Sri Widowati
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PELECEHAN SEKSUAL: MASKULINISASI IDENTITAS PADAMAHASISWI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNDIPAbstrakKekerasan seksual sering kali muncul di sekitar kita, terutama seringmerugikan pihak perempuan. Namun, kebanyakan korban dari kekerasan tersebutjustru tidak banyak yang melaporkannya, salah satu bentuk yang paling seringdijumpai adalah pelecehan seksual. Pelecehan seksual diartikan sebagai suatukeadaan yang tidak dapat diterima, baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual danpernyataan-pernyataan yang bersifat menghina atau keterangan seksual yang bersifatmembedakan. Tindakan yang tidak diinginkan tersebut ternyata bukan saja terjadi diranah privat saja, melainkan sudah mengarah pada ruang publik dan dapat berasaldari orang-orang yang dikenal seperti teman-teman di lingkungan pendidikan.Fokus penelitian adalah untuk menggambarkan bagaimana maskulinisasidapat diterima oleh mahasiswi di lingkungan Teknik Elektro Undip. Selain itu, untukmenjelaskan bentuk dan dampak pelecehan seksual yang terdapat dalam sebuahmaskulinisasi tersebut, dan ideologi yang digunakan di balik dominasinya.Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma kritis, dengan tipe penelitiandeskriptif. Manakala metode penelitiannya menggnakan Studi Kasus yang mengacupada Yin (2006). Data diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancarainforman secara mendalam terhadap tiga informan yaitu mahasiswi Teknik ElektroUndip, dengan menggunakan Teknik Snowball Sampling. Teori utama penelitian iniadalah Muted Group Theory dari Cheris Kramarae.Hasil penelitian menggambarkan bagaimana pelecehan seksual dapat diterimadikalangan perempuan dalam sebuah dominasi kelompok, berkat hegemoni kelompokyang membuatnya semakin tersamar. Bentuk pelecehan yang dialami merekacenderung mengarah pada hostile environment, di mana berdampak terhadap keadaanpsikologis, berupa lontaran komentar-komentar maupun julukan seksis yangmendeskripsikan keadaan fisik mereka. Ideologi di balik dominasi mereka adalahPatriarki yang telah melebur dengan nilai-nilai di lingkungannya, sehinggamenjadikan suatu ?kebiasaan laki-laki?, salah satunya pelecehan seksual yang telahdijadikan keadaan normal di kalangan perempuan.Kata kunci : Pelecehan Seksual, Dominasi, MaskulinisasiSEXUAL HARASSMENT: MASCULINIZATION OF FEMALE STUDENTIDENTITY ON ELECTRICAL ENGINEERING MAJOR OF DIPONEGOROUNIVERSITYAbstractSexual violence often appear around us, especially the often detrimental towomen. However, most of the violence victims didn?t make reports on it, one of themost common sexual violence is sexual harassment. Sexual harassment is defined asa situation that is unacceptable, whether verbal, physical or sexual cues andstatements that are sexually derogatory or discriminatory statements. The unwantedactions are apparently not only occur in the private sphere, but has led to the publicand can be derived from known people like friends in the educational environment.The focus of the research is to describe how the masculinization may beaccepted by the student in the Electrical Engineering Diponegoro University.Moreover, to explain the shape and impact of sexual harassment contained in a themasculinization, and ideology are used behind its dominance.This qualitative study using a critical paradigm, the descriptive type. Whereasthe research method is using the case study which refers to Yin (2006). Data obtainedfrom direct field observations and in-depth informant interviews to three informantsof the Electrical Engineering Diponegoro University students, by using the SnowballSampling technique. The main theory of this study is Muted Group Theory of CherisKramarae.The result of the research illustrates how sexual harassment is acceptableamong women in a group of domination, through to the hegemony group that make itmore subtle. The form of harassment experienced by women tends to lead to a hostileenvironment, where the impact on the psychological state, a burst of comments andsexist epithets describing their physical state. The ideology behind their dominance isPatriarchy which has merged with the values in the environment, making a "habit ofmen", one of which sexual abuse has become a normal state among women.Keywords: Sexual harassment, Domination, MasculinizationPendahuluanAkhir-akhir ini, pemberitaan mengenai kekerasan semakin marak diberitakan dimedia-media, baik cetak maupun elektronik. Bahkan tidak jarang media itu sendirijuga turut menjadi pelaku dari kekerasan. Di sini, kekerasan yang dimaksud tidakmelulu berkaitan dengan tindakan tembakan, pukulan atau dengan tetesan darah.Kekerasan adalah suatu penyerangan yang berakibat menyakiti seseorang, baikberupa verbal maupun non-verbal, dan dilakukan secara langsung maupun tidaklangsung. Jenis-jenis kekerasan juga dapat dilihat dari berbagai aspek, salah satu yangsering menjadi sorotan adalah Kekerasan Berbasis Gender (KBG).Dalam sebuah seminar berjudul ?Gender-Based Violence In A RomanticRelationship? (Anonim, 2012), Murnizam Halik PH.D, seorang Dekan Psikologi diUniversitas Malaysia Sabah (UMS) sekaligus narasumber seminar, mengungkapkanGender Based Violence atau Kekerasan Berbasis Gender merupakan serangkaianpenganiayaan yang dilakukan terhadap perempuan, yang berakar dari ketidaksetaraangender dan rendahnya status perempuan dibandingkan laki-laki. KBG dapat terjadi dimanapun, dari ruang privat hingga ruang publik, yang nyata diketahui banyak orang.Selain itu, KBG dapat dilakukan dalam berbagai bentuk: kekerasan fisik, kekerasanpsikis dan kekerasan seksual. Akan tetapi, pembahasan dalam penelitian ini akanmengarahkan pembaca pada kekerasan dalam bentuk seksual, yang mana salahsatunya menyangkut pelecehan seksual. Sexual harassment atau pelecehan seksualsering kali terjadi disekitar kita, dengan atau tanpa disadari.Pelecehan seksual diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak dapat diterima,baik secara lisan, fisik atau isyarat seksual dan pernyataan-pernyataan yang bersifatmenghina atau keterangan seksual yang bersifat membedakan, di mana membuatseseorang merasa terancam, dipermalukan, dibodohi, dilecehkan dan dilemahkankondisi keamanannya. Pada dasarnya, pelaku pelecehan dapat dilakukan oleh lakilakidan perempuan; baik laki-laki terhadap perempuan, perempuan terhadapperempuan, bahkan antar sejenis yaitu laki-laki terhadap laki-laki dan perempuanterhadap perempuan. Bentuknya dapat berupa verbal dan non-verbal, dan dapatdijumpai di manapun, kapanpun, kepada siapapun dan oleh siapapun, tanpa mengenalstatus atau pangkat. Richmond dan Abbott (1992:329) menyatakan, bahwa hanyasekitar satu per sepuluh kasus-kasus pelecehan seksual sesama jenis yang diberitakan.Pelecehan seksual sesama jenis biasanya dilakukan oleh pasangan homoseksual, atauseseorang yang mengidap kelainan seksual. Meski demikian, tidak dapat dipungkiribahwa pada kenyataannya perempuan sering menjadi korban kekerasan maupunpelecehan seksual oleh laki-laki, sehingga setiap harinya bahkan setiap saatperempuan harus merasa berwaspada terhadap serangan-serangan yang akanmenimpanya.Menurut data WHO 2006 (dalam artikel Kinasih, 2007:11), ditemukan adanyaseorang perempuan dilecehkan, diperkosa dan dipukuli setiap hari di seluruh dunia.Paling tidak setengah dari penduduk dunia berjenis kelamin perempuan telahmengalami kekerasan secara fisik. Bahkan, pelecehan ini telah terjadi di tempattempatumum dan tanpa disadari (oleh korban pelecehan). Misalnya, kasus pelecehanmenjadi mimpi buruk (terror) bagi kaum hawa, terutama di Ibu Kota, Jakarta.Berdasarkan sumber okezone.com, (wirakusuma, 2011) perempuan yang menaikijasa mobil angkutan kota di malam hari akan merasakan takut yang berlebih sehinggamereka harus menyamarkan penampilan mereka seperti seorang laki-laki. Seorangkaryawati asal Ciputat, bernama Tungga Pawestri (30) mengaku harus pulang kantorpada malam hari (di atas pukul 22.00 WIB). Sebelum menaiki angkot tersebut,Tungga harus memakai jaket tebal dan topi agar tampak seperti laki-laki, agar dapatterlepas dari tindak pelecehan seksual di angkot.Sebuah survei ?YouGov? yang dilakukan oleh End Violence Against WomenCoalition (Evaw) juga memperkuat kenyataan tersebut, yaitu sebanyak 43 persen dari1.047 wanita berusia 18 ? 34 tahun (yang disurvei) mengalami pelecehan seksual ditempat-tempat umum pada tahun 2011 (Anonim, 2012). Di Indonesia sendiri,menurut pantauan yang dilakukan oleh Komisi Nasional (Komnas) Perempuan dalamkurun waktu 13 tahun terakhir (1998 ? 2011) telah tercatat sebanyak 22.284 kasuskekerasan seksual terhadap perempuan di ruang umum dan menjadi urutan kedua dariseluruh kasus kekerasan seksual yang berjumlah 93.960 kasus (Hidayatullah, 2012).Pelecehan seksual ini merupakan latar belakang dari kekerasan, sehinggahukum di Indonesia pun menciptakan suatu undang-undang perlindungan perempuan,yang terdapat pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia, yangmana merupakan pengaturan pasal-pasal pelecehan seksual: (a) KUHP Pasal 289 ?296 merupakan pasal-pasal tentang pencabulan, (b) KUHP Pasal 295 ? 298 dan pasal506 merupakan pasal-pasal tentang Penghubungan Pencabulan, dan (c) KUHP Pasal281 ? 299, 532 ? 533 dan lain-lain merupakan pasal-pasal tentang Tindak Pidanaterhadap Kesopanan (Laluyan, 2009).Meski terdapat aturan hukum mengenai pelaku pelecehan, kaum lelaki tetapmerasa lebih berkuasa dibanding perempuan dan konotasi perempuan menjadimakhluk yang lemah. Terbukti dari kasus-kasus pelecehan yang nyata ada di manamana.Bukan hanya di tempat-tempat umum, kasus-kasus pelecehan seksual jugadapat terjadi pada lingkup yang tertutup, seperti lingkungan akademis. Pelecehanseksual, baik guru/dosen terhadap murid/mahasiswa atau sebaliknya, serta antarguru/dosen dan antar murid/mahasiswa tidak dapat dipungkiri dalam duniapendidikan. Dalam hal ini, peneliti menyingkap kasus pelecehan seksual yang terjadidiantara mahasiswa-mahasiswi yang berada pada lingkungan dominasi laki-laki,tepatnya pada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro Undip.Teknik Elektro Undip memiliki perbandingan mahasiswa (antara laki-laki danperempuan) yang signifikan yaitu sebanyak 87 persen laki-laki dan 13 persenperempuan dari jumlah 920 orang. Dengan dominasi maskulin (sifat laki-laki), makaakan dengan mudah mengambil alih sifat-sifat feminin dari seorang perempuan,inilah yang disebut dengan ?Maskulinisasi? atau laki-laki dapat mengkonstruksikandiri perempuan. Proses maskulinisasi tersebut, salah satunya dapat berimbas dalamidentitas diri seseorang. Karakteristik macho sangat terkenal pada salah satu kampusteknik yang paling diminati tersebut. Dengan konstruksi penampilan laki-laki,mencerminkan sifat-sifat macho pada diri perempuan; make up yang jarangdigunakan dan tas ransel yang lebih menjadi pilihan para mahasiswi, akan seringditemui di Teknik Elektro.Suatu diskriminasi identitas, jika identitas seseorang tersebut harus diikutisecara ?paksaan?. Oleh karenanya, peneliti akan menggali lebih dalam mengenaidominasi maskulin terhadap perempuan. Karenanya, peneliti mengambil judul?Pelecehan Seksual: Maskulinisasi Identitas Pada Mahasiswi Jurusan TeknikElektro Undip?, yang mana peneliti berusaha untuk mencari tahu bagaimanaperempuan (sebagai minoritas) dapat beradaptasi dengan lingkungan dominasimaskulin, dan dampak maskulinisasi identitas perempuan yang ditimbulkan daribentuk-bentuk pelecehan seksual. Selain itu, peneliti juga berusaha mencaritahuideologi di balik dominasi maskulin di lingkungan Teknik tersebut.MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian deskriptif.Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2010:4) mendefinisikan metodologi kualitatifsebagai prosedur penelitian yang menghasilkan kata-kata tertulis atau lisan dariorang-orang dan perilaku yang diamati. Untuk menjawab tujuan penelitian dilakukandengan paradigma kritis, karena peneliti menekankan pada konsep maskulinisasi, yangdominan di kalangan mahasiswa-mahasiswi Teknik Elektro Undip.Data diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancarainforman secara mendalam terhadap tiga informan yaitu mahasiswi Teknik ElektroUndip, dengan menggunakan Teknik Snowball Sampling. Bungin (2007:108)menetapkan beberapa prosedur pada penggunaan teknik Snowball, yaitu dengan siapapeserta atau informan pernah dikontak atau pertama kali bertemu dengan penelitiadalah penting untuk menggunakan jaringan sosial mereka untuk merujuk penelitikepada orang lain yang berpotensi berpartisipasi atau berkontribusi dan mempelajariatau memberi informasi kepada peneliti.Analisis data terdiri atas pengujian, pengkategorian, pentabulasian, ataupunpengombinasian kembali bukti-bukti untuk menunjuk proposi awal suatu penelitian(Yin, 2006:133). Strategi penjodohan pola dalam studi kasus deskriptif bersifatrelevan dan fleksibel, sehingga pola-pola spesifik dapat diprediksikan sebelumpengumpulan data (Yin, 2006:140).PembahasanRefleksi: Pelecehan Seksual Dalam Maskulinisasi Identitas Mahasiswi TeknikElektro UndipStrategi analisis data yang digunakan pada penelitian ini, dalam pendekatan studikasus adalah strategi penjodohan pola. Peneliti telah menetapkan asumsi di awalpenelitian, sehingga dapat menghasilkan sebuah perbandingan antara pra penelitiandan pasca penelitian. Asumsi peneliti pra penelitian menyatakan bahwa praktekpelecehan seksual yang dialami perempuan dalam dominasi maskulin merupakanakibat maskulinisasi di lingkungan Teknik Elektro Undip. Laki-laki menggunakankelebihannya untuk menguasai perempuan. Posisi laki-laki menempatkan dirinyapada tatanan superior. Dengan demikian, laki-laki juga bebas menggunakankekuatannya dalam mengkonstruksi perempuan.Sedangkan pasca penelitian, peneliti menemukan beberapa temuan. Pertama,laki-laki menyisipkan praktek pelecehan seksual dalam maskulinisasi identitasperempuan di lingkungan dominasi, Teknik Elektro Undip. Dampak dari dominasimaskulin begitu terasa di lingkungan tersebut, sehingga memberi keleluasaan bagilaki-laki untuk menguasai perempuan. Mereka seakan harus mengikuti aturan(terutama dalam hal identitas gender) yang dibuat oleh laki-laki agar dapat diterimasebagai bagian di lingkungan kampus Teknik Elektro Undip. Paludi (1990:23)menegaskan, bahwa pelecehan seksual adalah perilaku seksual yang tidak diinginkan,permintaan atas kenikmatan seksual, dan segala tindakan verbal atau fisik yangmengarah pada seksual secara alamiah dalam berbagai situasi, salah satunya ketikasalah satu pihak mengarah pada ketundukkan yang dibuat secara emplisit (langsung)atau implisit (tidak langsung) oleh pihak lain.Kedua, peneliti menemukan pelecehan seksual yang dialami mahasiswi dilingkungan Teknik Elektro, lebih berupa kata-kata (verbal), antara lain: memberikomentar negatif, memberi julukan yang tidak menyenangkan, dan pembicaraan yangmengarah pada hal-hal seksis. Bahkan Michigan Task Force (Richmond dan Abbott,328:1992) yang fokus menyoroti kasus pelecehan seksual, menyatakan bahwapelecehan seksual mencakup verbal abuse atau kekerasan verbal yang dilakukanberulang-ulang dari hasrat atau naluri seksual. Kekerasan verbal yang berulang-ulangitu sama seperti yang dialami oleh para informan penelitian, sehingga dapatmengakibatkan suatu ketidaknyamanan kondisi psikologis ketika berada dilingkungan kampusnya. Kondisi yang dialami oleh perempuan di lingkungantersebut, dalam pelecehan seksual lengkapnya termasuk jenis hostile environment,yaitu suatu keadaan seorang individu dijadikan subyek atas segala pengulanganseputar seksual yang tidak diinginkan, sehingga dapat menciptakan suasana yangtidak nyaman dilingkungan pekerjaan maupun pendidikan (Carroll, 2010:486).Ketiga, keadaan di mana laki-laki sangat ingin mengontrol perempuan samaseperti penjelasan dalam Budaya Patriarki. Patriarki lahir dari hasrat laki-laki untukmenguasai perempuan dan alam, yang merupakan suatu sistem hirarki yangmenghargai sebuah power-over (hasrat menghancurkan) (Tong, 81:2010). Praktekpraktekuntuk menaklukkan perempuan, sering kali dinormalisasi oleh laki-laki agardapat mencapai kekuasaan (power) yang diinginkannya. Oleh karenanya, konseppatriarki telah melebur menjadi landasan ideologis dibalik dominasi yang terdapat dilingkungan Teknik Elektro tersebut.?Muted Group theorists criticize dominant groups and argue that hegemonicideas often silence other ideas? (West dan Turner, 2007:516). Kalimat tersebutmenekankan bahwa MGT sangat kritis terhadap kelompok dominan yang seringmengontrol makna pada anggota-anggota kelompok lainnya. Perempuan hanya bisamengikuti aturan-aturan tersebut karena merasa tidak dapat memberikan sikapresponsif untuk menjelaskan pikirannya. Bahkan ketika subjek penelitian mengalamipelecehan, mereka cenderung pasif karena hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yangwajar serta konsekuensi yang harus diterima berada dalam lingkungan dominasimaskulin.Penggunaan teori MGT mampu menjelaskan sepenuhnya, mengapaperempuan mengalami ketidakberdayaan menghadapi pelecehan seksual dalampraktek maskulinisasi identitas perempuan. Dominasi laki-laki yang begitu kuatmampu menguasai kebiasaan interaksi lawan jenis, bahkan secara bawah sadar yangdikuasai dapat dengan mudah merasa patuh dan menerima begitu saja. Bagikelompok bungkam (muted group), apa yang dikatakan pertama kali harus bergeserdari pandangan mereka sendiri terhadap dunia dan kemudian diperbandingkandengan pengalaman-pengalaman dari kelompok yang dominan (West dan Turner,2007:517).Asumsi Muted Group Theory dalam sudut pandang perempuan, turutmenyatakan bahwa dalam berpartisipasi pada kelompok sosialnya, perempuan harusmentransformasi cara mereka menjadi cara-cara yang dapat diterima oleh laki-laki.Perempuan mengalami pelecehan seksual sebagai usaha pembungkaman diri karenamereka memahami bahwa dirinya akan selalu berada di bawah laki dan menjadimanusia sekunder. Kenyataan yang terdapat di lapangan, mahasiswi Teknik Elektromerasa harus menyesuaikan peran yang cocok dengan identitas kelompoknya, macho.Adapun, peneliti menemukan beberapa hal menarik dalam penelitian ini.Pertama, konstruksi identitas yang diciptakan oleh mayoritas anggota kelompoksendiri biasanya dapat saling mempengaruhi, apalagi jika hubungan tersebut berhasilmenciptakan rasa solidaritas yang tinggi. Ketidaksadaran kaum perempuan dalammematuhi aturan-aturan yang diciptakan kelompok dominan sama seperti penjelasandalam Teori Hegemoni. Secara umum, teori tersebut menjelaskan dominasi sebuahkelompok terhadap kelompok lainnya, biasanya kelompok yang lebih lemah, dalamhal ini perempuan (West dan Turner, 2008:67).Arahan-arahan para penguasa kelompok sebenarnya telah menciptakan suatukesadaran palsu bagi kelompok tertindas. Kesadaran palsu atau false consciousness(dalam West dan Turner, 2008:68) adalah suatu keadaan di mana individu-individumenjadi tidak sadar mengenai dominasi yang terjadi di dalam kehidupan mereka.Identitas atau ciri khas macho yang melekat pada kelompok Teknik Elektro, terbuktitelah dibentuk oleh kelompok dominan yang ada di lingkungannya. Konsep machomenjadi sesuatu yang identik dengan Teknik Elektro secara terus-menerus dapatberpengaruh pada diri perempuan yang ada di lingkungan tersebut. Perempuan tidakakan pernah benar-benar yakin bahwa ia feminin, jika lingkungannya sendiri tidakmenerimanya sebagai seorang yang feminin.Kedua, yaitu berdasarkan pengakuan ketiga informan yang menjelaskanbahwa teman-teman lelaki yang terdapat di dalam dan di luar lingkungan KampusTeknik Elektro ternyata memiliki perbedaan cara pandang mengenai sosokpenampilan perempuan. Jika kelompok laki-laki yang dalam lingkungan kampustersebut cenderung memandang identitas feminin kurang pantas dikenakan olehmahasiswinya, teman-teman lelaki di luar lingkungan itu justru menganggappenampilan feminin bukanlah merupakan sesuatu yang terlalu berlebihan bagiperempuan.Perbedaan cara pandang tersebut sebenarnya terbentuk dari penerimaan suatukelompok di setiap lingkungannya. Mahasiswi yang berada pada lingkungandominasi maskulin tentu akan merasakan kadar kedekatan dan pengaruh yang lebihkuat, daripada kelompok lain atau out-groups. Dari sesama anggota kelompoksendiri, tentunya akan menimbulkan suatu harapan atas pengakuan, kesetiaan, danpertolongan (Horton dan Hunt, 1996:220). Ini pula yang dijadikan suatu kesempatanbagi kelompok dominan untuk menaklukan minoritas.Hal unik yang terakhir (ketiga), mengenai kurangnya pemahaman mendalamseputar pelecehan seksual, yang mengakibatkan para informan tidak dapatmenyatakan bahwa dirinya telah mengalami pelecehan seksual. Hal ini serupa denganpernyataan Bourdieu dalam konsepnya ?misrecognition? yaitu yaitu sebuah ?bentukmelupakan? dari seseorang akan suatu hal. Korban tidak akan merasa bahwa dirinyaadalah seorang ?korban pelecehan seksual? yang telah diperlakukan sebagai makhlukinferior yang kerap mengalami penolakan atas keinginannya, dan memilikiketerbatasan dalam berekspresi. (Webb, Schiratto, dan Danaher, 2002:24-25).SimpulanPara mahasiswi yang menjadi subyek penelitian menyadari kedudukannya sebagaikelompok minoritas di lingkungan Teknik Elektro Undip. Mereka seakan berhasil?dikostumkan? dengan segala persepsi maskulin dari kelompok dominan. Dengandemikian, melalui hegemoni, perempuan dapat dengan mudah dipengaruhi dandibentuk oleh keinginan laki-laki.Jenis pelecehan seksual yang dialami kelompok minoritas, termasuk ke dalamkondisi hostile environment, yaitu perempuan sebagai korban sebenarnya telahmencapai titik pertentangan terhadap lingkungan kampusnya, sehingga sering kalimenimbulkan dampak ketidaknyamanan (psikologis) bagi perempuan, yaitu rasatakut, terpaksa, kehilangan rasa percaya diri, kecewa dan risih. Nilai-nilai maskulinyang dominan seakan ?mengurung? keinginan para mahasiswi untuk tampil lebihfeminin dengan berbagai berbagai tindakan yang cenderung mengarah pada verbalabuse, baik melalui ejekan-ejekan yang mengarah pada fisik perempuan dan beberapajulukan diskriminatif yang secara langsung ditujukan oleh mahasiswa laki-lakikepada mahasiswinya.Budaya patriarki telah melebur dibalik keadaan dominasi yang dialamiperempuan, sehingga sering tercipta suatu ?kebiasaan lelaki?. Laki-laki melakukannormalisasi pada tindakan-tindakan pelecehan seksual, sehingga perempuan secaratidak sadar menganggapnya sebagai perilaku normal sehari-hari, yang dilakukan paralelaki.DAFTAR PUSTAKAAndaryuni, Lilik. (2012). To Promote: Membaca Perkembangan Hak Asasi Manusiadi Indonesia (Editor: Eko Riyadi). Yogyakarta: PUSHAM UIIBasuki, Sulistyo. (2006). Metode Penelitian. Fakultas Ilmu Pengetahuan BudayaUniversitas Indonesia: Wedatama Widya SastraBourdieu, Pierre. (2010). Dominasi Maskulin. Yogyakarta: JalasutraBulaeng, Andi. (2004). Metode Komunikasi Kontemporer. Yogyakarta: AndiBungin, Burhan. (2003). Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofisdan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PTRajaGrafindo PersadaBungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif (Edisi Kedua): Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroupCarroll, Janell L. (2010). Sexuality Now: Embracing Diversity (Third Edition).Amerika: Wadsworth PublishingDenzin, Norman K. dan Lincoln, Yvonna S (Eds). (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka PelajarDenzin, Norman K. dan Lincoln, Yvonna S. (1994). Handbook of Qualitative Research. London : SAGE Publications Djajanegara, Soenarjati. (2000). Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka UtamaEvans, Patricia. (2010). The Verbally Abusive Relationship: How To Recognize It andHow To Respond. USA: Adams MediaFakih, Mansour. (2008). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:Pustaka Pelajar OffsetFetterman, D.M. (ed). (1988). Qualitative Approaches to Evaluation in Education.The Silent Scientific Revolution. New York : PraegerGriffin, Em. (2011). A First Look At Communication Theory: Eighth Edition. NewYork: McGraw-HillGriffin, Ricky W. and O?Leary-Kelly, Anne M. (2004). The Dark Side ofOrganizational Behavior. USA: Jossey-BassHall, Calvin S. and Lindzey, Gardner. (1993). Psikologi Kepribadian 3: Teori-Teoridan Sifat Behavioristik. Yogyakarta: KanisiusHamad, Ibnu. (2004). Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa: Sebuah StudiCritical Discourse Analysis Terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta: GranitHamidi. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Malang: UMM PressHasan, Abdul Fatah. (2007). Mengenal Falsafah Pendidikan. Selangor, Malaysia:Yeohprinco Sdn. BhdHill, Catherine and Silva, Elena. (2005). Drawing The Line: Sexual Harassment OnCampus. United States: AAUW Educational FoundationHollows, Joanne. (2010). Feminisme, Feminitas dan Budaya Populer (terj.Ismayasari, Bethari Anissa). Yogyakarta: JalasutraHorton, Paul B. and Hunt Chester L. (1996). Sosiologi: Jilid 1, Edisi Ke-enam (terj.Ram, Aminuddin & Sobari, Tita). Jakarta: Penerbit ErlanggaIrianto, Sulistyowati (Ed). 2006. Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum YangBerperspektif Kesetaraan dan Keadilan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia,anggota IKAPI DKI JayaLarkin, June. (1997). Sexual Harassment: High School Girls Speak Out. Canada:Second Story PressMoleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi. Bandung:PT Remaja RosdakaryaNazir, Mohammad. (1988). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia IndonesiaNeuman, Lawrence W. (1997). Social Research Methodes : Qualitative andQuantitative Approaches. MA : Allyn & BaconNoor, Ida Ruwaida dan Hidayana, Irwan M. (2012). Pencegahan dan PenangananPelecehan Seksual di Tempat Kerja: Panduan Bagi Para Pemberi Kerja.Jakarta: APINDOPaludi, Michele A. (Ed). (1990). Ivory Power: Sexual Harassment On Campus.Albany : State University of New York PressRachmat, Jalaludin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RosdakaryaRaco, J.R. (2010). Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik danKeunggulannya. Jakarta: GrasindoRatna, Nyoman Kutha. (2004). Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra.Yogyakarta: Pustaka PelajarRichmond, Marie dan Abott. (1992). Masculine & Feminine: Gender Roles Over TheLife Cycle: Second Edition. Great Britain: Methuen & Co. LtdSendjaja, Sasa Djuarsa, dan kawan-kawan. (1994). Teori Komunikasi. Jakarta:Universitas TerbukaSoekanto, Soerjono. (2012). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindoSukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Remaja Rosda Karya.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan & Perempuan. Jakarta: Penerbit Buku KompasSunaryo. (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Kedokteran EGCTong, Putnam. (2010). Feminist Thought:Pengantar Paling Komprehensif kepadaArus Utama Pemikiran Feminis (terj. Prabasmoro, Aquarini Prayitni).Yogyakarta: JalasutraUripni, Christina Lia, Untung Sujianto, Tatik Indrawati. (2002). KomunikasiKebidanan. Jakarta: Buku Kedokteran EGCWebb, Jen, Tony Schirato dan Geoff Danaher. (2002). Understanding Bourdieu.London: SAGE Publications LtdWest, Richard & Turner, Lynn H. (2007). Introducing Communication Theory:Analysis and Application. New York: McGraw-HillYin, Robert K. (2002). Studi Kasus: Desain & Metode. Jakarta: PT RajaGrafindoJurnal dan ArtikelIrianto, Jusuf. (2007). Perempuan Dalam Praktek Manajemen Sumber Daya Manusia.Artikel Media Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20 ? No. 4(Dalam http://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2156&med=15&bid=8, diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)Kinasih, Sri Endah. (2007). Perlindungan dan Penegakan HAM terhadap PelecehanSeksual. Artikel Media Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20? No. 4 (Dalam http://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2162&med=15&bid=8, diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)Laporan Independent NGO. (2007). Implementasi Konvensi Penghapusan SegalaBentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) di Indonesia (Dalamhttps://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CDAQFjAA&url=http%3A%2F%2Fcedaw-seasia.org%2Fdocs%2Findonesia%2FIndpt_Report_Bahasa_Laporan_CEDAW.pdf&ei=R_fxUZjZH4jXrQfH9IDoCw&usg=AFQjCNEe363XZ4_SgVAWk6VU8W8RWaV7Ng&sig2=5ZAYf48Zvzrfc6iqt9sXaQ, diakses pada tanggal 27 Mei 2013 pukul 20.00)Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas. (2011). ?Korban dan Kuasa? Di Dalam KajianKekerasan terhadap Perempuan. (online) Vol. 32 ? No. 2 (Dalamhttp://ejournal.undip.ac.id/ index.php/forum/article/view/3153, diakses padatanggal 03 Juli 2012 pukul 20.00 WIB)Suryandaru, Yayan Sakti. (2007). Pelecehan Seksual Melalui Media Massa. ArtikelMedia Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. (online) Vol. 20 ? No. 4 (Dalamhttp://journal.unair.ac.id/detail_jurnal.php?id=2157&med=15&bid=8,diakses pada tanggal 03 Juli 2012 pukul 19.00 WIB)SkripsiFarika, Ummi. (2009). Memahami Gaya Komunikasi Laki-Laki Dan PerempuanDalam KulturOrganisasi Berkeadilan Gender: Studi Kasus PergerakanMahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII). Skripsi. Universitas DiponegoroIsriyati. (2010). Studi Kasus: Kekerasan KomunikasiTerhadap Perempuan DalamRomantic Relationship. Skripsi. Universitas DiponegoroSoekmadewi, Rr. Mariza D. (2012). Perempuan Maskulin Dalam Sinetron (AnalisisResepsi Karakter Maskulin Tokoh Utama Perempuan Protagonis DalamSinetron ?Dewa?. Skripsi. Universitas DiponegoroUtama, Yossi Indria. (2005). Konstruksi Identitas Perempuan Marjinal. Skripsi.Universitas DiponegoroWulandari, Wiwit Asri. (2007). Konstruksi Majalah Hai. Skripsi. UniversitasDiponegoroInternetAdidharta, Syaifud. (2011). Wanita Indonesia Antara Kegelapan dan MasaDepannya. Dalam http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/17/wanita-indonesia-antara-kegelapan-dan-masa-depannya-356224.html. Diunduh padatanggal 25 Mei 2013 pukul 20.00 WIBAnonim. (2009). Dia Suka Pegang-Pegang Aku. Dalam http://remajadalamkliping.word press.com/2009/05/06/dia-suka-pegang-pegang-aku/. Diunduhpada tanggal 10 Juli 2012 pukul 20.00 WIBAnonim. (2009). Profil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Dalamhttp://www.ft.undip. ac.id/index.php/profil.html. Diunduh pada tanggal 06 Julipukul 20.30 WIBAnonim. (2010). Latar Belakang. