Articles

Found 31 Documents
Search

IDENTIFIKASI RISIKO USAHATANI MANGGA DALAM PENGEMBANGAN AGROWISATA DI KABUPATEN CIREBON Syamsiyah, Nur; Sulistyowati, Lies; Kusno, Kuswarini; Nur Wiyono, Sulistyodewi
Sosiohumaniora Vol 21, No 1 (2019): SOSIOHUMANIORA, MARET 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v21i1.11062

Abstract

Masalah utama dalam pengembangan sektor pertanian adalah ketisakpastian. Ketidakpastian menjadikan banyak masyarakat yang yang tidak memilik sektor pertanian sebagai pengembangan bisnis, utamanya ditingkat usahatani. Risiko ketidakpastian ini memperngwaruhi petani dalam menjalankan usahataninya. Petani mangga di Kabupaten Cirebon juga tidak terlepas dari risiko ketidakpastian dalam usahatani mangga yang dilakukannya. Beberapa petani mangga memilih untuk membiarkan pohon mangganya tanpa proses pemeliharaan yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko usahatani mangga dalam pengembangan agrowisata di Kabupaten Cirebon. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, kuesioner, wawancara, focus group discussion dan dokumentasi. Metode penelitian yang digunakan adalah Mix method yaitu menggunakan analisis deskriptif dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Hasil identifikasi risiko adalah risiko dalam usahatani mangga digolongkan dalam 4 kategori yaitu risiko suplai, risiko operasional, risiko keuangan dan risiko lingkungan. Dalam kegiatan usahatani yang dilakukan petani mangga risiko yang memiliki nilai RPN dan RSV yang paling tinggi adalah risiko alam/lingkungan. 
WILAYAH POTENSIAL DALAM PENGEMBANGAN AGROWISATA BUAH DI KABUPATEN CIREBON Syamsiyah, Nur; Sulistyodewi, Sulistyodewi; Karyani, Tuti
OPTIMA Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.96 KB) | DOI: 10.33366/opt.v1i2.615

Abstract

Agriculture in Cirebon Regency very developed, one of the production of agricultural products that have increased the commodity of fruits, in addition to the agricultural sector, the tourism sector became the attraction of visitors to visit Cirebon regency. To be able develop agro-tourism potential areas that will be used as an area of agrobased development of fruit plants such as mango, guava, papaya and banana. Potential superior commodity areas were analyzed using Location Quotient (LQ) analysis of several subdistricts in Cirebon Regency. Cirebon Regency consists of 40 sub-districts, from 40 sub-districts there are 7 districts that become the commodity fruits base sector with LQ value above 1. Subdistricts that become the base areas are Sedong Subdistrict, Susukan Lebak Subdistrict, Greged Subdistrict and Duku putang Subdistrict The base area for the mango fruit commodity, Jamblang District as a guava commodity development area, Duku Puntang subdistrict and Greged sub district is the base for papaya commodities, and Lemah abang and Susukan subdistricts are the basis of banana commodities. For Localization Coefficient and Specialization coefficient, in sub-districts which are fruit commodity base sector there is not one subdistricts which is centered in producing a commodity or specializing in certain farming activities.
ANALISIS SOSIAL EKONOMI CALON PETANI PERLUASAN SAWAH DI KABUPATEN TULANG BAWANG, PROVINSI LAMPUNG Thoriq, Ahmad; Yunita, Desi; Sutrisno, Budi; Syamsiyah, Nur
OPTIMA Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (920.083 KB) | DOI: 10.33366/opt.v1i2.617

Abstract

Socio-economic is one of the factors that determines the feasibility of wetland expansion. Survey of socio-economic characteristics of prospective farmers is done on prospective location of rice field extension in Tulang Bawang district spread in six villages in four subdistricts. Data collection was conducted using questionnaires, and deepened with Focus Group Discussion (FGD) approaches, in-depth interviews, and field observations. The results showed that the age of prospective farmers was below 50 years old (77.02%), elementary school 31.36%, junior high 27.62% and high school 27.35%, mostly farmers (83.95%), Land of 2 hectares per farmer, and most willing to paddy (96,80%). Economically, wetland expansion program can improve farmer's welfare because the location candidate is not economically utilized swamp land, while social factor that hamper rice expansion program is land ownership conflict as happened in Andalas Village Cermin Subdistrict Rawa Pitu.
TINGKAT EFISIENSI TEKNIS USAHATANI PADI SAWAH DI DESA TAMBAKJATI, KECAMATAN PATOKBEUSI, KABUPATEN SUBANG, PROVINSI JAWA BARAT Rahnanita, Gina; Syamsiyah, Nur
Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 4, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Faculty of Agriculture, University of Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.931 KB) | DOI: 10.25157/ma.v4i2.1036

