Articles

Found 7 Documents
Search

OVERSAMPLING METHOD TO HANDLING IMBALANCED DATASETS PROBLEM IN BINARY LOGISTIC REGRESSION ALGORITHM Ustyannie, Windyaning; Suprapto, S
IJCCS (Indonesian Journal of Computing and Cybernetics Systems) Vol 14, No 1 (2020): January
Publisher : IndoCEISS in colaboration with Universitas Gadjah Mada, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.466 KB) | DOI: 10.22146/ijccs.37415

Abstract

The class imbalance is a condition when one class has a higher percentage than the other then it can affect the accuracy. One method in data mining that can be used to classification is logistic regression method. The method used in this research is RWO-sampling method using random replicate approach for synthetic data generation on descrete attribute. The result of the research can handle the problem of class imbalance, RWO-sampling method with random replicate approach shows better accuracy than RWO-sampling method with roulette and ROS approach. The accuracy value for RWO-Sampling method with roulette and RWO-Sampling approach with random replicate approach has increased to an average of 15.55% of each dataset. As for comparithem with the ROS method has increased an average of 3.7% of each dataset. Furthermore, for testing the underfitting problem in logistic regression, the oversampling method is better than non-oversampling with an increase in accuracy value reaching an average of 2.3% of each dataset.
PENERAPAN TEKNIK KUPANG LIGITARANG UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA SISWA KELAS 4 B SDN SIDOMEKAR 08 KECAMATAN SEMBORO KABUPATEN JEMBER Suprapto, S
Pancaran Pendidikan Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Pancaran Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Matematika merupakan ilmu terstruktur yang terorganisasikan dengan baik karena matematika terdiri dari unsur yang tidak terdefinisikan ke unsur yang terdefinisikan, kemudian ke aksioma/postulat dan akhirnya ke pada dalil teorema. Dari hasil pengamatan hasil belajar siswa kelas 4 B SDN Sidomekar kecamatan Semboro kabupaten Jember masih rendah. Hal ini disebabkan karena penjelasan guru kurang bisa di pahami oleh siswa,siswa merasa kesulitan menerima konsep pengerjaan hitung campuran, mereka masih beranggapan bahwa mengerjakan soal matematika selalu di mulai dari yang paling depan. Maka dari itu diadakan penelitian dengan menggunakan teknik kupang ligitarang untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas 4 B SDN Sidomekar kecamatan Semboro kabupaten Jember. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan pembelajaran teknik kupang ligitarang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas 4 B SDN Sidomekar 8 kecamatan Semboro kabupaten Jember?, bagaimana aktivitas siswa dan hasil belajar selama proses pembelajaran teknik kupang ligitarang pada siswa kelas 4 B SDN Sidomekar 8 kecamatan Semboro kabupaten Jember berlangsung?. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 4 B SDN Sidomekar 8 kecamatan Semboro kabupaten Jember yang berjumlah 25 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus ada empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Aktivitas belajar siswa yang meliputi tanya jawab meningkat 16,50%, diskusi meningkat 20,50%, presentasi meningkat 27,50%, dan cara mengerjakan soal meningkat 23%. Sedangkan hasil belajar siswa tiap siklusnya mengalami peningkatan yang signifikan yaitu Pada siklus I mencapai 67% dan pada siklus II ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 82%. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka penerapan teknik kupang ligitarang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas 4 B SDN Sidomekar 08 kecamatan Semboro kabupaten Jember. Kata Kunci : Teknik Kupang Ligitarang, Hasil Belajar
Religious Leaders And Peace Building: The Role of Tuan Guru and Pedanda in Conflict Resolution in Lombok – Indonesia Suprapto, S
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 1 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.531.225-250