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/keadilanperempuan/index.php?option=com_content&view=article&id=20&Itemid=108. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013 pukul 20.00 WIB. Hal. 01Anonim. (2010). Profil. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/2010/10/mekanisme-ham-nasional-bagi-perempuan-nasional-indonesia/. Diunduhpada tanggal 25 Mei 2013 pukul 20.30 pukul 21.00 WIBAnonim. (2010). Tabir Asap Kerusuhan Mei 1998 (1). Dalam http://sociopolitica.com/2010/05/13/tabir-asap-kerusuhan-mei-1998-1/. Diunduh padatanggal 25 Mei 2013 pukul 19.30 WIBAnonim. (2011). Perkembangan Feminisme Di Dunia. Dalam http://komahi.umy.ac.id/2011/05/perkembangan-feminisme-di-dunia.html. Diunduh pada tanggal 02Januari 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Biografi R.A Kartini Biodata, Profil Raden Ajeng Kartini Lengkap.Dalam http://www.erabaca.com/2012/03/biografi-ra-kartini-biodata-profil.html. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Gender-Based Violence In A Romantic Relationship. Dalamhttp://pasca.mercubuana.ac.id/newsumb.php?mode=baca&pct_ no=738&l=.Diunduh pada tanggal 05 Juli 2012 pukul 19.00 WIBAnonim. (2012). Guru Yang Melakukan Pelecehan Seksual Terhadap Murid. Dalamhttp://www.suatufakta.com/2012/06/guru-yang-melakukan-pelecehan-seksual.html. Diunduh pada tanggal 11 Juli 2012 pukul 20.30 WIBAnonim. (2012). Setiap Hari, 4 Perempuan Alami Kekerasan Seksual. Dalamhttp://www.gatra.com/hukum/31-hukum/9651-setiap-hari-4-perempuanalami-kekerasan-seksual#comments. Diunduh pada tanggal 05 Juli pukul19.30 WIBAnonim. (2013). Kekerasan Seksual Pada Mei 1998 Tak Boleh Disangkal. Dalamwww.pikiran-rakyat.com/node/235085. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013pukul 19.00 WIBAnonim. (2013). Segerakan Perbaikan Sistemik untuk Tangani Kekerasan Seksual.Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/2013/01/pernyataan-sikap-menanggapi-maraknya-kasus-kekerasan-seksual-dan-pernyataan-calon-hakimagung-yang-menyudutkan-perempuan-korban-perkosaan/. Diunduh padatanggal 03 Februari 2013 pukul 19.00 WIBAnonim. (2013). Visi, Misi dan Peran. Dalam http://www.komnasperempuan.or.id/about/visi/. Diunduh pada tanggal 25 Mei 2013 pukul 20.00Anonim. (Tanpa tahun). Pelecehan Seksual Di Tempat Kerja. Dalam http://www.gajimu.com/main/pekerjaan-yanglayak/pelecehan-seksual. Diunduh padatanggal 04 Juli 2012 pukul 21.00 WIBAyub. (2009). Wanita-pun Bisa Di Elektro. Dalam http://www.elektro.undip.ac.id/?p=285. Diunduh pada tanggal 06 Juli pukul 19.00 WIBBohman, James. (2005). ?Critical Theory?. In Edward N. Zalta (Ed.), The StanfordEncyclopedia of Philosophy. Spring 2005 Edition. Dalam http://plato.stanford.edu/archives/spr2005/entries/critical-theory. Diunduh pada tanggal03 September 2012 pukul 19.00 WIBHidayatullah. (2012). Banyak Wanita London Dilecehkan Di Jalan. Dalamhttp://www.al-khilafah.org/2012/05/banyak-wanita-london-dilecehkandi.html. Diunduh pada tanggal 05 Juli 2012 pukul 19.00 WIBIS. (Tanpa tahun). Setiap Hari, 4 Perempuan Alami Pelecehan Seksual. Dalamhttp://www.gatra.com/hukum/31-hukum/9651-setiap-hari-4-perempuanalami-kekerasan-seksual. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 20.00WIBLaluyan, Joe. (2009). Pelaku Pelecehan Seksual Dapat Dihukum?. Dalamhttp://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&id=733:pelakupelecehan-seksual-dapat-dihukum&Itemid=94. Diunduh pada tanggal 04 Juli2012 pukul 19.00 WIBMariana, Anna. (2011). Tak Ada Rotan, Akar Pun Jadi (Kisah Gedung InspektoratSukabumi. Dalam http://etnohistori.org/tak-ada-rotan-akar-pun-jadi-kisahgedung-inspektorat-sukabumi.html. Diunduh pada tanggal 30 Juni 2013 pukul19.00 WIBPriliawito, E. dan Mahaputra, Sandy A. (2010). Pembunuh 14 Anak Jalanan HadapiTuntutan. Dalam http://metro.news.viva.co.id/%20news/read/179756-pembunuh-14-anak-jalanan-hadapi-tuntutan. Diunduh pada tanggal 11 juli 2012pukul 19.30 WIBPriliawito, Eko. (2009). Menolak Dilecehkan, Mata Kuliah Diulang 5 Kali. Dalamhttp://metro.news.viva.co.id/news/read/51030-menolak_dilecehkan_mata_kuliah_diulang_5_kali. Diunduh pada tanggal 12 Juli pukul 19.00 WIBPutra, Rama Narada. (2012). Ditegur KPI, Raffi Ahmad Menyesal. Dalamhttp://jogja.okezone.com/read/2012/06/27/33/654407/ditegur-kpi-raffiahmad-menyesal. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 19.00 WIBPutro, Suwarno. (2013). Riwayat Singkat Pahlawan Nasional. Dalam http://smpn3kebumen.sch.id/berita-224-riwayat-singkat-pahlawan-nasional-radenadjeng-kartini.html. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013 pukul 19.30 WIBRadius, Dwi B. (2012). Pelecehan Seks 10 Murid, Kepala Sekolah Ditahan. Dalamhttp://regional.kompas.com/read/2012/04/27/16175534/Pelecehan.Seks.10.Murid..Kepala.Sekolah.Ditahan. Diunduh pada tanggal 10 Juli 2012 pukul21.00 WIBRahadi, Fernan. (2013). Anak-anak Jadi Korban Pemerkosaan di AS. Dalamhttp://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/01/10/mge55y-anakanak-jadi-korban-pemerkosaan-di-as. Diunduh pada tanggal 26 Mei 2013pukul 20.00 WIBWahid, Muhammad N. (Tanpa tahun). Pelajar Ditelanjangi Di Dalam Kelas. Dalamhttp://www.indosiar.com/patroli/pelajar-ditelanjangi-didalam-kelas_78555.html. Diunduh pada tanggal 10 Juli pukul 20.00 WIBWidyarini, M.M. Nilam. (2011). Kekerasan Seksual, Mereka Mungkin SalingMengenal. Dalam http://www.henlia.com/2011/03/kekerasan-seksual-merekamungkin-saling-mengenal/. Diunduh pada tanggal 04 Juli 2012 pukul 19.00WIBWirakusuma, K. Yudha. (2011). Naik D 02 Malam Hari, Cewek Harus NyamarJadi Cowok. Dalam http://news.okezone.com/read/2011/09/18/338/504005/naik-d-02-malam-hari-cewek-harus-nyamar-jadi-cowok. Diunduh padatanggal 10 Juli 2012 pukul 20.00 WIBYuwono, Markus dan Trijaya. (2011). Dilecehkan Sesama Jenis Wanita Ini LaporPolisi. Dalam http://autos.okezone.com/read/2011/07/05/340/476201/dilecehkan-sesama-jenis-wanita-ini-lapor-polisi. Diunduh pada tanggal 11 Juli 2012pukul 19.30 WIB
OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM MAJALAH PRIA DEWASA (ANALISIS SEMOIOTIKA FOTO PADA MAJALAH FOR HIM MAGAZINE INDONESIA) Putri, Annisa Arum; Sunarto, Sunarto; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN DALAM MAJALAH PRIA DEWASA (Analisis Semoiotika Foto pada Majalah For Him Magazine Indonesia)Annisa Arum Putri1ABSTRAKSIMajalah merupakan media massa yang kini hadir sesuai dengan segmentasi pembacanya. Salah satunya adalah ?For Him Magazine? (FHM) Indonesia, yang merupakan majalah dengan segmentasi pembaca pria dewasa. FHM Indonesia pada setiap edisinya menampilkan foto-foto perempuan dengan menonjolkan sisi sensualitasnya. Jika dicermati secara kritis, perempuan dalam majalah ini dijadikan objek. Lantas bagaimana bentuk-bentuk objektivikasi perempuan dalam majalah ini dan apa ideologi yang tersembunyi yang melatarbelakanginya?Penelitian ini bertujuan untuk melihat posisi perempuan sebagai objek dalam majalah FHM Indonesia melalui foto-foto perempuan yang terdapat di dalamnya dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakanginya. Teori yang digunakan adalah teori standpoint dan teori feminis radikal kultural. Metode yang digunakaan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika Roland Barthes, yaitu dengan analisis leksia dan lima kode pembacaan.Temuan dalam penelitian ini adalah pada majalah FHM Indonesia terdapat dualitas objektivikasi seksual perempuan. Pertama, perempuan dijadikan ?objek santapan? atau komodifikasi seksual yakni perempuan dan nilai seksualitasnya dijadikan komoditas yang dijual pada pembaca majalah ini. Kedua, perempuan dijadikan ?objek tatapan? atau objek hasrat seksual laki-laki pembaca majalah ini. Objektivikasi perempuan dalam majalah ini dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki, dimana laki-laki memiliki posisi yang lebih berkuasa sehingga dapat melakukan kontrol seksualitas pada perempuan. Praktik objektivikasi perempuan agaknya disadari oleh masyarakat, namun praktik ini masih dianggap alami dan seolah dibiarkan saja.Kata kunci : majalah pria dewasa, objektivikasi, perempuan,1 Penulis merupakan mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoroannisaarumputri@gmail.comOBJECTIFICATION OF WOMEN IN MEN'S MAGAZINES (Semiotic Analysis Photos on the For Him Magazine Indonesia)Annisa Arum PutriABSTRACTMagazine was one of the mass media that present in accordance with the intended audience segmentation. One of them was For Him Magazine (FHM) Indonesia, which was the magazine with the adult male readership segmentation. FHM Indonesia, on each publication, features pictures of women with accentuated their sensuality side. In critically observed, women in this magazine became an object. Hence, what were the manifestations of women objectification in this magazine and what were the hidden dominant ideology that exist in this situation?The purpose of this study was to see the position of women as objects in FHM Indonesia through photographs of women contained in it and explain the background ideology of it. This study used standpoint theory and radical cultural feminist theory. The method in this study was semiotic analysis by Roland Barthes, include the lexias analysis and five major codes.The results of this research was there was duality of sexual objectification of women on FHM magazine Indonesia. First, commodification of women and their sensuality. The women became commodity which was sold on readers. Second, the women became object of sexual desire male readers of this magazine. Objectification of women in the FHM Indonesia distributed by patriarchal ideology, where men had a more powerful position, so they can control women including their sexuality. The practice of objectification of women presumably realized by the public, but the practice was still considered to be natural and seemed to be left alone.Key words: men?s magazine, objectification, women1. PendahuluanKonten majalah hadir mengikuti segmentasi pembacanya. Demikian pula dengan majalah For Him Magazine (FHM) Indonesia yang menjadi fokus bahasan penelitian ini. Konten majalah ini mengikuti segmentasi pembaca pria dewasa, yakni seputar gadget, gaya hidup, pengetahuan, karier, seks, dan perempuan. Namun, di dalamnya, FHM Indonesia menampilkan foto-foto perempuan berbusana minim dan artikel-artikel yang menngarah pada sensualitas dari perempuan.Perempuan dalam majalah ini adalah komoditas yang disajikan bagi pembacanya yang merupakan laki-laki dewasa berusia 21 tahun ke atas. Foto-foto perempuan berbusana minim merupakan bagian dari objektivikasi perempuan. Objektivikasi terjadi ketika seseorang melalui sarana-sarana sosial direndahkan derajatnya, dijadikan benda atau komoditas, dibeli atau dijual (Syarifah, 2006: 153).Laki-laki menonton perempuan dan perempuan disajikan sedemikian rupa untuk kesenangan laki-laki. Hal ini mengindikasikan bahwa wanita adalah pihak inferioritas sedangkan pria ada di posisi superior. Kondisi ini berbenturan dengan apa yang tertuang dalam pasal 5 (a) UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita disebutkan: ?Negara-negara peserta wajib melakukan langkah-tindak yang tepat untuk mengubah pola tingkah laku sosial budaya pria dan wanita dengan maksud untuk mencapai penghapusan-penghapusan prasangka dan kebiasaan dan segala praktek lainnya yang berdasarkan atas inferioritas atau superioritas salah satu jenis kelamin atau berdasar peranan stereotip bagi pria dan wanita?. Secara garis besar, penelitian ini bertujuanuntuk melihat posisi perempuan sebagai objek dalam majalah ini dan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakanginya.2. MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif serta menggunakan metode analisis semiotika milik Roland Barthes, yakni analisis sintagmatik melalui analisis leksia dan analisis paradigmatik melalui lima kode pembacaan. Lima kode pembacaan tersebut adalah kode hermeneutika, kode proairetik, kode simbolik, kode kultural, dan kode semik. Unit analisis dalam penelitian ini adalah: FHM Indonesia Mei 2011 halaman 44 dan 46, FHM Indonesia April 2011 halaman 46 dan 42, dan foto dengan subjek bernama Sitha Destya pada FHM Indonesia Januari 2012.3. Hasil Penelitian3.1 Analisis SintagmatikBerdasarkan analisis yang telah dilakukan, semua unit analisis menggunakan konsep glamour photography, yang menurut Pegram (2008: 90-93) adalah konsep fotografi yang memfokuskan pada keindahan tubuh subjek. Sehingga dapat disimpulkan bahwa foto-foto yang terdapat pada majalah FHM Indonesia di berbagai edisi memiliki fokus untuk menonjolkan keindahan tubuh subjek semata.3.2 Analisis Paradigmatik: Adanya Objektivikasi Perempuan dalam Majalah FHM Indonesia3.2.1 Kode HermeneutikaKode hermeneutika pertama dari teknik pengambilan gambar. Berdasarkan teknik pengambilan gambar yang digunakan dapat memperlihatkan detail subjek sepertilekukan tubuh subjek, detail kostum subjek, ekspresi subjek, dan setting foto.Kode hermeneutika kedua yang muncul selanjutnya adalah pose subjek. Gestur-gestur yang ditampilkan oleh subjek dalam majalah ini banyak diantaranya yang tergolong dalam isyarat-isyarat yang menggoda laki-laki. Kemudian dari aspek kostum, subjek pada kelima unit analisis dalam penelitian ini semuanya diarahkan untuk menggunakan kostum tertentu oleh majalah ini. Hal ini terlihat dari keterangan foto yang menyebutkan bahwa terdapat pengarah kostum dalam foto ini. Selanjutnya, kostum yang banyak digunakan adalah bra. Kemudian asesoris yang sering ditemukan adalah sepatu hak tinggi.Menurut Danesi (2012: 216), dalam representasi seksual pakaian memainkan peranan sentral dalam menekankan seksualitas. Sehingga disini bra dan celana dalam yang dikenakan subjek dapat dipahami sebagai penegasan seksualitas perempuan yang dapat merangsang laki-laki secara visual. Secara keseluruhan, perempuan pada unit-unit analisis di atas digambarkan sebagai sosok yang sensual dan berusaha mengundang gairah pembaca.3.2.2 Kode ProairetikHasil dari analisis kode proairetik menyebutkan bahwa pada foto-foto kelima unit analisis penelitian ini, terdapat 3 jenis implikasi yang tidak berpihak pada perempuan yang berada di dalamnyaImplikasi pertama yang muncul adalah eksploitasi bagian tubuh subjek dan kualitas fisik subjek. Kemudian implikasi kedua dari tindakan-tindakan pada kelima unit analisis ini adalah merupakan lanjutan dari implikasi pertama, dimana eksploitasi tubuh subjek dapat berlanjut pada memunculkan fantasi erotis bagi laki-laki ataumemberikan rangsangan secara visual bagi laki-laki.Implikasi ketiga yang kemudian berkaitan dengan perempuan dalam foto ini adalah ia dapat dipersepsikan sebagai perempuan ?tidak baik?. Menunjukkan hasrat seksual atau bahkan pengalaman seksual ini berarti menjebloskan diri perempuan itu sendiri ke dalam kategori ?perempuan jalang?. (Prabasmoro, 2006:53).3.2.3 Kode SimbolikKesimpulan dari kode simbolik yang ditelaah dalam kelima unit analisis di atas adalah terdapat simbol-simbol yang menyatakan bahwa perempuan adalah objek seksual bagi pembaca laki-laki majalah FHM Indonesia.Pada akhirnya, simbol-simbol perempuan yang ada merujuk kepada suatu simbol dominan yaitu simbol dominasi laki-laki. Perempuan ini diarahkan oleh majalah ini untuk menarik di mata laki-laki dan merangsang secara visual bagi laki-laki. Kostum seksi yang digunakan, pose yang merangsang hasrat seksual, kemudian bagian-bagian tubuh subjek yang ditonjolkan, kesemuanya itu diarahkan mengikuti selera atau kesukaan laki-laki.3.2.4 Kode KulturalSetelah menganalisis kode kultural dari masing-masing unit analisis dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa lima foto yang diambil dalam majalah FHM Indonesia tidak mencerminkan kultur Indonesia. Kesimpulan ini didasarkan pada dua aspek yang dianggap mampu mengarahkan peneliti pada kode kultural tersembunyi, yakni kostum subjek dan pose subjek.Kostum subjek secara eksplisit dapat dikatakan terbuka atau memamerkan bagian-bagian tubuh tertentu dan menonjolkan keindahannya. Keadaan ini tentu tidaksesuai dengan kultur masyarakat Indonesia dimana dijelaskan Hidayana (2013: 60) dalam Jurnal Perempuan No.77 bahwa perempuan yang berpakaian mengumbar aurat, terbuka, dan seksi dapat diberi label perempuan ?tidak baik?. Dengan begitu, subjek sebagai perempuan Indonesia yang tampak mengenakan pakaian yang ?terbuka? dapat dianggap sebagai ?perempuan tidak baik?.Tidak hanya itu, perempuan dalam kelima unit analisis ini terlihat mengekspresikan seksualitasnya melalui beberapa bentuk gestur dan ekspresi yang diterjemahkan menjadi isyarat-isyarat merangsang laki-laki. Keadaan ini bertolak belakang dengan kultur masyarakat Indonesia. Perempuan dituntut untuk membendung dan mengontrol hasrat seksualnya. Setiap gerak tubuh perempuan seperti kerling mata, senyuman, cara duduk, dan lainnya selalu diawasi dengan ketat (Hidayana, 2013: 61).Perempuan yang menjadi subjek foto memang perempuan Indonesia, namun bagaimana majalah ini merepresentasikannya jelas bukan menggunakan kultur Indonesia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perempuan Indonesia pada majalah waralaba asal Britania Raya ini dikontruksi menggunakan kultur barat.3.2.5 Kode SemikSetelah melakukan analisis pada kelima foto yang menjadi unit analisis penelitian ini, penulis melihat bahwa perempuan yang menjadi subjek foto dalam majalah FHM Indonesia digambarkan sebagai objek seksual bagi pembacanya yang merupakan laki-laki. Dengan begitu FHM Indonesia turut melanggengkan mitos bahwa perempuan adalah objek seksual bagi laki-laki.Pada saat pembaca laki-laki melihat foto-foto ini maka terjadi sebuah alur yakni: memandang foto secara keseluruhan, mengidentifikasi aspek-aspek yang ada dalam foto, memandang bagian-bagian tubuh subjek sekaligus nilai-nilai sensualitasnya (berupa kualitas fisik, pose, dan lainnya), kemudian terjadi stimulasi seksual. Dengan begitu, terciptalah suatu konsep dimana perempuan dalam majalah ini adalah objek ?tatapan? laki-laki dan laki-laki adalah subjek atau pelaku ?tatapan?. Konsep ini meminjam konsep Laura Mulvey, bahwa perempuan dipajang sebagai objek seksual yang berfungsi secara simultan bagi khalayak laki-laki yang dapat memperoleh kepuasan scopophilis dari kehadiran mereka.4. PembahasanGambaran perempuan dalam foto-foto yang ada pada majalah FHM Indonesia ini merupakan perwujudan dari objektivikasi perempuan. Terkait dengan objektivikasi, Star menguraikannya sebagai berikut:Objektivikasi adalah analisis yang digunakan untuk menjelaskan perlakuan-perlakuan terhadap perempuan (seringkali citra perempuan) yang mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subjek manusia seutuhnya. Gagasan yang berhubungan dengan objektivikasi antara lain: tatapan (gaze), stereotip, komodifikasi, tontonan (spectatorship), dan pembelajaran peran-peran gender (Sunarto, 2009:163).Pada lima foto yang dianalisis terdapat indikasi adanya dualitas objektivikasi perempuan, dimana perempuan dijadikan ?santapan? dan ?tatapan? pada majalah FHM Indonesia. ?Santapan? disini merujuk pada posisi perempuan sebagai objek komodifikasi yang dijual oleh FHM Indonesia kepada pembaca laki-laki. Kemudian ?tatapan? yang merujuk pada posisi perempuan sebagai objek seksual bagi pembaca laki-laki.Pada tahapan pertama, perempuan dalam majalah ini dijadikan sebagai ?objek santapan?, dimana perempuan dijadikan komoditas yang dijual kepada para pembaca. Hal ini merupakan perwujudan dari gagasan dalam objektivikasi yang diutarakan diatas, yakni komodifikasi perempuan. Majalah FHM Indonesia adalah majalah dengan segmentasi pembaca utama laki-laki dewasa atau berusia 21 ke atas, atau yang dikenal sebagai ?majalah pria dewasa?.Kemudian berbicara mengenai motif media dengan tema seperti ini. Hal ini pernah dideskripsikan Yasraf Amir Pilliang bahwa penggunaan unsur seks dan sensualitas di dalam berbagai media akibat diterapkannya prinsip ?Libidinal Economy? atau merangsang hasrat setiap konsumen melalui strategi sensual komoditas (Syarifah, 2006: 7). Perempuan merupakan hal yang disukai laki-laki, majalah pria dewasa kemudian mengusung tema sensualitas untuk meraup lebih banyak keuntungan dari pembaca laki-laki yang menghasrati perempuan sensual.Kedua, perempuan dalam majalah ini dijadikan sebagai ?objek tatapan? yang merujuk pada posisi perempuan sebagai objek hasrat seksual bagi pembaca laki-laki. Subjek pada foto-foto ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan kesenangan pandang laki-laki, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Dengan begitu hal ini sesuai dengan gagasan objektivikasi yakni: tatapan (gaze). dimana perempuan adalah objek ?tatapan? laki-laki dan laki-laki adalah subjek atau pelaku ?tatapan?.Namun terdapat temuan yang menarik disini. perempuan dalam kelima foto ini juga terlihat secara aktif mengekspresikan seksualitasnya dalam berpose. Penulismenyimpulkan bahwa perempuan dalam foto ini merupakan objek seksual aktif, yang berarti suatu kondisi dimana perempuan dalam majalah ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan male gaze, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Namun ia sendiri tidak bersifat pasif, melainkan memiliki keterlibatan aktif dimana ia terlihat secara sadar melakukan pose-pose yang kerap disebut ?pose syur?.Terdapat suatu pola dimana semua berpusat pada pembaca laki-laki, termasuk pendefinisian seksualitas perempuan yang ada dalam majalah ini. Prabasmoro (2006: 293) menyebutnya dengan pemusatan seksualitas pada seksualitas laki-laki menyebabkan seksualitas perempua dimaknai dan ditandai sebagai sesuatu untuk seksualitas laki-laki .Laki-laki terkesan superior dan perempuan sebagai pihak dibawahnya. Hal ini yang kemudian sejalan dengan konsep penting teori standpoint, bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang bergantung pada konteks dan keadaan tertentu dimana perbedaan lokasi dalam kedudukan sosial akan menghasilkan standpoint yang berbeda, tergantung dari pengalaman masing-masing.Melalui posisi superior, laki-laki dapat melanggengkan kekuasaannya atas seksualitas perempuan. Salah satu bentuk kontrol laki-laki dalam seksualitas perempuan adalah objektivikasi seksual, yaitu perlakuan-perlakuan yang mereduksi kaum perempuan menjadi pasif dan objek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subjek manusia seutuhnya (Sunarto, 2009:163). Namun perempuan yang berada di posisi marjinal hanya bisa mengikutisudut pandang bentukan laki-laki bahkan terlibat aktif agar biasa diterima di lingkungan sosial. Feminis radikal kultural memandang bahwa objektivikasi seksual dimana laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek merupakan suatu bentuk opresi seksualitas.Objektivikasi perempuan dalam majalah FHM Indonesia terjadi karena adanya ideologi besar yang tersembunyi di dalamnya, yakni patriarki yang dianut oleh majalah ini dan masyarakat pada umumnya. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan.Patriarkisme menurut Bhasin (dalam Sunarto, 2009: 38), merupakan suatu pandangan yang menempatkan kaum laki-laki lebih berkuasa dibanding kaum perempuan. Pada penerapannya, seperti yang dijelaskan Soemandoyo (1999: 63) posisi laki-laki yang lebih dominan, lebih menentukan. Sedangkan posisi perempuan yang sub-ordinat, dalam beberapa hal, ditentukan dan dikuasai oleh laki-laki. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan. Keberadaan perempuan dalam masyarakat dilihat dari perspektif laki-laki.5. Penutup5.1 SimpulanPada majalah FHM Indonesia terdapat dualitas objektivikasi perempuan. Objektivikasi perempuan yang terjadi dalam majalah FHM Indonesia terdiri dari 2 poin. Pada tahapan pertama, perempuan dalam majalah ini dijadikan ?objek santapan? atau komoditas yang dijual kepada para pembaca. Ini merupakan perwujudan dari salah satu gagasan dalam objektivikasi, yakni komodifikasi seksual perempuan. Majalah ini mengusung tema sensualitas perempuan untuk meraup keuntungan daripembaca laki-laki. Kedua, perempuan dalam majalah ini dijadikan ?objek tatapan? atau objek hasrat seksual bagi pembaca laki-laki. Perempuan pada foto-foto ini dikonstruksi sedemikian rupa agar sesuai dengan kesenangan pandang laki-laki, kemudian ia diharapkan dapat memberikan kepuasan seksual bagi laki-laki dengan cara melambungkan fantasi-fantasi erotis setelah melihat foto-foto ini. Dengan begitu hal ini sesuai dengan gagasan objektivikasi yakni: tatapan (gaze).Objektivikasi perempuan berkaitan dengan struktur yang tanpa disadari telah lama tertanam di masyarakat yakni dominasi laki-laki. Sistem patriarki yang ada dalam masyarakat menentukan nilai-nilai terhadap perempuan. Keberadaan perempuan dalam masyarakat dilihat dari perspektif laki-laki.5.2 RekomendasiSecara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan atau refrensi bagi peneliti-peneliti lainnya untuk dilakukannya penelitian yang lebih lanjut, detail dan komprehensif tentang objektivikasi perempuan. Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi pemahaman bagi para praktisi industri media massa, mengenai ketimpangan relasi gender yang terjadi melalui penggambaran perempuan dalam media massa khususnya majalah. Para praktisi diharapkan dapat memperhatikan kepentingan kaum perempuan agar dapat melakukan pemberitaan atau penggambaran yang layak dan berimbang mengenai perempuan. Dengan demikian, tidak semakin mengecilkan posisi perempuan dalam struktur masyarakat.Secara sosial, penelitian ini berusaha mengungkap objektivikasi yang dialami perempuan dalam masyarakat sebagai implikasi dari ideologi dominan patriarki. Khalayak diharapkan dapat berpikir kritis dan terus mempertanyakan ketimpanganyang terjadi pada perempuan, sebagai berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam masyarakat. Sehingga terwujudnya masyarakat yang berkeadilan gender.6. Daftar RujukanSumber Buku:Barthes, Roland. (2010). Imaji, Musik, dan Teks. Yogyakarta: Jalasutra.Brooks, Ann. (2011). Posfeminisme & Cultural Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: JalasutraBudiman, Kris. (2011). Semiotika Visual: Konsep, Isi, dan Problem Ikonitas. Yogyakarta: Jalasutra.Danesi, Marcel. (2012). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Ibrahim, Idi Subandy, (2011), Kritik Budaya Komunikasi, Yogyakarta: Jalasutra.Kurniawan, Heru. (2009). Sastra Anak: dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha IlmuPegram, Billy. (2008). Posing Techniques: For Photographing Model Portfolios. New York: Amherst Media.Prabasmoro, Aquarini Priyatna. (2006). Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra dan Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.Soemandoyo, Priyo. (1999). Wacana Gender dan Layar Televisi: Studi Perempuan dalam Pemberitaan Televisi Swasta, Jakarta, Yayasan Galang.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan dan Perempuan. Jakarta: KompasSyarifah. (2006). Kebertubuhan Perempuan dalam Pornografi. Jakarta: Yayasan Kota Kita.Sumber JurnalApsari, Diani. (2010). ?Visualisasi Wanita Indonesia dalam Majalah Pria Dewasa?. Wimba Jurnal Komunikasi Visual dan Multimedia Vol. 2 No. 1: hal 65-79.Hidayana, Irwan. M. (2013, Mei). ?Budaya Seksual dan Dominasi Laki-Laki dalam Perikehidupan Seksual Perempuan?. Jurnal Perempuan Edisi 77 Vol.18. No.2: hal 57-67.Muhammad, Husein. (2013, Mei). ?Bukan Soal Tubuh tetapi Ruh?. Jurnal Perempuan Edisi 77 Vol.18. No.2: hal 103-115.
