Articles

Found 24 Documents
Search

ANALISIS TARIF RUMAH SAKIT DIBANDINGKAN DENGAN TARIF INDONESIAN CASE BASED GROUPS PADA PASIEN RAWAT INAP PESERTA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DI RUMAH SAKIT Rahayuningrum, Indriyati Oktaviano; Tamtomo, Didik Gunawan; Suryono, Arief
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: PROSIDING IMPLEMENTASI PENELITIAN PADA PENGABDIAN MENUJU MASYARAKAT MANDIRI BERKEMAJUAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.353 KB)

Abstract

Latar Belakang: Rumah sakit sebagai fasilitas rujukan tingkat lanjut memiliki peran penting dalam implementasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Untuk pembayaran pelayanan kesehatan bagi peserta JKN yang dirawat di RS, BPJS kesehatan melakukan pembayaran berdasarkan tarif Indonesian case based groups (INA CBGs). Namun hal ini belum efektif karena dengan tarif INA CBGs berpotensi menimbulkan kerugian bagi RS. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah tarif RS lebih tinggi dari tarif INA CBGs dan apakah terdapat hubungan antara tarif RS dan faktor-faktor : jenis RS, kelas perawatan, tingkat keparahan, penggunaan ICU dan lama perawatan.Subjek dan Metode : Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember 2016 di dua RS pemerintah dan 2 RS Swasta. Pengambilan sampel dengan teknik consecutive sampling.Jumlah sampel 100 sampel. Variabel terikat : tarif RS dan tarif INA CBGs, variabel bebas : jenis RS, kelas perawatan, tingkat keparahan, penggunaan ICU dan lama perawatanHasil: Tarif RS lebih rendah dari tarif INA CBGs. Mean tarif RS Rp. 2.280.000 ,- dan mean tarif INA CBGs Rp. 3.060.000,-. Korelasi positif dan signifikan (r= 0.51 p = <0.001). Terdapat hubungan negatif antara tarif RS dan Jenis RS. Tarif RS swasta lebih rendah daripada RS pemerintah (b=-5.66xRp. 1.000.000, CI=95%, p= 0.078).Terdapat hubungan negatif antara tarif RS dan kelas perawatan (kelas 2 : b= -0.34 XRp.1.000.000,- , CI= 95 %, p =0.371 dan kelas 3 : b =-0.50 XRP. 1.000.000,-, CI =95%, p= 0.177). Terdapat hubungan positif antara tarif RS dan penggunaan ICU (b= 1.58 X Rp. 1.000.000, CI= 95 %, p= <0.001).Terdapat hubungan positif antara tarif RS dan tingkat keparahan sedang (b= 0.55 XRp, 1.000.000,-, CI =95 %, p= 0.150) dan terdapat hubungan negatif antara RS dan tingkat keparahan berat ( b= -0.12 XRp. 1.000.000,- , CI= 95 %, p= 0.894.7. Terdapat hubungan positif antara tarif RS dan lama perawatan (b= 0.27 X Rp. 1.000.000,-, CI= 95%, p= 0.005 )Kesimpulan : tarif RS lebih rendah dari tarif INA CBGs. Jenis RS, kelas perawatan, penggunaan ICU, lama perawatan meningkatkan tarif RS.Kata kunci : tarif RS, tarif INA CBGs
PENGARUH ASUPAN ZAT GIZI HARIAN DAN JOGGING TERHADAP PERUBAHAN BERAT BADAN PADA REMAJA OVERWEIGHT DI SURAKARTA Muharramah, Alifiyanti; Doewes, Muchsin; Tamtomo, Didik Gunawan
Wellness And Healthy Magazine Vol 1, No 2 (2019): August
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu (UAP) Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.412 KB)

