Articles

THE DYNAMICS OF SESAME (SESAMUM INDICUM L.) GROWTH TYPE Firmansyah, Firmansyah; Taryono, Taryono; Yudono, Prapto
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 15, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.37 KB) | DOI: 10.22146/ipas.2514

Abstract

(Sesamum indicumL.) is one of important vegetableoil cropsin theworld. Indonesian local sesame cultivars in use today still have indeterminate growth types that cause simultaneous harvest, narrow adaptability and lower yield. Stage of the research is to see dynamics growth type of sesame due to environmental change and to find morphological and biochemical selection criteria of determinate growth cultivar. This study uses a factorial completely randomized design consisting of three replications. The first factor is six cultivars of sesame, two types of determinate growth type cultivar introduced from Turkey III Det 23, III Det 36 and four indeterminate growth type cultivars Sbr 3, Sbr 4, white local and black local. The second factor is six environments that combine various combinations of temperature and several concentrations of NaCl as salinity stress. The results showed that the environment combined heat stress temperature and salinity affect growth type of sesame. Heat stress makes longer vegetative phase and salinity stress causes black local genotype changed to determinate growth type. III det 23 and III det 36 were considered as stable determinate cultivar and best used as a parent crossing in sesame breeding program. 
KADAR LEMAK TOTAL BIJI KAKAO KEBUN INDUK PAGILARAN SAMIGALUH KULON PROGO Purwa, Dhemas Adi; Taryono, Taryono; Suyadi, Suyadi
Vegetalika Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.854 KB) | DOI: 10.22146/veg.45947

Abstract

Mutu biji kakao merupakan hal yang sangat penting dalam produksi kakao dan olahannya. Pengamatan mutu biji kakao sangat penting dilakukan untuk mengetahui sifat unggul kakao, termasuk di dalamnya varietas atau klon-klon baru hasil pemuliaan tanaman. Salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan kakao adalah dukungan ketersediaan bahan tanam unggul dan bermutu. Analisis mutu biji khususnya kadar lemak dilakukan untuk menentukan nomor-nomor aksesi yang mempunyai potensi keunggulan dan dapat digunakan sebagai sumber bahan tanam dengan sifat kadar lemak >50%. Selain kadar lemak total, sifat komponen buah yang diamati meliputi bobot buah segar, panjang buah, lebar buah, tebal kulit buah, jumlah biji perbuah, bobot basah biji per buah, dan bobot kering biji per buah. Pengamatan dilakukan terhadap 19 nomor pohon di kebun induk PT. Pagilaran Unit Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar lemak total tidak berbeda nyata, keragaman genetik kadar lemak total sangat rendah. Sifat komponen buah yang mempunyai pengaruh terhadap kadar lemak total adalah bobot basah biji per buah.
PENGARUH TAKARAN MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TEH (CAMELLIA SINENSIS) KLON GAMBUNG 7 DI AFDELING PAGILARAN, ANDONGSILI DAN KAYULANDAK Setya Wibowo, Mohammad Yanuar; Taryono, Taryono; Kastono, Dody
Vegetalika Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.101 KB) | DOI: 10.22146/veg.45909

Abstract

Permasalahan utama yang sering terjadi pada saat pembibitan teh dengan setek adalah lambatnya pembentukan akar yang dapat menyebabkan kematian bibit. Salah satu cara dalam membantu merangsang pembentukan akar dan kalus serta proses penyerapan hara bagi tanaman adalah dengan pemberian agensia hayati Jamur Mikoriza Arbuskular (JMA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan bibit teh Gambung 7 dan takaran mikoriza yang tepat pada ketinggian tempat yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan Split-Plot dengan ketinggian sebagai plot utama terdiri dari 3 aras yaitu afdeling Pagilaran (P) dengan ketinggian 980 m dpl, afdeling Andongsili (A) dengan ketinggian 1100 m dpl, dan afdeling Kayulandak (K) dengan Ketinggian 1200 m dpl. Kemudian takaran mikoriza menempati anak petak terdiri dari 4 faktor yaitu dosis 0, 3, 6, 9 gram/polibag. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara takaran mikoriza dengan ketinggian pada variabel berat kering akar. Nilai berat kering akar tertinggi terdapat pada Afdeling Pagilaran perlakuan kontrol sebesar 1,16 gram, sedangkan hasil paling rendah terdapat pada Afdeling Andongsili perlakuan 9 gram/polibag sebesar 1,02 gram. Tinggi tempat berpengaruh terhadap pertumbuhan bibit Gambung 7 dengan persentase setek hidup tertinggi pada afdeling Kayulandak sebesar 95 %, selanjutnya pada afdeling Pagilaran sebesar 79,75 %, dan afdeling Andongsili sebesar 70,50 %.
PENDUGAAN PARAMETER GENETIK BEBERAPA KOMPONEN HASIL CALON GALUR TEH KETURUNAN KEDUA HASIL PERBANYAKAN VEGETATIF Budiherlando, Andrew; Taryono, Taryono
Vegetalika Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.157 KB) | DOI: 10.22146/veg.42027

