Articles

PELILINAN EFEKTIF MEMPERPANJANG MASA SIMPAN BUAH JAMBU BIJI (PSIDIUM GUAJAVA L.) ‘KRISTAL’ Susanto, Slamet; Inkorisa, Delys; Hermansyah, Dadang
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.6 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.19-26

Abstract

ABSTRACT?Kristal? guava fruit can easily be deteriorated during storage. The objective of this experiment was to study the effect of the waxing on the shelflife and quality of the ?Kristal? guava fruit. Experiment was conducted at the Postharvest Laboratory of Departemen of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University from February to May 2016. The experiment was designed using completely randomized design (CRD) with single factor consisted of 5 treatments, i.e., 0% of beewax (control), 2% of beewax, 4% of beewax, 6% of beewax and 8% of beeswax. The results showed that beewax coating suppressed weight loss and softness of fruit compared to the control fruit during storage period. Beewax coating did not significantly affect chemical quality such as soluble solids content, titratable acidity and vitamin C. The beeswax coating with 2% and 4% were able to extend shelflife of ?Kristal? guava fruit 9 days longer as compared to the control. Keywords: ?Krístal?, performance, quality, waxing, weight loss ABSTRAK Buah jambu ?Kristal? dapat dengan mudah rusak selama penyimpanan. Tujuan percobaan ini yaitu mempelajari pengaruh pelilinan terhadap daya simpan dan kualitas buah jambu ?Kristal?. Percobaan dilakukan di Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dari bulan Februari sampai Mei 2016. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan faktor tunggal terdiri atas 5 perlakuan, yaitu 0% dari lilin lebah (kontrol), 2% dari lilin lebah, 4% lilin lebah, 6% lilin lebah dan 8% lilin lebah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelapisan lilin lebah menekan susut bobot dan kelunakan buah dibandingkan dengan kontrol selama masa penyimpanan. Pelapisan lilin lebah tidak secara nyata mempengaruhi kualitas kimia buah seperti kandungan padatan terlarut, keasaman titrasi dan vitamin C. Pelapisan lilin lebah dengan konsentrasi 2% dan 4% mampu memperpanjang masa simpan buah jambu ?Kristal? 9 hari lebih lama dibandingkan dengan kontrol. Kata Kunci: kualitas, ?Kristal?, pelilinan, penampilan, susut bobot
PERBAIKAN KUALITAS BUAH JAMBU BIJI (PSIDIUM GUAJAVA L.) KULTIVAR KRISTAL DENGAN BERBAGAI WARNA DAN BAHAN PEMBERONGSONG Romalasari, Atika; Susanto, Slamet; Melati, Maya; Junaedi, Ahmad
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 3 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.451 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.3.155-161

