Articles

Found 28 Documents
Search

IDENTIFIKASI GENOTIPE PADI (ORYZA SATIVA L.) HEMAT AIR Pratiwi, Rossy Hening; Supriyanta, Supriyanta; Kurniasih, Budiastuti
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.417 KB) | DOI: 10.22146/veg.35772

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi genotipe padi yang berpotensi dikembangkan sebagai varietas padi hemat air. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada di Banguntapan, Bantul pada bulan Mei 2016 sampai Desember 2016. Percobaan pot menggunakan rancangan petak terbagi faktorial 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama berupa varietas padi dengan menggunakan 11 varietas yaitu Widas, Inpari 29, Menthik Wangi, Inpago 9, Inpari 23, Lumbu Kuning, Segreng, Inpari 25, IR 64, Situ Bagendit, dan Ciherang. Faktor kedua yaitu sistem pengairan dengan 3 aras, sawah, macak-macak, dan gogo sehingga terdapat 33 kombinasi perlakuan. Pengamatan difokuskan pada karakter agronomi dan karakter komponen hasil. Hasil analisis varian digunakan untuk menduga nilai ragam genetik dan heritabilitas arti luas. Data hasil pengamatan juga digunakan untuk menghitung indeks respon tanaman terhadap perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan adanya interaksi antara sistem pengairan dan varietas pada karakter kepadatan malai. Faktor sistem pengairan mempengaruhi karakter jumlah anakan total, volume akar, dan persentase gabah hampa. Karakter tinggi tanaman, umur berbunga, umur panen, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, hasil per rumpun, dan indeks panen hanya dipengaruhi oleh perbedaan genotipe tanaman. Berdasarkan nilai indeks respon, pada karakter komponen hasil, varietas Widas, Menthik Wangi, Inpago 9, Inpari 23, Inpari 25, dan Ciherang dapat dikembangkan sebagai varietas padi hemat air.
KARAKTERISASI MORFOLOGI DAN FOTOPERIODISME PADI LOKAL (ORYZA SATIVA L.) INDONESIA Ahimsa, Mirza Bintang; Basunanda, Panjisakti; Supriyanta, Supriyanta
Vegetalika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.868 KB) | DOI: 10.22146/veg.33557

Abstract

Penelitian berjudul Karakterisasi Morfologi dan Fotoperiodisme Padi Lokal (oryza sativa L.) Indonesia yang dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai September 2016 di Kebun Tri-Dharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada yang berlokasi di Desa Bantengan, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, menggunakan 11 kultivar padi lokal yang merupakan koleksi Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM yang bertujuan untuk mengkarakterisasi aspek morfologi dan mengidentifikasi pengaruh fotoperiode terhadap umur berbunga padi lokal Indonesia Penanaman dilakukan dalam kondisi lingkungan yang seragam dengan menggunakan rumah plastik seluas 5 x 5 m. Setiap kultivar ditanam dalam ember, setiap ember berisi satu tanaman. Data penelitian dianalisis mengikuti kaidah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan tanggal tanam sebagai faktor. Hasil pengukuran panjang daun kultivar yang termasuk golongan daun panjang adalah 'Hitam Pagentan', 'Temen Ireng', dan 'Saka', kultivar yang termasuk golongan daun sedang adalah 'Bulu', 'Toraja', dan 'CempoIreng', kultivar yang termasuk golongan daun pendek adalah 'Menthik Wangi', 'Ciherang','Cukah, dan 'Andelrojo', dan kultivar yang termasuk golongan sagat pendek adalah'Nipponbare'. Pengukuran tinggi tanaman menunjukan padi yang memiliki tinggi tanamanterpendek yaitu 'Nipponbare', sedangkan yang tertinggi yaitu 'Temen Ireng' dan padi yangmemiliki ketegaran batang yang lemah seperti 'Bulu', 'Toraja', 'Hitam Pagentan', 'TemenIreng', 'Saka'. Kultivar 'Ciherang' dan Kultivar 'Menthik Wangi'. Hasil penelitian terhadapfotoperiodisme menunjukan kultivar yang tidak sensitif terhadap cahaya yaitu 'Nipponbare','Menthik Wangi' dan 'Cempo Ireng', sedangkan kultivar padi yang sensitif terhadap cahayayaitu 'Saka', 'Cukah', 'Andelrojo', 'Hitam Pagentan', 'Ireng temen', 'Toraja', 'Ciherang', dan'Bulu'.
KAJIAN FILOSOFIS TERHADAP STANDAR PERILAKU ETIS NOTARIS Supriyanta, Supriyanta
YUSTISIA Vol 87 (2013)
Publisher : YUSTISIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A notary bound norms and values that constitute the parameters behave ethically. Philosophically, there is a size that is not universally applicable in the world of ethical behavior parameters notary. In a more concrete level, and factual measures for ethical behavior is a notary public Notary Code of Ethics. In order to realize a notary ethical behavior, integrity and commitment required in the process of enforcement of the Code Notary substance through a mechanism that has been agreed. This process must be done continuously so that woke standards of ethical behavior that can guide behavior that is not only derived from the text of the Notary Code, but also from a contextual understanding of the implementation of the Notary Code of Ethics. Notary Code of Ethics as the only parameter Notary ethical behavior in the sense that the most factual, should always be tailored to the developmental dynamics that occur in the community, so that the values contained in it maintained its existence.
KENDALA PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA KORPORASI DALAM BIDANG PERPAJAKAAN DI INDONESIA Kusumo, Bambang Ali; Supriyanta, Supriyanta
RESEARCH FAIR UNISRI Vol 4, No 1 (2020): RESEARCH FAIR UNISRI
Publisher : RESEARCH FAIR UNISRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.803 KB)