Abstract

Salah satu sebab rendahnya produktivitas teh nasional adalah umur perdu yang sudah tua sehingga perlu pengembangan varietas baru yang dapat dibudidayakan secara nasional. Teh unggul yang diperbanyak secara vegetatif, harus memiliki daya waris tinggi terhadap sifat yang dimilikinya. Penelitian bertujuan mengetahui nilai duga parameter genetik hasil perbanyakan vegetatif kedua (V2) beberapa klon teh pada beberapa lokasi penanaman. Penelitian dilaksanakan dibulan Juli-Desember 2017 di PT Pagilaran afdeling Sanderan, Kayulandak, dan Andongsili. Klon yang digunakan yaitu PGL10, PGL11, PGL12, dan PGL15. Penelitian menggunakan Splitplot dengan dua faktor yaitu  klon teh dan lokasi penanaman. Hasil pengamatan berupa komponen hasil 4 kali pemetikan dianalisis dengan ANOVA serta uji lanjut Scottnott dan AMMI. Hasil penelitian menunjukkan Panjang  dan Lebar Daun, Potensi Daya Hasil, Panjang Tangkai, Berat Kering Daun, Peko dan Tangkai, Berat Segar Peko, dan Jumlah Peko memiliki nilai genetik tinggi. Berat Segar Daun dan Berat Segar Tangkai memiliki nilai genetik rendah. Panjang Daun, Potensi Daya Hasil, Berat Kering Daun dan Peko cenderung memiliki pertumbuhan yang dipengaruhi lingkungan. Lebar Daun, Panjang Tangkai, Berat Kering Tangkai, Berat Segar Peko dan Jumlah Peko memiliki pertumbuhan yang tidak dipengaruhi lingkungan. Parameter genetik pada komponen hasil klon yang berinteraksi dengan lingkungan memiliki pertumbuhan paling baik pada Klon PGL10, 11 dan 12. Parameter genetik pada komponen hasil klon yang tidak berinteraksi dengan lingkungan memiliki pertumbuhan paling baik pada klon 10 dan 12. PGL11, 12, dan 10 tumbuh optimal di Kayulandak sementara PGL15, 12 dan 10 tumbuh optimal di Andongsili dan Sanderan.
KERAGAAN EMPAT KULTIVAR KACANG HIJAU (VIGNA RADIATA L.) HASIL ENKAPSULASI BENIH YANG DIPERKAYA DENGAN MIKORIZA Handayani, Dinda Tria; Taryono, Taryono
Vegetalika Vol 7, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.759 KB) | DOI: 10.22146/veg.41166

