Haryono Supriyo
Bagian Silvikultur, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Jl. Agro No 1., Bulak Sumur Yogyakarta

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

TROPICAL PEAT SWAMP MANAGEMENT OPTIONS: A CASE STUDY USING SYSTEM DYNAMIC IN SOUTHERN ACEH Aswandi, Aswandi; Sadono, Ronggo; Supriyo, Haryono; Hartono, Hartono
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 21 No. 3 (2015)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1791.817 KB) | DOI: 10.7226/jtfm.21.3.172

Abstract

Tropical peat forest ecosystems have multiple benefits as regulating hydrological system, carbon storage, timber and non-timber products, and protecting the biodiversity. Lack of understanding of these functions, short-term economic benefits is more preferable despite reducing its ecological benefits. This study proposed a system dynamics model of tropical peat forest ecosystem in determining its optimum management for extractive utilizations (timber and non-timber forest products), environmental services, and biodiversity. A dynamics model was used to describe changes in peatland and forest cover, biomass accumulation and carbon storage, and total economic value of tropical peat forest ecosystem in Trumon and Singkil, Southern Aceh. The projection showed that peat forest ecosystem benefits would decline in the long term if degradations continue at the same rate over last decade. Efforts to change the primary peat forest to plantation would reduce the total economic value of ecosystem and biodiversity values at level -19.63% and -26.28% from current conditions. Carbon emissions were increased at 117.32 tons CO2 eq ha-1 year-1, higher than average of carbon losses from peatland oxidation. Preserving 50% of forest vegetation on moderate depth and protection very deep peatlands would reduce emission -6.96% to -35.06%  and increase forest carbon storage at significant rate +15.06% to +63.32%, respectively. These mitigation schemes would improve the biodiversity and hydrological function. Forest rehabilitation with agroforestry practices will enhance carbon uptake, especially on degraded lands.  
PENGARUH BEBERAPA KARAKTERISTIK KIMIA DAN FISIKA TANAH PADA PERTUMBUHAN 30 FAMILI UJI KETURUNAN JATI (TECTONA GRANDIS) UMUR 10 TAHUN Prehaten, Daryono; Indrioko, Sapto; Hardiwinoto, Suryo; Na'iem, Mohammad; Supriyo, Haryono
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.055 KB) | DOI: 10.22146/jik.34109

