Bambang Sutaryo
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta Karangsari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

PERFORMANCE OF AGRO-MORPHOLOGY AND GENETIC PARAMETER OF 12 RICE GENOTYPES AT LOWLAND RICE IRRIGATION Sutaryo, Bambang
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 17, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.077 KB) | DOI: 10.22146/ipas.4921

Abstract

ABSTRACTResearch to study performance of agro-morfology and genetic parameters of twelve rice genotypes at lowland rice irrigation was conducted at  Giripeni, Kulon Progo, Yogyakarta, during the wet season of November 2011 to February  2012. Twelve rice genotypess, namely Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, Inpari 4, Inpari 5, Inpari 6, Inpari 7, Ciherang, Dodokan, Silugonggo, Situ Bagendit, and IR64  were arranged in a randomized complete block design in three replications. Seedling of 15 days was planted in legowo 4:1, with one seedling per hill, spacing of 25 x 12,5 x 50 cm, in plot size of 5 x 10 m2. Time application and dosage of fertilizer were :1) Three days before planting with 2 t/ha organic, 2) Five days after planting with 300 kg/ha Phonska,  3) At 21 days after planting with 100 kg Urea/ha; and 4) At  35 days after planting with 100 kg Urea/ha. Data indicated that Inpari 3,  Inpari 5 and  Inpari 1 yielded  7.55; 7.44; and 6.98 t ha -1 respectively, and significantly higher than that of the best check variety Ciherang (6.26 t ha-1 ). Broad genetic variabilities were found for grain yield, panicle number per hill, filled grain per panicle, and total grain per panicle. High heritability estimate was found for 1000-grain weight, filled grain per panicle, total grain per panicle, panicle number per hill,  plant height, and maturity. Genetic and phenotypic correlation between filled grain per panicle and yield,  total grain per panicle and yield, and panicle number per hill and yield showed significantly different.Key words : agro-morphology, genetic parameter,  rice genotype, lowland irrigation
EKSPRESI DAYA HASIL DAN BEBERAPA KARAKTER AGRONOMI ENAM PADI HIBRIDA INDICA DI LAHAN SAWAH BERPENGAIRAN TEKNIS Sutaryo, Bambang
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.584 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2513