Abstract

-
PENDUGAAN PARAMETER GENETIK KOMPONEN HASIL UNTUK SELEKSI TIDAK LANGSUNG TANAMAN PADI (ORYZA SATIVA L.) BERDAYA HASIL TINGGI Faiqon, M. Mujadid; Supriyanta, Supriyanta; Wulandari, Rani Agustina
Vegetalika Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.828 KB) | DOI: 10.22146/veg.26168

Abstract

Seleksi langsung terhadap daya hasil seringkali sulit dilakukan karena sifat alami hasil yang kompleks dan besarnya pengaruh lingkungan terhadap hasil. Seleksi tidak langsung mendasarkan pada komponen hasil yang berkorelasi terhadap hasil dapat dilakukan sebagai solusi untuk masalah tersebut. Pendugaan parameter genetik dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai komponen hasil yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil per hektar. Sembilan genotipe padi  diasumsikan  berdistribusi  random  ditanam  mengikuti  rancangan RCBD di dua lokasi, Klaten dan Sleman. Komponen varian dan kovarian yang diduga melalui ANOVA dan ANCOVA digunakan untuk menduga heritabilitas, korelasi genetik, koheritabilitas, dan rasio nilai harapan CRA/RA. Analisis lebih lanjut untuk korelasi genetik dilakukan dengan analisis lintas untuk memperoleh informasi tambahan  mengenai hubungan  antara hasil dengan komponen hasil. Tinggi tanaman, panjang daun bendera, umur berbunga, umur panen, bobot 100 butir biji, jumlah malai per rumpun, panjang malai, dan kerapatan malai diketahui memiliki heritabilitas tinggi (lebih dari 0,7) dan lebih tinggi dibandingkan heritabilitas hasil per hektar (0,55 di Klaten dan 0,42 di Sleman). Jumlah malai per rumpun memiliki korelasi genetik positif dan tinggi dengan hasil per hektar sementara panjang daun bendera dan umur berbunga memiliki pengaruh langsung positif dan tinggi terhadap hasil per hektar di lokasi Klaten. Bobot 100 butir biji dan panjang malai memiliki korelasi genetik yang positif dan tinggi terhadap hasil per hektar sementara tinggi tanaman dan jumlah biji per malai memiliki pengaruh langsung yang tinggi dan positif. Akan tetapi, tidak terdapat komponen hasil yang memiliki rasio nilai harapan CRA/RA lebih tinggi dari 1 yang menunjukkan bahwa tidak ada komponen hasil yang dapat meningkatkan kemajuan genetik hasil per hektar melalui seleksi tidak langsung. Seleksi langsung terhadap daya hasil lebih efektif dibandingkan dengan seleksi tidak langsung melalui komponen hasil tertentu.
KARAKTERISTIK DAN PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP EMPAT POPULASI KEMBANG KERTAS (ZINNIA ELEGANS JACQ.) Hayuatmaja, Fajar; Purwantoro, Aziz; Supriyanta, Supriyanta
Vegetalika Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.994 KB) | DOI: 10.22146/veg.25347