ANALISIS RESEPSI TERHADAP PEMBERITAAN PENANGKAPAN KASUS NARKOBA RAFFI AHMAD PADA TABLOID CEMPAKA Prabawani, Neazar Astina; Sunarto, Sunarto; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ANALISIS RESEPSI KHALAYAK TERHADAP PEMBERITAANPENANGKAPAN KASUS NARKOBA RAFFI AHMAD PADA TABLOIDCEMPAKAAbstrakRamainya pemberitaan terhadap kasus penangkapan artis Raffi Ahmad terkaitnarkoba ini telah dimuat di berbagai media yang menjadi santapan publik sehinggamenimbulkan berbagai opini dalam masyarakat. Dalam pengemasaannya pemberitaaninfotainment sering mengalami kekeliruan diantaranya mengandung gosip, tidakbersifat edukatif, mengangkat berita sensasional, mendramatisir serta tidak berimbangsehingga melanggar etika dan aturan jurnalistik. Hal ini berpotensi memunculkanprosesgatekeeping pada masyarakat pada saat menerima informasi. Baik informasiyangbaik atau yang buruk dari pesohor idolanya.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna sebagaimana dimaksud olehmedia dan interpretasi khalayak terhadap pemberitaan penangkapan kasus narkobaRaffi Ahmad oleh BNN pada tabloid Cempaka. Tipe penelitian adalah kualitatifdengan pendekatan analisis resepsi, khalayak dipandang sebagai produser maknatidak hanya manjadi konsumen isi media. Penelitian ini menggunakan modelencoding-decoding Stuart Hall. Interpretasi khalayak terbagi dalam tiga posisipemaknaan yaitu Dominant Reading. Negotiated Reading, dan Oppositional Reading.Hasil penelitian menunjukkan bahwa khalayak aktif dalammenginterpretasikan berita infotainment dalam tabloid cempaka yangditerimanya.Informan tidak menerima begitu saja informasi yang disajikan dalamtabloid Cempaka sehingga pemaknaan informan cenderung termasuk dalam posisinegotiated reading. Dalam proses konsumsi dan produksi makna terhadappemberitaan kasus narkoba selebritis, perbedaan latar belakang, tingkat pendidikandan pekerjaan informan menjadi faktor yang penting yang membedakan pemaknaanmereka.Key Words : infotainment; selebritis; interpretasi;, resepsi.PUBLIC PERCEPTION ANALYSIS ON THE REPORTING OF RAFFIAHMAD DRUG ARRESTED IN CEMPAKA TABLOIDAbstractHectical news reports on the arrest of Raffi Ahmad, related to drugs in variousmass media consumed by the public, various public opinions arose. The format ofinfotainment reports often makes mistakes, such as containing gossips, being noteducational, reporting sensational news, dramatizing, as well as unfair, so they violatejournalistic ethics and regulations. This could potentially causes gatekeeping processin the public when receiving information, whether good or bad information of theircelebrity idols.This study was aimed to study the meaning as intended by the media andpublic?s interpretation on the reports of the drug arrest of Raffi Ahmad by BNN inCempakatabloid. The type of the study was qualitative using reception analysisapproach, the public was viewed as meaning producers, not only consumers of mediacontents. This study used Stuart Hall?sencoding-decoding model. Public?sinterpretation was divided into three meaning positions, i.e. Dominant Reading,Negotiated Reading, and Oppositional Reading.Study result showed that the public was active in interpretinginfotainmentnews in Cempaka tabloid.Informants didn?t just accept informationpresented in Cempaka tabloid so that informants meaning tended to be in negotiatedreading position. In the process of consuming and producing meanings on the reportsof celebrity drug cases difference in informants backgrounds, education levels, andoccupations became significant factors which differentiated their meanings.Key Words : infotainment; celebrity; interpretation;, reception.PENDAHULUANPublik selalu tertarik dengan aktivitas selebritis, adanya informasi media yangsenantiasa mengangkat aktivitas selebritis, selalu dinanti oleh masyarakat, terutamaberita terbaru mengenai aktivitas selebritis. Jika publik kemudian mengetahui adaaktivitas selebritis yang memakai jenis narkoba baru, atau narkoba yang lama tapibaru dikenal, dalam satu kasus penangkapan selebritis, maka publik langsungmengarahkan spot light nya ke kasus selebritis ini.Media mempengaruhi pandangan masyarakat dalam proses pembentukanopini atau sudut pandangnya. Media massa memang memiliki pengaruh yang sangatbesar dalam pembentukan opini publik sehingga dalam hal ini informasi yangdiberikan dapat mempengaruhi keadaan komunikasi sosial pada masyarakat. Olehkarena itu dari berbagai pemberitaan di media massa mengenai kasus penangkapanRaffi Ahmad ini menimbulkan berbagi opini dari masyarakat.Setiap khalayak akan memiliki pandangan dan interpretasi yang berbedaterhadap suatu pemberitaan dalam suatu media termasuk dalam menginterpretasikankasus selebritis pengguna narkoba. Perbedaan ini dipengaruhi oleh pengalamanpribadi masing-masing. Media menawarkan suat pemaknaan (preferred reading).Namun hal itu ternyata tidak begitu saja mempengaruhi informan dalam memaknaipemberitaan tersebut. Informan memaknainya berdasarkan pengalaman merekamasing-masing. Ini sesuai dengan pernyataan Stuart Hall dalam John Fiske (2004 :156) bahwa setiap teks yang sama akan menghasilkan makna yang berbedatergantung latar sosial pembacanya. Ini bisa dilihat dari tema-tema pemaknaan yangdisampaikan oleh informan. Dalam konteks ini, informan melakukan pembacaanterhadap pemberitaan kasus narkoba oleh artis Raffi Ahmad dengan cara masingmasingyang berbeda satu sama lain sehingga memunculkan pemaknaan yangberbeda pula sesuai dengan latar belakang serta pengalaman mereka. Pemaknaantersebut terbagi menjadi tiga pemaknaan menurut Stuart Hall. Hal ini sekaligus dapatmenjawab tujuan penelitian yang ingin memahami keberagaman resepsi khalayakdengan berbagai interpretasi serta pemaknaannya terhadap konstruksi media ataspemberitaan penangkapan kasus narkoba Raffi Ahmad yang ditampilkan oleh media.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif. Penelitian kualitatifmerupakan penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalamdalamnyamelalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Pendekatan yangdigunakkan dalam penelitian ini yaitu analisis resepsi.Pendekatan analisis resepsi memberi kesempatan bagi audiens untuk lebihkritis terhadap pesan yang disampaikan dalam suatu pemberitaan. Penerimaanpemirsa tentang pemberitaan penangkapan kasus narkoba Raffi Ahmad akan berbedasatu sama lain, sehingga ada kemungkinan munculnya makna baru dari pemberitaankasus tersebut.Secara operasional, dalam penelitian ini berusaha untuk memahamipenerimaan audiens tentang pemberitaan kasus penagkapan Raffi Ahamad. Pemirsayang aktif akan dapat mengkritisi dan mengeksploitasi pemberitaan penangkapanartis Raffi Ahmad. Masyarakat sebagai konsumen dari isi media sekaligus sebagaiproducer of meaning akan memaknai tayangan ini secara berbeda, karena teks yangsama mungkin bermakna berbeda pada audiens yang berbeda.Terkait dengan isi, infotainment sekarang merupakan tayangan yangmenyajikan berita-berita dunia hiburan, para selebriti dan orang-orang terkenal ditanah air. Berita infotainment saat ini tidak jauh dari unsur sensasi, dalam penelitianini ditemukan 3 unsur berita sensasi yaitu dramatisasi, gosip dan tidak seimbang(cover both side).Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan memaknai secara berbeda,meskipun referensi media informan sama, yaitu tabloid Cempaka. Seluruh informantermasuk dalam kategori audiens aktif karena semua informan mengetahui dan dapatmenjelaskan mengenai pemberitaan penangkapan kasus narkoba Raffi Ahmad olehBNN. Informan menanggapi pemberitaan tersebut dengan berbeda antara informansatu dengan yang lainnya. Dari ketiga informan, dua diantaranya termasuk dalamnegotiated reading. Hal ini memperlihatkan bahwa sesungguhnya makna teks tidakbersifat tetap dan tunggal melainkan bisa ditafsirkan secara berbeda-beda olehkhalayak. Informan memaknai teks pemberitaan berdasarkan pengalaman danstruktur pengetahuan yang dimiliki.DAFTAR PUSTAKAAmir Piliang, Yasraf. (2003). Hipersemiotika Tafsir Cultural Studies AtasMatinya Makna. Yogyakarta : Jalasutra.Baudrillard, Jean. (2004). Masyarakat Konsumsi. Yogyakarta: KreasiWacana.Bungin, Burhan. (2003). Metodologi Penelitian Kualitatif AktualisasiMetodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.Barker, Chris. (2005). Cultural Studies: Teori dan Praktek. Yogyakarta:Bentang Pustaka.Denzin, Norman K. & Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of QualitativeResearch. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Downing, John. (1990). Questioning The Media: A Critical Introduction.USA, New Burry Park California: SAGE Publication.Eriyanto. (2002). Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media.Yogyakarta: LKiS.Fiske, John. (2011). Cultural and Communication Studies. Yogyakarta:Jalasutra.Junaedhi, Kurniawan. (1991). Ensiklopedia Pers Indonesia. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka UtamaKriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta:Kencana.Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama Kusumaningrat. (2006). Jurnalistik:Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya.Littlejohn, Stephen. (2009). Teori Komunikasi (Theories of HumanCommunication). Salemba Humanika. Jakarta.McQuail, Dennis. (2002). Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar.Jakarta: PT. ErlanggaMoleong, Lexy J. (2007) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung, RemajaRosdakarya.Morissan. (2013). Teori Komunikasi Individu Hingga Massa. Jakarta:Kencana Prenada Media Group.Richard West, Lynn H.Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisisdan Aplikasi (Buku2) (Edisi 3) Jakarta: Salemba Humanika.Sobur, Alex. (2001). Analisis Teks Media. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Sobur, Alex. (2006). Psikologi Umum. 2006. Bandung: Pusataka Setia.Syahputra, Iswandi. (2006). Jurnalistik Infotainment, Kancah Baru Jurnalistikdalam Industri Televisi, Jakarta: Pilar Media.Tubbs, Strewart L., dan Sylvia Moss. (1996). Human CommunicationPrinsip-Prinsip Dasar. Bandung: Rosda Karya.Rayner Philip, Petter Wall, dan Stephen Kruger. (2004). Media Studies: TheEssential Resource. London: Routledge.InternetKapanlagi. (2013). Hotma Sitompul: Masyarakat Tahu Kasus Raffi Janggal.Dalam http://id.omg.yahoo.com/news/hotma-sitompul-masyarakattahu-kasus-raffi-janggal-052600026.html. Diakses pada 21 Maret2013.Halishin. (2013). Kejanggalan Kasus Raffi Ahmad. Dalamhttp://m.okezone.com/comment/2013/03/14/33/776037/. Diakses pada21 Maret 2013UU Pers. (1999). Dalam http://www.pwi.or.id/index.php/uu-kej. Diakses pada9 April 2013.Anom, Erman. (2011). Wajah Pers Indonesia 1999-2011. Dalamhttp://www.ukm.my/jkom/journal/pdf_files/2011/V27_1_7.pdf.Diunduh pada 20 Mei 2013.Juliastuti, Nuraini. (2002). Studi Selebritis. Dalamhttp://kunci.or.id/collections/pdf/newsletter-kunci-11/. Diunduh pada20 Mei 2013.Arifianto, S. (2013). Literasi Media dan Pemberdayaan Peran Kearifan.LokalMasyarakat. Dalam http://balitbang.kominfo.go.id/balitbang/aptikaikp/files/2013/02/LITERASI-MEDIA-DAN-PEMBERDAYAANMASYARAKAT.pdf. Diunduh pada 20 Januari 2014.
KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GURU DALAM MEMBANGUN KEMANDIRIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (STUDI KASUS PADA SISWA TUNARUNGU DI SLB NEGERI SEMARANG) Pratiwi, Anindya Ratna; Sunarto, Sunarto; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1Komunikasi Antarpribadi Guru Dalam Membangun Kemandirian AnakBerkebutuhan Khusus(Studi Kasus Pada Siswa Tunarungu di SLB Negeri Semarang)Summary PenelitianDisusun untuk memenuhi persayaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1PenyusunNama : Anindya Ratna PratiwiNIM : D2C309008JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO2013ABSTRAK2JUDUL : KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GURU DALAMMEMBANGUN KEMANDIRIAN ANAK BERKEBUTUHANKHUSUS (STUDI KASUS PADA SISWA TUNARUNGU DI SLBNEGERI SEMARANG)NAMA : ANINDYA RATNA PRATIWITunarungu merupakan bagian dari kelompok anak berkebutuhan khusus,dimana mereka memiliki hambatan dalam hal pendengarannya. Ketidakmampuantunarungu dalam mendengar mengakibatkan terhambatnya perkembangan berbagaiaspek dalam kehidupannya, seperti bahasa dan bicara, intelegensi, emosi, maupunsosialnya. Keterbatasan yang mereka miliki menimbulkan rasa kekhawatirantersendiri baik pada diri anak tunarungu, orangtua dan lingkungan terdekatnya dalamhal kemandiriannya, baik dalam hal bina diri hingga kemandirian dalam halpemenuhan kebutuhannya di masa depan.Fokus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran fenomenakomunikasi antarpribadi guru dengan siswa tunarungu di SLB Negeri Semarang.Selain itu juga untuk mengetahui kegiatan komunikasi antarpribadi guru dengansiswa tunarungu dalam membangun kemandirian mereka.Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma post-positivistik dengan tipepenelitian deskriptif. Metode penelitiannya memakai Studi Kasus yang mengacu padaYin (2006) dengan analisis perjodohan pola. Data diperoleh dari hasil wawancarasecara mendalam pada enam informan, yakni satu orang Kepala sekolah, satu orangguru tunarungu, dua dari orangtua siswa tunarungu, serta dua orang informan anaktunarungu, kemudian data dilengkapi dengan hasil observasi yang dilakukan olehpeneliti. Teori utama dalam penelitian ini yakni Social Penetration Theory (SPT) atauTeori Penetrasi Sosial.Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa komunikasi antarpribadi yangefektif dirasa penting untuk diterapkan dalam aktifitas mengajar guru pada siswaberkebutuhan khusus. Komunikasi antarpribadi yang mampu berjalan efektif, dapatmewujudkan perasaan akrab (intimated) antara kedua belah pihak. Selain itu,komunikasi antarpribadi juga mampu menunjukkan perasaan kasih sayang danperhatian guru kepada siswanya, yang mampu menyentuh sisi emosional sehinggasiswa dengan kebutuhan khusus ini tidak merasa dikesampingkan. Perasaan positif inidapat memacu semangat belajar siswa dan dapat mempermudah penyerapan materidari guru, dalam hal ini terkait pembelajaran kemandirian.Kata Kunci : tunarungu, komunikasi antarpribadi, penetrasi sosial.3ABSTRACTTeacher?s Interpersonal Communication in A Special Needs Students to BuildSelf Reliance(Case Study on Deaf Students in SLB N Semarang)Deaf is part of a group of children with special needs, where they have a bottleneck interms of hearing. Inability of the deaf hear, resulting in inhibition of the developmentof various aspects of their lives, such as speech and language development,intelligence, emotional, and social. Limitations they have cause a sense of its ownconcerns both in children with hearing impairment, the parent and its immediateenvironment in terms of independence, both in terms of building themselves up toindependence in fulfilling their needs in the future.The focus of this study was to describe the picture of the phenomenon ofinterpersonal communication between teacher with the deaf students in SLB NegeriSemarang. In addition, to determine teacher?s interpersonal communication activitieswith the deaf students to build self reliance of them.This qualitative study using post-positivistic paradigm with descriptive type. Casestudy research methods used referring to Yin (2006) the analysis of mating patterns.Data obtained from in-depth interviews with six informants, are one principal, oneteacher deaf, two of deaf parents, and two informants deaf children, then the datafurnished by the observations made by the researcher. The main theory in this studynamely, Social Penetration Theory (SPT) or Social Penetration Theory.Results of this study illustrate that effective interpersonal communication isconsidered important to apply in teaching activities of teachers on students withspecial needs. Interpersonal communication that is able to run effectively, can realizea familiar feeling (intimated) between the two sides. In addition, interpersonalcommunication is also able to show feelings of affection and attention from theteacher to the students, who are able to touch the emotional side so that students withspecial needs do not feel excluded. These positive feelings can spur students'enthusiasm for learning and to facilitate the absorption of material from the teacher,in this case related to learning independence.Keywords: deaf, interpersonal communication, social penetration.41. PendahuluanBanyak orang yang beranggapan bahwa berkomunikasi itu merupakan hal yangmudah. Namun, seseorang akan tersadar ketika komunikasi yang dihadapimengalami hambatan. Situasi tersebut menjadi rumit karena seseorang tidakberhasil menyampaikan maksudnya kepada lawan bicaranya (komunikan)sehingga proses komunikasi berjalan tidak efektif. Proses komunikasi yangterhambat seperti demikian seringkali terjadi pada interaksi komunikasi yangmelibatkan anak berkebutuhan khusus.Anak berkebutuhan khusus sama halnya dengan anak normal lainnya yangakan memasuki masa remaja kemudian menuju kedewasaan penuh. Perubahananak menuju dewasa ini menuntut peran orangtua dan orang terdekatnya untukmembentuk anak menjadi pribadi mandiri.Perkembangan kemandirian mereka, khususnya pada tunarungu inilah yangmenjadi kekhawatiran orangtua. Hal ini mengingat kemandirian menjadi aspekyang teramat penting sebagai bekal masa depannya sehingga individu mampumelaksanakan tugas hidup dengan tanggungjawab, berdasarkan norma yangberlaku. Kemandirian (self relliance) sendiri merupakan kemampuan untukmengelola semua milik kita, tahu bagaimana mengelola waktu, dapat berjalandan berpikir secara mandiri, disertai dengan kemampuan untuk mengambil resikodan memecahkan masalah (Deborah,2005:226).Pendidikan khusus diperlukan anak-anak berkebutuhan khusus untukmengontrol perkembangan emosional dan melatih kemandirian anak secara lebihintensif disertai materi pembelajaran yang lebih terarah. Pendidikan khusus yangbermutu baik sangat diharapkan ketersediannya mengingat angka anakberkebutuhan khusus di Indonesia terus meningkat. Untuk tunarungu jumlahnyasudah mencapai angka 2.547.626 jiwa.Salah satu sekolah pendidikan khusus yang patut dijadikan contoh yakniSLB Negeri Semarang, yang dikenal unggul mencetak siswa-siwa berkebutuhankhusus yang berprestasi. SLB negeri Semarang kini juga menjadi rintisan sekolah5bertaraf internasinal. Prestasi SLB Negeri Semarang sudah dikenal hinggatingkat Nasional. Bahkan, beberapa kali masuk dalam pemberitaan medianasional.Dalam lingkungan sekolah, aktifitas komunikasi antarpribadi terutamaantara guru dengan siswa sangat berperan penting. Johnson (1981) menunjukkanbeberapa peranan yang disumbangkan oleh komunikasi antarpribadi dalamrangka menciptakan kebahagiaan hidup manusia. Identitas atau jati diri seseorangjuga terbentuk lewat komunikasi dengan orang lain dan ternyata kesehatanmental seseorang ditentukan oleh kualitas komunikasi atau hubungannya denganorang lain (Supraktiknya,1995:9). Meskipun, dalam perkembangan anaktunarungu sendiri, keluarga yang mendukung kemajuan perkembangan siswajuga berpengaruh dalam pembentukan kemandiriannyaMelihat pentingnya kualitas komunikasi antarpribadi, maka peran gurutunarungu bukan sekedar mengajar dan menuntaskan kurikulum, melainkan jugabagaimana menjalin kualitas komunikasi yang baik dengan siswa tunarugu danmembantunya untuk berkomunikasi secara lebih baik sehingga prosespembentukan kemandirian pada diri siswa dapat lebih mudah tercapai.Dari uraian tersebut, kemudian menjadi hal yang menarik untuk ditelitibagaimana komunikasi antarpribadi guru tunarungu dalam membangunkemandirian siswa tunarungu di SLB Negeri Semarang.2. Batang Tubuh2.1. Penetrasi sosial dalam komunikasi antarpribadiKomunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalahkomunikasi antara individu-individu). Sedangkan pendapat Deddy Mulyana(2008 : 81) bahwa komunikasi antarpribadi memungkinkan setiap pesertanyamenangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupunnonverbal (Suranto, 2011 : 3).6Teori penetrasi sosial kemudian digunakan peneliti untuk menjelaskanhubungan dalam konteks komunikasi antarpribadi yang terjadi antara gurudengan siswa berkebutuhan khusus tunarungu di SLB Negeri Semarang. Teori inimerupakan bagian dari teori pengembangan hubungan atau relationshipdevelopment theory. Teori ini dikembangkan oleh Irwin Altman and DalmasTaylor. Menurut Irwin dan Dalmas, komunikasi adalah penting dalammengembangkan dan memelihara hubungan-hubungan antarpribadi.Altman dan Taylor (1973) dalam teori penetrasi sosial menjelaskan secaraterperinci peran dari pengungkapan diri, keakraban, dan komunikasi dalampengembangan hubungan antarpribadi. Selanjutnya teori mereka menjelaskanperan variabel-variabel ini dalam terputusnya hubungan - tidak adanya penetrasi.(Budyatna dan Leila, 2011: 225-226).Terdapat beberapa asumsi yang dianut Social Penetration Theory (SPT).Asumsi ?asumsinya yakni, 1) perkembangan hubungan dari tidak intim menujuke hubungan yang intim. Asumsi berikutnya, 2) perkembangan hubunganumumnya sistematis dan dapat diramalkan. Asumsi yang terakhir adalah 4)pengungkapan diri (self disclosure) adalah inti dari sebuah perkembanganhubungan. Dalam proses penetrasi sosial hubungan antara guru dengan siswatunarungu, mengenai proses perkembangan hubungan dan pengungkapan diri(self disclosure) merupakan dua bagian penting yang perlu dipahami denganlebih mendalam (West dan Turner, 2007:187).2.2. Subyek penelitianDalam penelitian ini yang akan menjadi subyek penelitian adalah pihak-pihakyang berhubungan dengan penelitian ini termasuk yang berperan dalam7pembentukan kemandirian pada siswa tunarungu. Subjek penelitian inimencakup informan-informan penelitian yang terdiri dari 1) Kepala sekolahsejumlah satu orang. 2) Guru sejumlah satu orang, yakni satu dari guru pengajarsetingkat SMP pada kelas B (tunarungu). 3) Orangtua murid (ayah/ibu) denganjumlah dua orang informan, yakni satu dari orangtua tunarungu yang tinggal diasrama SLB N Semarang dan satu lagi dari orangtua tunarungu yang tidaktinggal di asrama (tinggal dirumah orangtua). 4) siswa/siswi sejumlah dua orangyang terdiri dari siswa SMP tunarungu yang tinggal di asrama dan siswatunarungu yang tinggalnya bersama orangtuanya dirumah. Keduanya termasuktunarungu golongan berat hingga sangat berat.2.3. Metodologi PenelitianTipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus danpendekatan penelitiannya menggunakan post-positivistik. Sedangkan untuk jenispenelitiannya adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini menggunakan metodepenelitian dengan tipe studi kasus (case study), dimana studi kasus merupakanstrategi yang lebih cocok bila pokok pernyataan suatu penelitian berkenaandengan how atau why (K.Yin, 2006 : 1).2.4. TemuanDalam penelitian ini, diketahui bahwa siswa tunarungu umumnya belum bisabersikap terbuka terhadap gurunya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhiketerbukaan pada diri anak tunarungu, yakni : 1) minimnya jumlahperbendaharaan kosakata yang dimiliki. Semakin minim jumlah kosakata yangdimiliki, semakin sulit mengungkapkan perasaannya terutama komunikasinyasecara verbal, sedangkan siswa tunarungu yang kosakatanya cukup banyak akanlebih aktif berkomunikasi dan mudah menceritakan isi hati atau permasalahanyang dialami. 2) Tipe karakter kepribadian anak tunarungu. Siswa tunarunguyang karakternya introvert akan cenderung menyimpan masalah yang dimiliki8dibandingkan dengan dengan tipe kepribadiannya ekstrovert. Namun dalampenelitian ini, informan dengan tipe ekstrovert ternyata enggan juga untukbercerita dengan gurunya, 3) Penilaian siswa tunarungu terhadap guru. Guruyang dinilai kurang sabar dan mudah marah pada siswa mampu mempengaruhisikap keterbukaannya, karena timbul rasa ketidaknyamanan, 4) Kedekatan gurudengan siswanya. Semakin baik dan harmonis hubungan guru dengan siswanya,maka siswa akan mudah bercerita apa saja tentang dirinya tanpa harus dimintaatau ditanya.Komunikasi antarpribadi yang berlangsung efektif antara guru dengansiswa tunarungu dapat mendukung terwujudnya kemandirian siswa. Tunarungudikatakan mandiri apabila mampu berkomunikasi dengan baik, dapat hidupberdampingan dengan orang lain, dan kelak mampu memenuhi kebutuhannyasendiri.Faktor yang mendukung terbentuknya kemandirian siswa yakni kemauananak untuk belajar, dukungan positif dari orangtua serta guru, fasilitas sekolahyang mendukung, serta komunikasi yang baik antara orangtua dengan pihaksekolah. Sedangkan faktor penghambat kemandirian siswa tunarungu yakni anakyang tidak semangat belajar atau malas belajar, orangtua yang tidak pedulidengan perkembangan anak, fasilitas sekolah yang tidak mendukung, serta guruyang tidak mendukung perkembangan kemandirian siswa dan tidak mampumengontrol kesabarannya.3. Penutup3.1 Implikasi TeoretisDalam SPT (Social Penetration Theory), hubungan dapat mengalamiperkembangan dari tidak intim menjadi intim. Seiring berjalannya waktu, suatuhubungan antarpribadi berpeluang menjadi intim. Meskipun tidak semua9hubungan secara ektrim bergerak dari tidak intim menjadi intim. Namun,seringkali sebuah hubungan berada diantara kedua kutub keintiman tersebut,dalam artian hubungannya dekat tapi tidak terlalu dekat (sedang).Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara guru denganinforman siswa tunarungu belum berada pada tahap intim atau belum akrab. Halini dinilai berdasarkan sikap keterbukaan diri (self disclosure) siswa tunarungukepada gurunya. Menurut West dan Turner (2007:187), pengungkapan diri (selfdisclosure) adalah inti dari perkembangan hubungan.Keengganan dalam mengungkapkan diri dapat dikarenakan faktorkepribadian dari masing-masing individu. Individu yang introvert biasanyajarang berinteraksi dengan orang lain, cenderung diam dan lebih senangmenyendiri. Seorang yang introvert biasanya hanya berbicara seperlunya danhanya ingin berbicara mengenai apa yang memang ingin mereka bicarakan.Sedangkan individu dengan tipe kepribadian ekstrovert cenderung lebihmenyukai interaksi dengan banyak orang, dan tidak nyaman dengan suasana sepiserta lebih aktif berbicara (Suranto,2011 :158-159).Namun perlu dipahami bahwa berkomunikasi dengan tunarungu tidaksemudah dengan anak normal. Ketidakterbukaan pada anak tunarungu ini dapatpula disebabkkan karena kemampuan komunikasi yang rendah karena minimnyaperbendaharaan kosakata yang dimiliki sehingga timbul kecemasan dalam diritunarungu untuk berkomunikasi, terutama dengan orang lain yang normal karenabiasanya seorang tunarungu kesulitan berkomunikasi secara verbal. Kecemasanberkomunikasi (communication apprehension) ini dapat menyebabkan sikapkeengganan untuk mengungkapkan atau membuka diri. Orang yang apprehensifdalam komunikasi, akan menarik diri dari pergaulan, berusaha sekecil mungkinberkomunikasi, dan hanya akan berbicara apabila terdesak saja (Jalaluddin,2007 :109).Jika dilihat dari komunikasi nonverbal, yang paling sering dipakaiinforman I dalam aktifitas pembelajaran di sekolah antara lain dengan bahasa10isyarat tangan, gerakan mulut, ekspresi wajah, kontak mata, serta gerakan tubuhlainnya berbarengan dengan komunikasi verbalnya. Gerakan tubuh inidinamakan kinesics. Kinesics merupakan suatu nama teknis bagi studi mengenaigerakan tubuh yang digunakan dalam komunikasi. Gerakan tubuh (kinesics)antara lain kontak mata, ekspresi wajah, gerak-isyarat, postur atau perawakan,dan sentuhan (Budyatna dan Ganiem, 2011 :125).3.2 Implikasi PraktisKajian komunikasi terutama pada komunikasi antarpribadi memilikiberbagai manfaat dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus. Dalam aktifitaspembelajaran yang melibatkan aspek komunikasi antarpribadi, mampu lebihmenyentuh sisi emosional mereka, sehingga siswa tidak merasa dikesampingkan,serta dapat merasakan kasih sayang orang-orang disekitarnya. Komunikasiantarpribadi oleh diharapkan juga dapat membantu mempengaruhi sikap danperilaku anak berkebutuhan khusus, agar lebih mandiri sebagai bekal hidupnyadi masa depan.Penelitian ini selain diharapkan berguna untuk media kajian komunikasibagi SLB, juga diharapkan mampu bermanfaat sebagai media kajian komunikasibagi orangtua yang membutuhkan informasi berkaitan dengan model komunikasipembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus, secara lebih khususnya padaanak tunarungu.3.3 Implikasi SosialSecara sosial, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaranpada masyarakat yang masih memandang rendah anak berkebutuhan khusus agartidak lagi meremehkan mereka, karena setiap orang yang terlahir di dunia pastimemiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing. Selain itu, diharapkan bagimasyarakat, keluarga serta lingkungan disekitar anak berkebutuhan khusus ini,11untuk tidak melakukan tindakan diskriminasi terhadap mereka dalam pemenuhanhaknya, mengingat, setiap manusia memiliki derajat yang sama di mata Tuhan.12Daftar PustakaAw, Suranto. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta : Graha IlmuBudyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem.(2011). Teori KomunikasiAntarpribadi. Jakarta : Kencana Prenada Media GroupMulyana, Deddy.(2005). Ilmu komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT.Remaja RosdakaryaParker, Deborah.(2005). Menumbuhkan Kemandirian Dan Harga Diri Anak.Jakarta: Prestasi PustakarayaRichard West, dan Lynn H. Turner. (2007). Introducing Communication Theory :analysis and application Third Edition. New York: The McGraw-Hillcompanies, IncSupratiknya. (1995). Komunikasi Antarpribadi Tinjauan Psikologis. Yogyakarta:KanisiusYin, Robert K.(2006). Studi Kasus: desain dan metode. PT. RajaGrafindoPersada : JakartaRakhmat, Jalaluddin. (2007).Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi. Bandung:PT.Remaja RosdakaryaYin, Robert K.(2006). Studi Kasus: desain dan metode. PT. RajaGrafindoPersada : Jakarta
