Muhdan Syarovy
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan 20158

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

OPTIMALISASI PERTUMBUHAN TANAMAN KELAPA SAWIT DI TANAH SPODOSOL Syarovy, Muhdan; Ginting, Eko Noviandi; Wiratmoko, Dimas; Heri Santoso, Heri Santoso
Pertanian Tropik Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Pasca Sarjana FP USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.6 KB)

Abstract

Semakin terbatasnya lahan yang optimal, membuat pengembangan kelapa sawit saat ini diarahkan ke lahan marginal. Lahan dengan jenis tanah spodosol merupakan salah satu lahan marginal yang telah dimanfaatkan untuk pengembangan kelapa sawit. Selain memiliki lapisan spodik, faktor pembatas lain dari tanah spodosol ialah memiliki tekstur kasar (terbentuk dari bahan pasir atau pasir berlempung) dengan iklim dingin dan tropika basah serta bersifat masam. Akibatnya, tanah tersebut memiliki kemampuan yang rendah dalam menahan air dan pencucian hara akan menjadi lebih tinggi. Pengolahan yang tepat sangat diperlukan agar kelapa sawit yang ditanam pada tanah spodosol dapat tumbuh dengan optimal. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengidentifikasi tanah spodosol dan tingkat kedalaman lapisan spodik, memperbaiki media pertumbuhan tanaman, memperbaiki iklim mikro dan pemupukan yang tepat.Kata kunci: Lahan marginal, kelapa sawit, spodosol
PERBAIKAN SIFAT-SIFAT DAN PENCEGAHAN HIDROFOBISITAS TANAH GAMBUT DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT MELALUI APLIKASI TERAK BAJA Winarna, Winarna; Pradiko, Iput; Syarovy, Muhdan; Hidayat, Fandi
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 24 No 1 (2016): Indonesian Journal of Oil Palm Research
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.933 KB) | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v24i1.5

Abstract

Pengembangan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut dihadapkan pada permasalahan hidrofobisitas tanah gambut sebagai akibat dari drainase tanah gambut yang berlebihan. Hidrofobisitas menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan mengikat air dan hara tersedia dalam tanah. Selain penerapan tata air yang tepat, ameliorasi tanah gambut dengan bahan kaya besi (seperti terak baja) diduga dapat meningkatkan stabilitas tanah gambut dan memperbaiki kesuburannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh aplikasi terak baja terhadap perubahan sifat-sifat tanah dan kaitannya dengan hidrofobisitas tanah gambut. Tanah gambut yang diteliti diinkorporasikan dengan terak baja dan diinkubasi selama 60 hari. Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial 2 x 2 x 4. Faktor pertama merupakan kematangan gambut yang terdiri dari 2 taraf yaitu saprik (S) dan hemik (H), sedangkan faktor kedua merupakan kelembaban tanah yang terdiri dari 2 taraf yaitu kapasitas lapang (W1) dan kadar air di bawah kadar air kritis (W2). Sementara itu, faktor ketiga merupakan aplikasi terak baja yang terdiri dari 4 dosis yaitu tanpa (TB0); 7,17 g/pot (TB1); 14,81 g/pot (TB2); dan 22,44 g/pot (TB3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan terak baja sebagai bahan amelioran nyata meningkatkan pH tanah, kadar abu, dan kadar air teretensi pada pF 4,2. Aplikasi terak baja secara nyata berpengaruh terhadap penurunan waktu untuk menyerap air kembali pada tanah gambut saprik. Selain itu, waktu penetrasi air ke dalam tanah gambut berkorelasi negatif dengan pH tanah, kadar abu dan kadar air teretensi pada pF 4,2. Secara keseluruhan, penambahan terak baja dapat meningkatkan kemampuan tanah gambut untuk menyerap air kembali dan mencegah terjadinya hidrofobisitas.
PEMANFAATAN BAKTERI ENDOFIT UNTUK MENINGKATKAN KERAGAAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) Hidayat, Fandi; Rahutomo, Suroso; Farrasati, Rana; Pradiko, Iput; Syarovy, Muhdan; Sutarta, Edy Sigit; Widayati, Wiwik Eko
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 26 No 2 (2018): Indonesian Journal of Oil Palm Research
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.806 KB) | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v26i2.36

