Articles

Found 8 Documents
Search

DISIPASI ENERGI KINETIK PASANG SURUT BAROTROPIK DAN BAROKLINIK DI LAUT SULAWESI Hermansyah, Hadi; Nugroho, Dwiyoga; Atmadipoera, Agus Saleh; Prartono, Tri; Jaya, Indra; Syamsudin, Fadli
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.21793

Abstract

Laut Sulawesi merupakan salah satu jalur penting perlintasan Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang memiliki energi pasang surut internal yang kuat. Arus pasang surut tinggi yang berinteraksi dengan topografi yang kasar akan menciptakan gelombang internal yang kuat. Disipasi dari pasang surut internal akan menyebabkan terjadinya percampuran yang akan memberikan efek penting untuk sistem perubahan iklim dan sumber daya laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkuantifikasi dinamika dan energetik gelombang internal di Laut Sulawesi dengan pendekatan pemodelan laut tiga dimensi NEMO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelombang internal dibangkitkan pada daerah Kepulauan Sulu dan Sangihe-Talaud dengan nilai konversi energi lebih dari 10-3Wm-2 dan berpropagasi masuk ke area basin Laut Sulawesi. Disipasi energi yang terjadi pada pusat pembangkitan berkisar 10,8 GW dan berpopagasi pada area dekat pusat pembangkitan dan area basin Laut Sulawesi. Sekitar 25% (5 GW) didisipasi terjadi dekat pusat pembangkitan, peningkatan disipasi energi baroklinik terjadi pada saat gelombang internal berpopagasi menjauhi daerah pusat pembangkitan dengan nilai yang bervariasi antara 1,4 sampai 4,8 GW. Daerah dengan jarak 36 km sampai 54 km terjadi penurunan disipasi energi baroklinik, signal yang kuat dari Kepulaun Sangihe-Talaud berangsur menurun pada saat propagasi dari 10-2sampai 10-3W/m2.
VARIASI DATA SUHU PERMUKAAN LAUT, TINGGI PARAS LAUT, KLOROFIL-A, DAN UPWELLING DI PERAIRAN SELATAN JAWA SERTA KORELASINYA DENGAN DATA LAPANGAN Rachman, Herlambang Aulia; Gaol, Jonson Lumban; Syamsudin, Fadli
Journal of Marine and Aquatic Sciences Vol 5 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jmas.2019.v05.i02.p17

Abstract

 Perairan Selatan Jawa merupakan wilayah yang memiliki dinamika yang cukup kompleks karena dipengaruhi oleh beberapa faktor baik secara regional atau global. Adanya pengaruh tersebut tentu berdampak terhadap variasi kondisi oseanografi di perairan seperti Suhu Permukaan Laut (SPL), Tinggi Paras Laut (TPL), dan Klorofil-a. Observasi data oseanografi pada saat ini telah banyak dilakukan, salah satunya dengan metode pengindraan jauh. Tujuan dalam penelitian ini adalah menghitung variasi bulanan dari kondisi oseanografi berdasarkan data satelit dan korelasinya dengan data lapangan. Hasil validasi menunjukkan data SPL dan ATPL dengan data lapangan memiliki hubungan cukup baik, dimana nilai R2 mencapai 0.74 dan 0.9. Variasi data oseanografi secara umum memiliki pola yang sama yakni berubah secara musiman. Data SPL dan ATPL berada pada kondisi maksimum pada periode bulan Januari-Maret, sedangkan minimum pada Juli-September. Sedangkan konsentrasi klorofil-a berada kondisi maksimum pada Juli-September dan minimum pada Januari-Maret. Hal tersebut diduga adanya fenomena upwelling yang terjadi pada Juli-September akibat adanya pergerakan angin muson. Hasil perhitungan indeks upwelling berdasarkan data angin menunjukkan bahwa pada periode Juni hingga September merupakan puncak terjadinya upwelling.
GLOBAL DIMMING DAN MASA DEPAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA Syamsudin, Fadli
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 6, No 1 (2005): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v6i1.331

Abstract

A-14-year (1979-1993) image satellites of Solar Radiation, NOAA and SeaSurface Height Anomaly of TOPEX/POSEIDON and ERS-2 have been used to study a reducing solar radiation received by the Earth (global dimming) and to predict local weather anomaly for the future climate prediction in the Indonesian region. The result shows that a dimming of solar radiation is of 16.6% during 14-year observation. It is higher than the mean increasing of global dimming of 2 - 3% for every decade. This explicitly indicates that the air pollution in the form of aerosols from industrial sectors has large contributions to this this dimming process. At the other side, there is a trend of dominant warm water in the southern Jawa-Bali that affect on the increasing of rainfall intensity in the Indonesian region. We predict that flood and a longer dark during the day time, and more variative local weather change will be more frequently happen in the Indonesian region in the futu
Study on Heat Island Effect Induced by Land Use Change Increased Temperature in Metropolitan Jakarta Lestari, Sopia; Moersidik, Setyo S.; Syamsudin, Fadli
Journal of Mathematical and Fundamental Sciences Vol 47, No 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.842 KB) | DOI: 10.5614/j.math.fund.sci.2015.47.2.2