Abstract

ABSTRACT Kristal guava is one of the popular guava cultivars nowadays. The guava has white flesh and not-perfectly-round shaped that resembles a crystal and seedless. However, during the growth period fruit undergoes several physical and chemical changes and susceptible to insect infestation and other damage, all of which can reduce their commercial value and thus cause significant yield and economic losses. The aim of this research was to evaluate the influence of different color and bagging materials on guava fruit development and quality. The research was conducted at farmer farm located in Cikarawang Dramaga, from November 2013 to April 2014. This research was arranged in a randomized block design with one factor, consisted of ten treatments and five replications. The treatments were red plastic, yellow plastic, green plastic, blue plastic, sponnet with red plastic, sponnet with yellow plastic, sponnet with green plastic, sponnet with blue plastic, sponnet with transparent plastic and unbagged. Fruit quality assesment was conducted in Postharvest Laboratory of Agronomy and Horticulture Department, Bogor Agricultural University and Center for Tropical Horticultural Studies. The result showed that bagging improved fruit size, external quality and accelerated fruit maturity. Sponnet with red plastic bagging resulted in the biggest fruit at harvest. Sponnet with yellow or with red plastic baggings were able to maintain fruit peel smoothness up to 85%. Sponnet and plastic bagging resulted in better external quality than bagging with plastic only. Bagging did not show any effect on internal fruit quality. Keywords: colored bag, guava cv. Kristal, soluble solids content, sponnet, titratable acidityABSTRAK Jambu ?Kristal? merupakan salah satu kultivar jambu biji yang sedang populer saat ini. Jambu Kristal memiliki daging buah berwarna putih, berbentuk bulat tidak beraturan serta berbiji sedikit. Selama pertumbuhan dan perkembangan buah mengalami berbagai perubahan fisik dan kimia dan rentan terhadap serangan hama, yang secara keseluruhan dapat mengurangi nilai komersial sehingga menyebabkan kehilangan yang signifikan dari segi hasil panen dan kerugian ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh warna dan bahan pemberongsong terhadap perbaikan kualitas buah jambu ?Kristal?. Penelitian dilaksanakan pada November 2013 sampai April 2014, di kebun petani yang berlokasi di Cikarawang, Dramaga, Bogor. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan satu faktor yaitu pemberongsongan buah, dengan sepuluh taraf dan lima ulangan. Perlakuan pemberonsongan menggunakan plastik merah, plastik kuning, plastik hijau, plastik biru, sponnet dan plastik merah, sponnet dan plastik kuning, sponnet dan plastik hijau, sponnet dan plastik biru, sponnet dan plastik bening serta tanpa pemberongsong. Pengujian kualitas buah dilakukan di Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dan Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberongsongan memperbaiki pertumbuhan, kualitas eksternal dan mempercepat pematangan buah. Pemberongsongan sponnet dan plastik merah menghasilkan buah dengan ukuran terbesar pada saat panen. Pemberongsongan menggunakan sponnet dengan plastik kuning atau merah mampu menjaga kemulusan buah hingga 85%. Pemberongsongan sponnet dan plastik menghasilkan kualitas eksternal yang cenderung lebih baik dibandingkan pemberongsongan hanya dengan plastik. Pembrongsongan tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas internal buah.Kata kunci: asam tertitrasi total, jambu ?Kristal?, sponet, padatan terlarut total, pemberongsong berwarna
PERBAIKAN KERAGAAN BIBIT JERUK PAMELO ‘NAMBANGAN’ DENGAN STRANGULASI Fikrinda, Wahyu; Susanto, Slamet
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 8 No. 1 (2017): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.654 KB) | DOI: 10.29244/jhi.8.1.13-21

Abstract

ABSTRACTPummelo seedling has branches that grow irregularly, stright up, and has less branch. Attempt should be done to stimulate the formation of new branches. The objective of the research was to study the influence of single and double strangulation for stimulation of vegetative growth in order to improve canopy architecture of pummelo seedling. The experiment was conducted from March to September 2011 in green house of Cikabayan Experimental Station IPB, Bogor. Biochemical analysis was done in Laboratory of BALITRO, Bogor and Post-Harvest Laboratory, IPB. The experiment was conducted in Completely Randomized Block Design one factor consisting of 5 treatment: control, single strangulation, double strangulation with distance between wire 5 cm, 10 cm and 15 cm. The experiment consisted of 5 replicates. There were 25 experimental units. Each experimental unit contained 2 plants and total plants were 50 plants. Strangulation treatment was done in May 19th and wires were removed in August 10th 2011. The results of this research showed that single and double strangulation improved numbers of branch, the lenghth of shoots per plant, numbers of leaf, numbers of scion diameter, volume of canopies andstarch content in leaf. Double strangulation with distance between 2 wires 15 cm had open canopy and the highest volume of canopies with good canopy appearance at 19 week after application. Strangulation did not cause permanent damage of the sytem tissue and only took two months to recover.Key words: branch, canopy appearance, starch, volume of canopiesABSTRAKJeruk pamelo memiliki cabang yang tumbuh tidak beraturan, cenderung lurus ke atas dan bercabang sedikit. Upaya untuk merangsang pembentukan cabang baru adalah dengan strangulasi. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh strangulasi tunggal dan ganda dalam merangsang pertumbuhan vegetatif untuk perbaikan keragaan bibit jeruk pamelo. Percobaan dilaksanakan bulan Maret sampai September 2011 di greenhouse Kebun Percobaan Cikabayan IPB, Bogor. Analisis biokimia dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (BALITRO), Bogor dan Laboratorium Pasca Panen, IPB. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor sebanyak 5 perlakuan yaitu tanpa strangulasi, strangulasi tunggal dengan ketinggian 5 cm dari mata tempel, strangulasi ganda dengan jarak antar kawat 5 cm, 10 cm dan 15 cm. Percobaan terdiri atas 5 ulangan dan setiap satu satuan percobaan terdiri atas 2 tanaman sehingga total terdapat 50 tanaman. Aplikasi strangulasi dilaksanakan pada 19 Mei dan kawat dilepas pada 10 Agustus 2011. Hasil penelitian menunjukkan strangulasi tunggal dangan meningkatkan jumlah cabang, panjang cabang per tanaman, jumlah daun, diameter batang, volume tajuk, dan kandungan karbohidrat daun. Aplikasi strangulasi ganda memiliki tajuk terbuka dan volume tajuk terbesar dengan keragaan kanopi yang baik pada 19 minggu setelah perlakuan. Strangulasi tidak memberikan efek merusak secara permanen dan waktu pulihnya hanya dua bulanpada jaringan batang tanaman.Kata kunci: cabang, karbohidrat, keragaan tajuk, volume kanopi
PERBAIKAN PEMBUNGAAN PAMELO MELALUI APLIKASI STRANGULASI DAN ZAT PEMECAH DORMANSI Susanto, Slamet; Melati, Maya; Sugeru, Herik
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.567 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.3.139-145