Abstract

INTISARIPenelitian untuk mengkaji ekspresi daya hasil dan beberapa karakter agronomi enam  padi hibrida indica di  lahan sawah berpengairan teknis yaitu : Bioibrd-1, Bioibrd-2, Bioibrd-3, Bioibrd-4, Bioibrd-5, Bioibrd-6, dan  empat varieties pembanding yaitu : Ciherang, Sintanur, Inpari 6 dan Inpari 14 dilaksanakan di Wirokerten, Banguntapan, Bantul dari bulan November 2012 hingga bulan  Maret 2013.  Percobaan dirancang sesuai dengan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Bibit berumur 17 hari ditanam dengan satu bibit per lubang tanam pada petak berukuran 4  x 5 m2. Pemupukan pada pesemaian dilakukan tiga kali, sedangkan selama pertumbuhan dilakukan empat kali pemupukan. Data mengindikasikan bahwa Bioibrd-3, Bioibrd-1, dan Bioibrd-4, merupakan tiga padi hibrida terbaik berturut-turut menghasilkan gabah sebesar 8,6; 8,5; dan 8,3 t/ha, memberikan heterosis baku sebesar 14,67; 13,33; dan 10,67  % terhadap. varietas pembanding terbaik Inpari-14 (7,5 t/ha), dengan produktivitas per hari masing-masing sebesar  95,55; 91,89; dan 91,01  kg/ha/hari, dan persen di atas pembanding terbaik masing-masing sebesar 23,58; 18,84; dan 17,71%. Jumlah gabah isi per malai dari Bioibrd-3, Bioibrd-1, dan Bioibrd-4 berturut-turut sebanyak 250,5; 240,7; dan 231,0  butir.  dan secara nyata lebih banyak bila dibandingkan dengan Inpari-14 (189,4 butir). Bioibrd-3, Bioibrd-1, dan Bioibrd-4, dengan bobot 1000-butir masing-masing  29,8; 28,2; dan 28,4 gram secara nyata lebih berat bila dibandingkan dengan secara nyata lebih berat bila dibandingkan dengan Inpari 14 (27,0 gram).Key words : keragaan, karakter agronomi, enam padi hibrida, japonica, genotype, sawah berpengairan teknis
KAJIAN KERAGAAN VARIETAS UNGGUL BARU PADI SAWAH DENGAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU DI BANTUL, YOGYAKARTA Sutaryo, Bambang; Purwaningsih, Heni
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Assessment of Performance of High Yielding Variety Through Integrated Crop Management in Bantul, Yogyakarta. Study on performance for rice high yielding variety using five varieties namely Inpari 3, Inpari 4, Inpari 9, Inpari 10 and Inpari 11 through integrated crop management (ICM) was conducted at Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta during the dry season of  2012. Seedling of 15 days with one seedling per hill was planted using “jajar legowo” 4:1 system, with plant spacing of 25 x 12.5 x 50 cm. Plot size per variety was 2000 m2. Ciherang and Situ Bagendit as populair varieties planted using the same population by farmers were used as control. Data were analyzed using t test. Inpari 10 gave the highest yield (9.5 t/ha) compared to check varieties and the other varieties tested, with yield ranging from 8.8 to 9.9 t/ha. The highest yield on Inpari 10 was contributed by the highest of the main yield components, namely the number of filled grains, total grain number, and the panicle number. All varieties showed early to moderate maturity, except Inpari 9 (125 days). Inpari 10 gave the highest profit compared with the others superior varieties tested and the most preferred by farmers because of more taste, more white color, more shiny, and more fragrant. Keywords: Inpari, Ciherang, Situ Bagendit, "jajar legowo", IPM.ABSTRAKKajian keragaan teknologi varietas unggul baru padi pada pengelolaan tanaman terpadu menggunakan lima varietas unggul baru yaitu Inpari 3, Inpari 4, Inpari 9, Inpari 10 dan Inpari 11 dilaksanakan di Kelompok Tani Ngimbangan, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta selama musim kemarau 2012. Bibit berumur 15 hari dengan satu bibit per lubang ditanam secara Jajar Legowo (Tajarwo) 4:1, jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm, dengan 256.000 populasi tanaman. Luas plot per varietas adalah 2000 m2. Varietas tersebut digunakan sebagai perlakuan. Ciherang dan Situ Bagendit sebagai varietas populer yang ditanam dengan populasi yang sama oleh petani digunakan sebagai pembanding. Data dianalisis dengan uji t. Inpari 10 merupakan varietas dengan hasil tertinggi (9,5 t/ha) dibandingkan dengan varietas pembanding maupun varietas yang diuji lainnya, dengan hasil berkisar (8,8 - 9,9 t/ha). Hasil terbaik pada Inpari 10 tersebut didukung oleh komponen hasil utama yaitu jumlah gabah isi, jumlah gabah total, dan jumlah anakan produktif. Semua varietas yang dikaji berumur genjah sampai sedang, kecuali Inpari 9 dengan umur tanaman 125 hari. Inpari 10 memberikan keuntungan yang paling tinggi dibandingkan dengan varietas  unggul baru lainnya yang diuji dan paling disukai petani karena lebih pulen, lebih putih, lebih berkilap, dan lebih wangi.Kata kunci: Inpari, Ciherang, Situ Bagendit, jajar legowo
Ekspresi Daya Hasil dan Beberapa Karakter Agronomi Enam Padi Hibrida Indica di Lahan Sawah Berpengairan Teknis Sutaryo, Bambang
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.584 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2513