Abstract

Mikoriza merupakan salah satu upaya untuk mengatasi kurangnya kesuburan di lahan marjinal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran mikoriza pada masa pembibitan, pertumbuhan, dan perkembangan kacang hijau serta merekomendasikan cara enkapsulasi yang tepat untuk pemberian mikoriza pada benih kacang hijau. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Oktober 2017 di Rumah Vegetalika, Ruang Mallika dan Ruang Mendel Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Variabel yang diamati meliputi mutu benih, infeksi mikoriza, sifat komponen bibit, pertumbuhan tanaman, dan komponen hasil.  Keseluruhan data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Varian sesuai Rancangan Acak Lengkap dan dilakukan pembandingan dengan Scott-Knott pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa enkapsulasi montmorillonite pada kultivar Murai dan Sriti memberikan hasil yang terbaik. Interaksi antara faktor enkapsulasi dan kultivar ditemukan pada hasil indeks vigor, indeks vigor hipotetik, bobot segar bibit, tinggi tanaman 60 hst, tinggi tanaman panen, jumlah daun panen, dan waktu berbunga.
PENGEMBANGAN METODE PENYARINGAN KLON TEBU TAHAN KERING MENGGUNAKAN METODE PENGENDALIAN KADAR LENGAS Pinilih, Yasinta; Taryono, Taryono; Wulandari, Rani Agustina
Vegetalika Vol 8, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.263 KB) | DOI: 10.22146/veg.38433

Abstract

Tebu merupakan salah satu tanaman pengahasil gula yang digunakan di Indonesia. Luas areal tebu di lahan sawah beririgasi di Jawa semakin berkurang. Kini areal tebu di lahan sawah tinggal sekitar 40 %, selebihnya telah beralih ke lahan kering. Pada fase perkecambahan,  kebutuhan air tanaman rendah, kemudian mulai meningkat pada fase pertunasan dan mencapai puncaknya pada fase pemanjangan batang. Tujuan penelitian ini, akan dilihat ketahanan bibit tebu terhadap cekaman saat fase perkecambahan dan proses beradaptasinya kembali tebu saat fase pertumbuhan tunas dari kondisi tercekam. Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga September 2016 di Kebun Percobaan Banguntapan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Rancangan Percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Faktor pertama yaitu kadar lengas yang terdiri dari 4 aras yaitu 100%, 80%, 60%, dan 40%. Faktor kedua adalah klon tebu yaitu klon PS 862, PS 864, Kidang Kencana (KK), Bululawang (BL), dan VMC 76-16. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan pengaturan kadar lengas mampu mempengaruhi pertumbuhan tebu dengan menurunnya angka pertumbuhan beberapa klon ketikakadar lengas diturunkan hingga 40%. Klon KK menjadi klon yang memiliki hasil terendah dan kurang tahan terhadap perlakuan cekaman kekeringan
SELEKSI POHON INDUK KAKAO BERDAYA HASIL TINGGI MENGGUNAKAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA Hidayat, Imam; taryono, taryono
Vegetalika Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.722 KB) | DOI: 10.22146/veg.38135

Abstract

Peningkatan produktivitas kakao perlu didukung oleh ketersedian bahan tanam unggul, yakni bahan tanam yang memiliki daya hasil dan mutu hasil tinggi, serta memiliki ketahanan terhadap penyakit utama. Hal ini dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan mulai dari pemanfaatan plasma nutfah hingga pengujian hasil silangan antar klon dalam suatu populasi. PT Pagilaran Unit Segayung Utara memiliki total luas areal pertanaman kakao asal biji sebesar 280,35 hektar. Dari populasi tersebut dapat dilakukan kegiatan eksplorasi dan seleksi untuk mendapatkan individu pohon yang memiliki daya hasil tinggi serta mutu biji baik. Penelitian di lapangan dilakukan dengan mengamati karakter buah 185 pohon kakao asal biji dengan membandingkan terhadap klon RCC 70, RCC 71 dan KKM 4 sebagai pembanding. Karakter buah yang diamati adalah panjang buah, diameter buah, berat segar buah, jumlah biji per buah, berat segar biji per buah, berat kering biji per buah, tebal kulit buah, berat segar kulit buah, kekerasan kulit buah dan berat kering per biji. Hasil seleksi melalui analisis komponen utama, dengan menggunakan karakter jumlah biji per buah, berat segar biji per buah dan berat kering perbiji sebagai kriteria seleksi menunjukkan bahwa pohon 149, 182 dan 233 berpotensi untuk dikembangkan sebagai pohon induk.
KERAGAAN KOMPONEN HASIL PERDU TEH (CAMELLIA SINENSIS (L.) O. KUNTZE) HASIL PERBANYAKAN VEGETATIF TURUNAN KEDUA Hermanto, Vanska Nozelle; Taryono, Taryono
Vegetalika Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.194 KB) | DOI: 10.22146/veg.36527