Abstract

In some situations where the state is too weak to gain trust from the people, religious leaders have a significant role in maintaining social harmony. In many cases of the social unrest as what happened in Lombok, Tuan Guru and Pedanda played important roles in building a peaceful condition. Tuan Guru and Pedanda with their authorities have vital influences in calming down their Muslim and Hindu communities respectively. With their own ways, they were able to localize conflict issues, so much so that the social conflicts did not escalate to become greater massive riot. This article describes a number of efforts made by Tuan Guru and Pedanda  to establish peace in Lombok, such as: calming down the followers; localizing issue to reduce mass panic; reminding members of the family or community to resist social prejudice; socializing religious teachings especially the need to forge harmony; promoting “Semeton Sasak and Batur Bali” as a value of brotherhood among Balinese-Hindu and Sasaknese-Muslim; creating social sanctions against those who violated the agreements among communities; and improving the effectiveness of customary law known as awik-awik.[Pemimpin atau tokoh agama memiliki peran signifikan dalam merawat harmoni social, terutama di saat negara kurang memperoleh kepercayaan dari rakyat. Dalam sejumlah kasus kerusuhan social yang terjadi Lombok, Tuan Guru dan Pedanda memainkan peran penting dalam menciptakan kedamaian. Dengan otoritas mereka, Tuan Guru dan Pedanda mampu menenangkan massa. Dengan caranya sendiri, mereka mampu melokalisasi isu, sehingga eskalasi konflik tidak meluas menjadi kerusuhan yang massif. Artikel ini mendeskripsikan sejumlah upaya yang dikembangkan oleh Tuan Guru dan Pedanda dalam rangka bina damai di Lombok, seperti menenangkan jamaah; melokalisasi isu konflik agar massa tidak panic; mengingatkan keluraga atau anggota komunitas untuk menahan diri; mensosialisasikan nilai-nilai harmoni dalam agama, mempromosikan konsep “Semeton Sasak and Batur Bali” sebagai sebuah nilai persaudaraan antara orang Hindu-Bali dan Sasak-Muslim; menciptakan sanksi sosial bagi mereka yang melanggar kesepakatan bersama; dan meningkatkan efektifitas hukum adat yang dikenal dengan sebutan awik-awik.]
ON Ï„ [M ]-COHEREDITARY MODULES Suprapto, S; Wahyuni, Sri; Wijayanti, Indah Emilia; Irawati, I
Jurnal ILMU DASAR Vol 12 No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.967 KB)

Abstract

Let R be a ring with unity and N a left R-module. Then N is said linearly independent to R (or N is R-linearly independent) if there exists a monomorphism ? : R(?) ? N . We can define a generalization of linearly independency relative to an R-module M. N is called M-linearly independent if there exists a monomorphism ?:M(?) ?N. Amodule  iscalled M-sublinearly independentif  is a factormodule of a module which is M-linearly independent. The set of M-sublinearly independent modules is denoted by ? [M ]. It is easy to see that ? [M ] is subcategory of category R-Mod. Furthermore, any submodule, factor module and external direct sum of module in ? [M ] are also in ? [M ]. A module is called ? [M ]-injective if it is P-injective, for all modules P in ? [M ]. Q is called ? [M ]-cohereditary if Q ?? [M ] and any factor module of Q is ? [M ]-injective. In this paper, we study the characterization of category ? [M ]-cohereditary modules. For any Q in ? [M ], Q is a ? [M ]-cohereditary if and only if every submodule of Q-projective module in ? [M ] is Q-projective. Moreover, Q is a ? [M ]-cohereditary if and only if every factor module of Q is a direct summand of module which contains this factor module. Also, we obtain some cohereditary properties of category ? [M ]. There are: for any R-modules P, Q. If Q is P-injective and every submodule of P is Q-projective, then Q is cohereditary (1); if P is Q-projective and Q is cohereditary, then every submodule of P is Q-projective (2); a direct product of modules which ? [M ]-cohereditary is ? [M ]-cohereditary (3). The cohereditary characterization and properties of category ? [M ] above is truly dual of characterization and properties of category ? [M ].
KINERJA REAKTOR SEMI KONTINYU BERPENGADUK UNTUK OKSIDASI DUA FASA GAS- 12 – 17 CAIR ASETALDEHID (THE PERFORMANCE OF SEMI CONTINUE STIRRED REACTOR FOR ACETALDEHYDE BIPHASIC OXIDATION) Suprapto, S
Reaktor Volume 3 No.1 Desember 1999
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4350.385 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.3.1.12-17

