Articles

Found 36 Documents
Search

PHYSICOCHEMICAL PROPERTIES OF SOME DRIED FISH PRODUCTS IN INDONESIA Agustini, Tri Winarni; Darmanto, Y. S.; Susanto, Eko
JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Vol 12, No 2 (2009): Volume 12, Number 2, Year 2009
Publisher : JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.86 KB)

Abstract

Some traditional fish products in Indonesia have potential opportunity for global market, such as fish crackers, dried fish, ikan kayu (?katsuobushi?) and dried pempek (traditional fish product from Palembang). Study on such products based on its glass transition temperature is still rare. On the other hand, glass transition phases of dried product play an important role in determining food stability because it can give an overview of physicochemical properties of the products. Using its glass transition temperature, dried fish product can be estimated for its shelf life. The purposes of this research are to observe the relation between some physicochemical properties of glass transition temperature of some dried fish products and its water content/water activity to the self life of the products. Dried fish products used were: fish cracker, dried-salted fish, ikan kayu (katsuobushi), fufu (very dried-smoked fish) and dried pempek. The samples were taken from different area in Indonesia (Cilacap, Palembang, and Sulawesi). The sample were taken using purposive sampling method. The method used for analysis of glass transition temperature was DSC method (Differential Scanning Calorimetry), and for water content and water activity were analysed using Aw meter and Moisture analyzer. All samples were analyzed in duplo. Research method used was experimental laboratory with research design of Completely Randomised Design. The experiment was conducted from August 2008 to December 2008 at Fish Product Processing Laboratory, Fisheries Department, Faculty of Fisheries and Marine Science ? Diponegoro University, Food Engineering Laboratory ? SQU, Oman. The results showed that different sample with different characteristics on physicochemical properties give different in water activity and also water content. The lowest water activity was performed by dried pempek. Glass transition temperature (Tg) of the products was very depend on the water content. The Tg of samples was ranged between 38.4oC ? 76.4oC. The water content of the products ranged between 8.28%-37.28%. The Aw of the product was ranged between 0.57 ? 0.87.
KARAKTERISTIK SABUN CAIR DENGAN PENAMBAHAN KOLAGEN IKAN AIR LAUT YANG BERBEDA Nauli, Asti Permata; Darmanto, Yudhomenggolo Sastro; Susanto, Eko
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan tulang ikan menjadi kolagen dapat diaplikasikan ke dalam sabun cair yang bermanfaat bagi kesehatan kulit manusia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kualitas sabun cair kolagen dengan bahan baku kolagen tulang ikan laut berbeda antara lain ikan Kurisi (Nemipterus nematoporus), ikan Tenggiri (Scomberomorus plumierii), dan ikan Kakap (Lutjanus altifrontalis). Metode penelitian yang digunakan bersifat eksperimental laboratoris dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diterapkan terhadap jenis kolagen tulang ikan yang berbeda masing-masing tiga kali pengulangan. Parameter yang diamati adalah pH, hedonik, kestabilan busa, alkali bebas, dan viskositas. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahan baku kolagen tulang ikan yang berbeda berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap nilai pH, hedonik, alkali bebas, kestabilan busa dan viskositas. Karakteristik dari sabun cair dengan kolagen ikan Kurisi sebagai berikut pH 10,77; alkali bebas 0,031%; kestabilan busa 84,90%; serta viskositas 922,83 cPs. Selain itu karakteristik dari sabun cair dengan kolagen ikan Tenggiri sebagai berikut pH 10,94; alkali bebas 0,070%; kestabilan busa 66,44; dan viskositas 962,33 cPs. Sedangkan pada sabun cair dengan penambahan kolagen ikan Kakap sebagai berikut pH 10,87; alkali bebas 0,060%; kestabilan busa 84,57; dan viskositas 932,66 cPs. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil terbaik yaitu pada sabun cair dengan penambahan kolagen tulang ikan Kurisi. Utilization of fish bone into collagen can be applied to liquid soap that is beneficial for health human skin. The purpose of the study was to knowing the quality of liquid soap with collagen added from marine fish bone, namely Threadfin - Bream fish (Nemipterus nematoporus), Mackerel fish (Scomberomorus plumierii) and Red Snapper (Lutjanus altifrontalis). The used methods was experimental laboratoris with Complete Random Design (CRD). All treatments were done in triplicate. All treatment were analyzed for pH, sensory, foam stability, free alkaline and viscosity. The results showed that the different raw materials of fish bone collagen on liquid soap significantly (p<0,05) different to pH, hedonik, free alkaline, foam stability and viscosity. The characteristics of Threadfin - Bream fish collagen liquid soap were pH 10.77; alkali-free 0.031 %; the stability of foam 84.90%; and viscosity has 922.83 cPs. Moreover the characteristics of liquid soap with Mackerel bone collagen were pH of 10.94; free alkaline 0.070%; foam stability 66.44; and viscosity 962.33 cPs. Meanwhile the characteristics liquid soap with Red Snapper collagen added were pH 10.87; free alkaline 0.060%; foam stability 84.57; and viscosity 932.66 cPs. Based on the results obtained, the best results was liquid soap with Threadfin - Bream fish bone collagen.