Abstract

ABSTRACTPummelo productivity is still low, therefore efforts should be made to increase its flowering and production. The objective of study was to determine the effectiveness of strangulation combined with the application of breaking dormancy substances to improve flowering of pummelo. The experiment was conducted in January to November 2015, at the Cikabayan Experimental Research Station, IPB. The carbohydrate and nitrogen analysis was done in laboratory of Postharvest Agriculture Research Institute, Bogor. Three-year-old pummelo grown in field was subjected for this research. Experiment used a completely randomized design (CRD) with two factors. The first factor was treatment to stimulate flowering, consisted of 3 levels i.e. single strangulation, double strangulation and control, and the second factor was the use of dormancy breaking substances, consisted of 3 types i.e. KNO3, Ethepon and BAP. Strangulation was performed by pressing the wire with a diameter of 2.0 mm into stem as deep as the diameter of the wire. Strangulation was done simultaneously and then released after 3 months. Dormancy breaking substance was applied immediately after releasing the wire for strangulation with the concentration of 200 ppm KNO3, 100 ppm Ethepon or 100 ppm BA. Treatments were replicated 4 times. The results showed that single and double strangulation treatments for 3 months were an effective way to induce flowering of young pummelo trees. Double strangulation produced more flowers as compared to single strangulation.Increased carbohydrate content and C/N ratio in leaves were observed on flower induced trees. Strangulation treatment for 3 months can increase flowering of young pummelo trees. Application of dormancy breaking substances did not have any effect on flowering induction in pummelo.Keywords: carbohydrate content, dormancy breaking substance, flower induction, pummelo, strangulationABSTRAKProduktivitas pamelo masih rendah sehingga perlu upaya peningkatan pembungaan dan produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas strangulasi yang dikombinasikan dengan aplikasi zat pemecah dormansi dalam meningkatkan pembungaan jeruk pamelo. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Nopember 2015, bertempat di Kebun Percobaan IPB Cikabayan. Analisis karbohidrat dan nitrogen dilakukan di laboratorium BB Pasca Panen, Bogor. Percobaan menggunakan tanaman jeruk pamelo ?Nambangan? berumur 3 tahun dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor. Sebagai faktor pertama yaitu perlakuan untuk menstimulasi pembungaan, terdiri atas 3 taraf perlakuan yaitu perlakuan strangulasi tunggal, strangulasi ganda dan kontrol, dan sebagai faktor kedua adalah penggunaan zat pemecah dormansi terdiri atas 3 jenis yaitu KNO3, Ethepon dan BAP. Masing-masing perlakuan diulang 4 kali sehingga terdapat 36 unit percobaan. Strangulasi dilaksanakan dengan melilitkan kawat dengan diameter 2.0 mm pada batang dengan menekan kawat ke batang sedalam diameter kawat tersebut. Strangulasi dilakukan serentak pada batang, strangulasi dilepas setelah 3 bulan kemudian. Zat pemecah dormansi diaplikasikan segera setelah pelepasan kawat strangulasi dengan konsentrasi masing-masing 200 ppm untuk KNO3, 100 ppm untuk Ethepon atau 100 ppm untuk BAP. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan strangulasi selama 3 bulan merupakan cara efektif menginduksi pembungaan tanaman jeruk pamelo. Perlakuan strangulasi ganda menghasilkan bunga lebih banyak dibandingkan dengan strangulasi tunggal. Tanaman yang telah terinduksi menunjukkan tingginya kandungan karbohidrat pada tajuk tanaman sehingga meningkatkan rasio C/N. Perlakuan zat pemecah dormansi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pembungaan jeruk pamelo.Kata kunci: kandungan karbohidrat, pamelo, pembungaan, strangulasi, zat pemecah dormansi
EVALUASI KERAGAMAN GENETIK MUTAN HARAPAN GENERASI MV1 JERUK KEPROK SOE (CITRUS RETICULATA BLANCO) BERDASARKAN PENANDA MORFOLOGI DAN ISSR Husain, Indriati; Purwito, Agus; Husni, Ali; Mutaqin, Kikin H.; Susanto, Slamet
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 7 No. 2 (2016): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.675 KB) | DOI: 10.29244/jhi.7.2.102-110