Abstract

Subang Regency is the third rice production center in West Java. Rice farming has become the main activity and hereditary in the District Patokbeusi. However, in 2016, Patokbeusi sub-district decreased rice productivity by 1.4 tons/ha. In this study aims to analyze the technical efficiency level of rice farming, and to knew the factors that affect farm productivity. This research was conducted in Tambakjati Village, Patokbeusi Subdistrict, Subang Regency, West Java. Data collection technique was conducted by survey with sampling method to rice farmer, which amounted to 55 people. The design of this studied is quantitative to express the effect of production factors on farming productivity. This research method used analysis of Cobb-douglas production function with stockastic frontier approach to knew the level of technical efficiency. The results showed that the average technical efficiency level of rice farming is 0,037. It means that rice farming in Tambakjati Village has not been efficient in using input production yet, so its use should be added. Production factors that have significant effect (? = 5%) on farming productivity are land, labour, seed, urea, and SP-36.Keywords: Rice farming, technical efficiency, stockastic frontier
PERAN KOPERASI SYARIAH BAITUL TAMWIL MUHAMMADIYAH TERHADAP PEMBERDAYAAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DI BANDAR LAMPUNG Syamsiyah, Nur; Syahrir, Annisa Martina; Susanto, Is
Al Amin: Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya Islam Vol 2, No 1 (2019): Al Amin: Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya Islam
Publisher : STIT AL-AMIN KREO TANGERANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.236 KB) | DOI: 10.36670/alamin.v2i1.17

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa  koperasi syariah memiliki potensi dan peranan yang sangat besar dalam upaya mendukung pemberdayaan UKM di Bandar Lampung, hal ini terlihat dari data laporan pembiayaan UKM di lokasi penelitian sebelum dan sesudah mendapatkan pembiyaan dari Koperasi Syariah BTM yang juga membantu pengembangan UKM dan praktek pemberdayaan UKM yang dilakukan oleh Koperasi Syariah BTM Bandar Lampung yang memberikan pembiayaan jasa layanan kepada masyarakat yaitu program kredit usaha dengan nisbah bagi hasil yang disepakati 30:70 dengan marjin 18% pertahun. Peranan Koperasi Syariah BTM Lampung dalam pemberdayaan UKM menurut perspektif ekonomi Islam yaitu koperasi syariah berdasarkan al-Quran dan as-Sunah yaitu: Saling tolong menolong (ta?wun) dan saling menguatkan (tafakul) yang didasarkan pada al-Quran surat al-Maidah (5) ayat 2. Koperasi syariah BTM Bandar Lampung juga menjunjung tinggi keadilan serta menolak setiap bentuk ribawi dan pemusatan sumber dana ekonomi pada segelintir orang atau sekelompok orang saja. Hal ini di dasarkan pada al-Quran surat al-Rum ayat 39.
IMPLEMENTASI BUDAYA KERJA BERORIENTASI KEBUTUHAN ANAK UNTUK MENGOPTIMALKAN TUMBUH KEMBANG ANAK USIA 0-6 TAHUN Syamsiyah, Nur
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 11 (1), 2015
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/harkat.v15i1.10429

