agung Suryanto
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 29 Documents
Articles

Found 29 Documents
Search

KELIMPAHAN LARVA UDANG DI SEKITAR PERAIRAN PT. KAYU LAPIS INDONESIA, KALIWUNGU, KENDAL Kanwilyanti, Soty; Supriharyono, -; Suryanto, Agung
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuangan limbah dari pabrik atau industri, pertanian, maupun limbah domestik dari suatu pemukiman penduduk ke dalam badan air suatu perairan dapat menyebabkan terjadinya degradasi kualitas air, dimana terjadi perubahan parameter kualitas air yang dikarenakan adanya pencemaran yang dapat mempengaruhi sifat kimia, fisika, dan biologi perairan yang memiliki potensi mencemari lingkungan perairan dan yang pertama kali merasakan dampak tersebut adalah organisme-organisme akuatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi parameter fisika dan kimia air yang berpengaruh terhadap kelimpahan larva udang dan mengetahui jenis-jenis dominan larva udang di sekitar perairan PT. Kayu Lapis Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan (Mei -Juni  2013). Pengambilan sampel dilakukan dua minggu sekali pada saat pasang.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sistematik random sampling. Pengambilan sampel air dilakukan di empat stasiun, stasiun I merupakan stasiun yang mewakili daerah yang dekat dengan tempat pembuangan limbah ke laut. stasiun II merupakan stasiun yang mewakili daerah lalu lalang kapal, dan stasiun III merupakan stasiun yang mewakili daerah log pond (penyimpanan kayu), dan stasiun IV merupakan stasiun yang mewakili daerah yang dekat dengan muara. Pengambilan sampel larva udang dilakukan pada saat air laut pasang dengan alat yang dibuat seperti bongo net. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan di sekitar PT. Kayu Lapis Indonesia masih termasuk dalam klasifikasi sedang, hal ini dapat dilihat pada hasil pengukuran kualitas air seperti salinitas, suhu, kecerahan, kedalaman, DO, BOD, COD, Nitrit, Amonia, Fenol dan pH yang masih dibawah Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Adapun jenis-jenis larva udang yang di dapat adalah Acetes japonicus, Nematocelis gracilis, Tenagomysis orientalis, Thysanopoda cornuta, Nematocelis atlantica, Neomysis intermedia, Anisomysis ijimai, Neomysis spinosa dan yang mendominasi adalah Acetes japonicus, hal ini dikarenakan faktor lingkungan yang mendukung untuk pertumbuhan larva jenis Acetes japonicus dan mampu bertahan hidup di daerah tropis dan pada perairan dangkal.
ANALISA STATUS PENCEMARAN DENGAN INDEKS SAPROBITAS DI SUNGAI KLAMPISAN KAWASAN INDUSTRI CANDI, SEMARANG Ersa, Stela Monic Maya; Suryanto, Agung; Suryanti, -
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Klampisan merupakan sungai yang mendapat aliran limbah dari PT. Marimas dan industri lain serta aliran dari rumah tangga dengan pencemaran cair yang berpengaruh terhadap perubahan warna air menjadi coklat secara kasat mata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan kualitas air dengan parameter fisika dan kimia yang meliputi : suhu, kedalaman, kecerahan, oksigen terlarut, pH, BOD dan COD, mengetahui kelimpahan plankton, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominasi dan mengetahui status pencemaran berdasarkan Saprobitas Indeks (SI) dan Tropik Saprobik Indeks (TSI) di Sungai Klampisan Kawasan Industri Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sistematik sampling. Penelitian ini mencari nilai Kelimpahan Jenis, Indeks Keanekaragaman, Indeks Keseragaman, Indeks Dominasi, Saprobik Indeks dan Tropik Saprobik Indeks serta uji regresi untuk hubungan antara kualitas air dengan plankton. Pengambilan sampel air dilakukan 2 minggu sekali pada bulan Januari dan Februari 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas plankton yang berada di Sungai Klampisan terdapat 14 genus. Jenis plankton yang banyak ditemukan adalah Nitzschia sp. Berdasarkan nilai kelimpahan plankton berkisar antara 1.093 ? 2.357 ind/L, sedangkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar antara 0,2 ? 0,272 dan Tropik Saprobik Indeks (TSI) berkisar antara 0 ? 0,875. Sehingga berdasarkan nilai SI dan TSI Sungai Klampisan tergolong dalam kategori ?