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui karakteristik dan preferensi masyarakat terhadap kembang kertas varietas asal Jepang dan populasi generasi M7 hasil iradiasi sinar X kultivar lokal. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Bulaksumur, Yogyakarta pada bulan Juni-Desember 2015. Percobaan dilaksanakan mengikuti kaidah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan kode tanam T6B2.5; T5B2.20; T5B2.17 untuk kembang kertas populasi generasi M7 hasil iradiasi sinar X dan komdocit untuk kembang kertas varietas asal Jepang, dengan dua blok sebagai ulangan. Hasil penelitian terkait tipe bunga menunjukkan Populasi T6B2.5 terdiri dari 6% tanaman berbunga single, 51% tanaman berbunga double, dan 43% tanaman berbunga pompom. Populasi T5B2.20 terdiri dari 26% tanaman berbunga single, 55% tanaman berbunga double, dan 19% tanaman berbunga pompom. Populasi T5B2.17 terdiri dari 15% tanaman berbunga single, 52% tanaman berbunga double, dan 33% tanaman berbunga pompom. Populasi komdocit terdiri dari 26% tanaman berbunga single, 39% tanaman berbunga double, dan 35% tanaman berbunga pompom. Hasil penelitian terkait warna bunga, populasi T6B2.5 terdiri dari 46% bunga berwarna merah dan 54% bunga berwarna ungu. Populasi T5B2.20 terdiri dari 77% bunga berwarna ungu dan 23% bunga berwarna putih. Populasi T5B2.17 terdiri dari 79% bunga berwarna ungu dan 21% bunga berwarna putih. Populasi komdocit terdiri dari 29% bunga berwarna merah, 45% bunga berwarna ungu, 16% bunga berwarna kuning, dan 10% bunga berwarna putih. Preferensi masyarakat terhadap kembang kertas menunjukkan bahwa masyarakat lebih menyukai bunga berbentuk pompom, warna bunga putih, diameter bunga sedang (4,1-6 cm) dengan jumlah bunga sedikit (1-13 kuntum) dan tanaman berhabitus pendek (15-50 cm) baik untuk bunga potong maupun tanaman hias dalam pot.
PENGARUH KOMPOSISI MEDIA DAN UMUR PINDAH TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN AWAL JARAK PAGAR (JATROPHA CURCAS L.) DALAM PEMBIBITAN METODA CABUTAN Ekaputra, Fahmi; Supriyanta, Supriyanta; Yudono, Prapto
Vegetalika Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.802 KB) | DOI: 10.22146/veg.24657