Abstract

Overweight is an unbalanced nutritional status due to excessive nutritional intake resulting in an energy imbalance that can cause health problems. More nutrients that arise in adolescence tend to continue into adulthood and the elderly. Nutritional status in adolescents can indicate the level of nutritional problems that occur, namely problems regarding daily intake in adolescents. Fulfillment of daily care in adolescents impacts on body weight so it needs to be considered related to the expenditure of energy required, one form that can be done can be in the form of physical training in the form of aerobic exercise such as jogging. Jogging is included in cardio or aerobic exercise which has the benefit of increasing fitness and burning fat in the process of weight loss. This research is a type of analytic research with quasi experimental design with a pre-post test control group design. This research was conducted in the presence of a treatment group and a control group. This research was conducted for 12 weeks, namely in August-September 2017. Based on statistical tests conducted using the One Way Anova test with Post Hoc Games - Howell, showed that in the treatment group that is the regulation of daily nutrient intake (carbohydrates, fats, fiber) with jogging compared to the control group ie breakfast consumption in students without jogging exercises can affect changes in body weight that is indicated by a decrease in body weight in students, this can be seen from the value of p 0.032 which indicates a significant change in weight loss in students.The effect of the breakfast consumption control group with the treatment group daily intake of food and jogging on weight loss in overweight adolescents.
Estimasi Tinggi Badan Berdasarkan Panjang Telapak Tangan dan Panjang Telapak Kaki Santosa, Novian Anindito; Tamtomo, Didik Gunawan; Suwandono, Adji
Nexus Kedokteran Klinik Vol 3, No 3 (2014): Nexus Kedokteran Klinik
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.046 KB)

Abstract

Background: Body height measurement is one of forensic identification examinations. One of evidence that probably found in forensic cases is hand length or foot length. This research aimed to the know correlation between hand length and body height, foot length and body height, and also hand length and foot length with body height. Methods: This research was descriptive analytic with cross-sectional study design. The research was held in Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret with 40 samples of students which consisted of 24 males and 16 females. Independent variable of this research werehand and foot length. Hand length was measured with caliper, foot length was measured with plan A4 paper and ruler. Dependent variable of this research was body height estimation which was measured with microtoise. Samples obtained were measured height, hand length and foot length. The result obtained was tested with double linear regression test. Results: The statistical analysis result for regression test partially obtained that right hand length had correlation score (r) 0,971 (p=0,000), left hand length had correlation score (r) 0,968 (p=0,000),right foot length had correlation score (r) 0,975 (p=0,000), left foot length had correlation score (r) 0,973 (p=0,000). While the result of double linear regression test had correlation score (r) 0,999 (p=0,000). Conclusions: There was correlation between hand length and body height, foot length and body height, and also hand length and foot length with body height. Keywords: Body height,hand length  foot length.  
Hubungan Teknik, Frekuensi, Durasi Menyusui dan Asupan Energi dengan Berat Badan Bayi Usia 1-6 Bulan di Puskesmas Tasikmadu Kabupaten Karanganyar Sari, Dewi Kartika; Tamtomo, Didik Gunawan; Anantayu, Sapja
Amerta Nutrition Vol 1, No 1 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.412 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i1.2017.1-13