-Mesosaprobik (pencemaran sedang sampai berat). Klampisan River is a river that gets waste streams from PT. Marimas. River Klampisan have pollution problems caused by waste from PT. Marimas, another companies and household activities that go into waters that affect the water color changes to brown by naked eyes. The purpose of this study was to determine the state of water quality by physical and chemical parameters which include: temperature, depth, brightness, dissolved oxygen, pH, BOD and COD, knowing plankton abundance, diversity index, uniformity index, dominance index and know the status of pollution by Saprobitas index (SI) and Tropical saprobic index (TSI) in Klampisan River Industrial Area, Semarang. The method used in this research is descriptive method. Sampling technique was used in systematic sampling with the assumption that the state of the river waters will be represented. This research measuring water quality and looking for value type of Abundance, Diversity Index, Uniformity Index, Dominance Index, Saprobic Index and Tropical Saprobic Index and regression test for the relationship between the quality of water with plankton. Water sampling is taken in once of 2 weeks in January and February 2014. The results showed that the there are 14 genus of plankton community located in the Klampisan River. Type of plankton that are found are Nitzschia sp. Based on plankton abundance values ranged between 1093-2357 ind / L, while the value of saprobic index (SI) ranging from 0.2 to 0.272 and Tropical saprobic index (TSI) ranged from 0 - 0.875. So based on the value of SI and TSI Klampisan River belong to the category of ?-Mesosaprobik (medium to  high pollution).
HUBUNGAN TEKSTUR SEDIMEN, BAHAN ORGANIK DENGAN KELIMPAHAN BIOTA MAKROZOOBENTOS DI PERAIRAN DELTA WULAN, KABUPATEN DEMAK Wahyuningrum, Etty Silviana; Muskananfola, Max Rudolf; Suryanto, Agung
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keanekaragamaan makrozoobentos pada suatu lingkungan perairan tertentu merupakan cerminan variasi terhadap kisaran-kisaran parameter lingkungan. Tekstur sedimen dan bahan organik merupakan faktor yang berpengaruh pada kelimpahan makrozoobentos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan tekstur sedimen, bahan organik, dan kelimpahan biota makrozoobentos dan hubungannya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2015, di Perairan Delta Wulan, Kabupaten Demak. Metode yang digunakan adalah metode survei dan Purposive Sampling. Variabel yang diteliti meliputi: tekstur sedimen, bahan organik, kelimpahan makrozoobentos dan parameter fisika kimia perairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran fisika dan kimia air berada dalam kondisi normal. Kandungan bahan organik berkisar 0,10 ? 0,35% dan prosentase pasir di empat stasiun berkisar 1,90 ? 9,42%, lempung berkisar 67,82 ? 96,74%, liat berkisar 1,36 ? 22,86%. Kelimpahan individu berkisar 386,03 ? 1564 ind / m3. Indeks keanekaragaman berkisar 0,64 ? 1,28. Indeks keseragaman berkisar 0 ? 1. Nilai nilai keterkaitan (r) antara tekstur sedimen dengan bahan organik adalah 0,494, tekstur sedimen dengan kelimpahan makrozoobentos 0,679 dan tekstur dengan kelimpahan makrozoobentos 0,474. Hal ini berarti bahwa terdapat hubungan dalam kategori sedang. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan linier positif antara tekstur sedimen, dengan bahan organik, bahan organik dengan kelimpahan, dan tekstur sedimen dengan kelimpahan makrozoobentos di Perairan Delta Wulan, Kabupaten Demak. Diversity of macrozoobenthos in a particular marine environment is a reflection of the variation ranges of environmental parameters. Texture sediment and organic material is a factor that affects the abundance of macrozoobenthos. The aim of this study was to determine the content of the sediment texture, organic matter, and the abundance of macrozoobenthos and to know the relation between those parameters. The experiment was conducted in June 2015, in the waters of the Delta Wulan, Demak. The method used was survey method and purposive sampling. Variables examined included: the texture of sediment, organic matter, macrozoobenthos abundance and physical parameters of water chemistry. The results showed that the physical and chemical measurements of water were in normal condition. Organic matter content ranged from 0.10 to 0.35% and the percentage of sand  in four stations ranged from 1.90 to 9.42%, silt ranges from 67.82 to 96.74%, clay ranges from 1.36 to 22.86%. Abundance of individuals ranged from 386.03 to 1564 ind / m3. Diversity index ranged from 0.64 to 1.28. Uniformity index ranges from 0 - 1. The value of the relationship (r) between the textures of the sediments with organic material was 0.494, sediment with the abundance of macrozoobenthos was 0.679 and texture with abundance of macrozoobenthos 0.474. This means that there was a relationship in the medium category. Based on this, it can be concluded that there is a positive corelation between the texture of the sediment with organic materials, organic materials with abundance of macrozobenthos, and sediment texture with an abundance of macrozoobenthos in the waters of the Delta Wulan, Demak.
