Articles

Found 30 Documents
Search

METODE PENGUSANGAN CEPAT UNTUK PENGUJIAN VIGOR DAYA SIMPAN BENIH CABAI (CAPSICUM ANNUUML.) Ekowahyuni, Luluk Prihastuti; Sutjahjo, Surjono Hadi; Sujiprihati, Sriani; Suhartanto, Mohamad Rahmad; Syukur, Muhamad
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 40 No. 2 (2012): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.268 KB) | DOI: 10.24831/jai.v40i2.6374

Abstract

The ability of seed to maintain seed quality during storage is called seed vigor. Accurate method for seed vigor testing of pepper seeds is necessary to accurately determine seed storability during seed distribution. The aim of this research was to determine the best accelerated aging method (AAM) of pepper seed. Freshly harvested seeds of Capsicum annuumL., IPB C9 genotype were used in this study. The experiment used randomized complete block design (RCBD) with three replications. The experimental treatments were seed vigor testing methods i.e. natural deterioration test at room temperature in controlled humidity (RH 90-95%), and four AAM (hot water 60 ºC, methanol 20%, ethanol 20%, and high temperature at 40 ºC). The best method was selected using analysis of variance, coeficient of variance, regresion dan t student analysis. AAM using 20% methanol at periods of 0, 2, 4, 6 and 8 hours was the best method of seed vigor testing for pepper seed. Keywords: accelerated aging, deterioration, ethanol, methanol, high temperature
A LABORATORY SCALE RESEARCH TO OBTAIN ENVIRONMENTALLY SAFE EFFLUENT FROM FINAL WASTE DISPOSAL SITE LEACHATE IN GALUGA OWNED BY REGIONAL GOVERNMENT OF BOGOR CITY WAS CONDUCTED FROM JULY 2006 THROUGH TO APRIL 2007. THE EXPERIMENT OF PRODUCTION TOLERABLE THRESHOLD EFFLUENT WAS CARRIED OUT BY AERATING THE LEACHATE IN 4 DIFFERENT AERATION RATES (0, 10, 30 AND 70 LITERS/MINUTE).  THE RESEARCH FOUND THAT THE MOST EFFECTIVE METHOD TO REDUCE POLLUTANT WAS AERATING AT THE RATE OF 70 LITERS/MINUTES.  HOW ., Nurhasanah; Darusman, Latifah K.; Sutjahjo, Surjono Hadi; Lay, Bibiana Widiati
Forum Pasca Sarjana Vol. 34 No. 1 (2011): Forum Pascasarjana
Publisher : Forum Pasca Sarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A laboratory scale research to obtain environmentally safe effluent from Final Waste Disposal Site leachate in Galuga owned by Regional Government of Bogor City was conducted from July 2006 through to April 2007. The experiment of production tolerable threshold effluent was carried out by aerating the leachate in 4 different aeration rates (0, 10, 30 and 70 liters/minute).  The research found that the most effective method to reduce pollutant was aerating at the rate of 70 liters/minutes.  However, only some of pollutant (Cu, Zn, Pb and E.coli) can be reduced until below tolerable threshold.   Keywords: effluent, leachate, tolerable threshold
EVALUASI PENAMPILAN SIFAT HORTIKULTURA DAN POTENSI HASIL PADA JAGUNG MANIS DAN JAGUNG KETAN Maryamah, Umi; Sutjahjo, Surjono Hadi; Nindita, Anggi
Buletin Agrohorti Vol. 5 No. 1 (2017): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.469 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v5i1.15896

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaan karakter hortikultura dan potensi hasil dari genotipe jagung manis dan jagung ketan. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Kampus IPB Dramaga pada bulan Januari sampai dengan Mei 2016. Penelitian menggunakan rancangan augmented dengan faktor tunggal yaitu genotipe jagung. Materi genetik yang digunakan adalah 32 genotipe uji dan 6 genotipe pembanding. Genotipe uji terdiri atas 26 genotipe jagung ketan dan 6 genotipe jagung manis. Genotipe pembanding terdiri atas 3 varietas jagung ketan (URI, Kumala, Victoria) dan 3 varietas hibrida jagung manis (Bonanza, Secada, Talenta). Genotipe jagung ketan dan jagung manis yang diuji menunjukkan keragaman karakter hortikultura kecuali pada karakter ASI (Anthesis Silking Interval). Terdapat korelasi positif yang sangat nyata antara panjang tongkol, diameter tongkol, bobot tongkol, dan bobot biji tongkol-1 terhadap produktivitas. Genotipe jagung ketan yang memiliki karakteristik hortikultura dan produktivitas yang baik adalah JLP16, JWP127, JWP223, JWP21, JWP32, JKP2, dan JLL1. Adapun genotipe jagung manis yang memiliki karakteristik hortikultura dan produktivitas yang baik adalah SD3.
MODEL PENGENDALIAN LINGKUNGAN DALAM PEMBANGUNAN KOTA BARU BERKELANJUTAN Hadi, Syamsul; Pramudya, Bambang; Sutjahjo, Surjono Hadi; Hadi, Setia
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1400