Abstract

Teh merupakan salah satu komoditas utama perkebunan Indonesia. Salah satu sebab rendahnya produktivitas teh nasional adalah umur perdu yang sudah tua, sehingga perlu diremajakan melalui pengembangan varietas baru yang dapat dibudidayakan secara nasional. Teh biasanya diperbanyak secara vegetatif, namun sifat keturunannya belum tentu identik dengan induknya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keragaan perdu vegetatif turunan pertama (V1) dan vegetatif turunan kedua (V2) yang berasal dari perdu F1 yang sama, serta menduga nilai parameter genetik komponen hasil perdu V1 dan V2. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli? Desember 2017 di blok Sanderan dan Binorong, PT Pagilaran. Klon yang digunakan yaitu PGL 09, PGL 10, PGL 11, PGL 12, dan PGL 15. Penelitian menggunakan metode survei dengan 5 perdu sebagai ulangan. Data komponen hasil diamati selama 4 kali pemetikan dianalisis dengan pendekatan anova rancangan acak lengkap faktorial dengan uji lanjut scott knott. Pendugaan parameter genetik digunakan E(MS) dari anova tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara klon dengan tahap vegetatif pada lebar daun, panjang daun, panjang tangkai, jumlah peko, berat segar peko, dan berat kering peko, sehingga berdasarkan sifat tersebut dapat dikatakan bahwa klon klon yang diuji tidak stabil, sebaliknya mendasarkan sifat berat segar daun, berat kering daun, berat segar tangkai, berat kering tangkai, dan daya hasil kering bersifat cukup stabil. Sifat yang memiliki nilai heritabilitas tinggi adalah lebar daun dan bobot kering, sedangkan nilai koefisien keragaman genetik dan koefisien keragaman fenotip tinggi terdapat pada sifat berat segar peko dan berat kering peko.
KERAGAAN HASIL PERDU TEH (CAMELLIA SINENSIS L.) HASIL PERBANYAKAN VEGETATIF PERTAMA Muharroron, Maryam; Taryono, Taryono
Vegetalika Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.449 KB) | DOI: 10.22146/veg.36515

Abstract

Teh merupakan tanaman tahunan dan penyegar. Kondisi pertanaman teh di Indonesia didominasi oleh tanaman tua dan berasal dari biji. Guna meningkatkan produktivitas teh dalam waktu relatif singkat diperlukan percepatan perakitan klon unggul teh dengan metode pemuliaan vegetatif teh. Penelitian ini bertujuan untuk menduga keragaan hasil perdu teh hasil perbanyakan vegetatif pertama (V1) dan menduga potensi daya hasil kering teh V1 klon teh PGL-09, PGL-10, PGL-11, PGL-12, dan PGL-15. Penelitian ini menggunakan pendekatan survei dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perdu F1 terpilih sebagai induk tiap klon digunakan sebagai tetua atau induk perbanyakan V1, serta rumpun V1 pada tiap klon dipilih 5 perdu sebagai contoh. Daya hasil kering teh didapat dari komponen bobot kering pucuk peko, bobot kering pucuk burung, bobot kering daun muda, dan bobot kering tangkai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon PGL-10, PGL-11, dan PGL-12 memiliki keragaan daya hasil kering teh yang sama antara F1 dengan V1, serta ketiga klon PGL tersebut memiliki potensi daya hasil kering teh yang tinggi, berkisar antara 3.200 hingga 3.400 kg/ha/th.
PENGARUH PEMERAMAN EKSPLAN DAUN DENGAN KOLKISINA SECARA IN VITRO TERHADAP KEBERHASILAN PEMBENTUKAN TERUNG TETRAPLOID Nabihaty, Fathin; Taryono, Taryono; Wulandari, Rani Agustina
Vegetalika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.085 KB) | DOI: 10.22146/veg.33555