HUBUNGAN TEKSTUR SEDIMEN DENGAN MANGROVE DI DESA MOJO KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG Aini, Hida Rizki; Suryanto, Agung; Hendrarto, Boedi
Journal of Management of Aquatic Resources VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Desa Mojo merupakan salah satu wilayah Kecamatan Ulujami yang memiliki kawasan mangrove yang luas. Hutan mangrove di Desa Mojo merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan oleh masyarakat sekitar dan pihak terkait. Hutan mangrove Desa Mojo mempunyai fungsi yang sangat penting bagi daerah sekitarnya. Rehabilitasi yang telah dilakukan tersebut memberikan efek terhadap ekosistem. Habitat mangrove yang ada di Desa Mojo tersebut kemungkinan memberikan karakteristik terhadap sedimen sebaliknya karakteristik sedimen merupakan faktor penting terhadap keberadaan mangrove. Penelitian dilakukan pada bulan Maret ? april 2016. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik sedimen terhadap tegakan mangrove. Metode yang digunakan untuk menghitung kerapatan mangrove yaitu Point Centered Quarter Method. Karakteristik sedimen meliputi pengukuran fisika sedimen, pengukuran tekstur sedimen dengan metode Soil Jar Test (FAO), dan bahan organik sedimen diukur dengan metode LOI (Loss on Ignition). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kawasan mangrove di Desa Mojo termasuk sangat padat, karena memiliki kerapatan lebih dari 1500 pohon per hektar (KepMenLH No.201, 2004). Sedimen pada kawasan mangrove Desa Mojo memiliki karakteristik tekstur silt (lumpur). Hasil Principal Component Analysis korelasi spesies mangrove dipengaruhi langsung oleh kuantitas silt dibandingkan dengan faktor lingkungan lainnya.  Kata Kunci : Tekstur sedimen; Mangrove; Ulujami; Pemalang ABSTRACT Mojo village is one of the District of Ulujamithat has extensive mangrove areas. The mangrove forest in the village of Mojo is the result of the rehabilitation undertaken by the local community and other interested parties. It has a very important function for the surrounding area. The rehabilitation has been done to give effect to the ecosystem. Mangrove habitat in the village of Mojo and sediment characteristics of mutrual influenced.. The study was conducted in March - April 2016. The purpose of this study was to determine the correlation characteristic of sediment to mangrove stands. The method used to calculate the density of mangrove namely Point Centered Quarter Method. Sediment characteristics include physical measurements of sediment, sediment texture measurement method Jar Test Soil (FAO), and sedimentary organic matter is measured by the method of LOI (Loss on Ignition). The results showed that the condition of the mangrove area in the village of Mojo include very dense, because it has a density of more than 1500 trees per hectare (KepMenLH 201, 2004). Sediment in the mangrove areas Desa Mojo has the characteristic texture of silt. The data used by the Principal Component Analysis correlation mangrove species were influenced by the quantity of silt, while there is no direct impact on other environmental factors on the existing mangrove species. Keywords: Sediment texture,Mangrove. Ulujami, Pemalang
HUBUNGAN KELIMPAHAN KEPITING DENGAN BAHAN ORGANIK DAN TEKSTUR SEDIMEN PADA MANGROVE DI PANTAI MARON, TIRANG DAN MANGUNHARJO SEMARANG Siahaan, Donal; Muskananfola, Max Rudolf; Suryanto, Agung
Journal of Management of Aquatic Resources Vol 7, No 1 (2018): MAQUARES