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh komposisi media dan umur pindah tanamjarak pagar terhadap potensi pembibitan tanaman jarak pagar secara cabutan sebagaimetode alternatif pengganti pembibitan menggunaan cara polibag. Penelitiandilaksanakan pada bulan April-Juli 2015 di Kebun Percobaan Tridharma, Banguntapan,Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penelitian denganpercobaan faktorial diatur dalam rancangan petak terbagi diulang sebanyak tiga kali.Faktor pertama sebagai petak utama adalah media pembibitan dengan tiga aras yaitucampuran tanah + pupuk kandang + pasir perbandingan 2:1:2 (M1), tanah + pupukkandang + pasir + kokopit perbandingan 2:1:2:1 (M2), dan tanah + pupuk kandang +pasir + arang sekam perbandingan 2:1:2:1 (M3). Faktor kedua sebagai anak petak adalah umur pindah tanam bibit dengan tiga aras yaitu umur 30 (U1), 45 (U2), dan 60(U3) hari setelah semai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kokopit(U2) meningkatkan bobot segar bibit sebaliknya penambahan arang sekam (U3)menurunkan bobot segar bibit. Penambahan bahan organik berinteraksi dengan umurpindah tanam pada variabel pengamatan indeks luas daun. Pindah tanam umur 60 harisetelah semai cenderung memberikan nilai lebih rendah dibanding umur pindah tanam30 dan 45 hari setelah semai pada variabel pertambahan tinggi tanaman, jumlah daun,dan diameter batang. Hasil analisis laju pertumbuhan nisbi (LPN) dan laju asimilasibersih (LAB) menunjukan bahwa bibit cabutan tidak beda nyata dengan bibit polibagpada seluruh kombinasi perlakuan kecuali kombinasi M2U2 dan M3U1 lebih tinggidibandingkan bibit polibag. Penelitian menunjukan bahwa pembibitan cabutan dapatmenggantikan pembibitan model polibag.
DAYA SIMPAN BENIH KACANG HIJAU (VIGNA RADIATA (L.) R. WILCZEK) HASIL TUMPANGSARI DENGAN JAGUNG MANIS (ZEA MAYS L. SACCHARATA) DALAM BARISAN Muhammad, Abdillah; Purwanti, Setyastuti; Supriyanta, Supriyanta
Vegetalika Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.688 KB) | DOI: 10.22146/veg.24631

Abstract

Tumpangsari dapat dijadikan solusi dalam upaya peningkatan produksi kacang hijau dilahan sempit, baik untuk konsumsi maupun penggunaan benih secara umum.Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas dan daya simpan benih kacang hijau yangditanam secara tumpangsari dengan jagung manis dibandingkan monokultur, dan jugamengetahui komposisi jumlah baris optimal tanaman jagung yang ditanam secaratumpangsari dengan jagung manis yang dapat menghasilkan benih dengan dayasimpan yang tinggi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih danrumah kaca, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas GadjahMada, Yogyakarta pada bulan November 2014 hingga April 2015. Penelitian dilakukan dengan pendekatan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satufaktor dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalahtumpangsari kacang hijau dengan jagung manis dengan kombinasi baris yaitu 3:1, 4:1,5:1, 6:1, dan monokultur kacang hijau. Pengujian benih dilakukan setiap bulan selama6 bulan terhadap gaya berkecambah, indeks vigor, vigor hipotetik, kadar air benih, dandaya hantar listrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tanam tumpangsarikacang hijau, dengan berbagai pengaturan baris (3:1, 4:1, 5:1, dan 6:1), sama baiknyadengan sistem tanam monokultur dalam hal daya simpan benih yang dihasilkannyasetelah disimpan selama 6 bulan. Sistem tanam tumpangsari kacang hijau denganpengaturan baris 6:1 direkomendasikan karena memiliki nilai NKL yang lebih dari 1,serta masih memiliki gaya berkecambah, indeks vigor, dan nilai DHL yang baik setelahmengalami 6 bulan penyimpanan.
TANGGAPAN PRODUKTIVITAS KELAPA SAWIT (ELAEIS GUINEENSIS JACQ. ) TERHADAP VARIASI IKLIM W.P., Benny; Putra, Eka Tarwaca Susila; Supriyanta, Supriyanta
Vegetalika Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.204 KB) | DOI: 10.22146/veg.23941

