Articles

Found 38 Documents
Search

TEKNIK PENGINDERAAN JAUH UNTUK PEMILIHAN LAHAN PERTANIAN PADI SAWAH BERKELANJUTAN Avicienna, Muya; Tjahjono, Boedi; Sutandi, Atang
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 14 No 2 (2012): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1102.956 KB) | DOI: 10.29244/jitl.14.2.56-65

Abstract

Konversi lahan pertanian ke lahan non-pertanian kini telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, oleh karenanya perlindungan terhadap lahan pertanian yang produktif sangat diperlukan (UU No 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan atau PLPPB). Namun bagaimanakah teknis pelaksanaan yang efektif dan efisien untuk dapat menentukan kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LPPB)? Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model (metode dan teknik) seleksi dan zonasi LPPB, khususnya untuk lahan sawah agar menjadi LPPB. Studi ini mengambil daerah di Kabupaten Karawang sebagai salah satu kabupaten lumbung padi nasional. Metode yang dipakai merupakan perpaduan antara teknik penginderaan jauh, sistem informasi geografis, dan analisis statistik Hayashi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LPPB untuk Kabupaten Karawang dapat diformulasikan sebagai lahan pertanian sawah beririgasi (teknis, semi teknis, sederhana), memiliki produktivitas lebih dari 4.5 ton ha-1, memiliki nilai Benefit Cost Ratio (BCR) > 1.497, dan memiliki Luasan Kesatuan Hamparan Lahan Sawah (LKHLs) > 10 ha. Data sistem irigasi dan LKHLs dapat diidentifikasi dari citra ALOS AVNIR-2, adapun data produktivitas diduga dari nilai Enhanced Vegetation Index (EVI) yang diturunkan dari citra MODIS Terra dan Aqua (time series 2005-2009). Nilai EVI pada periode picpoint dan nilai Produktivitas Lahan Sawah dari hasil survei lapangan memiliki korelasi yang positif dan diperole persamaan Prod. = 2.9785 + 6.0751 x nilai EVI. Nilai BCR diperoleh dari perhitungan Produktivitas dan Indeks Penanaman (didapat dari citra MODIS) yang dikombinasikan dengan Biaya Produksi Lahan Sawah dari hasil survei lapangan. Teknik zonasi LPPB selanjutnya dapat dibangun dengan cara di atas, yaitu melalui identifikasi data penginderaan jauh, survei lapangan, pengembangan kriteria sesuai kondisi lapangan, dan penentuan kawasan LPPB melalui sistem informasi geografis. Berdasarkan metode ini Kawasan LPPB di Kabupaten Karawang dapat dibedakan menjadi lima, yaitu LPPB1, LPPB2, LPPB3, LPPB4, dan cadangan LPPB. Yang pertama mencerminkan prioritas yang tinggi dan yang terakhir mencerminkan yang rendah.
PEMETAAN LAHAN SAWAH DAN POTENSINYA UNTUK PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN PASAMAN BARAT, SUMATERA BARAT Zulfikar, Muhammad; Barus, Baba; Sutandi, Atang
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 1 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.581 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.1.20-28