Abstract

ABSTRACTMandarin?s SoE is national variety originated from Mount of Mutis, Sub District of SoE, of Timur Tengah Selatan (TTS) District, East Nusa Tenggara (NTT). The genetic diversity of citrus can be induced by gamma ray irradiation on embryogenic callus cells thus producing new mutants. Genetic diversity detection can be based on morphological and ISSR markers. The aim of this research was to obtain information on the genetic diversity on putative mutants mandarin SoE induced by gamma ray irradiation based on morphology and markers ISSR. ISSR markers used are ISSR 1, 4, 6 and 8. Analysis of morphological diversity produced a dendrogram with the level of similarity between individuals each irradiation dose 83-95% with 5-17% genetic distance. Dendrogram analysis based on the genetic diversity ISSR markers showed high levels of 51-100% similarity and genetic distance 0-49%. Individuals samples obtained from gamma irradiation, based both morphological and ISSR markers, was different from individual's genetic make up before irradiation.Keywords: cluster, gamma ray, genetic distance, genetic diversitys, similarity ABSTRAKJeruk keprok SoE adalah jeruk varietas unggul nasional yang berasal dari Pegunungan Mutis, Kecamatan SoE, Kabupaten Timur Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Keragaman genetik jeruk ini dapat diinduksi dengan iradiasi sinar gamma pada sel-sel kalus embriogenik untuk menghasilkan mutan yang solid. Deteksi keragaman genetik yang terbentuk dapat dilakukan secara morfologi maupun molekuler dengan marka ISSR. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai keragaman genetik yang terjadi pada mutan harapan jeruk keprok SoE hasil iradiasi sinar gamma berdasarkan morfologi dan marka ISSR. Marka ISSR yang digunakan adalah ISSR 1, 4, 6 dan 8 pada beberapa mutan harapan jeruk keprok SoE. Analisis keragaman secara morfologi menghasilkan dendrogram dengan tingkat kemiripan antar individu masing-masing dosis iradiasi 83-95% dengan jarak genetik 5-17%. Dendrogram analisis keragaman genetik berdasar marka ISSR memperlihatkan tingkat kemiripan 51-100% dan jarak genetik 0-49%. Individu-individu sampel yang diuji hasil iradiasi gamma, baik secara morfologi dan marka ISSR, telah memiliki susunan genetik yang berbeda dari susunan genetik individu sebelum diiradiasi.Kata kunci: grup, jarak genetik, kemiripan, keragaman, sinar gamma
PERBANDINGAN PERKEMBANGAN DAN KUALITAS BUAH TIGA AKSESI JERUK PAMELO (CITRUS MAXIMA (BURM.) MERR.) Hermansyah, Dadang; Susanto, Slamet
Buletin Agrohorti Vol. 6 No. 2 (2018): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.658 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v6i2.18809

