Taufik Suprihatini
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 57 Documents
Articles

Hubungan Kompetensi Komunikasi Tentor Communication Study Club dan Konsep Diri Anggota Communication Study Club Terhadap Prestasi Anggota suprihatini, Taufik; Lailiyah, nuriyatul; Herieningsih, Sri widowati
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.67 KB)

Abstract

Communication Study Club adalah komunitas belajar mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro. Jumlah anggota CSC semakin meningkat tetapi prestasi anggota semakin menurun. Kompetensi komunikasi tentor dalam mengajar dan konsep diri anggota dalam menghadapi tantangan merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan meningkat atau tidaknya prestasi anggota.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kompetensi komunikasi tentor CSC dan konsep diri anggota CSC terhadap prestasi anggota. Teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini adalah konsep keberhasilan komunikasi interpersonal (Suranto,2011:84) dan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar (Rola, 2006:33) .Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe explanatory dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota CSC yang berjumlah 52 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik non probability sampling dengan cara purposive sampling . Peneliti mengambil sampel sebanyak 35 orang . Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan mengunakan analisis koefisien korelasi rank Kendall.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari variabel kompetensi komunikasi tentor CSC (X1) terhadap prestasi anggota(Y) sebesar 0,723, dimana 0,723>0,01. Di samping itu , nilai signifikansi dari variabel konsep diri anggota CSC (X2) terhadap prestasi anggota (Y) sebesar 0,467, dimana 0,467>0,01. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kompetensi komunikasi tentor CSC dan konsep diri anggota CSC terhadap prestasi anggota. Diharapkan untuk peneliti selanjutnya menggunakan teori dan variabel bebas yang berbeda terhadap prestasi agar penelitian terhadap prestasi semakin beragam. Selain itu, seluruh anggota sebaiknya harus pernah mengikuti kompetisi dan para tentor juga anggotanya dapat bersama-sama memperbaiki hal-hal yang menghambat prestasi sehingga prestasi semakin meningkat.
Hubungan antara Intensitas Menonton Televisi dan Tingkat Pengawasan Orang Tua (Parental Mediation) dengan Perilaku Kekerasan Oleh Anak P, Austin Dian; Suprihatini, Taufik; Herieningsih, Sri Widowati; Lailiyah, Nuriyatul
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.348 KB)

Abstract

Televisi masih menjadi media pilihan khalayak untuk mendapatkan informasi dan hiburan di saat maraknya era website, karena kemampuannya mengatasi faktor jarak, ruang, dan waktu. Namun kini banyak tayangan televisi yang mengandung konten kekerasan dan pengaduan masyarakat mengenai acara televisi terus meningkat di KPI dari tahun ke tahun. Banyak program yang mendapat teguran dari KPI hingga beberapa program dicekal untuk tayang. Oleh karena itu perlu adanya pengawasan dari orang tua yang dianggap lebih memahami dan dapat membimbing ketika anak-anak sedang menonton televisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton televisi dan tingkat pengawasan orang tua (parental mediation) dengan perilaku kekerasan oleh anak. Intensitas menonton televisi adalah tingkat keseringan (frekuensi), kualitas kedalaman menontonatau durasi dan daya konsentrasi dalam menonton televisi yang diukur dengan frekuensi, durasi,dan perhatian. Tingkat pengawasan orang tua diukur dengan aturan yang ditetapkan, pengawasanorang tua, dan menemani. Sedangkan perilaku kekerasan oleh anak diukur dengan dua dimensi,yaitu kekerasan secara fisik dan kekerasan secara verbal. Teori yang digunakan adalah teoriKultivasi dari George Gerbner dan teori Parental Mediation dari Nathanson. Penelitian inimerupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian iniadalah siswa kelas 3, 4, 5, dan 6, SD Negeri Wonolopo 3 Semarang yang berjumlah 203 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik nonrandom sampling. Teknik ini menggunakan cara pengambilan purposive sampling, yang berjumlah 65 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis koefisien korelasi rank Kendall menggunakan perhitungan program SPSS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara intensitas menonton televisi dengan perilaku kekerasan anak. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,040 dengan koefisien korelasi sebesar 0,239. Oleh karena sig sebesar 0,040 < 0,05; maka kesimpu lan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). Begitu pula untuk variabel tingkat pengawasan orang tua (parental mediation) dengan perilaku kekerasan anak menunjukkan bahwa terdapat hubungan Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,022 dengan koefisien korelasi sebesar – 0,265. Oleh karena sig sebesar 0,022 < 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). Saran yang diberikan sebagai implikasi hasil penelitian adalah stasiun televisi perlu menyeleksi kembali jam tayang untuk program yang berisi konten dewasa dan memberikan kode untuk setiap tayangan.Key words : Intensitas Menonton Televisi, Pengawasan Orang Tua, Perilaku Kekerasan Oleh Anak
KONSTRUKSI REALITAS MEDIA MASSA TEMPO DAN REPUBLIKA DALAM PEMBERITAAN BASUKI TJAHAJA PURNAMA PASCA PILKADA PUTARAN PERTAMA DKI JAKARTA 2017 Safwedha, Onny; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.934 KB)

Abstract

The results of the study show that the redactional policies of each medium affect the viewpoint taken in the news of an event. The redactional policy taken by Tempo, makes Tempo look to strive more objectively in performing news. Tempo provided fairly neutral and balanced reverence and criticism, such as Tempo's mission as an independent medium. Tempo and Republika have slightly different redactional policies in conducting an information of the Full Tjahaja Basuki. Furthermore, Republika provides inclined preaching in a more Islamic point of view, such as the Republika mission to put the interests of Muslims first. The results of the research that Tempo tended to display balanced information or equally large information from both pro- and con-parties. Compared to a Republika that tends to be heavy on one side, because it adores an Islamist preaching.
PENGARUH KOMUNIKASI PERSUASIF GURU DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA JAWA DAMAYANTI, ASTRID; Suprihatini, Taufik; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTTITLE : THE INFLUENCE OF PERSUASIVE COMMUNICATIONAND STUDENT MOTIVATION TO STUDY JAVANESETOWARD STUDENT ACHIEVEMENT AT THE SUBJECTNAME : ASTRID DAMAYANTINIM : D2C006013Javanese is one of the significant subject that is learned in every junior highschool. However, the students tend to disparage this subject that bring them not tounderstand how the language works. Javanese is considered as traditional and oldfashioned one that make students not interested and feel lazy to study it.This research has been done to found out the influence of persuasivecommunication by teacher and the students motivation to study Javanese toward theirachievement at the subject. Theory that used in this research is about persuasivecommunication by Effendy (1992: 12). The research itself is explanatory one withquantitative approach. The population taken in this research are students from 9th and10th grade of junior high school (SMP) in Semarang Tengah. The sample is taken bystratified proporsional random sampling while the sample itself is 96 persons.Meanwhile, the data is analyzed by regression test of quantitative analysis that usedcalculation from SPSS program (Statistical Product and Service Solution).The result indicates that persuasive communication by teacher (X1) hasinfluenced towards students achievement at Javanese (Y). It can be evidenced bycalculation with statistical test that obtained error probability (sig) 0,000 (<0,05) andR square value is 0.191. It means that persuasive communication by teacher hasinfluenced students achievement 19,1%. Meanwhile, students motivation to study(X2) has also influenced their achievement at Javanese (Y). It can be evidenced byhypothesis test that obtained error probability (sig) 0,000 (<0,05) and R square valueis 14,1%. Regression test indicated that 19,1% and 14,1 % of the study achievementfactors can be explained by persuasive communication by teacher and studentsmotivation to study, while the others 66,8% by other factors that was not be studiedin the research, like intelligence, maturity, and family factor.Keywords : Persuasive, Motivation, AchievementABSTRAKSIJUDUL : PENGARUH KOMUNIKASI PERSUASIF GURU DAN MOTIVASIBELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI SISWA PADA MATAPELAJARAN BAHASA JAWANAMA : ASTRID DAMAYANTINIM : D2C006013Mata pelajaran bahasa Jawa merupakan salah satu pelajaran yang penting dan ada didalam kurikulum setiap sekolah menengah. Akan tetapi, tak banyak siswa yang bisa menguasaipelajaran ini. Hal tersebut disebabkan karena siswa memiliki kecenderungan sikap meremehkanbahasa Jawa, karena bahasa Jawa dipandang sebagai bahasa tradisional yang kuno, danketinggalan jaman. Sehingga membuat siswa menjadi tidak tertarik dan malas untukmempelajarinya.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh komunikasi persuasif guru danmotivasi belajar siswa terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa. Teori yagdigunakan untuk mendukung penelitian ini adalah konsep komunikasi persuasif dari Effendy(Effendy, 1992: 12). Penelitian ini merupakan penelitian bertipe eksplanatori dengan pendekatankuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri kelas IX dan X yangbersekolah di wilayah kecamatan Semarang Tengah. Teknik sampling yang digunakan dalampengambilan sampel adalah stratified proporsional random sampling dengan jumlah sampelsebanyak 96 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatifdengan uji regresi yang menggunakan perhitungan dengan program SPSS (Statistical Productand Service Solution).Hasil penelitian menunjukan bahwa komunikasi persuasif guru (X1) berpengaruhterhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa (Y). Hal ini dibuktikan berdasarkanperhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000(<0,05) dengan nilai R square sebesar 0.191. Artinya, komunikasi persuasif guru mempengaruhiprestasi siswa sebesar 19,1%. Sedangkan untuk variabel motivasi belajar siswa (X2) ternyatajuga berpengaruh terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa (Y). Hal iniberdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000 (<0,05)dengan nilai R square sebesar 0,141. Artinya, bahwa motivasi belajar siswa mempengaruhiprestasi siswa sebesar 14,1%. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa 19,1% dan 14,1 % faktorfaktorprestasi belajar dijelaskan oleh komunikasi persuasif guru dan motivasi belajar siswa,sedangkan sisanya 66,8% dijelaskan oleh faktor- faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitianini, seperti kecerdasan siswa, kematangan individu, dan kondisi keluarga.Key Words : Persuasif, Motivasi, PrestasiPENDAHULUANPeran seorang guru yang mengajar di dalam kelas sangat menentukan prestasi akademikpara siswanya. Guru sebagai komunikator dan siswa sebagai komunikan harus mempunyaikesamaan makna agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan maksimal, atau dengan katalain isi pesan yang disampaikan komunikator dapat tersampaikan oleh komunikan. Komunikasiantara guru dan siswa menunjukkan proses dimana orang-orang yang terlibat didalamnya salingmempengaruhi. Suatu komunikasi bisa dikatakan efektif apabila dapat mencapai tujuan atausasaran sesuai dengan maksud si pembicara.Akan tetapi dalam kenyataannya tidak jarang hubungan guru dan siswa di dalam kelaskurang berjalan sebagaimana mestinya, dimana siswa mengalami kesulitan memahami materipelajaran saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Mata pelajaran bahasa Jawa bukanlahpelajaran yang baru bagi para siswa, karena pelajaran ini mulai diterima oleh siswa semenjakmereka berada di Sekolah Dasar (SD), artinya hingga lulus SD mereka sudah 6 tahunmempelajari bahasa Jawa. Namun kenyataannya, tak banyak siswa yang bisa menguasaipelajaran ini. Hal tersebut disebabkan karena siswa memiliki kecenderungan sikap meremehkanbahasa Jawa, karena bahasa Jawa dipandang sebagai bahasa tradisional yang kuno, danketinggalan jaman.Persoalan ini tidak jarang membuat siswa merasa kesulitan saat berlangsungnya kegiatanbelajar mengajar. Sehingga membuat siswa menjadi tidak tertarik dan malas untukmempelajarinya. Dapat dilihat selama beberapa tahun terakhir di Semarang, nilai rata-rata bahasaInggris di sejumlah sekolah justru lebih tinggi dari nilai mereka dalam bahasa Jawa. Hal tersebutdapat terlihat pada rendahnya nilai siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah.Nilai rata-rata untuk bahasa Inggris adalah 60,73, sedangkan nilai rata-rata untuk bahasa Jawahanya 51,02. (www.jatenginfo.web.id, 1 Okt 2011: 20.41). Di dalam memperoleh prestasiakademik, siswa memerlukan motivasi di dalam dirinya. Motif-motif penyebab timbulnyamotivasi bagi siswa bisa bermacam-macam. Reward yang diberikan bagi siswa apabila siswamencapai tingkat prestasi tertentu adalah salah satu motif didalam berprestasi.Melihat fenomena yang menunjukan rendahnya nilai dan ketertarikan siswa pada matapelajaran bahasa Jawa, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruhkomunikasi persuasif guru dan motivasi belajar terhadap prestasi akademik siswa pada matapelajaran bahasa Jawa.PEMBAHASANBeberapa teori yang terkait dengan tujuan penelitian diatas, yaitu:Menurut Effendy, komunikasi persuasif adalah penyampaian pesan yang dilakukan olehkomunikator sedemikian rupa dengan tujuan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilakukomunikan (Effendy, 1992: 12). Komunikasi persuasif juga didefinisikan sebagai perubahansikap akibat paparan informasi dari orang lain. Setiap informasi mempunyai potensi besar dalammempengaruhi sistem sikap dan perilaku seseorang. Sikap dan perilaku seseorang dapat berubahdengan adanya tambahan informasi baru(Werner dan James, 2008: 177) Dalam teoripenggabungan informasi, dikatakan bahwa perubahan sikap seseorang dapat terjadi ketika adatambahan informasi-informasi baru. Sama halnya ketika proses belajar mengajar berlangsung,dimana guru mengkomunikasikan informasi berupa materi pelajaran bahasa Jawa, yangkemudian informasi baru tersebut diterima siswa dan dipercayai oleh siswa, sehingga merubahsikap siswa yang menerima informasi tersebut (Littlejohn, 2009: 111-112). Informasi yangdisampaikan komunikator merupakan informasi yang berupa bujukan (persuasi) dengan tujuanagar komunikan mengubah sikap dan perilakunya sesuai dengan keinginan komunikator.Berdasarkan definisi di atas, jadi komunikasi persuasif guru saat mengajar adalahpenyampaian pesan yang dilakukan oleh guru dengan tujuan mengubah sikap, pendapat, atauperilaku siswa. Dalam hal ini guru, tentu menginginkan agar prestasi belajar siswa berupa nilaimata pelajaran menjadi semakin baik. Dimana prestasi itu sendiri diartikan oleh Djamarahsebagai perubahan sikap, pengetahuan dan ketrampilan siswa sebagai hasil dari interaksi denganpara guru di sekolah (Djamarah, 1994: 23), dan prestasi juga diartikan sebagai hasil yang telahdicapai atau diperoleh siswa berupa nilai mata pelajaran (Nurkencana, 1986 : 62). Maka prestasisiswa merupakan perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa berupa nilai matapelajaran sebagai hasil dari interaksi dengan para guru di sekolah. Berdasarkan pengertian di atasdapat disimpulkan, komunikasi persuasif guru saat mengajar adalah penyampaian pesan yangdilakukan oleh guru dengan tujuan mengubah prestasi siswa.Untuk membangkitkan semangat dan kegairahan para siswa dalam belajar bahasa Jawa,diperlukan adanya motivasi atau dorongan dengan harapan para siswa tertarik dan memilikisemangat yang tinggi dalam belajar bahasa Jawa. Motivasi belajar adalah keinginan ataudorongan untuk belajar. Didalam kegiatan belajar mengajar motivasi sangat diperlukan karenamotivasi dapat mendorong siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang berhubungandengan kegiatan belajar mengajar. Siswa dengan motivasi belajar rendah mengerjakan tugassekolah akan menjadi malas bahkan tidak dikerjakan sehingga mencapai prestasi yang rendah,begitu juga sebaliknya (Ghozali, 1984: 40).Secara konseptual dan operasional, ketiga variabel pada penelitan ini memiliki definisidan indikator sebagai berikut:1. Komunikasi persuasif guru adalah penyampaian pesan berupa ilmu pengetahuan daripendidik kepada peserta didik dengan cara tertentuIndikator:ï‚· Pemilihan BahasaGuru menyampaikan materi menggunakan bahasa yang sederhana dan mudahdimengertiï‚· PengulanganGuru mengulang materi yang telah disampaikan sebelumnyaï‚· InteraktifGuru melibatkan siswa untuk aktif di dalam kelasï‚· EvaluasiGuru memberikan evaluasi belajarï‚· InovasiGuru menggunakan media dalam menyampaikan materi2. Motivasi belajar diartikan sebagai serangkaian usaha yang dilakukan siswa gunamencapai hasil atau tujuan tertentuIndikator:ï‚· Frekuensi belajarTingkat keseringan siswa belajar bahasa Jawaï‚· Durasi belajarLama waktu belajar bahasa Jawa3. Prestasi adalah hasil belajar yang menunjukan ukuran kecakapan yang dicapai dalambentuk nilaiIndikator:ï‚· Nilai mata pelajaran bahasa Jawa siswa di sekolahTipe penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatori, yaitu penelitian yangbertujuan untuk menguji hipotesis mengenai hubungan kausal antar variabel yang diteliti, yaitupengaruh komunikasi persuasif guru (X1) dan motivasi belajar siswa (X2) terhadap prestasi siwapada mata pelajaran bahasa Jawa (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negerikelas IX dan X yang bersekolah di wilayah kecamatan Semarang Tengah, yaitu SMPN 3, SMPN7, SMPN 32, SMPN 36, dan SMPN 38. Teknik sampling yang digunakan dalam pengambilansampel adalah stratified proporsional random sampling suatu sampel yang diambil denganmemilih responden secara proporsional dari populasi sasaran yaitu siswa SMPN kelas IX dan Xdari sekolah-sekolah yang berada di kecamatan Semarang Tengah dengan jumlah sampelsebanyak 96 orang..Digunakan analisis yang bersifat kuantitatif untuk menguji pengaruh dari komunikasipersuasif guru dan motivasi belajar siswa (variabel X) terhadap prestasi siwa pada mata pelajaranbahasa Jawa (variabel Y). Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatifdengan uji statistik yang menggunakan uji regresi dengan menggunakan perhitungan denganprogram SPSS (Statistical Product and Service Solution).Hasil penelitian menunjukan bahwa uji hipotesis untuk pengaruh variabel komunikasipersuasif guru (X1) terhadap prestasi siswa (Y) menunjukkan bahwa regresi signifikan. Haltersebut ditunjukkan dengan nilai p-value sebesar 0,00. Dengan demikian regresi dikatakansignifikan pada taraf 99% karena 0,000 < 0,01. Maka Ho ditolak dan Ha diterima, yakni variabelkomunikasi persuasif guru memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi siswa. Hasil ujiregresi menunjukkan bahwa nilai R Square yang diperoleh sebesar 0,191, yaitu bahwa kontribusipengaruh variabel komunikasi persuasif guru terhadap variabel prestasi siswa adalah sebesar19,1%.Sedangkan, hasil uji hipotesis untuk pengaruh motivasi belajar siswa (X1) terhadapprestasi siswa (Y) menunjukkan bahwa regresi signifikan. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilaip-value sebesar 0,00. Dengan demikian regresi dikatakan signifikan pada taraf 99% karena 0,000< 0,01. Maka Ho ditolak dan Ha diterima, yakni variabel motivasi belajar siswa memilikipengaruh signifikan terhadap prestasi siswa. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa nilai R Squareyang diperoleh sebesar 0,141, yaitu bahwa kontribusi pengaruh variabel motivasi belajar siswaterhadap variabel prestasi siswa adalah sebesar 14,1%.Dalam penelitian ini pengaruh komunikasi persuasif guru terhadap prestasi siswadijelaskan dengan menggunakan pendapat dari Effendy, Djamarah, dan Nurkencana, yangmengatakan bahwa komunikasi persuasif guru adalah penyampaian pesan yang dilakukan olehguru dengan tujuan mengubah prestasi siswa. Adapun pengertian prestasi dalam hal inimerupakan perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa berupa nilai mata pelajaransebagai hasil dari interaksi dengan para guru di sekolah. Pendapat ini menjelaskan bahwapenyampaian pesan berupa informasi baru yang dilakukan oleh guru dapat mempengaruhi sistemsikap dan perilaku siswa yang kemudian ditunjukkan dalam bentuk nilai dan disebut denganprestasi (lihat bab 1 hal. 13 dan 16).Hal itu sesuai dengan teori perubahan sikap Hovland, yang menjelaskan bahwa sikap itudapat terbentuk dan sikap dapat berubah melalui proses komunikasi. Serupa dengan Hovland,dalam teori penggabungan informasi, dikatakan bahwa perubahan sikap seseorang dapat terjadiketika ada tambahan informasi-informasi baru. Hovland, Janis & Kelly juga beranggapan bahwaproses dari perubahan sikap adalah serupa dengan proses belajar. Persuasi dipandang sebagaisebuah cara belajar. Dalam teori belajar (learning theory) perilaku manusia dipandang sebagaisebuah rangkaian stimulus- respon. Keadaaan manusia secara terus menerus diserang olehstimulus atau rangsangan. Kemudian apa yang dilakukan manusia merupakan hasil daripemrosesan stimulus yang ditanggapi manusia sebagai respon. Teori ini dapat memprediksiperilaku sehingga kemudian dapat mengontrolnya sesuai kehendak komunikator. Dengan katalain komunikator dapat mengarahkan perilaku seseorang ke arah yang dikehendakinya (lihat bab1 hal. 15).Dari penjelasan di atas digambarkan bahwa ketika proses belajar mengajar berlangsung,dimana guru mengkomunikasikan informasi berupa materi pelajaran bahasa Jawa, yangkemudian informasi baru tersebut diterima siswa dan dipercayai oleh siswa. Sehingga dapatmerubah sikap siswa yang menerima informasi tersebut. Informasi yang disampaikan gurumerupakan informasi yang berupa bujukan (persuasi) dengan tujuan agar siswa mengubah sikapdan perilakunya sesuai dengan keinginan guru. Dalam hal ini guru, tentu menginginkan agarprestasi belajar siswa berupa nilai mata pelajaran menjadi semakin baik. Dari hasil pengujianmenunjukkan bahwa komunikasi persuasif guru memiliki pengaruh yang signifikan terhadapprestasi siswa.Hipotesis mengenai motivasi belajar siswa juga dapat dibuktikan dengan memperhatikanhasil penelitian yang disajikan. Hasil penelitian menyebutkan hal yang sesuai dengan hipotesis,yaitu motivasi belajar memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi siswa. Lingrenmengatakan bahwa motivasi belajar adalah dorongan yang ada pada seseorang yangberhubungan dengan prestasi. Sama halnya dengan yang disampaikan oleh Ghozali, bahwa siswadengan motivasi belajar rendah mengerjakan tugas sekolah akan menjadi malas bahkan tidakdikerjakan sehingga mencapai prestasi yang rendah, begitu juga sebaliknya. Jadi dapatdisimpulkan bahwa dengan adanya motivasi belajar, setiap siswa ingin mendapatkan tujuan akhiryaitu prestasi yang ditandai dengan nilai. Hal ini mendukung hasil pembuktian hipotesis di atas,bahwa motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi siswa.PENUTUPKESIMPULANPenelitian tentang pengaruh komunikasi persuasif guru dan motivasi belajar siswaterhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa, menghasilkan beberapa kesimpulansebagai berikut.1. Terdapat pengaruh komunikasi persuasif guru saat mengajar terhadap prestasi siswa padamata pelajaran bahasa Jawa. Artinya bahwa penyampaian pesan berupa materi pelajaranyang dilakukan oleh guru dapat mempengaruhi sistem sikap dan perilaku siswa yangditunjukkan dalam bentuk nilai. Hal ini dapat dijelaskan karena materi yang disampaikanoleh guru saat mengajar bersifat persuasif dimana didalamnya terdapat pemilihan bahasayang tepat, guru juga melakukan evaluasi, pengulangan, dan inovasi didalam kelas,sehingga dapat mengarahkan siswa untuk bertindak sesuai dengan yang diinginkan guru.2. Terdapat pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi siswa pada mata pelajaranbahasa Jawa. Artinya, ketika motivasi belajar siswa yang ditandai dari lamanya waktubelajar dan seringnya siswa mengulang pelajaran tinggi, prestasi siswa pun ikut tinggi.Hal ini dapat dijelaskan karena motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak didalamdiri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan darikegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yangdikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.SARANPenelitian tentang pengaruh komunikasi persuasif guru dan motivasi belajar siswaterhadap prestasi siswa pada mata pelajaran bahasa Jawa, menghasilkan saran sebagaiberikut :1. Didalam proses belajar mengajar guru sebaiknya dapat lebih memacu motivasi siswadalam mempelajari bahasa JawaDAFTAR PUSTAKACangara, Hafied. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaDe Vito, Joseph. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta : Professional BooksDjamarah, Syaiful Bahri. 1994. Prestasi Belajar Dan Kompetensi Guru. Jakarta: UsahaNasionalEffendy, Onong Uchjana. 2002. Ilmu komunikasi teori dan praktek. Bandung: PT.Remaja rosdakaryaGhozali, Endang. W. 1984. Kesukaran Belajar. Citra Dunia Kedokteran No.35.Surabaya: Fakultas Ilmu Kedokteran Jiwa Universitas AirlanggaHardiyanto dan Esti Sudi Utami. 2001. Kamus Kecik Bahasa Jawa Ngoko-Krama.Semarang: Lembaga Pengembangan Sastra dan BudayaHamzah, Uno. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yangKreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi AksaraImaningtyas. 2010. Sistem Koordinasi Manusia. Bogor: PT. Gelora Aksara PratamaKriyantono, Rachmat. 2006. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLittlejohn, Stephen W. 2009. Theories of Human Communication (9th edition). Jakarta:Salemba HumanikaMakmun, Abin Syamsuddin. 2003. Psikologi Pendidikan. PT Rosda Karya Remaja,BandungMarisan, dkk. 2010. Teori Komunikasi Massa. Bogor: PT. Ghalia IndonesiaMuhammad,Arni. 1996. Komunikasi Organisasi, Jakarta : Bumi AksaraMulyana, Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : RemajaRosdakarya OffsetMulyasa, H.E. 2009. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: KemandirianGuru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi AksaraMunandar. 2003. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta:GramediaNaim, Ngainun. 2011. Dasar-Dasar Komunikasi Pendidikan. Arr-Ruz Media:YogyakartaNugroho, Adi. 2005. Analisis dan Perancangan Sistem Informasi Dengan MetodologiBerorientasi Objek. Informatika. BandungNurkencana. 2005. Evaluasi Hasil Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha NasionalPoerwadarminta, WJS. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai PustakaPurwadi, Dr. 2005. Tata Bahasa Jawa. Yogyakarta: Media AbadiPurwanto, M Ngalim. 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja RosdakaryaRakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaSabri, M.Alisuf. 1996. Psikologi Pendidikan . Jakarta: Pedoman JayaSaputra, Karsono H. 1992. Pengantar Sekar Macapat. Depok: Fakultas SastraUniversitas IndonesiaSardiman. 2007. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. RemajarosdakaryaSasangka, Sry Satria Tjatur Wisnu. 2004. Unggah-ungguh Bahasa Jawi. Jakarta:Yayasan ParamalinguaSingarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ESSoemirat, Soleh, Hidayat Satiri dan Asep Suryana. 2004. Komunikasi Persuasif. Jakarta :Universitas TerbukaSusanto, Astrid. 1993. Komunikasi Dalam Teori dan Praktek, Jilid 2. Bandung: BinaciptaTarigan, Henri. 1993. Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa. Bandung:Angkasa BandungUsman, M Uzer. 2011. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja RosdakaryaWalgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: CV. Andi OffsetWerner dan James Tankard Jr. 2008. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapandi dalam Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana Prenada Media GroupWidjaja, H.A.W. Drs. 2000. Ilmu Komunikasi Pengantar Studi. Jakarta: PT. Rineka CiptaYusuf. Pawit M. 1990. Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi instruksional. Bandung:PT. Remaja rosdakaryaSuara Merdeka, Sabtu, 23 Agustus 2008Suara Merdeka, Senin, 30 Mei 2005www.AnneAhira.com, 26 Maret 2011: 15.38www.jatenginfo.web.id, 1 Okt 2011: 20.41www.kompas.com, 12 Feb 2011: 21.57www.solopos.com, 12 Feb 2011: 21.57Data Pokok Pendidikan Wilayah (DAPODIK) Dinas Pendidikan Kota Semarang Th.2011
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON PROGRAM MEMASAK DI TELEVISI DAN KOMPETENSI CHEF PRESENTER DALAM PROGRAM MEMASAK TERHADAP MINAT PENONTON UNTUK MEMASAK UTAMI, DITA PURMIA; Suprihatini, Taufik; Herieningsih, Sri Widowati
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.988 KB)