Abstract

Kabupaten Pasaman Barat terbentuk dari pemekaran Kabupaten Pasaman melalui Keputusan Pemerintah No.38 / 2003 tanggal 18 Desember 2003. Sejak tahun 1990 masalah yang dihadapi oleh Kabupaten Pasaman adalah konversi lahan pertanian ke penggunaan lain yang sangat cepat, terutama lahan sawah menjadi perkebunan kelapa sawit. Pengesahan UU No 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B), diharapkan dapat mengendalikan laju perubahan penggunaan lahan pertanian ke penggunaan lain. Peraturan ini masih baru, sehingga implementasi peraturan ini belum banyak dilakukan, termasuk perencanaan dan penetapan wilayah. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap faktor utama yang mempengaruhi penentuan lahan sawah berkelanjutan, (2) untuk menganalisis proyeksi kebutuhan luas sawah di tingkat kabupaten, dan (3) untuk menentukan area sawah berkelanjutan di wilayah penelitian berdasarkan batas wilayah kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor fisik yaitu ketersediaan aktual dan potensial (kesesuaian lahan), diutamakan dalam penentuan sawah yang akan dipertahankan. Ketersediaan lahan sawah eksisting di Kabupaten Pasaman Barat masih cukup untuk mencukupi kebutuhan pangan lokal selama kurang lebih 20 tahun yang akan datang. Terdapat lahan sawah (aktual) seluas 27,317 ha yang cocok untuk dilindungi di Kecamatan Barru, dengan penggunaan lahan eksisting berupa sawah irigasi (budidaya). Selain itu, terdapat lahan potensial untuk dilindungi seluas 9,871 ha, dengan penggunaan lahan eksisting berupa semak-semak, rawa dan rawa lebak. Lahan yang diusulkan di lindungi dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu: area yang surplus produksi, adanya irigasi, dan penerimaan oleh masyarakat. Lahan yang mencakup ketiga kriteria tersebut terdapat seluas 18,670 ha yang terdistribusi di beberapa kecamatan.
KOMBINASI PUPUK ORGANIK HAYATI DAN PUPUK FOSFAT UNTUK PENINGKATAN KERAGAAN BIBIT KELAPA SAWIT (ELAEIS GUINEENSIS JACQ) Sodiq, Abdul Hasyim; Anas, Iswandi; Santosa, Dwi Andreas; Sutandi, Atang
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 16 No 1 (2014): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.872 KB) | DOI: 10.29244/jitl.16.1.38-44

Abstract

Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik hayati diperkaya mikrob tanah terhadap keragaan tanaman, populasi total mikrob dan populasi mikrob pelarut fosfat di pembibitan kelapa sawit. Persiapan media tanam dilakukan dengan mengambil lapisan tanah atas (topsoil) dengan kedalaman maksimal 25 cm kemudian tanah tersebut dikering anginkan dan dimasukkan ke dalam setiap kantong plastik media tanam dengan volume masing-masing 5 kg. Pengukuran parameter keragaan tanaman bibit kelapa sawit dilakukan dari minggu ke-4 setelah tanam (MST) hingga ke-22 MST di rumah kaca kebun percobaan Cikabayan, Darmaga. Percobaan uji efektivitas mikrob pelarut fosfat (MPF) pada pupuk organik hayati menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari dua faktor dengan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan pengaruh penggunaan pupuk batuan fosfat terhadap tinggi tanaman memberikan hasil yang lebih baik dibandingan penggunaan SP-36 dan analisa statistik terhadap pengaruh tunggal pupuk organik hayati, pengaruh pupuk organik terhadap populasi total mikrob menunjukkan hasil terbaik.
OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH BLOTONG UNTUK PENINGKATAN SERAPAN HARA TANAMAN PADA FORMULASI PRODUKSI PUPUK MAJEMUK GRANUL Kasmadi, Kasmadi; Nugroho, Budi; Sutandi, Atang; Anwar, Syaiful
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Program Studi Ilmu Lingkungan,Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.1.1-7

Abstract

Blotong merupakan limbah yang paling dianggap mencemari lingkungan dan menjadi masalah bagi pabrik gula dan masyarakat. Terdapat pula anggapan blotong merupakan limbah yang tidak bernilai bahkan dianggap sebagai limbah B3. Blotong salah satu bahan organik yang ketersediannya melimpah dan belum dimanfaatkan dengan optimal. Blotong mangandung hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman, sehingga sangat bagus untuk meningkatkan komposisi kandungan hara pada pupuk majemuk granul. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini yaitu: mengkaji pengaruh penambahan blotong pada proses produksi pupuk majemuk granul terhadap serapan hara tanaman. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu granulasi pembuatan pupuk dan pengujian serapan hara tanaman. Tahap granulasi dilakukan menggunakan metode granulasi basah pada formula pupuk majemuk 15-15-15+5S dengan variasi filler blotong (0%, 60%, 70%, 80%, 90% dan 100%) dan sumber K (KCl dan SOP). Sedangkan uji serapan hara dilakukan untuk mengetahui efektifitas pupuk dengan menggunakan tanaman uji jagung manis. Uji tahap kedua dilakukan dengan melakukan pengukuran tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang pada 2MST sampai 8 MST serta pengukuran hasil produksi dan serapan hara N, P, K tanaman. Hasil penelitian diperoleh, penambahan filler blotong 60%-90% pada perlakuan menggunakan SOP dapat meningkatkan serapan N sebesar 84,93-384,18 mg, serapan P sebesar 2,65-11,62 mg, dan serapan K sebesar 25,04-82,38 mg. Sedangkan perlakuan menggunaan KCl memberikan pengaruh positif pada penambahan filler blotong 70%, dengan peningkatan serapan hara N, P dan K berturut-turut 45,62 mg, 3,87 mg dan 4,89 mg. Hasil produksi tongkol berkelobot tertinggi diperoleh pada perlakuan K2B1 sebesar 1,23 kg sedangkan analisa serapan hara tanaman N dan P tertinggi dihasilkan pada perlakuan K2B4 sekaligus menghasilkan peningkatan hasil tanaman 4,7% dibanding pupuk standar.
PENETAPAN METODE EKSTRAKSI KALIUM TERBAIK UNTUK TANAMAN TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM L.) PADA TANAH ANDISOL Gunawan, Endang; Susila, Anas D.; Sutandi, Atang; Santosa, Edi
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 10 No. 3 (2019): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.10.3.173-181