DRAMATURGI KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ORGANISASI PROFIT Negari, Leidena Sekar; Sunarto, Sunarto; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DRAMATURGI KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAMORGANISASI PROFITAbstrakPemimpin dalam organisasi biasanya didominasi oleh kaum pria, karena konsepdan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia yang mengaut pahampaternalistik. Seiring perkembangan zaman perempuan kini mampu mendudukijajaran top tier manajemen di sejumlah organisasi profit. Gaya komunikasiperempuan yang dianggap mampu dicintai karyawan dan lingkungan kerjanyadalam membangun sebuah hubungan menjadi sebuah nilai plus.Di dalam penelitian ini menggunakan teori dramaturgi oleh Goffman yangmerupakan perluasan teori dari interaksionisme simbolik. Dramaturgidigambarkan sebagai sebuah pementasan drama yang mirip dengan pertunjukanaktor di panggung. Melalui dramaturgi ditunjukkan bahwa identitas manusia bisasaja berubah-rubah. Manusia adalah aktor yang memainkan drama di suatupanggung kehidupan. Pada saat interaksi berlangsung, maka aktor tersebutmenampilkan pertunjukan dramanya di hadapan orang lain hingga membentukimpression management pada dirinya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui impression management dalaminteraksi antara pemimpin perempuan dengan stakeholder di organisasinya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saat komunikasi berlangsungantara pemimpin perempuan dan stakeholder, kedua belah menampilkanimpression management. Pada back stage, pemimpin perempuan melakukanaktivitas lain sebelum bertemu dengan stakeholder, seperti meeting dengan teamuntuk keberhasilan tampil di front stage, supaya terlihat sebagai pemimpin yangmampu melaksanakan tugasnya dengan baik di hadapan stakeholder. Back stagepemimpin perempuan tidak diketahui oleh stakeholder.Pemimpin perempuan menampilkan impression management di hadapanstakeholder, yaitu sebagai pemimpin perempuan yang mampu menjalankankegiatannya dengan baik, membimbing karyawan dengan telaten, mempunyaikemampuan berbicara yang luwes, dan cakap dalam membangun hubungandengan stakeholder organisasinya. Stakeholder tidak mengetahui hal-hal apa sajayang dirasakan atau dilalui oleh pemimpin perempuan, seperti terkadangpemimpin perempuan merasa tidak siap dalam memimpin rapat, manajemenwaktu yang kurang baik. Hal ini dapat merusak citranya sebagai seorangpemimpin. Oleh karena itu impression management sangat penting demimencapai komunikasi efektif dalam komunikasi pemimpin perempuanstakeholder.Key words: Dramaturgi, Kepemimpinan, PerempuanWOMEN?S DRAMATURGICAL LEADERSHIP IN PROFITORGANIZATIONAbstractLeadership in an Indonesian organization is usually dominated by men aspaternalism runs deep in the people?s minds. Women nowadays have been able toget on top management of profit organization. Their unique communication stylein building a relationship among colleagues and the entire work environment isgreatly valued.This study used the dramaturgy theory by Goffman, which are extensionof symbolic interactionism. Dramaturgy is described as a drama performance withactors on the stage. The theory believes that a man?s identity changes from time totime. A man is an actor performing on a stage of life. When interacting, the actorperforms in front of other people, managing his impression on other people.This research aimed to understand the impression-management takingplace in the interaction between women leaders with other stakeholders in theorganization.The result showed that when an act of communication is taking placebetween a women leader and stakeholders, they are doing impressionmanagement. At back stage, a woman leader does other activities prior to meetingwith stakeholders, such as meeting with the team to ensure the success ofperforming at front stage, so that she is seen as a leader who is able to do their jobproperly in front of stakeholders. A woman leader?s back stage activity is usuallynot known by stakeholders.Women leaders displayed impression management in the presence ofstakeholders as leaders who are able to manage their work well, to leademployees, to speak their minds and to build strong relationships withstakeholders of the organization. Stakeholders may not know what a womanleader feels, such as feeling very unprepared to lead a meeting, having bad timemanagement. This can ruin her image as a leader. Therefore, impressionmanagement is very important for achieving effective communication in thewomen leaders ? stakeholder?s communication.Key words: Dramaturgy, Leadership, WomanBAB I1.1. LATAR BELAKANGBukan sebuah hal yang tabu, jika pada saat ini sudah banyak perempuanmenduduki jajaran manajerial dalam organisasinya. Gaya komunikasi perempuandianggap mampu dicintai karyawan dalam lingkungan kerjanya. Dengan gayakomunikasi yang bertutur kata lembut, gesture, dan kasih sayang dalammembangun hubungan yang dimiliki menjadi sebuah nilai plus.Gaya komunikasi pemimpin perempuan, seolah menjadikan itu sebuahalasan organisasi berganti strategi komunikasinya. Dengan demikian, dipandangperlu adanya penelitian yang dapat melihat bagaimana cara komunikasiperempuan dalam berinteraksi dengan stakeholder pada organisasinya.1.2. PERUMUSAN MASALAHSeiring perkembangan zaman perempuan kini sudah melebarkan sayapnya yangtadinya hanya dianggap mempunyai tugas untuk melakukan segala kegiatanpekerjaan rumah, seperti mengurus anak dan suami, memasak, dan kegiatan lainyang dilakukan untuk kepentingan keluarga selain mencari nafkah. Dalam situasiseperti ini dapat dipahami mengapa kerja perempuan sering sekali tidak tampak(invisible) karena dalam masyarakat kita (walaupun tidak semua masyarakat)keterlibatan perempuan sering kali berada dalam pekerjaan yang tidak membawaupah atau tidak dilakukan di luar rumah (walaupun mendatangkan penghasilan)Dalam era seperti saat ini justru amat mudah melihat perempuanmenduduki jajaran top tier manajemen. Wanita karier sudah bertebaran di manamana,bahkan menduduki posisi di organisasi yang dianggap tabu, sepertitambang, pemerintahan, dan perminyakan. Perempuan masuk dalam dunia bisnissaat ini sudah dianggap wajar, bahkan 70% laki-laki sudah bisa mengakui danmerasa nyaman jika perempuan bekerja di luar rumah (SWA, 2010).Gaya komunikasi pemimpin perempuan, seolah menjadikan itu sebuahalasan para organisasi berganti strategi untuk menjadikan karyawan dalamorganisasinya menjadi berubah haluan. Dengan demikian, dipandang perlu adanyapenelitian yang dapat melihat bagaimana cara komunikasi perempuan dalamberinteraksi dengan stakeholder pada organisasinya. Bagaimana impresionmanagement dalam interaksi antara pemimpin perempuan dengan stakeholder diorganisasinya?BAB II2.1. KERANGKA TEORI2.1.1. Interaksionisme SimbolikTeori interaksionisme simbolis dikonstruksikan atas sejumlah ide-ide dasar.Ide dasar ini mengacu pada masalah-masalah kelompok manusia atau masyarakat,interaksi sosial, obyek, manusia sebagai pelaku, tindakan manusia daninterkoneksi dari saluran-saluran tindakan.Symbolic interactionism, a movement within sociology, focuses on the waysin which people from meaning and structure in society through conversation.Menurut teoritisi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah ?interaksimanusia dengan menggunkaan simbol-simbol.? Mereka tertarik pada caramanusia menggunakan simbol-simbol yang mempresentasikan apa yang merekamaksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga pengaruh yangditimbulkan penafsiran atas simbol-simbol ini terhadap perilaku pihak-pihak yangterlibat dalam interaksi sosial.George Herbert Mead mempunyai tiga konsep utama dalam teoriInteraksionisme simbolik yaitu, masyarakat (society), diri sendiri (self), danpikiran (mind) . Kategori-kategori ini merupakan aspek-aspek yang berbeda dariproses umum yang sama yang disebut tindak sosial, yang merupakan sebuahkesatuan tingkah laku yang tidak dapat dianalisis ke dalam bagian-bagian tertentu.2.1.1. Konsep DramaturgiFokus pendekatan dramaturgis adalah bukan apa yang orang lakukan, bukan apayang ingin mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukan, melainkanbagaimana mereka melakukannya . Goffman mengasumsikan bahwa ketika orangorangberinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akanditerima orang lain. Ia menyebut upaya itu sebagai ?pengelolaan pesan?(impression management), yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untukmemupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuantertentu (Ritzer, 1996:215).Menurut Goffman kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi ?wilayahdepan? (front region) dan ?wilayah belakang? (back region). Wilayah depanmerujuk kepada peristiwa sosial yang menunjukkan bahwa individu bergaya ataumenampilkan peran formalnya. Mereka sedang memainkan perannya di ataspanggung sandiwara di hadapan khalayak penonton. Sebaliknya wilayah belakangmerujuk kepada tempat dan peristiwa yang memungkinkannya mempersiapkanperannya di wilayah depan. Wilayah depan ibarat panggung sandiwara bagiandepan (front stage) yang ditonton khalayak penonton, sedang wilayah belakangibarat panggung sandiwara bagian belakang (back stage) atau kamar rias tempatpemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkanperannya di panggung depan.Goffman membagi panggung depan ini menjadi dua bagian: front pribadi(personal front) dan setting. Front pribadi terdiri dari alat-alat yang dianggapkhalayak sebagai perlengkapan yang dibawa aktor ke dalam setting. Pemimpinperempuan menggunakan setelan pakaian formal serta notebook atau ipad digenggamannya. Personal front mencakup bahasa verbal dan bahasa tubuh sangaktor. Sebagai seorang pemimpin, perempuan dapat menggunakan kalimat denganpilihan kata yang sopan, halus, penggunaan istilah-istilan asing dalam melakukanpresentasi, memperhatikan intonasi, postur tubuh, dan ekspresi wajah. pakaianyang digunakan, penampakan usia dan sebagainya. Hingga derajat tertentu semuaaspek itu dapat dikendalikan actor.Sementara itu, setting merupakan situasi fisik yang harus ada ketika aktormelakukan pertunjukan. Dimana seorang pemimpin memerlukan ruang kerja yangnyaman dan bersih untuk melakukan tugasnya..Goffman mengakui bahwa panggung depan mengandung anasir strukturaldalam arti bahwa panggung depan cenderung terlembagakan alias mewakilikepentingan kelompok atau organisasi. Sering ketika aktor melaksanakanperannya, peran tersebut telah ditetapkan lembaga tempat dia bernaung. Meskipunberbau struktural, daya tarik pendekatan Goffman terletak pada interaksi. Iaberpendapat bahwa umumnya orang-orang berusaha menyajikan diri mereka yangdiidealisasikan dalam pertunjukan mereka di pangung depan, mereka merasabahwa mereka harus menyembunyikan hal-hal tertentu dalam pertunjukannya.Wilayah ini memperlihatkan sikap superior sang pemimpin perempuan yangtergambar oleh karyawannya.Berbeda dengan panggung belakang (back stage), disini memungkinkanseorang pemimpin perempuan menggunakan kata-kata kasar ketika berkomentar,marah, mengumpat, bertindak agresif, memperolok, atau melakukan kegiatanyang tak pantas dilakukan ketika berhadapan dengan karyawannya. Adanyabelakang panggung dimaksudkan untuk melindungi rahasia pertunjukan sangpemimpin perempuan, stakeholder tidak diizinkan masuk ke wilayah ini.Pertunjukan yang dilakukan akan sulit apabila stakeholder masuk ke dalampanggung2.2. Tipe PenelitianSecara operasional tujuan penelitri menggunakan tipe penelitian kualitatifadalah untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam ? dalamnya melaluipengumpulan data sedalam-dalamnya. Dalam penelitian ini lebih menekankanpada persoalan kedalaman. Periset merupakan bagian integral dari data artinyapeneliti ikut menentukan jenis data yang diinginkan dan peneliti harus terjunlangsung di lapangan).Analisis deskriptif kualitatif menurut Robert K.Yin (Yin, 2011: 177)1. CompilingMengkompilasi dan menyortir catatan lapangan dan pengumpulan data lainnyadan memisahkan data dari sumber arsip. Setelah itu peneliti meletakan pada folderdata yang dibuat. Jadi pada fase pertama, menempatkan data ke dalam beberapaurutan, yang selanjutya disebut database.2. DisassemblingPada tahap kedua mengkompille data hingga urutan terkecil, lalu memberikanlabel atau kode pada bagian-bagian data penelitian.dengan menggunakan temasubstantif untuk mengatur3. ReassemblingPenyusunan ulang pada tahap ketiga dapat difasilitasi dengan grafik atau denganmengaturnya dalam bentuk tabulasi data.4. InterpretingPeneliti membuat sebuah narasi dari hasil penelitian. Lalu memasukan interpertasipeneliti pada hasil penelitian5. ConcludingPada fase ini terdapat keseluruhan gambran dari hasil penelitian anda. Dan padakesimpulan terkait pada interpertasi pada fase keempat dan semua tahapanpenelitian lainnya.2.2.1. Jenis Data1. Data PrimerYaitu data yang diperoleh langsung dari lapangan. Sumber data primer dalampenelitian ini antara lain: (1) hasil observasi partisipan terhadap perilaku, sikap,simbol pemimpin perempuan dan stakeholdernya. (2) hasil wawancara dengansubjek penelitian yang dilakukan dengan wawancara mendalam (indepthinterview) antar peneliti dengan pemimpin perempuan, dan peneliti denganstakeholdernya.2. Data SekunderYaitu data yang diperoleh selain data primer antara lain: (1) data audio (rekamansuara), (2) data yang berkaitan dengan penelitian seperti internet, atau referensilainnya yang mendukung.2.2.2. Teknik Pengumpulan Data1. Wawancara mendalam (indepth interview)Wawancara mendalam merupakan suatu cara pengumpulan data atau informasidengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapat datalengkap dan mendalam. Wawancara ini dilakukan dengan frekuensi tinggi(berulang ? ulang) secara intensif. Dalam wawancara ini informan bebasmemberikan jawaban karena periset memiliki tugas agar informan bersediameemberikan jawaban yang lengkap, mendalam dan bila perlu.2. ObservasiObservasi difokuskan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan fenomenariset. Fenomena ini mencakup interaksi (perilaku) dan percakapan yang terjadidiantara subjek yang diteliti sehingga keunggulan metode ini adalah data yangdikumpulkan dalam dua bentuk : interaksi dan percakapan. Artinya selain perilakunon verbal juga mencakup perilaku verbal dari orang ? orang yang diamati.3. CollectingCollecting mengacu pada kompilasi atau mengmpulkan benda (dokumen,artefak, dan catatan arsip) yang berhubungan dengan topik penelitian. Sebagianbesar kegiatan collecting ini ketika sedang berada di lapangan, namun penelitijuga dapat mengumpulkan dari beberapa sumber, seperti buku-buku, internet. Inidapat mempermudah peneliti dalam proses penelitian.BAB III3.1. KESIMPULANTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui impression managementdalam interaksi antara pemimpin perempuan dan stakeholder. Impressionmanagement sangat penting pada saat interaksi antara pemimpin perempuan danstakeholder berlangsung. Impression management dapat diperoleh oleh penelitimelalui observasi partisipan dan wawancara mendalam. Karena pemimpinperempuan berperan seperti aktor yang melakukan pertunjukan drama diorganisasi. Hal ini sesuai dengan teori dramaturgi oleh Goffman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemimpin perempuan melakukanimpression management di hadapan stakeholder. Pemimpin perempuanmelakukan berbagai aktivitas selain bertemu dengan stakeholder. Seperti: arisan,berjulan sepatu, tas dan perlengkapan perempuan lainnya, dan menjadi pengurusorganisasi ekstra dari perusahaannya mempunyai bisnis makanan. Selain itupemimpin perempuan terkadang menyembunyikan masalah perusahaan ataupribadinya. Di depan stakeholder pemimpin perempuan harus terlihat baik dantidak punya masalah. Oleh karena itu karena impression management penting,maka melalui impression management, pemimpin perempuan menunjukan padastakeholder bahwa dia adalah pemimpin perempuan yang terampil dan ahli dalampekerjaannya.Pemimpin perempuan selalu terlihat bersemangat dan ceria ketikamenghadapi stakeholder karena dengan begitu memberikan pandangan bahwapemimpin senang ketika bertemu dengan stakeholder. Padahal pada backstagepemimpin perempuan, stakeholder tidak mengetahui komentar apa yangdiberikan pada stakeholder atau persiapan penting yang dilakukan olehstakeholder perempuan.DAFTAR PUSTAKABuku:Arivia, Gadis. ( 2006). Feminisme Sebuah Kata Hati. Jakarta : KompasBarletta, Martha. (2004). Marketing to women (Mendongkrak laba dari konsumenpaling kaya dalam segmen pasar terbesar). Jakarta: PPMBungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi ( Teori, Paradigma, danDiskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat ). Jakarta : Kencana.Bungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : PrenadaMedia Group.Cornelissen, Joep. (2009). Corporate Communication, A guide to theory andpractice. New Delhi: Sage PublicationDenzim, Norman K dan Yvonna S.Lincoln.(1994). Handbook of QualitativeResearch. California : Sage PublicationsDow, Bonnie J dan Wood, Julia. The Sage Handbook of Gender andCommunication. USA: Sage PublicationsGamble, Teri and Gamble, Michael.(2006). Communication Work.MC Graw-hill humanitiesGriffin, Em. (2004). A First Look at Communication Theory. New York:McGraw-Hill.Kelley, Martha J.M., Lt Col, U.S, (1997). Gender Differences and leadershipstudy. Alabama: Maxwell Airforce BaseKriyantono, Rahmat.(2006). Tekhnik Praktik Riset Komunikasi. DisertaiContoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising,Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana.Kuswarno, Engkus. (2008). Etnografi Komunikas,. Suatu Pengantar danContoh Penelitiannya, Bandung: Widya Padjajaran, (2008).Littlejohn, Stephen W. (1996). Theories of Human Communication.California:Belmont, Woodsworth.Littlejohn, Stephen W Littlejohn dan Karen A Foss .( 2009). Teori Komunikasi,Theories of Human Communication, Edisi 9, Jakarta: Salemba HumanikaMadison, D.Soyini. (2005).Critical Ethnography : Method, Ethics, andPerformance. California : Sage Publications.Moleong, Lexy J. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : RemajaRosdakaryaMuhammad, Arni, (2005). Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi AksaraMulyana, Deddy. (2003). Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru IlmuKomunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja RosdakaryaNeuman,W.Lawrence. (1997). Social Research Methods. Qualitative andQuantitave Approach, Third Edition. Boston : Allyn & Bacon A ViacomCompanyNuraini (2010). Perilaku Legislator Perempuan dalam MemperjuangkanKepentingan Perempuan. Skripsi. Unversitas DiponegoroPace, Wayne R dam Faules, Don F. (2006). Komunikasi Organisasi, strategimeningkatkan kinerja perusahaan. Bandung: PT Remaja RosdakaryaPrayitno, Ujianto Singgih, (1996). Wanita dalam pembangunan (Studi terhadapperaturan perundang-undangan RI terhadap konvensi PBB tentangpenghapusan diskrimnasi terhadap wanita). Jakarta: CV.ErasariRahardjo, Turnomo. (2006). Menghargai Perbedaan Kultural : MindfulnessDalam Komunikasi Antaretnis. Yogyakarta : Pustaka PelajarRitzer, George. (1996). Modern Sociological Theory. New York: The McGraw HillSantoso, Anang, (2004), Bahasa Peremouan. Jakarta: Bumi AksaraSaptari, Ratna dan Holzner, Brigitte, (1997). Perempuan kerja dan perubahansosial (sebuah pengantar studi perempuan). Jakarta: Pustaka UtamaGrafitySunarto. (2009). Televisi, Kekerasan dan Perempuan. Jakarta:KompasTong, Rosemarie. (2006). Feminist Though. Bandung: JalasuteraYin, Robert K. (2011). Qualitative Research from start to finish. London: TheGuilford PressInternetPearson, J. Michael dan Furumo, Kimberly. (2007). Gender-BasedCommunication Styles, Trust, and Satisfaction in Virtual Teamsdalam http://jiito.org/articles/JIITOv2p047-060Furumo35.pdf di unduhpada tanggal 6 Maret 2011 pukul 20.00 WIBSnellen, Deborah. (2006). Gender Communication.Colorado dalamhttp://www.cacubo.org/proDevOpp/Gender%20Communication.pdfdiunduh pada tanggal 7 Maret 2011 pukul 08.00 WIBVerghese, Tom. (2008). Women Leading Across Borders dalamhttp://www.culturalsynergies.com/resources/Women_Leading_Across_Borders.pdf diunduh pada tanggal 6 Maret 2011 pukul 20.30 WIBMajalahRahayu, Eva Martha (2010, April). Panggil Mereka Women on Top, SWASembada: 28Rahayu, Eva Martha (2012, April). Karena Wanita Punya Talenta , SWASembada: 29
VISUALISASI BENTUK KEKERASAN PADA TAYANGAN KOMEDI PESBUKERS Futaki, Ilham; Sunarto, Sunarto; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

JUDUL : Visualisasi Bentuk Kekerasan Pada Tayangan KomediPesbukersNAMA : Ilham FutakiNIM : D2C008090AbstrakTayangan komedi saat ini sangat menjamur kehadirannya di stasiun-stasiuntelevisi Indonesia. Salah satu tayangan hiburan berupa komedi yang digemari olehkhlayak adalah Pesbukers. Tayangan komedi Pesbukers ini mempunyai temasketsa reality. Hal yang menarik dari tayangan komedi Pesbukers ini adalahkarena Pesbukers masuk ke dalam salah satu program besar dengan rating yangtinggi.Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kekerasan yang terjadipada tayangan komedi Pesbukers. Penelitian ini menggunakan pendekatankuantitatif dengan metode analisis isi. Analisis isi digunakan untuk mendeskripsidan menganalisis adanya kekerasan di 5 (lima) episode yang dijadikan sampelpenelitian.Dari penelitian yang dilakukan, dapat dilihat bahwa terdapat banyak tindakkekerasan yang terjadi pada lima episode tayangan komedi Pesbukers. Hasilpenelitian juga menunjukkan bahwa terdapat bentuk kekerasan yang terbagimenjadi tiga bagian, yaitu: kekerasan verbal, kekerasan non verbal, dan kekerasanpsikis. Dengan banyaknya adegan yang muncul, dapat diketahui juga peran danjenis kelamin yang melakukan tindak kekerasan. Tidak hanya itu, selain kategorikategoriyang telah disebutkan di atas, juga ditemukan penemuan menarik yangmasih berkaitan dengan kekerasan, yaitu naturalisasi kekerasan pada media massa.Kata Kunci: Analisis Isi, Komedi, KekerasanJUDUL : The Visualization Form of Violent On Comedy Show?Pesbukers?NAMA : Ilham FutakiNIM : D2C008090AbstractCurrent comedy show was flourishing in Indonesia`s television stations. Onepopular comedy show that Indonesia favored is Pesbukers. This comedy show hasa background story about sketch reality. One of interest thing about Pesbukers isentered into one big programme with high ratings.This research aimed to describe the violence in comedy show. This study used aquantitative approach to content analysis method. Content analysis is used toanalyze and describing the violence in five episodes study sampled.From this research was conducted, there are many occured violence act in fiveepisodes. The research result showed that there are violence act which is dividedto three parts, among others: physical, non-physical, and psychological. With somany scenes of violence that appears, also can known figure and the role of sexwho can oftten become a offenders. Not only that, besides in addition to thecategories already mentioned, founded some interesting research that is related toviolence is naturalization of violent act in the mass media.Keywords : Content Analysis, Comedy, Violence.BAB IPENDAHULUANTelevisi dengan kesempurnaan elemen komunikasi yang dimilikinya membuatmedia ini sangat digemari oleh khalayak, karena mudah, murah, dan bisaditempatkan secara strategis. Televisi memang sangat mudah ditemui, dengankesempurnaannya inilah yang membuat media ini berkembang dan semakinberagam, konten acara, maupun penyajiannya. Televisi telah menjadi bagian yangtak terpisahkan dari kebutuhan manusia. Televisi dengan berbagai acara yangditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya, dan membuatpemirsanya menjadi ketagihan untuk mengonsumsinya. Televisi merupakangabungan dari media gambar yang bisa bersifat politis, informatif (information),hiburan (entertainment), dan pendidikan (education), atau bahkan penggabungandari ketiga elemen tersebut.Hiburan, sebagai salah satu peranan televisi memang tidak ada habisnyauntuk menampilkan acara-acara yang bertemakan hiburan. Salah satu bentukhiburan yang ditampilkan di berbagai stasiun televisi adalah komedi.Pesbukers (Pesta Buka Bareng Selebriti) adalah sebuah acara televisi baruproduksi stasiun televisi AnTV, yang ditayangkan setiap Senin hingga Jumat padaawalnya, dan ditayangkan pada pukul 18.00-19.00 (15 menit sebelum adzan dandilanjutkan 3 menit kemudian setelah iklan). Pesbukers pertama kali tayang padatanggal 25 Juli 2011. Format acara Pesbukers ini adalah sebuah sketsa reality,dicampur dengan guyonan-guyonan segar seperti pantun yang jenaka, dan rayuangombal. Segala hal konyol dilakukan oleh para pemainnya agar bisa membuatpenonton tertawa dengan apa yang dilakukannya, cerita didalam sketsanyadiangkat dari kisah selebriti yang sedang hangat diperbincangkan di infotainment,tetap dengan tema kehidupan sehari-hari. Ide cerita dari episode-episodenya selaluberbeda dengan sebelum-sebelumnya, salah satu ciri khas lawakan dari Pesbukers,salah satu pemain rela ditaburi bedak kepalanya setelah mendapat pantun. Akantetapi, di balik kelucuan pantun-pantun yang dikeluarkan, mengandung unsurmerendahkan atau melecehkan.BAB IIBATANG TUBUHPesbukers sebagai salah satu acara komedi yang digemari olehpenontonnya, juga ditayangkan setiap hari, membuat khalayak menjadi terhipnotisdengan isi acaranya. Pesbukers telah membuat persepsi khalayak tentangkekerasan pada televisi menjadi homogen, dan jauh dari realita yang sebenarnya.Sehingga, kekerasan yang dilakukan oleh para pemain Pesbukers menjadi umumdi mata masyarakat. Ide-ide cerita yang berbeda di setiap episodenya menciptakanhal baru yang digemari pemirsanya. Segala tingkah laku pemain Pesbukersmampu membuat penontonnya tertawa dan terbawa, sehingga mereka(penonoton/pemirsa) seperti tidak menghiraukan adanya kekerasan dalamtayangan tersebut. Hal ini tidak lepas dari akibat produsen yang mengkonstruksimakna yang ada, sehingga penonton mulai terbiasa dengan makna baru yangmuncul. Mereka (para pemain Pesbukers) mempresentasikan adegan-adegankekerasan dalam tayangan komedi, yang seharusnya bisa membuat orang tertawadengan cara-cara yang lebih cerdas tanpa harus mengedepankan kekerasan.Siaran televisi saat ini telah menjadi suatu kekuatan yang sudah merasukke dalam kehidupan masyarakat. Televisi sebagai media massa memilikikarakteristik tersendiri yang berbeda dengan media lain di dalam penyampaianpesannya. Salah satu kelebihan televisi yaitu paling lengkap dalam menyampaikanunsur-unsur pesan bagi khalayak pemirsa, oleh karena dilengkapi dengan gambardan suara yang terasa lebih hidup dan dapaat menjangkau ruang lingkup yangsangat luas.Kekerasan di dalam media kini sudah tidak dapat dibendung lagikeberadaannya, baik dalam media cetak maupun media elektronik. Beberapa risetkomunikasi massa menunjukkan bahwa kekerasan bukan lagi merupakan hal yangtabu bagi pemirsanya. Media massa seringkali diibaratkan sebagai pedangbermata dua. Di salah satu sisi berguna untuk menyebarkan nilai-nilai kebajikanseperti memberikan informasi dan menghibur, di sisi yang lain juga menyebarkannilai-nilai negatif yang tidak baik untuk masyarakat. Perkembangannya, penelititelah mengamati bahwa jumlah tayangan kekerasan di televisi telah meningkat.Khalayak tidak lagi merasa heran melihat adegan orang-orang yang berkelahi danseringkali melakukan upaya pembunuhan di beberapa tayangan seperti sinetron,film kartun, tayangan komedi. bahkan, sinetron sekarang ini kebanyakan tidak adaalur ceritanya, dan yang pasti mempertontonkan adegan kekerasan di dalamnya.Tidak hanya di dalam sinetron, dewasa ini tayangan kekerasan juga terdapat didalam komedi. seperti contoh Pesbukers. Dengan kedok komedi sketsa reality,para pemain dalam acara tersebut seringkali melakukan adegan kekerasan sepertimendorong, mencemooh, mengelabuhi bintang tamu atau pemain lainnya,menaburkan bedak ke salah satu pemain dan berbagai macam adegan yangdianggap sebagai hal yang lucu untuk menarik pemirsanya, tetapi mengandungunsur kekerasan di dalamnya.Menurut UU Penyiaran Pasal 36 ayat 3, isi siaran wajib memberikanperlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak danremaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan lembagapenyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayaksesuai dengan isi siaran. Tetapi dewasa ini, kekerasan merupakan salah satuaspek yang tidak dapat dihindari dari beragam tayangan di televisi. Bahkanmasyarakat terkadang tidak menyadari adanya kekerasan dalam program tayanganyang mereka konsumsi.Pesbukers merupakan salah satu program komedi yang mengusung konsep?sketsa reality? di mana gosip-gosip yang sedang ?in? dimasukkan ke dalambentuk sketsa komedi. Walaupun sudah berulang kali ditegur oleh KPI, karenaseringkali menyisipkan unsur kekerasan dan pelecehan dalam sketsa komedi yangmereka mainkan, program komedi masih saja ditayangkan hingga saat ini. Dalamprogram tayangan komedi Pesbukers, menarik untuk diperhatikan bagaimanaPesbukers menampilkan bentuk kekerasan dalam setiap tayangannya?Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentukkekerasan yang ditayangkan pada program tayangan komedi Pesbukers.Dalam sebuah tayangan komedi yang menjadi objek penelitian inimenggunakan kategori-kategori untuk menghitung jumlah kekerasan yang munculpada tayangan komedi Pesbukers.- Fisik/nonverbal, berupa bentuk atau perilaku kekerasan yang dilakukanoleh pemain Pesbukers terhadap korban dengan cara memukul,menendang, melemparkan barang ke tubuh korban atau sebaliknya,menganiaya.- Nonfisik/verbal, kekerasan yang terjadi dengan cara membentak,melecehkan orang lain, melontarkan kata-kata yang bersifat menghina,memerintah orang lain dengan seenaknya.- Psikis, kekerasan yang dilakukan oleh para pemain Pesbukers terhadapmental korban dengan cara menakut-nakuti, merendahkan, mengancamBAB IIIPENUTUPPesbukers, sebagai salah satu acara komedi yang di favoritkan pemirsanya,ternyata mengandung unsur kekerasan di dalamnya. Penelitian yang telahdilakukan dan mendapatkan hasil temuan penelitian menyatakan bahwa dari 3(tiga) kekerasan yang dijadikan tolak ukur, muncul pada tayangan komediPesbukers.Hasil temuan penelitian yang dilakukan, bahwa kekerasan tidak lepas darirealitas kehidupan, bahkan media massa pun memberikan informasi yang saratakan kekerasan verbal, non verbal maupun kekerasan psikis. Jumlah tokoh yangada pada tayangan komedi Pesbukers juga mempengaruhi kekerasan yang terjadidengan cara yang berbeda-beda.Berdasarkan dari hasil temuan penelitian, kekerasan verbal menjadipemicu dari kekerasan yang banyak muncul dalam penelitian ini
MEMAHAMI DIALEKTIKA KONFLIK DAN PENGALAMAN KOMUNIKASI PASANGAN PERKAWINAN JARAK JAUH DALAM PROSES PENYELESAIAN KONFLIK RUMAH TANGGA IRAWATI, DEWI; Sunarto, Sunarto; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memahami Dialektika Konflik dan Pengalaman KomunikasiPasangan Perkawinan Jarak Jauh dalam Proses Penyelesaian KonflikRumah TanggaSummary PenelitianDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1PenyusunNAMA: DEWI IRAWATINIM: D2C309007JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013Nama :Dewi IrawatiNIM :D2C309007Judul :Memahami Dialektika Konflik dan Pengalaman Komunikasi Pasangan PerkawinanJarak Jauh dalam Proses Penyelesaian Konflik Rumah TanggaAbstraksiPenelitian ini dilatarbelakangi dengan maraknya pasangan yang menjalani perkawinanjarak jauh. Pada dasarnya setiap individu dalam hubungan perkawinan pasti pernah terlibat konflik.Terlebih lagi perkawinan yang masih dalam tahap-tahap rawan, seperti 5 tahun awal perkawinanyang masih dalam tahap awal penyesuaian dengan pasangan. Penyesuaian terhadap pasangan bagipasangan perkawinan jarak jauh mungkin akan dirasa sebagai suatu hal yang sulit karena masapenyesuaian tersebut harus dilakukan dengan saling berjauhan, sehingga tidak heran konflik seringmuncul diantara pasangan ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana dialektikakonflik yang terjadi pada pasangan perkawinan jauh di fase awal perkawinan. Selain itu pula untukmemahami pengalaman komunikasi pasangan perkawinan jarak jauh dalam proses penyelesaiankonflik rumah tangga pada fase awal perkawinan.Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakanteori dasar yaitu Teori Dialektika Relasional oleh Leslie A. Baxter. Data diperoleh dari indepthinterview terhadap 3 pasangan suami istri pelaku perkawinan jarak jauh. Metode analisis data yangdigunakan adalah pendekatan fenomenologi dari Van Kaam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantara pasangan perkawinanjarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antara keinginan untuk mendekatkan diriatau menjauhkan diri dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan karena kegiatan personal,aktivitas dengan lingkungan sosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemukeluarga, konflik pribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidak melakukan aksikeduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan. Kemudian adanya kontradiksi antarakeinginan untuk melakukan rutinitas atau spontanitas dengan pasangan dikarenakan kondisikeuangan yang semakin menipis, keinginan dalam hal seksualitas yang berbeda antara suami istri,rutinitas hobi yang melalaikan peran dalam rumah tangga, atau kehadiran anak-anak. Dalam halkontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakan hal yang unik terjadi dalam halpengambilan putusan karena sampai saat ini informan masih tinggal bersama orang tua mereka.Pengambilan putusan tetap dilakukan suami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orangtua masih ikut campur urusan rumah tangga. Sedangkan mengenai kontradiksi antara keinginanuntuk terbuka atau tertutup dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan informan mencobasaling terbuka namun tetap memiliki informasi yang dirahasiakan.Mengenai pengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik, strategi yangdigunakan oleh pasangan perkawinan jarak jauh adalah manajemen konflik efektif maupun tidakefektif. Dalam hal kendala, pasangan perkawinan jarak jauh cukup memiliki kendala yangmenghambat dalam proses penyelesaian konflik, baik itu kendala internal maupun eksternal.Disarankan bagi peneliti yang ingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauhlebih dapat mempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensipertemuan dengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflik dan dialektikayang terjadi.Kata kunci: dialektika, konflik, perkawinan jarak jauhNama : Dewi IrawatiNIM : D2C309007Judul : Understanding Dialectic of Conflict and Long Distance Marriage?s CommunicationExperience in Marriage Conflict Solving ProcessAbstractThis research is motivated by the rise of long-distance marriage couple. Basically everyindividual in the marriage relationship must have been involved in the conflict. Moreovermarriage that is still in the stages of cartilage, such as 5 years earlier marriage that is still in theearly stages of adjustment. Adjustments to the couple for marital couples might remotely beperceived as a difficult thing because the adjustment period should be done far from each other, sodo not be surprised conflicts often arise between this couple. The purpose of this research is tounderstand how the dialectic of conflict in a marriage partner away in the early phase of marriage.Besides that, this research to understand the experience of long-distance communication inmarriage couples conflict resolution process in the early phase.The basic theory of this research is Relational Dialectics Theory by Leslie A. Baxter. Datawas obtained from indepth interviews with three couples long distance marriage. Data analysismethods used are phenomenological approach of Van Kaam.The results showed that the dialectical conflict between long distance marriage partnerhappens quite varied. Contradiction between the desire to get closer to or distanced themselveswith couples or families and the environment due to personal activities, activities with the socialenvironment, busy work, time is less fit to meet the family, personal conflicts with other familymembers or awareness to limit ourselves because of the role in households. Also found one of theinformants who did not take action but only silence both couples. Then the contradiction betweenthe desire to perform routine or spontaneity with a partner because of dwindling financialcondition, the desire in terms of a different sexuality between husband and wife, routine of hobbiesrole in the household, or the presence of children. In terms of following the tradition of the oldcontradictions and creating unique things happen in terms of decision-making because until nowall of the informant was still living with their parents. Decision making remained was the husbandas head of household even though sometimes parents are still meddling household. Then for thecontradiction between the desire to be open or closed with a partner or family and neighborhood,informants tried to be open while still have a secret information.About the communication experience in the process of conflict solving process used bylong-distance marriage partner is an effective conflict management and ineffective. In terms ofconstraints, long-distance marriage partner has enough obstacles that hinder the conflict resolutionprocess, both internal and external constraints. It is recommended for researchers who want to takethe theme of research on long-distance marriage could consider a spouse profession, educationlevel and frequency of meetings with the couples when selecting informants to see conflict anddialectical variations that occur.Keywords: dialectic, conflict, long-distance marriage1. PENDAHULUANPasangan yang telah menikah sudah hakikatnya untuk hidup bersama dalam satuatap, dan berkomunikasi tanpa perlu perantara. Terbuka satu sama lain dan beranimenyampaikan perasaan hati, ide, gagasan atau pun segala hal yang menjadi ganjalansehingga meminimalisir terjadinya konflik. Bila sampai terjadi konflik, pasutri bisamengelola konflik tersebut dengan baik sehingga tidak perlu terjadi hal-hal buruk yangmengarah ke arah perusakan hubungan. Pasangan dapat dikatakan harmonis bila salahsatunya dapat mengelola konflik yang sudah terjadi dan melihatnya sebagai bagian normaldari proses perkembangan hubungan mereka.Umumnya pasangan suami istri menginginkan penyelesaian konflik denganberkomunikasi secara tatap muka, namun tidak demikian halnya dengan pasanganperkawinan jarak jauh yang memiliki keterbatasan waktu untuk bertemu. Jauhnya jarakantara pasangan yang terpisah pulau bahkan negara, serta keterbatasan waktu ketikabertemu, mengharuskan mereka untuk menyelesaikan konflik dengan bijak supaya tidakberkepanjangan. Dan ini tentunya bukan hal mudah, mengingat banyak kendala yang bisamenjadi noise untuk keberhasilan penyelesaian konflik itu sendiri. Apalagi bila yangmenjalani LDM ini adalah pasangan yang baru menjalani pernikahan kurang dari 5 tahun,bukan hal mudah bila harus berpisah dengan pasangan seiring dengan keharusan untukmenyesuaikan diri dengan sifat-sifat pasangan.Miskomunikasi yang dialami oleh Nia Angga menjadi salah satu pemicu konflikyang dialami pasangan perkawinan jarak jauh di masa awal perkawinan. Menurutpengakuannya, selama menjalani perkawinan jarak jauh hubungannya dengan suami tidakbaik-baik saja karena komunikasi yang tidak intens. Belum lagi, bila berkomunikasi viahp, intonasi melalui telepon atau tulisan sms yang kurang jelas tanda bacanya kadangmembuat salah penafsiran sehingga tidak jarang membuat mereka bertengkar.(http://anggania.blogspot.com/2011/11/long-distance-relationship-ldr.html, diakses 15Juli 2012, pukul 22.05).Konflik lain dalam perkawinan jarak jauh juga disebabkan karena kurangnyakepercayaan kepada pasangan, seperti yang dialami seorang suami berinisial A yang barumenjalani perkawinan jarak jauh karena istri bekerja di Hongkong dan dia di Korea.Sebelum menjalani perkawinan jarak jauh, mereka telah bertunangan selama 5 tahun danjuga menjalani hubungan jarak jauh. Istri selalu mencurigai suaminya mempunyaihubungan dengan wanita lain meskipun hal itu tidak benar. Menurut suami mereka seringbertengkar karena hal tersebut. Suami bahkan sampai merasa tidak kuat dengan kondisiini namun tidak ingin mengakhiri perkawinan. (http://log.viva.co.id/news/read/144808-pengantin_baru_kok_sering_bertengkar, diakses tanggal 31 Oktober 2012, pukul 21.00).Pemicu konflik bagi pasangan perkawinan jarak jauh lainnya berkaitan denganmasalah ekonomi dan kurangnya empati kepada pasangan. Seperti yang dialami oleh istri(tidak disebutkan namanya) yang telah menikah selama 5 tahun dan memiliki 1 anak. Siistri bekerja sebagai PNS dan tinggal di Jakarta bersama anaknya, sedangkan suamibekerja sebagai karyawan swasta dan tinggal di kota kecil bersama orang tuanya. Hal yangmenjadi masalah karena suami jarang sekali memberikan nafkah pada anak istrinya. Suamijuga pernah mendapat tawaran pekerjaan di Jakarta namun ditolah dengan alasan ingintetap hidup di daerahnya. Sudah setengah tahun belakangan mereka juga seringbertengkar. Si istri bahkan sempat terpikir untuk berpisah karena pada dasarnya diamemang sudah hidup sendiri atas biayanya sendiri, namun dia tidak tega dengan anaknya.(Kewajiban Suami terhadap Istri, dalam http://kawansejati.org/208-kewajiban-suamiterhadap-istri, diunduh 15 Februari, 2013, 10.50)Berbagai konflik pasangan perkawinan jarak jauh tersebut bukan tidak mungkinmengarah ke perceraian bila tidak dikelola dengan baik. Seperti yang terjadi di KabupatenPacitan sepanjang tahun 2012, jumlah perceraian yang disebabkan karena salah satu pihakpergi adalah 387 perkara dari jumlah 1028 perkara cerai yang diajukan. Itu artinya sekitar38% dari jumlah pengajuan cerai yang diajukan ke Pengadilan Agama Pacitan. Faktorpenyebabnya pun mayoritas karena putusnya komunikasi antar pasutri saat mereka tidakhidup bersama di satu kota. Tanpa komunikasi yang intens, pihak yang ditinggalkan diPacitan akhirnya memutuskan untuk mengajukan cerai.(http://www.lensaindonesia.com/2012/12/17/long-distance-relationship-jadi-penyebabtingginya-perceraian.html, diakses 15 Februari 2013, 10.53)Berdasarkan fenomena ini peneliti ingin mengetahui lebih detail mengenaidialektika konflik pasangan perkawinan jarak jauh dan cara komunikasi pasangan tersebutdalam proses penyelesaian konflik rumah tangga mereka sehingga dapat memahamidialektika konflik pasangan perkawinan jarak jauh pada fase awal perkawinan danpengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik pasangan tersebut.2. BATANG TUBUH2.1. TEORITeori utama yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Teori DialektikaRelasional oleh Leslie A. Baxter untuk menjawab permasalahan mengenai DialektikaKonflik pasangan perkawinan jarak jauh dan manajemen konflik oleh Devito untukmenjawab permasalahan mengenai pengalaman konflik pasangan perkawinan jarak jauhdalam proses penyelesaian konflik rumah tangga2.2. Subyek PenelitianSubjek dalam penelitian ini disesuaikan dengan judul penelitian, yakni pasangansuami istri perkawinan jarak jauh yang masih dalam fase awal perkawinan yang berjumlahtiga pasang dengan kriteria sebagai berikut: Pasangan suami istri perkawinan jarak jauhdimana jauhnya jarak tempat tinggal yang ditentukan sejauh minimal 300km, atau tempatyang harus ditempuh dengan memakan waktu perjalanan lebih dari 7 jam, atau frekuensiuntuk bertemu pasangan minimal satu bulan sekali; Umur perkawinan masuk dalamkategori fase awal perkawinan yaitu 1-5 tahun; dan Merupakan pasutri jarak jauh yangkeduanya bekerja atau hanya salah satu pasangan yang bekerja atau pasutri tersebut sudahmemiliki anak2.3. MetodologiPenelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif, dan metodologi kualitatifdengan pendekatan fenomenologi. Dalam Kuswarno (2009:1-2) Fenomenologimerefleksikan pengalaman langsung manusia, sejauh pengalaman itu secara intensifberhubungan dengan suatu objek. Fenomenologi mencoba mencari pemahaman bagaimanamanusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting, dalam kerangkaintersubjektivitas. Intersubjektif karena pemahaman kita mengenai dunia dibentuk olehhubungan kita dengan orang lain. Dengan melakukan studi terhadap pengalaman parapasangan suami istri perkawinan jarak jauh diharapkan dapat membuka pemahamanmengenai konflik pasangan-pasangan tersebut. Dalam penelitian ini, informan berbagipengalaman konflik mereka, seperti konflik apa saja yang sering mereka hadapi, danbagaimana cara mereka menyelesaikan konflik tersebut.2.4. Analisis DataBerdasarkan jenis data, yaitu data kualitatif, maka teknik analisis data dilakukandengan pendekatan fenomenologi dari Van Kaam (oleh Moustakas dalam Basrowi danSuwandi, 2008:227)2.5. Temuan Penelitian dan Sintesis Makna Tekstural dan Struktural DialektikaKonflik dan Pengalaman Komunikasi Pasangan Perkawinan Jarak Jauhdalam Proses Penyelesaian Konflik Rumah Tangga2.5.1. Dialektika Konflik2.5.1.1.Integration ? Separation (Connection ? Autonomy) dan (Inclusion-Seclusion)Dalam hubungan perkawinan, menurut Mary Anne Fitzpatrick (Budyatna, 2011:166) meskipun ada kesamaan mengenai kebutuhan-kebutuhan yang nyata dalam mitraperkawinan, tidak ada cara perkawinan ideal yang tunggal. Pasangan-pasangan perkawinandapat dibedakan atas dasar mengenai ?ketidaktergantungan? mereka pada tingkat dimanamereka berbagi perasaan satu sama lain. Pada pasangan perkawinan jarak jauh, kondisihidup yang terpisah dengan pasangan maupun keluarga dan menjadi mandiri adalahsemacam tuntutan yang harus dijalani. Untuk itu tidak heran, saat berjauhan, pasangan iniharus mengesampingkan keinginan untuk selalu berada dekat dan tergantung denganpasangan maupun keluarga namun tetap menjaga komunikasi supaya keintiman hubungantetap terjalin harmonis.?Ketidaktergantungan? pada pasangan ini dapat dikaitkan dengan kontradiksiintegration-separation yang merupakan kontradiksi antara otonomi dan keterikatan yangmerujuk pada keinginan-keinginan kita yang selalu muncul untuk menjadi tidak tergantungpada orang-orang yang penting bagi kita dan juga untuk menemukan keintiman denganmereka. (West & Turner, 2008: 237). Kontradiksi ini terjadi didalam hubungan denganpasangan atau diantara pasangan dengan komunitas. Dalam hal autonomy ataupuninclusion, masih berkaitan dengan teori dialog oleh Martin Buber (Littlejohn, 2009:302)dimana sesuai dengan salah satu karakteristik relasi I-It, yaitu mementingkan diri sendiri.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantara pasanganperkawinan jarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antara keinginan untukmendekatkan diri atau menjauhkan diri dengan pasangan (connection-autonomy) ataupunkeluarga dan lingkungan (inclusion-seclusion) karena kegiatan personal, aktivitas denganlingkungan sosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemu keluarga,konflik pribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidakmelakukan aksi keduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan.2.5.1.2.Stability ? Change (Certainty-uncertainty) dan (Conventionality-Uniqueness)Fitzpattrick mengungkapkan salah satu dimensi dimana pasangan perkawinandapat dibedakan berdasarkan ideologi mereka. Ideologi merupakan keadaan dimana paramitra menganut sistem keyakinan tradisional dan nilai-nilai terutama mengenaiperkawinan dan peran seks, atau menganut keyakinan-keyakinan nontradisional dan nilainilaiyang toleran terhadap perubahan dan ketidakpastian dalam hubungan. (Budyatna,2011:166). Ideologi ini dapat menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya dialektikaantara Stability ? Change yang merupakan kontradiksi antara hal yang baru dan hal yangdapat diprediksi merujuk pada konflik-konflik antara kenyamanan stabilitas dan keasyikanperubahan. Dialektik melihat interaksi antara kepastian dan ketidakpastian dalamhubungan. (West & Turner, 2008: 237).Dari hasil penelitian diketahui adanya kontradiksi antara keinginan untukmelakukan rutinitas atau spontanitas dengan pasangan (certainty-uncertainty) dikarenakankondisi keuangan yang semakin menipis, keinginan dalam hal seksualitas yang berbedaantara suami istri, rutinitas hobi yang melalaikan peran dalam rumah tangga, ataukehadiran anak-anak. Dalam hal kontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakanhal yang unik (conventionality-uniqueness) terjadi dalam hal pengambilan putusan karenasampai saat ini informan masih tinggal bersama orang tua mereka. Pengambilan putusantetap dilakukan suami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orang tua masih ikutcampur urusan rumah tangga.2.5.1.3. Expression ? Non expression (Openess-Closedness) dan (Revelation-Concealment)Dialektika ini merupakan kontradiksi antara keterbukaan dan perlindunganberfokus yang pertama pada kebutuhan-kebutuhan kita untuk terbuka dan menjadi rentan,membuka semua informasi personal pada pasangan atau mitra hubungan kita, dan yangkedua untuk bertindak strategis dan melindungi diri sendiri dalam komunikasi kita. Posisidialektika mempunyai sifat baik/maupun (both/and) berkaitan dengan keterbukaan danketertutupan (West & Turner, 2008: 237). Openess ? Closedness merupakan kontradiksiantara keinginan untuk terbuka dengan pasangan dan tertutup. Sedangkan revelationconcealmentmerupakan kontradiksi antara keinginan untuk mengungkapkan informasidengan keluarga ataupun komunitas dan menyembunyikan informasi.Seperti yang diungkapkan pula oleh DeVito (1997:57) bahwa pengungkapan dirisebagai bentuk komunikasi dimana kita mengungkapkan sesuatu tentang siapa kita, yangdapat dijelaskan dalam Jendela Johari (Johari Window) yang dibagi menjadi empat daerahatau kuadran pokok yang masing-masing berisi diri (self) yang berbeda. Daerah terbuka(open self), daerah buta (blind self), daerah gelap (unknown self), dan daerah tertutup(hidden self).Kontradiksi antara keinginan untuk terbuka atau tertutup dengan pasangan(openess-closedness) memiliki jawaban yang hampir mirip, dimana pasangan informanterbuka namun selektif karena memiliki daerah tertutup (hidden self) yang dirahasiakanuntuk menjaga perasaan pasangannya. Dan pasangan lain terbuka sepenuhnya. Selain ituketiga pasangan juga memiliki semacam keluhan kepada pasangannya namun tidak beraniatau belum sempat diutarakan kepada pasangannya. Seperti ketakutan pasangan selingkuh,keegoisan pasangan, kejujuran pasangan, dan cemburu yang tidak beralasan. Mengenaikontradiksi keinginan untuk terbuka pada keluarga dan lingkungan (revelationconcealment)memiliki jawaban yang serupa diantara informan. Ketiga pasangan memilikikeinginan yang sama untuk tidak terlalu terbuka kepada orang tua ataupun keluarga.Berkaitan dengan lingkungan sosial, hanya 1 pasangan informan yang mengungkapkanbahwa terkadang sharing dengan teman seprofesi atau teman lain.2.5.1.4.Kesediaan menjalani perkawinan jarak jauhKuntaraf (1999: 78) mengungkapkan, keinginan untuk dapat dimengerti olehorang lain merupakan keinginan yang umum bagi kita. Mungkin saja kita memiliki alasanyang tepat dengan penuh pengertian, serta tindakan atau kebiasaan kita yang benar, namuntidak ada gunanya untuk mengharapkan agar kita dapat dimengerti oleh orang lain, kecualikita sendiri dapat mengerti orang lain. Selain itu adalah sangat penting bagi masing-masinguntuk mengerti, bukan dimengerti karena latar belakang dan lingkungan setiap orangberbeda, dan latar belakang yang berbeda itu dibawa ke pernikahannya masing-masing.Dari hasil penelitian diketahui bahwa informan ada yang menerima dengan ikhlas dan adapula yang terpaksa menerima kondisi perkawinan jarak jauh untuk memenuhi kebutuhanekonomi.2.5.2. Pengalaman Komunikasi Pasangan Perkawinan Jarak Jauh dalam ProsesPenyelesaian Konflik Rumah Tangga2.5.2.1. Persepsi tentang KonflikPersepsi mengenai konflik itu menjadi hal yang penting karena akanmempengaruhi solusi dari penyelesaian konflik. Konflik dapat memiliki efek negatif bilatidak dikelola dengan baik. Konflik juga bisa memiliki manfaat positif bagi hubungan kitadengan orang lain bila dikelola secara konstruktif. Ada beberapa manfaat konflik,diantaranya konflik dapat: menjadikan kita sadar bahwa ada persoalan yang perludipecahkan dalam hubungan kita dengan orang lain,dll (Supratiknya, 1995: 95-96)Dalam penelitian ini, konflik dianggap memiliki manfaat positif. Konflik dianggapsebagai proses pembelajaran karena dapat memperjelas keinginan dari kedua pasanganagar dicapai jalan penyelesaian yang cepat dan tidak berlarut lama. Selain itu konflik dapatmembuat informan mengerti dan mengenal sifat pasangan, mengetahui kelebihan sertakekuarangan masing-masing serta menguji kesabaran. Konflik juga dianggap sebagaiproses adaptasi dengan pasangan karena masing-masing individu berasal dari 2 keluargayang cara pemikirannya berbeda, dan juga sebagai anugerah, ekspresi kasih sayang kepadapasangan2.5.2.2. Peran dalam Konflik. Ada empat peranan yang terungkap dalam konflik: a mover, merupakanpasangan yang mendefinisikan atau memulai aksi; a follower merupakan pasangan yangmenyetujui, mendukung dan melanjutkan aksi; an opposer adalah pasangan yangmenentang dan selalu melawan aksi; dan a bystander merupakan pasangan yangmengamati apa yang terjadi tetapi tetap tidak bergeming, Sadarjoen (2005:51).Terkait peran dalam konflik, ada 3 peran dalam konflik yang terungkap dari hasilwawancara ketiga pasang informan. A mover, follower dan opposer. Ketiga pasanginforman memiliki peran yang sama yaitu sebagai a mover dan a follower.2.5.2.3. Situasi Tahap Awal Konflik (ekspresi pertentangan dan respon yangditunjukkan)Daya ekspresi atau ekspresi pertentangan menurut DeVito (1997:266) mengacupada keterampilan mengkomunikasikan keterlibatan tulus dalam interaksi antarpribadi.Daya ekspresi sama dengan keterbukaan dalam hal penekanannya pada keterlibatan, danini mencakup, misalnya, ekspresi tanggung jawab atas pikiran dan perasaan, mendorongdaya ekspresi atau keterbukaan orang lain, dan memberikan umpan balik yang relevan danpatut. Kualitas ini juga mencakup pemikulan tanggung jawab untuk berbicara danmendengarkan, dan dalam hal ini sama dengan kesetaraan.Respon merupakan tanggapan terhadap pesan mengenai apa yang telahdiputuskan oleh penerima. Respon dapat bersifat positif, netral, maupun negatif. Responpositif apabila sesuai dengan yang dikehendaki komunikator. Netral berarti respon itutidak menerima ataupun menolak keinginan komunikator. Dikatakan respon negatifapabila tanggapan yang diberikan bertentangan dengan yang diinginkan oleh komunikator.Pada dasarnya respon merupakan informasi bagi sumber sehingga ia dapat menilaiefektivitas komunikasi untuk selanjutnya menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.