Abstract

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang sangat memengaruhi pertumbuhan adalah sifat kimia dan fisika tanah. Beberapa famili jati yang ditanam pada lokasi yang berbeda diduga mempunyai respon pertumbuhan yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan (tinggi dan diameter) tanaman jati dari 30 famili yang ditanam pada dua lokasi yang berbeda, secara khusus untuk mengetahui pengaruh karakteristik sifat kimia dan fisika tanah pada pertumbuhan jati di dua lokasi tersebut. Metode penelitian yang dilakukan untuk mengukur pertumbuhan 30 famili jati yaitu tinggi total tanaman dan diameter setinggi dada. Sampel tanah diambil dengan terlebih dahulu membuat lubang profil tanah berukuran 1 m × 1 m dengan kedalaman 1 meter kemudian sampel diambil dari kedalaman 0-10 cm, 10-20 cm, 20-40 cm, dan 40-60 cm. Sifat kimia yang diamati adalah pH H2O, C Organik, N total, P, K, Ca, dan Mg tersedia serta Kapasitas Pertukaran Kation (KPK), sedangkan sifat fisik yang diukur adalah tekstur. Analisis statistik dilakukan dengan melakukan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan parameter diameter tanaman, semua (30) famili tanaman jati menunjukkan perbedaan yang nyata di antara dua lokasi, sedangkan parameter tinggi hanya sebagian kecil famili yang berbeda nyata. Karakter kimia dan fisik tanah juga menunjukkan perbedaan nyata di antara dua lokasi. Parameter kimia tanah yaitu pH H2O, K, Ca, dan Mg tersedia, berbeda nyata antara 2 lokasi sedangkan kandungan C Organik, P tersedia dan KPK tidak berbeda nyata. Sementara dari sifat fisiknya, kandungan lempung dan debu pada dua lokasi berbeda nyata, sedangkan kandungan pasirnya tidak berbeda secara nyata. Perbedaan-perbedaan tersebut menunjukkan beberapa sifat tanah memang memengaruhi respon tanaman jati dalam hal pertumbuhan baik tinggi maupun diameternya. The Effect of Soil Chemical and Physical Characteristics on Growth of 30 Families of Teak (Tectona grandis) in a 10-year-old Progeny TestAbstractSome environmental factors that greatly affect plant growth are soil?s physical and chemical properties. Some teak families planted at different locations alleged to have different growth responses. This study aimed to investigate the growth response of teak (height and diameter) from 30 families, and to determine the effect of soil chemical and physical characteristics on teak growth in two different locations. Teaks were measured for total height and diameter at breast height. Soil pits (size: 1 m x 1 m and 1 m in depth) were dug and samples were taken from 0-10 cm, 10-20 cm, 20-40 cm and 40-60 cm in depth. Soil characteristics measurement were conducted on pH (H2O), organic carbon, total Nitrogen, available P, K, Ca, and Mg, also the Cation Exchange Capacity (CEC). Further, soil physical properties been measured was soil texture. Statistical analysis was performed by t- test. The results showed that teak?s diameter of all 30 families, showed significant differences between the two locations, while only a small proportion of height parameters significantly differed among families. Chemical and physical characters of the soil also showed differences between the two locations. Soil pH (H2O), available K, Ca, and Mg, were significantly differed between the two locations while the content of organic C, available P and the CEC were not significantly differed. For the soil physical properties, content of clay and silt in two location significantly differed whereas the sand content did not differ significantly. These differences indicate that some properties of the soil were affecting the growth response of teak famili in terms of both height and diameter.
PRODUKSI BIOMASA DAN AKUMULASI HARA PADA LAHAN HUTAN TANAMAN EUCALYPTUS PELLITA F.Muell UMUR EMPAT TAHUN, DI RIAU Supangat, Agung B.; Supriyo, Haryono; Poedjirahajoe, Erny; Sudira, Putu
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 19, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya produksi biomasa dan akumulasi hara di lahan hutan tanaman Eucalyptus pellita umur 4 tahun, di Provinsi Riau. Pengukuran biomasa dan akumulasi hara dilakukan baik pada komponen biomasa hidup seperti pohon dan tumbuhan bawah dan biomasa mati yaitu serasah. Hasil penelitian memperlihatkan tanaman E. pellita umur 4 tahun memiliki rata-rata tinggi total dan diameter batang masing-masing 15,5 m dan 13,6 em. Total biomasa pohon E. pellita umur 4 tahun sebesar 284,4 tonliha, tumbuhan bawah 4,43 tonlha dan serasah 7,08 toniha, sedangkan produktivitas serasah sebesar 7,38 tonlhalth. Total akumulasi hara makro dalam biomasa pohon sebesar 206,6 kg/ha (N); 54,6 kg/ha (P); 295,4 kg/ha (K); 54,7 kg/ha (Ca); 22,1 kg/ha (Mg); dan 38,8 kg/ha (Na). Urutan tingkat kandungan hara (dalam %) dan akumulasi hara (dalam kg/ha) dalam biomasa mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah K>N>Ca>P>Na>Mg.
FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEKRITISAN DAN PENGEMBANGAN KRITERIA INDIKATOR KEKRITISAN EKOSISTEM GAMBUT TROPIKA DI TRUMON DAN SINGKIL PROVINSI ACEH (Determinant Factors of Criticality and Development Criteria Indicators for Critical Tropical Peat Ecosystem in Tr Aswandi, Aswandi; Sadono, Ronggo; Supriyo, Haryono; Hartono, Hartono
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 22, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