Abstract

Hubungan Intensitas Menonton Program Memasak di Televisi dan Kompetensi ChefPresenter dalam Program Memasak terhadap Minat Penonton untuk MemasakSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : DITA PURMIA UTAMINIM : D2C008083JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO2013ABSTRAKSIJUDUL : HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON PROGRAMMEMASAK DI TELEVISI DAN KOMPETENSI CHEF PRESENTERDALAM PROGRAM MEMASAK TERHADAP MINAT PENONTONUNTUK MEMASAKNAMA : DITA PURMIA UTAMINIM : D2C008083Dewasa ini perempuan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, namun juga memilihuntuk berkarier. Di tengah kesibukannya dalam berkarier, sebagian perempuan tidak lagimemperhatikan pekerjaan rumah, khususnya memasak. Munculnya berbagai programmemasak di televisi dengan format yang baru dan dipandu oleh chef presenter yangberkompeten, memiliki daya tarik tersendiri bagi penontonnya. Program memasak tersebutmemiliki penonton yang berbeda karakter, mulai dari penonton yang tidak bisa memasak,hingga penonton yang ahli dalam bidang memasak.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menontonprogram memasak di televisi dan kompetensi chef presenter dalam program memasakterhadap minat penonton untuk memasak. Penelitian ini merupakan penelitian bertipeeksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Teori yang digunakan adalah Teori Belajar Sosial(Bandura, 1977), teori kompetensi (Agung, 2007) dan efek komunikasi massa (Chaffee,1980). Populasi dalam penelitian ini adalah remaja perempuan dan ibu rumah tangga diSemarang yang menyaksikan program memasak di televisi. Teknik sampling yang digunakanadalah teknik sampling kebetulan (accidental sampling) dengan jumlah sampel sebanyak 50orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah kuantitatif dengan uji statistikyang menggunakan analisis korelasi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan denganprogram SPSS 17 (Statistical Product and Service Solution).Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas menonton program memasak ditelevisi (X1) ternyata tidak berhubungan terhadap minat penonton untuk memasak (Y), halini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitaskesalahan (sig) sebesar 0,629 (>0,05). Kompetensi chef presenter dalam program memasak(X2) ternyata juga tidak berhubungan terhadap minat penonton untuk memasak (Y). Hal iniberdasarkan data uji hipotesis, diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,862 (>0,05).Hasil pengujian terhadap ketiga variabel, yaitu antara variabel intensitas menonton programmemasak di televisi (X1) dan kompetensi chef presenter dalam program memasak (X2)terhadap minat penonton untuk memasak (Y) menggunakan teknik korelasi Kendallmenunjukkan angka probabilitas sebesar 0,000. Oleh karena sig sebesar 0,000 < 0,05 yangberarti bahwa harga variabel tersebut memiliki hubungan yang signifikan. Dengan demikian,maka secara statistik, dapat dinyatakan “terdapat hubungan antara intensitas menontonprogram memasak di televisi (X1) dan kompetensi chef presenter dalam program memasak(X2) terhadap minat penonton untuk memasak (Y)”. Jadi artinya bahwa ketika intensitasmenonton program memasak di televisi tinggi dan kompetensi chef presenter dalam programmemasak baik, maka penonton semakin berminat untuk memasak.Kata Kunci : Intensitas Menonton Program Memasak; Kompetensi Chef Presenter; MinatMemasakABSTRACTJUDUL : CORRELATION BETWEEN INTENSITY OF WATCHING ACOOKING PROGRAM IN TELEVISION AND CHEF PRESENTER’SCOMPETENCY OF COOKING PROGRAM WITH AUDIENCE’SINTEREST FOR COOKINGNAMA : DITA PURMIA UTAMINIM : D2C008083Nowadays, women not only be a housewife, but also choose to make a career. In themidst of their rush in a career, most women no longer regard housework, especially cooking.The emergence of a variety of cooking programs on television with a new format and isguided by a competent chef presenter, has a special attraction for the audience. The cookingprogram has different character of audiens, from the audience who could not cook, until theaudience who are experts in the field of cooking.This research was aimed to know how the correlation between the intensity ofwatching a cooking program on television and chef presenter’s competency of cookingprogram with audience interest for cooking. It is an explanatory type with a quantitativeapproach. The theory used is the teori belajar sosial (Bandura, 1977), the theory ofcompetency (Agung, 2007) and effects of mass communication (Chaffee, 1980) . Thepopulation in this research were young women and housewives in Semarang who watchcooking programs on television. The sampling technique used is sampling kebetulan(accidental sampling) with the number of sample are 50 people. The data analysis techniqueused is quantitative with statistical tests using the Kendall rank correlation analysis usingcalculations with SPSS 17 (Statistical Product and Service Solutions).The results showed that the intensity of watching a cooking program on television(X1) was not related with audience’s interest for cooking (Y), it was proved by thecalculation of which is obtained through a statistical test error probability (sig) of 0.629 (>0,05). Chef presenter’s competency of cooking program (X2) was also not related to theaudience’s interest for cooking (Y). This is based on hypothesis data test, derived errorprobability (sig) of 0.862 (> 0,05). The test results of the three variables, namely the variableintensity of watching a cooking program on television (X1) and the chef presenter’scompetency of cooking program (X2) to the audience's interest for cooking (Y) using Kendallcorrelation techniques showed the probability of 0.000. Therefore sig of 0.000 <0.05, whichmeans that the price of these variables had a significant relationship. Thus, statistically, it canbe stated "there is a correlation between the intensity of watching a cooking program ontelevision (X1) and the chef presenter’s competency of cooking program (X2) to theaudience's interest for cooking (Y)". So that means that when there is high intensity ofwatching a cooking program on television and chef presenter’s competency in cookingprogram, the audience more interested in cooking.Key words : intensity of watching a cooking program, chef presenter’s competency of cookingprogram, interest in cookingPENDAHULUANPerkembangan teknologi komunikasi massa dalam bentuk media massa khususnyamedia televisi telah membuat dunia semakin kecil. Informasi melalui medium televisi daninternet yang mengalir melintasi batas-batas negara tampaknya tidak dapat terbendung olehjarak, ruang, dan waktu (Kuswandi, 2008:33)Melihat fungsi media televisi yang begitu luas, maka secara otomatis akan memberikankesadaran bahwa muatan-muatan pesan media televisi harus dapat mendukung keinginanseluruh masyarakat yang terlibat dalam berbagai sendi kehidupan sosial baik secara politik,ekonomi, dan budaya (Kuswandi, 2008:33). Maka dari itu, televisi harus menampilkanprogram-program yang berkualitas, menarik dan mendidik masyarakat.Untuk mengambil hati sekaligus memuaskan khalayaknya, berbagai stasiun televisiswasta memproduksi tayangan-tayangan yang dirasa akan banyak diminati oleh masyarakat.Berbagai macam program yang bertemakan edukatif, informatif, hingga menghibur punditayangkan. Mulai dari tayangan berita, infotainment, berita kriminal, reality show, kuliner,acara musik bahkan acara yang saat ini banyak diminati yaitu program acara memasak.Banyak acara televisi yang menampilkan program acara masak-memasak dan ratingnyatinggi.Intensitas menonton merupakan tingkat keseringan seseorang menonton setiappenyampaian pesan dan informasi tentang barang ataupun gagasan yang menggunakan mediamassa (Rakmat, 2000:52). Apabila penonton sering menonton program memasak, makainformasi mengenai program dan apa yang disajikan dalam program tersebut akan semakinbanyak diterima.Di zaman globalisasi seperti sekarang ini, tidak semua perempuan menjadi ibu rumahtangga, ada pula yang menjadi wanita karir. Banyak perempuan yang melakukan peransebagai laki-laki, yakni bekerja mencari nafkah. Ketika seorang istri berkarir di luar rumahurusan rumah tangga biasanya tidak tertangani semua, khususnya memasak.Program acara memasak memiliki konsep yang sangat menarik. Diselingi dengan acaratravelling yang menambah daya tarik bagi penontonnya. Selain itu chef presenter yangdipakai dalam program-program memasak tersebut adalah chef yang memang berkompetendan memiliki banyak pengalaman dalam dunia memasak.Dengan konsep acara dan kompetensi chef presenter handal yang dimiliki oleh programmemasak, mampu mencuri perhatian pemirsa program tersebut untuk selalu menyaksikannya.Penonton program acara memasak memiliki berbagai macam karakter penonton yangmenyaksikannya. Mulai penonton yang tidak bisa memasak hingga penonton yang ahlimemasak.Kompetensi komunikasi chef presenter yang baik akan mempengaruhi minat penontonuntuk memasak. Penonton yang kurang berminat memasak akan menjadi berminat untukmemasak dan yang gemar memasak akan semakin meningkatkan kreativitasnya dalammemasak. Tidak hanya memenuhi kebutuhan akan hiburan saja, namun dapat memberikansuatu manfaat dan pembelajaran bagi yang menyaksikan program tersebut.Berdasarkan hal tersebut diatas, muncul suatu pertanyaan, apakah ada hubungan antaraintensitas menonton program memasak di televisi dan kompetensi chef presenter dalamprogram memasak terhadap minat penonton untuk memasak?ISITeori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Belajar Sosial (SocialLearning Theory) dari Bandura. Salah satu perilaku prososial ialah memiliki keterampilanyang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Keterampilan seperti ini biasanyadiperoleh dari saluran-saluran-saluran interpersonal : orang tua, atasan, pelatih, atau guru.Pada dunia modern, sebagian dari tugas mendidik telah dilakukan media massa. MenurutBandura, kita belajar bukan saja dari pengalaman langsung, tetapi dari peniruan ataupeneladanan (modeling). Perilaku merupakan hasil faktor-faktor kognitif dan lingkungan.Artinya, kita mampu memiliki keterampilan tertentu, bila terdapat jalinan positif antarastimuli yang kita amati dan karakteristik diri kita (Rakhmad, 2005:240).Menurut Steven M. Chaffee (dalam Rakmat, 2005:218) dalam melihat efek yangditimbulkan oleh pesan media massa adalah dengan melihat jenis perubahan yang terjadipada diri khalayak komunikasi massa, yaitu :1. Efek KognitifTerjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang diketahui,dipahami, ataupun dipersepsi oleh khalayak. Kognitif berkaitan dengan transmisipengetahuan, keterampilan, dan informasi.2. Efek AfektifTerjadi apabila komunikasi massa memberikan perubahan pada apa yang dirasakan,disenangi, ataupun dibenci oleh khalayak. Perubahan ditunjukkan dengan perubahan perasaanemosi, sikap atau nilai.3. Efek BehavioralMerujuk pada perubahan perilaku nyata yang dapat diamati seperti pola tidakan,kegiatan dan kebiasaan berperilaku (Rakmat, 2005:219).Dari ketiga efek di atas, efek yang paling menonjol adalah efek kognitif dan afektif,dimana seseorang atau khalayak yang melihat program acara memasak di televisimemberikan perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, ataupun dipersepsi olehkhalayak. Dengan menonton program memasak di televisi, memberikan perubahan pada apayang dirasakan, disenangi, ataupun dibenci oleh penonton. Perubahan tersebut dapatditunjukkan dengan khalayak yang sebelumnya tidak menyukai masak akan mencoba untukbelajar memasak dan yang sebelumnya menyukai memasak akan semakin meningkatkankegemarannya dalam bidang memasak.Menurut Johnson (dalam Suparno, 2001:27) memandang kompetensi sebagai perbuatan(performance) yang rasional yang secara memuaskan memenuhi tujuan dalam kondisi yangdiinginkan. Dikatakan performance yang rasional, karena orang yang melakukannya harusmempunyai tujuan atau arah dan ia tahu apa dan mengapa ia berbuat demikian.Konsep-konsep dasar komunikasi yang terdapat dalam kegiatan komunikasi dapatdijelaskan dalam proses komunikasi manusia, yaitu (Winarso, 2005:5) ; sumber – penerima,pengiriman sandi – pemahaman sandi, kemampuan, pesan, umpan balik, umpan muka,saluran, gangguan, konteks, bidang pengalaman, akibat, dan etika.Tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplanatori yang menjelaskantentang hubungan intensitas menonton program memasak di televisi dan kompetensi chefpresenter dalam program memasak terhadap minat penonton untuk memasak. Populasidalam penelitian ini adalah remaja perempuan dan ibu rumah tangga di kota Semarang yangmeyaksikan program memasak di televisi. Sedangkan jumlah sampel penelitian yang diambiladalah 50 orang remaja perempuan dan ibu rumah tangga yang menyaksikan programmemasak di televisi di kota Semarang. Karena jumlah penonton program memasak di televisitidak diketahui, maka peneliti menggunakan teknik sampling kebetulan (accidentalsampling). Teknik ini memilih siapa saja yang kebetulan dijumpai untuk dijadikan sampeldengan kriteria tertentu.Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisiskoefisien korelasi Rank Kendall dengan menggunakan perhitungan dengan program SPSS(Statistical Product and Service Solution) versi 17.0.Berdasarkan perhitungan, diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,064 denganprobabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,629. Oleh karena sig sebesar 0,629 > 0,05 yang berartihubungan kedua variabel tersebut tidak signifikan. Maka hipotesis penelitian yangmenyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara intensitas menonton program memasakdi televisi dengan minat penonton untuk memasak, tidak diterima. Hal ini bisa dijelaskandengan menggunakan teori perbedaan-perbedaan individu mengenai pengaruh komunikasimassa (the individual differences theory of mass communication effect), dimana menurutteori ini bahwa tiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaannyamaupun nilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasimassa juga berbeda (Liliweri, 1991:106).Teori di atas sesuai dengan hasil pencarian dan pengolahan data yang menunjukkanbahwa meskipun intensitas menonton program memasak berbeda-beda (banyak ataupunsedikit), akan tetapi itu juga tidak serta merta merubah minat penonton untuk memasak.Berdasarkan data uji hipotesis di atas, diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,025dengan probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,862. Oleh karena sig sebesar 0,862 > 0,05 yangberarti hubungan kedua variabel tersebut tidak signifikan. Maka, hipotesis penelitian yangmenyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara kompetensi chef presenter dalamprogram memasak dengan minat penonton untuk memasak, tidak diterima. Hal tersebut dapatdijelaskan dengan pendapat Gordon (dalam Mulyasa, 2004:77) mengenai beberapa ranahyang terkandung dalam dalam konsep kompetensi, yaitu :- Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif.- Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimilikioleh individu.- Kemampuan (skill) adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukantugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.- Sikap (attitude) yaitu reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar(senang atau tidak senang, suka atau tidak suka).- Minat (interest) adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatuperbuatan. Minat yang timbul akan berbeda pada setiap individunya.Kompetensi chef presenter juga akan menghasilkan minat memasak yang berbeda-bedakepada setiap responden (berminat atau tidak berminat). Misalnya kompetensi chef presenteryang tinggi, tidak disertai dengan minat penonton untuk memasak. Kemungkinan inidisebabkan karena tingginya tingkat kesulitan masakan yang dipraktekkan oleh chefpresenter, sehingga penonton tidak berminat untuk memasak.Berdasarkan hasil perhitungan memperlihatkan bahwa koefisien konkordansi (W)sebesar 0,691. Setelah dilakukan transformasi harga W ke dalam rumus chi kuadrat,diperoleh harga chi kuadrat 69,136 dengan probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000. Olehkarena sig sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa harga variabel tersebut memilikihubungan yang signifikan, hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak.Dengan demikian maka secara statistik, hipotesis yang menyatakan “terdapat hubunganantara intensitas menonton program memasak di televisi (X1) dan kompetensi chef presenterdalam program memasak (X2) terhadap minat penonton untuk memasak” diterima.PENUTUPFungsi media massa adalah memberi informasi, mendidik dan menghibur. Melaluibanyaknya program memasak yang muncul di televisi, mampu memenuhi syarat dari ketigafungsi tersebut. Melalui program memasak, khalayak mendapatkan banyak informasi dalambidang memasak, mulai dari nama berbagai masakan (baik dari dalam maupun luar negeri)hingga istilah dalam bidang memasak. Selain itu, program memasak juga mendidikkhalayaknya dengan cara menyajikan proses pengolahan bahan makanan suatu masakan.Dalam beberapa program memasak, chef presenter dalam mempresentasikan masakannyadiawali dengan kegiatan travelling terlebih dahulu, sehingga dapat menghibur pemirsanya.5.1. KesimpulanBerdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil beberapakesimpulan sebagai berikut:1. Intensitas menonton program memasak di televisi tidak berhubungan dengan minatpenonton untuk memasak. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui ujistatistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,629 dan koefisienkorelasi sebesar -0,064.2. Kompetensi chef presenter dalam program memasak tidak berhubungan dengan minatpenonton untuk memasak . Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui ujistatistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,862 dan koefisienkorelasi sebesar -0,025.3. Intensitas menonton program memasak di televisi dan kompetensi chef presenterdalam program memasak berhubungan dengan minat penonton untuk memasak. Halini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperolehprobabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,000.5.2. SaranBerikut merupakan saran yang dapat diajukan berdasarkan penelitian yang telahdilakukan:1. Program memasak memiliki peran yang penting dalam memenuhi kebutuhankhalayak akan informasi dalam bidang memasak serta menjadi sarana khalayakuntuk belajar. Maka dari itu, diharapkan program memasak dapat disajikandengan format yang lebih bervariasi, sehingga penonton akan lebih tertarik untukmenyaksikannnya. Misalnya dengan menghadirkan bintang tamu yang sedangnaik daun.2. Chef presenter dalam program memasak juga harus terus meningkatkankompetensinya dengan menyajikan lebih banyak lagi inovasi masakan yangbahannya mudah untuk didapatkan dan informasi dalam bidang memasak.Misalnya dengan mengkombinasikan masakan Indonesia dengan masakan Italia.DAFTAR PUSTAKAAgung, Lilik. 2007. Human Capital Competencies. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi AksaraBungin, Burhan. 2008. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta : Kencana Predana MediaGroup.DeVito, Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia : Kuliah Dasar (Edisi Kelima).HarperCollin Publishers Inc.Effendi, Onong U. 1997. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : RemajaRosdakarya.Effendy, Onong U. 1986. Dimensi-dimensi Komunikasi. Bandung : Kotak Pos 272.Eriyanto. 2007. Teknik Sampling : Analisis Opini Publik. Yogyakarta : PT.LKiS PelangiAksara.Griffin, Em. 1991. A First Look at Communication Theory. New York : McGraw-HillHurlock, Elizabeth B. 1999. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.Irwanto. 2002. Psikologi umum. Jakarta : PT. Prenhallindo.Janawi. 2011. Kompetensi Guru : Citra Guru Profesional. Bandung : Alfabeta.Kartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar MajuKuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa : Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta : PT.Rineka Cipta.Kuswandi, Wawan. 2008. Komunikasi Massa : Analisis Interaktif Budaya Massa. Jakarta :Rineka Cipta.Liliweri, Alo.1991. Memahami Peran Komunikasi dalam Masyarakat. Bandung: Citra AdityaBaktiLittle john, Stephen W & Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi (Theories of HumanCommunication) edisi 9. Jakarta : Salemba Humanika.Marchfoedz, Ircham. 2007. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT. Tramaya.Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : Remaja RosdakaryaNasution, S. 2009. Metode Research : Penelitian Ilmiah. Jakarta : PT. Bumi Aksara.Noor, Henry Faizal. 2010. Ekonomi Media. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.Rakhmat, Jalaluddin. 2000. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Ruslan, Rosady. 2004. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada.Samovar, Larry. A, Richard E. Porter, Edwin R. Mc Daniel. 2010. Komunikasi Lintas Budaya(Edisi 7). Jakarta : Salemba Humanika.Singarimbun, Masri. 1995. Metodologi Penelitian Survai. Jakarta : PT.Pustaka LP3ES.Subroto, Darwanto Sastro. 1992. Televisi Sebagai Pendidikan.Yogyakarta: Duta WacanaUniversity Press.Sumanto, Wasty.1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bina AksaraSuparno, Suhaenah. 2001. Membangun Kompetensi. JakartaSupranto, J. 2000. Teknik Sampling. Jakarta : PT. Rineksa Cipta.Surakhmah, Winarno. 1982. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito.Syah, Muhibbin. 2005. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo PersadaTubbs, Stewart L dan Sylvia Moss. 1996. Human Communication : Konteks-KonteksKomunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Wibowo, Fred. 2007. Teknik Produksi Program Televisi. Yogyakarta : Pinus BooksPublisher.Winarni. 2003. Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Malang : UMM Press.Winarso, Heru Puji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta : Presentasi Pustaka.Internet :Dini. (2011). Jangan Ragu Memilih Profesi “Chef”. Dalamhttp://female.kompas.com/read/2011/05/30/15160929/Profesi.Chef.Semakin.Dicari.Diunduh pada 5 Oktober pukul 21.35 WIBFuadi. (2011) Remaja dan Bisnis Kuliner. Dalamhttp://crazystress.blogspot.com/2009/12/remaja-dan-bisnis-kuliner.html. Diunduhpada 7 Februari pukul 20.15 WIBGembur, S. Teguh. (2013). Rennee Sang Chef Profesional. Dalamhttp://peacockbistro.blogspot.com/2013/03/rennee-sang-chef-profesional.html?m=1.Diunduh pada 2 April pukul 17.00 WIBJika Wanita Tak Bisa Memasak. (2010). Dalamhttp://cleoditra.student.fkip.uns.ac.id/2010/07/17/jika-wanita-tak-bisa-memasak/.Diunduh pada 2 April pukul 17.25 WIBUlfah, Nurul. (2009). Susahnya Memasak si Wanita Karir. Dalamhttp://health.detik.com/read/2009/09/11/073444/1201160/764/susahnya-memasaksi-wanita-karir. Diunduh pada 7 Februari pukul 20.03 WIBFauziyyah, Alfi Muhimmatul. (2011). Emansipasi Tanpa Menyalahi Kodrat. Dalamhttp://kampus.okezone.com/read/2011/12/22/367/545767/redirect. Diunduh pada 15Februari pukul 06.30 WIBKurniasari, Triwik. (2009). Barra Pattiradjawane. Dalamhttp://id.wikipedia.org/wiki/Bara_Pattiradjawane. Diunduh pada 27 April pukul17.14 WIB6 Chef Tercantik di Indonesia. (2011). Dalam http://coba-liat.blogspot.com/2012/09/6-cheftercantik-di-indonesia.html. Diunduh pada 27 April pukul 17.14 WIBJaya, Dudi. (2011). Dalam http://dudijaya.blogspot.com/2011/07/profil-biodata-chefjuna.html. Diunduh pada 27 April pukul 17.30 WIBJaya, Dudi. (2011). Dalam http://dudijaya.blogspot.com/2011/06/profil-biodata-chefmarinka.html. Diunduh pada 27 April pukul 17.32 WIBNew Culinary December. (2011). Dalam http://www.indomarketplace.com/topic/497.Diunduh pada 27 April pukul 18.00 WIBProfil Rudy Choirudin. (2012). Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Rudy_Choirudin. Diunduhpada 27 April pukul 18.11 WIBZR, Yeni. (2013). Dalamhttp://contactpersonchefbillydancorrypamela.blogspot.com/2013/02/profile-chefbilly-kalangi.html. Diunduh pada 27 April 18.30 WIBMengenal Chef Muto. (2013). Dalam http://infotegal.com/2013/02/mengenal-chef-muto/.Diunduh pada 27 April 19.15 WIBSkripsi :Arleen, Ariesyani. (2011). Dampak Tayangan Program Acara Masterchef US di ChannelStarworld Terhadap Minat Memasak (Studi Pada Mahasiswa Jurusan HotelManagement Binus University).Skripsi, Bina Nusantara.Sari, Diah Arum. (2005). Hubungan Antara Motivasi Anak dalam Mengikuti Lomba danKebutuhan Anak untuk Mengembangkan Bakat dengan Intensitas MenontonProgram Talent Show di Televisi. Skripsi. Universitas Diponegoro.Al-Hayuantana, Bayu Vita. (2002). Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Katakan Cintadi RCTI dan Interaksi dengan Teman Sebaya dengan Perilaku Imitasi dalamMengungkapkan Cinta. Skripsi. Universitas Diponegoro
KONTROVERSI HEALTHY LIFESTYLE PADA PROGRAM OCD (OBSESSIVE CORBUZIER DIET) DI MEDIA ONLINE TWITTER Putri, Sallindri Sanning; Santosa, Hedi Pudjo; Suprihatini, Taufik; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.052 KB)

Abstract

Ramainya pemberitaan program OCD (Obsessive Corbuzier Diet) sebagai healthy lifestyle yang beredar di media twitter hingga tersebar di berbagai media massa, menjadi perbincangan hangat yang menimbulkan berbagai opini dalam masyarakat. Aturan OCD yang dianggap fleksibel namun juga menyimpang dari anjuran kesehatan, membuat program ini menuai kritik dari berbagai lapisan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna sebagaimana dimaksud oleh media twitter dan mengetahui bagaimana resepsi khalayak terhadap kontroversi OCD sebagai healthy lifestyle. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perspektif perbedaan individual (Ball-Rokeach, S. J.dan DeFleur, M.L. 1976) dan khalayak aktif (Levy dan Windhl 1985:110). Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis resepsi Stuart Hall. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview kepada 7 informan. Indepth interview dilakukan dengan FGD (Forum Group Discussion) dan wawancara individual. Informan dalam penelitian ini yakni, pengguna twitter aktif dan khalayak yang mendapat terpaan tweet program OCD. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa khalayak meresepsi OCD tidak sesuai dengan preferred reading yang di komunikasikan media. Preferred reading di dapat dari teks media twitter yang menggambarkan OCD sebagai sebuah healthy lifestyle yang diyakini dapat menurunkan berat badan secara praktis dan instan. Namun dalam melakukan pemaknaan, khalayak membaca posisi OCD secara oppositional reading, dimana OCD tidak dilihat sebagai healthy lifestyle, namun hanya sekedar program diet. Khalayak memahami secara pasti pemahaman healthy lifestyle, namun tidak  menerapkan pengetahuan yang dimilikinya sebagai gaya hidup.  Aturan OCD yang berbeda dari paham kesehatan pada umumnya, seperti makan pagi dan mengkonsumsi kolesterol diresepsi khalayak hanya sebagai sebuah informasi. Khalayak memilih untuk tetap menjalani kebiasaan dan pengetahuan yang ditanamkan sejak dahulu oleh orang tua dan budaya sosialnya, daripada mempercayai dan mengikuti semua statement Deddy Corbuzier. OCD di terima khalayak secara dominant reading sebagai program diet yang mampu menurunkan berat badan, namun tidak dari segi kesehatan. Twitter sebagai media pertama publikasi program ini pun, dilihat khalayak sebagai media yang digunakan untuk memperoleh informasi dan dipercaya dapat menyebarkan suatu trend secara cepat dan luas. Terpaan media dan lingkungan pertemanan berpengaruh dalam mempersuasif dan mengusik rasa ‘penasaran’ khalayak. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam memaknai terpaan media, khalayak memiliki pemahaman yang berbeda sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki. Kata kunci :  Twitter, Kontroversi OCD, Healthy lifestyle
Penerimaan Suku Anak Dalam Terhadap Pendidikan Hidayat, Muhammad Syamsul; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.212 KB)