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Maron, Pantai Tirang dan Pantai Mangunharjo Semarang memiliki hutan mangrove yang tumbuh secara alami dan buatan untuk mencegah erosi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tekstur sedimen dan bahan organik, kelimpahan kepiting serta hubungan kelimpahan kepiting dengan bahan organik dan tekstur sedimen di kawasan hutan mangrove. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, dilakukan 3 kali pengulangan selama 3 minggu pada bulan Desember 2016. Langkah pertama dilakukan pengukuran parameter lingkungan; kedua diambil sampel kepiting dan sedimen, ketiga dilakukan analisis laboratorium, analisis tekstur sedimen dan analisis bahan organik, keempat perhitungan kelimpahan kepiting dan analisis korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekstur sedimen yang didapatkan pada ketiga stasiun yaitu clay (liat). Persentasi liat 59,80% - 74,99% dengan persentasi tertinggi pada Pantai Maron. Fraksi sand (pasir) 22,44% - 38,29% dengan persentasi tertinggi pada Pantai Tirang. Fraksi silt (lumpur) 1,83% - 2,57% dengan persentasi tertinggi pada Pantai Maron. Kandungan bahan organik 7,33% - 9,33% dengan persentasi tertinggi pada Pantai Maron. Kepiting yang didapatkan pada ketiga stasiun yaitu Metopograpsus latifrons dan Scylla serrata. Struktur komunitas kepiting didapatkan nilai kelimpahan stasiun I 5720 ind/m2, stasiun II 5432 ind/m2 dan stasiun III 5802 ind/m2. Indeks keanekaragaman kepiting dalam kategori rendah dan hubungan tekstur sedimen dengan bahan organik memiliki hasil yang sedang. Hubungan tekstur sedimen dengan kelimpahan kepiting memiliki hasil korelasi yang sedang dan hasil dari hubungan bahan organik dengan kelimpahan kepiting memiliki hasil korelasi yang sedang.  Maron Beach, Tirang Beach and Mangunharjo Beach Semarang have mangrove forests that grow both naturally and artificially to prevent erosion. The purpose of this research are to analyze the texture of sediment and organic material, crab abundance, and the relation of crab abundance with organic material and sediment texture in mangrove forest area. The sampling technique used in this research is purposive sampling method, with 3 repetitions conducted in three weeks in December 2016. The first step was the measurement of environmental parameters. The second step was samples collections of crabs and sediments. The third step conducted was laboratory analysis on sediment texture and organic material. The last step was to calculate crab abundance and perform Pearson correlation analysis. The results showed that the sediment texture obtained in three stations was clay. Clay percentage was 59.80% - 74.99% with the highest percentage on Maron Beach. Sand fraction percentage was 22.44% - 38.29% with the highest percentage on Tirang Beach. The silt fraction was 1.83% - 2.57% with the highest percentage on Maron Beach. The content of organic materials is 7.33% - 9.33% with the highest percentage on Maron Beach. Crabs in the three stations obtained are Metopograpsus latifrons and Scylla serrata. Crab abundance on station I is 5720 ind / m2, while on station II and station III is 5432 ind / m2 and 5802 ind / m2, respectively. The index of crab diversity is low and the relationship of sediment texture with organic matter is moderate. The relationship of sediment texture with crab abundance has a moderate correlation, while the relationship of organic material with crab abundance also has a moderate correlation result.