ABSTRAKHutan rawa gambut merupakan salah satu ekosistem spesifik dan kompleks. Terbatasnya pemahaman terhadap karakteristik biofisik dan sifat kritisnya menjadi akar masalah degradasi ekosistem gambut di Indonesia. Generalisasi penerapan kriteria lahan kritis menyebabkan penilaian menjadi tidak tepat, sehingga program rehabilitasi menjadi tidak efektif. Tujuan penelitian adalah menentukan faktor-faktor biofisik yang mempengaruhi tingkat kekritisan ekosistem gambut, dan mengembangkan kriteria dan klasifikasi tingkat kekritisan ekosistem gambut. Pengumpulan data dilaksanakan pada berbagai tipe penutupan hutan dan tingkat keterbukaan lahan gambut di Trumon dan Singkil, Provinsi Aceh. Analisis data meliputi analisis korelasi bivariat, analisis gerombol, dan analisis diskriminan. Karakteristik biofisik yang diukur adalah dinamika kedalaman muka air tanah, penurunan permukaan tanah, tingkat dekomposisi, unsur hara, kehilangan karbon, dan penutupan lahan. Hasil penelitian menunjukkan perubahan penutupan lahan dan pembangunan drainase mempengaruhi tingkat kekritisan ekosistem gambut. Perubahan tingkat dekomposisi gambut (nisbah C/N), perubahan kemasaman (pH) dan dinamika kedalaman muka air tanah merupakan penciri penting tingkat kekritisan ekosistem gambut. Ketiga faktor penciri ini diharapkan menjadi masukan dalam penyempurnaan kriteria tingkat kekritisan lahan pada Permenhut No. P.32/Menhut-II/2009 terutama pada ekosistem gambut.ABSTRACTPeat swamp forest is one specific and complex ecosystem. The limited understanding of the biophysical characteristics and critical properties are some root of problems peat ecosystem degradation in Indonesia. Generalizing in application of critical land criterions caused incorrect assessment, therefore the rehabilitation and management programs became ineffective. The objectives of the study was to determine the biophysical factors that influence the degree of criticality of peat ecosystem, and to develop criterion and classification of the criticality degree on peat ecosystem. Data collection was conducted on variety of forest cover types in Trumon and Singkil, Aceh Province. Data analysis included bivariate correlation analysis, analysis of clusters, and discriminant analysis. Biophysical characteristics were measured including the dynamics of the depth of the water table, rate of subsidence, level of decomposition, nutrient content, loss of carbon, and land/forest cover. Results showed land use change and drainage affects the critical level of peatland ecosystems. The change on level of peat decomposition (C/N ratio), soil acidity (pH) and groundwater dynamics were the identifier of critical peatland ecosystems. In addition to the criteria in Regulation No. P.32 / Menhut-II/2009, the identifier factors were expected to be considered in the refinement of the criteria of the critical level of peat ecosystem.
STATUS KESUBURAN TANAH DI BAWAH TEGAKAN EUCALYPTUS PELLITA F.Muell: STUDI KASUS DI HPHTI PT. ARARA ABADI, RIAU Supangat, Agung B.; Supriyo, Haryono; Sudira, Putu; Poedjirahajoe, Erny
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Informasi status kesuburan tanah di hutan tanaman sangat diperlukan sebagai dasar penyusunan rencana teknik manipulasi lingkungan pertumbuhan seperti pemupukan dan tindakan silvikultur lainnya.  Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi status kesuburan tanah di bawah tegakan Eucalyptus pellita pada rotasi ketiga, melalui analisis sifat fisik, kimia dan biologi tanah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah Typic Kandiudults pada lokasi HTI E. pellita rotasi ketiga di Perawang memiliki tingkat kesuburan yang rendah baik secara fisik, kimia maupun biologi, dan lebih rendah dibandingkan pada tanah di hutan alam. Kenaikan umur tanaman E. pellita membentuk ekosistem hutan yang semakin mantap bagi perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi secara umum, yang ditunjukkan perbaikan sebagian besar dari  parameter yang diamati.  Berdasarkan hasil identifikasi status kesuburan tanah di atas, dalam pengelolaan tanah di lahan HTI, diperlukan perlakuan upaya manipulasi lingkungan pertumbuhan seperti pemupukan dan weeding secara tepat melalui uji coba dan penelitian yang lebih teknis baik dalam skala laboratorium maupun lapangan.  Untuk itu, disarankan adanya penelitian lanjutan untuk mengetahui tingkat kerentanan tanah di lahan HTI E. pellita baik secara hidrologis maupun keharaan pada masing-masing umur tanaman, sehingga upaya pengelolaan lahan tanaman menjadi lebih baik.
IMPACT OF TROPICAL RAIN FOREST CONVERSION ON THE DIVERSITY AND ABUNDANCE OF TERMITES IN JAMBI PROVINCE Hardiwinoto, Suryo; Rahayu, Sri P; Widyatno, Widyatno; Supriyo, Haryono; Susilo, FX
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 17, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