Abstract

Masyarakat Indonesia sebagian besar beranggapan bahwa bekerja menjadi sebuah kebutuhan dalam hidupnya. Bekerja pada dasarnya adalah suatu proses pencarian nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh para pekerja adalah beratnya beban pekerjaan yang diberikan instansi, sehingga hampir semua waktu tersita untuk bekerja. Di Indonesia banyak terdapat kasus yang menimpa anak seperti kasus penelantaran, kekerasan, dan kasus perdagangan manusia. Hal ini salah satunya dipicu oleh kesibukan orang tua. Tumbuh kembang anak yang distimulasi oleh orang tua merupakan bagian dari usaha untuk menyiapkan generasi emas di masa mendatang. Hal ini disebabkan karena orang tua terutama ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Menyiapkan generasi emas dapat dilakukan dengan cara memberikan stimulasi perkembangan pada 1000 hari pertama setelah anak dilahirkan hingga anak berusia 6 tahun. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mensinergikan pekerjaan orang tua dengan proses tumbuh kembang anak dengan mengubah konsep budaya kerja berorientasi kebutuhan anak usia 0-6 tahun. Terciptanya budaya kerja ramah anak akan meningkatkan etos kerja dan produktivitas pegawai terutama kaum ibu.  Hal ini disebabkan karena kaum ibu meskipun tengah mengaktualisasikan dirinya di ruang publik namun  dapat tetap  mengontrol dan  berperan aktif untuk menstimulasi tumbuh kembang buah hatinya demi menyiapkan generasi emas di masa mendatang.
BIMBINGAN KELOMPOK SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN MORAL ANAK Syamsiyah, Nur
KONSELING RELIGI Vol 6, No 1 (2015): KONSELING RELIGI
Publisher : KONSELING RELIGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Membahas tentang anak adalah sebuah fase yang masih sangat membutuhkan bantuan bimbingan dan arahan untuk mengetahui banyak hal tentang kehidupan, dengan segala potensi yang sudah dimiliki. Sehingga pemahaman  tentang moral anak perlu dilakukan oleh orang dewasa (orang tua, guru, masyarakat) agar sejak dini sudah tertanam tentang batasan boleh dan tidaknya serta kejelasan sanksi “pelanggaran”, sehingga  anak siap untuk memasuki tugas perkembangan berikutnya.  Dengan ciri khas karakteristik anak adalah awal bersosialisasi  dengan lingkungan sosial yang lebih luas maka anak-anak cenderung memiliki keinginan untuk diterima oleh kelompok bermain (peer group), meskipun nilai-nilai keluarga  tetap menjadi pedoman perilaku anak karena sudah terjadi pembiasaan.Kondisi  tersebut yang memungkinkan bimbingan kelompok dalam upaya membentuk moral anak. Dengan berkelompok (memiliki beberapa kesamaan), maka anak akan saling mencontoh dengan arahan keteladanan dari pembimbing. Selain bimbingan kelompok, lingkungan yang kondusif akan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak untuk mentaati norma yang berlaku, sehingga pembentukan moral anak terhindar dari tekanan ketakutan.  Karena untuk memahamkan pada anak bahwa aturan (norma sosial dan norma agama) dalam kehidupan bermasyarakat agar terjadi keteraturan (ketentraman) dan saling membantu mengoptimalkan potensi yang telah dimiliki oleh seorang anak yang merupakan generasi penerus yang berprestasi dan membanggakan. Dengan moralitas, maka anak-anak akan mampu  untuk  menjalani tugas-tugas perkembangan dan memenuhi semua kebutuhan sesuai dengan norma yang berlaku.Kata Kunci: BK Kelompok, Moral AnakCOUNSELING GROUP EFFORT AS A MORAL FORMATION OF CHILDREN.Discusses Child is a phase that still need guidance and direction to help determine a lot of things about  life, with all the potential that is already owned. So the moral understanding of children needs to be done by adults (parents, teachers, community) that is  embedded   early  on allowed  limits  and the  presence and clarity  of sanctions  “offense”, so  that children  are  ready  to enter the next development task. With the typical characteristics of children is beginning to socialize with the wider social environment, the  children tend to have  a desire  to be  accepted  by the  group play(peergroup),although the family values remain a guideline for the child’s behavior has occurred habituation. The conditions that allowed the guidance of the group in order to form the morals. With the group (has some similarities), then the child will imitate  each other with referrals exemplary of the supervisor. In addition to group counseling , an enabling environment will provide an enjoyable experience for the child to obey the norm, so the moral formation of children avoid the pressure of fear. Due to hang on a child that the rules (norms of social and religious norms) in public life to occur regularity (tranquility) and mutual help optimize the potential that has been owned by a child who is the next generation that their achievement. With morality, then the children will be able to undergo developmental tasks and meet all requirements in accordance with norms.Keywords: BK group, Moral Children
GAYA BAHASA DALAM KUMPULAN PUISI “DEAR YOU” KARYA MOAMMAR EMKA Syamsiyah, Nur; Rosita, Farida Yufarlina
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 3 No 1 (2020): DIGLOSIA, Februari 2020
Publisher : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.645 KB) | DOI: 10.30872/diglosia.v3i1.27