ANALISIS KADAR KOLESTEROL DAN KUALITAS IKAN LELE DUMBO (CLARIAS GARIEPINUS) ASAP MENGGUNAKAN ASAP CAIR BERBEDA Nashiruddin, Muhammad Khalid; Swastawati, Fronthea; Susanto, Eko
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan lele dumbo merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang potensial untuk dikembangkan tetapi diprediksikan kandungan kolesterol dalam ikan lele tinggi, pakan ikan lele yaitu limbah telur dan telur mengandung kolesterol tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan asap cair untuk menurunkan kadar kolesterol. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan perbedaan asap cair yaitu tanpa asap cair (kontrol), asap cair tempurung kelapa, bonggol jagung, dan kombinasi keduanya dengan pengulangan 3 kali. Ikan asap dianalisa hasil kadar kolesterol, komposisi asam lemak, kadar air, kadar lemak, dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan asap cair (tempurung kelapa, bonggol jagung, kombinasi keduanya) berpengaruh nyata (P <0,05) terhadap kadar kolesterol, kadar air, dan kadar lemak. Perbedaan asap cair berpengaruh nyata (P <0,05) terhadap kadar kolesterol, penurunan terendah terjadi pada asap cair bonggol jagung sebesar 22,12% (44,98±2,24) mg/100gram, sedangkan penurunan tertinggi terjadi pada asap cair tempurung kelapa sebesar 42,41% (24,69±3,83). Berdasarkan nilai organoleptik asap cair bonggol jagung adalah yang paling efektif untuk kualitas organoleptik. African catfish is freshwater fish which is potential to be developed however it is predicted high content  of cholesterol due to their feed. This phenomenon caused by catfish feed, egg waste. This study aimed to determine the effect of different liquid smoke to reduce cholesterol level contained in catfish. Catfish smoke were is Completely Random Design consisting of 4 different liquid smoke treatments i.e. without liquid smoke (control), liquid smoke coconut shell, corncob, and a combination of both in triplicates. All treatment were analyzed for  cholesterol, fatty acids composition, water content, lipid content, and organoleptic test. The result showed that the different liquid smoke (coconut shell, corn cob, and a combination) significantly different (p <0.05) to cholesterol levels, moisture content, and lipid content. Different liquid smoke was able to significantly reduce (p <0.05) cholesterol level, the lowest decrease showed on liquid smoke corncorb at 22,12 % while the highest decreased showed in liquid smoke coconut shell at 42,41 %. Based on organoleptic value corncob liquid smoke is the most effective for organoleptic quality.