Abstract

Pamelo (Citrus maxima (Burn.) Merr.) telah dibudidayakan di berbagai wilayah Indonesia, namun pengembangan pamelo di Indonesia masih sangat terbatas. Upaya pengembangan pamelo diarahkan pada ketersediaan kultivar unggul. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh informasi perbedaan perkembangan dan kualitas buah pada tiga aksesi jeruk pamelo. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikabayan IPB dari bulan Desember 2015 sampai Juli 2016. Percobaan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan satu faktor yaitu aksesi (aksesi 1, aksesi 2, dan aksesi 3) yang terdiri atas 3 ulangan. Hasil penelitian menujukkan bahwa perbedaan diameter dari aksesi 1 secara signifikan lebih tinggi dari aksesi lainnya pada akhir pengamatan. Semua aksesi menunjukkan bahwa diameter buah terus meningkat di perkembangan awal namun perkembangan buah semakin lambat pada periode pematangan. Aksesi 1 juga menunjukkan hasil nyata lebih tinggi pada volume dan bobot buah dibanding aksesi lainnya namun pada kelunakan buah aksesi 1 berbeda nyata lebih rendah dibanding aksesi 3. Aksesi 2 merupakan aksesi dengan tebal kulit buah paling tinggi dibanding aksesi 1 dan 3. Kandungan jus buah pada aksesi 1 berbeda nyata lebih tinggi dibanding aksesi 3 namun tidak berbeda dengan aksesi 2. Kandungan asam/ATT pada aksesi 2 paling tinggi dibanding aksesi lainnya. Aksesi 1 memiliki rasio PTT/ATT lebih tinggi dibanding aksesi 2 dan 3. Perbedaan aksesi tidak menunjukkan hasil berbeda nyata pada bagian dapat dimakan, pigmen klorofil kulit buah, dan kandungan gula/PTT. Aksesi 1 adalah aksesi terbaik berdasarkan kriteria ukuran buah, kandungan jus, dan rasa buah yang memiliki kadar asam paling rendah.
THE FRUIT CHARACTERISTICS OF AMBON FOREST NUTMEG (MYRISTICA FATUA HOUTT) AND BANDA NUTMEG (MYRISTICA FRAGRANS HOUTT) Karmanah, Karmanah; Susanto, Slamet; Widodo, Winarso Drajad; Santosa, Edi
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 25 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18343/jipi.25.2.292

Abstract

Ambon Forest nutmeg (Myristica fatua Houtt) is one of the endemic plants in Indonesia. The morphological characteristic of Ambon Forest nutmeg is slightly different from that of Banda nutmeg (Myristica fragrans Houtt) i.e., it is not used as spices, but its oil is used as a lamp oil. This study aimed to determine the chemical components and essential oils of Ambon Forest nutmeg derived from its seeds, mace, and flesh compared to Banda nutmeg. Extractions of essential oils were performed using a steam hydro-distillation. Analysis of chemical compositions and contents of essential oil was carried out using a Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GCMS) instrument and SNI 06-2388-2006 method.  The essential oil contents in Ambon Forest nutmeg were relatively low, i.e., 0.63% in the seeds, 0.30% in the mace, and 0.04% in the flesh compared to Banda nutmeg i.e., 1% in the seeds, 40% in the mace, and 3.5% in the fruit flesh. The chemical compositions of essential oils showed that M. fatua Houtt contained 12 compounds in the seeds, 24 compounds in the mace, and 17 compounds in the fruit flesh, while for Banda Nutmeg, the contents of essential oils were  found 18 compounds in the seeds, 10 compounds in the mace, and 15 compounds in the fruit flesh. M. fatua Houtt contained the highest Copaene, i.e., 28.41% in the seeds, 10.42% in the mace, and 23.33% in the fruit flesh. Myristicin, as the main marker compound of nutmeg oil, was also found in Ambon Forest nutmeg i.e., 1.3% in the seeds, 1.16% in the mace, and 5.19% in the fruit flesh. However, these results showed lower contents when compared to Banda nutmeg with Myristicin contents of 8.72% in the seeds, 10.14% in the mace, and 10.46% in the fruit flesh. Keywords: Essential oil, Myristica fatua Houtt, Myristica fragrans Houtt, Nutmeg
KARAKTERISASI DAN DAYA SIMPAN EMPAT AKSESI BUAH PISANG TANDUK (MUSA .SP AAB) Nurfazizah, Retty; Susanto, Slamet; Drajad Widodo, Winarso
Buletin Agrohorti Vol. 7 No. 3 (2019): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v7i3.30202