Abstract

Perbaikan tanaman untuk meningkatkan daya tawar terung dapat dilakukan melalui poliploidisasi. Pemberian kolkisina secara in vitro berpeluang meningkatkan efisiensi poliploidisasi. Penelitian dilakukan untuk mengkaji pengaruh pemeraman eksplan daun dengan kolkisina secara in vitro terhadap keberhasilan poliploidisasi dan pembentukan terung tetraploid (4x), serta mendapatkan tetraploid berdasarkan ciri morfologi planlet dan jumlah kromosom. Tiga aras periode peram dengan 2,5 mM kolkisina (24, 48, dan 72 jam) dan satu perlakuan pemeraman tanpa kolkisina sebagai pembanding, diujicobakan pada lima jenis terung (Rimbang, Lokal Bantul, Pipit, Hijau Malang, dan Limao) menggunakan rancangan acak lengkap. Tahap utama yang dilalui eksplan yaitu pra-pemeraman, pemeraman dengan kolkisina, regenerasi, penggantian media tanam 1-6 kali, pengakaran, dan regenerasi ulang hingga 2 kali. Tata cara ini berhasil membentuk Terung Rimbang poliploid yang terdiri dari 2x+3x dan 3x+4x. Jumlah individu poliploid diperkirakan sebanyak 59%, sisanya 41% merupakan diploid. Planlet yang memiliki sel tetraploid sekaligus ploidinya tertinggi diperoleh dari pemeraman kolkisina selama 72 jam.
Co-Authors Afritanti, Rizki Diah Ahmad Muhtadi Ahmad Muhtadi Rangkuti Andika, Atrio Andreas Setiawan Andru, Andru Annisa, Fitrah Anto Rimbawanto Aristya, Vina Eka Aristya, Vina Eka Astuti, Dian AYPBC Widyatmoko, AYPBC Ayub, Made R.S.S.N Azizi, A. Bostang Radjagukguk Budiherlando, Andrew Danu Santoso, Danu Darjanto, Darjanto Dewi Ratna Nurhayati Dhian Herdhiansyah Didik Indradewa Didik Purwadi Djoko Prajitno Dody Kastono Eko Hanudin Endang Sulistyaningsih Epraim Theopilus Sitepu, Epraim Theopilus Erlina Ambarwati, Erlina Ernayunita, Ernayunita Eskundari, Ratna Dewi Firmansyah Firmansyah Fredinan Yulianda Hamirul Hadini Handayani, Dinda Tria Hartati, Dwi Hefni Effendi Hendro Ekwarso Hermanto, Vanska Nozelle Huda, Imam Nur Ibnu Sofian, Ibnu Imam Hidayat Irmayani, Festi Istiana Prihatini, Istiana K, Buyung Kadarwan Soewardi Kholida, Masruru Kholida, Masruru Kristamtini Kristamtini, Kristamtini Lilik Sutiarso lqbal, M. Ali M. Zulfan Arrodli, M. Zulfan Ma'rifah, Alfi Mazaya, Amalia Febryane Adhani Muhamad Yanuar Jarwadi Purwanto, Muhamad Yanuar Jarwadi Muharroron, Maryam Muhartini Muhartini Murianingrum, Mala Murianingrum, Mala Mustaqim, Imam Mustika Alam, Tasdik Muttaqin, Latiful Nabihaty, Fathin Nafiatul Umami Nasrullah Nasrullah Panjisakti Basunanda Panuntun, Henricus Tegar Pinilih, Yasinta Prapto Yudono Purwa, Dhemas Adi Puspa Dewi, Meita Rani Agustina Wulandari, Rani Agustina Retno Sunarminingsih Sudibyo Rimbawanto, Anton Rudi Hari Murti Sakiroh Sakiroh Sayekti, Rahmi Tri Setya Wibowo, Mohammad Yanuar Setyastuti Purwanti, Setyastuti Siska Permata, Siska Soewradi, Kadarwan Sonny Koeshendrajana Sugiharto Budi Santoso, Sugiharto Budi Sukartini Sukartini Sulistyono, Wawan Suwarto Suwarto Suyadi Mitrowihardjo Suyadi Suyadi Tisiana Dwi K, Anastasia Rita Tjahjo Tri Hartono Tohari Tohari Udisubakti Ciptomulyono Widiastuti, Paramita Widiatmaka Widiatmaka Wiwin Ambarwulan Y. Prapto, Y. Yekti Asih Purwestri, Yekti Asih Yudi Setiawan Yuli Priyana, Yuli Yuwono, Nasih Widya