(Suranto: 2011:8).Dari penelitian ini terungkap bahwa ekspresi pertentangan berupa marah,menangis, terus terang, bertindak tanpa pemikiran yang matang, dan memberikan nasehat.Sedangkan respon yang ditunjukkan adalah mengimbangi, tidak peduli, protes, menangis,dan menerima masukan.2.5.2.4. Strategi KonflikMenurut Devito (1997: 270) ada beberapa strategi konflik yang sering digunakantetapi tidak produktif. Dan ada beberapa prinsip manajemen konflik yang efektif danproduktif. Dari hasil penelitian diketahui bahwa strategi yang digunakan oleh pasanganperkawinan jarak jauh adalah manajemen konflik efektif maupun tidak efektif atau tidakproduktif. Manajemen konflik efektif adalah I messages dan bertengkar aktif sedangkanmanajemen konflik tidak produktif diantaranya menyalahkan, peredam, dan karung goni.Alan Sillar dalam teorinya an Attribution Theory of Conflict menyaring kembaliskemanya yang terdahulu mengenai atribusi teori dan menghubungkan pada ketigakategori resolusi konflik ini: avoidance behaviors, competitive behaviors, dan cooperativebehaviors. Avoidance behaviors merupakan perilaku menghindari menggunakankomunikasi, atau komunikasi tidak langsung. Competitive behaviors melibatkan pesannegatif. Dan cooperative behaviors yang memerlukan komunikasi yang lebih terbuka danpositif. (lLittlejohn, 1999: 277)Pada penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa pasangan informan 1merupakan pasangan yang memiliki cooperative behaviors, sedangkan pasangan informan2 merupakan pasangan yang memiliki competitive behaviors, dan pasangan 3 memilikicompetitive behaviors dan istri pasangan 3 memiliki avoidance behaviors, individu yangmenghindari komunikasi untuk menyelesaikan konflik.2.5.2.5.Proses mencari solusi (kebebasan menyampaikan pendapat, kesediaanmendengar pasangan,mempertimbangkan situasi kondisi pasangan )Dalam penelitian ini terungkap bahwa pada dasarnya setiap informan ingin selaluberinteraksi dengan pasangan dengan cara mengungkapkan pendapat kepada pasangan.Mengungkapkan pendapat sangat diperlukan supaya pokok permasalahan menjadi jelassehingga mudah dicari solusi dan juga mengungkapkan bahwa informan ingin dimengertioleh pasangannya. Mengungkapkan pendapat dapat menjadi indikator keterbukaan kepadapasangan karena tidak ada yang ditutup-tutupi. Namun meskipun sudah menyatakanpendapat, ada informan yang menyadari bahwa pendapatnya pada akhirnya tidak terlaludianggap oleh pasangannya. Seperti yang diungkapkan oleh Johannesen (1971) dalamLiliweri (2011: 408) bahwa salah satu karakteristrik hubungan Aku-Engkau adalah mutualopenness, yaitu adanya pola-pola perilaku dan sikap `yang memiliki sifat-sifat sepertihubungan timbal balik, membuka hati, gamblang dan terus terang, kejujuran danspontanitas, keterbukaan, berkurangnya sikap kepura-puraan, tidak bersikap manipulatif,persekutuan, intensitas, dan cinta dalam arti tanggungjawab satu sama lain.Mendengarkan pasangan juga menjadi salah satu syarat terjadinya komunikasiyang dialogis. Tanpa adanya kesediaan kedua pasangan saling mendengar secara aktif satusama lain, maka tidak akan terjadi dialog diantara pasangan tersebut. Menurut Kuntaraf(1999: 79) setiap pasangan suami istri yang mengambil waktu berhenti sejenak untukmendengar akan meningkatkan harga diri pasangannya. Hal ini perlu dihayati sebab padahakikatnya adalah lebih mudah untuk berbicara daripada mendengar. Kemampuanmendengar pasangan informan dalam penelitian ini cukup bervariasi. Ketiga pasanganinforman memang sama-sama mencoba untuk mendengarkan pasangan saat terjadikonflik. Bagi pasangan perkawinan jarak jauh, kemampuan mendengarkan mutlak harusdiasah lebih baik karena mereka lebih sering berkomunikasi melalui perantara yangcenderung rentan terhadap gangguan.Mempertimbangkan situasi dan kondisi pasangan dapat menjadi bentuk empatiyang merupakan kunci terjadinya komunikasi yang dialogis. Menurut Fisher dalamSadarjoen (2005:85) empati adalah kemampuan mengidentifikasi status emosional dariorang lain manakala orang tersebut tidak mampu mengaktualisasikannya dengan perasaanyang sama dan merupakan prasyarat bagi kekuatan pasangan dalam menjalin komunikasisatu sama lain. Dari hasil penelitian diketahui pada dasarnya adalah keharusan bagiinforman suami untuk memahami kondisi istri sebagai perempuan yang memiliki masamasalabil setiap bulannya yang mempengaruhi dalam proses penyelesaian konflik.Sedangkan istri pun mencoba memahami situasi dan kondisi suami dengan memahamikesibukan mereka bekerja, terutama pelaut yang kadang terhambat oleh cuaca burukseperti badai ekstrem. Bagi istri, meskipun sudah memahami suami terkadang merasasuaminya yang tidak memahaminya karena selalu menuntut untuk diutamakan.2.5.2.6. Persepsi mengenai solusiKuntaraf (1999: 102) mengungkapkan bahwa dalam berbagai konflik yangdihadapi, ada beberapa pemecahan konflik yang biasa terjadi. Beberapa contoh pemecahankonflik terdiri atas: akomodasi (kalah-menang), menghindar (kalah-kalah), kompetisi(menang-kalah), kompromi, dan kolaborator (menang-menang).Dari hasil penelitian terungkap bahwa terdapat tiga persepsi mengenai solusi yangdiambil. Solusi yang memuaskan, kadang memuaskan dan tidak memuaskan. Solusi tidakmemuaskan, merupakan kondisi dimana salah satu informan istri mencoba untuk mengalahdengan hasil keputusan suami. Mengalah demi perdamaian menandakan bahwa informanistri menggunakan cara akomodosi sebagai bentuk pemecahan konflik.2.5.2.7. Kendala atau HambatanKomunikasi interpersonal dalam prosesnya terdapat komponen-komponenkomunikasi yang secara integratif saling berperan sesuai dengan karakteristik komponenitu sendiri (Suranto, 2011:7). Diantara beberapa komponen tersebut ada 2 komponen yangberkaitan dengan kendala atau hambatan dalam penyelesaian konflik, yaitu gangguan(noise) dan konteks komunikasi.Gangguan atau noise merupakan apa saja yang mengganggu atau membuatkacau penyampaian dan penerimaan pesan, termasuk yang bersifat fisik dan phsikis.Sementara komunikasi selalu terjadi dalam konteks tertentu, paling tidak ada tiga dimensiyaitu ruang, waktu, dan nilai. Konteks ruang menunjuk pada lingkungan konkrit dan nyatatempat terjadinya komunikasi. Konteks waktu menunjuk pada waktu kapan komunikasitersebut dilaksanakan. Konteks nilai meliputi nilai sosial dan budaya yang mempengaruhisuasana komunikasi seperti adat istiadat, situasi rumah, norma sosial, norma pergaulan,etika, tata krama dan sebagainya.Dari hasil penelitian terungkap kendala internal dialami oleh sebagianinforman. Kendala internal atau dapat dikatakan noise yang bersifat phsikis yangterungkap dari penelitian ini adalah sifat egois yang dimiliki informan saat membahassuatu konflik dengan pasangannya. Ada pula informan yang kesulitan berkomunikasidengan pasangannya dikarenakan dirinya merasa kurang ekspresif.Kendala eksternal meliputi saluran, maupun konteks ruang, waktu, dan nilai. Noisepada saluran terjadi saat seringnya errorr pada teknologi komunikasi yang mereka gunakanataupun terlambat penyampaiannya. Sedangkan kondisi yang berjauhan dari pasangan jugamembuat penyelesaian konflik terhambat bagi ketiga pasangan informan ini. Kondisi disinitermasuk kondisi di lingkungan kerja dan kondisi jarak yang berjauhan diantara pasangan,bahkan kondisi tempat tinggal yang serumah dengan orang tua. Ada pula informan yangterpengaruh oleh kesibukan kerja dan kesibukan mengurus rumah tangga sehingga tanpasadar menghambat penyelesaian konflik. Orang tua dan lingkungan sosial (teman-teman)juga terkadang menjadi penghambat dalam proses penyelesaian konflik karena ada yangsuka memanas-manasi, sedangkan orang tua terkadang ikut campur masalah denganpasangan.3. PENUTUP3.1. SimpulanDialektika konflik diantara pasangan perkawinan jarak jauh terjadi cukupbervariasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantarapasangan perkawinan jarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antarakeinginan untuk mendekatkan diri atau menjauhkan diri dengan pasangan ataupunkeluarga dan lingkungan karena kegiatan personal, aktivitas dengan lingkungansosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemu keluarga, konflikpribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidakmelakukan aksi keduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan. Kemudianadanya kontradiksi antara keinginan untuk melakukan rutinitas atau spontanitasdengan pasangan dikarenakan kondisi keuangan yang semakin menipis, keinginandalam hal seksualitas yang berbeda antara suami istri, rutinitas hobi yangmelalaikan peran dalam rumah tangga, atau kehadiran anak-anak.Dalam hal kontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakan halyang unik terjadi dalam hal pengambilan putusan karena sampai saat ini informanmasih tinggal bersama orang tua mereka. Pengambilan putusan tetap dilakukansuami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orang tua masih ikut campururusan rumah tangga. Sedangkan mengenai kontradiksi antara keinginan untukterbuka atau tertutup dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan informanmencoba saling terbuka namun tetap memiliki informasi yang dirahasiakan.Mengenai pengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik,strategi yang digunakan oleh pasangan perkawinan jarak jauh adalah manajemenkonflik efektif maupun tidak efektif. Dalam hal kendala, pasangan perkawinanjarak jauh cukup memiliki kendala yang menghambat dalam proses penyelesaiankonflik, baik itu kendala internal maupun eksternal. Disarankan bagi peneliti yangingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauh lebih dapatmempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensipertemuan dengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflikdan dialektika yang terjadi.3.2. SaranSecara teoritis, penelitian ini berusaha memberikan gagasan ilmiah, terutama padaTeori Dialektika Relasional, dimana ketegangan-ketegangan yang terjadi tidak selaludiantara 2 hal yang bertentangan. Salah satu contoh seperti temuan penelitian dimanaterdapat aksi diam yang dilakukan oleh pasangan diantara dialektika untuk mendekatkandiri atau menjauhkan diri dari pasangan. Peneliti juga menyarankan bagi peneliti lain yangingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauh lebih dapatmempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensi pertemuandengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflik dan dialektikayang terjadiSecara praktis, bagi pasangan perkawinan jarak jauh ada beberapa hal yang harusdiperhatikan untuk menjaga keharmonisan dengan pasangan, seperti lebih seringmelakukan aktivitas spontanitas bersama pasangan supaya hubungan tidak membosankan.Selain itu lebih terbuka dan ekspresif dalam segala hal, termasuk menyampaikan keluhankeluhanyang selalu dipendam, dan tetap ber empati kepada pasangan. Perlu ditekankanjuga bahwa konflik tidak selalu berkaitan dengan hal negatif asalkan dikelola dengan carayang efektif.Secara sosial, ada baiknya pasangan yang akan menjalani pasangan perkawinanjarak jauh, mempertimbangkan kesiapan diri, karena cukup banyak kendala yang dialamipasangan ini saat berkomunikasi dengan pasangan.4. DAFTAR PUSTAKABasrowi dan Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka CiptaDenzin, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research.Yogyakarta: Pustaka PelajarDeVito, Joseph A. (1997). Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Professional BooksGriffin, Emory A. (2011). A first look at Communication Theory-8ed. NY: McGraw HillJamil, M. Mukhsin. (2007). Mengelola Konflik Membangun Damai: Teori, Strategi danImplementasi Resolusi Konflik. Semarang: Walisongo Mediation CenterKuntaraf, Kathleen H Liwijaya dan Jonathan Kuntaraf. (1999). Komunikasi Keluarga:Kunci Kebahagiaan Anda. Bandung: Indonesia Publishing HouseKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi,Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya PadjadjaranLepoire, Beth A. (2006). Family Communication, Nurturing and Control in a ChangingWorld. California: Sage Publications, IncLiliweri, Alo. (2011). Komunikasi: Serba Ada Serba Makna. Jakarta: KencanaLittlejohn, Stephen W. (1999). Theories of Human Communication sixth edition.USA:Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi: Theories Of HumanCommunication. Jakarta: Salemba HumanikaMoleong, Lexy J. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: SagePublications, IncSadarjoen, Sawitri Supardi. (2005). Konflik Marital: Pemahaman Konseptual, Aktual danAlternatif Solusinya. Bandung: Refika AditamaSoyomukti, Nurani. (2010). Pengantar Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Ar-RuzzSupratiknya, A. (1995). Komunikasi Antar Pribadi, Tinjauan Psikologis. Yogyakarta:KanisiusSuranto, AW. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha IlmuWalgito, Bimo. (2004). Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Andi OffsetWest, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis danAplikasi,edisi 3. Jakarta: Salemba HumanikaSumber dari InternetA. Pengantin Baru Kok, Sering Bertengkar. (2012) dalamhttp://log.viva.co.id/news/read/144808-pengantin_baru_kok_sering_bertengkar,diakses tanggal 31 Oktober 2012, pukul 21.00Kewajiban Suami terhadap Istri. (2007). dalam http://kawansejati.org/208-kewajibansuami-terhadap-istri, diakses 15 Februari 2013, 10.50)Nia Angga. (2011). Long Distance Relationship (LDR). dalamhttp://anggania.blogspot.com/2011/11/long-distance-relationship-ldr.html , diaksestanggal 15 Juli 2012, pukul 22.05Oom Komarudin. (2009). Bila Suami Jauh dari Istri, dalamhttp://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=14636, diakses 15 Februari2013, 10.45).Mohammad Ridwan. (2012). Long Distance Relationship Jadi Penyebab TingginyaPerceraian. http://www.lensaindonesia.com/2012/12/17/long-distance-relationshipjadi-penyebab-tingginya-perceraian.html, diakses 15 Februari 2013, 10.53Supriyono Sarjono. (2009). The Dissolution Of Marriage-Tahun-tahun Rawan Perceraiandalamhttp://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article&id=590:the-dissolution-of-marriage-tahun-tahun-rawan-perceraian&catid=43:rumahtangga&Itemid=63, diakses tanggal 16 juli 2012, pukul 20.10
ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN MENGENAI UJIAN NASIONAL 2013 DI HARIAN KOMPAS Wiranto, Rani Rakhmaputri; Sunarto, Sunarto; Yulianto, Muchamad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN MENGENAIUJIAN NASIONAL 2013 DI HARIAN KOMPASRani Rakhmaputri WirantoD2C009095Jurusan Ilmu KomunikasiFakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu PolitikUniversitas Diponegoro SemarangABSTRACTNational test is held as a way to syncronise education level throughout Indonesia. Nevertheless it isalways be a controversy that never end on each year. Many said this year is the worst national testbecause the test itself didn?t held at same time. This problem had rose many opinion about the importanceof national test.Kompas used this as headline. Every media has unique characteristic that differensiate between oneand another. this characteristic made every newspaper has different ways to write the news. Kompaschose to focus the news on people opinion about the national test.This research used descriptive methos with framin analysis method which is developed by RobertN Entman. The purpose of this study is to analyse the way Kompas wrire the news and to understand thebackground why Kompas write the news as the way it was.This research indicate that Kompas was focused to the effect of the delay of national test. It can beseen with impact framing that Kompas used and used human interest and information frame to makeanalysis.Kompas tried to picture about the mess of management of education in Indonesia as the caused ofthe national test delay. Every problem that happened in each national test only indicate that ministry ofeducation cannot do their job professionally.Kompas also showed the effect of national test delay on students. Every student that happened thenational test delay has their psychological taken the toll. Every stakeholder must realized that everyproblem happened in national test caused stress to students. Kompas used this method as their vision?amanat hati nurani rakyat?.Key word: national test, Kompas, framingABSTRAKSIIdealita ujian nasional dilaksanakan untuk meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan diwilayah Indonesia. Akan tetapi, pelaksanaan ujian nasional sendiri, selalu menuai kontroversi dari tahunke tahun. Pada tahun ini,ujian nasional dianggap sebagai ujian nasional terburuk dikarenakan tidakserempaknya pelaksanaan ujian nasional di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi beritautama di berbagai media massa dan membuat berbagai opini publik bermunculan mengenai fungsi ujiannasional itu sendiri, terkait masih penting atau tidaknya diadakan ujian nasional pada tahun depan.Kompas, sebagai koran nasional, tentu saja tidak melewatkan berita ini untuk ditampilkan sebagaiheadline news. Institusi media massa memiliki karakteristik atau kepribadian, begitu juga dengan harianKompas. Karakteristik inilah yang mendorong setiap institusi media massa melahirkan kebijakan redaksiyang berbeda. Pemberitaan mengenai ujian nasional di koran Kompas memberikan gambaran tersendirimengenai ujian nasional di Indonesia. Bagaimana ujian nasional diberitakan, nantinya akanmempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap ujian nasional itu sendiri.Tipe penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode análisis framing yangdikembangkan oleh Robert N. Entman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembingkaian harianKompas tentang pemberitaan mengenai pelaksanaan ujian nasional 2013 dan juga memahami latarbelakang pembingkaian tersebut.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kompas membuat penonjolan terhadap dampakdampakyang terjadi akibat penundaan ujian nasional. Hal ini terlihat dari digunakannya dominasi polabingkai Impact, yang lebih ditonjolkan dalam headline. Selain itu, dalam pemberitannya mengenai ujiannasional, Kompas juga menggunakan pola bingkai Human Interest dan Information.Kompas mencoba membentuk kontruksi bahwa penundaan ujian nasional yang terjadi,menunjukkan bahwa sebenarnya manajemen pendidikan di Indonesia masih buruk. Dengan berbagaipermasalahan yang terjadi dalam ujian nasional yang merupakan agenda nasional tahunan yangdiselenggarakan oleh pemerintah, mencerminkan juga bahwa kinerja Kemdikbud tidak profesional.Dalam pemberitaannya, Kompas juga tidak hanya menampilkan mengenai kekacauan yang terjadipada ujian nasional, tetapi juga menampilkan dampak dampak psikologis pada siswa yang mengalamipenundaan ujian nasional. Ditampilkan bahwa seolah-olah siswa menjadi korban terus menerus sehinggapemerintah dinilai perlu mengambil langkah tegas untuk mengevaluasi UN. Hal tersebut juga terkaitdengan visi humanisme transendentalnya yang mengutamankan humanitas dan ?Amanat Hati NuraniRakyat? sehingga Kompas mengemban tugas mulia untuk menyampaikan apa yang dirasakan olehmasyarakat.Key words : ujian nasional, koran Kompas, pola bingkai1. PendahuluanUjian nasional yang diadakan setiap tahun, baik di tingkat SD, SLTP, maupun SLTA bertujuanuntuk meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Selama inikualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia tidak sama. Kualitas pendidikan di pulau Jawatidak sama dengan kualitas pendidikan di pulau Papua. Dengan dilaksanakannya ujian nasional,diharapkan dapat diketahui kualitas pendidikan di masing-masing daerah, sehingga pemerintahbisa mengatasi ketimpangan kualitas pendidikan antara daerah satu dengan daerah lainnya.Namun dalam kenyataannya ujian nasional yang dimaksudkan untuk mencapai standarkemampuan siswa, justru memunculkan berbagai persoalan.Dari tahun ke tahun UN (Ujian Nasional) selalu menuai banyak kontroversi. Banyakpihak-pihak yang merasa bahwa ujian nasional tidak perlu dilaksanakan dengan berbagai alasan.Masalah Ujian Nasional (UN) tiap tahun selalu ramai dibicarakan, mulai dari persiapan siswadengan berbagai bimbingan belajar, orang tua dengan menyiapkan materi untuk mendukung paraputranya, pihak sekolah dengan berbagai penganyaan dan uji coba UN, pemerintah denganmemberikan materi pokok UN, masyarakat dengan katentuan / syarat pelulusan yang sangatmemberatkan. Selain kebocoran soal, penyelenggaraan UN juga ditandai dengan adanyapecontekan massal yang sangat tidak etis dalam dunia pendidikan, apalagi menyangkut pesertadidik yang masih anak-anak.Belum selesai dengan itu semua, persoalan baru muncul ketika Kemendikbud melakukansuatu terobosan untuk memerangi kecurangan UN dengan menciptakan set soal sebanyak pesertadi ruang ujian. Terdapat 20 set soal yang berbeda dengan tingkat kesulitan yang sama, sehinggapara siswa tidak dapat melakukan kecurangan karena setiap siswa mengerjakan soal yangberbeda. Namun ternyata terobosan ini menyebabkan permasalahan baru, ketika perusahaanpercetakan tidak bisa mendistribusikan soal UN dengan tepat waktu. Pelaksanaan UN 2013 padajenjang SMA/SMK/MA/SMALB yang direncanakan diadakan secara serentak di Indonesia padatanggal 15 April mengalami kekacauan dikarenakan terlambatnya distribusi soal di 11 provinsi diIndonesia. Pengumuman penundaan ini pun baru diberitahukan sehari sebelum pelaksanaan UNyaitu pada tanggal 14 April. UN baru akan dilaksanakan di 11 provinsi yang mengalamiketerlambatan pada tanggal 18, 19, 22 dan 23 April. Hal ini tentu saja mengundang berbagaikomentar dari berbagai pihak, apalagi ini merupakan kejadian pertama dalam penyelenggaraanUN di Indonesia.Tidak hanya permasalahan mengenai keterlambatan soal saja yang mewarnai UN kali ini.Pelaksanaan UN 2013 tingkat SMA/SMK/MA/SMALB di sejumlah daerah juga mengalamikekacauan. Berbagai kesalahan teknis terjadi, sehingga menyebabkan berbagai persoalan. Mulaidari rendahnya kualitas lembar jawaban UN, tertukarnya paket-paket soal, kurangnya naskahsoal dan lembar jawaban UN, hingga indikasi kecurangan yang mulai dlaporkan ke poskopengaduan UN ataupun yang diungkapkan melalui media sosial. Kondisi tersebut seolahmenyempurnakan amburadulnya pelaksanaan UN pada tahun ini. Oleh sebab itu, tidak heran jikamedia menjadikan berita ini sebagai berita utama (headline).Ketika pengumuman pengunduran UN pada tingkat SMA ini diumumkan, semua medialangsung meliput berita ini dan menjadikannya sebagai headline news. Media massa merupakansarana penyampaian komunikasi dan informasi yang dapat diakses oleh masyarakat secara luas.Selain itu media massa bukan hanya memberikan informasi dan hiburan, tetapi juga memberikanpengetahuan kepada khalayak sehingga proses berfikir dan menganalisis sesuatu berkembangdan pada akhirnya membawa pada suatu kerangka berpikir sosial bagi terbentuknya sebuahkebijakan publik yang merupakan implikasi dari proses yang dilakukan elemen-elemen tersebut.Hal ini merupakan bagian bagaimana media merekontruksi realitas sosial di masyarakat.(Tamburaka, 2012 : 84)Dalam kurun waktu selama kurang lebih sebulan, yaitu dari tanggal 13 April hingga 15Mei, pemberitaan mengenai ujian nasional dibahas dalam ketiga surat kabar yakni Kompas,Suara Merdeka, dan juga Kedaulatan Rakyat. Untuk lebih jelas melihat ragam berita yangdihadirkan oleh Kompas, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat mengenai ujian nasional edisi 13April sampai 15 Mei 2013, disajikan dalam tabel berikut :Tabel 1.1Perbandingan jumlah ragam berita dalam surat kabar Suara Merdeka, Kompas,dan Kedaulatan Rakyat edisi 13 April ? 15 Mei 2013.Ragam Berita MediaSuara Merdeka Kompas Kedaulatan RakyatHeadline 7 judul 10 judul 7 judulArtikel 23 judul 24 judul 24 judulOpini 5 judul 8 judul 6 judulJumlah 35 judul 43 judul 37 judulPada pemberitaannya, Kompas selama ini mencoba menempatkan dirinya sebagai korannasional yang obyektif dan independen sehingga cenderung hati-hati dalam memberitakan suatuperistiwa. Institusi media massa memiliki karakteristik atau kepribadian, begitu juga denganharian Kompas. Karakteristik inilah yang mendorong setiap institusi media massa melahirkankebijakan redaksi yang berbeda. Pemberitaan mengenai ujian nasional di koran Kompasmemberikan gambaran tersendiri mengenai ujian nasional di Indonesia. Bagaimana ujiannasional diberitakan, nantinya akan mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap ujiannasional itu sendiri.2. Metode PenelitianPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dimana peneliti akanmenggambarkan bingkai pemberitaan yang dilakukan oleh harian Kompas terkait denganpemberitaan ujian nasional dengan menggunakan metode analisis framing. Analisis framingmencoba menangkap bentuk pemberitaan dalam kaitannya dengan bagaimana orientasi sebuahmedia memperlakukan fakta tertentu. (Nugroho, 1999;8)Subjek penelitian ini adalah pemberitaan pada harian Kompas tentang pelaksanaan ujiannasional 2013 pada periode tanggal 13 April ? 15 Mei 2013 yang terdiri sebanyak 10 berita yangdijadikan sebagai headline.Pengumpulan serta analisis data untuk analisis framing ini dilakukan secara langsungdengan mengidentifikasi wacana berita pada harian Kompas mengenai pemberitaan ujiannasional 2013 yang kemudian dianalis dengan menggunakan perangkat framing dari Robert N.Entmant. Entmant menekankan pada empat perangkat framing (Eriyanto, 2004 : 189- 195) yaitu(1) Define Problems; (2) Diagnose Causes; (3) Make Moral Judgement; (4) TreatmentRecommendation3. Hasil PenelitianDalam tabel dibawah tercantum daftar berita yang telah diteliti. Berita-berita tersebut adalahsebagian berita yang terkait dengan berita mengenai ujian nasional 2013 yang dimuat dalamharian Kompas selama periode 13 April hingga 15 Mei 2013 yang terdiri sebanyak 10 beritayang dijadikan sebagai headline.Tabel 3.1Hasil Analisis Seleksi Isu 10 BeritaNoBerita Define Problem DiagnoseCausesMake MoralJudgementTreatmentRecommendation1 DitundaKamis, UNdibayangiKebocoran.