MEREDUKSI OKSIDASI IKAN MANYUNG (ARIUS THALASSINUS) JAMBAL ROTI DENGAN IMPLIKASI EDIBLE FILM SELAMA PENYIMPANAN SUHU RUANG Christie, Tiffany Mega; Ma'ruf, Widodo Farid; Susanto, Eko
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Oksidasi pada ikan jambal roti terjadi karena pengolahan maupun penyimpanan yang kurang tepat dan oksidasi dapat direduksi dengan adanya edible film. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implikasi edible film dan pengaruh lama penyimpanan suhu ruang terhadap laju oksidasi ikan jambal roti. Metode penelitian yang digunakan bersifat penelitian terapan dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap dengan pola petak terbagi waktu (split plot in time). Sebagai faktor pertama (main plot) adalah lama waktu penyimpanan (minggu ke 0, 2, 4, 6, dan 8) dan faktor kedua (sub plot) adalah tanpa edible film (kontrol), edible film dan non edible film, masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Tahap penelitian ini adalah pembuatan ikan jambal roti kemudian ikan jambal roti diberi perlakuan dilapisi edible film,non edible film dan tanpa edible film sebagai kontrol yang disimpan selama 8 minggu. Pengujian dilakukan pada minggu ke 0, 2, 4, 6, dan 8. Data dianalisis menggunakan analisa ragam (ANOVA) dan Uji Berbeda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyimpanan berpengaruh nyata (p<0,05), sedangkan perlakuan maupun interaksi antara perlakuan dan lama penyimpanan tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap nilai FFA, PV, TBA, kadar air dan kadar Aw. Pada ikan jambal roti yang dilapisi edible film proses oksidasi lebih rendah dibanding ikan jambal roti tanpa edible film dan penggunaan non edible film merupakan perlakuan terbaik untuk mereduksi oksigen pada ikan jambal roti berdasarkan nilai FFA, PV, TBA, kadar air dan kadar Aw. ?Jambal roti? oxidation occured because inappropiate storage and processing and oxidation. It can be retarded by edible film. The purpose of this research were to figure out the implication of edible film and to know the effect of duration in storing ?jambal roti? at room temperature on the oxidation rate. The research method was applied research with split plot in time design. The first factor as the main plot of this research was room storage time duration (0, 2, 4, 6 and 8 weeks) and the second factor as the sub plot was different coatings with edible film, non edible film, and without edible film (control). This experimental process were making ?jambal roti? after that ?jambal roti? treated by coating with edible film, non edible film, without edible film as controlling and it stored approximately 8 weeks. The research had done every two weeks (0, 2, 4, 6 dan 8). Data analysis were analysis of variance (ANOVA) and Honestly Significant Different (HSD). The results showed that the storage time was significantly different (p<0,05), however all treatments and the interaction among them and storage time was not significantly different (p>0,05) to FFA, PV, TBA, moisture content, and Aw content. Jambal roti coated with edible film has low oxidation than those without edible film and non edible film. Non edible film is the best treatment to retard oxidation of ?jambal roti? based on FFA, PV, TBA, moisture content and Aw content.
KARAKTERISTIK EDIBLE FILM DARI CAMPURAN TEPUNG SEMIREFINED KARAGINAN DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TAPIOKA DAN GLISEROL Saputro, Benediktus Wahyu; Dewi, Eko Nurcahya; Susanto, Eko
Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 2 (2017): Periode Wisuda Bulan April 2017
Publisher : Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Edible film merupakan jenis pengemas makanan yang berbentuk lembaran tipis atau film yang dapat dicerna oleh tubuh. Edible film yang dibuat dari komponen tunggal hasilnya tidak terlalu baik, maka perlu adanya   campuran antara beberapa bahan serta penambahan bahan aditif lainnya. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan  formulasi terbaik  dari edible film. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semi refined karaginan, tepung tapioka, dan gliserol. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium, rancangan percobaan  yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diterapkan yaitu perbedaan konsentrasi tepung tapioka (0,3%, 0,5%, dan 0,7%)  dengan 3 kali pengulangan. Parameter pengujian yang diamati berupa kuat tarik (MPa), persen  pemanjangan (%), ketebalan (mm), dan laju transmisi  uap air (g/m2/jam). Data di analisa menggunakan analisa sidik ragam (ANOVA), dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk mengetahui perlakuan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi tepung tapioka memberikan pengaruh yang sangat nyata (p<0.05) terhadap parameter kuat tarik, persen pemanjangan, ketebalan, dan laju transmisi uap air. Edible film terbaik dihasilkan dari perlakuan konsentrasi semi refined karaginan 1%, tepung tapioka 0,7%, dan gliserol 0,5% dengan hasil karakteristik kuat tarik 39,42 MPa, persen pemanjangan 66,02%, laju transmisi uap air 1,28 g/m2/jam, dan ketebalan 0,09 mm.