Abstract

AbstrakPembangunan kota baru diharapkan dapat memecahkan masalah seperti pengurangan migrasi ke kota-kota besar, pembangunan ekonomi regional, dll, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan tujuan. Perubahan lingkungan adalah salah satudampak yang tidak dipertimbangkan dengan hati-hati ketika kota baru direncanakan dan dikembangkan. Tujuan penelitian ini untuk merumuskan model pengendalian lingkungan selama pembangunan kota baru, untuk mencapai tujuan keberlanjutan.Studi kasus penelitian dilakukan di kota baru Bumi Serpong Damai (BSD) di Propinsi Banten, Indonesia. Penelitian ini menganalisis kualitas udara dan air dan kemudian membandingkan keduanya dengan kualitas lingkungan standar, analisis keberlanjutan BSD menggunakan skala multidimensional (MDS), dan merumuskan parameter kuncimenggunakan ?prospective tools?, model mengembangkan pengendalian lingkungan menggunakan sistem dynamic, dan merumuskan prioritas kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air dan tanah di sekitar daerah BSD terkontaminasi limbah organik seperti BOD dan COD, sedangkan atmosfer mengandung gas toksik seperti: CO, SOx, NOx, ozon (O3) dan TSP. Di dalam analisis keberlanjutan mengungkapkan bahwa kota BSD mempunyai kategori kurang berkelanjutan (46,75), kurang dari 50 poin. Hanya dalam aspek seperti infrastruktur dan teknologi (52,20), ekonomi (53,17) dan hukum dan lembaga (59,95) mendekati kategori berkelanjutan. Sementara dalam aspek ekologi (42,22) dan sosial budaya (26,49) kota BSD dikategorikan tidak berkelanjutan.Terdapat 22 faktor pengaruh dan 5 parameter kunci untuk dapat dipertimbangkan kota BSD di dalam mencapai kota yang keberlanjutan. Disarankan kebijakan untuk pengembangan kota berkelanjutan baru harus ada penyediaan teknologi produksibersih, penyediaan fasilitas sistem pembuangan kotoran, pengembangan jaringan jalan, transportasi umum yang efektif dan efisien, mempertimbangkan budaya lokal, peningkatan lembaga yang sesuai. kata kunci: kota baru, kualitas air dan udara, system pembuangan kotoran, model, strategi, dan kebijakan.kata kunci: kota baru, kualitas air dan udara, system pembuangan kotoran, model, strategi, dan kebijakan.
INDIKATOR DAN KRITERIA SELEKSI PADA GENERASI AWAL UNTUK PERBAIKAN HASIL BIJI KACANG HIJAU BERUMUR GENJAH Jambormias, Edizon; Sutjahjo, Surjono Hadi; Mattjik, Ahmad Ansori; Wahyu, Yudiwanti; Wirnas, Desta
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 41 No. 3 (2013): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2063.11 KB) | DOI: 10.24831/jai.v41i3.8100