Abstract

The heat island (HI) effect in metropolitan Jakarta was studied using air temperature measurements at 9 meteorological stations in Jakarta, Tanjung Priok, Serang, Halim, Cengkareng, Pondok Betung, Curug, Bogor, Citeko during 1986-2008 and Serpong during 2008-2011 and 2013; land use for forest, industry, water, settlement, open/cleared land in 1997, 2004, 2009, 2012; and total number of industries and total number of vehicles during 1986-2011. Harmonic analysis was used to remove the seasonal component from the temperature time series data, which was filtered with the 30-day moving average technique to capture trends whose significance was tested with the Mann-Kendall method. The results show that industry was a major factor in land use change over Jakarta with an increasing growth/year of 502 ha (9.76%) concentrated in the eastern part of Jakarta from 1997 to 2012. Industry had a spatial cover change similar to deforestation and open/cleared land expansion, especially in Jakarta from 2009 to 2012: 38.8%/year (industry), 8.3%/year(deforestation), and 13.8%/year (open/cleared land). The HI effect increased the temperature trend rate/year in Jakarta, Tanjung Priok, Serang, Halim, Pondok Betung, Cengkareng, Curug, and Bogor about 0.051°C, 0.021°C, 0.018°C, 0.012°C, 0.006°C, 0.006°C, 0.005°C, and 0.004°C from 1986 to 2008, respectively, equivalent to average warming in the city, suburban, and mountainous areas of around 2.5°C, 0.6°C, and 0.4°C, respectively within 100 years from 2009.
CHARACTERISTIC OF PHYSICAL OCEANOGRAPHY IN EAST INDIAN OCEAN DURING POSITIVE PHASE OF INDIAN OCEAN DIPOLE (IOD) OF 1994/1995, 1997/1998, AND 2006/2007 Dipo, Pramudyo; Nurjaya, I Wayan; Syamsudin, Fadli
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 3 No. 2 (2011): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1795.914 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v3i2.7823

Abstract

There is an inter-annual phenomenon in the Indian Ocean that occurs because of the interaction between atmosphere and ocean are known Indian Ocean Dipole (IOD). IOD is a bipolar structure that characterized by the difference of sea surface temperature to normal. The objectives of this study is to know the characteristic of physical oceanography in the eastern part of Indian Ocean during the formation phase, maturation phase and decay phases of positive IOD. The second objective was to determine the comparative characteristic of physical oceanography in the eastern Indian Ocean between the positive IOD in different years. The strengthening of the South Equatorial Current in transitional seasons I (March-May) followed by early cooling of the SST which is indicated by the formation phase of IOD. At the Southeast monsoon (June to August) and the beginning of the season transition II, there is a visible presence of upwelling in the south of Java, which is then further extends to the peak in September (maturation phase) and begin to disappear in October followed by warming of the SST on the East of Indian Ocean in November (decay phase).Keywords: Indian Ocean Dipole, upwelling, Empirical Orthogonal Function (EOF) analysis, Eastern Indian Ocean
DAMPAK PEMANASAN PULAU PERKOTAAN (URBAN HEAT ISLAND) PADA PENINGKATAN TREN CURAH HUJAN EKSTREM DAN AEROSOL DI MEGAPOLITAN JAKARTA SEJAK TAHUN 1986 Syamsudin, Fadli; Lestari, Sopia
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v18i1.951