The degradation of tropical rain forest might exert impacts on biodiversity loss and affect the function and stability of the ecosystems. The objective of this study was to clarify the impacts of tropical rain forests conversion into other land-uses on the diversity and abundance of termites in Jambi, Sumatera. Six land use types used in this study were primary forest, secondary forest, rubber plantation, oil-palm plantation, cassava cultivation and Imperata grassland. The result showed that a total of 30 termite species were found in the six land use types, with highest species richness and abundance in the forests. The species richness and the relative abundance of termites decreased significantly when the tropical rain forests were converted to rubber plantation and oil-palm plantation. The loss of species richness was much greater when the forests were changed to cassava cultivation and Imperata grassland, while their abundance greatly decreased when the forests were degraded to Imperata grassland. Termite species which had high relative abundances in primary and secondary forests were Dicuspiditermes nemorosus, Schedorhinotermes medioobscurus, Nasutitermes longinasus and Procapritermes setiger.
PERANAN BAHAN ORGANIK BERNISBAH C/N RENDAH DAN CACING TANAH UNTUK MENDEKOMPOSISI LIMBAH KUI.IT KAYU Gmelina arborea Hardiwinoto, Suryo; Rahayu, Nandang; Agus, Cahyono DK; Nurjanto, Handojo H.; Widiyatno, Widiyatno; Supriyo, Haryono
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 12, No 3 (2005)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Limbah kulit kayu berpotensi dapat menyebabkan dampak negatip terhadap lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Sebagai bahan organik, limbah kulit kayu sebetulnya dapat dijadikan sbagai bahan baku kompos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan penambahan bahan organik ber-nisbah C/N rendah dan cacing tanah dalam menurunkan nisbah C/N dan meningkatkan kandungan unsur hara makro dari kompos limbah kulit kayu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap yang disusun secara faktorial, terdiri dari 2 faktor dengan 5 ulangan. Faktor pertama adalah penambahan bahan organic ber-nisbah C/N rendah (daun Glyricideu maculuta and daun Gmelina arborea), dan taktor kedua adalah jenis cacing tanah, yaitu Lumbricus rubellus (Cl) dan Eisenia foetida (C2). Parameter yang digunakan adalah kandungan karbon (C), dan beberapa unsur hara makro, yaitu: nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca) and magnesium (Mg) dari kompos limbah kulit kayu. Penambahan bahan organik ber-nisbah C/N rendah dan cacing tanah merupakan cara penanganan limbah kulit kayu yang ramah lingkungan. Penambahan bahan organik ber-nisbah C/N rendah secara nyata dapat menurunkan nisbah C/N dan meningkatkan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca dan Mg dari kompos limbah kulit kayu. Nisbah C/N kompos limbah kulit kayu dapat turun semakin rendah dan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca and Mg dapat naik semakin tinggi dengan adanya penambahan bahan organik ber-nisbah C/N yang semakin banyak. Cacing tanah menunjukkan peran yang sangat nyata dalam menurunkan nisbah CIN dan menaikkan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca dan Mg dari kompos limbah kulit kayu. Rerata nisbah C/N dari kompos limbah kulit kayu (C0) sebesar 56,17, dan dengan adanya perlakuan cacing tanah rerata nisbah C/N dapat turun secara sangat nyara menjadi 26,66 (Cl) dan 22,94 (C2). Rerata kandungan N dari kompos limbah kulit kayu (C0) hanya sebesar 0,89 %, dan dengan adanya aktivitas cacing tanah, rerata kandungan N dapat naik secara nyata menjadi 1,34 % (Cl) dan 1,41 % (C2). Penurunan nisbah C/N dan kenaikan kandungan unsur hara makro N, P, K, Ca dan Mg dari kompos limbah kulit kayu dengan adanya aktivitas cacing tanah menjadi semakin besar apabila dikombinasikan dengan perlakuan penambahan bahan organik ber-nisbah c/N rendah.