Abstract

ABSTRAKPerbaikan hasil kacang hijau dapat dilakukan melalui seleksi langsung maupun seleksi tak langsung berdasarkankriteria seleksi dari satu atau beberapa sifat kuantitatif sebagai indikator seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk memilihindikator seleksi bagi hasil biji dan menentukan kriteria seleksi bagi indikator seleksi tersebut pada populasi generasi awalkacang hijau berumur genjah. Penelitian menggunakan rancangan acak tak lengkap berblok bersekat-tersarang 1-tahap.Analisis lintas dan regresi aditif serta genotipik masing-masing digunakan untuk memilih dan menentukan indikator seleksi dan kriteria seleksi. Hasil analisis pengaruh langsung memperlihatkan jumlah biji bernas dan umur berbunga merupakanindikator seleksi bagi hasil biji dengan kriteria seleksi 200 biji pada kisaran umur berbunga 40-46 hari, untuk memperolehhasil > 12 g tanaman. Sebaliknya, hasil analisis pengaruh tak langsung memperlihatkan tinggi tanaman, jumlah cabangdan lama hari panen dapat pula dimasukkan sebagai indikator seleksi. Kriteria seleksi bagi masing-masing indikator seleksiini adalah dua cabang dengan lama hari panen 16-20 hari dan tinggi tanaman sekitar 85 cm untuk menghasilkan 200 biji.Bila dipilih tanaman yang lebih pendek, kriteria seleksi tinggi tanaman 75-80 cm dapat digunakan, namun lama hari panenmenjadi 22-26 hari.-1Kata kunci: analisis regresi, analisis lintas, BLUP, seleksi generasi awal
PENAMPILAN BEBERAPA KARAKTER MORFOFISIOLOGI GALUR INTRODUKSI JAGUNG (Zea mays L.) YANG DISELEKSI PADA LINGKUNGAN TANAH MASAM Lubis, Khairunnisa; Sutjahjo, Surjono Hadi; Syukur, Muhamad; Trikoesoemaningtyas, Trikoesoemaningtyas
Pertanian Tropik Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Pasca Sarjana FP USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.462 KB)

Abstract

The objective of this research was to obtain morpho-physiological characters performances maize inbreed on acid soil condition. The experiment was conducted in a Nested Design with three replications. The first factor was environment, the second factor was 16 inbreds of maize. The experiment was conducted at two environments : acid soil with criteria of Al-dd 0.2 me.100 g-1 and acid soil with criteria of Al-dd 1.87 me.100 g-1. The results showed that tolerant maize inbreed on acid soil condition had small Anthesis Silk Interval and …fasterKeywords : introduction inbreed lines, morpho-physiological character, acid soil.
PENYEDIAAN PERUMAHAN DAN INFRASTRUKTUR DASAR DI LINGKUNGAN PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN (STUDI KASUS DI KOTA BANDUNG) Kusumawardhani, Veronica; Sutjahjo, Surjono Hadi; Dewi, Indarti Komala
Nalars Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016
Publisher : Nalars