STATUS PENCEMARAN SUNGAI WAKAK KENDAL DITINJAU DARI ASPEK TOTAL PADATAN TERSUSPENSI DAN STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS Yasir, Muhammad; Haeruddin, -; Suryanto, Agung
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Wakak merupakan perairan penerima limbah dengan volume cukup besar. Hal ini disebabkan adanya berbagai aktivitas ?penyumbang? limbah yang terdapat di kawasan ini, seperti kegiatan industri, pertanian, pemukiman, dan pertambakan. Peristiwa ini menyebabkan erosi, abrasi dan sedimentasi yang  berdampak pada kehidupan biota perairan khususnya makrozoobentos dan kultivan pada tambak yang memanfaatkan pengairan  Sungai Wakak . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi total padatan tersuspensi terhadap struktur komunitas makrozoobentos, serta status pencemaran Sungai Wakak. Metode sampling yang digunakan adalah sistematic sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada tiga stasiun yang berbeda selama tiga kali waktu sampling dimana stasiun 1 berada didaerah hulu sungai, stasiun 2 berada dilokasi yang terdekat dengan aktivitas masyarakat dan industri, dan stasiun 3 berada di hilir sungai yang dekat dengan muara . Hasil rata-rata konsentrasi total padatan tersuspensi antar waktu dan antar lokasi terendah yaitu sebesar 540 mg/l dan tertinggi sebesar 920 mg/l. Nilai kelimpahan individu dan kelimpahan relatif tertinggi yaitu makrozoobentos jenis Floridobia dengan KI 784 ind/m3. Indeks keanekaragaman (H?) tergolong rendah (tercemar sedang), indeks keseragaman (e) masuk dalam kategori tinggi. Indeks dominansi (D) mendekati nilai nol yang berarti tidak ada spesies yang mendominasi. Sedangkan berdasarkan analisis data dalam aspek Kurva ABC Makrozoobentos, diperoleh hasil bahwa perairan tersebut dalam kategori tercemar berat. Konsentrasi total padatan tersuspensi dapat berpengaruh terhadap struktur komunitas makrozoobentos meskipun dalam hal ini jumahnya sangat kecil. Berdasarkan konsentrasi total padatan tersuspensi dan kurva ABC makrozoobentos, Sungai Wakak termasuk sungai golongan tercemar berat. Wakak river is a large volume of water waste disposite. Various 'contributor' activities which are contained in this area are industrial activities, agricultural, domestic, and aquaculture. Real effects arising from such activities in the form of river pollution and erosion as well as the river bank abrasion. This causes the sedimentation process that impact on the aquatic biota, especially macrozoobenthos. The purpose of this study was to determine the effect of the concentration of total suspended solids makrozoobentos community structure and Wakak River pollution status. The sampling method is systematic sampling method. This study was conducted at three different stations during the three sampling times where first station located in the upstream of the river, second location is located in the closest area of the community and industrial activities, and third station is located in the downstream near the estuary. The average of total suspended solids concentration over time and between the lowest locations is in the amount of 540 mg/l and the highest was 920 mg/l. Abundance of individual values and the highest relative abundance of macrozoobenthos kind of Floridobia with KI 784 ind/m3. Diversity index (H') is low (modaretely polluted), uniformity index (e) included in the high category. The Dominance index (D) was nearly zero, which means there is no dominated species. Based on the concentration of total suspended solid and the macrozoobenthos ABC curve, the results showed that the water is highly polluted. The concentration of total suspended solids can affect the community structure of macrozoobenthos although in this case the amount is very small. Based on the concentration of total suspended solids and macrozoobenthos ABC curve, River Wakak is highly polluted.
KELIMPAHAN PERIFITON PADA KARANG MASIF DAN BERCABANG DI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA Yuniarno, Hendrawan Agung; Ruswahyuni, -; Suryanto, Agung
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Panjang merupakan salah satu pulau-pulau kecil di Indonesia yang memiliki berbagai ekosistem salah satunya adalah ekosistem terumbu karang. Terumbu karang merupakan habitat dan tempat aktivitas berbagai organisme laut contohnya perifiton. Perifiton berperan sebagai produsen primer dalam suatu perairan untuk menghasilkan oksigen dan menjadi konsumsi bagi organisme lain (misalnya karang). Keberadaan perifiton pada substratnya tidaklah sama, perbedaan morfologi karang diduga menentukan kelimpahan perifiton pada karang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan perifiton pada karang masif dan karang bercabang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2015 di Pulau Panjang Jepara. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling dengan deskriptif analitis sebagai desain penelitiannya. Desain ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelimpahan perifiton pada jenis pertumbuhan karang yang berbeda. Analisis perbedaan kelimpahan perifiton menggunakan Uji T (Mann-Whitney). Dari  hasil penelitian didapatkan bahwa kelimpahan perifiton pada karang masif dan bercabang menunjukkan adanya perbedaan. Dimana kelimpahan perifiton pada setiap pengamatan tidak memiliki perbedaan yang signifikan baik pada karang masif dan karang bercabang. pada pengamatan pertama kelimpahan perifiton pada karang bercabang terdapat 20.970 ind/cm2, sedangkan pada karang masif terdapat 19.764 ind/cm2. Pada pengamatan kedua kelimpahan perifiton pada karang bercabang terdapat 28.427 ind/cm2, sedangkan pada karang masif terdapat 30.623 ind/cm2. Faktor yang menentukan keberadaan dan kelimpahan perifiton pada karang yang paling terlihat yaitu dikarenakan perbedaan morfologi dari karang tersebut dan perbedaan dan perubahan kecepatan arus. Panjang Island is one of the small islands in Indonesia, which has a variety of ecosystems one of which is the coral reef ecosystem. Coral reefs are the habitat and the activities of various marine organisms example periphyton. Periphyton role as primary producers in a body of water to produce oxygen and become food for other organisms (eg, corals). Periphyton existence on the substrates are not the same, the difference of coral morphology is suspected determine the abundance of perifiton on the reef. This study aims to determine differences in the abundance of periphyton on massive corals and branching. This research was conducted in March and April 2015 in Panjang Island Jepara. The method used in this research is purposive sampling with a descriptive analytical research design. This design aims to describe the abundance of periphyton on different types of coral growth. Analysis of differences in the abundance of periphyton using T test (Mann-Whitney). The results showed that the abundance of periphyton on massive and branching corals showed a difference. Where the abundance of periphyton on every observation has different amounts both on massive and branching corals. the first observations of the abundance of periphyton on branching corals there are 20.970 ind / cm2, while the massive corals there are 19.764  ind / cm2. In the second observation abundance of periphyton on branching corals there are 28.427 ind / cm2, while the massive corals there are 30.623 ind / cm2. The difference is due to differences in the morphology of the reef and the differences and changes in flow velocity.
PENGELOLAAN TAMBAK DAN MANGROVE DI AREA PERTAMBAKAN DI DESA MOROREJO, KECAMATAN KALIWUNGU, KABUPATEN KENDAL Kridalaksana, Aprilian; Subiyanto, -; Suryanto, Agung
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara luas tambak dengan jumlah mangrove pada area pertambakan, pengaruh luas tambak dan jumlah mangrove terhadap tingkat produksi tambak tradisional bandeng pada luasan tambak yang berbeda, pengaruh tingkat produksi terhadap tingkat pendapatan petani tambak, dan menentukan strategi pengelolaan yang tepat pada area pertambakan di Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal.Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dimana data dikumpulkan dari hasil observasi di lapangan dan wawancara menggunakan kuesioner terhadap 36 responden.Analisis data mengggunakan metode regresi dan korelasi Excel serta analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan luas tambak memiliki hubungan yang siginifikan dengan jumlah mangrove yang mengindikasikan bahwa semakin luas tambak, jumlah mangrove akan semakin banyak karena besarnya pengaruh mangrove terhadap tambak, perbandingan luas tambak dan jumlah mangrove memiliki hubungan dengan tingkat produksi yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi perbandingan luas tambak dan jumlah mangrove, maka tingkat produksi tambak akan semakin besar, maka semakin besar pula tingkat pendapatan petani tambak, serta strategi pengelolaan yang didapat adalah meningkatkan jumlah mangrove di tambak guna meningkatkan produksi dan pendapatan, memperkuat pematang dengan menanam mangrove dengan perbandingan yang sama dengan luas tambak guna menahan rob dan abrasi, petani tambak harus membuat kesepakatan dalam mengelola mangrove agar mangrove di area tambak tetap lestari, dan meningkatkan pengetahuan petani tambak mengenai tambak dan pengaruh mangrove terhadap produksi. The purpose of this research done to know correlation betweenfishpondarea and amount of mangrove, influence of fishpond areasand amount of mangrove in the fishpond areastoproduction levels milkfish on traditional fishpond at different fishpond areas, influence production level to income level of fishfarmers, and determine the appropriate management strategy at fishpondarea in Mororejo Village, Kaliwungu Sub-District, District of Kendal.The methods used in this research was descriptive method