PENGARUH PERBEDAAN PENGGUNAAN UMPAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN CAKALANG (KASTSUWONUS PELAMIS) PADA ALAT TANGKAP HUHATE DI PERAIRAN TERNATE MALUKU UTARA Susanto, Eko; Boesono, Herry; Fitri, Aristi
Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Vol 1, No 1 (2012): Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The mainly target of the operational of pole and line is skipjack tuna. Pole and line is a type of fishing gear that consist of pole, line and hook. The purpose of this research were to analyze the effect of artificial bait?s colours against total catch, to analyze the effect of type of live bait against total catch, and to analyze the interaction between the colours of artificial bait and live bait against total catch. The research was done in March-April 2012 in PPI Dufa-dufa Ternate. The research was used experimental fishing methods which have two variables they are: the color of artificial bait and live bait with 4 types of treatment. Normality test and ANOVA test by SPSS 16.0 was employed to analyze data.. The results of this research showed that the difference colours of artificial bait and live bait was effected the total catch of skipjack tuna it was seen from the total catch of anchovy artificial red bait as much as 544, and the total catch of anchovy artificial green bait fish as much as 329, the total catch of scad mackerel artificial red bait as much as 425 and the total catch of scad mackerel artificial green bait as much as 272. ANOVA test results showed that using pole and line with anchovy live bait and artificial red bait is better to be used.
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT UDANG MENJADI EDIBLE COATING UNTUK MENGURANGI PENCEMARAN LINGKUNGAN Swastawati, Fronthea; Wijayanti, Ima; Susanto, Eko
Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti Vol 4, No 4 (2008): DESEMBER 2008
Publisher : Jurnal Teknologi Lingkungan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1068.337 KB)

Abstract

Utilize shrimp waste to be edible coating to reduce environmental pollution. Devisal obtained from Fisheries sector come from shrimp export were 125.596 ton at 2007 [3]. Shrimp produce 65%-85% waste. Researches to utilize shrimp waste to be chitosan as ?edible coating? were done. Chitosan Processing were drying, destroying, demineralization, neutralization, deproteination, neutralization, deasetilization, neutralization and drying. Shrimp shell produce15% chitosan with water content 5,56%, ash content 0,86% and deasetilalization degree 90%. Chitosan were applied on salted boiled fish with concentration 0% and 1,2%. The result show organoleptic value of Salted boiled fish without and with chitosan (0% and 0,25%) were 7,93 and 7,98 and TPC value were 2,4 x 103 and 4,5 x 103. This research show chitosan from shrimp shell could be ?edible coating? to pursue microbial growth and to increase self life fisheries product.   Abstract in Bahasa Indonesia:  Devisa yang diperoleh dari sektor perikanan 34% berasal dari ekspor udang sebesar 125.596 ton pada tahun 2007 [3]. Produksi udang menghasilkan limbah + 65%-85% dari berat udang. Penelitian untuk memanfaatkan limbah kulit udang menjadi chitosan sebagai ?Edible Coating? telah dilakukan melalui proses : pengeringan, penghancuran, demineralisasai, netralisasi, deproteinas, netralisasi, deasetilasi, netralisasi dan pengeringan. Rendemen chitosan yang dihasilkan 15 % dengan kadar air 5,56%; kadar abu 0,86%; derajat deasetilasi 90%. Chitosan diaplikasikan pada ikan pindang digunakan konsentrasi : 0% dan 0,25 %. Dari hasil ? Edible Coating? pada ikan pindang menunjukkan nilai rata-rata organoleptik dengan dan tanpa chitosan adalah : 7,93 dan 7,98 dan nilai TPC masing-masing 2,4 x 103 dan 4,5 x 103 menunjukkan perbedaan yang sangat nyata pada taraf uji 1%. Dari hasil Penelitian menunjukkan chitosan dari kulit udang bisa menjadi ?edible coating? untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan menambah daya awet produk perikanan.