Abstract

Penetapan rekomendasi dosis kalium (K) berdasarkan uji tanah untuk tanaman tomat pada tanah Andisol belum banyak dikaji di Indonesia. Penelitian diawali dengan pembuatan status hara K tanah di Kebun Percobaan IPB Pasirsarongge Cianjur dilanjutkan dengan uji korelasi di rumah plastik PKHT IPB Tajur Bogor pada Desember 2015 sampai Mei 2016. Tujuan penelitian adalah menetapkan metode ekstraksi K terbaik bagi tanaman tomat di tanah Andisol. Status K tanah dibuat dengan larutan kalium sulfat (K2SO4) sebesar 0, ¼X, ½X, ¾X, dan X dimana X adalah 413.4 kg K ha-1 sebagai dosis K maksimum yang ditambahkan untuk mencapai kadar K maksimum dalam larutan tanah. Larutan K2SO4 disiram merata pada bedengan tanah dan diinkubasi selama 4 bulan. Ekstraksi K tanah menggunakan 5 metode yaitu: Bray 1 (HCl 5N), HCl 25%, Morgan Wolf (NaC2H3O2.3H2O), Mechlich (HCl 0.05N + H2SO4 0.025N) dan NH4OAc (NH4OAc, pH 7). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan respon tinggi tanaman, bobot kering biomas, kandungan K tanaman terhadap tingkat status hara K tanah. Pola respon kuadratik ditunjukkan pada tinggi tanaman umur 6 dan 7 minggu setelah tanam, dan bobot kering total. Metode ekstraksi K Andisols terbaik untuk tomat adalah NH4OAc dengan nilai koefisien korelasi (r): 0.75. Kata kunci: biomas, K2SO4, metode ekstraksi, NH4Oac, status K
RASIO DAN KEJENUHAN HARA K, CA, MG DI DALAM TANAH UNTUK TANAMAN KELAPA SAWIT (ELAEIS GUINEENSIS JACQ) Ginting, Eko Noviandi; Sutandi, Atang; Nugroho, Budi; Indriyati, Lilik Tri
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 15 No 2 (2013): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.561 KB) | DOI: 10.29244/jitl.15.2.60-65

