Nyoman Adi Suratma
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

PENGARUH LARUTAN BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM) TERHADAP DAYA TETAS TELUR CAPLAK RHIPICEPHALUS SANGINEUS (THE EFFECT OF GARLIC SOLUTION (ALLIUM SATIVUM) ON THE HATCHABILITY OF TICK (RHIPICEPHALUS SANGUINEUS) EGG) Suratma, Nyoman Adi
Jurnal Veteriner Vol 2 No 4 (2001)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3032.949 KB)

Abstract

Abstak dapat dibaca pada Full Text Abstract can be read at Full Text
PREVALENSI INFEKSI CACING TRICHURIS SPP. PADA SAPI BALI BERDASARKAN LETAK GEOGRAFIS PROVINSI BALI (THE PREVALENCE OF TRICHURISSPP IN BALI CATTLE ACCORDING TO THE LAYOUT GEOGRAPHIC OF BALI PROVINCE) Pramasudha, Anak Agung Raka; Suratma, Nyoman Adi; Oka, Ida Bagus Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 7 No. 2 Agustus 2015
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.228 KB)

Abstract

The purposes of this study were to determine the prevalence of Trichuris spp. on bali cattle(Bos sondaicus) and the relationship between the prevalence with the geographical location in Bali. The samples that used in this study were 200 fecal samples from four different geographicallocation in Bali.  The study was a cross-sectional study to determine the prevalence of Trichurisspp. on bali cattle (Bos sondaicus) with geographic location as a risk factor.  The examination was done using floating in saturated salt solution method. Identification of Trichuris spp. based onmorphology eggs was done with 40x magnificence under a binocular microscope.  While therelationship between geographic location and the prevalence of Trichuris spp. was analyzed byusing Chi square test.  The results showed that the prevalence of Trichuris spp. on bali cattle was1,5%, and there was no relation between geographic location and the prevalence of Trichuris spp.
PREVALENSI INFEKSI CACING TRICHURIS SUIS PADA BABI MUDA DI KOTA DENPASAR Suratma, Nyoman Adi
Buletin Veteriner Udayana Vol. 1 No. 2 Agustus 2009
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.538 KB)

Abstract

Three hundred faecal samples of suckling piglets from 4 districts in Denpasar Bali wereexamined to identify Trichuris infection by using flotation Method and then were analizedwith Descriptive analysis and Chi square analysis (Steel and Torrie, 1991).The prevalence of Trichuris suis infection in suckling piglets in Denpasar was 32,67 %(6166,87 ± 9827.5 EPG). The prevalence of Trichuris infection was significantly higher inpigs were kept on soil floor (52,70 %) than pigs were kept on concrete floor (26,11 %).The prsent study indicated that the infection ofTrichuris suis were prevalent in pig werekept on soil floor type.
INFEKSI CACING NEMATODA PADA USUS HALUS BABI DI LEMBAH BALIEM DAN PEGUNUNGAN ARFAK PAPUA Guna, I Nyoman Wijaya; Suratma, Nyoman Adi; Damriyasa, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 6 No. 2 Agustus 2014
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.73 KB)

Abstract

The purpose of this study was to identify the nematode of the small intestine of pigs in Arfak Mountains and Baliem Valley in Papua, and determine the prevalence of the nematode infection. Small intestine content of 20 pigs originated from Arfak Mountains and 10 pigs from Baliem Valley were examined to identify the nematode species. Four species of nematodes were found in small intestine of pigs namely, Strongyloides ransomi, Ascaris suum, Macracanthorhyncus hirudinaceus, and Globocephalus urosubulatus. The result of the study showed that the prevalence of nematode infections in small intestine  were highly, in which the Baliem Valley had the prevalence of 90%, and 40% in Arfak Mountains.
PARASIT SALURAN PENCERNAAN SAPI BALI YANG DIPELIHARA DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SUWUNG DENPASAR Dwinata, Made; Suratma, Nyoman Adi; Oka, Ida Bagus Made; Agustina, Kadek Karang
Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 2 Agustus 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.657 KB) | DOI: 10.24843/bulvet.2018.v10.i02.p09