Abstract

Indonesia memiliki berbagai jenis pisang tanduk dengan karakteristik yang berbeda. Informasi mengenai perbedaan karakteristik dan daya simpan beberapa jenis pisang tanduk masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik dan daya simpan empat aksesi pisang tanduk. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor, Jawa Barat pada bulan Maret 2017 hingga Juni 2017. Bahan utama yang digunakan yaitu 4 aksesi pisang tanduk yang berada di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu aksesi. Faktor aksesi terdiri atas 4 aksesi dan 4 ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aksesi memberikan pengaruh nyata terhadap semua karakter yang diamati (bobot buah, panjang buah, diameter buah, ketebalan kulit, bobot daging, bobot kulit, kelunakan, BDD, PTT dan ATT) kecuali rasio antara PTT/ATT. Aksesi 1 dan 3 memiliki kualitas fisik (bobot buah, panjang, diameter dan ketebalan kulit) terbaik. Kualitas kimia terbaik terdapat pada Aksesi 3. Susut bobot Aksesi 1 dan 3 merupakan susut bobot terendah dibandingkan Aksesi lainnya. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan pada semua aksesi tidak aktif. Umur simpan pisang berkisar antara 15 hari sampai dengan hari.
BUDI DAYA BUAH NAGA PUTIH (HYLOCEREUS UNDATUS) DI SLEMAN, YOGYAKARTA : PANEN DAN PASCAPANEN Kristriandiny, Oktiadewi; Susanto, Slamet
Buletin Agrohorti Vol. 4 No. 1 (2016): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.094 KB) | DOI: 10.29244/agrob.4.1.1-8

Abstract

Aspek panen dan pascapanen buah naga putih penting untuk diketahui. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Sabila Farm, Sleman, Yogyakarta pada bulan Februari?Juni 2013. Hasil menunjukkan bahwa budi daya buah naga putih yang diterapkan di Sabila Farm secara keseluruhan sudah cukup baik sehingga dapat menghasilkan mutu buah yang mampu bersaing dengan perusahaan lain. Panen tidak dilaksanakan secara serempak setiap bulan, tetapi berdasarkan pesanan konsumen dan keperluan agrowisata. Pemanenan buah naga putih oleh tenaga kerja dilakukan secara manual sesuai dengan karakteristik umur panen. Tenaga kerja panen memiliki keterampilan yang cukup baik sehingga kerusakan hasil panen akibat kerusakan mekanis jarang terjadi. Kerusakan hasil panen disebabkan oleh hama burung dan ayam. Berdasarkan uji korelasi dan regresi, produktivitas dan jumlah bunga dipengaruhi oleh curah hujan dua bulan sebelumnya. Pengelolaan pascapanen buah naga putih di Sabila Farm secara keseluruhan sudah cukup baik, tetapi grading dan pengemasan masih perlu perbaikan.
PERBANYAKAN VEGETATIF TANAMAN JARAK PAGAR (JATROPHA CURCAS L.) DENGAN STEK BATANG: PENGARUH PANJANG DAN DIAMETER STEK Santoso, Bambang Budi; Hasnam, ,; Hariyadi, ,; Susanto, Slamet; Purwoko, Bambang Sapta
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 36 No. 3 (2008): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.036 KB) | DOI: 10.24831/jai.v36i3.1385

