Endang Supriyantini
Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 49 Documents
Articles

Pertumbuhan Rumput Laut Gracilaria sp. pada Media yang Mengandung Tembaga (Cu) dengan Konsentrasi yang Berbeda Supriyantini, Endang; Santosa, Gunawan Widi; Alamanda, Ladies Nikita
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.7 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i1.19038

Abstract

Budidaya rumput laut banyak dilakukan untuk memenuhi dan meningkatkan produksinya, namun masih banyak kendala, sehingga hasil produksinya belum stabil. Hal ini dapat dilihat dengan pemberian nutrien yang diharapkan akan meningkatkan pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pertumbuhan dan kemampuan absorpsi Gracilaria sp. pada media yang mengandung Cu dengan konsentrasi yang berbeda. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental laboratoris dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan penambahan konsentrasi Cu pada media pemeliharaan yang terdiri dari 4 tingkat yaitu kontrol (0,036 ppm, sesuai dengan konsentrasi Cu pada air laut), 0.5 ppm, 5 ppm, dan 50 ppm dengan 3 pengulangan. Hasil memperlihatkan bahwa penambahan Cu dengan konsentrasi yang berbeda  memiliki pengaruh nyata (p < 0,05) terhadap pertumbuhan dan kemampuan absorpsi pada Gracilaria sp. Pertumbuhan Gracilaria sp. tertinggi dicapai pada perlakuan A (kontrol) dengan pertambahan berat sebesar 25,34 g dan laju petumbuhan spesifik (SGR) sebesar 0,43%. Nilai pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (SGR) yang didapatkan pada perlakuan B (0,5 ppm) sebesar  -80,37 g dan -1,84% per hari, perlakuan C (5 ppm) sebesar -85,19 g dan -2,02% per hari, dan perlakuan D (50 ppm) sebesar -99,19 g dan -2,47% per hari. Semakin tinggi konsentrasi Cu yang diberikan maka pertumbuhan Gracilaria sp. akan semakin rendah. Seaweed cultivation is done to meet and improve its production, but there are still many obstacles, so its results are not yet stable. This can be seen with the awarding of the nutrients that will hopefully increase its growth. The goal of the research is to know the growth and absorption ability of Gracilaria SP. in medium containing different concentrations of Cu with. The method used is the method of experimental design of randomized Complete laboratories (RAL). Addition of Cu concentration on treatment of media maintenance which consists of 4 levels, namely control (0.036 ppm, according to the concentration of Cu in sea water), 0.5 ppm, 5 ppm and 50 ppm, with three repetitions. The results showed that the addition of Cu with a different concentration of real influence (p < 0.05) towards growth and the ability of absorption on Gracilaria sp. Highest growth of Gracilaria sp. was achieved on A treatment (control) and the increase of the weight of 25.34 g and specific growth rate (SGR) of 0.43%. The absolute growth rate and specific growth rate (SGR) obtained at the treatment B (0.5 ppm) of -80.37g and-1.84% per day, treatment C (5 ppm) of -85.19 g and -2.02% per day, and treatment D (50 ppm) for -99.19 g and -2.47% per day. The higher the concentration of Cu given, then the growth of Gracilaria sp. will be even lower. 
Kualitas Ekstrak Karaginan Dari Rumput Laut “Kappaphycus alvarezii” Hasil Budidaya Di Perairan Pantai Kartini Dan Pulau Kemojan Karimunjawa Kabupaten Jepara Supriyantini, Endang; Santosa, Gunawan Widi; Dermawan, Agus
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.352 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i2.16556