Abstract

Bakteri endofit merupakan mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan tanaman, tidak berbahaya bagi tanaman inang, dan berasosiasi dengan tanaman untuk mendukung kesehatan tanaman. Peran bakteri endofit diantaranya adalah penambat nitrogen bebas udara, menghasilkan fitohormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman seperti IAA dan sitokinin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh inokulasi bakteri endofit dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit, serapan hara, dan potensi pengurangan dosis urea. Penelitian ini dilaksanakan di pembibitan kelapa sawit Kebun Aek Pancur pada tahap main nursery sejak umur 3 bulan hingga 9 bulan. Perlakuan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan enam perlakuan dan diulang sebanyak empat kali. Perlakuan terdiri dari (1) kontrol; (2) 100% pupuk standar; (3) 25% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N25); (4) 50% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N50); (5) 75% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N75); dan (6) 100% pupuk urea + inokulasi bakteri endofit (B1N100). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B1N75 merupakan kombinasi perlakuan terbaik yang ditunjukkan dengan tingginya nilai efektif agronomi nisbi (EAN) 5,5% lebih tinggi dari standard dan memiliki performa keragaan serta produksi biomassa kering yang setara dengan 100% pemupukan nitrogen anorganik. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi bakteri endofit dalam penelitian ini mampu menurunkan penggunaan pupuk urea hingga 25%.
EFEK KEKERINGAN DAN GANGGUAN ASAP TERHADAP EKOFISIOLOGI DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KELAPA SAWIT DI SUMATRA SELATAN Syarovy, Muhdan; Pradiko, Iput; Listia, Eka; Darlan, Nuzul Hijri; Hidayat, Fandi; Winarna, Winarna; Rahutomo, Suroso
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 25 No 3 (2017): Indonesian Journal of Oil Palm Research
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.781 KB) | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v25i3.31

Abstract

Kekeringan panjang, kebakaran lahan, dan gangguan asap terjadi selama El Niño 2015 di Indonesia. Penelitian telah dilakukan untuk mengetahui dampak kekeringan panjang dan gangguan asap terhadap ekofisiologi tanaman kelapa sawit di Kebun Dawas, Sumatra Selatan. Penelitian dilakukan dengan menghimpun data curah hujan, visibilitas, pertambahan pelepah kelapa sawit, laju fotosintesis, Photosinthetically Active Radiation (PAR), dan aktivitas serangga Elaeidobius kamerunicus pada TBM dan TM saat sebelum, ketika, dan sesudah terjadinya cekaman kekeringan dan gangguan asap. Analisis data dilakukan secara statistik menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa defisit air terjadi pada Juli, Agustus, September dan Oktober berturut-turut sebesar 45, 92, 80, dan 148 mm. Jumlah bulan kering (≤ 60mm) adalah 2 bulan, sementara hari terpanjang tidak hujan (dry spell) terjadi 3 kali yaitu selama Juni-Juli (33 hari), Agustus-September (42 hari), dan September-Oktober (40 hari). Gangguan asap terjadi pada Agustus-November dengan penurunan visibilitas mencapai 80%. Selama periode cekaman kekeringan dan gangguan asap tersebut,terjadi penurunan pertambahan pelepah baru, laju fotosintesis dan penurunan produksi di tahun berikutnya. Gangguan asap juga mengakibatkan penurunan kunjungan serangga Elaeidobius kamerunicus ke bunga betina hingga 95%.
Pengaruh Ketinggian Tempat terhadap Performa Fisiologis Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Listia, Eka; Pradiko, Iput; Syarovy, Muhdan; Hidayat, Fandi; Ginting, Eko Noviandi; Farrasati, Rana
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 43, No 1 (2019)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2017/jti.v43i1.9563

Abstract

Abstrak. Saat ini, tercatat lebih dari 10.000 hektar tanaman kelapa sawit di Indonesia telah dikembangkan pada lahan dengan ketinggian tempat lebih dari 600 m di atas permukaan laut (dpl). Budidaya kelapa sawit di dataran tinggi dihadapkan pada beberapa faktor pembatas seperti rendahnya suhu, tingginya kelembaban dan curah hujan, serta terbatasnya lama penyinaran matahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisiologis tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan di empat lokasi dengan ketinggian tempat yang berbeda yaitu: 50, 368, 693, dan >865 m dpl. Penelitian dilakukan pada tanaman kelapa sawit berumur 7-8 tahun. Peubah yang diamati adalah peubah lingkungan/iklim serta performa fisiologis tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik fisiologis tanaman seperti laju fotosintesis, laju transpirasi, konsentrasi CO2 interseluler, dan dimensi stomata dari tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan pada dataran tinggi lebih rendah dibanding proses fisiologis tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan pada dataran yang lebih rendah. Akan tetapi tingkat prolin dan aktivitas enzim nitrate reductase yang lebih tinggi dimiliki oleh tanaman yang berada pada dataran tinggi. Penelitian ini menegaskan bahwa karakteristik fisiologi tanaman kelapa sawit yang optimum terdapat pada tanaman yang berada pada dataran dengan ketinggian kurang dari 600 m dpl.Abstract. Nowadays, more than 10,000 hectares of oil palm plantations in Indonesia have been cultivated at the altitude of > 600 m above sea level (asl). The cultivation of oil palm in the higher altitude is subjected to several limiting factors such as low temperature, high humidity and rainfall, and also short daily duration of solar radiation. This study was conducted to evaluate the physiological characteristics of oil palm planted at four altitudes: 50, 368, 693, and 865 m asl. The study was employed for 7-8 years old oil palm. The environmental (climate) and physiological performance variables were measured. The results showed that oil palm planted at the higher altitudes had lower rates of photosynthesis, transpiration, lower intercellular CO2 concentration and lower stomata dimension compared to oil palm cultivated at the lower altitudes. However, the proline level and the activity of nitrate reductase of palm cultivated on the higher altitudes were higher than that of the palm cultivated at the lower altitudes. This research results reconfirm that, the optimum physiological characteristics of oil palm were observed at the altitude of less than 600 m asl.
KESUBURAN TANAH DAN LAJU FOTOSINTESIS TANAMAN KELAPA SAWIT YANG MENUNJUKKAN GEJALA WHITE STRIPE PADA LAHAN GAMBUT DI LABUHAN BATU Sutarta, Edy Sigit; Syarovy, Muhdan
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 27 No 2 (2019): Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v27i2.78