Abstract

INTISARIPenelitian untuk mengkaji ekspresi daya hasil dan beberapa karakter agronomi enam  padi hibrida indica di  lahan sawah berpengairan teknis yaitu : Bioibrd-1, Bioibrd-2, Bioibrd-3, Bioibrd-4, Bioibrd-5, Bioibrd-6, dan  empat varieties pembanding yaitu : Ciherang, Sintanur, Inpari 6 dan Inpari 14 dilaksanakan di Wirokerten, Banguntapan, Bantul dari bulan November 2012 hingga bulan  Maret 2013.  Percobaan dirancang sesuai dengan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Bibit berumur 17 hari ditanam dengan satu bibit per lubang tanam pada petak berukuran 4  x 5 m2. Pemupukan pada pesemaian dilakukan tiga kali, sedangkan selama pertumbuhan dilakukan empat kali pemupukan. Data mengindikasikan bahwa Bioibrd-3, Bioibrd-1, dan Bioibrd-4, merupakan tiga padi hibrida terbaik berturut-turut menghasilkan gabah sebesar 8,6; 8,5; dan 8,3 t/ha, memberikan heterosis baku sebesar 14,67; 13,33; dan 10,67  % terhadap. varietas pembanding terbaik Inpari-14 (7,5 t/ha), dengan produktivitas per hari masing-masing sebesar  95,55; 91,89; dan 91,01  kg/ha/hari, dan persen di atas pembanding terbaik masing-masing sebesar 23,58; 18,84; dan 17,71%. Jumlah gabah isi per malai dari Bioibrd-3, Bioibrd-1, dan Bioibrd-4 berturut-turut sebanyak 250,5; 240,7; dan 231,0  butir.  dan secara nyata lebih banyak bila dibandingkan dengan Inpari-14 (189,4 butir). Bioibrd-3, Bioibrd-1, dan Bioibrd-4, dengan bobot 1000-butir masing-masing  29,8; 28,2; dan 28,4 gram secara nyata lebih berat bila dibandingkan dengan secara nyata lebih berat bila dibandingkan dengan Inpari 14 (27,0 gram).Key words : keragaan, karakter agronomi, enam padi hibrida, japonica, genotype, sawah berpengairan teknis
Performance of Agro-Morphology and Genetic Parameter of 12 Rice Genotypes at Lowland Rice Irrigation Sutaryo, Bambang
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 17, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.077 KB) | DOI: 10.22146/ipas.4921

Abstract

ABSTRACTResearch to study performance of agro-morfology and genetic parameters of twelve rice genotypes at lowland rice irrigation was conducted at  Giripeni, Kulon Progo, Yogyakarta, during the wet season of November 2011 to February  2012. Twelve rice genotypess, namely Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, Inpari 4, Inpari 5, Inpari 6, Inpari 7, Ciherang, Dodokan, Silugonggo, Situ Bagendit, and IR64  were arranged in a randomized complete block design in three replications. Seedling of 15 days was planted in legowo 4:1, with one seedling per hill, spacing of 25 x 12,5 x 50 cm, in plot size of 5 x 10 m2. Time application and dosage of fertilizer were :1) Three days before planting with 2 t/ha organic, 2) Five days after planting with 300 kg/ha Phonska,  3) At 21 days after planting with 100 kg Urea/ha; and 4) At  35 days after planting with 100 kg Urea/ha. Data indicated that Inpari 3,  Inpari 5 and  Inpari 1 yielded  7.55; 7.44; and 6.98 t ha -1 respectively, and significantly higher than that of the best check variety Ciherang (6.26 t ha-1 ). Broad genetic variabilities were found for grain yield, panicle number per hill, filled grain per panicle, and total grain per panicle. High heritability estimate was found for 1000-grain weight, filled grain per panicle, total grain per panicle, panicle number per hill,  plant height, and maturity. Genetic and phenotypic correlation between filled grain per panicle and yield,  total grain per panicle and yield, and panicle number per hill and yield showed significantly different.Key words : agro-morphology, genetic parameter,  rice genotype, lowland irrigation
PARAMETER GENETIK SEJUMLAH GENOTIP PADI DI LAHAN SAWAH BERPENGAIRAN TEKNIS DAN TADAH HUJAN [Genetic Parameters of Some Rice Genotypes Under Irrigated and Dryland Conditions] Sutaryo, Bambang
BERITA BIOLOGI Vol 13, No 1 (2014)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v13i1.650

Abstract

Development of high-yielding varieties depends on choice of parents, include per se performance, morphological and agronomic traits, and genetic diversity as determined through geographic origin. Indicators of success can be expected from the value of genetic progress and some other important genetic parameters. The purpose of this study was to calculate the genetic heterogenity, heritability and genetic advances of some quantitative characters of rice genotypes. Experiments were conducted in the district of Kulon Progo, namely: Wates and Panjatan (irrigated condition, dry season of 2012), in Giripeni (rainfed, medium altitude, wet season of 2012/2013), Samigaluh and Kalibawang (rainfed, high altitude, wet season of 2012/2013). Each experiment was designed using a randomized complete block with three replications.Data indicated that not all environmental conditions appropriate for the selection and development of genotype due to low value heritability and expectation genetic advances of each environment was lower than the value heritability and expectation genetic advances for the combined average of the environment. Wates was suitable location for grain yield selection and development in terms of the high heritability values. Kalibawang, Giripeni and Wates have considerable heritabilty value for 1000 grain weight character, hence they can be used as suitable selection locations for these characters.
KERAGAAN HASIL GABAH DAN KARAKTER AGRONOMI SEPULUH VARIETAS PADI UNGGUL DI SLEMAN, YOGYAKARTA Sutaryo, Bambang; Pramono, Joko
Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 20, No 1 (2016): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2016.20.1.309