(15 April 2013)Framing :Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Manajemenpendidikan burukKinerjaKemdikbudyang tidakprofesionalTidakserentaknyaujian nasionalmerupakanpreseden burukdalampendidikannasionalPemerintahharus beranimengevaluasiapakah UNmemangdibutuhkanuntukmenentukankelulusan siswaatau seharusnyadipakai untukpemetaanpendidikan.2 PelaksanaanUjian NasionalKacau(16 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Pelaksanaan UNkacauDistribusinaskah perwilayahterkendalaDapat merusakmotivasi dankonsentrasisiswaBerbagai upayadilakukan untukmendistribusikansoal ke beberapadaerah.3 Kami sepertiKelinciPercobaan(16 April 2013)Framing : Polabingkai HumanInterestPenekananmasalah : SiswaSMA sepertikelinci percobaanKarutmarutnyapenyelanggaraan ujiannasional tahuniniPemerintahdinilai perlumengambillangkah tegasuntukmengevaluasiUN agar siswatidak menjadikorban terusmenerusKemdikbudperlu mengkajiulang kebijakanpencetakannaskah soal UN4 Distribusi SoalBelum Tuntas(17 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Sejumlahdaerah belummenerimapaket soalDistribusi soaltidak gampanguntuk sekolah? sekolah yangPresidenbersama-samadenganKemdikbud danDistribusi soalbelum tuntasberada dikepulauan.juga jajarantertinggiTNI/Polrimencari carabagaimana agarujian ini dapatdilakukandengan terbaik5 Ujian NasionalJalan Terus(18 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah : Ujiannasional?gelombangkedua? jalanterus.Ketersediaanpaket soalmasih menjadipersoalan disejumlahdaerahUntukmengantisipasiagar tidak adalagiketerlambatanprosespercetakan,Kemdikbudmemutuskanuntukmengalihkantugaspercetakan danpengepakannaskah soalUN dari PTGhaliaIndonesiaPrinting.Hasil UNgelombangkedua akan tetapmemiliki bobotdan fungsi yangsama denganhasil UN diprovinsi lainnya6 Harap harapCemas SiswaBerkepanjangan(18 April 2013)Framing : Polabingkai HumanInterestPenekananmasalah : Karutmarutpelaksanaan UNmengusikkonsentrasi parasiswaPara siswatelahmempersiapkan diri secaraintensifsetahunbelakangan ini.ManajemenUN sendirimencerminkanburuknyakinerja jajaranKemdikbudPemerintahharus beranimengevaluasiapakah UNmemangdibutuhkanuntukmenentukankelulusan siswaatau seharusnyadipakai untukpemetaanpendidikan.7 Investigasi UN Framing : Pola Sejumlah UN gelombangInvestigasidi duaPersoalan(19 April 2013)bingkai ImpactPenekananmasalah :Distribusi soalbelum beres.daerah belummenerimapaket soal.kedua masaharus ditundalagiterhadapkekacauanpenyelenggaraanujian nasionaldifokuskan didua persoalan,yakni distribusisoal danpersoalan tender.8 KeabsahanUjian NasionalDiragukan(22 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Keabsahan ujiannasionaldiragukan olehbanyak pihak.Banyakprosedurstandar yangdilanggar.UN kali initidakmenggambarkan prestasisiswa yangsebenarnya.Pemerintahharus beranibersikap tegas.9 Ujian NasionalTetap JadiSyarat(23 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah : HasilUN tetap menjadisyarat masukPTNTerjadi banyakkekacauandalampelaksanaanUNKekacauan UNkali ini bukankesalahansiswa,sehingga akandibicarakanlagi soalpertimbangannilai UN untukmasuk PTNSiswa haruslulus UN terlebihdahulu untukbisa diterima diPTN.10 BPK SarankanCetak diProvinsi(26 April 2013)Framing : PolabingkaiInformationPenekananmasalah : Prosesdistribusi naskahsoal UNdidesentralisasikan.BPKmenyikapikekisruhanpencetakan dandistribusinaskah soalUNPencetakannaskah soal didaerah ataupundi pusat hanyamasalah cara.Prosespencetakan bisasaja dilakukan diprovinsi tetapiharus betul betuldapat dipercaya.4. PembahasanTerdapat 43 berita yang dimuat oleh harian Kompas terkait dengan pemberitaan mengenai ujiannasional 2013. 10 judul berita merupakan headline, 24 judul berita termasuk ke dalam artikelpendidikan dan kebudayaan, dan 8 judul lainnya berupa opini yang dikeluarkan oleh Kompasmengenai ujian nasional. Dengan intesitas pemberitaan yang cukup tinggi mengenai ujiannasional, penelitian ini difokuskan kepada 10 judul berita yang dijadikan sebagai headline olehKompas. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, dengan menggunakan perangkat framingEntman, dapat diketahui bagaimana sikap Kompas terhadap pemberitaan mengenai ujiannasional. Berikut penjabarannya :Define problem atau pendefinisian masalah. Dalam membahas mengenai pemberitaanujian nasional, 10 berita yang diturunkan oleh Kompas sebagai headline news didominasi olehframe dengan pola bingkai impact. Tercatat dari 10 berita yang diberitakan, ada 7 berita yangmenggunakan pola bingkai impact dengan 2 berita menekankan masalah pada distribusi soalyang belum tuntas, 2 berita menekankan masalah terhadap keabsahan ujian nasional, 2 beritamenekankan masalah terhadap pelaksanaan UN yang kacau, 1 berita menekankan terhadapmanajemen pendidikan buruk, dan 1 berita menekankan masalah terhadap pelaksanaan UN yangkacau. 2 berita lain menggunakan pola bingkai human interest dengan menekankan masalahterhadap kondisi psikologis yang dialami oleh para siswa yang mengalami penundaan UN. 1berita lain menggunakan pola bingkai information dengan menekankan masalah agar prosespendistribusian soal didesentralisasikan atau dikembalikan ke provinsi.Dari penjelasan di atas, temuan yang didapat oleh peneliti menjadi pembenaran asumsipenelitian di bab pertama, bahwa dalam setiap pemberitaannya Kompas menggunakan beberapapola bingkai. Dalam pemberitaannya mengenai ujian nasional, Kompas menggunakan dominasipola bimgkai impact. Kompas lebih menonjolkan aspek dampak yang terjadi diakibatkanpenundaan ujian nasional dibandingkan dengan aspek aspek lainnya. Berita adalah segala sesuatuyang berdampak luas. Suatu peristiwa tidak jarang menimbulkan dampak besar dalam kehidupanmasyarakat. (Sumadiria, 2008 : 82).Dengan dampak-dampak yang ditampilkan oleh Kompas mengenai penundaan ujiannasional, seolah-olah mengajak para pembaca Kompas untuk mempertanyakan fungsi dan tujuandari ujian nasional itu sendiri, apakah memang masih bermanfaat untuk dijadikan sebagai tolakukur penentuan nasib kelulusan para siswa.Masalah terjadi disebabkan karena distribusi soal yang belum beres di sejumlah daerahsehingga berbagai kekacauan terjadi. Dengan berbagai kekacauan dan prosedur yang dilanggar,tentu saja keabsahan pada hasil UN tahun ini dipertanyakan apakah memang sesuai untukdijadikan sebagai syarat masuk PTN. Terlepas dari itu semua, manajamen UN sendirimencerminkan bahwa manajemen pendidikan di Indonesia masih buruk. Ujian nasional telahdiselenggarakan dari tahun ke tahun. Dengan alokasi anggaran UN lebih dari Rp 500 miliar,tentu saja seharusnya persiapan dan pelaksanaan UN di tingkat pusat terus membaik.Diagnose Causes atau memperkirakan penyebab masalah. Dalam memberitakan ujiannasional 2013, Kompas menyoroti distribusi naskah soal yang terkendala sebagai penyebabutama dari kekacauan ujian nasional kali ini. Tercatat dari 10 berita yang diturunkan olehKompas sebagai headline news, 5 berita menyoroti kekacauan yang terjadi pada UN tahun ini,sehingga keabsahan UN masih dipertanyakan dan juga membuat konsentrasi para siswa menjaditerusik, 4 berita menyoroti bagaimana distribusi naskah soal yang terkendala, dan bagaimanaketersedian paket soal masih menjadi persoalan di sejumlah daerah, 1 berita menyoroti kinerjaKemdikbud yang tidak profesional.Dalam pemberitaannya Kompas menyoroti berbagai permasalahan terjadi disebabkankarena distribusi naskah soal yang terkendala di sejumlah daerah. Terlepas dari itu, manajemenUN itu sendiri mencerminkan buruknya kinerja jajaran Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan,karena mengurus pendistribusian naskah soal saja tidak beres.Make Moral Judgement atau evaluasi moral. Menanggapi kekacauan yang terjadi akibatujian nasional, ada tiga evaluasi moral yang diberikan oleh Kompas, yaitu :Pertama, Pemerintah dinilai perlu untuk mengambil langkah tegas untuk mengevaluasiUN agar siswa tidak terus menerus menjadi korban. Kedua, untuk mengantisipasi agar tidak adalagi keterlambatan proses pencetakan naskah soal, sebaiknya Kemdikbud mengembalikan prosesdistribusi naskah soal lagi ke provinsi, atau didesentralisasikan. Ketiga, kekacauan UN kali inimembuat UN tidak menggambarkan prestasi siswa yang sebenarnya, sehingga tidak tepat untukdijadikan pertimbangan nilai untuk masuk PTN.Treatment Recommendation atau menentukan penyelesaian. Kompas memberikan empatrekomendasi yang bisa dilakukan dalam pemberitaan mengenai kacaunya pelaksanaan UN tahunini :Pertama, Pemerintah harus berani mengevaluasi apakah UN memang dibutuhkan untukmenentukan kelulusan siswa atau seharusnya dipakai untuk pemetaan pendidikan. Kedua,berbagai upaya telah dilakukan oleh Kemdikbud untuk mendistribusikan soal ke berbagai daerah,salah satunya dengan mengajak jajaran tinggi TNI/POLRI. Ketiga, hasil UN gelombang keduaakan tetap memiliki bobot dan fungsi yang sama dengan hasil UN di provinsi lainnya. Keempat,siswa harus lulus UN terlebih dahulu untuk bisa diterima di PTN berapapun nilainya.Jika dilihat dari pemberitaan yang dimunculkan, Kompas mencoba mengarahkan opinipublik agar mendesak pemerintah untuk mengevaluasi UN, apakah memang dibutuhkan untukmenentukan kelulusan siswa atau hanya dipakai untuk pemetaan pendidikan. Seperti yangdikatakan Wiryanto, adanya istilah ?the powerfull effect?, bahwa media memiliki suatu kekutandalam membentuk satu pikiran atau persepsi melalui terpaan media atau media exposure. Hal inibertujuan agar publik yang memanfaatkan media (baik cetak maupun elektronik) menjaditerpengaruh oleh pemberitaan media. (Wiryanto: 2005, 58).Kompas dalam pemberitaannya, memfokuskan masalah pada distribusi soal yang tidaktuntas. Secara tidak langsung, Kompas ingin menyampaikan bahwa kinerja Kemdikbud tidakprofesional dan juga masih buruknya manajemen pendidikan di Indonesia. Hal ini sesuai denganstrategi pembahasan yang dilakukan Kompas ketika berusaha mengupas sebuah masalah sensitifyang berkembang di tengah masyarakat dengan menggunakan model jalan tengah (MJT), yaitumenggugat secara tidak langsung: mengkritik tapi disampaikan secara santun, terkesan berputarputardan mengaburkan pesan yang hendak disampaikan.Tidak lupa dalam setiap pemberitaanya mengenai ujian naisonal, Kompas berbekaldengan tagline ?Amanat Hati Nurani Rakyat? juga menyertakan berbagai dampak psikologisyang dirasakan oleh para siswa yang mengalami penundaan ujian nasional. Seperti yang dimuatdalam Kompas pada tanggal 16 April 2013 dan 18 April 2013 dengan judul berita ?Kami sepertiKelinci Percobaan? dan ?Harap-harap Cemas Siswa Berkepanjangan?. Dalam kedua beritatersebut ditampilkan bahwa seolah-olah siswa menjadi korban terus menerus sehinggapemerintah dinilai perlu mengambil langkah tegas untuk mengevaluasi UN. Hal ini sesuaidengan visi humanisme transdental, Kompas menempatkan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi,mengarahkan fokus perhatian dan tujuan pada nilai-nilai yang transeden atau mengatasikepentingan kelompok. Oleh karena itu, pemberitaan Kompas yang kritis mengupas masalahmasalahyang ada dalam masyarakat serta cenderung berpihak kepada rakyat.5. PenutupSetelah terselesaikannya penelitian ini, maka kesimpulan yang dapat ditarik dalam pemberitaanmengenai ujian nasional adalah Kompas membuat penonjolan terhadap dampak-dampak yangterjadi akibat penundaan ujian nasional. Hal ini terlihat dari digunakannya dominasi pola bingkaiImpact, yang lebih ditonjolkan dalam headline yang dimunculkan oleh Kompas mengenai ujiannasional. Berita adalah segala sesuatu yang berdampak luas. Ujian nasional kali ini menimbulkandampak besar dalam kehidupan masyarakat, terutama untuk para siswa. Dengan dampak yangditimbulkan karena penundaannya, ujian nasional kali ini dianggap penting dan layak dijadikanberita. Selain itu, dalam pemberitannya mengenai ujian nasional, Kompas juga menggunakanpola bingkai Human Interest dan Information.Kompas mencoba mengkontruksi bahwa penundaan ujian nasional yang terjadi,menunjukkan manajemen pendidikan di Indonesia masih buruk. Dengan berbagai permasalahanyang terjadi dalam ujian nasional yang merupakan agenda nasional tahunan yangdiselenggarakan oleh pemerintah, mencerminkan juga bahwa kinerja Kemdikbud tidakprofesional.Dalam pemberitaannya, Kompas tidak hanya menampilkan mengenai kekacauan yangterjadi pada ujian nasional, tetapi juga menampilkan dampak dampak psikologis pada siswa yangmengalami penundaan ujian nasional. Ditampilkan bahwa seolah-olah siswa menjadi korbanterus menerus sehingga pemerintah dinilai perlu mengambil langkah tegas untuk mengevaluasiUN. Hal tersebut juga terkait dengan visi humanisme transendentalnya yang mengutamankanhumanitas dan ?Amanat Hati Nurani Rakyat? sehingga Kompas mengemban tugas mulia untukmenyampaikan apa yang dirasakan oleh masyarakat.DAFTAR PUSTAKAAgus, Salim. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta : Tiara WacanaArdianto, Elvinaro dan Lukiati Komala Erdinaya. (2007). Komunikasi Massa : Suatu Pengantar.Bandung : Simbiosa Rekatama Media.Bungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenada Media GroupBungin, Burhan, (2008). Konstruksi Sosial Media Massa : Kekuatan Pengaruh Media Massa,Iklan Televisi dan Keputusan Konsumen Serta Kritik terhadap PETER L. BERGER &THOMAS LUCKMANN. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.Chaer, Abdul. (2010). Bahasa Jurnalistik. Jakarta : Rineke CiptaDewabrata, AM. (2004). Kalimat Jurnalistik : Panduan Mencermati Penulisan Berita. Jakarta :KompasDenzin, Norman K., dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research.Diterjemahkan oleh Dariyanto dkk dengan judul Handbook of Qualitative Research.Yogyakarta: Pustaka PelajarEffendi, Onong Uchjana. (1993). Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek. Bandung : RemajaRosdakaryaEriyanto. (2003). Analisis Wacana : Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta : PT. LKiSYogyakarta.Eriyanto. (2003). Analisis Framing : Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta : PT.LKiS Yogyakarta.Ishwara, Luwi. (2011). Jurnalisme Dasar. Jakarta : KompasHamad, Ibnu. (2004). Kontruksi Realitas Politik Dalam Media Massa : Sebuah CriticalDiscourse Analysis Terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta : GranitKusumaningrat, Hikmat. (2005). Jurnalistik : Teori dan Praktik. Bandung : Remaja Rosdakarya.Moleong, J. Lexy. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja RosdakaryaMulyana, Dedy. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Komunikasi danIlmu Sosial Lainnya). Bandung : Remaja RosdakaryaMulyana, Dedy. (2007). Analisis Framing : Kontruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta.LKiS Pelangi AksaraNurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaRahardi, Kunjana. (2011). Bahasa Jurnalistik : Pedoman Kebahasan untuk Mahasiswa, Jurnalis,dan Umum. Bogor : Penerbit Ghalia IndonesiaRolnicky, Tom E, C. Dow Tate, Sherri A. Taylor. (2008). Pengantar Dasar Jurnalisme(Scholastic Journalism). Jakarta : Kencana.Santoso, FA. (2010). Sejarah, Organisasi dan Visi Misi Kompas. Pusat Informasi KompasShahab, A.A. (2008). Cara Mudah Menjadi Jurnalis. Jakarta : Diwan PublishingSudibyo, Agus. (2006). Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta : LKiS Yogyakarta.Suhandang, Kustadi. (2010). Pengantar Jurnalistik : Seputar Organisasi, Produk, dan KodeEtik. Bandung : NuansaSumadiria, Haris. (2006). Jurnalistik Indonesia : Menulis Berita dan Feature. Bandung : RemajaRosdakaryaSobur, Alex. (2009). Analisis Teks Media : Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, AnalisisSemiotik, dan Analisi Framing. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.Sobur, Alex. (2004). Analisis Teks Media. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.Tilaar, H.A.R. (2009). Kekuasaan dan Pendidikan : Manajemen Pendidikan Nasional dalamPusaran Kekuasaan. Jakarta : Rineke CiptaTamburaka, Apriadi. (2012). Agenda Setting Media Massa. Jakarta : RajaGrafindo, PersadaWiryanto. (2000). Teori Komunikasi Massa. Jakarta : PT. GrasindoZaenuddin, HM. (2011). The Journalist : Bacaan Wajib Wartawan, Redaktur, Editor, dan ParaMahasiswa Jurnalistik. Bandung : Simbiosa Rekatama MediaSumber dari internet :Hemas, GKR. (2013). Ujian Nasional Tidak Mendidik. Dalamhttp://www.tempo.co/read/kolom/2013/04/24/694/Ujian-Nasional-Tidak-Mendidik diunduh padatanggal 20 Mei 2013 pukul 17.30Purwoko. (2013). Apakah UN (Ujian Nasional) Harus Tetap Diadakan? Dalam http://alumniits.blogspot.jp/2013/04/apakah-un-ujian-nasional-harus-tetap.html diunduh pada tanggal 20 Mei2013 pukul 18.30
RESEPSI PEMIRSA TENTANG DISKRIMINASI GENDER DALAM TAYANGAN KAKEK-KAKEK NARSIS DI TRANS TV Saputro, Angga Widhi; Sunarto, Sunarto; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSINama : Angga Widhi SaputroNIM : D2C007006Judul : Resepsi Pemirsa Tentang Diskriminasi Gender dalam Tayangan Kakek-KakekNarsis di Trans TVPenelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya bentuk diskriminasi gender yang ada di media.Hal ini tidak terlepas dari adanya budaya patriarki yang ada di balik produksi teks danwacana yang ada dalam media. Media kerap menampilkan perempuan sebagai objek seks danlaki-laki sebagai subjeknya. Tayangan talk show bernama Kakek-Kakek Narsis diduga turutmempengaruhi dalam menampilkan perempuan yang hanya sebagai objek dari laki-lakidengan mengeksploitasi seksualitas yang dimilikinya.Penelitian ini menggunakan analisis resepsi penonton perempuan yang menyaksikantayangan Kakek-Kakek Narsis terhadap bentuk diskriminasi yang muncul, sebagai suatubentuk perlawanan terhadap kekuasaan laki-laki dimedia. Pada penelitian ini menggunakanteori pemaknaan Stuart Hall dengan model encoding-decoding untuk menganalisisresepsinya. Sedangkan teori utamanya yakni menggunakan teori Feminisme Radikal, jugadigunakan teori Standpoint sebagai pendukung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdengan metode wawancara mendalam. Subyeknya adalah para perempuan yang menyaksikantayangan Kakek-Kakek Narsis berkalangan menengah keatas.Hasil penelitian menunjukan, para pemirsa meresepsi ke dalam tiga tipe pemaknaanyang diantaranya yaitu dominan, negosiasi dan oposisi. Informan yang berada dalam posisidominan, memaknai sama seperti yang ditawarkan oleh media bahwa tindakan atau tayangandalam acara Kakek-Kakek Narsis tidak menampilkan bentuk-bentuk diskriminasimenganggap bahwa adegan yang dilakukan perempuan dalam tayangan ini adalah sikapprofesionalisme dalam bekerja. Sedangkan informan yang berada pada posisi negosiasimenyatakan, pengarahan seksualitas perempuan dalam tayangan ini adalah sebagai daya tarikacara. Namun, mereka juga menyebutkan bahwa perempuan juga mengalami tindakdiskriminasi seperti colekan, pelukan, kritikan fisik, dan penindasan oleh presenter laki-laki.Sementara bagi mereka yang masuk dalam posisi oposisi menjelaskan bahwa, semua yangditayangkan dalam acara Kakek-Kakek Narsis adalah merupakan bentuk diskriminasi danpenindasan terhadap kaum perempuan. Hasil penelitian ini telah memperkuat tentangpenyebaran ideologi patriarki yang dilakukan pihak pengelola melalui media massa yaknitelevisi sebagai alat kekuasaan (laki-laki) dalam mempertahankan status quo-nya dalambudaya patrirki di Indonesia.Keywords : talk show, diskriminasi, penindasan, patriarkiABSTRACTName : Angga Widhi SaputroNIM : D2C007006Title : Audience Reception of Gender Discrimination in Program Kakek-Kakek Narsis inTrans TVThis research based on many forms of gender discrimination in the media. It is not spite ofpatriarchal culture that is behind the production of text and discourse in the media. The mediaoften show women as sex objects and men as subjects. Programs talk show called Kakek-Kakek Narsis alleged also affect in presenting women as the object of male by exploiting itssexuality. This research used analysis reception that appears, as a form of resistance to malepower in the media.On this research using the theory of the meaning of Stuart Hall encoding-decodingmodel to analyze the reception. Whereas main theory which uses the theory of RadicalFeminism, Standpoint theory is also used as a support. This research use method a qualitativein-depth interviews. The subject is the women who watch the show Kakek-Kakek Narsismiddle class and above.The results showed, the audience make reception to the three types interpretationamong the dominant, negotiation and opposition. Informants who are in a dominant position,interpret the same as that offered by the media that the actions or impressions in the showKakek-Kakek Narsis did not show other forms of discrimination, assume that women doscenes in this show is the attitude of professionalism in work. Whereas informants who are ina position negotiating states, directing female sexuality in this show is as an attraction event.However, they also said that women also experience discrimination such as pokes, hugs,physical criticism, and oppression by the male presenter. While for those who are in theposition opposition of explaining that, all of which shown on the show Kakek-Kakek Narsiswas a form of discrimination and oppression of women. The results of this research hasstrengthened deployment of a patriarchal ideology that made the manager through the mediaof television as a tool of power (men) in maintaining the status quo in patriarchy culture inIndonesia.Keywords : talk show, discrimination, suppression, patriarchyPENDAHULUANDewasa ini bentuk-bentuk diskriminasi gender marak sekali bermunculan baik dilingkungansekitar maupun dalam dunia pertelevisian entah itu dalam bentuk verbal atau non verbal.Kondisi ini cukup mencemaskan yang mana kebanyakan diskriminasi tersebut ditujukan olehkalangan perempuan. Sangat memperhatinkan memang, ditengah-tengah masyarakat yangharusnya sudah ?modern?, secara prinsip rasionalitas, demokrasi, dan humanisme yang manajika dipandang melalui teori dapat mengurangi tindak diskriminasi, justru budaya tersebutkian menjamur di kehidupan masyarakat. Sangat jelas, akhir-akhir ini berita mengenaiketidakadilan, pelecehan seksual, dan lain-lain dirasakan betul oleh kaum perempuan.Bahkan media elektronik menggunakan wanita untuk kepentingan bisnis semata denganhanya menonjolkan kemolekan tubuhnya yang dijadikan ?mesin? dalam meraup keuntungan.Dalam dunia pekerjaan misalnya, dimana sebagian besar lowongan kerja profesiakuntan menginginkan dilakukan oleh perempuan karena dianggap lebih teliti dan ulet, dilainpihak kesempatan untuk menggunakan wewenang ternyata lebih kecil. Sebelum ditentukansebagai pegawai pun ada syarat-syarat atau perjanjian bahwa yang bersangkutan tidak bolehmenikah selama satu tahun. Karena umumnya perempuan pasca menikah akan hamil dankemudian mengambil cuti panjang dengan kontribusi sebagai pegawai yang belum maksimalmenambah kerugian bagi perusahaan.Masih ingat tentunya kasus Rumah Sakit Mitra Internasional yang memecat tigakaryawatinya karena bersikeras memakai jilbab sesuai syariat, yaitu menutup sampai dada.Hal ini mengundang tanya, adakah yang salah bila mengunakan jilbab saat bekerja? bentukbentukdiskriminasi semacam ini membatasi perempuan dalam mencari pekerjaan yang cocokdengan karakternya. Berbeda dengan kasus pemecatan di Rumah Sakit Mitra Internasional,perempuan di Aceh bahkan diwajibkan untuk selalu berkerudung. Ada sanksi tegas bilakedapatan keluar rumah tidak berkerudung. Sanksi itu bisa teguran bahkan hukum cambukbila keluar rumah dengan berpenampilan terbuka (pakaian ketat, seksi, memakai rok mini).Menurut Gubernur Aceh Irwandi, menyebutkan bahwa wajib jilbab bagi perempuan sudahmenjadi hukum positif dan bukan lagi syariat agama. Apabila ada pihak-pihak yangmengkritisi tentang kebijakan tersebut mau tidak mau sudah bersentuhan dengan agama.Sementara dalam Konstitusi, Pasal 28 I (2) UUD 1945 menyatakan bahwa, ?Setiaporang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhakmendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.? Hal iniberarti bahwa secara filosofis, Indonesia menjamin dan melindungi tiap warga negaranya darisikap atau tindakan diskriminatif tanpa membeda-bedakan status sosial, ras, suku, budaya,agama, maupun jenis kelamin. Karena tindakan diskriminatif yang menyebabkan penguasaandan dominasi terhadap salah satu kelompok warga tertentu merupakan sikap yang tidakberperikemanusiaan dan berperikeadilan, sebagaimana dinyatakan dalam pembukaan UUD1945, ?Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai denganperikemanusiaan dan perikeadilan?.Kondisi ini telah menjalur kedalam industri pertelevisian dimana banyak sejumlahprogram acara yang menayangkan adegan-adegan berbau diskriminasi. Hal ini juga bertolakbelakang dengan pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasiterhadap wanita UU nomor 7 tahun 1984, kemudian juga tentang Undang-Undang PenyiaranPasal 36 nomor 6 tahun 2002 yang menyatakan bahwa, ?Isi siaran dilarang memperolok,melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia indonesia, ataumerusak hubungan internasional?.Pada media elektronik sendiri keberadaan diskriminasi telah mewarnai tayanganpertelevisian di Indonesia. Kenyataan ini tampak pada program acara yang kerap kalimenggunakan perempuan sebagai objek seksualitas. Peran perempuan hanya sekedar sebagaifigura belaka, dengan menonjolkan sisi sensualitas. Terbukti dalam acara Talk Show diIndonesia yang kebanyakan memposisikan wanita sebagai bahan yang ditindas. Contoh TalkShow semacam ini adalah acara Empat Mata yang sekarang berubah menjadi Bukan EmpatMata, dalam acara yang dipandu oleh Tukul Arwana itu memperlihatkan bagaimana seorangVega yang juga host dalam acara itu selalu tampil seksi dengan pakaian ketatnya. Kemudianpelecehan terhadap sosok Susi yang juga tidak lain istri dari Tukul sendiri yang mana kerapkali sengaja atau tidak sengaja dihina dan ditertawakan.Semua adalah pernyataan tentang gender, dan didalam perundangan pun secara sahmelarang adanya bentuk diskriminasi gender, menurut aturan yang berlaku mengenaidiskriminasi terhadap perempuan yang juga telah disahkan oleh Undang-Undang no. 7 Tahun1984, yaitu disitu disebutkan ?Setiap pembedaan, pengabaian, atau pembatasan yangdilakukan atas dasar jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan, yang menyebabkan,mempengaruhi atau bertujuan mengurangi ataupun meniadakan pengakuan, penikmatanatau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan pokok dibidang politik,ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apa pun lainya kaum perempuan terlepas dari statusperkawinan mereka, atas dasar kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.?Semakin tinggi rating sebuah program acara, maka semakin banyak keuntungan iklanyang didapat. Menyadari hal itu penyelenggara televisi berlomba untuk memperolehsebanyak mungkin keuntungan dari penghasilan iklan, dengan menyajikan tontonan yangmenarik banyak publik. Namun yang disesalkan adalah para pengelola televisimengesampingkan dampak yang terjadi di masyarakat. Masyarakat yang heterogen terdiridari berbagai macam warna dan budaya, hal semacam ini yang perlu diperhatikan oleh parapengelola televisi untuk lebih mencermati program yang tidak bertentangan dengan norma,etika, hukum dan dampak negatif yang ditimbulkanya. Melihat fenomena tersebut penulisberusaha mengangkat kedalam sebuah penelitian yang mana program acara Kakek-KakekNarsis yang begitu banyak dinanti dan dinikmati orang namun disatusisi banyak jugakritikan-kritikan yang masuk mengenai tayangan tersebut. Hal ini yang ingin penulismencoba teliti dalam penelitian ini.Secara empirik banyak sekali masalah gender yang dijumpai lingkungan masyarakatdan media. Kakek-Kakek Narsis adalah bukti nyata bagaimana diskriminasi merambahkedalam suatu program acara yang disaksikan oleh khalayak luas. Hal ini sangat disayangkanmenginggat dalam Undang-Undang pun melarang adanya bentuk-bentuk diskriminasisemacam ini. Didalam lembaga penyiaran secara jelas tertulis bahwa penyiaran melarangmuatan yang memperolok, merendahkan, melecehkan, dan atau mengabaikan martabatmanusia. Disatusisi tayangan ini dikritik namun disisi lain tayangan ini begitu dinantikan. Halini terbukti pada adanya komentar media sosial Kakek-Kakek Narsis Trans TV (Facebook)bahwa kebanyakan dari mereka menanggapi dan mengikuti acara tersebut hingga requestbintang tamu kesayangaannya dituntut untuk hadir dalam memeriahkan acara tersebut.Pertanyaan lain yang timbul disini adalah sudah tahu tayangan ini mendapat kritik danteguran tetapi kenapa masih banyak yang menonton? Dan apakah penonton menerima bahwaobjektifitas seksual yang dilakukan laki-laki dalam tayangan Kakek-Kakek Narsis adalahsuatu hal yang wajar dan menghibur ataukah sebaliknya?Beranekaragamnya kebudayaan dari suatu daerah membentuk persepsi yang berbedapula mengenai pemaknaan suatu makna. Sebenarnya bagaimana proses pemaknaan yangdilakukan khalayak dengan latar belakang yang berbeda mengenai diskriminasi gender dalamtayangan Kakek-Kakek Narsis di Trans TV? Seperti apa resepsi yang ditangkap penonton?Apakah hal yang disajikan oleh laki-laki (produsen, host, crew, kamera-man) sebagaimanamakna dominan dapat diterima oleh kaum perempuan, setujukah perempuan dengan keadaanyang menggambarkan seperti itu. Makna dari sebuah teks televisi, semuanya akan kembalipada khalayak sendiri. Khalayak bebas menentukan keputusan apa yang mereka pilih setelahmenyaksikan acara tersebut.PEMBAHASANPerkembangan identitas gender sangat erat kaitanya dengan aspek biologis, sehingga