Abstract

Karaginan merupakan senyawa hidrokoloid yang diekstraksi dari rumput laut merah jenis Kappaphycus alvarezii. Karaginan dapat digunakan untuk meningkatkan kestabilan bahan pangan baik yang berbentuk suspensi (dispersi padatan dalam cairan), emulsi (dispersi gas dalam cairan). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui Kualitas ekstrak karaginan hasil ekstraksi rumput laut K. alvarezii dari dua lokasi sampling yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2015 sampai bulan Januari 2016, di perairan Pantai Kartini, Jepara dan peraian Kemojan Karimunjawa, Jepara. Hasil penelitian menunjukkan analisis spektra FTIR produk telah memenuhi spesifikasi karaginan standar karena gugus-gugus fungsi yang terdapat pada spektrum sampel yang dihasilkan sama seperti gugus pada kappa karaginan yaitu gugus ester sulfat, OH, ikatan glikosidik. Hasil analisis sifat fisik-kimia karaginan (rendemen, kadar air, kadar abu, kadar sulfat, viskositas, dan kekuatan gel) yang paling baik yaitu karaginan dari perairan Kemojan Karimunjawa dibandingkan karaginan Pantai Kartini. Kadar sulfat Pantai Kartini dan Kemojan Karimunjawa masih dibawah kadar mutu yaitu 15-40 %, Sedangkan kekuatan gel kedua perairan yaitu Kemojan Karimunjawa 78,57 g.cm-2 dan Pantai kartini 61,86 g.cm-2 masih jauh di bawah baku mutu yaitu 685,50 g.cm2. Carrageenan is a hydrocolloid compounds extracted from red seaweed types Kappaphycus alvarezii. Carrageenan can be used to improve the stability of food in the form of suspension or emulsions. The purpose of this study was to determine the quality of the extract of carrageenan extracted from K. alvarezii at two different sampling locations. This research was conducted in August, 2015 and January, 2016. Samples of seaweed obtained from two different waters, namely Kartini Beach and Kemojan Karimunjawa Island, bolt at jepara regency. The results showed the FTIR spectra analysis of the product met the specifications for a standard carrageenan functional groups contained in the sample spectrum as expressed in clusters of kappa carrageenan namely sulphate ester group , OH , glycosidic bond. The results of analysis  of the physical-chemical properties of carrageenan ( yield, moisture content , ash content , sulphate content , viscosity and gel strength ) the best quality of carragenan was obtained from carrageenophyte taken from Kemojan Karimunjawa Island, although sulphate content from two different waters was under quality level at 15 – 40%, while the  gel strength kartini 61.86 g.cm-2 and Kemojan 78.57 g.cm-2 both were still far below the of carrageenophyte quality at 685.50 g.cm-2.
Studi Kandungan Bahan Organik Pada Beberapa Muara Sungai Di Kawasan Ekosistem Mangrove, Di Wilayah Pesisir Pantai Utara Kota Semarang, Jawa Tengah Supriyantini, Endang; Nuraini, Ria Azizah Tri; Fadmawati, Anindya Putri
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.84 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i1.15739

Abstract

Bahan organik adalah kumpulan senyawa - senyawa organik kompleks yang telah mengalami proses dekomposisi oleh organisme pengurai, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi. Bahan organik merupakan sumber nutrient yang penting, yang sangat dibutuhkan oleh organisme laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter kandungan bahan organik meliputi BOD5 (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), TDS (Total Suspended Solid) dan TOM (Total Organic Matter) dan menentukan tingkat pencemaran bahan organik berdasarkan baku mutu pada beberapa muara sungai di kawasan ekosistem mangrove, di wilayah pesisir pantai Utara Kota Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, sedangkan penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling method dan untuk pengambilan sampel air menggunakan metode sample survey method. Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan parameter bahan organik selama penelitian di semua lokasi adalah BOD (3,77 – 15,13 mg/L), COD (20,33 – 140,67 mg/L), TSS (1,33 – 13,67 mg/L), TDS (818,33 – > 2.000 mg/L) dan TOM (10,73 – 50 mg/L). Secara umum kandungan COD dan TSS di Maron dan Trimulyo sudah melewati ambang batas baku mutu menurut Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 1988 tentang Baku Mutu Air Limbah, sedangkan untuk kandungan BOD, TSS dan TOM belum melampaui ambang batas baku mutu yang telah ditetapkan oleh Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. The organic material is set of complex organic compounds that have developed in decomposition process by decomposing organisms, both in the form of topsoil of humification as well as inorganic compounds of mineralization. Organic materials are an important source of nutrients, which are needed by aquatic organisms. This study aimed to analyze the organic material content BOD5 (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), TDS (Total Suspended Solid) and TOM (Total Organic Matter) and determine the level of pollution of organic materials based on quality standard on some estuaries of the mangrove ecosystem, in North Coast of Semarang. This study carried out in April 2015. A method used in this research is descriptive method, whereas the determination of research location used purposive sampling method and the method intake of the water sample used the sample survey method. The results showed that the content of organic material parameters during the research in all locations are BOD (3.77 to 15.13 mg/L), COD (20.33 to 140.67 mg/L), TSS (1.33 - 13, 67 mg/L), TDS (818.33 - > 2.000 mg/L) and TOM (10.73 – 50 mg/L). In general the content of COD at Maron and Trimulyo, and TDS content Mangkang Wetan, Maron and Trimulyo are already passed the quality standard according to the Decree of the Minister of State for Population and the Environment No. 2 of 1988 on Wastewater quality standard, whereas for the content of BOD, TSS and TOM has not exceeded the limit of quality standards which are established by the Decree of the Minister of State for Population and the Environment No. 51 of 2004.
Kandungan Klorofil dan Fukosantin serta Pertumbuhan Skeletonema costatum pada Pemberian Spektrum Cahaya Yang Berbeda Arifah, Rizqi Umi; Sedjati, Sri; Supriyantini, Endang; Ridlo, Ali
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.166 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.19986