PENGARUH PENAMBAHAN PGPR (PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA) DAN BUAH NANAS(ANANAS COMOSUS) TERHADAP SPESIFIKASI PUPUK ORGANIK CAIR RUMPUT LAUT EUCHEMA COTTONII (EFFECT OF ADDING PGPR (PLANT GROWTH PROMOTING RHIZOBACTERIA) AND PINEAPPLE (ANANAS COMOSUS) FOR SPECIFICATIONS OF ORGANIC LIQUID FERTILIZER EUCHEMA COTTONII) Indriyanti, Indriyanti; Dewi, Eko Nurcahya; Susanto, Eko
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 12, No 2 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.71 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.12.2.139-145

Abstract

 Euchema cottonii mengandung unsur mikro dan makro nutrien, serta zat pengatur tumbuh tanaman seperti auksin, giberelin, sitokinin, dan etilen sehingga sangat berpotensi sebagai pupuk organik penyubur tanaman. Penambahan buah nanas berfungsi sebagai sumber C, P, dan K pada ekstrak pupuk rumput laut cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bioaktivator PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria)dan buah nanas terhadap kandungan C-organik, nitrogen, fosfor, kalium, pH, suhu, bakteri patogen, dan organoleptik warna. Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah E. cottonii, PGPR, dan buah nanas.. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan kontrol (A), penambahan PGPR dan  buah nanas 40% (B), penambahan PGPR dan buah nanas 50% (C), dan penambahan PGPR dan  buah nanas 60% (C). Parameter yang diukur adalah C-organik, nitrogen, fosfor, kalium, pH, suhu, bakteri pathogen, dan oraganoleptik warna. Data parametrik dianalisa dengan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan buah nanas yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap kadar C-organik, fosfor, dan kalium (p<0,05), sedangkan nilai nitrogen tidak berbeda nyata. Perlakuan penambahan nanas 50% akan meningkatkan kandungan nitrogen dua kali lebih besar dari pada kontrol. Perlakuan terbaik yaitu pada penambahan PGPR dan nanas 60% dengan kandungan C, P, K berturut-turut adalah 7,02%, 3,44%, dan 3,41%. Euchema cottoniicontains elements ofmicroandmacronutrients, andplantgrowth regulatorssuch asauxin, gibberellin, cytokinin, andethyleneso ithasgreat potentialas anorganicfertilizer forfertilisingcrops. Addition A. comosusserves asa source of C, P, and Kin theliquid organic fertilizer. This study aimedtodetermine the effect ofbio-activatorPGPRandA. comosus on the content ofC-organic, nitrogen, phosphorus, potassium, pH, temperature, pathogens, and color. The materialusedin this studywereE.cottonii, PGPR, andA. comosus.This research wasexperimentallaboratoriesusing completely randomized designwith 4 differenttreatments and 3replications, namely control (A), addition ofPGPR and A. comosus 40%(B), addition of PGPR  and A. comosus 50% (C), and addition of PGPR and A. comosus 60% (D). Parametersmeasured wereC-organic, nitrogen, phosphorus, potassium, pH, temperature, pathogens, and color organoleptic. Parametric datawere analyzed byANOVA. The results showedthat theaddition ofPGPRandA.comosussignificantly affect(P<0.05) to thelevels ofc-organic, phosphoruslevels, potassium levels, but not nitrogen levels. Addition of pineapple 50% will increase the nitrogen content twice higher than control. The best treatment is addition of PGPR and pineapple 60% with the content of C, P, K respectively 7.02%, 3.44% and 3.41%. 