where data collected from observation in field and interview using quesioner to 36 respondents . Data analysis used regression and correlation methods and SWOT analysis.The results showed that fishpondareas had significant correlation to amount of mangrove that indicated greater fishpond areas, amount of mangrove are be more because of the big influence of the mangrove toward the fishpond, comparison fishpond areas and amount of mangrove had connections to production level that indicated the higher fishpond areas and amount of the mangrove, production levels of fishpondwould be greater, production levels had significant correlation to income level which indicated that the greater fishpond production level, income level of fishfarmers would be higher, and management strategy was improved amount of mangrove in fishpond area to increase production and income, strengthened embankment by planting mangrove same comparison to fishpond areas to arrest fishpond from high spring tide and abration, fishfarmers should make agreement in management to keep mangrove on fishpond areas, and improved fishfarmers knowledge about fishpond and influence of mangrove toward production
STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA MANGROVE DI PULAU KEMUJAN, KARIMUNJAWA Simanjuntak, Susi Watina; Suryanto, Agung; Wijayanto, Dian
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Kemujan memiliki ekosistem mangrove yang relatif bagus sehingga dikembangkan menjadi objek wisata. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan wisata mangrove serta mengembangkan strategi pengembangan wisata mangrove di Pulau Kemujan. Penelitian dilakukan bulan Mei ? Juni 2014 di zona pemanfaatan wisata mangrove (tracking mangrove), Pulau Kemujan, Karimunjawa. Metode yang dilakukan adalah observasi dan survey lapangan dengan menyebar kuisioner dan wawancara kepada 100 responden yang terdiri dari wisatawan dan key person (dinas BTNJK, Kecamatan, Kelurahan). Data kuisioner diolah dengan menggunakan analisis SWOT, analisis Tingkat Manfaat dan Kondisi Sekarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal yang mempengaruhi pengembangan wisata mangrove di Pulau Kemujan adalah SDA (kondisi ekologi hutan mangrove), SDM (tenaga kerja, kualitas SDM dalam menangani wisatawan, pengetahuan mengenai pariwisata konservasi), dan infrastruktur pariwisata mangrove (fasilitas tracking mangrove), sedangkan faktor eksternal yaitu wisatawan, regulasi hukum, infrastruktur pendukung, sosial-budaya, kuliner, objek wisata lain yang berhubungan dengan objek wisata mangrove, keamanan lokasi wisata mangrove, dan kemajuan teknologi. Strategi pengembangan wisata mangrove yang diprioritaskan di kawasan wisata mangrove (tracking mangrove) adalah pengembangan promosi wisata mangrove, pengembangan bandar udara dan souvenir khas daerah, pengembangan paket wisata mangrove dan non-mangrove, pengembangan infrastruktur energi, pengembanagan kuliner, pengembangan sumberdaya manusia, peningkatan infrastruktur penunjang (kesehatan, transportasi, komunikasi), pengembangan pariwisata konservasi mangrove, mitigasi, dan juga pengembangan perbankan. Kemujan island has relatively good mangrove ecosystem for ecotourism development. The purpose of this study is to identify the internal and external factors that influence the development of tourism and to develop strategies for mangrove tourism management in Kemujan Island. This study was conducted from May to June 2014 in mangrove tourism zone (tracking mangrove), Kemujan island. The methods of this study are observations and survey with questionnaires and interviews spread to 100 respondents consists of tourists and key persons (Goverment: BTNKJ Karimunjawa national park office, District, Sub-District). Questionnaire data were processed using SWOT analysis, analysis of benefits level and present condition. The results showed that the internal factors that influence the development of mangrove tourism on the island Kemujan are Natural Resources (ecological conditions of the mangrove), Human Resources (employee, quality of human resources to deal with tourists and knowledge about conservation tourism), and mangrove tourism infrastructure (tracking mangrove facility), while external factors are tourists, regulation and law, infrastructure support, socio-cultural, culinary, other attraction related mangrove tourism, mangrove site security and technological advances. Development strategy for mangrove tourism be priority of promotion in tracking mangrove is promotion mangrove tourism development, airport development, special souvenirs, mangrove and non-mangrove tour packages development, energy infrastructure development, culinary attraction, human resources development, improvement infrastructure support (health, transport, communication), mangrove conservation tourism development, mitigation development, as well as banking system development.