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bandung sebagai salah satu kota metropolitan yang berkembang di Indonesia tidak dapat menghindar dari masalah-masalah yang berkaitan dengan permukiman kumuh. Masalah permukiman kumuh biasanya dikarakteristikan dengan menurunnya kondisi lingkungan seperti masalah keterbatasan ketersediaan air tanah dan polusi. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkalkulasi kesenjangan sumber daya dalam hal kuantitas maupun kualitas air dan tanah, bagi masyarakat yang tinggal di daerah kumuh di Kota Bandung yang didasari pada standar pelayanan minimum dan standar kualitas lingkungan serta menentukan bentuk dari infrastruktur dasar seperti penyedia pengganti dari sumber daya alam air dan tanah yang paling tepat. Penelitian ini menetapkan tiga kelurahan yang mewakili tia tipologi kawasan kumuh yaitu, kumuh berat pada Kelurahan Tamansari, kumuh sedang pada Kelurahan Babakan Ciamis, dan kumuh ringan pada Kelurahan Cihargeulis.  Hasilnya menunjukkan bahwa kaitannya dengan kuantitas air pada ketiga kelurahan tersebut dipenuhi dari air tanah dan juga sumber PDAM. Hal ini mengingat bahwa ketersediaan tanah untuk perumahan pada ketiga kelurahan tersebut sudah mencukupi. Sementara bila dikaitkan dengan kualitas air pada ketiga kelurahan, nampaknya kualitas air dari PDAM memenuhi standar lingkungan namun kualitas air dari air tanah tidak memenuhi standar tersebut. Sehingga untuk kualitas tanah dengan mengacu pada Soil Quality Index dari BPS terlihat bahwa indeks kualitas tanah di Kelurahan Tamansari-lah yang paling rendah, dan di Kelurahan Cihargeulis-lah yang paling tinggi. Bentuk dari prioritas infrastruktur pada Kelurahan Tamansari untuk pengadaan air adalah melalui pipa dari PDAM atau pengolahan air permukaan tanah tingkat kelurahan, sementara untuk air buangan adalah MCK untuk “black water” dan instalasi pengolahan air buangan untuk “grey water”. Sementara itu untuk buangan padat adalah merupakan buangan bukan organik dan pengolahan kompos buangan organik serta dari buangan rumah berlantai banyak atau hunian vertikal. Bentuk dari  prioritas infrastruktur dari Kelurahan Babakan Ciamis untuk air adalah sama dengan Kelurahan Tamansari. Sementara itu pada Kelurahan Cihargeulis, prioritas infrastruktur untuk air adalah juga melalui pemipaan PDAM, dan untuk buangan air menggunakan instalasi pengolahan air buangan pada tingkat kota, untuk buangan padat adalah merupakan buangan bukan organik, pengolahan kompos buangan organik dan perumahan horizontal.  Kata Kunci: kumuh, sumber daya alam dan air, standar layanan minimum, standar lingkungan, insfrastruktur dasar permukiman  ABSTRACT. Bandung as one of the growing metropolitan in Indonesia did not escape from the problems of slums emerging. The problem of slums is characterized by such as a decrease in environmental conditions such as lack of raw water availability and pollution. Based oh those facts, this study aimed to calculate the resource gap in terms of quantity and quality of water and land, for people living in the slums in Bandung city based on minimum service standards and environment quality standards, and determining the form of basic infrastructure as a substitute provider of natural resources water and land that most appropriate. The study was conducted in three kelurahan which represent the three typologies of slums that are heavy is Kelurahan Tamansari, moderate is Kelurahan Babakan Ciamis, and light is Kelurahan Cihargeulis.   The results showed that in terms of quantity water in the three kelurahans are met from the ground water and piped water from PDAM.  As for the existing land for housing in the three kelurahans are sufficient. In terms of water quality in the three kelurahans is seen that the quality from PDAM have met the environment standards but the quality from ground water have not.  Then for soil quality with reference to Soil Quality Index of BPS was seen that the Land Quality Index in the Kelurahan Tamansari is the lowest, and Kelurahan Cihargeulis is the highest.  The shape of the priority infrastructure for Kelurahan Tamansari for water is piping from PDAM or local surface water treatment, for wastewater is MCK Communal for black water and local wastewater instalation treatment plant for grey water, for solid waste is anorganic waste bank and composting for organic waste, and multistorey housing.  The shape of the priority infrastructure for Kelurahan Babakan Ciamis for water is piping from PDAM, for wastewater is MCK Communal for black water and local wastewater instalation treatment plant for grey water, for solid waste is anorganic waste bank and composting for organic waste, and multistorey housing. The shape of the priority infrastructure for Kelurahan Cihargeulis for water is piping from PDAM, for wastewater is city level wastewater installation treatment, for solid waste is anorganic waste bank and composting for organic waste, landed housing Keywords: Slums, water and natural resources of land, minimum service standards, environmental standards, the basic infrastructure of the settlements
EVALUASI VIGOR DAYA SIMPAN BENIH PADA BERBAGAI GENOTIPE CABAI (CAPSICUM ANNUUM L.) DENGAN METODE PENGUSANGAN CEPAT Ekowahyuni, Luluk Prihastuti; Sutjahjo, Surjono Hadi; Sujiprihati, Sriani; Suhartanto, Mohamad Rahmad; Syukur, Muhamad
E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan Vol 1 No 1 (2014)
Publisher : E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.015 KB)