Abstract

Skeletonema costatum mengandung klorofil-a, klorofil-c, dan fukosantin yang menyebabkan selnya berwarna hijau kecoklatan. Klorofil dan fukosantin memiliki berbagai manfaat, salah satunya dalam bidang kesehatan sebagai anti-bakteri, anti-oksidan, anti-inflamasi, anti-obesitas, anti-diabetes. Cahaya merupakan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kandungan pigmen pada mikroalga. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spektrum cahaya yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan, kandungan klorofil dan fukosantin S. costatum. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Maret 2018 di Laboratorium Biologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro dan pengujian laboratoris di Laboratorium BPIK Srondol, Semarang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental laboratoris. Diatom S. costatum dikultivasi dengan tiga spektrum cahaya yang berbeda yaitu putih, biru, dan merah. Pertumbuhan sel S. costatum diamati sampai 2 x 24 jam kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa kering hasil kultivasi diekstraksi menggunakan metanol. Kadar pigmen ekstrak metanol dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan identifikasi pigmen dengan uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan cahaya putih secara signifikan meningkatkan kandungan klorofi- a S. costatum dibandingkan spektrum cahaya merah, namun tidak berbeda nyata terhadap spektrum cahaya biru. Pertumbuhan, kandungan klorofil-c dan fukosantin S. costatum pada pemberian spektrum cahaya yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan nyata. Skeletonema costatum contains chlorophyll-a, chlorophyll-c, and fucoxanthin giving to its cells. Chlorophyll and fucoxanthin have various benefits, e.g. in the medicine field as anti-bacterial, anti-oxidant, anti-inflammatory, anti-obesity, and anti-diabetes. Light is one of the environmental factor that affects the growth and pigment content of microalgae. This study aims to determine the spectrum of light that influences growth, chlorophyll content and fucoxanthin of S. costatum. This research was conducted in January-March 2018 at the Biology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University and laboratory testing at the BPIK Srondol Laboratory, Semarang. The method used was a laboratory experimental method. Diatom S. costatum was cultivated with three different spectrums of light (white, blue, and red). Growth of S. costatum cells was observed up to 2x24 hours and then harvested for biomass calculations. Dry biomass was extracted using methanol. Pigment content of The S. costatum methanol extract was analyzed using UV-Vis spectrophotometer and pigments identification using Thin Layer Chromatography (TLC). The results showed that the chlorophyll content of S. costatum under white light spectrum was significantly higher from the red light spectrum, but not significantly different from blue light spectrum. Growth, chlorophyll-c and fucoxanthin content of S. costatum didn’t show significant differences under different light spectra.
Penambahan Berat, Panjang, dan Lebar dari Ukuran Benih yang Berbeda pada Budidaya Kepiting Soka di Desa Mojo Kabupaten Pemalang Muswantoro, Anggit Puji; Supriyantini, Endang; Djunaedi, Ali
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.713 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v1i1.1995