Abstract

The purpose of this study is to describe the types of use of language style in the collection of poems of ?Dear You? by Moammar Emka published in 2011. This study uses descriptive qualitative methods. The data source in this study is a collection of poems contained in the poem ?Dear You? by Moammar Emka. Data collection techniques in research, using content analysis techniques (text). The results of this study indicate that the use of language style and the value of character education in the collection of poetry ?Dear You? by MoammarEmka has a type of language style: (a) parables, (b) metaphors, (c) personification, (d) depersonification, (e) hyperbole, (f) litotes, (g) metonimia, (h) sinekdoke, (i) alliteration, and (j) asonance. Of the ten language styles, the data obtained were 117 data with the smallest data of four data, namely the style of asonance language and the most data of thirty-four data, namely the style of the metaphorical language.
TINGKAT PENDAPATAN USAHATANI PADI DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN PETANI Syamsiyah, Nur; Thoriq, Ahmad; Pardian, Pandi; Karyani, Tuti; Kusno, Kuswarini
JURNAL AGRIBISNIS TERPADU Vol 10, No 1 (2017): Jurnal Agribisnis Terpadu
Publisher : Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.117 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Hegarmanah Kabupaten Sumedang. Desa Hegarmanah tahun 2011 merupakan desa yang memiliki luas panen padi sawah terluas dibandingkan desa-desa lainnya yaitu seluas 242 hektar, pada tahun 2014 luas sawah menjadi 86,82 hektar dan akan semakin berkurang dari tahun ke tahun akibat dari alih fungsi lahan ke non pertanian. Tujuan Penelitian adalah mengetahui karakteristik usahatani padi di Desa Hegarmanah dan menganalisis tingkat pendapatan dan kontribusi pendapatan usahatani padi terhadap struktur pendapatan petani. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik penelitian study kasus (case study). Rancangan analisis usahatani diperlukan untuk mengetahui besarnya penerimaan petani dan analisis R/C ratio. Hasil penelitian diperoleh 81,25 persen petani menjual sebagian hasil produksinya (semi komersial) dan 25 persen petani menjual hasil usahatani, 18,75 persen petani tidak menjual hasil usahataninya. Petani dengan kuantitas penjualan terbesar hanya mencapai 42 kwintal atau sekitar 75 persen dari keseluruhan hasil produksinya. R/C ratio petani lebih besar dari 1 artinya usahatani padi yang dilakukan menguntungkan. Kontribusi pendapatan usahatani padi terhadap pendapatan total petani sangat bervariasi mulai 12 persen hingga 100 persen, Sebagian petani memang masih menggantungkan hidupnya dari usahatani padi, tambahan penghasilan diperoleh dari peternakan dan tanaman perkebunan, usaha kost-kostan, usaha industri pengolahan, jasa dan perdagangan.
STRATEGI ADOPSI TEKNOLOGI PERTANIAN BERDASARKAN KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PETANI DI KABUPATEN SUMEDANG Thoriq, Ahmad; Sampurno, Rizky Mulya; Syamsiyah, Nur; Setiawan, Iwan
Agricore Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor penting dalam peningkatan produktivitas pertanian adalah melalui penerapan teknologi. Percepatan adopsi teknologi akan dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi petani. Penelitian ini  bertujuan merumuskan strategi adopsi teknologi pertanian berdasarkan karakteristik sosial ekonomi petani di Kabupaten Sumedang. Subjek penelitian ini adalah 4784 petani yang tersebar di 76 Desa yang terletak di 18 Kecamatan di Kabupaten Sumedang. Pemilihan lokasi didasarkan pada ketersediaan lahan pertanian yang mendapat program perluasan sawah.  Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuisoner, dan diperdalam dengan pendekatan Focus Group Discussion (FGD), wawancara mendalam, serta observasi terhadap kondisi sosial, ekonomi, budaya,  serta lingkungan lokasi studi. Hasil penelitian menunjukkan usia petani mayoritas diatas 50 tahun (77,87%), 2) pendidikan rendah (SD : 89,21%) , 3) penguasaan lahan ≤ 0,25 hektar perpetani (58,28%), dan 4) tanggunan keluarga  1- 7 orang.  Strategi yang dilakukan berdasarkan usia dan pendidikan adalah melalui 1) Pembentukan kelompok tani dan penguatan kelembagaan, 2) Teknologi yang diterapkan sederhana, tepat guna dan telah teruji, 3) Penggunaan metode penyuluhan yang mudah dipahami, 4) Pemberdayaan agen penyuluhan. Strategi yang dilakukan berdasarkan penguasaan lahan adalah contoh nyata penerapan konsolidasi lahan dan penerapan teknologi spesifik lokasi pada lahan berbukit, dan strategi yang dilakukan untuk mengatasi keterbatasan sumberdaya pertanian adalah melalui sistem gotong royong berbasis kelompok dan contoh nyata penerapan teknologi pertanian.