Abstract

Pemupukan merupakan salah satu komponen kegiatan pemeliharaan yang menghabiskan biaya yang cukup tinggi sekaligus memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pencapaian produksi tanaman kelapa sawit. Penambahan salah satu unsur hara melalui pemupukan akan menyebabkan terjadinya pergeseran keseimbangan hara di dalam tanah, oleh sebab itu kegiatan pemupukan perlu memperhatikan keseimbangan hara agar pemupukan yang dilakukan dapat lebih efisien dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mencari nilai kisaran keseimbangan K, Ca, Mg di dalam tanah untuk tanaman kelapa sawit. Penelitian dilakukan dengan metode survei lapangan dengan menggunakan data hasil analisis tanah dan data produksi yang dikumpulkan dari perkebunan kelapa sawit yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan asumsi nilai sekat produktivitas 25.96 ton TBS ha-1tahun-1 kisaran nilai rasio hara yang seimbang untuk tanaman kelapa sawit masing-masing 5.6 ? 10.1 untuk rasio Ca/K, 2.1 ? 2.5 untuk rasio Ca/Mg dan 2.1 ? 4.5 untuk rasio Mg/K. Sementara nilai kecukupan kejenuhan K, Ca, Mg masing-masing sebesar 2.5%; 11.8% dan 3.7%.
PHOSPORUS SUFFICIENCY FOR GROWTH AND PRODUCTION OF SOYBEAN UNDER SATURATED SOIL CULTURE IN MINERAL AND PEATY SOILS: KECUKUPAN HARA FOSFOR PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI DENGAN BUDIDAYA JENUH AIR DI TANAH MINERAL DAN BERGAMBUT Bachtiar, Bachtiar; Ghulamahdi, Munif; Melati, Maya; Guntoro, Dwi; Sutandi, Atang
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 18 No 1 (2016): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.752 KB) | DOI: 10.29244/jitl.18.1.21-27

Abstract

The research objective is to determine the dosage and frequency of given of P fertilizer on soybean varieties in soil mineral and peaty mineral under saturated soil culture in tidal land. The research was conducted in mineral and peaty mineral soil of tidal area types B and C in the District of Tanjung Lago, Banyuasin Regency, Province of South Sumatra from April to August 2014. This study used split plots. Willis and Tanggamus varieties were main plots, application time (0, 0 and 4 MST) were on subplot, and fertilizer dose (0, 36, 72, 108 kg P2O5 ha-1) was on sub-sub plot. Experiment results showed that soybean productivity in peaty mineral soil was lower than mineral soil. In peaty mineral soil, the application time of phosphorus at 0 and 4 MST was able to increase growth and productivity of soybean, while phosphorus application time on mineral soils was better at 0 and 4 MST of planting time on mineral soils. The dose of 108 kg P2O5 ha-1 increased the productivity of soybean in peaty mineral soils, while a dose of 72 kg P2O5 ha-1 was better in mineral soil. In peaty mineral soil, interaction (Tanggamus, application at 0 and 4 MST as well as 72 kg P2O5 ha-1), showed the highest productivity of soybean (2.83 ton ha-1). Meanwhile, interaction (Tanggamus, application at 0 and 4 MST as well as 72 kg P2O5 ha-1) showed the highest productivity of soybean (3.8 ton ha-1), respectively in mineral soil under saturated soil culture techniques in tidal land.  Keywords: Dose of fertilizer, Glycine max (L) Merr., phosphorus, soil acidity, variety
HUBUNGAN KEDALAMAN PIRIT DENGAN BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DAN PRODUKSI KELAPA SAWIT (ELAIS GUINEENSIS) Sutandi, Atang; Nugroho, Budi; Sejati, Bayu
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 13 No 1 (2011): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.723 KB) | DOI: 10.29244/jitl.13.1.21-24

Abstract

Pekebunan kelapa sawit di Indonesia telah berkembang secara signifikan dalam 20 tahun terakhir. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit telah mengarah ke lahan-lahan marjinal seperti lahan sulfat masam dan gambut. Lahan marjinal untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit bukanlah suatu pilihan, tetapi karena keterbatasan lahan semata. Reklamasi lahan sulfat masam dengan mendrain lahan rawa akan membuat kemasaman tanah meningkat drastis dan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Selain itu drainase juga dapat membuat sejumlah besar hara ikut tercuci. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedalaman pirit terhadap beberapa sifat kimia tanah serta produksi kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan melalui survei lapangan di perkebunan kelapa sawit PTPN VII, unit usaha Bentayan, Sumatera Selatan. Analisis contoh tanah dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB. Pengamatan dilakukan pada blok-blok dengan kedalaman pirit < 30 cm, 30-60 cm, dan > 60 cm, produksi dikumpulkan pada blok-blok tersebut dan diambil contoh tanahnya. Selain itu juga diambil contoh tanah berpirit yang belum dan telah mengalami drainase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman pirit < 30 cm memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap meningkatnya kemasaman tanah, Al yang dapat dipertukarkan, berkurangnya N-total, K dan Zn serta penurunan produksi tanaman kelapa sawit. Drainase menyebabkan kecenderungan terjadinya penurunan kadar P, Ca, Mg, dan Cu, serta kejenuhan basa.
PERENCANAAN LOKASI PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI KABUPATEN MANDAILING NATAL, PROVINSI SUMATERA UTARA Siregar, Hadijah; Sitorus, Santun Risma Pandapotan; Sutandi, Atang
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 13 No 1 (2011): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.267 KB) | DOI: 10.29244/jitl.13.1.8-13