Abstract

Soka crabs is also called soft-shelled crabs. Soft shell in crab was not because of different type of crab, but it is due to the crab just molted. Events of molting is marked with the release of the old shells and formed newly shells. This molting process produces an increase in body size (Growth). The experiment was conducted in September-October 2011. The research was conducted at Soka crab aquaculture in Mojo village, Ulujami Sub-District, Pemalang District. The method used in this study was field research, by using design random complete with 4 treatment 10 times deut.. Test animals used were the mud crab (Scylla serrata), a total of 40 crabs with initial weight size of 70-110 grams. Test animals were grouped into 4 groups of of weight, which were A (of weight 70-80 grams), B (80.1 to 90 grams), C (90.1 to 100 g) and D (100.1 to 110 grams). Each group of size consisted of 10 crabs. Test containers used were plastic box with a density of 1 individual / box. The results showed that the difference in weight grouping gave results that were not significantly different (p> 0.05) for weight, length and width after molting. Differences in weight grouping also gave different FCR values that were not significantly different (p> 0,05). This was probably due to the grouping of weight used was still relatively narrow. Mangrove crab survival rate level for all groups of size showed an average value of 100% and water quality was quite good and decent for soft-shelled crabs aquaculture.
Kandungan Logam Berat Besi (Fe) Dalam Air, Sedimen Dan Kerang Hijau (Perna viridis) Di Perairan Trimulyo, Semarang Murraya, Murraya; Taufiq-Spj, Nur; Supriyantini, Endang
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.826 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v7i2.25902

Abstract

ABSTRAK : Perairan Trimulyo merupakan salah satu perairan di kota Semarang yang menjadi tempat pembuangan limbah domestik maupun limbah industri dan banyak ditemukan kerang hijau yang masih dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kandungan logam berat besi (Fe) pada air, sedimen dan kerang hijau (P.viridis) dan mengetahui tingkat pencemaran logam besi (Fe) di Perairan Trimulyo, Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 11 Januari 2016 hingga 15 Maret 2016 dengan metode studi kasus. Logam  berat  Fe  dalam  sampel  air, sedimen  dan  kerang  hijau  dianalisis  di  Balai  Besar  Teknologi  Pencegahan Pencemaran  Industri  (BTPPI)  Semarang  dengan  menggunakan  alat  AAS (Atomic Absorption  Spectrophotometry). Konsentrasi logam berat Fe di perairan Trimulyo memiliki nilai yang tidak terdeteksi di setiap stasiun yaitu <0,001 mg/L. Kandungan logam berat Fe pada sedimen berkisar antara 1,96-3,30 mg/kg dan kandungan logam berat Fe pada kerang hijau (P. viridis) berkisar antara 150,93-153,64 mg/kg.  Kandungan logam Fe di perairan belum melewati ambang batas baku mutu menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001, sedangkan sedimen belum melebihi batas batas baku mutu menurut Wisconsin Department of Natural Resources tahun 2003 dan pada kerang hijau (P. viridis) telah melebihi baku mutu menurut Badan Standarisasi Nasional (BSN) tahun 2009: Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 7387 tentang maksimal cemaran logam berat dalam pangan. ABSTRACT : Trimulyo waters is one of the waters in Semarang that becoming domestic and industrial waste sewage and many of green mussels are found and still consumed. The purpose of this study is to determine the content of iron (Fe) in water, sediment and green mussel (P. viridis) and to find out its polution level Trimulyo waters, Semarang. This study was conducted on January 11, 2016 to March 15, 2016 using case study method. Iron (Fe) found in sample of water, sediments and mussels were analyzed in Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BTPPI) Semarang using AAS method (Atomic Absorption Spectrophotometry). Concentration of iron (Fe) in Trimulyo waters has an undetected value on each stations, which is <0.001 mg/L. While in sediment varies from 1.96 to 3.30 mg/kg and 150.93 to 153.64 mg/kg in green mussel (P. viridis). Waters quality in the water column and sediment have not exceed the limit of quality standard according to Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 and the 2003 Wisconsin Department of Natural Resources respectively, while green mussel (P. viridis) has passed the quality standard by Badan Standarisasi Nasional (BSN) tahun 2009: Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 7387 about the maximum contamination amount of heavy metals in food.
Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) Pada Air, Sedimen, Dan Kerang Hijau (Perna Viridis) Di Perairan Tanjung Emas Semarang Sijabat, Emilia; Trinuraini, Ria Azizah; Supriyantini, Endang
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.852 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i4.11397

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan dan tingkat pencemaran logam berat Pb pada air, sedimen, dan kerang hijau (Perna viridis) di perairan Tanjung Emas Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 November dan 7 Desember 2013 dengan metode penelitian deskriptif.  Sampel air, sedimen dan kerang hijau dianalisis di Laboratorium menggunakan alat AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Hasil penelitian kandungan logam berat Pb di setiap titik stasiun menunjukkan pola akumulasi yang sama pada air. Kandungan logam berat Pb pada sedimen dan kerang hijau (Perna viridis) menunjukkan nilai yang bervariasi, terkait dengan sifat dari logam berat yang cenderung mengendap dan terakumulasi dalam organisme. Meskipun demikian variasi faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, pH, kecepatan arus dan jenis sedimen juga memberikan kontribusi yang cukup penting. Kandungan Logam berat Pb pada Kerang Hijau (Perna viridis) telah melampaui batas yang diperbolehkan
Pengaruh Konsentrasi Abu Gosok dan Waktu Perendaman Air Terhadap Kandungan Nutrisi Tepung Buah Mangrove Avicenia marina Permadi, Yusup Bayu; Sedjati, Sri; Supriyantini, Endang
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.627 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v1i1.885