Abstract

Abstrak:       Percobaan ini bertujuan mengevaluasi metode pengusangan cepat methanol 20% selama 0, 2, 4, 6 dan 8 jam pada benih cabai hibrida, non hibrida, lokal, introduksi, rawit dan besar yang diproduksi pada tahun 2009 dan 2010. Jumlah genotipe benih non hibrida 4 (2009) dan 4 (2010). Jumlah genotipe benih hibrida 10 (2009) dan 8 (2010). Analisis data dilakukan dengan analisis sudut kemiringan garis regressi yang merupakan sudut  perbandingan ordinat dan axis. Rekapitulasi hasil evaluasi vigor daya simpan benih cabai menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara benih produksi tahun 2009 dan 2010, dan benih cabai hibrida dan  non hibrida, serta benih cabai lokal dan introduksi. Perbedaan terdapat pada benih cabai rawit dan besar dan laju penurunannya cabai besar lebih cepat dibandingkan benih cabai rawit.  Hal ini terjadi juga pada tolok ukur daya hantar listrik yang merupakan tolok ukur terbaik untuk vigor daya simpan benih. Hal ini menunjukkan besarnya pengaruh lingkungan terhadap vigor daya simpan benih cabai. Kata kunci: deteriorasi alami, laju kemiringan vigor daya simpan benih cabai. Abstract    The experiment was designed to evaluate the accelerated aging method with 20% methanol for 0, 2, 4, 6 and 8 hours which is the first stage of the experimental results at several pepper seed genotypes including hybrid seeds, non hybrid, local, introduction, pepper and great pepper produced in 2009 and 2010. The seeds used are non-hybrid seed as much as 4 genotype seed production in 2009 and 4 genotype seed production in 2010. Hybrid seeds used were 10 genotypes of production in 2009 and 8 genotypes of production in 2010. Data analysis done is the analysis of the slope angle of regression line slope which is resulting from the comparison of the ordinate and the axis. Recapitulation of the pepper seeds vigor storage evaluation results showed that the seed production in 2009 and 2010 there was no difference between the hybrid and non-hybrid pepper seeds and the local and introduction pepper seeds, but there are consistent differences between great chili and chili pepper seeds, the rate of decline of the great chili is greater than the chili pepper. This shows the magnitude of environmental influences on seed pepper seeds vigor storage. Exclusively in electrical conductivity benchmark, which is one of the pepper seeds vigor storage best benchmark shows that the rate of decline in seed vigor between the hybrid and non hybrid seeds and the local and introduction pepper seeds.. Key words: natural deterioration, the rate of decline seed pepper vigor test in relation  to storability
ANALISIS DAYA GABUNG GALUR-GALUR JAGUNG TROPIS DI DUA LOKASI Yustiana, ,; Syukur, Muhamad; Sutjahjo, Surjono Hadi
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 41 No. 2 (2013): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.278 KB) | DOI: 10.24831/jai.v41i2.7513

Abstract

The objective of this research was to analyze the combining ability of nine tropical maize lines from PT. BISI International, Tbk?s collections across two locations. The research used a complete diallel mating design according to Griffing?s method 1. Randomized completely block design was used as an experimental design with three replications in each location, Kediri and Nganjuk, East Java. Result of the combining ability analysis revealed that location effect was significant for all traits. Additive gene effects were more important in controlling plant height, ear length, ear diameter and 1,000-grain weight while non-additive gene effects were more important in controlling days to harvest, ear weight per plot and yield potency. Good combiners across locations for days to harvest were Sr-1#247 and Sr-1#086. Sr-1#001 and Loe#187; Pron#077 and Loe#057; Pron#142 and Loe#187; Loe#187 and Loe#057; Sr-1#001 and Loe#187 were a good combiners for ear length, ear diameter, 1,000-grain weight, ear weight per plot and yield potency, respectively. Best specific combinations for several important traits were generated from parent lines with high x low GCA. Sr-1#001xLoe#055; Loe#187xLoe#055 and Loe#057xLoe#055 were the best for ear weight per plot and yield potency.Keywords: combining ability, diallel, G x E interaction, tropical maize
KARAKTERISASI TOMAT M1 HASIL IRADIASI SINAR GAMMA 495 GY Hasanah, Uswatun; Sutjahjo, Surjono Hadi; Marwiyah, Siti
Buletin Agrohorti Vol. 3 No. 1 (2015): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.591 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v3i1.15563

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi keragaan tanaman tomat M1 hasil iradiasi sinar gamma dosis 495 Gy. Bahan yang digunakan merupakan 40 genotipe benih tomat hasil eksplorasi yang diberi perlakuan iradiasi sinar gamma 495 Gy. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo dan Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor  pada bulan November 2014 hingga Maret 2015. Karakterisasi dilakukan dengan membandingkan karakter kualitatif dan kuantatif antara genotipe M1 dan M0. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan sinar gamma menyebabkan adanya keragaman pada keragaan genotipe, baik pada karakter kualitatif maupun kuantitatif. Terdapat beberapa genotipe M1 yang memiliki keragaan kualitatif  berbeda dibandingkan kontrolnya yaitu Kefaminano 6, Kefaminano 4, Situbondo GL, Lombok 4, Lombok 1, Gondol 2, Kudamati 1, Aceh 1, Makassar 3, Bogor Cibanteng, Berlian, CLN 4046, dan Kemir. Berdasarkan bobot panen didapatkan tiga genotipe dengan produksi lebih unggul dibandingkan dengan tanaman kontrol yaitu Aceh 5, Lombok 4, dan Kefaminano 4.