Perilaku Individu dalam Pelayanan Izin mendirikan Bangunan Di Dinas Perumahan dan Permukiman Kabupaten Kepulauan Sangihe Susanto, Eko
JURNAL EKSEKUTIF Vol 1, No 3 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam suatu organisasi terdapat beberapa individu dalam menjalankan tugas-tugasnya demi sebuah tujuan organisasi. Aparatur merupakan unsur pelaksana penyelenggaraan pemerintahan sebagai abdi negara sudah selayaknya memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat yang ingin membutuhkan. Perilaku individu adakalanya sangat erat dengan perilaku menyimpang sesuai apa yang diharapkannya. Dan adakalanya perilaku individu baik serta konsisten dalam pemberian pelayanan. Sebagaimana Prinsip Pelayanan Publik sesuai dengan KepMenPan No. 63/Kep/M.Pan/7/2003  yaitu meliputi kesederhanaan, kejelasan, kepastian waktu, akurasi, keamanan, tanggung jawab, kelengkapan sarana dan prasarana, kemudahan akses, kedisiplinan dan kenyamanan. Pelayanan izin mendirikan bangunan adalah salah satu pelayanan yang bertujuan untuk  meningkatkan nilai ekonomis bangunan dan mendapat perlindungan hukum. Key word: Perilaku Individu, Pelayanan Publik
PROFIL RUMPUT LAUT CAULERPA RACEMOSA DAN GRACILARIA VERRUCOSA SEBAGAI EDIBLE FOOD (CAULERPA RACEMOSA AND GRACILARIA VERRUCOSA PROFILE AS EDIBLE FOODS) Ma?ruf, Widodo Farid; Ibrahim, Ratna; Dewi, Eko Nurcahya; Susanto, Eko; Amalia, Ulfah
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 9, No 1 (2013): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.067 KB) | DOI: 10.14710/ijfst.9.1.68-74

Abstract

Masyarakat terutama di pesisir pantai Jepara banyak mengkonsumsi Caulerpa racemosa dan Gracillaria verrucosa sebagai sayuran, namun tidak banyak diketahui tentang profil komposisi kimia, serat dan makromineral. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi kimia, serat, dan makromineral pada Caulerpa racemosa dan Gracilaria verrucosa yang tumbuh di perairan Jepara. C. racemosa diambil dari perairan Jepara dan G. verrucosa diambil dari dua jenis tambak yaitu tambak bersubstrat lumpur (a) dan pasir (b). Hasil analisa menunjukkan bahwa  karbohidrat merupakan nutrisi yang dominan, diikuti kadar abu G. verrucosa dan protein pada C. racemossa. Jumlah mineral C. racemosa berturut-turut Na > Ca > K. Sedangkan pada G. verrucosaa jumlah mineral berturut-turut K >Na >Ca dan G. verrucosab jumlah mineral berturut-turut Na >K >Ca. L-Threonine dan L-Glysine merupakan jumlah asam amino terbesar dalam rumput laut sedangkan L-asparagine tidak terdeteksi pada semua jenis rumput laut. Dilihat dari kandungan nutrisi dan mineral, kedua jenis rumput laut tersebut dapat dijadikan alternatif sebagai bahan  bahan pangan. Kata kunci : Caulerpa racemossa, gracilaria verrucosa, nutrisi, edible foodJepara community consume Caulerpa racemossa and Gracillaria verrucosa but there is no much information about their chemical composition, fiber, and macro-minerals. This research was aimed to knowing chemical composition, fiber and macro-mineral in C. racemossa and G. verrucosa which grow in Jepara water area. C. racemossa was taken from Jepara water and G. verrucosa was taken from mud substrat (a) dan sand substrat (b). Carbohidrate was the dominant compound in all seaweed, ash dominant compounds in G. verrucosa and protein dominant compound C. racemossa, repectivelly. Minerals content in C. racemosaare was Na > Ca > K, respectivelly. In addition, minerals content in G. verrucosaaare K >Na >Ca and G. Verrucosa (b) are Na >K >Ca, repectivelly. L-Threonine and L-Glysine were the dominant amino acids in all seaweeds, whereas L-asparagine was not detected in all seaweeds. According to nutrition and mineral content in all seaweeds, they are able to use as an  alternative food ingredients. Key words : Caulerpa racemossa, gracilaria verrucosa, nutrisi, edible food