Abstract

Yied and agronomic characters performance of ten superior rice varieties in Sleman, Yogyakarta. Study onyied and agronomic characters performance usin superior rice varieties was conducted at Blendangan,Tegaltirto,Berbah, Sleman, Yogyakarta from June to September of 2015. Six superior rice varieties namely Sidenuk, Inpari1, Inpari 10, Inpari 19, Inpari 23, and Inpari 30 were planted using seedling of 15 days with one seedling per hillin jajar legowo 4:1 system, with plant spacing of 25 x 12,5 x 50 cm. Plot size per variety was 1000 m2.Meanwhile,four populair varieties such as Sintanur, Pepe, Ciherang, and Situ Bagendit planted using the same populationby farmers were used as checks. Data were analyzed using t test. Inpari 19 and Inpari 30 gave the highest yield of7.5 and 7.3 t/ha, respectively, compared with check varieties and the other varieties tested. The highest yield onInpari 19 and Inpari 30 were contributed by the highest of the number of filled grains, total grain number, andthe panicle number. Inpari 19 showed earliest maturity (104 days), meanwhile, the other varieties were mediummaturity (107-124 days). Inpari 19 gave the highest profit compared with the others superior varieties tested andthe most preferred by farmers because of more taste, more white color, more shiny, and more fragrant.Key words: yield, agronomic characters, Inpari, “jajar legowo” ABSTRAKPenampilan hasil dan karakter agronomi sepuluh varietas unggul di Sleman, Yogyakarta. Pengkajianterhadap penampilan hasil dan karakter agronomi menggunakan varietas unggul padi dilaksanakan diBlendangan,Tegaltirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta dari Juni hingga September 2015. Enam varietas yaituSidenuk, Inpari 1, Inpari 10, Inpari 19, Inpari 23, dan Inpari 30 ditanam dengan bibit berumur 15 hari dengan satubibit per lubang pada teknik jajar legowo 4:1, dengan jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm. Ukuran plot size per varietasadalah 1000 m2. Sedangkan empat varietas yang sudah dikenal petani yaitu Sintanur, Pepe, Ciherang, dan SituBagendit ditanam dengan cara yang sama oleh petani digunakan sebagai pembanding. Data dianalisismenggunakan uji t. Inpari 19 dan Inpari 30 masing-masing memberi hasil tertinggi sebesar 7,5 dan 7,3 t/ha,dibandinkan dengan varietas pembanding dan varietas lain yang dikaji. Hasil tertinggi pada Inpari 19 dan Inpari30 dikontribusi oleh jumlah gabah isi, jumlah total gabah dan jumlah malai yang tinggi. Inpari 19 menunjukkanumur paling cepat (genjah) yaitu 104 hari, sementara varietas lainnya berumur sedang (107-124 hari). Inpari 19memberi keuntungan tertinggi dibandingkan dengan varietas unggul lainnya, dan paling disukai petani karenalebih pulen, lebih putih, lebih berkilap, dan lebih wangi.Kata kunci: hasil, karakter agronomi, Inpari, “jajar legowo”
RESPON 15 VARIETAS UNGGUL BARU PADI TERHADAP TUJUH METODE TANAM UNTUK HASIL DAN KOMPONEN HASIL Sutaryo, Bambang
Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 19, No 1 (2015): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2015.19.1.344