Abstract

Background: Weight is the first indicator for baby’s growth value. Eforts to increasing the baby’s weight is maximise the nutrients and mother’s milk as the primmary food for baby on 1-6 months. Objective: This research was conducedt to analyze relation factors with giving mother’s milk and the view of weight accomplishment. This factors such as technique, frequency, sucking duration and the intake of energy with baby’s weight on 1-6 months.Methods: Design in this reserach is cohort prostective to follwoing  the baby’s weight as long as 4 months. Sample in this research are baby’s mother on 1-6 months which was taken by purpossive sampling in the beginning of this research are 60 respondent and fall 14 respondent, 46 respondent were been analyze. Data analyze was obtained with chi square and multivariate with multiple logistic of regression test.Results: This research showed that  has relation betweeen breasfeeding technique with baby’s weight by p-value=0.003, there is relation between breasfeeding frequency with baby’s weight by p-value=0.018, there is relation between breasfeeding duration with baby’s weight by p-value=0,001, there is relation between the intake of energy with baby’s weight by p-value<0.001. The intake of energy has impact of the multivariate analyze from independent variable by exp (B) 38.822 it has means risk to 38.822 times will increasing weight if mothers’s intake energy is good.Conclusion: There are relation between technique, frequency, sucked  duration and the intake of the energy with baby’s weight on 1-6 months.ABSTRAKLatar Belakang: Berat badan merupakan indicator pertama dalam menilai pertumbuhan bayi. Upaya untuk meningkatkan berat badan bayi diperlukan gizi yang maksimal dan ASI merupakan makanan utama bagi bayi terutama pada usia 1-6 bulan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengnalisis faktor yang berkaitan dengan pemberian ASI dan dilihat pencapaian berat badan. Faktor yang dimaksud meliputi teknik, frekuensi, durasi menyusui dan asupan enegi dengan berat badan bayi usia 1-6 bulan.Metode: Desain dalam penelitian ini adalah kohort prostektif karena mengikuti berat badan bayi selama 4 bulan.  Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 1-6 bulan yang diambil secara purposive sampling pada titik awal penelitian berjumlah 60 responden dan dropout sebayak 14 responden sehingga yang dapat dianalisis sebesar 46 responden.  Analisis data secara bivariat dilakukan dengan chi square dan multivariate dengan uji regresi logistic ganda.Hasil: Dari hasil penelitian menunjukan hasil adanya hubungan antara teknik menyusui dan berat badan bayi dengan p value 0,003, ada hubungan antara frekuensi menyusui dengan berat badan bayi dengan p value 0,018 ada hubungan durasi menyusui dengan berat badan bayi dengan p value 0,001dan ada hubungan antara asupan energi dengan berat badan bayi dengan p value 0,000. Dari analisis multivariate dari keempat variabel bebas, asupan energi merupakan yang paling berpengaruh diantara variabel lainya dengan exp (B) sebesar 38,822 yang berarti jikaasupan energi ibu menyusui baik maka beresiko 38,822  kali mengalami kenaikan berat badan.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara teknik, frekuensi, durasi menyusui dan asupan energi ibu dengan berat badan bayi usia 1-6 bulan.
PENELITIAN ANEMIA PADA SIKLUS 270 HARI PERTAMA KEHIDUPAN DAN USIA IBU DENGAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH Aini, Rahmatika Nur; Tamtomo, Didik Gunawan; Hanim, Diffah
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 10 No 1 (2018): Media Gizi Mikro Indonesia Desember 2018
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mgmi.v10i1.589