Abstract

Penyakit infeksi parasit pada saluran pencernaan sapi dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi karena parasit dan ternak saling berkompetisi memperebutkan zat makanan, merusak organ, menurunkan produktivitas dan menyebabkan kematian pada ternak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi dan mengidentifikasi parasit saluran pencernaan pada sapi bali yang dipelihara di Tempat Pembuangan akhir (TPA) Suwung, Denpasar. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 100 feses sapi yang diperiksa menggunakan metode sedimentasi dan pengapungan. Hasil penelitian didapatkan prevalensi infeksi parasit saluran pencernaan pada sapi bali yang dipelihara di TPA Suwung Denpasar sebesar 65 %. Jenis parasit yang menginfeksi adalah type strongyl 50 %, Trichuris sp. 11 %, Strongyloides papilosus 4 %, Toxocara vitolorum 3 %,  Fasciola gigantika 5 %, Paramphistomum sp.  11 % dan Eimeria sp. 7 %.
PREVALENSI INFEKSI CACING PADA IKAN PISANG-PISANG (PTEROCAESIO DIAGRAMMA) DAN IKAN SULIR KUNING (CAESIO CUNING) YANG DIPASARKAN DI PASAR IKAN KEDONGANAN, BADUNG Pradipta, I Putu Hendra; Suratma, Nyoman Adi; Oka, Ida Bagus Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 6 No.1 Pebruari 2014
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.301 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi, intensitas infeksi serta distribusi cacing pada berbagai organ, selain itu dapat juga  melihat hubungan antara jenis ikan dengan prevalensi infeksi cacing pada ikan Pisang - pisang (Pterocaesio diagramma) dan ikan Sulir Kuning (Caesio cuning)  yang dipasarkan di Pasar Ikan Kedonganan, Badung. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis mengikuti metode Fernando et al. & Kabata, kemudian data dianalisa secara deskriptif dan menggunakan uji Chi-Square.  Prevalensi dan intensitas dari masing-masing jenis cacing pada ikan Pisang ? pisang (Pterocaesio diagramma) yaitu digenea (45,71%) dengan rata-rata 4,81±5,9, cestoda (34,29%) dengan rata-rata 12,5±18,1, Hysterothylacium sp. (2,86%) dan Raphidascaris sp. (2,86%) ditemukan berjumlah 1 ekor, Terranova sp. (8,57%) dengan intensitas 1 ekor setiap ikan,  acanthocephala (42,85%) dengan rata-rata 2,13±1,35, sedangkan ada 2 ekor cacing (5,71%) tidak bisa teridentifikasi. Pada ikan Sulir Kuning (Caesio cuning) dari 35 ekor ikan yang diteliti , prevalensi digenea (82, 86%) dengan rata-rata 5,62±4,6, Hysterothylacium sp. (5,71%) dengan rata-rata jumlah cacing 1 ekor dan Cucculanus sp (5,71%) dengan rata-rata 1,5. Lokasi distribusi cacing yang menginfeksi ikan Pisang - pisang (Pterocaesio diagramma) dan ikan Sulir Kuning (Caesio cuning) ditemukan pada beberapa organ antara lain operkulum, insang, rongga insang, lambung, usus, hati, sekum, gonad dan rongga tubuh. Setelah dilakukan analisis statistik menggunakan uji Chi-Square ternyata prevalensi infeksi tidak berhubungan nyata (P>0,05) dengan jenis ikan.
PERBEDAAN HERITABILITAS INFEKSI HETERAKIS GALLINARUM PADA AYAM LOKAL DAN RAS LOHMAN Prayoga, I Made Angga; Suratma, Nyoman Adi; Damriyasa, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 6 No. 2 Agustus 2014
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.118 KB)