HUBUNGAN KANDUNGAN NITRAT DENGAN DENSITAS ZOOXANTHELLAE PADA BEBERAPA JENIS KARANG DI REEF FLAT PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU JAKARTA Khuzma, Nur Latifah; Suryanto, Agung; Purnomo, Pujiono Wahyu
Journal of Management of Aquatic Resources VOLUME 5, NOMOR 4, TAHUN 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPulau Pari merupakan salah satu pulau yang berada di tengah-tengah gugusan. Terumbu karang merupakan ekosistem pesisir yang memiliki produktivitas tinggi. Nitrat merupakan  nutrien sebagai salah satu faktor penentu terpeliharanya produktivitas perairan, maka penelitian ini akan mempelajari dukungan nitrat di dalam polip karang dan pengaruhnya terhadap keberadaan  zooxanthellae. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberagaman jenis karang, faktor lingkungan  yang  mempengaruhi  karang, kandungan nitrat dan densitas zooxanthellae pada beberapa jenis karang di reef  flat Pulau Pari Kepulauan Seribu Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-April 2016 dengan metode deskriptif. Hasil penelitian yang diperoleh  jenis karang  yang dominan adalah  Acropora sp., Porites sp., dan Montipora sp., dengan penutupan karang hidup di stasiun I (dermaga) 36,4% kategori sedang, stasiun II (pemukiman penduduk) 22,4% kategori buruk dan stasiun III (jauh dari aktivitas penduduk) 67,2% kategori baik. Koefisien determinasi R2 antara nitrat dengan densitas  zooxanthellae pada masing-masing jenis karang dominan memiliki nilai R² yang  berbeda yaitu karang Acropora palifera diperoleh R²= 0.787 dapat diartikan bahwa variabel bebas X memiliki pengaruh kontribusi sebesar 78,7% terhadap variabel Y 21,3%, pada jenis karang Acropora divaricata diperoleh R²= 0.989 memiliki pengaruh kontribusi sebesar  98,9% terhadap variabel Y 1,1% dan jenis karang Porites cylindrica R²= 0.955 memiliki pengaruh kontribusi sebesar 95,5% terhadap variabel Y 4,5% lainnya dipegaruhi faktor lain diluar variabel X dari hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai R² diatas 0,5 yang berarti semakin erat hubungan antara variabel X dan Y. Semakin tinggi kandungan nitrat di dalam polip karang, maka semakin tinggi pula densitas zooxanthellae yang dikandungnya. Kata kunci: Beberapa Jenis Karang; Nitrat; Densitas Zooxanthellae; Pulau Pari ABSTRACT Pari Island is one island in the middle of the Thousand Islands cluster. Nitrate is a nutrient as a determining factor for the preservation of marine productivity, nutrients becomes an important factor. The problem is, whether the support is derived from the availability of nitrate in the water or in the coral polyps. Related to the above, this research will study the nitrate support in coral polyps and their effects on the presence of zooxanthellae. The purpose of this study is to determine the diversity of coral species, environmental factors affecting the coral, nitrate content and the density of  zooxanthellae in some types of coral on the Pari Island Reef Flat in Thousand Islands Jakarta. This study was conducted in March to April 2016, with descriptive method. The results obtained are the the dominant coral species Acropora sp., Porites sp., and Montipora sp., With live coral cover in the station I (pier) of 36,4% medium category, station II (residential) of  22.4% poor category and station III (away from the population activity) of 67,2% good category.The coefficient of R2 determination between nitrate with a density of  zooxanthellae in each the dominant coral species have different values R² is Acropora palifera obtained R²= 0.787 means that the independent variable X has the effect of a contribution of 78,7% to 21,3% Y variables, the coral species Acropora divaricata obtained R²= 0.989 has the effect of a contribution for 98,9% to 1,1% Y variables and coral species Porites cylindrica R²= 0.955 has the effect of a contribution of  95,5% to other variable Y 4,5% influenced other than the variable X of the results showed that the value of R² above 0,5 which means that the closer the relationship between the variables X and Y. the higher the nitrate content in coral polyps, the higher the density of zooxanthellae contains. Keywords: Types of Corals; Nitrate; Zooxanthellae Density; Pari Island