Abstract

Unsur iklim meliputi curah hujan, radiasi matahari, suhu udara dan kelembapan udara sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tandan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh individual maupun kombinasi dari variasi unsur tersebut terhadap produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) maupun rendemen minyak kelapa sawit dan menentukan pola hubungan di antara variasi unsur iklim tersebut dengan produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) dan rendemen minyak kelapa sawit. Penelitian dilakukan di Kebun Kelapa Sawit milik PT Asian Agri wilayah Sumatera Utara, Riau, dan Jambi, dengan pengumpulan data sekunder tahun 2005-2012 dari salah satu afdeling di wilayah perkebunan yang ada di Sumatra Utara, Riau, dan Jambi yang  meliputi curah hujan, suhu udara, kelembapan udara, dan radiasi matahari, produksi Tandan Buah Segar (TBS), rendemen minyak kelapa sawit, dan kadar free fatic acid (FFA) dalam crude palm oil (CPO). Data primer yang dikoleksi adalah data analisis jaringan tanaman (khususnya organ daun) dan data analisis kadar minyak sawit dalam buah. Percobaan disusun dalam rancangan tersarang (nested design), dengan masing-masing kebun bertindak sebagai sarangnya. Setiap kebun selanjutnya dibagi menjadi 3 blok, dan data sekunder maupun primer dikoleksi dari sampel yang diambil di masing-masing blok. Analisis yang digunakan dalam percobaan ini adalah analisis varian pada level 5% dan bila terdapat beda nyata pada variabel dilanjutkan dengan analisis korelasi dan regresi sederhana. Berdasarkan hasil analisis regresi yang dilakukan, komponen unsur iklim yang menjadi faktor pembatas adalah curah hujan yang memiliki persamaan regresi  y = -0.007x + 3.168 di Kebun Aek Kuo, kelembapan udara (RH) yang memiliki persamaan regresi  y = 0.039x + 16.43 di Kebun  Rantau Baru, dan suhu udara yang memiliki persamaan regresi  y = 0.250x - 5.129 di Kebun Tungkal Ulu.
EVALUASI KARAKTER TANAMAN CABAI HIAS (CAPSICUM ANNUUM L.) GENERASI F1 HASIL PERSILANGAN ‘PETER PEPPER’ DENGAN ‘ROYAL BLACK’ Setiyoko, Wili; Purwantoro, Aziz; Supriyanta, Supriyanta
Vegetalika Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.941 KB) | DOI: 10.22146/veg.10482

Abstract

Cabai hias mempunyai beragam warna dan bentuk buah yang mampu memberikan keindahan pada taman, sehingga perlu evaluasi karakter dalam strategi pemuliaan tanaman. Tujuan penelitian ini yaitu mengevaluasi karakter kualitatif dan kuantitatif tanaman cabai hias F1 hasil persilangan ?Peter Pepper? dengan ?Royal Black? dan mengetahui tindak gen karakter kuantitatif. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga genotipe yaitu ?Peter Pepper?, ?Royal Black?, dan F1 (PP×RB) dengan 3 ulangan. Karakter yang diamati dibedakan menjadi dua yaitu karakter kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter kualitatif tanaman cabai hias F1 yang mengekspresikan sifat dominan tetua betina ?Peter Pepper? yaitu karakter warna kotiledon, hipokotil, habitus pertumbuhan tanaman, habitus percabangan, warna daun, bentuk daun, orientasi bunga, orientasi buah, dan bentuk ujung buah. Karakter kualitatif cabai hias F1 yang mengekspresikan sifat dominan tetua jantan ?Royal Black? yaitu warna batang, warna kotak sari, warna tangkai sari, warna buah sebelum masak, dan bentuk buah. Karakter kualitatif cabai hias F1 yang mengekspresikan sifat kodominan yaitu karakter antosianin pada buku dan warna mahkota bunga. Karakter kuantitatif tanaman cabai hias F1 yang sama dengan tetua betina ?Peter Pepper? yaitu karakter diameter batang dan berat buah. Karakter kuantitatif cabai hias F1 yang sama dengan tetua jantan ?Royal Black? yaitu karakter panjang daun, lebar daun, jumlah buah, dan warna buah fase muda. Karakter kuantitatif cabai hias F1 yang berbeda dengan kedua tetuanya yaitu karakter tebal daging buah. Cabai hias F1 yang memiliki tindak gen incomplate dominance yaitu karakter diameter batang, lebar daun, diameter buah, bobot buah, tebal daging buah, jumlah buah per tanaman, dan berat biji per buah, sedangkan F1 yang memiliki tindak gen over dominance yaitu karakter tinggi tanaman, tinggi dikotomus, panjang daun, umur mulai berbunga, umur mulai berbuah, panjang buah, panjang tangkai buah, dan warna buah fase muda, fase antara, dan fase tua.