Abstract

Penelitian untuk mempelajari respon 15 varietas unggul baru padi terhadap tujuh metode tanam untuk hasildan komponen hasil dilakukan di Sanden, Bantul, Musim Kemarau 2012. Varietas tersebut ditanam dengan tujuhmetode tanam yaitu tajarwo (tanam jajar legowo) 2:1; 3:1; 4:1; 5:1; 6:1; 7:1 dan tegel (20 x 20 cm2). Percobaandirancang menggunakan rancangan split plot dengan tiga ulangan. Data menunjukkan bahwa hasil gabah tertinggidiraih oleh Inpari 1 (8,48 dan 7,96 t/ha, masing-masing pada tajarwo 4:1 dan 2:1) dan diikuti oleh Inpari 6 (7,84t/ha, tajarwo 2:1), Inpari 14 (7,55 t/ha, tajarwo 4:1) dan Inpari 9 (7,46 t/ha, tajarwo 4:1). Inpari 1 juga memilikiumur genjah (104; 105 dan 106 hari berturut-turut pada tajarwo 7:1, 6:1 dan 3:1). Inpari 1 memiliki jumlah malaiterbanyak (19,74 dan 18,00 batang, masing-masing pada tajarwo 4:1 dan 2:1) dan diikuti oleh Inpari 6 (17,64batang, tajarwo 2:1) dan Inpari 14 (17,55 batang, tajarwo 4:1). Jumlah gabah isi terbanyak juga diraih Inpari 1(380,5 dan 376,6 butir, masing-masing pada tajarwo 4:1 dan 2:1), diikuti oleh Inpari 14 (375,5 butir pada tajarwo4:1) dan Inpari 6 (372,4 butir pada tajarwo 2:1). Tinggi tanaman berkisar dari 114 cm untuk Inpari 10 (tajarwo6:1) sampai 122,8 cm untuk Inpari 1 (tajarwo 4:1).Kata kunci: varietas unggul barupadi, tanam jajar legowo, hasil, komponen hasilABSTRACTResearch to study the respon of 15 new superior rice varieties no seven planting methods for grain yieldand yield components was conducted at Gadingsari, Sanden, Bantul, Yogyakarta during the dry season (DS) of2012. Those varieties were planted in seven planting methods such as tajarwo 2:1; tajarwo 3:1; tajarwo 4:1;tajarwo 5:1; tajarwo 6:1; tajarwo 7:1 and tegel (20 x 20 cm2). Experiment design was split plot design with threereplications. Data indicated that the highest yield was obtained by Inpari 1 (8.48 and 7.96 t/ha, in tajarwo 4:1 and2:1, respectively) and followed by Inpari 6 (7.84 t/ha, tajarwo 2:1), Inpari 14 (7.55 t/ha, tajarwo 4:1) and Inpari9 (7.46 t/ha, tajarwo 4:1). Inpari 1 also had earliest maturity (104; 105 and 106 days in tajarwo 7:1, 6:1 and 3:1,repectively). Inpari 1 showed highest panicle number per hill (19.74 and 18.00, in tajarwo 4:1 and 2:1, respectively)and followed by Inpari 6 (17,64 in tajarwo 2:1) and Inpari 14 (17.55 in tajarwo 4:1). The highest filled grain perpanicle was also obtained by Inpari 1 (380.5 and 376,6 seeds, in tajarwo 4:1 and 2:1, respectively), and followedby Inpari 14 (375,5 seeds in tajarwo 4:1) and Inpari 6 (372,4 seeds in tajarwo 2:1). Plant height varied from 114cm for Inpari 10 (tajarwo 6:1) to 122.8 cm for Inpari 1 (tajarwo 4:1).Keywords: new superior rice variety, tajarwo, yield, yield component
KERAGAAN FENOTIP DAN BEBERAPA PARAMETER GENETIK HASIL DAN KARAKTER AGRONOMI ENAM PADI HIBRIDA DI LAHAN KERING MASAM Sutaryo, Bambang; Sudaryono, Tri
Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 14, No 2 (2010): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2010.14.2.106