SOIL PROPERTIES OF EIGHT FOREST STANDS RESULTED FROM REHABILITATION OF DEGRADED LAND ON THE TROPICAL AREA FOR ALMOST A HALF CENTURY Supriyo, Haryono; Prehaten, Daryono; Figyantika, Arom
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 20, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Physical, chemical and biological properties of soil are influenced by vegetation types which grow above it. Different tree species of stands will produce difference litter quantity, litter quality and also plants’ root system. Therefore quantifying physical and chemical soil properties in several stands after rehabilitation of degraded land will increase the understanding of forest soil characteristics. The research was conducted in 8 forest stands in Wanagama I, Gunungkidul, Yogyakarta. Collection of soil samples was done at the depth of 0-10, 10-30 and 30-50 cm by making soil profile. The result showed that the textural classes were from sandy clay loam to clay. The content of clay increased with increasing soil depth. Bulk density did not differ much among the profiles and soil depth, ranging from 0.90 to 1.28 g/cm3, and so were particle density ranged from 2.19 to 2.55 g/cm3 and pore space ranged from 47.89 to 58.08 %. pH H2O ranging from 5.81 to 7.49 (slightly acid to neutral), meanwhile  pH KCl ranging from 4.44 to 6.37. C-organic content varied widely among the vegetations and soil depth ranged between 0.11 and 5.17 %. Available P and total P varied widely from 1 to 104 ppm and from 20 to 390 ppm, respectively. CEC were not much different among the profiles and soil depths, ranging from 19.80 to 38.06 cmol (+)/kg and base saturation in all samples were very high i.e. > 100 %.
DAMPAK PENERAPAN SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM JALUR TERHADAP KELESTARIAN KESUBURAN TANAH DALAM MENUNJANG KELESTARIAN PENGELOLAAN HUTAN ALAM Widiyatno, Widiyatno; Soekotjo, Soekotjo; Suryatmojo, Hatma; Supriyo, Haryono; Purnomo, Susilo; Jatmoko, Jatmoko
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Tebang pilih merupakan salah satu sistem silvikultur yang  dikembangkan untuk mengelola hutan hujan tropis di Indonesia. Sistem ini didasarkan pada limit diameter, jumlah tegakan tinggal untuk rotasi berikutnya dan keberhasilan permudaan alam maupaun penanaman pengkayaan. Sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dengan teknik silvikultur intensif (SILIN) diintrodusir pada tahun 2005 untuk merehabilitasi dan meningkatkan produktivitas Logged Over Area (LOA) hujan hujan tropis dengan pola penanaman pengkayaan jalur. Pelaksanaan TPTJ dimungkinkan akan mempengaruhi stabilitas tanah karena tanah pada hutan hujan tropis sangat sensitif terhadap perubahan akibat pelaksanaan TPTJ. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginvestigasi status kesuburan tanah LOA (1 dan 5 tahun setelah penanaman) pada hutan hujan tropis yang dikelola dengan sistem TPTJ dengan teknik SILIN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  tanah  pada lokasi penelitian bersifat sangat asam (pH H2O: 3.97-4.50 dan pH KCl: 3,57-4,07). Nilai pH tersebut  mengindikasikan bahwa tingkat konsentrasi kandungan nutsisi Ca, Mg  dan K dalam kategori rendah  sebab tanah tersebut masuk dalam ordo Ultisols. Kandungan nutrisi pada areal 1 dan 5 tahun setelah penanaman tidak berbeda nyata pada uji T dengan taraf kepercayaan 5%. Pada umumnya, kandungan nutrisi orda Horizon A mempunyai nilai C-organik yang lebih tinggi dibandingkan lapisan di bawahnya karena keberadaan akumulasi dari bahan organik dan nilai ini mempunyai korelasi yang positif terhadap Kapasitas Tukar Kation (R2= 0.946) sehingga keberadaannya akan menyediakan unsur hara dalam mendukung pertumbuhan tanaman dipterocarps pada sistem penanaman jalur.
PERHITUNGAN NILAI NISBAH HANTARAN SEDIMEN DENGAN MENGGUNAKANKURVA SEDIMEN DAN MODEL EROSI TANAH (Calculation of Sediment Delivery Ratio Using Sediment Rating Curve and Soil Erosion Model) Wahyuningrum, Nining; Sudira, Putu; Supriyo, Haryono; Sabarnurdin, Sambas
Jurnal Agritech Vol 34, No 02 (2014)
Publisher : Jurnal Agritech