Abstract

Oksidasi fasa cair asetaldehid menggunakan udara dan katalis homogeny Mangan Asetat telah dilakukan dalam penelitian ini. Untuk memahami reaksi heterogen gas-cair tersebut, maka telah dilakukan dua rangkaian penelitian yaitu enaluasi mengenai hidrodinamika reactor dengan pengukuran koefisien perpindahan massa gas-cair, dan evaluasi reaksi kimia oksidasi asetaldehid. Reaktor berpengaduk mekanis yang digunakan dioperasikan pada tekanan atmosfir. Beberapa variabel kunci seperti kecepatan pengadukan, laju alir gas dan suhu telah diujikan untuk memperoleh informasi mengenai kinerja reactor. PAda kondisi operasi yang dipelajari, kenaikan konversi reaksi (atas dasar asetaldehid) dipengearuhi oleh kenaikan laju alir gas. Namun untuk laju alir lebih besar dari 6.10-5 m3/detik, laju alir gas menjadi kecil pengaruhnya terhadap kenaikan konversi reaksi. Kecepatan pengadukan dan suhu berpengaruh lebih kecil terhadap konversi reaksi dibandingkan dengan pengaruh laju alir gas. Kata kunci: Reaktor semi kontinyu, gas-cair, asetaldehid
PENERAPAN TEKNIK KUPANG LIGITARANG UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA SISWA KELAS 4 B SDN SIDOMEKAR 08 KECAMATAN SEMBORO KABUPATEN JEMBER Suprapto, S
Pancaran Pendidikan Vol 4 No 3 (2015)
Publisher : Pancaran Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Matematika merupakan ilmu terstruktur yang terorganisasikan dengan baik karena matematika terdiri dari unsur yang tidak terdefinisikan ke unsur yang terdefinisikan, kemudian ke aksioma/postulat dan akhirnya ke pada dalil teorema. Dari hasil pengamatan hasil belajar siswa kelas 4 B SDN Sidomekar kecamatan Semboro kabupaten Jember masih rendah. Hal ini disebabkan karena penjelasan guru kurang bisa di pahami oleh siswa,siswa merasa kesulitan menerima konsep pengerjaan hitung campuran, mereka masih beranggapan bahwa mengerjakan soal matematika selalu di mulai dari yang paling depan. Maka dari itu diadakan penelitian dengan menggunakan teknik kupang ligitarang untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas 4 B SDN Sidomekar kecamatan Semboro kabupaten Jember. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan pembelajaran teknik kupang ligitarang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas 4 B SDN Sidomekar 8 kecamatan Semboro kabupaten Jember?, bagaimana aktivitas siswa dan hasil belajar selama proses pembelajaran teknik kupang ligitarang pada siswa kelas 4 B SDN Sidomekar 8 kecamatan Semboro kabupaten Jember berlangsung?. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 4 B SDN Sidomekar 8 kecamatan Semboro kabupaten Jember yang berjumlah 25 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus ada empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Aktivitas belajar siswa yang meliputi tanya jawab meningkat 16,50%, diskusi meningkat 20,50%, presentasi meningkat 27,50%, dan cara mengerjakan soal meningkat 23%. Sedangkan hasil belajar siswa tiap siklusnya mengalami peningkatan yang signifikan yaitu Pada siklus I mencapai 67% dan pada siklus II ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 82%. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka penerapan teknik kupang ligitarang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas 4 B SDN Sidomekar 08 kecamatan Semboro kabupaten Jember. Kata Kunci : Teknik Kupang Ligitarang, Hasil Belajar
RELIGIOUS LEADERS AND PEACE BUILDING: THE ROLE OF TUAN GURU AND PEDANDA IN CONFLICT RESOLUTION IN LOMBOK – INDONESIA Suprapto, S
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 1 (2015)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.531.225-250

Abstract

In some situations where the state is too weak to gain trust from the people, religious leaders have a significant role in maintaining social harmony. In many cases of the social unrest as what happened in Lombok, Tuan Guru and Pedanda played important roles in building a peaceful condition. Tuan Guru and Pedanda with their authorities have vital influences in calming down their Muslim and Hindu communities respectively. With their own ways, they were able to localize conflict issues, so much so that the social conflicts did not escalate to become greater massive riot. This article describes a number of efforts made by Tuan Guru and Pedanda  to establish peace in Lombok, such as: calming down the followers; localizing issue to reduce mass panic; reminding members of the family or community to resist social prejudice; socializing religious teachings especially the need to forge harmony; promoting ?Semeton Sasak and Batur Bali? as a value of brotherhood among Balinese-Hindu and Sasaknese-Muslim; creating social sanctions against those who violated the agreements among communities; and improving the effectiveness of customary law known as awik-awik.[Pemimpin atau tokoh agama memiliki peran signifikan dalam merawat harmoni social, terutama di saat negara kurang memperoleh kepercayaan dari rakyat. Dalam sejumlah kasus kerusuhan social yang terjadi Lombok, Tuan Guru dan Pedanda memainkan peran penting dalam menciptakan kedamaian. Dengan otoritas mereka, Tuan Guru dan Pedanda mampu menenangkan massa. Dengan caranya sendiri, mereka mampu melokalisasi isu, sehingga eskalasi konflik tidak meluas menjadi kerusuhan yang massif. Artikel ini mendeskripsikan sejumlah upaya yang dikembangkan oleh Tuan Guru dan Pedanda dalam rangka bina damai di Lombok, seperti menenangkan jamaah; melokalisasi isu konflik agar massa tidak panic; mengingatkan keluraga atau anggota komunitas untuk menahan diri; mensosialisasikan nilai-nilai harmoni dalam agama, mempromosikan konsep ?Semeton Sasak and Batur Bali? sebagai sebuah nilai persaudaraan antara orang Hindu-Bali dan Sasak-Muslim; menciptakan sanksi sosial bagi mereka yang melanggar kesepakatan bersama; dan meningkatkan efektifitas hukum adat yang dikenal dengan sebutan awik-awik.]