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi keragaan parameter fenotip dan genetik hasil serta karakter agronomi dari enam padi hibrida di lahan masam Jasinga, Jawa Barat, selama musim kemarau (MK), dari bulan April hingga Agustus 2008. Enam padi hibrida yaitu IR58025A/Kapuas, IR68885A/Kapoas, IR58025A/Mendawak, IR68885A/Batanghari, IR58025A/Inderagiri, IRS 8025A/Lambur dan varietas pembanding lokal Hawara Bunar dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil gabah empat padi hibrida yaitu IRS8025A/Kapuas (6,8 t/ha), IR68885A/Kapuas (6,6 t/ha), IRS 8025A/Mendawak (6,6 t/ha) dan IR68885A/Batanghari (6,4 t/ha) lebih tinggi dibandingkan dengan varietas kontrol Hawara Bunar (4,9 t/ha). Nilai variabilitas genetik yang luas terdapat pada hasil gabah (0,12), umur tanaman (16,34), tinggi tanaman (20,48), jumlah anakan produktif per rumpun (5,14), dan jumlah gabah isi per malai (41,37). Nilai duga heritabilitas tinggi terdapat pada hasil gabah (0,92), umur tanaman (0,68), tinggi tanaman (0,63), jumlah anakan produktif (0,95) dan jumlah gabah isi per malai (0,95). Korelasi genetik dan korelasi fenotip positif nyata antara hasil gabah dengan jumlah gabah isi per malai (0,05*), umur tanaman (0,25*), tinggi tanaman (0,12*), dan jumlah anakan produktif per rumpun (0,07*). Kata kunci : keragaan fenotip, genetik, agronomi, padi hibrida, lahan kering masam ABSTRACT The objective of the experiment was to evaluate phenotypic performance and genetic parameters of yield and agronomic traits of six hybrids rice at acidic dryland in Jasinga, West Java, during dry season of April-August 2008. Six hybrids rice such as IR58025A/Kapuas, IR68885A/Kapuas, IRS 8025 A/Mendawak, IR68885A/Batanghari, IR58025A/Inderagiri, IRS8025A/Lambur and Hawara Bunar (control) were designed by using Randomized Complete Block Design in three replications. The results showed that yield of four hybrids rice namely IRS8025A/Kapuas (6.81 ha"1), IR68885A/Kapuas (6.61 ha"1 ), IRS8025A/Mendawak (6.6 t ha"1) and IR68885A/Batanghari (6.4 t ha"1) were higher than that of Hawara Bunar (4.9 t ha"1). Broad genetic variabilities were found for grain yield (0.12), plant maturity (16.34), plant height (20.48), number of productive tiller per hill (5.14), and filled grain per panicle (41.37). High heritability estimate was found for grain yield (0.92), plant maturity (0.68), plant height (0.63), number of productive tiller per hill (0.95), and filled grain per panicle (0.95). Genetic and phenotypic correlation was found positive and significant between grain yield and filled grain per panicle (0.05*), plant maturity (0,25*), plant height (0.12*), and productive tiller per hill (0.07*). Key words: phenotypic, genetic, agronomic traits, hybrid rice, acidic dryland
EKSPRESI HASIL GABAH DAN ANALISIS LINTASAN BEBERAPA VARIETAS UNGGUL BARU PADI Sutaryo, Bambang
Agros Journal of Agriculture Science Vol 17, No 1: Edisi Januari 2015
Publisher : Faculty of Agriculture, Janabadra University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.627 KB)

Abstract

Percobaan untuk mengkaji ekspresi hasil gabah dan analisis lintasan beberapa varietas unggul baru  padi dilakukan di lahan sawah beririgasi, Godean, Sleman, Yogyakarta selama musim hujan dari bulan November 2012 hingga Maret 2013. Lima varietas unggul baru padi, yaitu Inpari 4, Inpari 7, Inpari 10, Inpari 11, Inpari 19, dan varietas populer setempat, yaitu Ciherang digunakan sebagai varietas pembanding. Bibit berumur  15 hari dengan satu bibit per lubang ditanam secara jajar legowo 4:1, jarak tanam  25 x 12,5 x 50 cm, pada plot berukuran 4 x 5 m2. Percobaan dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Data menunjukkan bahwa hasil gabah tertinggi diraih oleh Inpari 10 sebanyak 9,3 ton per ha dan diikuti oleh Inpari 7, Inpari 4, Inpari 11, dan Inpari 19 berturut-turut sebanyak 9,2; 9,0; 8,4; dan 8,3 ton per ha. Adapun Ciherang menghasilkan 5,5 ton per ha. Hasil gabah lima varietas tersebut secara nyata lebih tinggi dibandingkan dengan Ciherang dan memberikan kelebihan hasil gabah sebesar 67,3; 63,6; 52,7; dan 50,9 persen masing-masing untuk Inpari 7, Inpari 4, Inpari 11, dan Inpari 19. Jumlah gabah isi per malai berpengaruh secara langsung terhadap hasil gabah dan hampir selalu berpengaruh secara tidak langsung terhadap hubungan antara hasil gabah dan tiap komponen hasilnya. Umur panen bervariasi dari 117 hari untuk Inpari 10 hingga 122 hari untuk Inpari 4 dan Inpari 11. Tinggi tanaman terendah terdapat pada Ciherang, yaitu 103,2 cm dan tertinggi pada Inpari 4, yaitu 116,2 cm.