Abstract

White stripe merupakan hilangnya pigmen hijau dengan bentuk memanjang pada bagian sisi kiri dan kanan dekat lidi pada anak daun. White stripe sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan rasio hara N/K pada tanaman kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesuburan tanah, pertumbuhan tanaman, dan laju fotosintesis tanaman kelapa sawit yang menunjukkan gejala white stripe pada lahan gambut Fluvaquentic Haplosaprists di Labuhan Batu. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati ekofisiologi dari 3 kondisi tanaman yang terdiri dari: a) tanaman sehat tanpa gejala white stripe maupun gejala defisiensi Boron, b) tanaman dengan gejala white stripe, dan c) tanaman dengan gejala defisiensi Boron. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah pada areal percobaan memiliki status kesuburan yang cukup baik.  Kesuburan tanah dari 3 kondisi tanaman hampir tidak berbeda kecuali kadar hara tersedia, dimana tanaman dengan gejala white stripe memiliki rerata P tersedia, serta K, Ca, Na, dan Mg dapat ditukar yang lebih rendah dibanding tanaman sehat maupun tanaman yang menunjukkan gejala defisiensi Boron. Tanaman dengan gejala white stripe memiliki rasio N/K daun yang rendah (2,19), dan tidak menunjukkan kaitan dengan terjadinya defisiensi Boron, dengan indeks luas daun (ILD) yang tidak berbeda nyata dibanding perlakuan lainnya. Kandungan klorofil yang rendah pada daun tanaman dengan gejala white stripe maupun defisiensi Boron mengakibatkan rendahnya laju fotosintesis dan ILD. Jika gejala white stripe maupun defisiensi Boron ini tidak segera diatasi, maka hal ini akan berakibat menurunnya pertumbuhan dan produktivitas tanaman kelapa sawit.
APLIKASI KOTORAN SAPI UNTUK PERBAIKAN SIFAT KIMIA TANAH DAN PERTUMBUHAN VEGETATIF BIBIT KELAPA SAWIT (ELAEIS GUINEENSIS JACQ.) PADA MEDIA SUB SOIL Hidayat, Fandi; Syarovy, Muhdan; Pradiko, Iput; Rahutomo, Suroso
Jurnal Penelitian Kelapa Sawit Vol 28 No 1 (2020): Jurnal Penelitian Kelapa Sawit
Publisher : Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iopri.jur.jpks.v28i1.107

Abstract

Standar media tanam untuk bibit kelapa sawit adalah top soil dengan kan-dungan bahan organik yang cukup. Meskipun demikian, pada kondisi tertentu seperti di lahan mineral marjinal dimana top soil sudah tererosi berat, sehingga top soil sulit didapat. Pada kondisi demikian maka sub soil digunakan sebagai media tanam. Sifat fisik, kimia, dan biologi sub soil umumnya kurang memenuhi syarat untuk digunakan sebagai media tanam, namun sifat tersebut masih mungkin diperbaiki dengan me-nambahkan bahan pembenah tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi bahan pem-benah tanah dalam bentuk kotoran sapi (notasi O, taraf 0 dan 5%) dan pemupukan anorganik standar (notasi S, taraf 0; 25; 50; 75; dan 100%) terhadap perubahan sifat kimia media sub soil dan pertumbuhan bibit kelapa sawit. Penelitian disusun meng-gunakan rancangan acak kelompok dengan 7 perlakuan yaitu kontrol (O0S0), standar pupuk anorganik (O0S100), dan 5 perlakuan lainnya yang merupakan kombinasi antara 5% kotoran sapi dengan berbagai taraf standar pupuk anorganik (O5S0, O5S25, O5S50, O5S75, dan O5S100). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi 5% kotoran sapi meningkatkan ketersediaan bahan organik, kapasitas tukar kation, dan hara tersedia di media sub soil. Meskipun O5S50 (kombinasi aplikasi 5% kotoran sapi dan 50% pupuk anorganik standar telah menghasilkan nilai Efektivitas Agronomi Nisbi (EAN) di atas 100%, pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit terbaik diperoleh pada per-lakuan O5S100 (kombinasi aplikasi 5% kotoran sapi dan 100% dosis pupuk anorganik standar).