hal inimerupakan bagian yang esensial dari konsep diri individu. Konsep kesetaraan gendermerupakan suatu konsep yang rumit dan mengundang kontroversi. Apa yang dimaksuddengan kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki. Kesetaraan gender dapat juga berartiadanya kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan dalam memperoleh kesempatan sertahak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik,hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, pertahanan dan keamanan nasional, sertakesamaan dalam menikmati hasil pembangunan. Kesetaraan gender ditandai dengan tidakadanya diskriminasi gender antara perempuan dan laki-laki dalam segala akses. Laki-laki danperempuan memiliki akses berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakansumber daya dan memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan.Bahasa merupakan sistem dari representasi yang diperlukan dalam seluruh prosespengkonstruksian makna. Penyebaraan pemetaan konseptual diterjemahkan dalam bahasaumum sehingga bisa menghubungkan konsep ide dengan kata dan tulisan tertentu, citra(image) suara atau visual. pemahamaan umum yang dipakai seperti kata-kata, suara atauimage yang mengandung makna atau yang disebut dengan simbol. Simbol-simbol yangmengandung makna digunakan untuk merepresentikan konsep. Hubungan antar simbol satudengan yang lainya dibawa dalam pikiran kita dan bersamaanya membuat sistem pemaknaandalam suatu kultur. Citra suara, kata-kata, image, atau objek yang berfungsi sebagai simboldan diorganisasikan bersama simbol lainya dalam sebuah sistem yang mampu membawa danmengekspresikan makna, pada intinya adalah bahasa. Bahasa tidak terbatas pada verbal (katakata,tuturan, dan tulisan), tetapi juga imajinasi visual, bahasa tubuh, dan ekspresi muka(Hall, 1997 : 8).Televisi memang memainkan peran langsung dalam penetrasi kebudayaan oleh sistemmakna dari lain tempat, tapi ia tidak menghapus konsepsi-konsepsi lokal. Proses ini lebihbaik dipahami sebagai penumpukan makna-makna lokal oleh berbagai definisi alternatif,yang membuat keduanya menjadi relatif serta menciptakan pemahaman baru akan abiguitasdan ketidakpastian. Dalam Barker (2005: 360) dijelaskan, bahwa televisi menjadi sumberbagi pembentukan identitas kultural, dan pemirsa juga menggunakan identitas dankompetensi kultural mereka untuk mendekode program dengan cara khas masing-masing.Seiring dengan mengglobalnya televisi, perannya dalam pembentukan identitas-identitas etnisdan nasional menjadi semakin pentingPenulis dalam hal ini memilih paradigma kritis untuk mendasari penelitian inidikarenakan adanya persoalan gender (feminisme) yang kental akan penindasan danketidakadilan dalam masyarakat dan kehidupan sehari-hari yang ditujukan kaum perempuanoleh kaum laki-laki. Tradisi kritis cenderung memandang komunikasi sebagai suatu ?socialarrangement of power and oppression?. Artinya didalam kebanyakan realitas sosial yangada, komunikasi lebih didominasi oleh kalangan yang lebih kuat yang bermaksud hendakmenindas yang lemah sementara pihak yang lemah ingin melakukan perlawanan (Parwito,2007: 26). Dalam aliran kritis, dunia positivisme dan empirisme ilmu sosial, struktur memangtidak adil. Karena ilmu sosial yang bertindak tidak memihak, netral, objektif serta harusmempunyai jarak, merupakan suatu sikap ketidakadilan tersendiri, atau bisa dikatakanmelanggengkan ketidakadilan (status quo). Oleh karenanya, paradigma ini menolak bentukobjektivitas dan netralitas dari ilmu sosial. Paradigma mengharuskan adanya bentuksubjektifitas, keberpihakan pada nilai-nilai kepentingan politik dan ekonomi golongantertentu, terutama kaum lemah, golongan yang tertindas dan kelompok minoritas, dimanakeberpihakan ini merupakan naluri yang dimiliki oleh setiap manusia.Pada teori Stuart Hall yakni Reception Theory mengatakan bahwa makna yangdimaksudkan dan diartikan dalam sebuah pesan bisa terdapat perbedaan. Kode yangdigunakan atau yang disandi (encode) dan yang disandi balik (decode) tidak selamanyaberbentuk simetris. Derajat simetris dalam teori ini dimaksudkan sebagai derajat pemahamanserta kesalahpahaman dalam pertukaran pesan dalam proses komunikasi ? tergantung padarelasi ekuivalen (simetri atau tidak) yang terbentuk diantara encoder dan decoder. Selain ituposisi encoder dan decoder, jika dipersonifikasikan menjadi pembuat pesan dan penerimapesan. Ketika khalayak menyandi balik (decoding) dalam suatu komunikasi, maka terdapatposisi hipotekal, yakni : (1) Dominant-Hegemonic Positian, (2) Negotiated Position, (3)Oppositional Position.Reception Analysis merupakan bagian khusus dari studi khalayak yang mencobamengkaji secara mendalam proses aktual dimana wacana media diasimilasikan melaluipraktek wacana dan budaya khalayaknya. David Morley pada tahun 1980 mempublikasikanStudi of the Nationawide Audience kemudian dikenal sebagai pakar analisis resepsi secaramendalam. Dalam tulisanya yang dimuat dalam Cultural Transformation : The Politics ofResistence (183, dalam Marris dan Tornham 1999: 474,475). Morley merujuk pada penelitianHall, mengemukakan tiga posisi hipotesis didalam pembaca teks (program acara) yaitu;1. Dominant (atau hegemonic) reading, pembaca sejalan dengan kode-kode program(yang didalamnya terkandung nilai-nilai, sikap, keyakinan dan asumsi) dan secarapenuh menerima makna yang disodorkan dan dikehendaki oleh sipembuat program.2. Negotiated reading, pembaca dalam batas-batas tertentu sejalan dengan kode-kodeprogram dan pada dasarnya menerima makna yang disodorkan oleh sipembuatprogram namun memodifikasikanya sedemikian rupa sehingga mencerminkan posisidan minat-minat pribadinya.3. Oppositional (counter hegemonic) reading, pembaca tidak sejalan dengan kode-kodeprogram dan menolak makna atau pembacaan yang disodorkan, dan kemudianmenentukan frame alternatif sendiri didalam menginterpretasikan pesan atau program.Kerangka Reception Theory pada penelitian ini akan digunakan peneliti untukmemahami dan melihat bagaimana khalayak memaknai pesan yang dikomunikasikan denganpendekatan mendalam. Mengacu pada teori tersebut, peneliti mencoba mendiskripsikan halhalyang terkait dengan proses pemaknaan informan terhadap pesan dalam tayangan Kakek-Kakek Narsis.Pemanfaatan teori reception analysis sebagai pendukung dalam kajian terhadapkhalayak sesungguhnya menempatkan khalayak tidak semata pasif namun dilihat sebagaiagen kultural (cultural agent) yang memiliki kuasa tersendiri dalam hal menghasilkan maknadari berbagai wacana yang ditawarkan media. Makna yang diusung media lalu bisa bersifatterbuka atau polysemic dan bahkan bisa ditanggapi secara oposisif oleh khalayak. Maknasebuah teks pada dasarnya bersifat polisemi dan terbuka sehingga memungkinkan khalayakuntuk memahami dan menginterpretasikan pesan secara berbeda. Analisis resepsi berupayamenganalisisnya dengan apa yang ada ataupun sesuatu yang tersembunyi dibalik penuturanpenuturanaudience tersebut.Dengan menggunakan analisis resepsi, selain mendapat makna atas pemahaman daninterpretasi teks media, juga mendapat penjelasan mengenai :1. Alasan mengapa terjadi perbedaan interpretasi dalam diri pembaca2. Alasan mengapa para pembaca dapat membaca teks yang sama secara berbeda3. Faktor-faktor kontekstual yang memungkinkan perbedaan pembacaan4. Cara teks-teks kebudayaan dimaknai oleh audiens, dan pengaruhnya dalam keseharianmereka.Beberapa teori dalam penelitian ini sangat relevan dalam menaggapi permasalahanyang ada dalam program acara Kakek-Kakek Narsis. Feminisme radikal berpendapat bahwa,ketidakadilan gender bersumber pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan itusendiri. Perbedaan biologis ini terkait dengan peran kehamilan dan keibuan yang selaludiperankan oleh perempuan. Semua ini hanya termanifestasi dalam institusi keluarga, dimanabegitu seseorang menikah dengan laki-laki, maka perbedaan biologis ini akan melahirkanperan-peran gender yang erat kaitanya dengan masalah biologis. Karenanya, para feminisradikal sering menyerang keberadaan institusi keluarga dan sistem patriarki. Keluargadianggap sebagai institusi yang melahirkan dominasi laki-laki, sehingga perempuan ditindas.Feminisme radikal memandang pornografi sebagai bentuk subordinasi, karena menganggappornografi tidak lebih dari propaganda patriarkal mengenai peran perempuan yangseharusnya sebagai pembantu, penolong, perawat, dan mainan laki-laki. Sementara laki-lakiada untuk dirinya sendiri, perempuan ada untuk laki-laki. Laki-laki subjek, perempuan objek(Tong, 2006 : 98).Feminisme radikal pada dasarnya mempunyai 3 pokok pikiran sebagai berikut :1. Bahwa perempuan mengalami penindasan, dan yang menindas adalah laki-laki.Kekuasaan laki-laki ini harus dikenali dan dimengerti, dan tidak boleh direduksimenjadi kekuasaan kapitalis, misalnya.2. Bahwa perbedaan gender yang sering disebut maskulin dan feminim sepenuhnyaadalah konstruksi sosial atau diciptakan oleh masyarakat, sebenarnya tidak atas dasarperbedaan alami perempuan dan laki-laki. Maka yang perlu adalah penghapusanperan perempuan dan laki-laki yang diciptakan oleh masyarakat di atas tadi.3. Bahwa penindasan oleh laki-laki adalah yang paling utama dari seluruh bentukpenindasan lainya, dimana hal ini menjadi suatu pola penindasan.KESIMPULANBerdasarkan analisis dan pembahasan terkait resepsi pemirsa tentang diskriminasi genderdalam tayangan Kakek-Kakek Narsis, ditemukan 3 pemaknaan yang berbeda dari informandalam memaknai teks. Khalayak yang berada dalam posisi dominan, yakni memaknai samaseperti yang ditawarkan oleh media bahwa tindakan atau tayangan dalam acara ini tidakmenampilkan bentuk-bentuk diskriminasi menganggap bahwa adegan yang dilakukanperempuan disini adalah profesionalisme dalam bekerja, jadi sebagai tuntutan pekerjaanselama itu dibayar tidak menjadi masalah. Bahkan sosok wanita seksi dalam tayangan inidigunakan sebagai penarik minat pemirsa untuk menonton serta punya daya jual yang tinggi.Khalayak yang berada dalam posisi negosiasi menganggap bahwa pengarahan seksualitasperempuan dalam tayangan ini adalah sebagai daya tarik masyarakat untuk menonton acaraini, namun mereka juga menyatakan bahwa para perempuan yakni nanny dan bintang tamujuga mengalami tindak diskriminasi. Sedangkan khalayak yang berada dalam posisi oposisimenyatakan, semua yang ditayangkan dalam acara Kakek-Kakek Narsis adalah merupakanbentuk diskriminasi dan penindasan terhadap kaum perempuan. Hasil penelitian ini telahmemperkuat tentang penyebaran ideologi patriarki yang dilakukan pihak pengelola melaluimedia massa yakni televisi sebagai alat kekuasaan (laki-laki) dalam mempertahankan statusquo-nya dalam budaya patrirki di Indonesia.Dalam menanggapi penelitian ini resepsi audience tidak pernah menjadi pihak pasifdalam membaca sebuah teks kebudayaan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa seksualitasdiilustrasikan audience sebagai bentuk pengarahan, pengaturan dan pengekspresianperempuan sebagai bentuk hiburan dalam media. Faktor pendidikan dan budayamempengaruhi keaktifan audience dalam memproduksi makna, ketika menyaksikan sesamaperempuan yang dilecehkan seksualitasnya oleh media membuat mereka berempati, merasamenjadi bagian sesama perempuan yang dilecehkan. Feedback yang diberikan audiencedalam memaknai kontruksi media memberikan jawaban bahwa audience tidak serta mertamenerima apa yang ditontonnya, melainkan memprosesnya yang kemudian disesuaikandengan pengalaman hidup, faktor lingkungan dan pendidikan.Kepada pihak pengelola media disarankan untuk perlu memperhatikan manfaat apayang dapat diberikan kepada masyarakat dalam menayangkan sebuah program acara. Tidakhanya dapat menghibur namun mampu setidaknya memberikan manfaat baik berupa hiburanmaupun dari sisi pendidikan. Dengan begitu diharapkan dalam masa mendatang bentukbentukacara televisi semakin variatif dan berkualitas tidak monoton dan hanya sekedar ikutikutanseperti yang diperlihatkan sekarang. Karena sebenarnya untuk mencapai rating tinggiadalah dengan melihat suatu program acara dapat bertahan lama dan dicintai penontonyakarena mutu dan konsep acara yang menarik, bukan eksploitasi ataupun penindasan terhadappihak tertentu. Adanya faktor pendidikan ini maka diharapkan menjadi kesadaran penontonuntuk dapat meningkatkan kemampuan membaca teks yang baik dan dapat mengambilkeputusan untuk menyikapi tayangan bernuansa gender semacam ini secara lebih dewasa.Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam hal ini harus turun tangan menindak lanjutiprogram tayangan yang mengedepankan unsur gender dan diskriminasi semacam ini. Karenadalam Undang-Undang pun menyebutkan bahwa segala macam bentuk penindasan dandiskriminasi harus segera dihapuskan seperti yang terdapat pada pasal 28 (I) 2 UUD 1945.KPI harus menyiapkan sistem regulasi yang efektif dan memberikan tidakan tegas terhadaptayangan-tayangan yang tidak sesuai dan menonjolkan ketimpangan gender akibatketidakadilan yang ditujukan oleh perempuan baik dalam sikap maupun peran.Menarik atau tidaknya suatu program acara bukanlah dilihat dari artis atau bagaimanacara berpakaiannya, namun melihat secara keseluruhan inti dari konsep acara yang disajikan,bagaimana manfaat dan unsur pendidikan yang bisa diambil setelah melihat tayangan ini.Melalui tayangan Kakek-Kakek Narsis menjadikan pelajaran bagi pengelola lain agar bisamembuat acara yang lebih baik lagi dengan tidak memandang keberadaan gender dandiskriminasi di media, dan untuk masyarakat diharapkan untuk lebih cerdas lagi dalammemaknai isi teks media.DAFTAR PUSTAKAA.MacKinnon, Catharine. (1987). Feminism Unmodified. Havard University Press, USA :Ninth Printing.Agger, Ben. (2003). Teori Sosial Kritis.Yogyakarta : Kreasi Wacana.Alcoff (1989). Reposting Feminism and Education : Perspectives on Educating for SocialChange. London : Greenwood.Arief Budiman. (1982). Pembagian Kerja Secara Seksual. Jakarta : Gramedia.Barker, C. (2005). Culture Stadies Teori dan Praktik. London : Sage Publications.Berger, C.R. and S.H., Chaffe. (1983). Handbook Communication Science. Beverly Hills :Sage Publications.Basow, Susan A. (1992). Gender Stereotypes and Roles. USA : Brooks/Cole PublishingCompany.Cott, Nancy F. (1987). The Grounding of Modern Feminism. Yale University Press.New Haven.Creswell. (1998). Qualitative Inquiry and Research Design : Choosing Among FiveTradition. London : Sage Publictions.Croteau, David and William Hoynes (2007). Media/Society. Pine Forge Press, USA :Thousand Oaks.Effendy. O.U. (2003). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung : PT. Citra AdityaBakti.Fiske, John. (1987). Television Culture. London : Routledge.Fiske, J. (2004). Culture and Communication Studies. Yogyakarta : Routledge.Grant, A.E. & Wilkinson, J.S. (2009). Understanding Media Convergence : The State of theField. NY : Oxford University press (9).Griffin, EM. (2006). A first Look At Communication Theory, 6th Edition, New York :McGraw-Hill, inc.Grossberg, Lawrence, Carly Nelsen, dan Paula A. Treicher. (1992). Culture Stadies.New York, London : Routledge.Guba. Egon (ed.). (1990). The Paradigm Dialog. London : Sage Publications.Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representasions and Signifying Practices. BaverleyHills : Sage Publications.Harris, Marvin. (1968). The Rise of Anthropological Theory. New York : Thomas Y.Cromwell Company.Jackson, Stevi dan Jackie Jones. (2009). Teori-Teori Feminis Kontemporer. Yogyakarta :Jalasutra.Jensen, Klaus, Bruhn & Jankowski, Nicholas W. (2003). A Handbook of QualitativeMethodologies for Mass Communication Research. London : Routledge.Junaedi, F. (2007). Komunikasi Massa (Pengantar Teoritis). Yogyakarta : Santusta.Kasiyan. (2006). Bias Gender Dalam Iklan Televisi. Media Pressindo.Kasiyan. (2008). Manipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan. Yogyakarta :Ombak.Khun, Thomas. (1970). The Structure of Scientific Revolution (cetakan ke-2) Chicago :Chicago University Press.Littlejohn, Stephen W & Foss, Karen A. (2008). Theories of Human Communication, USA :The Thomson Corporation.Luhulima. (2002). Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita. Bandung :Alumni.Sadli, Saparinah. (2010). Berbeda Tetapi Setara. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.Silverstone, Roger.(1994). Television : and everday life. London, New York : Routledge.Soekarno (1963). Kawajiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia. Jakarta :Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno.Spradley, J.P. (2006). Metode Etnografi (penerjemah : Elizameth, M.Z dari The EtnographicInterview) edisi II. Yogyakarta : Tiara Wacana.Sudibyo, Agus. (2004). Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta : Penerbit LkiSYogyakartaSunarto. (2009). Kekerasan, Televisi & Perempuan. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.SuSan A. Basow (1992). Gender Stereotypes and Roles. Pacific Grove, California :Brooks/Cole.Storey, Jhon. (2008). Cultur Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta : Jalasutra.Tong, Rosemerie Putnam (1998). Feminist Thought : Pengantar Paling Konferhensif KepadaArus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta : Jalasutra.Mansour Fakih. (1997). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta :PustakaPelajarMartadi. (2000). Reposisi Citra Melalui Logo. Jurnal Nirmana.McQuail, Denis. (1991). Teori Komunikasi Massa, Penerbit Erlangga, Jakarta, Edisi kedua.Moelong, Lexy J. (1991). Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya,Bandung.Morley, David (1992). Television Audience and Cultural Studies. London : Routledge.Parwito, (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : LkiS.Winship, J. (1981) Woman Become an ?induvidual? : Femininity and Consumption inMagazine. Birmingham ; University of Birmingham.
Co-Authors 08.05.52.0064 Novi Perwitasari 09.05.52.0075 Lia Yuliana 10.05.52.0010 Dwi Sulistyowati 10.05.52.0030 Christina Dewi 12.05.52.0210 Resty Andini Putri, 12.05.52.0210 12.52.02.0204 Kinayah, 12.52.02.0204 12.5202.0172 Sukowati 1352020069 Prijatno Sri Eko Putranto, 1352020069 1352020070 Teguh Purnomo, 1352020070 1352020104 Pujadi, 1352020104 1352020105 SRI HERANINGSIH, 1352020105 A, Reo A. Samik Wahab, A. Samik Abas, Abas Abdurrachman, Mirzam Achmad Badjuri Addi Mardi Harnanto Adelina, Adelina Adi Nugroho Adi Ratriyanto Adnan Sofyan Afiana Praditasari, Afiana Aghnini, Aghnini Agres Vivi Susanti Agung Budi Raharjo Agung Budiharjo Agus Naryoso Agus Prasetyo Budi Agustian Ipa Aji Setiawan Alim, Muhamad Miftahul Alimuna, Wa Allen Yeoh, Allen Amalia Yunika Putri, 13.05.52.0204 Amalia Yunika Putri, 13.05.52.0204 Ana, Testian Yushli Anada Leo Virganta, Anada Leo Andi Suhardiyanto Andriani, Beti Angga Dwi Pratama, 14.05.52.0003 Angga Widhi Saputro Anggun Parameswari, Anggun Angraini, Eka Wahyuningsih Anik Nurhidayati Anindya Ratna Pratiwi Annisa Arum Putri Annisa Furi, Giza Abel Anton Styo Wibowo, Anton Styo Ardang, Rifvan Yuniar Ari Setyowati Arief, Ahmad Fikri ARIF INDIARTO, ARIF Arifin Arifin Arintina Rahayuni Ariyanti, Wahyu Arizona, Meivy Armeina Nur Rachmawati Arum, Rizki Sekar Asri Nugraheningtyas Astuti, Satria Dwi Atikawati, Dini Atikawati, Dini - Aulia, Vina Auliya Hakim, Muhammad Andi Avi Budi Setiawan Ayi Yustiati Azis, Jamal Abdul Azizzah, Farah B. Setiawan Baedhowi Baedhowi Bagus Indrawan, Bagus Bambang Wasito Adi Baskoro Adi Prayitno Bayu Setya Hertanto Bekti, Wahyu Prasetyo Budi Mulyawan Budianti, Ika Bungaran, Andreas Cahyo, Reza Dwi Cahyono, Hadi cahyono, hadi Carli Carli Carlina Soetjiono Chafid Fandeli Chairunnisa Chairunnisa Chandra Wijaya Choirani, Nur Amalia Condro Hadi Mulyono, Condro Hadi D, Endang David David Dawa, Willy DEWI IRAWATI Dewi Kusuma Wardani Dhimas Arvico, 13.05.52.0138 Dhimas Arvico, 13.05.52.0138 Diana Lestari, Diana Diani, Elya Zulfa Dimabherti Ardian Nugroho, 14.05.52.0294 Ditiya, Yasarah Diswari Djarot Sadharto, Djarot Djati Mardiatno Dwi Pratama, 14.05.52.0003 Angga Dwi Ratnawati, Dwi Dyah Nur Subandriani, Dyah Nur Eka Kusumawati, Eka Eka Wahyudi Eko Haryono Eko Mujiyanto, 13.05.52.0092 Eko Mujiyanto, 13.05.52.0092 Ekowati, Yunik El Rizaq, Agung Dwi Bahtiar Endang Djuana, Endang Endang Sri Wahyuni Endang Widjayanti LFX Endarti, Tutik Dwi Enik Sulistyowati Eri Diniardi Erland, Radja Erlangga, Dwiky Ernawan Setyono Eryani, Riris Esti Dyah Utami Euis Soliha F.X. Hartono Fadhli, Nurchalis Fahad Nuraini Fajari, Slamet Fareza, Muhamad Salman Fasani, Rizkan Faif Fatma Lestari Fattah, Fuad Abdul Febrianto, Aji Sofian Feri Setyowibowo Ferrianto Gozali Firdausi, Aulya Della Fitriana, Fety Fitriyanti, Addina Rizky Freza, Freza G, Ferrianto Gumilang, Anggita Moro H S, Rosalia Hani Faurizka Hanif Nasiatul Baroroh Hanny, Stephanus Happy Ade Permanasari Hapsari, Wahyu Ratri Harahap, Syawaluddin Harahap, Syawaluddin Hardyanto S HARI SUTRISNO Harini Harini HARIYANTO HARIYANTO Harlistyanti, Ryna Hartono Hartono Hartono, Rudy Harwanto, Dody Candra Harwanto, Dody Candra Haryadi haryadi Hasnawati Hasnawati Hazhari, Alvan Herbowo Hardianto Hermin Poedjiastoeti Hersugondo Hersugondo Heru Santoso Wahito Nugroho, Heru Santoso Wahito Hosiana MD Labania I Gusti Ayu Ketut Rachmi Handayani Ika Merdekawati, Ika Ikhsan Jaslin, Ikhsan Ilham Futaki Indra Suharman Indra Surjati Indrawati, Like Indriyani Rebet Insani, Kaefiyah Nurul Intan Permata Sari, 12.05.52.0029 Intan Permata Sari, 12.05.52.0029 Iskandar, Abdullah Ismara, K.I. Isna Putri Indayani, Isna Putri Isni Nurruhwati Iva Yuniasih, 14.05.52.0001 Jaeni Jaeni JaisSetiawan, 13.05.52.0232 JaisSetiawan, 13.05.52.0232 Jamaludin MALIK Jaslin Ikhsan Jayanti, Noviana Luthfi Jazilah, S. Jennifer Jennifer Joko Riyanto Joko Sutrisno Jonet Ariyanto Nugroho, Jonet Ariyanto Junun Sartohadi Karyadi, Agus Ketut Prasetyo Khairani, Inas Kristanto, Alfa Kristiani Kristiani Kristiara, Sandy Kristiawan, Dona Kuat Rahardjo TS Kun Aristiati Susiloretni, Kun Aristiati Kurniasari, Retno Dewi Kusdianto, Kusdianto Kusmiyati Tjahjono Kusnanto, Anang Amir Kusuma Putri, Devi Ayu Kusumah, Fitrah Satrya Fajar Kusumo, Pandansari Langgeng Wahyu Santosa Larasati, Meirina Dwi Latif Sahubawa Leidena Sekar Negari Leny Noviani Lestari, Anna Puji Lestari, Wijayanti Puji Lia Faiqoh Lies Rahayu Wijayanti Faida Lis Permana Sari Luasunaung, Alfred Lukita, Andre Luqmana Chakim, 15.05.52.0010 Luzi, Ahmad Surya M Masykuri Mahardhani, Ardhana Januar Malarsih Malarsih, Malarsih Malawani, M. Ngainul Manik, Astri Marita Martien Herna Susanti Martinus, Ade Masruri, Muh Bukhari Megauleng, Khaeriya Mintasih Indriayu, Mintasih Mohammad Jaelani, Mohammad Mohammad Sulchan Muchamad Yulianto Muhammad Cahyadi, Muhammad Muhammad Imam Wicaksono Muhammad Sabandi, Muhammad Muhammad Sulchan Muhammad, Arfaningsi Mujadid, Ahmad Zahry Mulyoto mulyoto Muslichah Muslichah Muslimawati, Claudia Musripah, 14.05.52.0098 Musripah, 14.05.52.0098 Mustamin Mustamin N Wahyuningsih, N N Widyas, N Nachrowi D. Nachrowi Naibaho, Lamhot Neazar Astina Prabawani Nimas Hayuning Anggrahita, Nimas Hayuning Ningsih, Maulida Fajari Noor Sudiyati Nova Novita Nurmalasari, 14.05.52.0016 Nugroho Tri Waskitho Nugroho, Dandy Nugroho, Dowes Ardi Nugroho, Teguh Nunggaryati, Yunita Dwi Nur Amalia Choironi Nurcholis, Muhammad Nurfiatin, Titin Nurrohmah, Elida Nurul Dwi Dhamayanti, 15.05.52.0096 Nurul Khakhim Nuryanti Nuryanti Okid Parama Astirin Oktapiandi, Oktapiandi PAMBUDI, Danang Setyo Pamenan, Azlhimsyah R. Pancawati Hardiningsih Panjaitan, Effendy Parakkasi, Karmila Paransa, Isrojaty Johanes Parika, Dina Paringsih, Novia Citra Perdana, Firdaus Pinkky Sisvianingrum, 13.05.52.0049 Pinkky Sisvianingrum, 13.05.52.0049 Ponendi Hidayat Prabang Setyono Pramuwardani, Ida Pranadita, Pranadita Pranawinarni, Ratih Pranoto Pranoto Pranoto, Wahyu Yudha Prasetya, Ragil Dwi Prasetyanta, Eka PRASETYO ANI PUJIASTUTI, 1252020126 Prasetyo, Nandhy Prasica Rudy Artha, 12.05.52.0191 Prasica Rudy Artha, 12.05.52.0191 Prasojo, Anggri Zulian Prastyanti, Katisya Abrina Pratama, Angga Dwi Pratama, Fakhriza Aziz Pratami, Vivin Alfyana Yulia Pratiwi, Ervin Devi Prihatin, Anik Pristiati, Tutut PUJI LESTARI Purba, Gandi YS Purba, Noir Purba, Noir Putri Endah Kurnia, 12.05.52.0134 Putri Endah Kurnia, 12.05.52.0134 Rachmawati Meita Oktaviani Rachmawati, Susan Rahardjo T.S, Kuat Rahardjo, Kuat Rahayu, Slamet Mardiyanto Rahayu, Slamet Mardiyanto Rahayu, Slamet Mardiyanto Rahmi Lubis Ramdani Salam Rani Rakhmaputri Wiranto Rara Sugiarti Ratnasari, Syarifah Leila Ratnasari, Syarifah Leila Regina Tutik Padmaningrum Reina Widianingrum, 14.05.52.0159 Reina Widianingrum, 14.05.52.0159 Renaldus Afoan Elu, Agustinus Reni Dyah Ayu Nur Fatimah, Reni Dyah Ayu Nur Reny Rahayuningsih, 13.05.52.0189 Reny Rahayuningsih, 13.05.52.0189 Ria Ambarwati Rialdi, Rio Rianawati, Titik Rijalurrahman, Mohammad Rivansyah, Alif Rizaldi, Rizaldi Rizki Ramadhan Rois, Ibnu Rosyid Hidayah, Rosyid Rudi Salam S, Kuat Rahardjo T S.A. Bachtiar, S.A. Safrudin, Dwi Sagaf Faozata Adzkia, Sagaf Faozata Salman Alfarisy Totalia Samin Samin Sangaji, Niko Santoso, Agus Iwan Saputra, Rizky Pratama Surya Sari, Apriliani Puspa Arum Sari, Siti Kartika Sarmini Sarmini Sartika Wulandari, Sartika Sawitri, Niken Sayudi, Dewi Sri Septayuda, Eka Septian, Deni Septiani Septiani Setyo Prihatin, Setyo Shalihuddin Djalal Tandjung, Shalihuddin Djalal Sigit Heru Murti, Sigit Heru Sigit PRASTOWO Sintha, Aga Dwi Sishayati, Sishayati Sisworo Sisworo, Sisworo siti marwati Siti Nurjanah SITI RACHMAWATI Slamet Anwar Slamet Haryadi Slamet Suprayogi Soebardi, Aris Soeleman Soeleman Sofia Mubarika Sofyan Sofyan Sopaheluwakan, Ardhasena Sri Ayem, Sri Sri Budi Lestari Sri Handayani Sri Indrawati, Sri Sri Mawarni, Sri Sri Mulatsih Sri Noor Mintarsih, Sri Noor Sri Sularti Dewanti Handayani, Sri Sularti Dewanti Sri Waluyanti Sri Widowati Herieningsih Suardi, Rofiandri Subali, Leonardo Subrata, Rosalia H Sudarmadji Sudarmadji Sudarno Sudarno Sudibiyakto Sudibiyakto Sudiyono Sudiyono Sugiyarto Sugiyarto Suherman Suherman Sukanadi, Made Sulikah, Sulikah Sulton Sulton, Sulton Sumardino Sumardino Sumarno Sumarno Suparji Suparji, Suparji Suparmi Suparmi Supriadi, Didi Suprianto, Agung Suprijatmi, Tanti Supriyanto Supriyanto Suproborini, Arum Surya, Ferry Hendra Suryandani, Wulan Susanto J Susanto, Denni Susi Tursilowati, Susi Susila Kristianingrum Sutaryo Sutaryo Sutikno Sutikno Sutrisno sutrisno Sutriyono, Toto Suwarno Suwarno Suyanta Suyanta Suyanto Hadi Syahrun, Syahrun Syahudi, Giman Syaiko Rosyidi Syofia Rahmayanti, Syofia Tandiyo Pradekso Tandjung, Djalal Tellu, Florenchia Yohana Tiara Handayani Titi Kalima Titi Yuli Astuti, Titi Yuli Titik Kuntari Tomi Yuniardi M, 12.05.52.0120 Tomi Yuniardi M, 12.05.52.0120 Totok Gunawan Totok Sumaryanto F. Totok Sumaryanto Florentinus, Totok Sumaryanto Totok Sumaryanto, Totok Tri Joko Raharjo Tri Retnasari, Tri Tri Suminar Triana Setyawardani Triyanto Triyanto Triyanto, Irfan Rusidy Triyono Lukmantoro Triyuliati Triyuliati Tugio, Tugio Turnomo Rahardjo Tutik Fitri Wijayanti Tutik Wahyuni Tyas, Eden Handayani Tyastuti, Erma Musbita Ubad Badrudin Udi Utomo Udi Utomo, Udi Utomo Ula, Husnal Utami Utami Utomo Utomo Utomo, Eko Hery Satriyo Valmai, Vania Reani Vita Kartikasari, Vita Wadiyo Wadiyo, Wadiyo Wahyu Lestari Wahyu Sejati, Wahyu Wardhani, Puspita Indra Warsinah Warsinah Wibowo, Totok Wahyu Widha Sunarno Widianingrum, Reina Widianingrum, Reina Widihastuti, Santi Widodo Pranowo, Widodo Widodo Widodo Widodo, Febri Anggriawan Wijaya, Barkah Bangkit Wijayanti Endang, Wijayanti Wirasetiyo, Kukuh Wiryanto Wiryanto Wishnu Sukmantoro Wiwid Noor Rakhmad Wiyono, Jalu Sigit Aji Wiyono, Joko Wulan Widiyanti, Wulan Wulandari, Yun Ismi Wuryani, Wuryani Wuryaningrum, Endah Y B P. Subagyo, Y B Yasarah Diswari Ditiya, 15.05.52.0204 Yatimin Yatimin Yeow Liang, Yeow Yoga, Aldhila Gusta H. Yohanis Baru Yudiantoro, Dwi Fitri Yuli - Andriani Yuli Kurnia Ningsih Yuliyati Yuliyati, Yuliyati Yunianingsih, Era Yuniasih, Iva Yuwono Setiadi, Yuwono Zulaikah Zulaikah Zulfahmi Zulfahmi