Abstract

Latar belakang.&nbsp;Anemia merupakan tahap akhir defisiensi zat besi. Kekurangan zat besi pada siklus 270 hari pertama kehidupan dapat membawa dampak buruk pada periode kehidupan selanjutnya. &nbsp;WHO merekomendasikan seluruh wanita hamil agar mendapatkan suplementasi zat besi. Namun, faktanya prevalensi anemia masih tinggi pada kelompok ibu hamil. Tujuan.&nbsp;Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kejadian anemia pada 270 hari pertama kehidupan&nbsp;dan usia ibu terhadap berat bayi lahir.&nbsp;Metode.&nbsp;Penelitian dilaksanakan di tiga Puskesmas di Sukoharjo, Indonesia pada Febuari-April 2018. Pemilihan tiga Puskesmas dilakukan secara purposive sampling&nbsp;dengan jumlah populasi 670 ibu. Sebanyak 129 ibu terpilih, subjek merupakan ibu yang memiliki balita (12-24 bulan). Subjek diwawancara menggunakan kuesioner sosio demografi, sedangkan data anemia didapat dari buku KIA. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik untuk mengetahui faktor yang paling berhubungan dengan berat bayi lahir. Penentuan rasio menggunakan Confidence Interval&nbsp;(CI) 95% untuk menentukan kekuatan hubungan. Nilai p &lt;0.05 digunakan untuk menyatakan signifikansi statistik.&nbsp;Hasil.&nbsp;Dari 129 ibu, sebanyak 100 (77,5%) mengalami anemia pada siklus 0-90 hari; 83 (64,3%) pada siklus 91-180 hari; 123 (95,3%) pada siklus 181-270 hari; dan 73 (56,6%) memiliki usia risiko kehamilan. Hasil uji regresi logistik, anemia pada siklus 0-90 hari dan 91-180 hari tidak ada hubungan yang bermakna dengan berat bayi lahir (p&gt;0.05), sedangkan anemia pada siklus 181-270 hari (p=0.01;OR=6.14) dan usia risiko kehamilan (p=0.03;OR=2.81) berhubungan dengan berat bayi lahir. Kekurangan zat besi pada siklus 181-270 hari pertama kehidupan dan usia ibu hamil yang rentan berkontribusi pada berat lahir bayi.&nbsp;Kesimpulan.&nbsp;Probabilitas ibu anemia pada siklus 181-270 hari pertama kehidupan dan memiliki usia risiko kehamilan dalam melahirkan bayi dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) sebesar 7,63%.&nbsp;
Perbedaan Pengaruh Pelajaran Gizi Menggunakan Media Animasi Dan Ceramah Terhadap Pengetahuan Gizi, Sikap Dan Perilaku Konsumsi Buah Dan Sayur Pada Anak Sekolah Dasar Anggraeni, Enggar; Tamtomo, Didik Gunawan; Hanim, Diffah
Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Konsumsi buah dan sayuran yang cukup merupakan salah satu indikator gizi seimbang. Anak SD memiliki persepsi yang positif terhadap buah  dan sayuran tetapi perilaku makan anak SD masih belum memenuhi angka kecukupan gizi (AKG) atau sebatas sebagai pelengkap saja. Pelajaran gizi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi buah dan sayur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pengaruh  pelajaran gizi menggunakan media animasi dan ceramah terhadap pengetahuan gizi, sikap dan perilaku konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah dasar.Metode: Jenis penelitian ini adalah quasi experimental dengan menggunakan rancangan pre-experimental (pre-post test with control group design). Subjek penelitian adalah   anak kelas III yang terdaftar di 4  sekolah  dasar negeri yang terakreditasi A  di kecamatan  Kota Kediri, Jawa Timur. Subjek diambil secara cluster random sampling sebanyak 92 anak. Tehnik pengumpulan data dengan wawancara langsung dan pengisian kuesioner pengetahuan gizi, sikap dan perilaku konsumsi sayur dan buah pada anak SD. Data dianalisis dengan analisis uji t-independent  dengan  tingkat  kepercayaan  95% (α=0,05), dan diolah dengan SPSS 17,0 for Windows.Hasil: Penelitian ini menunjukkan sampel perempuan sebanyak 51 anak (55,44%) dan laki-laki 41 anak (44,66%). Terdapat perbedaan pengaruh sebelum pelajaran gizi menggunakan media animasi  dan ceramah terhadap pengetahuan gizi pada anak sekolah dasar secara signifikan (p=0,000), tidak terdapat perbedaan pengaruh setelah pelajaran gizi menggunakan animasi dan ceramah terhadap pengetahuan gizi pada anak sekolah dasar secara signifikan (p=0,397). Tidak terdapat perbedaan pengaruh pelajaran gizi yang signifikan menggunakan media animasi dan ceramah terhadap sikap gizi pada anak sekolah dasar secara signifikan (p=0,160) begitu juga setelah pemberian pelajaran gizi (0,689). Terdapat perbedaan pengaruh sebelum pelajaran gizi yang signifikan menggunakan media animasi dan ceramah terhadap perilaku konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah dasar (p=0,029) begitu pula sesudah pemberian pelajaran gizi (0,046).Simpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna terhadap pengetahuan  gizi dan sikap anak setelah intervensi menggunakan media animasi tetapi tidak terhadap perilaku konsumsi buah dan sayur pada anak. Kata Kunci: Media animasi, Pengetahuan Gizi, Sikap, Perilaku buah dan sayur
HUBUNGAN STATUS GIZI LEBIH DAN LAMA MENSTRUASI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA SISWI SMA DI KABUPATEN BOYOLALI Sandy, Yatty Destani; Tamtomo, Didik Gunawan; Indarto, Dono
Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Anemia pada remaja merupakan salah satu masalah kesehatan global. Anemia dapat disebabkan oleh rendahnya asupan besi, status gizi lebih, usia menarche dini dan kehilangan darah. Siswi dengan status gizi lebih dapat mengalami anemia karena akumulasi lemak dalam jaringan adiposa yang dapat meningkatkan produksi sitokin proinflamasi. Peningkatan kadar sitokin tersebut menyebabkan kadar hepsidin meningkat sehingga menurunkan absorbsi besi. Tujuan: Menganalisis hubungan status gizi lebih, usia menarche dan lama menstruasi dengan kejadian anemia pada siswi SMA di Kabupaten Boyolali. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Teknik sampling menggunakan Multi Stage Sampling untuk menentukan subjek penelitian pada siswi kelas X. Pengumpulan data usia menarche dan lama menstruasi menggunakan kuisioner, status gizi diukur dengan antopometri, pengukuran kadar Hemoglobin menggunakan metode cyanmethemoglobin. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan uji statistik chi square dan regresi logistik berganda. Hasil: Sebanyak 53,3% siswi mengalami anemia. Obesitas ditemukan sebesar 87,8% pada siswi dengan status gizi lebih. Siswi yang memiliki status gizi lebih berisiko secara signifikan sebesar 6,273 kali untuk mengalami anemia (p = 0,013). Semakin lama seorang siswi mengalami haid akan berisiko 4,848 kali untuk mengalami anemia (p = 0,003). Simpulan: Status gizi lebih dan lama menstruasi secara bersama sama berhubungan positif dengan kejadian anemia. Siswi diharapkan dapat mengontrol berat badan dan menghindari makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat besi, perlu penyediaan suplementasi zat besi disekolah. Kata Kunci: Status gizi Lebih, Usia Menarche, Lama Menstruasi, Anemia.
Hubungan Teknik, Frekuensi, Durasi dan Asupan Energi Ibu Menyusui Eksklusif dengan Berat Badan Bayi Usia 1-6 Bulan di Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar Sari, Dewi Kartika; Tamtomo, Didik Gunawan; Anantanyu, Sapja
Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Berat badan merupakan indikator pertama dalam menilai pertumbuhan bayi. Upaya untuk meningkatkan berat badan bayi diperlukan gizi yang maksimal dan ASI merupakan makanan utama bagi bayi terutama pada usia 1-6 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengnalisis faktor yang berkaitan dengan pemberian ASI dan dilihat pencapaian berat badan. Faktor yang dimaksud meliputi teknik, frekuensi, durasi menyusui dan asupan energi dengan berat badan bayi usia 1-6 bulan. Metode: Desain dalam penelitian ini adalah kohort prostektif karena mengikuti berat badan bayi selama 4 bulan. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 1-6 bulan yang diambil secara purposive sampling pada titik awal penelitian berjumlah 60 responden dan dropout sebayak 14 responden sehingga yang dapat dianalisis sebesar 46 responden. Analisis data secara bivariat dilakukan dengan chi square dan multivariate dengan uji regresi logistic ganda. Hasil: Ada hubungan antara teknik menyusui dan berat badan bayi (p=0,003), ada hubungan antara frekuensi menyusui dengan berat badan bayi (p=0,018), ada hubungan durasi menyusui dengan berat badan bayi (p=0,001) dan ada hubungan antara asupan energi dengan berat badan bayi (p= 0,000). Asupan energi merupakan yang paling berpengaruh diantara variabel lainya dengan exp(B) sebesar 38,822 yang berarti jika asupan energi ibu menyusui baik maka beresiko 38,822 kali mengalami kenaikan berat badan. Kesimpulan: Asupan energi merupakan faktor yang paling berhubungan dengan dengan berat badan bayi usia 1-6 bulan. Kata Kunci: Teknik Menyusui, Durasi Menyusui, Frekuensi Menyusui, Asupan Energi Ibu menyusui, Berat Badan Bayi
Pengaruh Pendidikan Gizi melalui Teknik Simulasi Monopoli terhadap Peningkatan Pengetahuan, Perilaku Mengkonsumsi Protein, dan Perubahan Kadar Hemoglobin Remaja Putri Anemia Karunia, Yuniarti; Tamtomo, Didik Gunawan; Anantanyu, Sapja
Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak  Latar Belakang : Masa remaja merupakan masa transisi yang rawan terhadap masalah gizi khususnya anemia. Berbagai pendidikan gizi telah dilakukan, tetapi belum ada terobosan terbaru dalam mengatasi angka kejadian anemia yang cukup tinggi. Melalui pendidikan gizi di sekolah yang dikemas dengan permainan menarik akan menumbuhkan kreativitas (learning by playing). Metode : Penelitian ini merupakan jenis experimental menggunakan rancangan pre-post test with control group. Subjek penelitian remaja putri dengan kadar Hb&lt;12 gr/dl di SMAN 5 dan 6 Kota Madiun. Penentuan tempat penelitian dipilih menggunakan metode Multistage Sampling. Sebanyak 145 siswi dari dua sekolah dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin dan ditemukan 40 anak anemia. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner, wawancara, pengukuran antropometri, dan pemeriksaan kadar hemoglobin dengan metode digital (hemoglobin testing system Quick-Check). Data dianalisis dengan uji t-independent untuk melihat perbedaan pengetahuan, perilaku mengkonsumsi protein, dan kadar hemoglobin. Hasil Penelitian : Ada perbedaan pengetahuan sesudah pendidikan gizi antara kelompok ceramah dan monopoli (p=0.008). Ada perbedaan perilaku konsumsi protein sesudah pendidikan gizi antara kelompok ceramah dan monopoli (p=0.015). Ada perbedaan peningkatan kadar hemoglobin sesudah pendidikan gizi antara kelompok ceramah dan monopoli (p=0.009). Simpulan Penelitian : Pendidikan gizi melalui teknik simulasi monopoli lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan, perilaku mengkonsumsi protein, dan kadar hemoglobin dibandingkan metode ceramah.  Kata Kunci : Simulasi monopoli, Pengetahuan, Perilaku Mengkonsumsi Protein, Kadar Hemoglobin
Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan Uliyanti, Uliyanti; Tamtomo, Didik Gunawan; Anantanyu, Sapja
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 3, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jvk.v3i2.107