Abstract

ABSTRACTIONTITLE :NAMA :NIM :ACCEPTANCE OF EDUCATION AMONG ANAKDALAM TRIBEM. SYAMSUL HIDAYATD2C606031Trough the nine-years compulsory education program, EducationDepartment of Soralangun, Jambi held socialization the importance of educationfor Anak Dalam Tribe. The local government was purpose to prevalent educationfor all Sarolangun citizen, included Anak Dalam Tribe. However, the fact is AnakDalam Tribe have some response about the education ratification by government,some of Anak Dalam Tribe accepting the education, but most of them resist thesocialization by government because they have not been taught by their parents,temenggung, and their ancestor, so they don’t have to accept it and attend school.This Research aims to find out the acceptance of education among AnakDalam Tribe, why most of them who have faith that education never been taughtby their ancestor instead accept it and finally attend school. This research wasconducted by using phenomenological approach by relating the governmentexperience of socialization who with theory of persuasion to encourage andchange the thought and assumption of Anak Dalam Tribe so they accept educationand attend school. Also acceptance and experience of Anak Dalam Tribe afterthey accept and attend school, this research attempts to explain the Anak DalamTribe’s efforts in order to be accepted by people outside agains the stereotypeabout them in the people’s sight and otherwise. The subject of this researchconsists of three people from government dan three Anak Dalam Tribe’s peoplewho attend school and settle outside the forest. The data was obtainedbyinterview, observation, and literature.Results of this study indicate that government was done persuasioncommunication by interacting directly with Anak Dalam Tribe, trying to convinceand changing the thought and behavior of Anak Dalam Tribe. In effort to changethe behavior, the governments formerly try to establish the cognitive and affectivecomponent from Anak Dalam Tribe, the expectation is by changing thecomponent, could change their behavior. To establish the cognitive component,government conveying the importance of education and then the teachers andexperts in their field indirectly has set an example for Anak Dalam Tribe. Thegovernment also gives all equipment and school supplies. Moreover, Anak DalamTribe is free of charge for school. It is done in order to establish the affectivecomponent of Anak Dalam Tribe. After cognitive and affective has been establish,it will be directly followed by changes of behavior, that is Anak Dalam Tribe whowant to attend school.Key words: acceptance, persuasion, Anak Dalam Tribe, educationABSTRAKSIJUDUL :NAMA :NIM :Penerimaan Suku Anak Dalam Terhadap PendidikanM. SYAMSUL HIDAYATD2C606031Dengan adanya program wajib belajar sembilan tahun, Dinas PendidikanKabupaten Sarolangun, Jambi, mengadakan sosialisasi pentingnya pendidikanterhadap Suku Anak Dalam (SAD). Tujuan dari pemerintah daerah adalahmeratanya pendidikan bagi semua warga masyarakat yang ada di KabupatenSarolangun, termasuk Suku Anak Dalam. Namun, pada kenyataannya adalah,Suku Anak Dalam memiliki beberapa tanggapan tentang disosialisasikannyapendidikan oleh pemerintah, sebagian Suku Anak Dalam menerima adanyapendidikan, namun sebagian besar menolak sosialisasi yang dilakukan olehpemerintah dengan alasan tidak sesuai dengan tradisi yang diajarkan dalamingroup oleh temenggung, hingga nenek moyang mereka, sehingga Suku AnakDalam tidak harus menerima dan bersekolah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan Suku Anak Dalamterhadap pendidikan, mengapa Suku Anak Dalam yang mayoritas memilikikepercayaan bahwa pendidikan tidak pernah diajarkan oleh nenek moyang merekajustru ada yang menerima hingga akhirnya bersekolah. Penelitian ini dilakukandengan menggunakan pendekatan fenomenologi yang mengaitkan pengalamanpengalamanpemerintah dalam melakukan sosialisasi melalui teori persuasi untukmengajak serta merubah pemikiran serta anggapan Suku Anak Dalam sehinggaSuku Anak Dalam menerima pendidikan dan sekolah. Serta penerimaan danpengalaman Suku Anak Dalam setelah Suku Anak Dalam menerima danbersekolah, penelitian ini juga mencoba menggunakan co-cultural theory untukmenjelaskan usaha-usaha Suku Anak Dalam agar dapat diterima oleh masyarakatluar setelah adanya strereotip negatif tentang Suku Anak Dalam. Subyekpenelitian terdiri dari tiga orang pemerintah dan tiga orang Suku Anak Dalamyang bersekolah dan menetap di luar hutan, dimana pengumpulan data diperolehdari hasil wawancara, observasi, dan studi pustaka.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemaknaan individu Suku AnakDalam yang telah bersekolah terhadap pendidikan telah berubah. Pendidikan danbersekolah dimaknai sebagai salah satu hal yang menyenangkan sertamenguntungkan untuk masa depan individu Suku Anak Dalam. Pengetahuan barusetelah bersekolah membuat cara pandang individu Suku Anak Dalam tentangmasa depan mengalami perubahan, tentang cita-cita dan lapangan pekerjaan yanglebih layak. Pengalaman-pengalaman baru juga dirasakan individu Suku AnakDalam setelah bersekolah, sepertiKey words: penerimaan, persuasi, Suku Anak Dalam, pendidikanPENERIMAAN SUKU ANAK DALAM (SAD)TERHADAP PENDIDIKANSummary SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusun :Nama : M Syamsul HidayatNIM : D2C606031JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANPendidikan, merupakan salah satu bagian dari hak asasi manusia yang harusterpenuhi, selain menjadi bagian dari hak asasi manusia, pendidikan jugamerupakan salah satu elemen penting dimana suatu kesuksesan dan kemajuanNegara di ukur oleh seperti apa pendidikan di Negara tersebut. Oleh karena itusetiap warga negara Indonesia berhak untuk memperoleh kesempatan belajarsebaik-baiknya dengan ditunjang oleh sarana dan prasarana yang layak. Sehinggadimanapun mereka berada harus dapat dijangkau oleh fasilitas pendidikan yanglayak sebagai hak-hak asasi bagi mereka.Adanya program wajib belajar Sembilan tahun yang digalakkan olehpemerintah sejak beberapa tahun yang lalu mendapat respon yang positiv bagimasyarakat Indonesia. Tentunya, hampir semua pemerintah daerah juga berperanserta dalam mensosialisasikan program tersebut. Tidak ketinggalan yangdilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten Sarolangun, Jambi. Pemerintahdaerah sarolangun pun tidak pandang bulu, semua elemen masyarakat, baik yangdi kota, pedesaan hingga daerah yang susah dijangkaupun menjadi targetpemerintah guna sosialisasi pentingnya pendidiakn. Salah satunya Suku anakdalam, tentunya menjadi sesuatu yang sangat baru bagi suku anak dalam. Banyakdari mereka yang hingga sekarang masih kurang bisa menerima sosialisasi yangdilakukan oleh pemerintah.Program pendidikan bagi Suku Anak Dalam yang dicanangkan olehpemerintah cenderung memunculkan fenomena perubahan perilaku bagi SukuAnak Dalam. Pasalnya, Suku Anak Dalam atau Suku Kubu yang pada awalnyabelum pernah sama sekali mengenal pendidikan justru mau menerima adanyapendidikan. Meskipun belum semua Suku Anak Dalam (SAD) yang ada maubersekolah, setidaknya, lebih dari 50 anak telah melaksanakan kegiatan belajarmengajar.Namun, Suku Anak Dalam, yang pada hakekatnya lebih suka berburu danmelangun, cenderung kurang bisa menerima adanya perubahan dan serta adanyasesuatu yang baru, yang menutup diri dengan perkembangan serta kemajuan.Suku Anak Dalam lebih susah diatur, dalam arti susah jika diberi penjelasantentang sesuatu yang baru, semisal tentang pendidikan, mereka lebih memilihmelangun daripada harus duduk dikursi sekolah mendengarkan danmemperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh pengajar.Bahkan, beberapa individu Suku Anak Dalam cenderung beranggapanbahwa sekolah adalah sesuatu yang menyesatkan dan sekolah merupakan sesuatuyang belum dan tidak pernah diajarkan oleh nenek moyang mereka, terlebihsekolah tidak membuat mereka kenyang. Padahal, Surjadi dalam bukunyaPembangunan Masyarakat Desa mengatakan bahwa, Bila kesempatan akanlapangan pekerjaan berkembang diluar masayarakatnya, maka sekolah dianggapoleh orang - orang sebagai pintu gerbang bagi anak - anaknya untuk memperolehpekerjaan yang baik diluar masyarakat (Surjadi, 1989: 101). Apa yangdisampaikan oleh Surjadi jelas bahwa pendidikan merupakan elemen serta saranautama untuk membuka masa depan dan cita-cita.Adanya sesuatu yang baru dalam kelompok atau tatanan masyarakattentunya menjadikan pengalaman yang baru juga bagi manusia atau masyarakattersebut. Masyarakat yang pada awalnya belum mengenal serta mengetahuitentang pendidikan, belajar mengajar dan bersekolah, masyarakat yang padadasarnya masih memegang teguh ajaran-ajaran adat istiadat, sebagian dari merekakini telah mengenal serta melakukan kegiatan belajar mengajar. Namun tidakdemikian bagi sebagian kecil Suku Anak Dalam yang ada di Desa Air HitamKecamatan Pauh Kabupaten Sarolangun atau yang berada di Taman NasionalBukit Duabelas, sebagian kecil dari Suku Anak Dalam yang ada disana telahmengenal serta melakukan pendidikan atau kegiatan belajar mengajar. Hal inimenjadi pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah dirasakan sertadiperoleh oleh mereka Suku Anak Dalam. Pendidikan menjadi fenomena barubagi mereka, pengalaman serta kahidupan baru tentunya.Disinilah yang menarik. Suku Anak Dalam yang pada dasarnya taat sertamasih menjunjung ttinggi ajaran-ajaran yang diajarkan oleh nenek moyangmereka justru mau serta bisa menerima adanya pendidikan serta kegiatan belajarmengajar. Bagaimana penerimaan Suku Anak Dalam terhadap fenomena baruyang sebelumnya belum pernah mereka rasakan, yaitu pendidikan. Fenomenaserta pengalaman seperti apa yang membuat dan menjadikan mereka maubersekolah. Pengalaman seperti apa yang mereka dapatkan setelah melaksanakankegiatan belajar mengajar selama ini.PEMBAHASANPada awalnya, para individu Suku Anak Dalam cenderung memiliki pandanganatau persepsi negatif terhadap pendidikan formal. Fenomena tersebut terkaitdengan ajaran dari orang tua, temenggung (kepala suku), dan bahkan nenekmoyang mereka yang mengasumsikan bahwa pendidikan yang diterima darisekolah bukanlah sebuah kegiatan yang wajib untuk dilakukan. Alasannya,dengan mengikuti kegiatan belajar di sekolah, maka waktu mereka untukmelakukan kegiatan seperti berhutan menjadi tersisihkan, sehingga label yangkemudian muncul adalah mereka akan meninggal karena tidak dapat memenuhikebutuhan hidup mereka dari berhutan.Pendidikan formal atau bersekolah adalah salah satu fenomena yang relatifbaru bagi individu Suku Anak Dalam. Sebelumnya, mereka tidak pernahdiperkenalkan adanya istilah pendidikan maupun istilah bersekolah. Seperti yangdisampaikan oleh Edmund Husserl, bahwa fenomenologi berfokus padabagaimana orang mengalami fenomena tertentu, menyelidiki bagaimana individumengkonstruksikan makna dari sebuah pengalaman yang mereka alami danbagaimana makna yang ditangkap oleh individu tersebut bisa memicuterbentuknya makna kelompok atau bahkan membentuk pemahaman baru padakebudayaan tertentu (Vandersteop dan Johnston, 2009: 206). Terkait dalam hal iniadalah kemunculan pengetahuan baru dari pengalaman individu Suku AnakDalam mengenai pendidikan yang diperolehnya, serta menghasilkan beberapapandangan yang berhasil dimaknai oleh individu Suku Anak Dalam.Persepsi awal dari Suku Anak Dalam terhaap pendidikan yang terbentukcenderung negatif. Namun, seiring dengan terus dilakukannya sosialisasi olehpemerintah tentang pentingnya pendidikan serta adanya faktor pendorong internal(cita-cita hidup) dalam diri individu Suku Anak Dalam, sebagian individu SukuAnak Dalam cenderung menjadi lebih aktif untuk mengikuti kegiatan belajar disekolah. Bahkan, pemerintah membangun Sekolah Dasar khusus bagi Suku AnakDalam. Persepsi individu Suku Anak Dalam terhadap pendidikan formal yangpada awalnya menganggap bahwa pendidikan adalah ajaran yang tidak benar,dalam perkembangannya cenderung mulai mengalami perubahan, dan bahkanSuku Anak Dalam telah bersekolah dan menempati rumah yang disediakan olehpemerintah.Sehingga, individu Suku Anak Dalam cenderung memaknai pendidikandan bersekolah sebagai salah satu hal yang menyenangkan sekaligusmenguntungkan. Hal ini disampaikan oleh salah satu individu Suku Anak Dalambahwa dengan bersekolah maka akan mendapatkan makanan ataupun jajanan,bahkan program rekreasi atau berwisata yang diselenggarakan oleh sekolahmenjadi salah satu faktor pendorong bagi Suku Anak Dalam untuk bersekolah.Fenomena paling menonjol terkait dengan konstruksi makna pendidikan bagiindividu Suku Anak Dalam adalah bahwa dengan mengikuti pelajaran di sekolah,mereka memiliki gambaran tentang cita-cita hidup seperti ingin menjadi seoranganggota kepolisian. Cita-cita tersebut terungkap melalui pengalaman masa laluyang kurang menyenangkan, karena mereka merasa sering menjadi korbanpenipuan dari toke atau pengepul. Hal tersebut mengindikasikan adanyaperubahan dalam memahami makna pendidikan formal yang diterima olehindividu Suku Anak Dalam. Pernyataan tersebut bukan menjadi satu-satunyaalasan informan Suku Anak Dalam memaknai pendidikan dan bersekolah, merekamenganggap bahwa bersekolah adalah salah satu cara untuk mencari temanbermain yang banyak, dan bukan hanya dari kalangan Suku Anak Dalam saja,namun teman dari orang luar (bukan Suku Anak Dalam).Dalam pengalaman sadar yang dialami individu Suku Anak Dalam,terdapat beberapa faktor yang mendorong individu Suku Anak Dalam untukbersekolah, yaitu adanya rayuan serta pemberian sesuatu yang menarik (imingiming)oleh pemerintah dan pihak sekolah, membuat individu Suku Anak Dalamakhirnya bersekolah. Para informan mengungkapkan bahwa dengan adanyapemberian baju baru (seragam sekolah) menjadi salah satu alasan individu SukuAnak Dalam untuk bersekolah. Selain itu, pemberian perlengkapan dan kebutuhansekolah oleh pemerintah daerah, juga menjadi faktor penarik tersendiri bagiindividu Suku Anak Dalam untuk bersekolah.Pada awalnya, keinginan bersekolah terbentuk bukan karena adanyadorongan pribadi (faktor internal) dari individu Suku Anak Dalam. Para informanmengatakan bahwa alasan pertama mereka bersekolah lebih kepada faktoreksternal, yaitu dorongan dari orang tua mereka. Alasan orang tua Suku AnakDalam meminta anaknya untuk bersekolahpun bukan tanpa alasan, para orang tuamengatakan, dengan bersekolah maka akan diberikan makanan serta pakaian barutanpa dipungut biaya. Asumsi orang tua Suku Anak Dalam tersebut didasari dariadanya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah yang menyampaikan suatuinformasi mengenai adanya reward jika anak-anak aktif bersekolah.Fenomena yang paling menonjol terkait dengan minat individu Suku AnakDalam untuk menimba ilmu di sekolah formal adalah adanya pembagian makananyang dilakukan oleh pihak sekolah. Bagi para informan, adanya pembagianmakanan yang dilakukan oleh pihak sekolah secara rutin, membuat merekamenjadi bersemangat untuk tetap bersekolah. Pembagian makanan yang diberikanatau dilakukan oleh pihak sekolah membuat Suku Anak Dalam ahirnyabersekolah, ketertarikan individu Suku Anak Dalam terhadap makanan orang luar(bukan Suku Anak Dalam) menjadi salah satu daya tarik bagi mereka untukberangkat ke sekolah. Hal ini terjadi karena Induvidu Suku Anak Dalam merasatidak memiliki kemampuan untuk membuat makanan selayaknya yang dimakanoleh orang luar, makanan seperti nasi goreng, bubur, dan lauk pauk seperti ikanlaut tidak pernah dirasakan oleh individu Suku Anak Dalam.Suku Anak Dalam beranggapan bahwa sekolah dan belajar telahmemberikan sebuah pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah merekadapatkan. Sekarang, Suku Anak Dalam yang telah bersekolah mengaku menjadisemakin mengenal nama-nama pahlawan perjuangan. Jika dibandingkan dengansebelum Suku Anak Dalam bersekolah, mereka tidak mengenal nama-namamenteri bahkan nama presiden Indonesia. Kemampuan mengoperasikan bendaelektronik juga menjadi salah satu pengalaman berbeda yang sebelumnya tidakmereka dapatkan. Dengan kemampuan membaca yang mereka miliki, kini SukuAnak Dalam yang telah bersekolah mampu mengganti channel televisi yang adadi rumah mereka, serta mengganti dan mencari channel parabola yang telahterpasang di rumah. Kemampuan mengoperasikan benda elektronik lainnyaseperti handphone juga menjadi salah satu pengalaman baru bagi Suku AnakDalam. Ketika Suku Anak Dalam sebelum bersekolah, mereka hanyamenggunakan handphone sekedar untuk menonton televisi dan memutar lagu, kinimereka mampu memaksimalkan kegunaan handphone tersebut, selain untukberkomunikasi, mereka telah mampu meng akses facebook dari handphonemereka.dengan bersekolah dan belajar menjadikan mereka memiliki kemampuanuntuk membaca serta menulis, memiliki kemampuan bersosialisasi danbernegosiasi. Dibandingkan dengan ketika Suku Anak Dalam belum bersekolah,Suku Anak Dalam tidak pernah berhubungan, bersosialisasi, dan berinteraksidengan orang luar, meskipun pernah, interaksi hanya terjadi beberapa kali dantidak se sering sekarang. Hal ini terjadi dikarenakan kehidupan Suku Anak Dalamyang lebih banyak berada di hutan. Sebelum sekolah, Suku Anak Dalam keluardari hutan hanya ketika hendak menjual hasil hutan mereka. Berbeda denganketika Suku Anak Dalam telah bersekolah seperti sekarang, bagi Suku AnakDalam yang telah bersekolah, bersosialisasi dengan orang luar kini lebih seringterjadi. Hal ini terjadi karena selain di sekolah mereka harus bersosialisasi denganorang luar, kehidupan sehari-hari juga menuntut Suku Anak Dalan untuk lebihsering bersosialisasi dengan orang luar, karena perumahan yang Suku AnakDalam tempati berada di lingkungan dan di sekitar rumah warga atau hampirsemua tetangga mereka adalah orang luar.Dengan berpindah serta bertempat tinggal Suku Anak Dalam di sekitaratau bertetangga dengan orang luar telah merubah anggapan serta stereotypeSuku Anak Dalam terhadap orang luar. Dengan berteman dengan orang luar,komunikasi serta interaksi mereka menjadi semakin intens dan semakin sering.Fenomena tersebut membuat mereka saling membuka diri satu sama lain, MenurutIrwin Altman dan Dalmas Taylor (Littlejohn, 2005 : 194) dalam teori penetrasisosial (Social Penetration Theory) bahwa seseorang melakukan komunikasi yangbergerak dari unintimate kemudian mencapai puncak pada titik intimate. Prosestersebut adalah penetrasi yang mana syarat mutlaknya yaitu self disclosure atauketerbukaan. Terjadinya keterbukaan diri diantara Suku Anak Dalam denganorang luar lebih dilatar belakangi adanya keinginan untuk saling mengenal satusama lain, memperoleh pengetahuan dari apa yang sebelumnya belum pernahdidapat oleh mereka.Suku Anak Dalam yang telah mampu dan melangsungkan komunikasiatau sosialisasi dengan orang luar merupakan salah satu contoh adanya upaya dariSuku Anak Dalam (kelompok minoritas) agar diterima oleh orang luar (kelompokmayoritas). Orbe menjelaskan dalam co-cultural theory, yang mengkajibagaimana anggota kelompok minoritas berkomunikasi dengan anggota kelompokdominan (Littlejohn, 2009: 264). Usaha yang dilakukan oleh individu Suku AnakDalam cenderung mengarah pada tujuan asimilasi. Fenomena yang terjadi antaraSuku Anak Dalam dengan orang luar, selain telah melakukan komunikasi danbersosialisasi dengan orang luar, Suku Anak Dalam juga mengganti nama mereka.Seperti informan yang penulis temui, dua dari tiga informan Suku Anak Dalamtelah merubah namanya, yang pertama adalah Abdul Rahman, yang memilikinama asli Nyembah, yang ke dua adalah Farida yang memiliki nama asliGemensek.PENUTUPPada awalnya, individu Suku Anak Dalam cenderung memiliki persepsi negatifterhadap pendidikan yang disosialisasikan oleh pemerintah. Hal itu terjadi karenabertentangan dengan ajaran leluhur, sehingga individu Suku Anak Dalam merasatidak perlu bersekolah. Namun seiring dengan perkembangan waktu, persepsimereka mulai berubah. Individu Suku Anak Dalam merasa senang denganbersekolah, karena ketika bersekolah, mereka akan mendapatkan makanan sertajajan yang dibagikan oleh pihak sekolah.Ada beberapa faktor yang akhirnya mampu membuat para individu SukuAnak Dalam menerima pendidikan. Penerimaan individu Suku Anak Dalamdipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar, seperti adanya imbalan atau sesuatu yangmenarik yang diberikan dan disampaikan oleh pemerintah. Serta adanya doronganatau ‘perintah’ dari orang tua mereka untuk bersekolah. Meskipun dorongan dariorang tua mereka dilatar belakangi dengan adanya imbalan berupa akandibagikannya pakaian baru (seragam sekolah) dan makanan oleh pihak sekolah.Dengan bersekolahnya individu Suku Anak Dalam, pengalamanpengalamanbaru dialami oleh mereka. Memiliki teman serta bersosialisasi denganorang luar (bukan Suku Anak Dalam) menjadi pengalaman baru yang didapatketika bersekolah. Kemampuan menggunakan dan mengoptimalkan peralatanelektronik, memiliki kemampuan membuat serta log in sosial media sepertifacebook di handphone juga dimiliki oleh individu Suku Anak Dalam setelahbersekolah. Hal ini didasari pada kemampuan menulis, membaca, dan berbahasaInggris yang diajarkan ketika mereka bersekolah.DAFTAR PUSTAKALittlejohn. Stephen W, and Foss. A Karen. 2009. Teori Komunikasi: Theories ofHuman Communication. Jakarta: Salemba Humanika.Surjadi A. 1989. Pembangunan masyarakat Desa. Bandung: PT. Mandar MajuVanderstoep, Scott W. and Deirdre D. Johnston. 2009. Research Methods forEveryday Life “Blending Qualitative and Quantitative Approaches”. SanFransisco, CA: Jossey-Bass.http://www.kpde.batangharikab.go.id/?p=166 (diunduh pada tangal 7 November2012)http://www.tarungnews.com/fullpost/budaya/1318475559/kehidupan-primitifsuku-kubu-anak-dalam-di-jambi.html (diunduh pada tanggal 10 November2012)
Hubungan antara Minat Memasak dan Kebiasaan Memasak terhadap Intensitas Menonton Tayangan Junior MasterChef Indonesia Putri, Meta Detiana; Suprihatini, Taufik; Pradekso, Tandiyo; Herieningsih, Sri Widowati
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.24 KB)