Abstract

Pengembangan perkebunan karet merupakan salah satu strategi yang cukup realistis bagi pemerintah Kabupaten Mandailing Natal dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakatnya. Untuk mendukung hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk: (1) menentukan lokasi yang berpotensi untuk pengembangan tanaman karet rakyat berdasarkan aspek fisik lahan dan (2) menganalisis dan menyusun arahan kebijakan pengembangan perkebunan karet rakyat di Kabupaten Mandailing Natal. Metode analisis dilakukan berdasarkan penentuan kesesuaian lahan, analisis spasial, dan analisis deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lahan di Kabupaten Mandailing Natal sesuai untuk budidaya tanaman karet yaitu seluas 460,849 ha (70.4%). Lokasi dan luas areal pengembangan perkebunan karet rakyat di Kabupaten Mandailing Natal berdasarkan potensi lokasi dan peraturan pemerintah terkait telah dikemukakan, dan dapat diarahkan pada lahan seluas 201,875 ha (30.8%).
POLISAKARIDA DAN STABILITAS AGREGAT TANAH MASAM YANG DIPERLAKUKAN DENGAN BRACHIARIA, MIKORIZA DAN KOMPOS JERAMI DIPERKAYA KALIUM Hafif, Bariot; Sabiham, Supiandi; Anas, Iswandi; Sutandi, Atang; Suyamto, Suyamto
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 13 No 1 (2011): Jurnal Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.041 KB) | DOI: 10.29244/jitl.13.1.1-7

Abstract

Stabilitas agregat menentukan kualitas tanah dan polisakarida adalah agen agregasi utama partikel tanah. Penelitian bertujuan mempelajari stabilitas agregat dan polisakarida sebagai agen agregasi partikel tanah masam yang diperlakukan dengan Brachiaria decumbens (BD), mikoriza dan kompos jerami diperkaya kalium di Kebun Percobaan Tegineneng BPTP Lampung. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 3 faktor. Faktor 1, rumput Brachiaria decumbens, yaitu tanpa B. decumbens (B0) dan dengan baris B. decumbens (B1); faktor 2, mikoriza yaitu tanpa mikoriza (M0) dan dengan inokulasi mikoriza (M1); dan faktor 3, kompos jerami diperkaya kalium yaitu kompos 2 ton ha-1 masing-masing diperkaya KCl masing-masing 0 kg ha-1 (K0), 50 kg ha-1 (K50), 100 kg ha-1 (K100) dan 200 kg ha-1 (K200). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan BD dan interaksi BD dan mikoriza mendorong fragmentasi agregat makro menjadi agregat meso dan mikro, namun stabilitas agregat dibawah pengaruh perlakuan tersebut lebih baik dibanding stabilitas agregat tanah kontrol. Inokulasi mikoriza memperbaiki stabilitas agregat makro 1-2 mm. Pengayaan kalium pada kompos jerami secara rata-rata tidak berpengaruh terhadap stabilitas agregat tetapi dalam interaksi dengan B. decumbens, pengayaan kompos jerami dengan 100 dan 200 kg KCl ha-1 berpengaruh cukup baik terhadap stabilitas agregat makro 2-5 mm. Polisakarida total di dalam agregat tanah pada perlakuan interaksi B. decumbens dan mikoriza nyata meningkat, demikian juga polisakarida bukan selulosa cenderung lebih baik. Perlakuan B. decumbens meningkatkan kadar polisakarida total di dalam agregat meso (0.25-1 mm) dan mikro (0.05-0.25 mm), sedangkan mikoriza meningkatkan polisakarida total dan polisakarida bukan selulosa di dalam agregat makro (> 1 mm).