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.823 KB)

Abstract

Prolonged soil erosion and sedimentation have negative effect on land quality showing by decreasing land productivity, in addition, sedimentation process may cause decreasing function of hydrologic infrastructures. In watershed scale it is important to monitor both important processes. The relationship between the amount of onsite erosion and sedimentation at the watershed outlet is formulated in the Sediment Delivery Ratio (SDR). SDR is the ratio between the erosion that occurs in the entire basin with the amount of sediment in the outlet of a watershed. This study aimed tocalculate SDR value of two watersheds which have different topographic condition and land cover types composition. The study was conducted in two sub-watersheds namely Tapan and Ngunut I. Erosion calculation used USLE formulae while prediction of water discharge and sediment discharge utilized rating curve and sediment rating curve. The study shows that (1) SDR of Tapan is higher than SDR of Ngunut I, it indicates that there are others source of sediment beside sheet erosion which is transported to the outlet of watershed, (2) The value of SDR   fluctuate according to fluctuations in monthly rainfall and runoff, (3) SDR is less sensitive to land cover types rather than of topographic factor (slope, drainage density an watershed area).Keywords: Erosion, sedimentation, land cover, rating curve, sediment rating curve, SDR ABSTRAKProses erosi dan sedimentasi yang berkepanjangan dapat memberi pengaruh negatif terhadap kualitas lahan, selain itu proses sedimentasi juga dapat mengakibatkan menurunnya fungsi bangunan hindrologis. Dalam skala Daerah Aliran Sungai (DAS) kedua proses ini penting untuk dimonitor. Hubungan antara besarnya erosi ditempat dan sedimentasipada luaran DAS dirumuskan dalam bentuk nisbah hantaran sedimen (Sediment Delivery Ratio, SDR). SDR merupakan rasio antara erosi yang terjadi pada seluruh DAS dengan jumlah sedimen pada daerah outlet. Studi ini bertujuan menghitung besarnya nilai SDR pada dua DAS dengan kondisi topografi dan jenis penutupan lahan yang berbeda. Penelitian dilakukan di dua sub DAS Ngunut I dan Tapan. Perhitungan erosi dilakukan dengan metode USLE sedangkan perhitungan sedimen dengan menggunakan rating curve dan sediment rating curve. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) Diperoleh nilai SDR Sub DAS Tapan lebih tinggi (2,37) daripada nilai SDR Sub DAS Ngunut I (0,047). Hal ini mengindikasikan adanya sumber materi sedimen lain selain dari erosi lembar yang terbawa ke luaran DAS, (2) Nilai SDR berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi bulanan hujan dan limpasan, (3) Jenis penutupan lahan kurang berpengaruh terhadap SDR dibandingkan dengan topografi (kemiringan lahan, kerapatan aliran dan luas DAS).Kata kunci: Erosi, sedimentasi, penutupan lahan, rating curve, sediment rating curve, SDR