Abstract

Nowadays, there are not much knowledge of mangrove fruit. One of mangrove species which has been used as source of food is A.marina. There are toxins such tannin and HCN in mangrove fruit. They may inhibit food process of mangrove fruit. So, they must be removed. The material for removing the toxins is ash powder. This study used factorial pattern of Randomized Complete with split plot Design with 2 treatments and 3 replication,i.e: water immersion time (1,2,3 day) and ash powder concentration (5,10,15% unity). Data was analyzed by two-way anova using SPSS. The result indicated that boiling treatment with ash powder and water immersion had a significant effect ( P<0,05) toward content of carbohydrate, lipid, protein of Avicennia marina fruit flour. Boiling treatment with 15 % ash powder and 3 days immersion had best result toward content of protein and lipid of Avicennia marina flour, while boiling treatment with 5% ash powder and 2 days immersion had best result toward content of carbohydrates of Avicennia marina flour.
IDENTIFIKASI PIGMEN KAROTENOID PADA BAKTERI SIMBION RUMPUT LAUT Kappahycus alvarezii Sahara, Fera Nur Idawati; Radjasa, Ocky Karna; Supriyantini, Endang
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.865 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v2i3.3133

Abstract

Carotenoid is one of the most important pigments that have important roles for human health. Carotenoids are believed to improve the better immune responses, anticancer, antioxidant, provitamin A and are also used in the treatment of disease that are sensitive to light. Carotenoids are yellow pigments, orange to red pigments and usually found in vegetables and fruits, and are also found in animals, humans, fungi and bacteria. The aims of study were to analyze carotenoid pigments from bacterial symbionts from seaweed Kappaphycus alvarezii and to identify bacterial symbionts that produce carotenoid pigments. Pigment analysis was performed by a UV-VIS spectrophotometer and High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Bacterial identification was performed based on biochemical tests. These results showed that from 12 bacterial symbionts isolated, there were 2 isolates that positively synthesize carotenoids pigments, ECJ K and ECJ OR bacteria. ECJ K bacterium contained of Violaxanthin and α-carotene pigments. While ECJ OR bacterium contained of Diadinoxanthin, Neoxanthin, γ-carotene, β-carotene and α-carotene pigments. Bacterial identification showed that ECJ K bacterium was Brevibacterium maris and ECJ OR bacterium was Micrococcus varians. This result showed that bacterial symbionts of seaweed Kappaphycus alvarezii contained various pigments including in carotenoid pigments.
Struktur Komunitas Fitoplankton Pada Daerah Pertambakan Di Desa Mangunharjo Kecamatan Tugu Kota Semarang Cahyanti, Susilo Dwi; Endrawati, Hadi; Supriyantini, Endang
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.286 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i4.11411

Abstract

Kerusakan vegetasi mangrove disekitar pantai di desa Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang karena adanya limbah rumah tangga dan abrasi pantai di daerah pantai utara Pulau Jawa. Kerusakan ini menyebabkan perubahan kondisi lingkungan yang diperkirakan berdampak pada struktur komunitas fitoplankton di kawasan tersebut.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan menentukan indeks struktur komunitas fitoplankton di desa Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.Sampel fitoplankton sebanyak 36 botol diambil pada bulan Oktober – November 2012. Pengambilan sampel dilaksanakan di lapangan dengan mengambil sampel air. Pengumpulan data dilaksanakan di laboratorium dengan mengidentifikasi genus fitoplankton yang ditemukan dan menghitung jumlahnya.Data yang telah diidentifikasi menunjukkan sejumlah 26 genus fitoplankton telah ditemukan. Hasil yang telah didapatkan dari semua perhitungan indeks kelimpahan bernilai 1392.096 sel/l dengan indeks keanekaragaman termasuk kategori sedang, indeks keseragaman tinggi serta tidak ada spesies yang mendominasi