Abstract

Intensitas menonton adalah tingkat keseringan seseorang menonton setiap penyampaian pesan atau informasi tentang barang ataupun gagasan yang menggunakan media massa. Adanya terpaan-terpaan pesan atau informasi yang mengenai diri khalayak akan membuat mereka cenderung memberikan respon terhadap program yang disajikan dalam media massa. Memasak adalah menghantarkan panas ke dalam makanan atau proses pemanasan bahan makanan. Dengan demikian proses memasak hanya terjadi selama panas atau terapan pada suatu bahan makanan sedang berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara minat memasak dan kebiasaan memasak terhadap intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia. Teori penggunaan dan kepuasan (uses and gratification) digunakan untuk menguatkan penelitian ini. Minat memasak diukur dengan indikator keinginan. Kebiasaan memasak diukur dengan indikator frekuensi. Sedangkan intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia diukur dengan indikator frekuensi, durasi, dan perhatian. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak usia 8-13 tahun. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah non random accidental sampling yang berjumlah 50 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis koefisien korelasi rank Kendall menggunakan perhitungan program SPSS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara minat memasak dengan intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,01 dengan koefisien korelasi sebesar 0,533. Oleh karena sig sebesar 0,00 < 0,01; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). sedangkan untuk kebiasaan memasak dengan intensitas menonton tayangan junior masterchef Indonesia terdapat hubungan karena uji hipotesis menunjukkan bahwa diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,241. Oleh karena sig sebesar 0,045 < 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). Key words : Minat Memasak, Kebiasaan Memasak, Intensitas Menonton Tayangan Junior MasterChef Indonesia
Representasi Pendidikan Pesantren dalam Film (Analisis Semiotika pada Film Negeri 5 Menara) Hartiningrum, Septia; Herieningsih, Sri Widowati; Suprihatini, Taufik
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.984 KB)