Abstract

Since physic nut (Jatropha curcas L.) is heterozygous, sexual propagation results in great genotypic and phenotypic variability. Development of efficient techniques for asexual propagation would benefit the nursery industry as this would lead to selection and production of particular clones with desirable characteristics. Therefore, two following studies were conducted from September until December 2007.  The objective was develop a protocol for vegetative propagation of physic nut by stem cutting in different size of cutting. The first experiment was dealt with stem cutting length (20 cm, 25 cm, and 30 cm) at the same size of diameter (2.5-3.0 cm), and the second experiment was dealt with diameter of stem cutting (3 cm, 2.5-2.9 cm, 2.0-2.4 cm, and 1.5-1.9 cm) at the same size of length (30 cm). Each of experiment was designed in Completely Randomized Design with three replications. Each experimental unit consisted of 25 seedlings. The result showed that cutting growth varied depending on length and diameter of stem cutting. However, better seedling growth and better survival of young plant of physic nut can be obtained from stem cutting with 20-30 cm in length and stem cutting with 2.0-2.9 cm in diameter.   Key words: cutting diameter, cutting length, Jatropha, survival, transplanting
Co-Authors , Hariyadi , Hasnam , Mukhlas , Sakhidin A. S. Abidin AGUS PURWITO AHMAD JUNAEDI Ahmad S. Abidin Aji, Titistyas Gusti Ali Husni Amin Rejo Anas Dinurrohman Susila Arifah Rahayu Asniwita Asniwita Azis, Sandra Arifin Bambang B. Santoso Bambang Budi Santoso Bambang Pramudya Bambang S . Purwoko Bambang S. Purwoko Bambang S. Purwoko, Bambang Bambang Sapta Purwoko Bhayu Hartanti Darda Efendi DEWI SUKMA DJUMALI DJUMALI, DJUMALI Edi Minaji Pribadi Edi Santosa Erniawati Diningsih GEDE SUASTIKA Hadi K. Purwadaria Hariyadi Hariyadi Hariyadi3, , Heni Purnamawati Herik Sugeru Hermansyah, Dadang Hermansyah, Dadang Hilda Susanti Hulu, Versi Putra Jaya I Wayan Budiastra Indriati Husain Inkorisa, Delys Iswari S Dewi Iswari S. Dewi Iswari S. Dewi, Iswari Iswari Saraswati Dewi Karmanah, Karmanah Kartika Ning Tyas Ketty Suketi Kikin H. Mutaqin, Kikin H. Kristriandiny, Oktiadewi Kristriandiny, Oktiadewi Kudang B Seminar Leo Mualim Lia Rachmawati Maya Dewi Sulistyningrum Maya Melati Moeljarno Djojomartono MOHAMMAD CHOLID, MOHAMMAD Muhammad Syukur Muhammad Thamrin Nazaruddin, Yul Y Neni Musyarofah Ni'am, Moh Nailun Nurfazizah, Retty Nurul Khumaida Parameswara, Yosephine Sista Parameswara, Yosephine Sista Pratama, Evan Yonda Pratama, Evan Yonda Priherdityo, Endro Priherdityo, Endro R. Poerwanto Resti Putri Septyani ROEDHY POERWANTO Roedy Poerwanto Rohmatus Sa?adah, Siti Aisyah Romalasari, Atika Rustani, Dona Rustani, Dona Sakhidin Sakhidin Sandra A. Aziz SANDRA ARIFIN AZIZ Santosa Santosa Setyono, , Sintho Wahyuning Ardie SRI HENDRASTUTI HIDAYAT Sri Minten SRIANI SUJIPRIHATI SUDIRMAN YAHYA Suroso Suroso Sutrisno sutrisno Suyanto Kartosoewarno Titistyas Gusti Aji, Titistyas TRI ASMIRA DAMAYANTI Tri Muji Ermayanti Ummu Kalsum Wahyu Fikrinda, Wahyu Winarso Drajad Widodo Winarso Drajad Widodo, Winarso Wulandari, Dyah Retno Wulandari, Dyah Retno YUDI CHADIRIN