Abstract

The study was couducted to determine the difference of heritability of Heterakis gallinarum in local and Lohman chicken. Sixteen local chicken and 16 Lohman chicken were inoculated with infected egg of Heterakis gallinarum for 250 egg in ech chicken. All chiken were necropsed 3 months after inoculated. The heritabilty of the worm was evaluated by determinan the number of infected chicken and number of worms. There were found 10 local chicken infected by Heterakis gallinarum and 2 local chicken infected by the worm. The result of the study indicated that the heratibility of Heterakis gallinarum is  higher in local chicken than Lohman chicken.
HERITABILITAS CACING HETERAKIS GALLINARUM ASAL ASIA DAN EROPA PADA AYAM LOKAL Sunita, I Nyoman; Suratma, Nyoman Adi; Damriyasa, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 6 No. 2 Agustus 2014
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui heritabilitas cacing Heterakis gallinarum asal Asia dan Eropa pada ayam lokal yang ditinjau dari tingkat infeksi, jumlah dan ukuran cacing. Sebanyak 32 ekor ayam lokal digunakan dalam penelitian ini, 16 ekor ayam lokal diinokulasi dengan telur cacing H. Gallinarum asal Asia dan 16 ekor diinokulasi dengan telur cacing H. Gallinarum asal Eropa dengan dosis masing masing 250 telur infektif dalam 0,2 ml. Nekropsi dilakukan setelah ayam berumur 3 bulan untuk mengevaluasi heritabilitas cacing tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 16 ekor ayam lokal yang diinfeksi dengan telur infektif Heterakis gallinarum asal Asia, ditemukan 10 ekor (62,5 %) positif cacing Heterakis gallinarum. Sedangkan dari 16 ekor ayam lokal yang diinfeksi dengan telur infektif cacing Heterakis gallinarum asal Eropa ditemukan 15 ekor (93,8 %) positif Heterakis gallinarum. Rata- rata jumlah cacing Heterakis gallinarum asal Asia yang ditemukan pada setiap ayam lokal adalah 9,75 ± 12,96 ekor, sedangkan asal Eropa rata-rata jumlah cacing pada ayam lokal adalah 22,43 ± 20,45 ekor. Perbedaan tingkat infeksi dan intensitas infeksi antara ayam lokal yang diinfeksi dengan H. Galinarum asal Asia dan Eropa memberikan indikasi adanya perbedaan heritabilitas.
PREVALENSI INFEKSI ENTAMOEBA SPP PADA TERNAK BABI DI PEGUNUNGAN ARFAK DAN LEMBAH BALIEM PROVINSI PAPUA Prasanjaya, Putu Nara Kusuma; Suratma, Nyoman Adi; Damriyasa, I Made
Buletin Veteriner Udayana Vol. 6 No. 2 Agustus 2014
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.685 KB)

Abstract

Eighty percent of selected pig farm?s in two region?s in Papua Wet infected by Entamoeba spp, and also 32,4% from 102 pig?s infected by its parasite. The examined use SAF (Sodium Acetic Formaldehyde), to determine the prevalence of Entamoeba spp. The result of the study indicated of pig?s in Papua were infected by Entamoeba spp indicated that the prevalence was significatly higher in Baliem valley than Arfak Mountain.
PREVALENSI PARASIT CACING SALURAN PENCERNAAN PADA MONYET EKOR PANJANG (MACACA FASCICULARIS) DI PULAU NUSA PENIDA, KLUNGKUNG, BALI Murdayasa, I Wayan Gde; Wandia, I Nengah; Suratma, Nyoman Adi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (6) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.672 KB)

Abstract

Penyakit parasitik merupakan penyakit infeksi yang umum terjadi pada satwa primata, baik ektoparasit maupun endoparasit yang dapat mengancam menurunnya populasi primata di alam bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang prevalensi parasit cacing pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali. Sebanyak 50 sampel feses dikoleksi dari Pura Puncak Mundidan Pura Goa Giri Putri masing-masing sebanyak 15 sampel, 10 sampel di Pura Puser Sahab, dan 10 sampel di Pura Paluang secara acak dan diawetkan dengan menggunakan 2% Kalium Bikromat (K2Cr2O7). Sampel feses selanjutnya diperiksa di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, dengan menerapkan metode apung untuk mengetahui keberadaan telur-telur parasit cacing. Data yang diperoleh ditabulasikan dan selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ditemukan prevalensi parasit cacing monyet ekor panjang di Pulau Nusa Penida sebesar 52% dengan prevalensi parasit Strongyloides sp. sebesar 48% dan Ancylostoma sp. sebesar 38%. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa prevalensi parasit cacing pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Nusa Penida, Bali tergolong tinggi.