Abstract

Judul : Representasi Pendidikan Pesantren dalam Film (Analisis Semiotikapada Film Negeri 5 Menara)Nama : Septia HartiningrumNIM : D2C008101ABSTRAKFilm adalah media populer yang digunakan tidak hanya untuk menyampaikanpesan-pesan, tetapi juga menyalurkan pandangan-pandangan kepada khalayak.Film Negeri 5 Menara diangkat dari novel dengan judul yang sama merupakanfilm yang mengangkat tentang kerja keras, semangat, keikhlasan, dankesungguhan “Man Jadda Wajada” dengan background pendidikan pesantren. Didalam film ini dapat dijumpai adegan ketika para santri mengikuti prosespembelajaran di pesantren, serta kegiatan-kegiatan yang ada di pesantren.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi pendidikanpesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif denganmenggunakan teori represenasi Stuart Hall (1997) serta menggunakan analisissemiotika untuk menganalisis objek yang diteliti. Teknik analisis data dilakukandengan menggunakan “The Codes Of Television” (John Fiske ,1987). Analisisdilakukan dengan tiga level, yaitu level realias, level representasi, dan levelideologi. Level realitas dan level representasi dianalisis secara sintagmatik,sedangkan secara paradigmatik untuk level ideologi.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam film Negeri 5 Menara inipesantren digambarkan sebagai lembaga pendidikan yang sudah modern namuntetap masih memasukkan unsur-unsur tradisional yang sudah melekat padapendidikan di pesantren. Seluruhnya dapat dilihat melalui adegan-adegan yangada dalam film, dimana para santri di pesantren tidak hanya mempelajari bidangagama seperti fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist, menghafal al-quran semata, parasantri juga mempelajari pelajaran-pelajaran umum seperti bahasa asing,pengetahuan sosial, serta kemasyarakatan sebagai bekal untuk terjun dalammasyarakat.Dalam film Negeri 5 Menara ini menonjolkan sisi positif kehidupan parasantri selama menempuh pendidikan di pesantren hingga mereka suksesmenggapai mimpinya. Selain berusaha memberikan tontonan yang dapatmemotivasi penonton untuk tidak pernah takut bermimpi, film ini jugamenyiratkan makna bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang tidak kalahdengan lembaga pendidikan negeri lainnya. Terbukti dengan kesuksesan yangdicapai para santri khususnya Sahibul Menara meraih mimpi mereka untukmencapai menara-menara impian mereka sebagai tempat mereka bekerja sertamengabdikan diri pada masyarakat.Kata Kunci: film, representasi, pendidikan, pesantrenTitle : Representation in Film Islamic Boarding School Education(Semiotics Analysis on Film Negeri 5 Menara)Nama : Septia HartiningrumNIM : D2C008101ABSTRACTMovie is popular media that is used not only to give messages, but also distributethe perspective to the peoples. Negeri 5 Menara based on a novel with same titleare tells about hard work, spirit, heartiness and sincerity of “Man Jadda Wajada”with pesantren/islamic education. ”. In the movie, we will find so many sceneswhile the students (islamic students) during leraning process, also their activities.The purpose of this research is to find out the representation of the islamicboarding school education. This research used a qualitative approach,representation theory by Stuart Hall (1997) and semiotic analysis to analyzesobject of the research. The technique alaysis of data used by the theory of “TheCodes of Television” (John Fiske, 1987). Analyses by three level : reality,representation and ideology. On Realiy and Representation level analyzes bysintagmatic and paradigmatic for Ideology Level.The results of research indicate that the (Negeri 5 Menara), islamicboarding school describe as a education institution that have the modern yet stillhave traditional elements which is attached to the education in the islamic school.We can find them by the scenes, where the students (the islamic students) not onlylearn about religion like fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist, memorized Qur’an,they also learn common lesson like foreign language, social skill, so they can livein their society easily.In the movie of (Negeri 5 Menara) show positive side of islamic studenswhile study at islamic boarding school till they success reach their dreams. Notonly tried to give a movie that can motivated peoples to unafraid to reach theirdreams, the movie is also give meaning that islamic boarding school is aeducation institution that as good as another education institutions. Proven bytheir successful especialy by Sahibul Menara who can reach their dreams comingat their dreams tower as place their work for and society.keywords : movie, representation, education, islamic boarding schoolBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangPendidikan bagi umat manusia merupakan sistem dan cara meningkatkankualitas hidup dalam segala bidang. Dalam sejarah hidup umat manusiadimuka bumi ini hampir tidak ada kelompok manusia yang tidakmenggunakan pendidikan sebagai pembudayaan dan peningkatan kualitasnya,sekalipun dalam kelompok masyarakat primitif.Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yangbersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkannyasebagai pedoman hidup keseharian, dengan menekankan pentingnya moraldalam kehidupan bermasyarakat. Pesantren telah hidup sejak ratusan tahunyang lalu, serta telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat muslim.Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikutmencerdaskan kehidupan bangsa (Mastuhu, 1994: 3).Film Negeri 5 Menara mengangkat tema seputar pendidikan di lingkunganpesantren. Cerita film Negeri 5 Menara diangkat dari novel berjudul samakarya Ahmad Fuadi. Novel yang pertama kali dirilis pada tahun 2009 inimasuk dalam jajaran best seller. Novel ini telah menjadi Buku Fiksi Terbaik,Perpustakaan Nasional Indonesia 2011. Serta menobatkan Ahmad Fuadisebagai Penulis dan Fiksi Terfavorit, Anugerah Pembaca Indonesia 2010.1.2. Rumusan MasalahFilm “Negeri 5 Menara” merupakan film yang mencoba menggambarkanpendidikan pesantren. Film Negeri 5 Menara merupakan representasi duniapendidikan pesantren. Pada kenyataannya saat ini, pesantren selalu menjadisorotan dan mendapat citra yang buruk, karena selau dikaitkan dengan kasuskasusterorisme, kekerasan, bahkan pelecehan seksual, pola pendidikan yangsering di pandang sebelah mata. Namun, film ini menyuguhkan sesuatu yangberbeda. Dalam film ini pesantren tidak hanya dijadikan sebagai tempatbuangan anak-anak nakal atau korban kekerasan dalam rumah tangga atauanak-anak yang nilainya tidak cukup untuk masuk ke lembaga pendidikannegeri atau tidak memiliki cukup dana untuk masuk ke lembaga pendidikanswasta. Film ini menggambarkan bahwa pesantren menjadi tempat untukmendidik bibit-bibit unggul calon-calon da’i dan menjadi tempat untukmendalami pendidikan agama.1.3. Tujuan PenelitianMendeskripsikan bagaimana dunia pendidikan pesantrendirepresentasikan dalam film Negeri 5 Menara.1.4. Signifikansi Penelitian1.4.1. Signifikansi TeoritisSecara teoritis penelitian ini diharapkan mampumemberikan sumbangan ilmiah di bidang kajian ilmu komunikasimengenai teori representasi Stuart Hall dan analisis semiotikamenggunakan teknik analisis data “The Codes of Television” dariJohn Fiske yang dikembangkan untuk mengkaji film sebagaikomunikasi massa. Sehingga dapat mendeskripsikan bagaimanapendidikan pesantren direpresentasikan dalam film.1.4.2. Signifikansi PraktisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagipara pembuat film dengan tema pendidikan, khususnya pendidikanpesantren. Agar memberikan jalan cerita yang lebih variatif tentangdunia pendidikan.1.4.3. Signifikansi SosialPenelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif dalammencermati tayangan dan memahami makna pesan yang disajikanoleh media massa terutama film yang mengangkat tentangpendidikan khususnya pendidikan pesantren.1.5. Kerangka PemikiranFilm dimasukan dalam kelompok komunikasi massa yang mengandung aspekhiburan, juga memuat aspek edukatif. Namun aspek kontrol sosialnya tidak sekuatpada surat kabar, majalah, serta televisi yang memang menyiarkan beritaberdasarkan fakta yang terjadi (Rivers, Jensen dan Peterson, 2004: 252).Representasi menurut Stuart Hall (1997: 15) menghubungkan makna danbahasa kepada budaya. Representasi berarti menggunakan bahasa untukmengungkapkan makna atau untuk menghadirkan kembali (represent) maknakepada khalayak. Representasi merupakan bagian penting dari proses di manamakna diproduksi dan dipertukarkan antara beberapa budaya. Representasimelibatkan penggunaan bahasa, tanda dan simbol untuk mewakili ataumerepresentasikan sesuatu.Representasi berarti menggunakan bahasa untuk memaknai sesuatu, atauuntuk merepresentasikan dunia dengan penuh makna kepada orang lain.Representasi adalah sebuah bagian utama dalam sebuah proses tentang bagaimanamakna diproduksi di antara anggota masyarakat dari sebuah kebudayaan.Film dipandang sebagai representasi, maka film merupakan cermin darinilai budaya yang ada dalam masyarakat. Maka film tidak pernah lepas dariberbagai aspek kepentingan, baik kepentingan ideologi, ekonomi atau politik.Film pada akhirnya merupakan salah satu aspek yang memberi peran besarterhadap perubahan dalam masyarakat. Film sebagai media komunikasipenyampaian makna akhirnya merupakan media sebagai penyampai ideologi, filmsebagai pembawa dan penyebar ideologi ini yang membawa peran sebagai agenperubahan sosial.Ideologi pendidikan merupakan cara pandang yang dijadikan oleh parapemikir pendidikan untuk melihat implementasi pendidikan yang dilaksanakan.Ideologi-ideologi pendidikan terdiri dari enam sisitem dasar etika sosial, yangtergabung dalam ideologi konservatif dan ideologi liberal.1.6. Metode penelitianPenelitian tentang Representasi Pendidikan Pesantren pada film Negeri 5Menara ini menggunakan teknik analisis data berdasarkan kode televisi dariFiske (1987: 4-6). Tiga level kode tersebut adalah:1) Level Realitas, yang telah terkode secara sosial, meliputi tampilanvisual semacam penampilan, pakaian, make up, lingkungan, perilaku,ekspresi, suara, dll.2) Level Representasi, terkode secara elektronik yang bersifat teknis,meliputi: kamera, pencahayaan, musik, suara, narasi, konflik,karakter, dialog, dll.3) Kode-kode sosial yang mendasari realita dengan jelas dan relatifdinyatakan dalam warna kulit, pakaian, rambut, ekspresi wajah, dansebagainya.BAB IIPEMBAHASANBab ini akan menjelaskan uraian dari konsep kode-kode televisi yangdiungkapkan John Fiske dalam Television Culture, dalam mengkaji media audiovisual terutama film. Kode-kode televisi digunakan untuk menguraikan tandatandamenjadi makna. Kode-kode tersebut terdiri dari tiga level yaitu levelrealitas, level representasi, dan level ideologi. Level realitas meliputi kode-kodedengan aspek sosial seperti penampilan, kostum, riasan, gaya bicara, perilaku,lingkungan, setting, ekspresi, gestur, dan lain-lain. Pada level representasi terdapataspek teknis seperti kamera, pencahayaan, musik, narasi, konflik, dialog, dankarakter. Sedangkan level ideologi menguraikan kode-kode tersirat dalam film,seperti indivisualisme, ras, kelas, kapitalisme, dan sebagainya.Level realitas dan representasi merupakan hasil dari analisis sintagmatik,yaitu uraian yang berisi tanda-tanda dalam potongan-potongan shot dan adegan.Sedangkan level ideologi menganalisis secara paradigmatik hasil yang didapatdari level realitas dan level representasi. Namun level ideologi akan diuraikanpada bab berikutnya. Pada bab ini ditampilkan level realitas dan level representasisecara sintagmatik, melalui aspek-aspek sosial dan teknis yang terdapat dalampesantren di film Negeri 5 Menara.Aspek-aspek sosial pada level realitas tersebut dikodekan secara elektronikdalam aspek-aspek teknis level representasi. Dalam televison codes Fiske (2001:5), bagian ini meliputi aspek kamera (camera), pencahayaan (lighting),pengeditan (editing), serta musik dan suara (music and sound). Kemudianmembentuk kode representasi seperti yang terdapat dalam aspek narasi, konflik,dialog, karakter, dan pemeran.Level ideologis adalah level terakhir dari kode-kode televisi John Fiske.Bahwa realitas dan representasi yang direkam dalam gambar bergerak dalam filmmerupakan produk ideologi tertentu. Kode-kode ideologis ini sepertiindividualisme, patriarki, kelas, ras, materialisme, kapitalisme, dan lain-lain.Sementara Fiske mengatakan ideologi adalah sebuah jalan untuk melakukanpemaknaan, membuat sesuatu masuk akal, dan makna yang dibuat selalu memilikidimensi sosial dan politik. Ideologi di dalam cara pandam ini adalah sebuahpraktik atau tindakan sosial.BAB IIIPENUTUPKesimpulan1). Manajemen pendidikan dan pembelajaran di Pesantren telah mengalamiperubahan modernisasi, dari semula sebagai lembaga pendidikan tradisional,kini pesantren sudah berkembang menjadi lembaga pendidikan modern.Pesantren kini dibagi menjadi dua, yaitu pesantren tradisional dan pesantrenmodern. Pesantren tradisional adalah pesantren yang masih menitikberatkanpembelajaran berdasarkan rujukan kitab klasik atau yang dikenal dengankitab kuning, sedangkan pesantren modern adalah pesantren yang polapembelajarannya sudah menggabungkan antara pendidikan agama danpendidikan umum.Dalam film Negeri 5 Menara pesantren direpresentasikan sudah lebihmaju atau modern, sebagai suatu lembaga pendidikan yang tidak hanyamengajarkan pendidikan agama saja (fiqih, nahwu, tafsir, tauhid, hadist danlain-lain), namun juga pendidikan umum lainnya (bahasa asing, pengetahuansosial, serta kemasyarakatan). Untuk mewadahi minat dan bakat para santri,pesantren juga memfasilitasi mereka dengan beragam ekstrakurikuler, seperti;seni baca al-Qur’an (qira’ah), seni kaligrafi, seni bela diri, seni musik,jurnalistik, olahraga dan lain sebagainya.2). Film Negeri 5 Menara adalah sebuah film tentang kerja keras, semangat,keikhlasan, dan kesungguhan. “Man Jadda Wajada”. Siapa yangbersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Bukan yang paling tajam, tapi yangpaling bersungguh-sungguh. Mantra tersebut berhasil membuat para SahibulMenara dapat mencapai cita-cita mereka untuk bisa mengunjungi negaranegarayang memiliki menara. Mereka berhasil membuktikan bahwa denganbackground pendidikan pesantren mereka dapat bersaing dengan lulusansekolah umum.DAFTAR PUSTAKABUKUAmir, Matri. 1983. Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam. Jakarta:Logos.Azra, Azyumardi. 1999. Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi MenujuMillenium Baru. Jakarta: Logos.Beebe SA., and Masterson JT. 1994. Communicating in small groups: principlesand practices. Fourth Edition. New York: Harper Collins CollegePublisher.Bride, Sean Mac. 1983. Komunikasi dan Masyarakat Sekarang dn Masa Depan,Aneka Suara Satu Dunia. Jakarta: PT Balai Pustaka.Burton, Graeme. 2008. Pengantar untuk Memahami: Media dan Budaya Populer.Penerjemah Alfathri Aldin. Yogyakarta: Jalasutra.Chandler, Daniel. 2002. Semiotics: The Basics. New York. RoutledgeCroteau, David dan William Hoynes. 2000. Media/Society : Industries, Images,and Audiences. London: Pine Forge Press.Danesi, Marcel. 2010. Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta:Jalasutra.Denzin, Norman K & Yvonna S. Lincoln. 2009. Handbook Of QualitativeResearch. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Dhofier, Zamakhsyari. 1994. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan HidupKyai. Jakarta: INIS.Effendy, Heru. 2006. Mari Membuat Film: Panduan Menjadi Produser.Yogyakarta: Panduan.Eriyanto. 2011. Analisis Isi: Pengantar Metodologi untuk Penelitian IlmuKomunikasi dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Prenada Media Grup.Fiske, John. 1987. Television Culture. New York. Routladge.Friedman, Howard S., and Miriam W. Schustack. 2008. Kepribadian: Teori Klasikdan Riset Modern. Terjemahan Ikarinim Fansiska Dian, dkk. 2006.Personality: Classic Theories and Modern Research. Jakarta: Erlangga.Guba, Egon G and Lincoln, Yvonna S. 2005. The SAGE Handbook of QualitativeResearch; Paradigmatic Controversies, Contradictions, and EmergingConfluences. Sage PublicationHall, Stuart. 1997. Representations: Cultural Signifying and Practices. London:Sage Publication.Irawanto, Budi. 1999. Film, Ideologi, dan Militer. Yogyakarta: Media Pressindo.Littlejohn, Stephen W and Foss, Karen A. 2009. Teori Komunikasi (edisi 9)Theories Of Human Communication. Jakarta: Salemba Humanika.Madjid, Nurcholish. 1997. Bilik-Bilik Pesantren. Jakarta: Paramadina.Mangunhardjana, A Margija. 1976. Mengenal Film. Yogyakarta: YayasanKanisius.Mastuhu. 1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INISMuhaimin dan Mujib, Abdul. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofisdan Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Trigenda Karya.Naratama. 2004. Menjadi Sutradara Televisi. Jakarta: Grasindo.O’neil, William F. 2001. Ideologi-Ideologi Pendidikan. Yogyakarta: PustakaPelajar.Panen, Paulina, dkk. 2005. Belajar dan Pembelajaran 1. Jakarta:UniversitasTerbuka.Pranajaya, Adi. 1993. Film dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Pusat Perfilman.Rahman, Chaidir. 1983. Festival Film Indonesia. Medan: Badan Pelaksana FFI.Roqib, Moh. 2007. Harmoni dalam Budaya Jawa: Dimensi Edukasi dan KeadilanGender. Yogakarta: Pustaka Pelajar.Rivers, W.L, J.W Jensen, dan T. Peterson. 2004. Media Massa dan MasyarakatModern. Jakarta: Kencana .Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. TerjemahanSobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.__________. 2006. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,Analisis Semiotika, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya.Stolley. S, Kathey. 2005. The Basic of Sociology. Green Wood Press. LondonSukmadinata. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:RosdakaryaSumarno, Marselli. 1996. Dasar-dasar Apresiasi Film. Jakarta: PT GramediaWidiasarana Indonesia.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Prenada Media Grup.Wahyoetomo. 1997. Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif MasaDepan. Jakarta: Gema Insani Press.Widagdo, M Bayu dan Gora, Winastwan. 2006. Bikin Film Indie Itu Mudah.Yogyakarta: Penerbit Andi.Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Gasindo.Yusuf, Muri. 1982. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Ghalia Indonesia.Sumber InternetAdi, Danuk Nugroho. 2007. “Kekerasan di Pesantren, Tiga Santri DianiyayaSenior” (http://www.indosiar.com/fokus/kekerasan-di-pesantren-tigasantri-dianiayasenior_63929.html; diakses 12/12/12 23:00:17).Arrahman. 2012. “FUI: Penggerebekan Pesantren Dalul Akhfiya' tidakmenghormati Ulama dan Syuhada”(http://m.arrahmah.com/read/2012/11/14/24715-fui-penggerebekanpesantren-darul-akhfiya-tidak-menghormati-ulama-dan-syuhada.html;diakses 11/12/12 22:00:19).Film Indonesia. (http://filmindonesia.or.id/search/all/pendidikan; diakses23/5/2013 23:16:08).Gatra, Sandro. 2010. “Ba’aysir kembali Ditahan di Bareskrim”(http://nasional.kompas.com/read/2010/12/23/11362638/Baaysir.Kembali.Ditahan.di.Bareskrim?; diakses 11/12/12 20:09:56).Harian Analisa. 2012. “Mengembalikan Citra Positif Pesantren”(http://www.p3m.or.id/2013/02/mengembalikan-citra-positifpesantren.html 21/12/2013 pukul 12.48)Ofy. 2008. “Pak Guru Perkosa Murid di Kompleks Sekolah”(http://nasional.kompas.com/read/2008/08/16/14361132/pak.guru.perkosa.murid.di.kompleks.sekolah; diakses 12/12/1 21:49:54).Ruslan, Heri. 2013. “Pesantren, Sistem Pendidikan Asli Indonesia” .(http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/10/17/mut6fypesantren-sistem-pendidikan-asli-indonesia 21/12/2013 pukul 12.49)Salmah, Alfidah. 2008. “Kontroversi Pernikahan Syekh Pujiono”(http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&jd=Kontroversi+Pernikahan+Syekh+Pujiono&dn=20081110093019; diakses 11/12/201221:22:16).Sudibyo, Anton. 2011. “Guru Ponpes Cabuli 10 Santri Bertahun-tahun”(http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/12/17/104488/Guru-Ponpes-Cabuli-10-Santri-Bertahun-Tahun; diakses 12/12/1222:55:54).
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM SAMPUL MAJALAH FEMINA Kartika Sari Rezki, Ade Ayu; Suprihatini, Taufik; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM SAMPUL MAJALAH FEMINAAde Ayu Kartika Sari RezkiJurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroAbstrakMedia massa di Amerika Serikat menampilkan gambaran sosok perempuan yang berbeda-beda tiap masanya, ada ikon perempuan yang dikenal dengan the vamp, the flapper, the college girl, dan masih banyak lainnya. Terjadinya perubahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh adanya perubahan peran jender, tapi lebih dipengaruhi oleh banyak hal seperti perkembangan teknologi, perubahan dalam bidang ekonomi, dan sosial. Perbedaan dalam menampilkan gambaran sosok perempuan juga terjadi di Indonesia, pada majalah Femina. Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian ini, sehingga ingin diketahui mengenai bagaimana perempuan digambarkan dalam Femina selama beberapa periode, dan mengapa perempuan digambarkan seperti demikian. Penelitian kualitatif dengan metode penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan semiotika Barthes dan representasi, bertujuan untuk mengetahui bagaimana sosok perempuan ditampilkan dalam sampul. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme yang bertujuan untuk memahami mengapa perempuan direpresentasikan seperti pada sampul majalah yang diteliti, realitas apa saja yang dikonstruksikan dan ditampilkan. Sampul majalah Femina yang dianalisis dibagi dalam lima periode, yaitu tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an, 2000-an, 2010 – saat ini, dan dalam setiap periodenya dipilih tiga sampul majalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 1970-an dari tiga sampul yang dianalisis perempuan digambarkan lebih dominan dalam peran domestik sebagai seorang ibu atau sebagai seorang istri. Pada tahun 1980-an dari tiga sampul yang dianalisis perempuan digambarkan dalam sosok yang lebih bervariasi seperti perempuan yang fun, atau perempuan karier. Pada tahun 1990-an dari tiga sampul yang dianalisis perempuan digambarkan dalam seorang yang modern dan berasal dari kalangan menengah ke atas, berpenampilan elegan atau glamor. Pada tahun 2000-an hingga saat ini dari enam sampul yang dianalisis menampilkan perempuan dalam isu sehari-hari, seperti hubungan kedekatan dengan sahabat atau kakak-adik perempuannya, perempuan karier. Penggambaran sosok perempuan yang berbeda menunjukkan bahwa Femina sebagai media massa tidak menampilkan semua situasi yang sedang terjadi, bahkan terkadang menggambarkan situasi yang baru. Hal tersebut menunjukkan sifat media massa sebagai pengkonstruksi realita.Key Words: Representasi Perempuan, Media Massa, Majalah Wanita, Semiotika, Konstruksi Realitas.PendahuluanMedia massa dalam hal ini adalah majalah memiliki berbagai fungsi, Wright mengidentifikasi terdapat empat fungsi media yang dikenal the classic four functions of the media. Keempat fungsi tersebut adalah; (1) surveillance dari lingkungan, (2) menghubungkan dari bagian-bagian sosial dalam memberi respon ke lingkungan, (3) transmisi dari kebudayaan sosial dari satu generasi, ke generasi selanjutnya, dan (4) hiburan. Dari keempat fungsi tersebut, fungsi transmisi adalah salah satu fungsi yang menunjukan bagaimana kekuatan media massa dalam mempengaruhi khalayaknya. Melalui fungsi ini sebuah majalah dapat mewariskan norma-norma ataupun nilai-nilai tertentu dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya (Baran and Davis, 2010: 178-179).Di Amerika Serikat, diadakan penelitian mengenai bagaimana representasi perempuan ditampilkan dalam media massa. Hasilnya menunjukkan bahwa terjadi perubahan ikon visual wanita dalam media massa Amerika. The True American Woman, The College Girl, The Vamp, The Flapper merupakan beberapa sosok perempuan yang ditampilkan dalam media massa. Transisi ini tidak hanya berkaitan dengan adanya perubahan peran jender, adanya aspirasi sosial dan ekonomi dalam pertumbuhan kelas menengah di Amerika juga turut mempunyai andil yang besar (Kitch, 2001: 18).Media massa di Indonesia juga mengalami perkembangan, ditandai munculnya segmentasi majalah yang mulai tampak pada tahun 1970-an, salah satu contohnya adalah kehadiran majalah wanita. Majalah wanita dinilai memiliki peran yang sangat responsif dalam perubahan keadaan sosial wanita pada umumnya, hal tersebut karena majalah wanita memiliki spesialisasi market yang jelas dan dalam skala yang kecil (Strinati, 2004: 169-170).Salah satu majalah wanita di Indonesia adalah Femina. Terbit sejak tahun 1972, Femina yang merupakan majalah wanita modern pertama di Indonesia, sampai saat ini dianggap masih bisa mempertahankan eksistensinya. Dilihat dari sampulnya, terdapat perubahan yang terjadi antara sampul tahun 1970-an, 1980-an, hingga sampul pada saat ini.Sampul merupakan salah satu bagian penting dari suatu majalah. Menurut Swann, sampul majalah memiliki dua fungsi utama yaitu harus bisa “menjual” konsep majalah itu secara keseluruhan seperti sama halnya dengan publikasi, serta harus bisa mencerminkan tingkat intelektual dari isi editorial majalah. Pendapat yang hampir sama, dikemukakan oleh Click dan Baird, dijelaskan bahwa cover majalah memiliki fungsi yang lebih personal dibandingkan hanya fungsi intelektual saja. Sampul majalah diibaratkan sebagai wajah dari majalah itu, sama seperti wajah orang yang menjadi indikator utama dari kepribadian seseorang (McKay, 2001: 162).Femina sebagai majalah wanita dinilai mempunyai peran penting dalam membentuk perilaku pembacanya, selain itu dengan tingginya tingkat sirkulasimenunjukkan bahwa Femina diminati oleh perempuan Indonesia dan secara tidak langsung memiliki pengaruh yang cukup besar dalam hidup wanita Indonesia. Sebagai salah satu media massa, tak dapat dipungkiri bahwa Femina memiliki sifat yang tidak bebas nilai, karena dianggap sebagai sarana untuk menanamkan pandangan atau nilai-nilai tertentu kepada para pembacanya. Hal tersebut dapat dapat dilihat dari sampul yang ditampilkan, karena dengan sebuah sampul dapat mewakili keseluruhan isi dari suatu majalah.Dari hal-hal tersebut muncul pertanyaan mengenai seperti apakah Femina menggambarkan perempuan dalam sampul majalahnya? Dan mengapa perempuan digambarkan sedemikian rupa seperti pada sampul majalah Femina yang diteliti?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana perempuan digambarkan dalam tanda-tanda, mengungkapkan representasi yang ada tentang mengapa perempuan direpresentasikan sedemikian rupa seperti dalam sampul majalah Femina.MetodaTipe penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subyek penelitian dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa (Moleong, 2007: 6). Untuk menjawab tujuan penelitian dilakukan dengan pendekatan semiotika, karena tiap objek budaya membawa pesan tersendiri dan semua praktek budaya bergantung pada makna yang dihasilkan tanda-tanda.Subyek dalam penelitian ini adalah sampul Femina (versi cetak) yang didapatkan melalui browsing di internet. Setelah terkumpul, dipilih tiga sampul majalah dari masing-masing periode. Sampul yang dipilih adalah sampul dalam kondisi yang baik yaitu gambarnya masih terlihat dengan jelas, sehingga dapat dianalisis. Periode dibagi menjadi lima, periode 1970-an, 1980-an, 1990-an, tahun 2000-an, dan 2010 sampai saat ini.Analisis data yang dilakukan menggunakan teknik dari Roland Barthes yaitu tentang dua tingkat tingkatan pertandaan (staggered system) yang memungkinkan untuk dihasilkannya makna yang bertingkat yaitu denotasi dan konotasi (Sunardi, 2002: 84-85).PembahasanTataran Denotasi dan Konotasi pada Sampul FeminaDalam menemukan tataran denotasi dan konotasi pada sampul majalah tidaklah sama. Menganalisis tataran denotasi tidak perlu sampai ke unit-unit terkecilnya, sebaliknya untuk tataran konotasi penguraian harus sampai ke unit-unit terkecil. Dengan tahapan; photo trick, pose, objek, fotogenia, estetisisme, dan sintaksis (Barthes, 2010: 5-12).Pada tahun 1970-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 01 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan mengenakan pakaian terusan berwarna kuning tua, dan mempunyai sepuluh tangan yang masing-masing memegang benda tertentu, seperti papan penggilasan, sebuah wajan teflon, sebuah cermin wajah yang berbentuk oval, sebuah benda yangberbentuk hati dan berwarna merah, sebuah jam dinding, sebuah setrika, sebuah celengan dari tanah liat, sebuah buku, sebuah mesin tik, dan memegang sebuah gunting dengan sehelai kain. Di bawah perempuan yang sedang berdiri tersebut, duduk seorang anak perempuan kecil dengan atasan berwarna putih, dan bawahan merah”. Lalu, pada tataran konotasinya menampilkan perempuan dalam melakukan peran ganda. Yang dimaksud peran ganda perempuan yaitu peran perempuan dalam ranah domestik dan dalam ranah publik, peran sebagai ibu dan peran sebagai wanita karir, yang dituntut untuk bisa selalu menyeimbangkan keduanya (Sulqifli, 2010).Sampul kedua, edisi 61 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan berambut pendek mengenakan terusan hitam bermotif bunga sedang duduk di sebuah kursi kayu.” Lalu, pada tataran konotasinya menampilkan perempuan dalam sosok seorang nyonya besar. Model dalam sampul yang penampilannya modern, anggun, dan elegan menunjukkan bahwa dia berasal dari kelas atas, karena untuk dapat tampil sedemikian rupa membutuhkan materi yang tidak sedikit dan biasanya kalangan kelas atas yang berpenampilan seperti itu. Selain itu, sosoknya yang terlihat mendominasi atau punya kekuasaan identik dengan ciri khas seorang nyonya besar.Sampul ketiga, edisi 64 memiliki tataran denotasi: “terdapat dua orang perempuan. Perempuan pertama mengenakan pakaian terusan tanpa lengan berwarna coklat khaki sedang duduk memegang cangkir. Perempuan kedua mengenakan pakaian dengan potongan yang sama berwarna putih sedang berdiri memegang cangkir.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan perempuandalam sosok seorang sosialita. Sosialita lebih diartikan sebagai sejenis gaya hidup yang mewah, berkumpul dengan kelompok tertentu yang melakukan aktifitas-aktifitas yang tidak biasa, dan malah sedikit melakukan kegiatan sosial (Hardjanto, 2013)Pada tahun 1980-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 179 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan ekspresi wajah tersenyum, menggunakan atasan berkerah dengan corak leopard, dan menggunakan topi baret berwarna merah.