Abstract

Abstract: Factors Related To Stunting Incident At Toddler 24-59 Months. The objective of this study was to analyze the predictors of stunting among children age 24-59 months in sub-district Matan hilir Selatan, Ketapang Regency. This research was designed with a case-control study on 51 stunting children and 51 normal children. The independent variables were mother nutrition knowledge, family nutrition awareness behaviour, clean and healthy life behaviour, infectious diseases history and nutrition intake. The dependent variable in this study was stunting status. Data collected through an interview by using structured questionnaires, food recall, height measurement with microtoise, then data analyzed by path analyze. The result of the research showed that stunting influenced directly by intake nutrition variable, infectious diseases history, mother nutrition knowledge and family nutrition awareness behaviour, while clean and healthy life behaviour influence indirect of infectious diseases history. The most related direct and indirect factors to stunting based on path coefficient as many as 0,31 or 9,61% were mother knowledge nutrition. The coefficient of determinant independent variable influencing dependent was 39,7%, while other factors were 60,3% influenced by another variable.Absrak: Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola hubungan langsung maupun tidak langsung terhadap kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di kecamatan Matan hilir selatan, kabupaten Ketapang. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan kasus kontrol pada 51 stunting dan 51 normal. Variabel independen meliputi pengetahuan gizi ibu, perilaku keluarga sadar gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), riwayat penyakit infeksi dan asupan gizi, sedangkan variabel dependen adalah kejadian stunting. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, food recall, pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise. Data diolah dengan analisis statistik menggunakan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian stunting secara langsung dipengaruhi oleh variabel asupan gizi, riwayat penyakit infeksi, pengetahuan gizi ibu dan kadarzi, sedangkan PHBS mempengaruhi secara tidak langsung melalui riwayat penyakit infeksi. Faktor pengaruh langsung dan tidak langsung yang paling dominan berdasarkan koefisien jalur yaitu pengetahuan gizi Ibu yaitu 0,31. Koefisien determinan variabel independen mempengaruhi variabel dependen sebesar 39,7%, sedangkan pengaruh lainnya sebesar 60,3% dipengaruhi oleh variabel lain diluar model yang diteliti.