Abstract

Dampak pemanasan pulau perkotaan (urban heat island (UHI)) pada curah hujan ekstrem dan aerosol telah dikaji dalam penelitian ini menggunakan data curah hujan harian dan konsentrasi aerosol bulanan (NO2, SO2, dan SPM) di stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada megapolitanJakarta dan wilayah pegunungan Bogor dan Citeko dari 1986-2012. Analisis harmonik dilakukan untuk menghilangkan pengaruh musiman pada hasil tren data curah hujan dan selanjutnya signifikansi tren tersebut diuji dengan metoda statistik Mann-Kendall. Hasil penelitian menunjukkan dampak pemanasanpulau perkotaan (UHI) telah terjadi secara nyata dengan tren peningkatan curah hujan ekstrem dari indikator total hari hujan 40, 50 dan 100 mm/tahun dan konsentrasi aerosol di wilayah megapolitan Jakarta dan sekitarnya dengan laju tren masing-masing sebesar 0.17 hari/tahun, 0.17 hari/tahun, dan 0.04 hari/tahun, dan 3.7e-004 ppm/tahun (NO2) dan 0.148 ppm/tahun (SO2). Namun sebaliknya terjadi tren penurunan di wilayah pegunungan Bogor dan Citeko. Hasil penelitian ini menunjukkan ada indikasi peningkatan UHI menyebabkan kenaikan konsentrasi aerosol di megapolitan Jakarta dan kondisi ini menjadi trigger peningkatan curah hujan ekstrem yang berdampak pada intensitas banjir yang semakin meningkat sejak tahun 1986.Kata kunci: Pemanasan pulau perkotaan, curah hujan ekstrem, aerosol, tren
THE ROLE OF DECADAL KELVIN WAVE IN THE WESTERN OF SUMATRA AND ALONG THE SOUTH COAST OF JAVA USING FREQUENCY-WAVENUMBER 2D SPECTRAL ANALYSIS Khoirunnisa, Hanah; Arif Rachman, Reno; Sari Ningsih, Nining; Syamsudin, Fadli
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 5 No. 1 (2020): JGEET (Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technalogy) Vol 05
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2020.5.1.3889

Abstract

This study observed the decadal variability of the sea surface height anomaly (SSHA) and identified the decadal Kelvin wave propagation along west-Sumatra and south coast of Java.  SSHA data and the vertical distribution of sea temperature for 64 years from HYCOM model resulted has already used in this research. There are several methods to identify the propagation of decadal Kelvin wave. These methods were low-pass filter by cut-off 1 and 8 years, visual analytic by using Hovm?ller diagram method, and frequency-wavenumber 2D spectral analysis to identify the Kelvin wave propagation and its period. The decadal Kelvin wave could be observed in west coast of Sumatra and along south coast of Java. There are three propagations of decadal Kelvin wave and their velocities were 1.029x10-3 m/s (1974 ? 1976), 0.21 m/s (1985 ? 1986), and 6.86x10-4 m/s for 1998 to 2001 trough west Sumatra and southern Java. The frequency-wavenumber 2D spectral analysis produced the improvement of Kelvin wave and it has the period of 7.25 years. The occurrence of the Kelvin wave has a relation to IOD index. The average of the IOD index when the decadal Kelvin wave was occurring must be the negative value, its value was a -0.21.
PEMODELAN KEJADIAN BANJIR DAERAH ALIRAN SUNGAI CILIWUNG HULU DENGAN MENGGUNAKAN DATA RADAR Putiamini, Sepanie; Kusratmoko, Eko; Syamsudin, Fadli
Jurnal Geografi Lingkungan Tropik Vol 1, No 1 (2017): August
Publisher : Open Journal System

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.239 KB) | DOI: 10.7454/jglitrop.v1i1.3

Abstract

Penelitian ini melaporkan penerapan pemodelan hidrologi, HEC-HMS, terintegrasi dengan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk mengkaji hubungan curah hujan dan debit aliran dengan kasus DAS Ciliwung Hulu. Data spasial curah hujan yang diperoleh dari data radar digunakan dalam proses simulasi curah hujan-debit aliran dan hasilnya dibandingkan dengan hasil simulasi menggunakan data curah hujan hasil observasi. Analisis hasil simulasi curah hujan-debit aliran dianalisis dengan pendekatan spasial, yaitu membandingkan perbedaan dan persamaan antar sub DAS. Simulasi dilakukan untuk kejadian banjir tahun 2002, 2007 dan 2013. Hasil simulasi curah hujan-debit aliran dengan menggunakan data radar hujan, menunjukkan bahwa sub-DA CiLiwung (Tugu) merupakan sub-DAS yang memberikan debit dengan volume tertinggi pada kejadian banjir bulan Januari - Februari tahun 2002 dan 2007 serta tanggal 16 - 17 Januari 2013 yakni masing- masing sebesar 117 mm, 124 mm dan 46 mm. Faktor karakteristik fisik DAS berupa kemiringan DAS, penggunaan lahan, jenis tanah, dan besarnya curah hujan menjadi faktor yang menentukan tingginya debit aliran. Hasil validasi menggunakan metode RMSE dan Nash menghasilkan nilai simpangan yang kecil terhadap data observasi. Hal tersebut menunjukan bahwa penggunaan data radar cuaca dapat diandalkan dalam mensimulasikan hujan-debit.