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan perempuan dalam sosok yang fun, ekspresif dalam menampilkan dirinya, berani dan percaya diri.Sampul kedua, edisi 01 memiliki tataran denotasi: “terdapat dua orang perempuan dalam posisi yang berdekatan. Perempuan pertama sedang tersenyum lebar, posisinya di atas, dan mengenakan atasan berwarna pink. Perempuan kedua tersenyum tipis, posisinya di bawah, dan mengenakan atasan berwarna biru.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan dua perempuan sebagai sosok yang perempuan yang bekerja dan masing-masing memiliki karakter yang berbeda.Sampul ketiga, edisi 15 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan pose berkacak pinggang, mengenakan pakaian batik berwarna merah.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan Indonesia yang berasal dari Jawa dan berkarakter berkarakter berani, kuat, tangguh, agresif, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan cenderung senang untuk tampil beda dengan yang lain.Pada tahun 1990-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 36 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan tatanan rambut updo, mengenakan pakaian dengan model sleeveless berwarna coklat, sedang tersenyum sambil menyilangkan tangannya.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan perempuan karier yang masuk dalam kelompok white collar dan penampilannya menunjukkan bahwa perempuan ini berasal dari kelas sosial atas.Sampul kedua, edisi 23 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan tatanan rambut sleek, mengenakan dress dan anting-anting berwarna merah dengan ekspresi wajah yang tatapan matanya ke depan sambil tersenyum simpul.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan elegan.Sampul ketiga, edisi 48 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan dengan tatanan rambut updo, mengenakan dress berwarna pink dan scarf berwarna sama, sedang tersenyum menatap ke arah kamera.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan yang tampil modern dan glamor dilihat dari pilihan gaya tatanan rambut, pakaian dan aksesoris yang dikenakannya.Pada tahun 2000-an terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 46 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan yang mengenakan atasan bustier dan bawahan abu-abu sedang berpose menghadap kamera.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan sosok perempuan cantikyang berpenampilan seksi yang didefinisikan dengan bentuk tubuh yang ramping dan berlekuk, memiliki leher yang jenjang, dan berkulit coklat.Sampul kedua, edisi 35 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan yang mengenakan halter neck dress berwarna putih, yang tersenyum dan terlihat seperti sedang menahan gaunnya yang tertiup angin dengan kedua tangannya.” Lalu pada tataran konotasinya menampilkan gambaran sosok perempuan melalui sosok ikon terkenal yaitu Marilyn Monroe yang dikenal sebagai ikon kecantikan dan sensual.Sampul ketiga, edisi 03 memiliki tataran denotasi: “terdapat tiga orang perempuan dengan gaya berpakaian yang berbeda terlihat sedang tersenyum dan dalam posisi yang saling berdekatan.” Lalu pada tataran konotasinya menggambarkan sosok tiga perempuan yang memiliki hubungan yang erat atau biasa disebut dengan istilah sisterhood.Pada tahun 2010 hingga saat ini terdapat tiga sampul yang dianalisis. Sampul pertama, edisi 22 memiliki tataran denotasi: “terdapat dua perempuan mengenakan pakaian yang seragam warnanya yaitu kuning dan hitam, terlihat sedang berdiri dan tersenyum.” Lalu pada tataran konotasinya menggambarkan dua sosok perempuan yang memiliki hubungan sebagai kakak-adik dan masing-masing digambarkan memiliki kesamaan juga perbedaan.Sampul kedua, edisi 161 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan mengenakan atasan berkerah biru, dipadukan dengan celana putih, yang sedang duduk melipat tangan dan tersenyum menatap kedepan.” Lalu pada tatarankonotasinya menggambarkan sosok perempuan karier yang dinamis, percaya diri, dan suka memperhatikan penampilannya.Sampul ketiga, edisi 11 memiliki tataran denotasi: “terdapat seorang perempuan mengenakan bustier hitam, celana panjang hitam, dan dipadukan dengan blazer putih, sedang duduk pada sebuah kursi dikelilingi tiga pria yang berdiri di belakangnya.” Lalu pada tataran konotasinya menggambarkan sosok perempuan yang memiliki posisi karier yang tinggi yaitu memiliki posisi sebagai atasan.Gambaran Perempuan dalam Sampul Majalah FeminaPeriode tahun 1970-an menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 01 atau edisi perdana, edisi 61, dan edisi 64. Pada sampul pertama yang menampilkan perempuan dalam peran ganda menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari realita yang ditampilkan. Pada sampul kedua menampilkan perempuan dalam sosok seorang nyonya besar dapat menjadi suatu petunjuk yang menggambarkan keadaan perempuan dan perekonomian Indonesia saat itu. Pada sampul ketiga menunjukkan bahwa Femina menjadi acuan gaya hidup kaum kelas menengah ke atas, mencerminkan keadaan politik dan ekonomi Indonesia pada tahun 1970-an. Pada periode ini perempuan yang ditampilkan dalam sampul yang dianalisis memiliki kesamaan yaitu ditampilkan lebih dominan peranannya dalam ranah domestik, dan berasal dari kalangan ekonomi atas.Periode tahun 1980-an menampilkan tiga sampul Femina yaitu edisi 179, edisi 01, dan edisi 15. Pada sampul pertama menunjukkan bahwa sosok perempuan yang ditampilkan berbeda dengan periode sebelumnya dapat menjadi tanda bahwa Femina memiliki “pembaca baru” yang memiliki karakteristikberbeda dengan sebelumnya. Pada sampul kedua yang menampilkan perempuan sebagai pekerja kalangan menengah menunjukkan bahwa sampul tersebut mencerminan keadaan sosial masyarakat pada saat itu. Pada sampul ketiga yang menampilkan seorang perempuan yang mengenakan aksesoris khas suatu budaya Barat dapat menjadi suatu tanda bahwa di Indonesia sedang terjadi proses masuknya budaya-budaya asing. Pada periode ini perempuan dalam sampul-sampul ditampilkan lebih bervariasi, dilihat dari ekspresi maupun gaya penampilannya.Periode tahun 1990-an menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 36, edisi 23, dan edisi 48. Pada sampul pertama yang menampilkan sosok perempuan modern menunjukkan bahwa pada saat itu keadaan masyarakat Indonesia khususnya daerah perkotaan sedang berkembang dengan pesat dan segala hal yang berbau modern menjadi daya tarik tersendiri. Pada sampul kedua dan ketiga juga menampilkan hal yang sama, yaitu sosok perempuan modern, hal ini menegaskan bahwa Femina memiliki peran dalam memacu atau memberi inspirasi bagi para pembacanya mengenai gaya hidup. Pada periode ini perempuan yang ditampilkan dalam tiga sampul yang dianalisis memiliki kesamaan, yaitu menampilkan sosok yang modern dan berasal dari kalangan ekonomi atas.Periode tahun 2000-an menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 46, edisi 35, dan edisi 03. Pada sampul pertama yang menampilkan sosok perempuan cantik dan seksi menunjukkan bahwa majalah ini tidak mencerminkan keadaan ekonomi maupun politik Indonesia saat itu, tapi lebih memberikan acuan ataupandangan lain untuk perempuan Indonesia dalam hal definisi kecantikan. Pada sampul kedua yang menampilkan sosok perempuan sebagai Marylin Monroe secara tidak langsung dapat menunjukkan bahwa di Indonesia sedang terjadi proses globalisasi yang memungkinkan banyak informasi dari luar masuk ke Indonesia, salah satunya dalam bidang hiburan. Pada sampul ketiga yang menggambarkan isu kaum perempuan yaitu sisterhood, menunjukkan bahwa Femina tidak mencerminkan kondisi perekonomian ataupun politik pada tahun tersebut. Pada periode ini dari ketiga sampul yang dianalisis menampilkan isu-isu yang menyangkut kehidupan seputar perempuan.Periode tahun 2010 hingga saat ini menampilkan tiga sampul Femina, yaitu edisi 22, edisi 161, dan edisi 11. Pada sampul pertama yang menampilkan sosok dua perempuan kakak beradik tidak mencerminkan keadaan ekonomi maupun politik Indonesia saat itu. Pada sampul kedua yang menampilkan sosok perempuan karier yang dinamis, meskipun sosok perempuan tersebut tidak bisa mewakili semua perempuan yang bekerja, namun sosok yang ditampilkan dalam sampul tersebut dapat menjadi acuan atau insipirasi. Pada sampul ketiga yang menampilkan perempuan memiliki posisi yang tinggi dalam kariernya dapat mencerminkan keadaan perempuan yang saat ini posisinya sudah semakin setara dengan kaum pria, khususnya dalam bidang pekerjaan. Pada periode ini dari ketiga sampul yang dianalisis memiliki kesamaan dengan periode sebelumnya, yaitu menampilkan isu yang dekat dengan kehidupan perempuan.PenutupKesimpulanAnalisis sampul Femina selama lima periode menunjukkan bahwa pada tiap sampulnya, Femina merepresentasikan perempuan secara berbeda. Perubahan dalam tiap sampul dapat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat yang sedang terjadi. Pada beberapa edisi sampul Femina yang telah dianalisis, ditemukan bahwa gambaran dalam sampul dapat menjadi semacam petunjuk dari kondisi yang terjadi saat itu. Namun, beberapa sampul lainnya menunjukkan hal yang tidak berhubungan dengan kondisi masyarakat yang sedang terjadi.Femina sebagai media massa mempunyai sifat yang disebut pengkonstruksi realitas, yaitu Femina dapat memilih bagaimana menampilkan suatu keadaan atau realitas yang sedang terjadi. Dalam merepresentasikan sosok perempuan dalam sampulnya, Femina tidak secara “mentah” menampilkan seluruh realitas yang ada.DAFTAR PUSTAKADAFTAR PUSTAKAAhman, Eeng dan Epi Indriani. (2007). Membina Kompetensi Ekonomi. Bandung: Grafindo Media PratamaArivia, Gadis. (2006). Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: KompasBaran, J. Stanley and Dennis K. Davis. (2010). Mass Communication Theory: Foundation, Ferment, and Future (6th ed.). USA: WadsworthBarker, Chris. (2000). Cultural Studies, Theory and Practice. London: SageBarker, Chris. (2004). The Sage Dictionary of Cultural Studies. London: SageBarthes, Roland. (2010). Imaji, Musik, Teks. Yogyakarta: Jalasutra.Bayu, W.M dan Gora W.S. (2007). Bikin Film Indie itu Mudah!. Yogyakarta: Andi OffsetBerger, Arthur Asa. (2010). The Objects of Affection: Semiotics and Consumer Culture. USA: Palgrave MacmillanBudiman, Kris. (2011). Semiotika Visual – Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta: JalasutraBurton, Graeme. (2002). More Than Meets the Eye: An Introduction To Media Studies (3rd ed.). London: ArnoldChandler, Daniel. (2007). Semiotics: The Basic (2nd ed). New York: RoutledgeCobley, Paul. (2010). The Routledge Companion to Semiotics. New York: RoutledgeDanesi, Marcel. (2002). Understanding Media Semiotics. London: ArnoldDanesi, Marcel. (2004). Messages, Signs, and Meanings: A Basic Textbook in Semiotics and Communication Theory (3rd ed.). Ontario: Canadian Scholars Press Inc.Denzin, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka PelajarDjojosoekarto, Agung, dkk. (2008). Transformasi Demokratis Partai Politik di Indonesia: Model, Strategi, dan Praktik. Jakarta: Kemitraan PartnershipFakih, Mansour. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka PelajarGaffar, Afan. (2004). Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka PelajarGuba, E. G., and Yvonna S. Lincoln. (1994). Competing Paradigms in Qualitative Research. In N. K Denzin and Y. S. Lincoln (eds.), Handbook of Qualitative Research (pp. 105-117) California: SageHall, Stuart. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: SageIbrahim, Idi Subandi dan Hanif Suranto. (1998). Wanita dan Media: Konstruksi Ideologi Gender dalam Ruang Publik Orde Baru. Bandung: Remaja Rosda Karya.Irianto, Sulistyowati. (2008). Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum yang Berspektif Kesetaraan dan Keadilan. Jakarta: Yayasan Obor IndonesiaKitch, Carolyn. (2001). The Girls on The Magazine Cover: The Origins of Visual Stereotypes in American Mass Media. The University of North Carolina PressLeirissa, RZ, dkk. (1996). Sejarah Perekonomian Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RILittlejohn, Stephen W. and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi – Theories of Human Communication (9th ed.). Jakarta: Salemba HumanikaMartin, Bronwen and Felizitas Ringham. (2000). Dictionary of Semiotics. London: CassellMaryati, Kun dan Juju Suryawati. (2007). Sosiologi. Jakarta: ESISMcKay, Jenny. (2001). The Magazine Handbook. London: RoutledgeMoleong, Lexy. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja RosdakaryaNitisastro, Widjaja. (2010). Pengalaman Pembangunan Indonesia – Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjaja Nitisastro. Jakarta: KompasNotopuro, Hadjito. (1984). Peranan Wanita dalam Masa Pembangunan Indonesia. Jakarta: Ghalia IndonesiaNovita, Windya. (2002). Meraih Inner Beauty Dengan Doa Dan Zikir. Jakarta: GramediaRicklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi Ilmu SemestaSardar, Ziauddin and Borin van Loon. (1999). Introducing Cultural Studies. Cambridge: Icon BooksSardiman. (2006). Sejarah 3+. Bogor: QuandraSjahrir. (1998). Krisis Ekonomi Menuju Reformasi Total. Jakarta: Yayasan Obor IndonesiaSobur, Alex. (2001). Analisis Teks Media : “Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing”. Bandung: Remaja Rosda KaryaSoeroso, Santoso. (2005). Mengarusutamakan Pembangunan Berwawasan Kependudukan di Indonesia. Jakarta: Buku Kedokteran EGCSumodisastro, Hardjantho. (1985). Pembangunan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Gunung AgungStrinati, Dominic. (2004). An Introduction to Theories of Popular Culture (2nd ed.). London: RoutledgeSunardi, St. (2002). Semiotika Negativa. Yogyakarta: KanalSupriatna, Nana. (2006). Sejarah. Bandung: Grafindo Media PratamaSuryochondro, Sukanti. (1984). Potret Pergerakan Wanita. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu SosialTurner, Graeme. (2003). British Cultural Studies: An Introduction (3rd ed.). London: RoutledgeVivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa (8th ed.). Jakarta: KencanaWest, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi 1: Analisis dan Apilkasi. Jakarta: Salemba HumanikaWinarno, Budi. (2008). Sistem Politik Indonesia Era Reformasi. Yogyakarta: Media PressindoSumber Internet:Admin FashionPro Magazine. (2013). Edgy. Dalam http://www.fashionpromagazine.com/?p=6818. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 23.53 WIBAdnan, Ita. (2012). Nyaman dan Gaya Berbusana Kerja. Dalam http://www.tabloidnova.com/Nova/Busana/Konsultasi/Nyaman-dan-Gaya- Berbusana-Kerja. Diunduh pada 21 Juni 2013 pukul 08.16 WIBAmanah. (2009). Bukaan Atas Versus Bukaan Depan. Dalam http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/08/03/75067 /Bukaan-Atas-Versus-Bukaan-Depan. Diunduh pada 9 April 2013 pukul 21.00 WIBAnna, Lusia Kus. (2008). Psikologi dan Arti Warna. Dalam http://nasional.kompas.com/read/2008/10/09/15551015/psikologi.dan.arti. warna. Diunduh pada 13 Maret 2013 pukul 18.00 WIBAnonymous. (tanpa tahun). Femina. Dalam http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/570. Diunduh pada 29 Agustus 2012 pukul 19.00 WIBAnonymous. (tanpa tahun). Sejarah Majalah - Dari Masa Daniel Defoe hingga Era Internet. Dalam http://www.anneahira.com/sejarah-majalah.htm. Diunduh pada 15 Desember 2012 pukul 21.00 WIBAnonymous. (tanpa tahun). Show Your Wild Side with Animal Print Sunglasses. Dalam http://www.optikmelawai.com/style_idea/show-your-wild-side- with-animal-print-sunglasses/9111350/. Diunduh pada 27 April 2013 pukul 06.30 WIBAnonymous. (2008). Scarf Melilit Cantik. Dalam http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/6035-scarf_melilit_cantik. Diunduh pada 6 Maret 2013 pukul 03.45 WIBAnonymous. (2012). Perjalanan „Membaca‟ Zaman. Dalam http://www.femina.co.id/isu.wanita/topik.hangat/perjalanan.membaca.zam an/005/007/175 . Diunduh pada 15 Desember 2012 pukul 23.00 WIBAster, Altifanidya. (2013). Mencontek Gaya Sanggul Modern Pengantin Barat. Dalam http://www.teruskan.com/10370/mencontek-gaya-sanggul-modern- pengantin-barat.html#_. Diunduh pada 29 April 2013 pukul 19.42 WIBBintaranny, Kadek. (tanpa tahun). Rahasia Dibalik Bahasa Tubuh. Dalam http://informasitips.com/rahasia-dibalik-bahasa-tubuh. Diunduh pada 27 April 2013 pukul 17.20 WIBBonang, Jimmy. (2011). Tips Stylish Dengan Warna. Dalam http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/09/21/tips-stylish-dengan- warna-397399.html diunduh pada 28 April 2013 pukul 20.38 WIBChoiron. (2012). Cincin Penyelamat Para Mahasiswi. Dalam http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/29/cincin-penyelamat-para- mahasiswi-497264.html. Diunduh pada 13 Maret 2013 pukul 19.45 WIBDila. (2008). Membaca Bahasa Tubuh. Dalam http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2008/04/08/204/Memb aca-Bahasa-Tubuh. Diunduh pada 23 Aril 2012 pukul 22.30 WIBDini. (2013). 3 Gaya untuk Busana Bahan “Chiffon”. Dalam http://female.kompas.com/read/2013/05/06/22560699/3.Gaya.untuk.Busan a.Bahan.Chiffon?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=K anawp. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 23.29 WIBDjumena, Erlangga. (2010). Perempuan dan Empati terhadap Sesama. Dalam http://female.kompas.com/read/2010/11/23/21440574/perempuan.dan.emp ati.terhadap.sesama. Diunduh pada 6 Juni 2013 pukul 04.37 WIBEsther. (2013). Budaya Jawa Tidak Butuh Diubah Menjadi Islami. Dalam http://sosbud.kompasiana.com/2013/01/13/budaya-jawa-tidak-butuh- diubah-menjadi-islami-519190.html. Diunduh pada 30 Mei 2013 pukul 80.30 WIBFazriyati, Wardah. (2011). Kreatif Menjadi Nyonya Rumah Sekaligus Berwirausaha. Dalam http://female.kompas.com/read/2011/02/25/18474719/Kreatif.Menjadi.Ny onya.Rumah.Sekaligus.Berwirausaha. Diunduh pada 16 Maret 2013 pukul 19.00 WIBFelicia, Nadia. (2011). Trik Berbusana Ibu Bekerja. Dalam http://female.kompas.com/read/2011/02/24/14330058/Trik.Berbusana.Ibu. Bekerja. Diunduh pada 17 Mei 2013 pukul 02.31 WIB.Franka. (2011). Invansi Rambut Pendek. Dalam http://www.tabloidnova.com/Nova/Kecantikan/Rambut/Invasi-Rambut- Pendek. Diunduh pada 23 April 2013 pukul 21.45 WIB\Frederika, Mellyana. (tanpa tahun). Scarf. Dalam http://timetoscarf.com/serba- scarf/scarf. Diunduh pada 6 Maret 2013 pukul 03.28 WIBIrwansyah, Ade. (2011). Memaknai Kulit Coklat Agnes Monica. Dalam http://www.tabloidbintang.com/extra/lensa/17610-memaknai-kulit-coklat- agnes-monica.html. Diunduh pada 5 Mei 2013 pukul 05.02 WIBHardjanto, Yustinus Sapto. (2013). Sosialis vs Sosialita. Dalam http://sosbud.kompasiana.com/2013/04/27/sosialis-vs-sosialita- 554876.html. Diunduh pada 27 April 2013 23.30 WIBHarmandini, Felicitas. (2009). Padu-padan Busana Berwarna Netral. Dalam http://female.kompas.com/read/2009/10/27/11542367/function.require. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 22.44 WIBHarmandini, Felicitas. (2011). Make-up Polos untuk Wajah Segar Alami. Dalam http://female.kompas.com/read/2011/07/15/17211565/Make- up.Polos.untuk.Wajah.Segar.Alami. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 16.00 WIBHeka, Yudha. (2012). 11 Makna Warna untuk Personality Anda. Dalam http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/14/11-makna-warna-untuk- personality-anda-457313.html. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 20.13 WIBHendramartono, Wijoyo. (tanpa tahun). Tips Menata Beranda Rumah. Dalam http://www.arsitekonline.com/articles/arsitek-tips-menata-beranda- rumah.html. Diunduh pada 11 Maret 2013 pukul 22.30 WIBHernasari, Putri Rizqi. (2012). Ini Dia 15 Topi Paling Khas dari Seluruh Dunia. Dalam http://travel.detik.com/read/2012/12/17/085544/2120062/1382/ini- dia-15-topi-paling-khas-dari-seluruh-dunia?v771108bcj. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 21.00 WIBHestianingsih. (2013). Trik Berbusana dari Tyra Banks untuk Tampilkan Sisi Tangguh Wanita. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2013/02/07/172948/2164148/233/trik- berbusana-dari-tyra-banks-untuk-tampilkan-sisi-tangguh-wanita. Diunduh pada 20 Maret 2013 pukul 18.45 WIB Junaidi, A. (2006). INDONESIA: 'Femina' receives Asia Media award. Dalam http://www.asiamedia.ucla.edu/article.asp?parentid=46302 . Diunduh pada 1 September 2012 pukul 17.00 WIBKrisnamurti, Dahlia. (2012). Rahasia di balik Keunikan Bentuk Alis. Dalam http://gayahidup.inilah.com/read/detail/1872939/rahasia-di-balik- keunikan-bentuk-alis#.UXhxuqJmiSo. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 21.00 WIBKristiani, Florentina Lenny. (tanpa tahun). Mengenal Tradisi Minum Teh. Dalam http://klubnova.tabloidnova.com/KlubNova/Artikel/Aneka-Tips/Tips- Rumah/Mengenal-Tradisi-Minum-Teh. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 23.00 WIBKurniawan, Iwan dan Nina Raharyu. (2013). Kelas Menengah Indonesia Bakal Tembus 170 Juta Orang. Dalam http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/407013-kelas-menengah- indonesia-bakal-tembus-170-juta-orang. Diunduh pada 6 Juni pukul 05.42 WIBLegita. (tanpa tahun). Manfaat Sosial Teh. Dalam http://www.gadis.co.id/gaul/ngobrol/manfaat.sosial.teh/001/007/465. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 22.00 WIBMadjid, Aidil Akbar. (2011). Logam Mulia. Dalam http://blog.tempointeraktif.com/ekonomi-bisnis/logam-mulia/. Diunduh pada 14 Maret 2013 pukul 21.45 WIBMahardi, Karina. (2012). 6 Trik Menata Rambut Dengan Cepat di Pagi Hari. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2012/10/08/070257/2056894/234/6- trik-menata-rambut-dengan-cepat-di-pagi-hari. Diunduh pada 9 Maret 2013 pukul 19.00 WIBMaya. (2012). Oxford Shoes, Cara Tampil Beda. Dalam http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2012/07/18/1328 /Oxford-Shoes-Cara-Beda-Tampil-Beda. Diunduh pada 16 Mei 2013 pukul 23.32 WIBNatalia, Maria. (2012). LSI: Politik Indonesia Cenderung Memburuk. Dalam http://nasional.kompas.com/read/2012/02/19/17205490/LSI.Politik.Indone sia.Cenderung.Memburuk. Diunduh pada 6 Juni 2013 pukul 05.59 WIBNugraheni, Mutia. (2013). Tampil Lebih Seksi dengan Atasan Sheer. Dalam http://life.viva.co.id/news/read/389631-tampil-lebih-seksi-dengan-atasan-- i-sheer--i-. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 20.24 WIBNugraheni, Mutia dan Tasya Paramitha. (2013). Gaun Halter Bikin Leher Seksi. Dalam http://life.viva.co.id/news/read/400292-gaun-halter-bikin-leher- seksi. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 15.08 WIBNurcahyani, Dwi Indah. (2012). Kiat Tampil Elegan Berbusana Animal Print. Dalam http://lifestyle.okezone.com/read/2012/02/15/29/576379/kiat- tampil-elegan-berbusana-animal-print. Diunduh pada 26 April 2013 pukul 15.30 WIBOcktaviany, Tuty. (2010). Tren Alis dari Masa ke Masa. Dalam http://lifestyle.okezone.com/read/2010/02/28/29/307659/tren-alis-dari- masa-ke-masa. Diunduh pada 13 Maret 2013 pukul 18.30 WIBOktaviani, Kiki. (2011). Cara Membangun Kepercayaan Diri saat Bekerja. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2011/01/06/113624/1540414/857/cara- membangun-kepercayaan-diri-saat-bekerja. Diunduh pada 23 April 2013 pukul 22.00 WIBOktaviani, Kiki. (2012). 5 Keuntungan Menggunakan Lipstik Warna Merah. Dalam http://wolipop.detik.com/read/2012/11/13/160115/2090584/234/5- keuntungan-menggunakan-lipstik-warna-merah. Diunduh pada 26 Maret 2013 pukul 19.53 WIBPratama, Adinindra. (2011). Macam-Macam Model Jeans. Dalam http://dunia.news.viva.co.id/news/read/262093-macam-macam-model- jeans. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 21.42 WIBPribadi, Andy. (tanpa tahun). Riasan “Cat Eye” Tetap Ngetren. Dalam http://wartakota.tribunnews.com/detil/berita/104507/Riasan-Cat-Eye- Tetap-Ngetren. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 19.30 WIBPurwanti, Niken Ari. (2012). Hidup dan Tragedi Marilyn Monroe: Bom Seks Abad ke-20 (I). Dalam http://www.solopos.com/2012/09/16/kisah-kasus- hidup-dan-tragedi-marilyn-monroe-bagian-i-329321. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 15.23 WIBRona. (2011). Nilai Sejarah yang Mahal. Dalam http://www.koran- jakarta.com/index.php/detail/view01/70564. Diunduh pada 6 Mei 2013 pukul 15.18 WIBRona. (2012). Aksesori Mencekik Leher yang Jadi Trend: Choker Band. Dalam http://m.koran-jakarta.com/?id=99516&mode_beritadetail=1. Diunduh pada 5 Mei 2013 pukul 05.26 WIBRatmilia, Bani. (2013). Berbicara Santun itu Baik. Dalam http://bahasa.kompasiana.com/2013/01/19/berbicara-santun-itu-baik- 526193.html. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 21.00 WIBSetyanti, Christina Andhika. (2013). 5 “Fashion Statement” Ikonik Margaret Thatcher. Dalam http://sains.kompas.com/read/2013/04/09/09124792/5.Fashion.Statement.I konik.Margaret.Thatcher. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 22.00 WIBSubhan, Muhammad. (2011). Refleksi Akhir Tahun, 80 Persen Wartawan Pemeras? Dalam http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2011/12/30/refleksi-akhir-tahun-80-persen-wartawan-pemeras- 425934.html . Diunduh pada 6 Januari 2013 pukul 22.00 WIBSulqifli. (2010). Peran Ganda Perempuan Menciptakan Pegeseran Nilai dalam Keluarga. Dalam http://www.unm.ac.id/berita/19-berita/30-peran-ganda- perempuan-menciptakan-pergeseran-nilai-dalam-keluarga.html. Diunduh pada 16 April 2013 pukul 21.00 WIBSusanto, A. B. (tanpa tahun). Citra Profesional Penunjang Karier. Dalam http://www.jakartaconsulting.com/art-13-02.htm. Diunduh pada 7 Mei 2013 pukul 10.17 WIBTim Central Java Tourism. (tanpa tahun). Batik. Dalam http://www.central-java- tourism.com/cult-heri-batik.php. Diunduh pada 16 Februari 2013 pukul 23.30 WIB.Tim Men‟sHealth. (tanpa tahun). Sporty dengan Sneakers. Dalam http://www.menshealth.co.id/style.grooming/detil/sporty.dengan.sneakers/ 005/001/10. Diunduh pada 17 Mei 2013 pukul 01.36 WIBTim Redaksi Femina. (tanpa tahun). Motif Mania. Dalam http://www.femina.co.id/mode/fashion.news/motif.mania/001/001/142. Diunduh pada 12 Maret 2013 pukul 21.00 WIBTim Redaksi Femina. (2011). Tampil Gaya Dengan Kemeja Putih. Dalam http://www.femina.co.id/mode/fashion.tips/tampil.gaya.dengan.kemeja.put ih/001/005/53. Diunduh pada 24 April 2013 pukul 22.30 WIBTim Redaksi Femina. (2011). Istilah Kalung. Dalam http://www.femina.co.id/mode/fashion.tips/istilah.kalung/001/005/78. Diunduh pada 26 Maret 2013 pukul 21.18 WIBTim Redaksi Femina. (2012). Transformasi Aksesori. Dalam http://m.femina.co.id/article/mobArticleDetail.aspx?mc=001&smc=003&a r=129. Diunduh pada 20 Maret 2013 pukul 21.45 WIBVemale.com (2012). Sexy Pantsuit Ala Evan Rachel Wood. Dalam http://www.vemale.com/fashion/tips-and-tricks/10712-sexy-pantsuit-ala- evan-rachel-wood.html. Diunduh pada 5 Mei 2013 pukul 2.50 WIBWahyuni, Nurseffi D. (2012). 10 Kesalahan Bahasa Tubuh Saat Wawancara Kerja. Dalam http://bisnis.liputan6.com/read/469090/10-kesalahan- bahasa-tubuh-saat-wawancara-kerja. Diunduh pada 7 Mei 2013 pukul 07.57 WIBWiana, Ketut. (tanpa tahun). Hari Raya Saraswati. Dalam http://www.hindubatam.com/upacara/dewa-yadnya/hari-saraswati.html. Diunduh pada 13 April 2013 pukul 17.30 WIBWidyarsih, Widha. (2012). Buku Ajar Aksesoris Pelajar. Dalam http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/11/buku-ajar-aksesoris-pelajar- 454036.html. Diunduh 16 April 2013 pukul 18.00 WIBWijaya, Bambang Sukma. (2008). Teori – Teori Semiotika, Sebuah Pengantar. Dalam http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/2008/02/19/teori-teori- semiotika-sebuah-pengantar/ . Diunduh pada 31 Oktober 2012 pukul 20.00 WIBYani, C. (2010). Marylin Monroe dan Kisah Cinderella. Dalam http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/03/07/101279/Mar ylin-Monroe-dan-Kisah-Cinderella. Diunduh pada 28 Maret 2013 pukul 15.29 WIBYusuf, Iwan Awaluddin. (2010). Memotret Industri Majalah Bersegmen di Indonesia. Dalam http://bincangmedia.wordpress.com/2010/05/27/memotret-industri- majalah-bersegmen-di-indonesia/. Diunduh pada 28 Agustus 2012 pukul 21.00 WIBThe Oxford Dictionary. http://oxforddictionaries.com/definition/english/representation?q=represen tation. Diunduh pada tanggal 29 Januari 2013 pukul 20.30 WIBSkripsi :Rovi‟atin, Nur. (2010). Rasisme Warna Kulit dalam Cover Majalah Kartini. Skripsi. Universitas DiponegoroHemas, Nur Lintang. (2012). Negosiasi Identitas Punkers dengan Masyarakat Budaya Dominan. Skripsi. Universitas DiponegoroJurnal :Hakim, Lukmanul. (2011). Perkembangan Tenaga Kerja Wanita di Sektor Informal: Hasil Analisa dan Proxy Data Sensus Penduduk. Among Makarti, 4(7)Hidayat, Deddy N. (2002). Metodologi Penelitian dalam Sebuah Multi-Paradigm Science. Mediator Jurnal Komunikasi, 3(2)Mubah, Safril. (2011). Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus Globalisasi. Jurnal UNAIR, 24(4) Wiratmo, Liliek Budiastuti dan Mochamad Gifari. (2008). Representasi Perempuan dalam Majalah Wanita. Dalam ejournal.stainpurwokerto.ac.id/index.php/.../73 . Diunduh pada 1 September 2012 pukul 20.00 WIB Sumber Lain: Buku Peringatan Ulang Tahun majalah Femina ke-25. (tanpa tahun).
Co-Authors Ade Ayu Kartika Sari Rezki Adi Nugroho Amanda Meipuspa Nusa Anike Puspita Yunita, Anike Puspita Annie Renata Siagian, Annie Renata Arlinda Nurul Nugraharini, Arlinda Nurul Asteria Agustin ASTRID DAMAYANTI Austin Dian P Bebby Rihza Priyono Daniel Dwi Listantyo Dea Dwidinda Lutfi Desy Kurniasari, Desy DITA PURMIA UTAMI Dr. Sunarto Dwi Ratna Setyorini Fauzan Faiz Febryana Dewi Nilasari Fitria Nur Pratiwi Fitria Purnama Sari Geta Ariesta Herdini Hapsari Dwiningtyas Hedi Pudjo Santosa Ilham Prasetyo Imanda Aulia Akbarian Ira Astri Rasika Isti Murfia Joyo N.S Gono Joyo NS Gono Khairunnisya Sholikhah Lintang Andini Lintang Ratri Rahmiaji Luthfi Fazar Ridho M Bayu Widagdo Melani Ria, Melani Meta Detiana Putri MIZWAR AGUSTIFAR Much Yulianto Muchammad Yulianto Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat MUTIA ADI CAHYANI, REZA NIKOLAUS AGENG PRATHAMA Nugraheni Yunda Nuraga Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurriyatul Lailiyah, Nurriyatul Paskah M Pakpahan, Paskah M Primada Qurrota Ayun, Primada Qurrota Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rindhianti Novita Sari Rizky Amalia Safwedha, Onny Sallindri Sanning Putri Sarah Tri Rahmasari Septia Hartiningrum Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Swasti Kirana Putri, Swasti Kirana Syarifa Larasati, Syarifa Tandiyo Pradekso Tineke Kristina Siregar Titis Ponco Setiyoko Tommy Ardianto Triana Lestari Triliana Kurniasari Triono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Wilis Windiasih Wiwid Noor Rakhmad Woro Widiyasari Yanuar Luqman